Selamat Hari Raya Idul Adha 1437 H – Ceramah Hari Ini

image

image

image

image

Selamat Idul Adha 1437 H – Ceramah Hari Ini

Sekali lagi saya memulai tulisan hari ini dengan bilang, saya bukan msulim yang baik. Jarang-jarang saya mengikuti ceramah sampai akhir. Jumatan nyaris selalu datang saat iqomah menjelang. Biasanya kelar sholat ied saya segera membuka HP untuk mengusir bosan. Namun entah kenapa pagi ini lain. Setelah semalam COC-Clash Of Clans-ku dirampok dark elixer 4.000 yang membuatku suntuk, hari ini saya belum serang siapapun. Maka kelar sholat, saya duduk dengan manis mendengar ceramah. Pagi ini di masjid Perumnas blok H, Karawang Barat yang mengisi adalah pak ustadz Romli. Ceramahnya memang bagus-bagus. Setiap malam taraweh Ramadan beliau sering mengisi kultum, dan isi ceramahnya selalu diselingi humor segar. Nah, hari ini saya takjub dengan materinya. Maka kelar acara, saat jamaah bersalam-salaman saya menghampiri beliau dan meminta izin meminjam materi khutbah. Dan atas seizin beliau, saya ketik ulang dan posting di blog. Berikut garis besar isinya.

  1. Mukaddimah – Ajakan Bertakwa
  2. Isi Khutbah iedul Adha / Qurban – takbir tiga kali
  3. Defisini / Taarif
    • menurut makna bahasa

Pemberian untuk menyatakan kebaikan (kerelaan hati, dst)

  • Menurut istilah

(tulisan Arab) – yang artinya: Apa yang dberikan manusia dari sesuatu (harta benda) atau binatang ternak dengan makna mendekatkan diri keada Allah SWT. (Prof Farid Wadj dalam Diratul Ma’arif Qarnil Isyrin)

  1. Dalil-dalil – takbir tiga kali
    • Al Quran

(tulisan Arab) – yang artinya Maka dirikanlah sholat karena Rob-mu dan berkurbanlah.

(tulisan arab) – yang artinya Dan bagi tiap-tiap umat telah kami syariatkan penyembelihan kurban, supaya mereka ingat kepada Allah atas nikmat yang telah dirizkikan kepada mereka berupa binatang ternak.

(tulisan Arab) – yang artinya Barangsiapa yang mendapat kelapangan untuk berkurban, lalu ia tidak berkurban maka janganlah dia mendekati tempat sholat kami.

(tulisan Arab) – yang artinya Tidak ada amalan Bani Adam yang lebih dicintai Allah ketika Idul Adha selain menyembelih hewan kurban.

  1. Kisah Tentang Kurban – QS. Ash-Shaffat: 106-107

(tulisan Arab berisi 12 kalimat) – yang artinya Maka takkala anak itu sampai umur sanggup berusaha bersama-sama Ibrahim. Ibrahim berkata: Hai anakku sesungguhnya aku melihat mimpiku bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?

Ismail menjawab Hai bapakku kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang bersabar.

Takkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim telah membaringkan anaknya atas pelipisnya (nyatalah kesabaran keduanya). Kami panggillah dia, ‘hai Ibrahim sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpimu. Sesungguhnya demikianlah kami memberi balasan kepada orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.”

  1. Hikmah Kurban
    • Hikmah vertikal dan horizontal

Vertikal: Bertujuan mendekatkan diri kepada Allah SAW

Horizontal: Hewan kurban dengan menyembelihnya, dagingnya dapat dinikmati oleh orang-orang yang membutuhkan sehingga terbentuklah solidaritas dan kesetiakawanan sosial.

  • hikmah sosial, moral dan spiritual

Sosial: Kurban berdampak strategis bagi ikhtiar membangun kebersamaan dan pemerataan masyarakat. Misal dalam bermasyarakat ada orang yang belum tentu dapat memakan daging setahun sekali. Kurban dapat dijadikan sarana membangun kebersamaan dan keharmonisan hubungan antara yang kaya dengan yang tidak punya.

Moral: Perintah kurban mengingatkan bahwa pada hakikatnya kekayaan itu hanyalah titipan Allah sehingga sadar bahwa ada hak orang lain kepada harta yang kita miliki, maka harus dikeluarkan berupa zakat, sedekah termasuk kurban.

Spiritual: Secara bahasa kurban berarti qaraba – yaqrobu- qurbanan (dekat) dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan cara mendekatkan diri kepada sesama manusia melalui ibadah qurban.

(tulisan Arab)

Setiap kita adalah Ibrahim

Setiap kita adalah Ibrahim dan setiap Ibrahim punya Ismail. Ismail kita mungkin hartamu, jabatanmu, gelar kita, ego kita. Ismail adalah sesuatu yang kita sayangi dan pertahankan bahkan kita banggakan di dunia ini.

Ibrahim tidak diperintah membunuh Ismail. Ibrahim hanya diperintah oleh Allah untuk membunuh rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Ismail karena hakikatnya semua adalah milik Allah.

Semoga Allah menganugerahkan kesalehan nabi Ibrahim dan keikhlasan nabi Ismail kepada kita semua supaya kita bisa mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari. Jangan merendahkan dan menghinakan orang lain dengan harta kita, jabatan kita, gelar kita karena di hadapan Allah hanya ketakwaan kita yang diterimaNya.

Tujuan penyembelihan kurban

Manusia adalah hewan yang berfikir. Maka harusnya lebih beradap. Sifat-sifat jelek hewan: rakus, senang berkelahi, malas, senang kawin, egois, dll. Sifat-sifat buruk manusiapun dimisalkan kepada hewan.

Laki-laki dan perempuan tinggal bersama tanpa menikah – kumpul kebo

Ngomong ke A gini ngomong ke si B gitu akhirnya berkelahi – adu domba

Mencari orang untuk dipersalahkan – kambing hitam

Orang mencla-mencle ga jelas – bunglon

Ikut arus tanpa punya pegangan – kebo dicocok hidungnya, dst, dst

Maka dengan berkurban, mari kita lepas sifat hewani yang buruk itu. Semoga bermanfaat.

(tulisan Arab)

(penutup)

Well, begitulah. Saya ketik sama dengan catatan pak Ustadz. Pastinya beda mendengar langsung dengan membaca tulisan ini. Karena dalam berceramah beliau melakukan improvisasi dengan jokes yang segar.

Setiap idul Adha saya selalu ingat lagu dari Snada: Belajar Dari Ibrahim. Lagu yang booming saat saya masih sekolah. Di album Neo Shalawat, lagu ini selalu mengiang bertahun-tahun. Berikut liriknya (diambil dari liriknasyid.com):

Sering kita merasa taqwa
Tanpa sadar terjebak rasa
Dengan sengaja mencuri-curi
Diam-diam ingkar hati

Pada Allah mengaku cinta
Walau pada kenyataannya
Pada harta, pada dunia
Tunduk seraya menghamba

Reff:
Belajar dari Ibrahim
Belajar taqwa kepada Allah
2x
Belajar dari Ibrahim
Belajar untuk mencintai Allah

Malu pada Bapak para Anbiya
Patuh dan taat pada Allah semata
Tanpa pernah mengumbar kata-kata
Jalankan perintah tiada banyak bicara

Diketik di laptop Dian-Mega di Blok H/279 – Perumnas BTJ – Karawang, 120916

Iklan

Ceramah Jumat

Kenapa ya ceramah sebelum sholat Jumat selalu membuat kantuk? Sebegitu membosankankah? Padahal hari ini saya terlambat istirahat karena sedang cut off penggajian jadi saat duduk di masjid jam 12:15. Selesai ceramah sekitar jam 12:30 jadi waktu yang saya cerna untuk mendengarkan ceramah hanyar ¼ jam. Dengan waktu sesingkat itu saya tetap tertidur, tetap sambil duduk tentunya. apakah ada yang salah? Karena memang hampir setiap Jumat saya tertidur.
Saya sempat membayangkan andai ceramah Jumat dibuat lebih fun macam stand up comedy, tapi tentu isinya religi. Pastinya yang Jumatan pada semangat berangkatnya, dan dijamin saat iqomat seblum mulai sholat matanya pada fresh. Namun saya teringat ada hadist yang menjelaskan kita dilarang bersuara selama khotbah berlangsung. Jadi ga boleh tertawa ya? Atau alokasi waktu dibalik, ceramah 10 menit, sholatnya 20 menit. Banyak sekali kan surat panjang, tinggal pilih. Atau ceramahnya lebih condong ke motivasi layaknya Mario Tegar. Pasti menarik, salam superrr…
Saya sendiri belum pernah mengisi ceramah Jumat. Walaupun dulu sempat aktif di Reisma Baja pas di kampung, tapi setelah lulus sekolah langsung merantau. Memang beda rasanya jadi anak kos dan dengan seatap dengan orang tua. Pas ngekos, dimana waktu ku adalah milikku sepenuhnya kita sendirilah yang mengatur. Jadi tak ada yang mengajak aktif ke masjid. Lingkungan memang sangat berpengaruh membentuk karakter. Makanya saat mudik trus Jumatan, saya kagum sama teman-teman seangkatan pada isi ceramah. Rasanya berjalan mundur keimanannya.
Paling banter mengisi ceramah kultum di jeda taraweh dan witir kala Ramadhan tiba. Jadi ya belum tahu rasanya di atas mimbar saat Jumat. Saya pernah baca, di sebuah pesantren katanya seluruh isi ceramah menggunakan Bahasa Arab. Wah hebat ya! Saya tak berani membayangkan seandainya saya di sana, betapa nyenyaknya.

(kelar sholat Jumat pasti ngopi, biar kembali fresh untuk beraktivitas)
Karawang, 141114