Legeumanai Sura’-Sabbeu

Burung Kayu by Nudiparas Erlang

Mengapa dendam dan pertikaian tak berkesudahan?”

Buku yang kental sekali budaya daerah Mentawai, di pedalaman Pulau Siberut, Sumatra. Banyak kata daerah disodorkan, butuh beberapa kali baca kata itu muncul dan diulang untuk paham, karena di sini tak ada bantuan/glosarium. Imajinasi naratif yang rada kebablasan. Temanya mempertahankan budaya asli di tengah gempuran modernitas, pemerintah pusat (Jawa) yang mencoba masuk, mendirikan perkampungan baru, memberi bantuan rutin, memberi opsi agama International, mencoba memberi napas pemikiran baru. Sementara kebiasaan lama dengan roh kepercayaan, seteru dengan suku sebelah, sampai kebiasaan-kebiasaan yang turun dari moyang perlahan kena gusur. Tema bisa juga lebih melebar dengan unsur memertahankan lingkungan asli, hutan yang sudah banyak dibabat itu harus dilawan. Namun tak, lebih ke drama keluarga. Seperti kata-kata di sampul belakang, ini tentang dendam yang terkorusi waktu dan keadaan. Mereka diikat kepentingan yang sama: menyelamatkan hutan dari penggundulan, menuntut ganti rugi atas ladang dan hutan yang akan dimanfaatkan perusahaan.

Kritik sosial juga tersaji dalam perselisihan surat serah terima tanah 36 hektar tanah kepada Dinas Sosial menjadi seluas 360 hektar. Jelas itu manipulasi data, korupsi khas Indonesia. Rasanya bikin geram, tapi nyatanya memang hal-hal semacam ini ada, menjamur subuh di era Orba. Maka sungguh jenaka ada karakter anjing bernama Sistem atau Pemerintah.

Kisah utamanya tentang Legeumanai, sosok yang kuat dan berdiri di antara budaya lama dan serbuan budaya nasional. Kerja sama dunia medis dan dunia roh yang mungkin bisa ditempuh tanpa mencederai keyakinan para penghuni lembah. Ia menjadi penghubung, pejabat yang ditunjuk mewakili suku sekaligus mulut pemerintahan Indonesia. Untuk sampai ke sana, kita diajak keliling ke masa lampau. Masa ketika berburu babi menjadi gengsi tinggi para uma/suku pedalaman.

Pertikaian-permusuhan antardua uma, sudah terjadi lama sekali sebelum masa Legeumanai. Sejarahnya tercatat (dan mungkin terbaca lucu), karena babi kabur bisa menjadi pemicu pembunuhan. Perselisihan uma satu dengan uma lain, dimulai dari seekor babi sigelag, babi besar yang dijadikan alat toga keluarga Babuisiboje untuk mengawinkan anak lelaki mereka dengan adik perempuan Baumanai. Naas, babi yang dipersembahkan itu kabur pulang, lantas dicari dan ditanyai, tapi enggan mengaku. Nah, si gadis membocorkan fakta. Dan dua pemuda yang naas dibunuh karena emosi. Permusuhan itu lalu turun temurun, karena para pembunuh kabur membuka lahan baru dan beranak pinak. Baumanai yang dikenal di sekujur lembah sebagai leluhur yang pernah membunuh keluarga Babuisiboje. Keturunan berharap kedua uma akan menjalani paabat.

Uma yang patut disegani di saentero lembah menjadi jargon utama. Membalas kekalahan berburu dengan menenggerkan burung enggang-kayu di puncak pohon katuka. Menjadi petaka ketika sang pemanjat tewas di depan anak dan istrinya. Awan hitam menggumpal-mengental di atas bubungan sapou-nya… hanya remang senja yang terlihat. Menjadi penutur bagaimana tragedy itu tercipta. Ah, siapa yang dapat mengira cuaca? Saengrekerei ke puncak pohon. Memasang burung enggang-kayu, dan wuzzz… wassalam.

Uma-uma atau suku-suku yang berkerabat dan yang bermusuhan – sebagaimana kisah-kisah yang kadang mengesankan, kadang memilukan, kadang membanggakan, yang didapatnya saban malam dari teuteu-nya. Mengurai-mengurut asal-usul uma, tak mungkin terhindar dari kisah mengenai pertengkaran dan perpecahan, kekecewaan dan kepergian, ketakcukupan dan keterpisahan. Ayam dan babi adalah pembayaran yang sangat berharga pada waktu itu

Kisah cinta sepasang remaja yang tengah menikmati rejana semesta. Mereka beda uma, mereka menyatukan atas nama asmara. Tampak romantis, berkencan dengan alam dan seekor ulat yang menyatu dalam ciuman. Cintanya tak pernah ikut mati atau menjadi sekadar kiretat di pohon durian dan di dinding uma. Keduanya melupa, melupa pada pantang-larang, pada tulou yang mengintai dan mengancam.

Keputusan Taksilitoni menikahi adik iparnya memang diliputi banyak alasan, tapi terasa masuk logika demi anak kesayangan Legeumanai. Pindah ke Dusun Muara, barasi baru buatan pemerintah untuk memajukan suku-suku di hulu. Saengrekerei sang kepala desa yang dihormati, ada bagian ketika bantuan dari pemerintah beras-beras berkarung itu akan didistribusikan dengan kapal, agar tak bolak-balik maka beberapa kapal mengangkut banyak, tapi tetap saja ada yang tak terangkut, sebagai kepala desa yang berpengalaman ia memutuskan yang tak terangkut disumbangkan ke daerah sekitar. Beres? Sementara…

Karena suatu ketika muncul desas-desus bahwa beras itu dikorupsi sang kepala desa, mengambil dan menyimpan untuk pribadi. Betapa marahnya ia, maka ia melakukan sumpah. Bernyali melakukan tippu sasa, melakukan kutukan bagi dirinya sendiri di hadapan banyak mata. Dan berdoa Ulaumanua melindungi anaknya. Jleb! Keren… Padi tak pernah tumbuh subuh di tanah gambut tanah lumpur tanah cadas.

Ada bagian setiap selip beberapa bab, tentang tarian mistis. Antara impian atau kenyataan, laku purba untuk memohon roh leluhur atas sebuah musibah atau permintaan yang rasanya sulit diwujudkan. Mimpi-mimpi tentang sirei muda yang menari di atas api unggun. Jangan biarkan jiwa-jiwa keluar dari kampung ini. Dan engkau roh-roh punen, terimalah roh-roh mereka, dan lindungilah mereka dari segala penyakit dan dari kejahatan. Persembahan yang rasanya akan dimusnahkan agama baru itu lantas kembali dilakukan demi keselamatan seorang terkasih. Legeumanai Sura’-Sabbeu. Ia dingin di dalam api…

Dalam remang purnama, semua yang hadir di uma itu bergeletakan; sebagian berbaring begitu saja di beranda, sebagian lainnya membentangkan kelambu-kelambu dan meringkuk di dalamnya. Pikirannya kusut-masai.
Budaya yang dipertahankan menjadi benteng kemajuan. Seekor babi telah disembelih, dimantari, dan dibaca juga gurat hatinya. Bukahkah jiwa-jiwa kami telah dipikat sedemikian rupa agar tetap betah di uma. Lucu juga agama baru yang diperkenalkan mendapat sambutan, walau banyak yang berganti-ganti sesuai selera. Semua orang mengaku sebagai simata saja, sebagai orang awam saja. Sebagian menanggalkan agama lama dan menggantinya dengan salah satu agama-baru-resmi-pula. Rada aneh rasanya, Menyanyikan lagu-lagu pujian kepada tuhan yang bukan roh leluhur. Babi bagi muslim haram, tapi di sana kan jadi kebanggan kekayaan. Sipuisilam, tak boleh makan babi. Nah!

Ini adalah kandidat pertama KSK yang kubaca pasca pengumuman daftar panjang. Lumayan bagus sebagai pembuka, bisa masuk daftar panjang saja sudah syukur, apalagi bisa melaju ke lima besar, yang jelas bukan jagoanku untuk juara. Buku pertama yang kubaca dari penerbit indi Teroka, yang ternyata masuk ke ‘Naskah yang Menarik Perhatian Juri’ Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2019′. Temanya terlalu umum, sudah sangat banyak cerita tentang suku pedalaman yang diterjang modernitas, walau dengan bahasa yang unik, walau dengan narasi yang mendayu, walau dengan meliuk-liuk panjang, jelas kualitas adalah utama.

Telusur kata itu menemukan klik akhir yang menentrampakan, bahagia dan lega.

Puncak pohon katuka, sebuah uma, jajaran abagmanang, bakkat katsaila… Tampak luar biasa, magege.

Burung Kayu | by Nudiparas Erlang | Copyright 2020 | ISBN 978-623-93669-0-2 | Penerbit CV. Teroka Gaya Baru | Cetakan I: Juni 2020 | Penyunting Heru Joni Putra & Fariq Alfaruqi | Sampul Kevin William | Tata Isi Gerbera Timami | Skor: 3.5/5

Untuk para pemeluk teguh Arat Sabulungan

Karawang, 140920 – Protocol Harun – A Whiter Shade of Pale

Thx to Dema Buku, Titus Pradita, Tokped.
Dua sudah, Sepuluh Menuju – KSK 20

Pada Suatu Masa di Jayapura

Lengking Burung Kasuari by Nunuk Y. Kusmiana

Itu burung kasuari. Dia suka marah kalau melihat kita dekat-dekat dengannya.” – Sendy

Keren. Keren adalah kata pertama yang terucap ketika selesai baca semalam (05/04/2020) di akhir liburan. Tata bahasa, plot, penyampaian kisah, karakter yang kuat sampai akhirnya ditutup dengan manis. Kalau boleh kasih sedikit keluhan, adalah ending-nya yang bahagia. Walau Asih kena tamparan, pada kenyataan mereka meninggalkan rumah dengan senyum. Merasa sakit hati, tapi mau mengadu ke siapa? Sempat berpikir ngeri, seperti akhir kisah The Boy in the Stripped Pyjamas karya John Boyne di mana eksekusi akhir, sang anak menghilang hingga benar-benar menguras air mata, Lengking Burung Kasuari tak sepahit itu. Padahal susunan kisah sudah tepat mengarah ke sana, bahkan di bab terakhir di lembar-lembar akhir Asih ‘sudah berjumpa’ dengan tukang potong kep. Penculik anak-anak berambut lurus! Namun tidak, ini adalah buku tentang kehangatan keluarga, sebuah memoar terselubung yang meyakinkan sekali ketika dituturkan karena seolah memang Mbak Nunuk mengalami segalanya, dan menuangkannya dalam buku.

Kisahnya mengambil sudut pandang orang pertama, dan akan terus begitu sampai selesai. Dari anak SD bernama lengkap Kinasih Andarwati, panggilannya Asih, memiliki keluarga harmonis dengan permasalahan yang membumi, maksudnya umum seperti finansial, permainan anak-anak masa lalu yang menyenangkan, hingga pendidikan yang apa adanya. Asih adalah anak pertama dari keluarga asli Jawa Timur, Bapaknya ditugaskan ke Jayapura tahun 1970, dan mereka ikut serta. Ibu Yatmi yang luar biasa hebat. Memiliki adik yang imut, cerdas, dan sungguh menyenangkan bernama Tutik, selisih dua tahun. Bocah cilik bertubuh kuat. Mereka menjalani hari-hari yang panas di bumi Papua, setahun setelah resmi bergabung dengan NKRI. Ada adegan bagus, maksudnya bervitamin. Tentang Pantai Base-G, sejarahnya semasa Perang Pasifik, pantai itu dan seluruh wilayah yang dulu dikenal dengan nama Hollandia menjadi basis pertahanan tentara Sekutu. Wilayah itu dinamai Base-G atau basis pertahanan dengan urutan ke-G. Basis pertahanan di atasnya di sebut Base-F terletak di Hawaii. Jadi ada Base-A sampai E? Mungkin di Amerika. Yang jelas Base-G adalah armada ketujuh Amerika Serikat. Wow, serius baru tahu saya.

Dibuka dengan narasi meyakinkan, tetangga mereka yang asli Papua memiliki bengkel kendaraan, rumahnya berhalaman luas. Dengan daya tarik buah kersen yang pohonnya menjulang di kandang babi, dan di sampingnya ada kandang dengan seekor burung kasuari, yang suka mengejar siapa saja yang menampakkan diri di dekatnya. Asih berkenalan dengan Sendy Patricia Karake, teman pertamanya, tetangga mereka yang Kristiani dan kaya. Sendy sekolah di SD Paulus di Dok Lima Atas, jauh sehingga berangkat –pulang diantar mobil. Selain main pasar-pasaran, masak-masakan acara paling disukauinya adalah memetik buah kersen, unik karena lewat samping, dekat kandang kasuari, dan akhirnya di atap rumah. Dari sinilah judul buku ini diambil. Lengkingan sang burung dan karakteristik hewat tersebut yang terlihat galak, sejatinya berhati lembut. Hewan liar di hutan, dipelihara.

Asih bersekolah di SD Persit (Persatuan Istri Tentara) milik ABRI Angkatan Darat, berangkat bareng adiknya Tutik yang masih TK, bareng pula anak tetangga, Watik dari keluarga Bahar yang sekelas sama Tutik. Letaknya di Klofkamp, sebelah timur Ajen (Asisten Jenderal). Terlihat di sini keluarga Asih dekat dengan Keluarga Bahar karena setiap berangkat aktivitas, kunci rumah dititipkan kepada Tante Bahar. Nah, karena tante Bahar memiliki ‘musuh’ tetangga bernama Tante Tamb (panggilan Magda – nama kecil), mereka perang dingin maka otomatis keluarga ini juga bermusuhan walau mencoba netral tetap saja ada gap. Sejatinya, di sini kita sudah bisa menebak ke arah mana cerita ini ketika Tante Tamb yang menggangu Asih mulu. Dari meminta bawang, minyak, sampai memaksa menjaga Butet, anaknya yang balita. Saya sudah curiga cerita mengarah ke sana, karena pemintaan paksa itu terkesan janggal. Mbak Nunuk kurang rapat menyimpan kejutan yang ini.

Ekonomi menjadi triger berikutnya untuk mengayuh kalimat. Sebagai tentara biasa, gaji mereka pas-pasan. “Ah, gaji tentara. Biar naik juga masih kecil juga.” Sampai tengah bulan dah ludes, maka di sinilah peran istri bergerak. Hebat. Hebat adalah kata pertama yang kuucap ketika tahu Bu Yatmi nekad melakukan bisnis, membuka kios di pedalaman yang pengiriman barangnya bisa berbulan-bulan setiap kapal baru menurunkan jangkar. Dengan jarak kira-kira dua kilo meter dari rumah, setiap pagi dia berangkat jaga kios sembako di Polimak Atas. Modal? Akhirnya mereka pinjam ke koperasi tentara Puskopad (Pusat Koperasi Angkatan Darat) atas nama bapak. Di sini saya takjub. Seorang istri tentara, berjuang demi membantu finansial keluarga. Banting tulang, karena keluarga adalah segalanya. Paginya masak, bangun subuh, siang istirahat bentar, balik lagi sampai sore. Luar biasa. Catat ya, ini kota Jayapura tahun 1970an yang minim transpotasi, minim bahan pokok, minim komunikasi, minim warga, sebuah kota yang sepi. Ibunya akhirnya tersandung kasus, bisnis kayu yang dia geluti rontok. Om Said yang bertugas mengurus, mengambil kayu dari pedalaman, suatu ketika kapalnya kena badai, maka kayu itu dibuang ke laut demi menyelamatkan nyawa. Malam ketika menyampaikan itu, kita mengetahui bahwa ada yang punya keris di rumah asri ini! Selain itu, bisnis batu bata yang dilakukan di samping rumah juga akhirnya kena tegur sama satuan, terhenti juga. Di sini tampak sekali, ini adalah cerita realita. Menjalankan bisnis itu tak gampang, jatuh bangun, kena tipu, terjepit masalah, finansial megap-megap. Jelas, ini ditulis dengan hati. Hati yang pernah merasa pahit manisnya perjuangan.

Kasus berikutnya, Asih naik kelas tiga, tapi nilainya ada merah dua. Naik kelas dengan percobaan. Membuat malu bapaknya. Sementara Tutik yang TK justru gemilang, ia sudah terlebih dulu bisa membaca, tiap sore ‘sekolah’ juga, ngaji, dan pemikirannya lebih praktis. Cool! Karakter favorit. Sendy pernah mengajak Asih ke Gereja, demi sekotak permen. Pernah pula ikut Natalan di rumahnya, demi kesenangan, turut dalam pesta dansa, yang ini gagal karena khusus untuk orang dewasa. Nah, dengan polosnya Tutik bilang Dosa, orang Islam ga boleh masuk gereja karena nanti akan dibakar di neraka. Haha… setelah icip gulali, ikut juga malahan. Oh dunia anak yang menyenangkan.

Akhirnya kita sampai pada kesimpulan. Bapak naik pangkat, sekarang jadi asisten Wakil Gubernur sehingga upahnya turut naik dan akan mendapat rumah dinas yang lebih layak. Bagaimana kios ibu? Sampai cicilan lunas, mereka sedikti lega karena nyaman dengan finansial. Lalu teror Tukang potong kep, tukang potong kepala manusia yang digaungkan Sendy mematik takut Asih, karena mereka hanya mau anak berambut lurus. Jembatan sudah jadi, tapi kepala anak-anak tetap dicari untuk ditimbun di bawah jembatan. Cerita ini nyaris mendekati sempurna di akhir, kenapa? Karena suram adalah koentji maka, akhir yang bahagia terasa terlalu nyata. Tak ada adegan darah, penculikan, atau parang yang beraksi. Ini adalah novel keluarga yang indah. Makin manis ketika ada adegan ‘pamit’ terhadap burung kasuari. Yah, setidaknya novel ini tampak meyakinkan, tampak keren, dan elok. Untuk dikisahkan kepada anak-anak atau remaja. Rate-nya SU – Semua Umur.

Salah satu kegiatan yang kusuka adalah bapak yang jelang tidur membacakan cerita kepada Asih dan Tutik. Cerita yang beragam: Perang Bratayudha, Cinderella, Gadis Korek Api, apa saja. Klop denganku di mana setiap jelang tidur Hermione Budiyanto merengek minta dibacakan cerita, dari Harry Potter, Narnia, sampai buku-buku Roald Dahl. Saat ini sih dua novel Winnie The Pooh tamat. Hebat sih, anak lima tahun hapal detail adegan di Hutan Seratus Ekar dan berkat Pooh pula, ia bercita-cita menjadi ilustrator seperti Ernest H. Shepard karena memang hobinya gambar dan warnai apa saja. Suka loncat-loncat di kasur karena suka sekali aksi membal-membal Tigger. Seperti Tutik yang sudah bisa baca di masa TK, Hermione juga sudah bisa baca latin dan Arab di Paud. Apalagi ending buku pertama Pooh yang diberi hadiah pensil warna, maka ia makin giat menggambar, setiap harinya satu gambar dan dipamerin ke saya.

Satu lagi yang agak personal adalah, sekarang keponakanku yang jadi tentara ABRI Angakatn Laut sedang bertugas di Sorong, Papua Barat. Terasa kisah ini, kehidupan di Timur seperti apa. Walau beda masa, beda angkatan, setidaknya ada gambaran bumi Papua yang jauh… jauh sekali dari tanah Jawa. Menjadi sangat penting untuk bisa menempatkan diri dan kondisi. Indonesia dengan ragam budaya dan bahasa.

Nunuk Y. Kusmiana lahir di Ponorogo, setahun ketika Papua bergabung dengan NKRI ia turut pindah ke Jayapura bersama keluarga saat berusia lima tahun, sampai tamat SD dan SMP. Lulus perguruan tinggi di Yogyakarta, dan aktif di Koran Ekonomi Bisnis Indonesia dan menjadi wartawati di kelompok Gramedia Majalah. Novel ini adalah buku pertamanya, sebagai novel pemenang unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. Cool! Debut yang menyenangkan.

Tampak sekali, penggalan cerita diambil langsung dari pengalaman pribadi, tentunya dengan bumbu imajinasi dan keseruan pemilihan diksi. Salute!

Lengking Burung Kasuari | by Nunuk Y. Kusmiana | GM 617 202.016 | Editor Sasa | Desain sampul dan ilustrasi Fauzi Fahmi | Desai nisi Nur Wulan | Copyright 2017 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-602-03-3982-5 | Skor: 4.5/5

Untuk Sam dan Didit

Karawang, 070420 – Bill Withers – Lean On Me

Thx to: Taman Baca Bustaka Galuh Mas, Karawang.

Dekut Burung Kukut #1

Dekut Burung Kukuk #1

Event 30 hari menulis kembali datang, artinya selamat datang kembali bulan Juni. Bulannya review buku, bulannya Sherina, bulan keenam yang selalu istimewa. Dalam 30 hari ke depan saya akan ulas 15 buku lokal 15 buku terjemahan. Mungkin tak akan sehari satu buku, karena bulan ini bertepatan Lebaran yang artinya akan kepangkas seminggu mudik yang artinya pula intensitas di depan laptop akan tergerus demi kumpul keluarga dan saudara, yang pasti tetap 30 buku akan saya pilih pilah acak untuk dapat ulas.

Buku pertama tahun ini adalah dari Penulis favorit JK Rowling, kali ini dengan nama lain.

Partikelir. Terdengar rancu, terdengar agak aneh. Mungkin karena saya terbiasa mendapat terjemahan kata ‘swasta’ untuk lanjutan kata ‘detektif’. Partikelir (/par-ti-ke-lir/), berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah bukan untuk umum; bukan kepunyaan Pemerintah; bukan (milik) dinas; swasta.

Robin: “Ya, memang. Padahal banyak orang datang kemari dan mencerocos tentang apa saja yang mereka suka. Mau tidak mau, kau mendengar banyak hal dari balik ini.”

Informasi. Di era serba instan, modern, dan mudah didapat ini, informasi bukan masalah bagaimana mendapatkannya, tapi lebih mau memilah atau memilih informasi apa yang akan kita serap. Dekut Burung Kukuk menyajikan sebuah kisah di mana informasi masih sangatlah sebuah komoditi berharga, demi harga diri, nama baik dan sebuah pengakuan.

Kisahnya tentang detektif partikelir yang harus menyelidiki kasus pembunuhan seorang model. Cormoran Strike adalah detektif sewa, seorang veteran perang Afganistan yang tinggal di hiruk pikuk kota London. Ia punya masalah kompleks. Terluka batin akan identitasnya, kematian ibunya yang tak wajar (potensial untuk kisah berikutnya), frustasi drop out kuliah yang sebenarnya sangat menjanjikan hingga banting stir masuk militer. Tragedi di medan perang yang membuat luka fisik sehingga kini ia menjadi warga negara yang menyepi, otaknya yang pintar analis dan deduksi mengarahkannya jadi seorang penyelidik sewa. Kisah cintanya juga tak mulus, kekasih kuliahnya dan sampai cerita ini disajikan akhirnya putus. Charlotte yang cantik menjauh, memaksa Strike tinggal di kantor sewanya. Makin parah, tak butuh waktu lama, mantannya tunangan. Banyak jenius di luar sana dicipta nasib sial oleh tangan Tuhan yang kejam. Strike hanya salah satunya, gambaran luar yang masih bisa diselamatkan.

Seorang model ternama Lula Landry mati, diperkira bunuh diri. Setelah tiga bulan sang kakak angkat John Bristow melaporkan kasus ini ke detektif Strike untuk menyelidiki ulang karena tak puas dengan hasil investigasi kepolisian. Sang detektif yang tegap dan sedang murung keuangan dengan senang hati menerima tawaran itu. Di hari saat tawaran datang, sekretaris baru dari outsource datang. Robin yang lulusan psikologi awalnya dipandang sebelah mata, ya karena gaji kecil dan hanya disewa part-time dari Temporery Solution tapi tak dinyana perannya di buku ini justru sangat penting. Bisa jadi buku berikutnya Robin akan jadi seperti ‘Robin’ nya Batman, jadi partner bukan sekedar pembantu di balik meja receptionist.

Lula Landry adalah anak adopsi Sir Alec dan Lady Yvette Bristow. Ia dibesarkan dengan nama Lula Bristow tapi memakai nama Landry saat bergelut di bidang modeling. Kakak Lula, John sendiri adalah pengacara, nah anehnya pengacara ini tampak tak wajar saat meminta tolong ke Strike. Seakan menantang nalar, ‘bisa ga lu pecahkan kasus ini?’

Kasus ditelusur dengan logika pas, menyesuaikan era sekarang tapi tetap dengan hati dan seluk beluk penelitian wajar tanpa gadget wow ala Mission Imposible. Bagaimana Strike harus berlari dengan susah payah, bagaimana kehidupan glamour seleb Inggris dengan segala kemunafikan, bagaimana jua sebuah sapaan dan diskusi selidik dilakukan dengan standar alami dan benar-benar enak diikuti. Tak ada sesuatu yang mistis tak ada sesuatu yang memerlukan sihir, berbanding balik dengan segala Potter itu.

Novel pertama JK Rowling dengan nama pura-pura disamarkan Robert Galbraith, atau novel kedua pasca final hit Potter setelah The Casual Vacancy ini terbilang sukses. Sukses, memuaskan pembaca. Saya berhasil menebak siapa pembunuhnya bahkan sebelum ke bagian dua. Rowling terlalu banyak memberi klu, memberi banyak celah untuk menebak, terlalu mengerucut ke satu pihak. Kalau kita sudah sering menikmati cerita detektif, kita pasti makin hari makin familiar arah dan tujuan para kriminal. Dan alur serta alibi penjahat Dekut Burung Kukuk ini pernah ada dalam serial Agatha Christie. Klu yang disodorkan Rowling terlampau berlimpah di awal sehingga simpanan rapat yang seharusnya jadi esensi utama sudah pudar. Tapi justru hal-hal kecil selain tebak pembunuh yang menyenangkan diikuti. Alangkah baiknya kalian sudah membaca bukunya dulu, baru membaca ulasan ini, tapi ga papa, saya tetap mencoba tak memberi bocoran penting. Hal-hal kecil yang menggelitik itu diantaranya: kita baru tahu bahwa detektif Strike ternyata cacat fisik parah setelah mengarungi seperempat bagian. Walau back cover bilang: ‘… veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin...’ tapi tak dijelaskan sakitnya apa. Lalu trivia menarik bagaimana Lula memilih nama Landry sebagai nama tenar alih-alih nama belakang keluarga juga bagus sekali, dijelaskan sederhana di tengah cerita dalam penyelidikan. Satu lagi, kematian Charlie. Entah kenapa saya ga kepikiran kematiannya yang jaaaauh hari itu ternyata menyeret sang pembunuh dalam psikologi miring. Jelas, novel detektif ini sukses banget ketimbang Casual yang adem.

Buku ini hanya tinggal tunggu waktu untuk diadaptasi ke layar lebar. Apalagi novel lanjutannya sudah tersedia pula, sangat menggiurkan produser Hollywood. Casual sendiri sudah diadaptasi ke mini seri TV, namun gaungnya redup. Mending ke layar lebar sih. Karena memang, kualitas Casual terjerebab pasca Potter. Pemilihan kisah detektif kurasa sudah sangat pas untuk keluar pakem sihir, hanya aneh saja kenapa pakai nama lain. Kalau niat disamarkan, harusnya rapat. Absurd-lah, Penulis besar mencipta kisah penyelidikan, memilih nama lain sebagai Penulis namun identitasnya terbuka. Kalau benar-benar berniat berjudi untuk respon jual, harusnya memang ditutup. Tapi kalau niat laku, Rowling menintakan kata apapun juga pasti diburu. Ahh andai identitas Robert baru diumumkan di kemudian hari, novel ini akan jadi begitu menarik sekali 20, 30, 100 tahun lagi.

Semoga seri-seri berikutnya lebih keren dan saya diberi kesempatan menikmati segalanya. #PotterFreak

Prolog – “Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk? Andai saja kau tiba ketika dekut burung kukuk, atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau, atau, setidaknya saat kawanan burung camar berkicau, sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas menyelamatkan diri dari serangan musim panas.

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas? Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas, atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah, dan lahan gandum semata hamparan jerami basah, dan napas angin berembun sangat berat sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat.” – Christina G. Rossetti, A Dirge – Sebuah Ratapan.

1-Sungguh celaka orang yang cacat celanya menjadi ikut terkenal karena ketenarannya. – Lucius Accius, Telephus.

2-Tak asing dengan berbagai kemalangan, aku belajar meringangankan penderitaan orang lain. – Virgil, Buku 1.

3-Barangkali akan membantu kalau mengingat kembali hal-hal yang akan lampau. – Virgil, Buku 1

4-Dan yang oaling baik, sebagaimana kata pepatah adalah mengambil untung dari kegilaan orang lain. – Pliny Tua, Naturalis

5-Berbahagialah orang yang memahami sebab musabab segala sesuatu. – Virgil Georgics, Buku 2

Epilog – Tak ada sesuatu yang sempurna dalam segala-galanya. – Horace Odes, Buku 2

Dekut Burung Kukuk| by Robert Galbraith | copyright 2013, first published in Great Britain by Sphere | cover images: street scene and design by LBBG – Sian wilson | diterjemahkan dari The Cuckoo’s Calling | GM 402 01 14 0002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Siska Yuanita | alih bahasa puisi hlm 7 & 517: M. Aan Mansyur | design sampul Marcel A.W. | cetakan keempat, Agustus 2016 | ISBN 978-602-03-0062-7 | 520 halaman; 20|Skor: 4/5

Untuk Deeby yang sesungguhnya dengan ucapan terima kasih.

Karawang, 241217-010618 – Sherina Munaf – Singing Pixie
#1 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thx to Widy Satiti untuk pinjamannya. #Laz4-0Cro