Pengelana Galau

In a Strange Room by Damon Galgut

“Berenang, tidur, merokok. Orang-orang yang datang kemari bersamanya tidak memercayainya keberuntungan mereka. Bagi mereka inilah Afrika sebenarnya, mereka datang dari Eropa untuk mencari tempat seperti ini, bukan liburan mahal seperti yang diperlihatkan di Air Terjun Victoria, atau hal berbahaya dan menakutkan yang mencoba menyakiti mereka di kereta. Di tempat ini, setiap orang berada di tengah alam semesta sekaligus di waktu bersamaan tidak berada di mana-mana. mungkin ini yang disebut pemenuhan spiritual, mereka sedang berada dalam pengalaman spiritual.”

Dibagi dalam tiga bagian, perjalanan di tiga benua. Afrika sebagai home town sang penulis, ke Eropa ke tempat kenalan saat petualang, dan terakhir ke Asia, tepatnya Bombay, India. Secara umum, kisahnya acak, seenaknya bagaimana menyampaikan kisah, tak fokus ke mana arah mau dibawa cerita, makanya terbaca aneh, atau inti cerita mau ngapain jadinya tak jelas. Terlalu lama berkeliling tanpa menetap di suatu tenpat telah membuatnya jauh dari dunia nyata, bahkan ketika sejarah digoreskan di mana-mana. “Aku sudah minum dua gelas kopi hari ini. aku tidak minum lebih dari dua gelas kopi tiap dua belas jam.”

Pertama, berjudul Si Pengikut, kita diajak ke Eropa. Sang Penulis, dengan mengambil nama depan saja Damon berkelana. Mulai dari Inggris, Prancis, Italia, Yunani, Turki, sekarang kembali ke Yunani. Di sinilah Damon berpapasan dengan Reiner, yang satu ke kota Mycenae, yang satunya ke Sparta. Awalnya sekadar sapa, lalu satunya berbalik. Perkenalan dengan pemuda aneh nan merdeka ini mengubah banyak hal. Merasa senasib dan sama-sama suka penjelajahan mereka berkenalan lantas berteman. Di ruang yang aneh, di mana keduanya seolah kekasih, jatuh hati, dan janji temu lagi suatu hari.

Lalu Reiner berkunjung ke Afrika Selatan, main ke rumah Damon. Permintaan aneh, hanya berdasar alamat tak mau dijemput di bandara, ia menelusur jalanan. Menginap, berjalan-jalan, mencari jejak, kegiatan apapun, menikmati hari. Awalnya menyenangkan. Kunjungan sahabat lama, jalan-jalan ke Lesotho, lintas kota, lintas Negara. Lalu hubungan mereka merenggang. Setelah naik turun bukit, menyaksi bukit, pemandangan alam Afrika menakjubkan, mereka mengalami selisih paham. Jadi pada titik perjalanan ini, ada saat-saat bersatu dan ada saat-saat berseteru.

Reiner yang kaya, memback-up semua keperluan akomodasi Damon, bagaimana bayarnya? Suatu saat nanti saja, tak perlu dipikirkan. Namun biaya tanggung itu mencipta perasaan tak enak Damon, ia merasa beban. Merasa tak punya suara, saat terjadi debat arah jalan, hingga perasaan muak didominasi. Konfliks kecil, riak besar. Membiarkkan dendam kesumat atas pembunuhan putrinya. Tak sesuatu pun bisa membahanbakari keinginan membalas dendam sehebat kesedihan mendalam.

Kedua, dilabeli Si Pencinta, kita diajak berkenalan dengan rombongan turis dari Eropa. Jerome, Alice, Christian, Roderigo, dkk. Mereka dalam perjalanan kota-kota, jalan-jalan tanpa tujuan jelas. Satu kaki terayun melewati kaki lain, setiap tapak kaki tertanam dan bergerak ke depan. Jalan kaki memiliki ritme yang bisa membuatmu melayang. Sebagai tuan rumah benua, walaupun bukan hanya Afrika Selatan, Damon malah merasa jadi beban. Kali ini bukan masalah keuangan, tapi malah hal-hal dasar. Dari visa, hingga kegamangan pilihan. berkutat di Benua Hitam Tanzania, Kenya, Zanzibar, Zimbabwe, hingga Malawi.

Dalam sebuah dramatisasi adegan, mengejar bus setelah melakukan penyogokan di perbatasan karena tak punya visa, teman-teman yang dikejar itu malah berikutnya ditinggal, setelah janjian akan bertemu kembali di Inggris. Secara tiba-tiba memutuskan pulang setelah berkenalan dengan orang yang kebetulan mau ke Afrika Selatan.

Inti cerita kedua, bukan di situ, tapi malah petualangan di Eropa. Main ke rumah Jerome, disambut dengan sangat hangat oleh keluarga temannya. Lalu saat temannya wajib militer, ia ke Negara lain. Pengelanaan yang umum, hingga akhirnya menerima kabar menyedihkan. “Aku kemari untuk merenung.”

Ketiga, kita bersama Anna, teman sekaligus pacar temannya. Ke India, menelusur budaya. Banyak area kumuh, banyak kunjungan ke tempat-tempat eksotik. Sayangnya bagian terakhir ini, Damon mendapati teman perjalanan bermasalah. Sakaw narkoba, punya pacar cewek, hingga niatannya bunuh diri. Memiliki penyakit mental yang ke mana-mana bawa obat. Tujuan utama ke India untuk healing, malah ambyar. Hufh… Yang pada akhirnya obat itu malah ditelan bersamaan membuat repot semua orang. Di setiap keberangkatan, jauh di lubuk hati terdalam, seperti titik hitam, muncul ketakutan akan kematian.

Sekarat, diselamatkan malah marah-marah. Menghubungi keluarga di Cape Town untuk menjemputnya, hingga keputusan-keputusan konyol lainnya. Dunia hitam di tanah orang, merepotkan, mengesalkan. Apakah bisa selamat, Anna?

Kisah dibuku ini langsung mengingatkanku pada film The Man with the Answers. Lelaki galau melakukan perjalanan laut, berkenalan dengan lelaki tamvan tapi tampak nakal. Awalnya pasif saja, tapi setelah turun dari kapal, berkendara mobil tua, mereka malah saling mengisi dan menjaga. Di Jerman segalanya berakhir. Nah, bagian pertama buku ini mirip sekali. Namun di The Man with the Answers jelas motif dan plotnya, apa yang akan diraih di kota tujuan. Sementara In a Strange Room, mau apa dan ngapainnya tak jelas. Mau merenung di tempat terpencil? Mau menyatu dengan alam? Atau mencari jati diri? Jelas dengan alasan itu kurang kuat, ditambah, Damon tak terlalu mempermasalahkan uang, artinya ia kaya, tak terlalu takut duitnya habis, tak detail penjelasan bagaimana ia bertahan hidup dengan uang seadanya, walau seringkali bikin tenda untuk menghemat, seringkali pula menginap di hotel. Ini jelas buku orang jalan-jalan saja. Dan kisah sejenis ini, kurang konfliks, kurang menarik. Malah tampak konyol, saat di India bersama teman wanitanya, hambar.

Saya membeli buku ini karena berlabel Nominator The Man Booker Prize 2010 untuk novel The Good Doctor, bukan buku ini. yah, seperti Eka Kurniawan untuk Lelaki Harimau, bukan O. kurang lebih seperti itulah, mungkin saya akan terpukau sama The Good Doctor, dan merasa standar untuk O. Mari kita buru…

In a Strange Room | by Damon Galgut | Copyright 2010 | Published by Atlantic Books Ltd. | Alih bahasa Yuliany dan Shandy T | 188102536 | ISBN 978-979-27-8972-0 | Penerbit Elex Media Komputindo | Cetakan pertama, 2010 | Skor: 3.5/5

Karawang, 140722 – Manhattan Transfer – Birdland

Thx to Ade Buku, Bandung

The Bookseller of Kabul

“… Jika panci mendidih tanpa tutupnya, apa pun bisa masuk kedalamnya. Sampah, tanah, debu, serangga, daun tua. Begitulah kehidupan yang dialami keluarga Saliqa. Tanpa tutup. Segala macam kotoran menimpa mereka…” – Sultan

Apa yang pertama terlintas saat Negara Afganistan disebut? Perang? Islam? Osama bin Laden? Atau Negara Islam yang tata kelolanya semrawut? Saya lebih ingat bagian terakhir ini. Sebuah kudeta tahun 1970-an mengubah Negara ini. Lebih tepatnya Zahir Shahm raja yang memerintah selama empat puluh tahun yang boleh dikatakan aman dan damai, didepak tahun 1973. Lalu serangan Uni Soviet selama sedekade, lantas perang saudara, dan Taliban mencipta kekeruhan politik, hingga akhirnya perang tak kunjung usai, dari satu kekuasaan ke kuasaan lain. Saat ada pengumuman perang telah usai. Itu hanyalah perang baru yang akan dimulai – perang yang melindas semua keceriaan. Bahkan hingga kini, terbaru tahun lalu saat Amerika pergi, berita mancanegara bersliweran kepanikan warga, pembersihan politik, hingga kekhawatiran krisis terjadi.

Buku ini ditulis tahun 2002 oleh wartawan Norwegia yang bertugas di sana. Asne sampai tinggal bersama keluarga sang sudagar buku, Sultan Khan bersama kedua istri dan anaknya yang banyak, bersama saudara-saudaranya, hingga mencatat kegiatan dan budaya lokal yang kental. Seperti pengakuannya, “Aku telah menuliskan hal-hal yang kulihat dan kudengar, dan telah berusaha mengumpulkan ksan-kesanku tentang musim semi di Kabul, tentang mereka yang berusaha menepis musim dingn, tumbuh dan berkembang, dan yang terpaksa – meminjam istilah Leila- “menelan debu”.” Ini bisa jadi reportase, tapi malah menjadi novel yang bisa dibubuhi berdasar kisah nyata. Ini adalah buku mungil 400 halaman yang nyaman, dan cepat kelar dilahap. Kubaca dalam tiga hari 19 sd. 21 Mei kemarin.

Kisahnya berkutat di keluarga sang saudagar. Dengan cerdas dibuka dengan keputusan poligami. Keputusan yang akan mematik kebencian pembaca. Sultan yang sudah separuh baya memutuskan mengambil istri lagi, ada tiga kandidat istri muda. Istri pertama dan saudara-saudara tak banyak komentar, atau sejatinya tak setuju, tapi tak berani melawan. Sultan lalu memilih Sonya remaja 16 tahun itu untuk jadi istri barunya. Dari keluarga miskin, derajatnya terangkat. Sharifa, istri pertama kesal, selama ini telah berjuang bersama, memang apa yang salah? Memang apa yang kurang? Namun akhirnya terpaksa menerima kenyataan pahit. Saat sendiri, ia bukan merindukan Sultan, tapi dia meindukan kehidupan yang pernah dijalaninya sebagai istri saudagar buku, disegani dan dihormati, ibu anak-anaknya, yang diistimewakan.

Pembuka yang bagus, sebab memaparkan kepahitan hidup. Dan buku ini akan terus berkutat di area situ, ini Negara Islam yang berkecamuk, maka gambaran sehari-hari mencipta imaji di sana. Selanjutnya kita diajak ke masa lalu sang sudagar, nikah terlambat, kuliah demi masa depan, kecintaannya pada buku otomatis membuatnya dikelilingi bau buku, dan ide bisnisnya jalan. Membeli buku dan segala hal di perpustakaan semurah mungkin lalu menjualnya. Memang dirintis dari kecil, tapi keberaniannya memulai dari sekolah itulah yang membuatnya berbeda.

Bisnis bukunya luar bias pasang surut, pernah dibakar semua buku oleh Taliban sebab buku bergambar dilarang, diobrak-abrik juga pernah bila buku bertema politik, ideologi yang berbahaya, atau yang sekadar menyerempet seksualitas. Bahkan ia pernah dipenjara beberapa bulan. Selama dua puluh tahun ia berkutat di sana, dan karena kecintaannya ia bertahan.

Lalu buku ini mengupas kehidupan seluruh anggota keluarganya. Karakternya banyak. Dari Mansur, Sonya, Sharifa, Shabnam, Bibi Gul, Leila, Bulbula, Iqbal, Aimal, sampai Fazil. Dari para keponakan yang mencari jodoh. Putra sulungnya Mansur yang dilematis, melanjutkan usaha perbukuan, tapi kepincut wanita, dan panggilan hati pada aliran Ali. “Kau akan jadi pengusaha. Tempat yang paling baik untuk belajar adalah di toko.”

Lalu kasus pencurian kartupos oleh tukang kayu Jalaluddin, yang ketahuan, diinterogasi, lantas diajukan ke pengadilan, dan berakhir tragis. Ayahnya Faiz sampai memukulinya, keluarga mengucilkannya. Ia tulang punggung penghasil, dan malah seperti itu diperlakukan. Mencuri memang salah, tapi mengapa tak melihat konteks pelaku dan motifnya. Hiks, “Ayah bisa berkata begitu karena perut ayah kenyang,” teriak Mansur. “Aku menangis kalau memikirkan anak-anaknya yang kurus kering itu. Keluarganya sudah habis.”

Atau bagian saat seorang ibu Feroza yang keras dan tegas sama anaknya, menjadi agar anaknya tetap lurus butuh perjuangan ekstra. Hingga kisah cinta yang patah untuk Leila. Leila juga ingin muda dan tak terjamah.

Buku ini secara umum malah kental bumbu drama, bukan di perbukuannya, tema sangat erat dengan romansa percintaan. Hubungan-hubungan yang terputus, sebab menikah bukan karena dengan sang kekasih, tetapi dengan yang dipilihkan keluarga. Terutama mempelai perempuan, digambarkan sungguh lemah, suaranya tak didengar. Ada dua pasangan yang berlainan nasib. Prinsip sangatlah aib mencintai seseorang yang tak mungkin dimiliki. Pertama Shakila yang mengidamkan pernikahan ideal dengan Mahmoud, tapi kandas dan menikah dengan duda beranak banyak, Wakil. Awalnya meragukan, tapi malah berakhir bahagia. Jika bekerja bisa membuat Shakila bahagia, dia tak keberatan. Selain itu, tentu saja, mengurus anak-anak dan rumah. Syarat umum bukan? Kewajiban wanita adalah mengurus keluarga, menyediakan makanan dan pakaian, dan jika ada wanita terpaksa harus keluar rumah, mereka harus menutup seluruh tubuhnya sesuai hukum syariat.

Kedua Leila muda yang memimpikan menjadi pengajar, syarat menjadi guru banyak dan sulit. Tesnya bertahap dan sungguh meragukan, dasar rekomendasi itu penting, kekuatan orang dalam di manapun memang berlaku. Lantas, kisahnya cintanya yang luput, Karim yang diidamkan, malah saudaranya yang diajukan. Karim sudah berulang kali mengirim surat cinta, mengirim salam, dan bahkan berhasil menanyakan langsung cintanya. Dalam hati Leila bahagia, menerima, dan harapannya membumbung. Namun bukan ia yang menentukan pilihan, keluarganya yang memutuskan. Jangan bayangkan, kenapa tak protes ya. Dunia di sana tak sebebas Indonesia masa kini, kita bebas mementukan pasangan hidup, kita memiliki suara.

Beberapa pandangan yang bikin terenyuh adalah “Harga seorang mempelai wanita diperhitungkan menurut usia, kecantikan dan ketrampilan, serta status keluarganya.” Ini bisa jadi juga umum di sini. Namun lanjutannya bikin sedih. “Nilai pengantin perempuan adalah kegadisannya, nilai seorang istri adalah jumlah putra yang dilahirkan. Pengantin harus tampil artifisial, seperti boneka. Kata untuk boneka dan pengantin adalah kata yang sama.”

Setelah melahap buku ini, apa yang dirasakan? Tambah syukur jelas. Indonesia yang tampak compang-camping jelas jauh lebih bagus. Kita Negara dengan berbagai berbedaan, kemajemukan itu kudu dilihat secara objektif. Dan bisa dipaksakan ke satu arah atau agama atau budaya, rasanya justru berbahaya. Afganistan berantakan karena pemaksaan. Janji-janji politik radikal tak laik diterima begitu saja. Memang Indonesia saat ini bobrok di birokasi, walaupun berdasar Pancasila, di mana sila kelimanya berujar keadilan sosial, faktanya jauh sekali. Dan memang sulit diterapkan, apakah mau rakyat penyamarataan kekayaan? Tentu kalangan kaya raya tidak ‘kan. Apapun dasar Negara, kedamaian adalah tujuan utama. Bisa makan minum cukup, nyaman beribadah, hingga memiliki harapan dan rasa optimistis untuk anak, patut digenggam erat.

Pandangan di sana tentang perempuan juga sangat disayangkan. Pernikahan itu sakral, tapi lapisannya ternyata banyak berbentur materi. Menyerahkan anak perempuan begitu saja menyiratkan bahwa anak itu tidak ada harganya, menyiratkan bahwa orangtuanya senang bisa menyingkirkannya. Pernikahan adalah hal yang amat serius. Baju pengantin harus hijau, warna lambang kebahagiaan dan Islam. Perkawinan ibarat kematian kecil. Keluarga pengantin perempuan berdukacita, selama berhari-hari setelah upacara perkawinan sekan perkawinan itu upacara pemakaman.

Taliban menganggap debat sebagai sesuatu yang haram dan kebimbangan sebagai dosa. Segala sesuatu yang tidak ada kaitannya dengan Al-Quran dianggap tidak perlu, bahkan berbahaya. Patung-patung Buddha raksasa di Bamiyan diledakkan. Semuanya berumur hampir dua ribu tahun dan merupakan peninggalan sejarah kebudayaan Afganistan yang terbesar.

Dunia literasi memang mengagumkan, terlepas dari keputusan-keputusan kontroversi Sultan, ia telah menempatkan diri dengan sebijak mungkin. Tidak banyak hal yang bisa memikat hati Sultan selain menemukan buku berharga di pasar yang berdebu dan membelinya dengan harga sangat murah. Buku sejarah yang tidak berisi ideologi, kecuali sedikit nasionalisme yang wajar. Kasus pencurian contohnya, bikin gereget sebab uang ditempatkan di atasnya, sisi kemanusiaannya hilang. Bagi Sultan, bekerja adalah pekerjaan terpenting dalam hidup.

Kutipan penyair favorit Fedusi,Untuk bisa berhasil, kadang kita harus menjadi serigala dan kadang domba.” Terlihat ia sering kali pelit, atau dalam kacamatanya hemat. Dia mengikuti nasihat Nabi Muhammad Saw. dalam hal memberikan sedekah yang ditafsirnya sebagai berikut: Pertama-tama urus dirimu sendiri, lalu keluarga terdekat, lalu kerabat, lalu tetangga, dan yang terakhir orang miskin yang tidak dikenal.

Suka bagian saat ia berburu buku. Lahore adalah pusat kebudayaan dan kesenian Pakista, sebuah kota yang sibuk, membingungkan, dan tercemar. Menuju Lahore, kota tempat beumpulnya percetakan, penjilidan buku, dan penerbitan. Atau saat menemukan buku langka, yang dijual murah sama penjual buku bekas sebab tak paham literasi. Matanya berkedip jika tawaran yang diterimanya bagus sekali dan bibirnya agak gemetar. Segala hal menarik minatnya: mitos dan cerita lama, puisi lama, novel, biografi, buku politik mutahir, dan juga aneka kamus dan eksiklopedia. Hehe, bukankah kita juga begitu. Saat ini berburu buku bisa terjadi secara daring, sosmed Facebook mempertemukan penjual dan pembeli, dan luar biasa riuh.

Catatan ini saya tutup dengan tiga hal. Pertama sebuah puisi Rumi yang dikutip Mansur, ia galau akan dosa dan pengampunan berbunyi, “Sang air berkata kepada sosok kotor, “Kemarilah.” / Si kotor berkata, “Aku malu sekali.” / Sang air menjawab, “Bagaimana mungkin rasa malumu bisa dicuci tanpa aku?”” Mansur yang malu, dan berdosa. Satu lagi, juga dari Rumi. Sultan memang liberal, tapi dia menerapkan kekuasaan patriarkat. Bukankah itu kontradiksi? Rumi berkata, “Ego adalah cadar antara manusia dan Tuhan.”  Ketiga adalah sebuah harapan, ah asa itu diapungkan, entah kapan. Saat buku ditulis tahun 2002, dan kini 2022 Afganistan masih ditengah kebimbangan. Harapan itu berbunyi, “Afganistan akan menjadi Negara modern. Pada suatu pagi pada bulan April, ketika mantan raja Zahir menginjakan kaki di tanah Afganistan, sete;ah 30 tahun hidup dalam pengasingan…”

Semoga sang “Raja Zahir”, juru selamat itu suatu hari akan tiba…

Saudagar Buku dari Kabul | by Asne Seierstad | Diterjemahkan dari The Bookseller of Kabul | Terbitan Leonhardt & Hoier | Penerjemah Sofia Mansoor | Penyunting Pangestuningsih | Copyright 2002 | Penerbit Qanita | Cetakan I, Januari 2005 | Desain dan ilustrasi ampul 9 Nyawa | 456 h.; 17.5 cm | ISBN 979-3269-28-6 | Skor: 4/5

Untuk Orangtuaku

Karawang, 300522 – Tasya Kamila – Ketupat Lebaran

Thx to Azi Mut Book, Bandung

14 Best Books 2021 – Non Fiksi

Tahun baru, pas tanggal 1 kemarin dapat twit bagus. Kukutip kata-kata Dea Anugrah di twitter, “Suka baca fiksi oke, nonfiksi juga oke. Baca apa aja boleh. Kalau nggak suka baca, ya, nggak apa-apa. Rajin baca belum tentu pintar, malas baca belum tentu nyebelin. Yang penting jangan nyebelin.”

Tahun 2021 saya membaca 31 buku non-fiksi. Menikmati ngalir sahaja, tak ada target, tak ada pemisahan genre, tak ada pilih pilah lokal/terjemahan, tak perlu pula pusing isinya perlu atau tidaknya. Menikmati buku tuh, ngalir saja, tak usah dipeta-petakan. Makanya kutu buku melakukan book shaming, rasanya geregetan deh. Kalau itu nyaman, dan tak mengganggu kamu, udah sih jangan julid.

Susunannya sama seperti tahun lalu. Judul buku, ditulis oleh, penerbit, lalu tahun pertama buku ini diterbitkan (bukan tahun terjemahan/cetak ulang), tapi kalau terjemahan tidak mencantum sumber tahunnya maka ya yang ada di identitas aja yang kutaruh. 31 satu tuh sepertiga dari total fiksi yang kulahap. Berikut daftar buku non-fiksi terbaik yang kubaca tahun 2021 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. Menumis itu Gampang, Menulis Tidak by Mahfud Ikhwan (Mojok) – 2021

Jangan bosan, saya memasukkan nama Cak Mahfud di daftar terbaik sebab memang sudah dapat cap jaminan mutu buku-buku beliau.
Melihat ilustrasi bukunya saja sudah bikin males, tiga pose santuy, rebahan dalam kebosanan. Dan warna kuning, jersey Malaysia yang mengesalkan itu. Banyak hal mewakili pengalamanku sendiri, otomatis banyak hal pula menjadikannya ironi hidup. Sepakbola, buku, Muhammadyah, resign di tahun 2009, males keluar rumah (apapun modanya), kopi melimpah dst. Lazio, Chelsea, La Coruna rasanya hanya tim gurem yang tak ada apa-apanya dalam sejarah Eropa dibanding gelimah gelar AC Milan, Liverpool, dan eehhheemmm Madrid. Saya benar-benar mencintai bola lebih belakangan, baru di Piala Dunia 1998 kala Italia bersama aksi Vieri-nya. Sepakat sekali segala apa yang dikisah panjang lebar dalam ‘Menunggu”, yang menyata bahwa kecintaan pada permainan ini sungguh absurd.

Walau terkesan sombong, seperti yang terlihat dalam wawancara di Youtube, “saya punya buku baru lagi…”

#13. Sosiologi by Dr. Soedjono Dirdjosisworo, S.H. (Penerbit Alumni) –1981

Efek sebuah buku bisa sangat panjang. Saya menikmati sekali buku Prof Priono yang mengulas sejak terjang Anthony Giddens, mengupas kulitnya saja tentang sosiologi. Nah, dari situlah saya menelusuri banyak buku terkait. Ini salah satu gema sosiologi tersebut. Buku ini memperkenalkan sosiologi pengantar dengan peringatan bahwa pandangan falsafah terentu mempunyai pengaruh terhadap pengertian dan persespsi terhadap gejala sosial yang terjadi.

Sosiologi berarti Ilmu pengetahuan tentang hidup bersama, yang dibicarakan di sini adalah sebuah ilmu pengetahuan, artinya pelajaran yang memenuhi semua persayaratan.

Filsafat Pancasila, “Ora sanak ora kadang jen mati melu kelangan” artinya bukan sanak bukan saudara kalau mati ikut kehilangan.

#12. Think Like a Freaks by Steven D. Levitt & Stephen J. Dubner (Noura) –2015

Berpikir seperti orang aneh, berarti berpikir kecil, tidak besar. Tentang pikiran kritis akan masalah aktual dunia saat ini dilihat dari kacamata orang aneh, orang yang beda. Pemecahannya juga aneh, walau saat ditelaah lebih dalam terlihat malah sungguh sederhana. Contoh, injeksi kotoran manusia untuk pengobatan. Itu hal yang terdengar ganjil, tapi saat ditelaah ternyata bisa dan ada. Atau pemikirannya untuk berhenti protes pemanasan global sebab menipisnya lapisan ozon. Karena percuma. Berani menentang arus. Berpikir seperti orang aneh itu cukup sederhana sehingga siapapun dapat melakukannya. Yang mengherankan, sedikit sekali yang melakukannya.

Roy Porter pada tahun 1997 menjelaskan, “Kita hidup pasa zaman sains. Tetapi sains tidak menghapus fantasi tentang kesehatan. stigma penyakit, makna moral kedokteran terus ada.”

#11. Sang Belas Kasih by Haidar Bagir (Mizan) – 2021

Keren. Itulah kata pertama yang kuucap seusai menuntaskan 200 halaman. Mungkin karena jarang baca buku-buku agama, apalagi terjemahan langsung isi Al Quran, maka yang saya dapat adalah sesuatu yang fresh. Enak sekali pembahasannya. Runut dan nyaman. Jadi tahu seluk beluk kandungan di dalamnya. Selama ini baca Al Quran ya baca saja Arabnya. Sesekali baca terjemahannya, tapi sungguh sangat jarang. Bahasanya yang puitis dan bernada, tak mudah dipahami. Dan ini, per katanya dibedah. Ini adalah buku tafsir surah Al Quran pertama yang tuntas kubaca.

Nabi Muhammad SAW bersabda: “Segala sesuatu memiliki pengantin, dan pengantinnya Al-Quran adalah surah Al-Rahman.”

#10. Mencari Setangkai Daun Surga by Anton Kurnia (IRCiS0D) – 2016

Kumpulan esai dengan banyak tema, diambil dari berbagai sumber yang pernah muncul di media dari pertama muncul sampai update buku ini dicetak tahun 2016. Variasi tema: sastra, politik, budaya, sampai olahraga. Bagian olahraga mungkin yang paling kurang, tak dalam. Bicara Piala Dunia yang dituturkan khas tabloid Bola, umum dan tak personal. Bagian sastra yang luar biasa, memang spesialisasi beliau di sastra, maka tampak ditulis dengan menggebu dan nyaman dinikmati.

Tugas seorang penulis adalah menyuarakan pembelaan terhadap mereka yang tertindas di bagian dunia mana pun, itu tercermin dalam karya-karyanya. – Nadine Goldminer

#9. Tasawuf dipuja Tasawuf Dibenci (editor) by Mukhlis, S.Pd.I., M.Ag; dkk (Genta Press) –2008

Sejak membaca Dunia Mistik dalam Islam karya Anmimarie Schimmel saya jatuh hati dengan tema tasawuf. Maka setiap muncul di beranda sosmed ada yang jualan, dan harga terjangkau langsung kuambil. Ini adalah salah satunya, dan ternyata sangat bagus. Semakin asyik dan syahdu terendam capaian spiritual. Ada dua nama sufi yang semakin kucinta di sini, Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi. Tasawuf mulai abad 3-4 mulai ada dua model kecenderungan dalam penghayatan dan pengamalan tasawuf. Pertama, aliran tasawuf akhlaqi (tasawuf sunni) yang mengklaim penganutnya paling konsisten dalam usaha memagari tasawuf dengan Al-Quran dan Sunnah serta mengkaitkan keadaan dan tingakatn rohaniyah mereka dengan keduanya. Sufi paling terkenal adalah Al-Ghazali. Kedua, aliran tasawuf semi-filosofis, yang pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahiyyat) serta bertolak dari keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (hulul). Sufi yang terkenal adalah Ibn ‘Arabi.

#8. Semesta Murakami by John Wray, dkk (Odise) –2021

Terdiri atas tujuh cerita, plus satu pengantar dari Cep Subhan KM. menyenangkan sekali menyaksi Penulis favorit menjalani hari-harinya, ditulis dengan gaya santai dalam bentuk esai dan wawancara. Sebagian besar mungkin sudah sungguh familiar, atau karena berkali-kali dibaca, sekadar pengulangan, tapi mayoritas memang hal-hal asyik. Seperti proses kreatif menulisnya, sudah sering kubaca; bagaimana ia menulis dalam bermimpi, dan dalam daya imaji, itu adalah kegiatan mimpi yang bisa dilanjutkan. Atau bagaimana adegan drama yang memberinya ilham di lapangan olahraga dalam momen ‘eureka’ Saya bisa menulis, atau di bagian familiar hampir semua jagoannya menderita.

“Untuk menulis novel yang panjang, diperlukan setidaknya satu tahun dengan tingkat konsentrasi dan semangat tinggi.”

#7. Cara Mencari Kawan dan Mempengaruhi Orang by Dale Carnegie (Gunung Jati) – 1979

Buku self-improvement yang luar biasa. Salah satu yang terbaik yang pernah kubaca. Sangat inspiratif dan menggugah. Tips-tips jitu, sebenarnya beberapa sudah kupraktekkan, terutama saat konseling karyawan, tapi dengan mambaca buku, saya mendapat teori yang lebih pas. Betapa menghargai orang lain itu sangat amat penting. Orang suka ditanyai pendapatnya dan gagasan-gagasannya.

Shakespeare mengatakan, “Yang baik dan buruk, semua itu semata-mata ditentukan oleh pikiran dan gagasan belaka.”

#6. Filsafat Ilmu: Sebuah Pengantar Populer by Jujun S. Suriasumantri (Sinar Harapan) – 2005

Kubaca santai sejak bulan September tahun lalu, setelah dengan terjal mencoba tuntaskan, akhirnya selesai juga. Sempat menghantuiku berbulan-bulan, sebab saat itu menemukan pengetahuan yang tak lazim tentang filsafat. Jelas buku ini memesona sekali, terutama separuh awal, tema serius disampaikan fun, dengan gambar-gambar lucu dan potongan kutip filsuf dari berbagai era. Sempat pula kubilang, wow. Ini ditulis oleh Penulis lokal, penuh gaya dan akrobat kata yang disodorkan luar biasa nyaman. Belajar filsafat tak melulu pening.

Einstein: “Ilmu tanpa agama adalah buta, agama tanpa ilmu adalah lumpuh… mengapa ilmu yang sangat indah ini, yang menghemat kerja dan membikin hifup lebih mudah, hanya membawa kebahagiaan yang sedikit kepada kita?”

#5. Civilization and Its Discontents by Sigmund Freud (Octopus; Immortal) –1979

Di akhir merasa ada ganjalan, pemaknaan hidup yang luas dan fakta-fakta yang disodorkan memang mencipta bimbang. Freud memang hebat kala memainkan pikiran, dan Civilization and Its Discontents jelas sukses besar mencipta riak kegelisahan.

“Keindahan, kebersihan, dan keteraturan jelas menduduki posisi istimewa di antara syarat-syarat yang dibutuhkan peradaban.”

#4. Cinta Bagai Anggur by Syaikh Muzaffer Ozak (PICT) –1987

Buku teragung di alam dunia ini adalah hidup ini sendiri. Baca, baca, bacalah, dan ulangi sekali lagi. masa lampaumu adalah bagian terbesar dari buku itu. Buku-buku Tasawuf memang sedang gandrung kubaca, efek menikmati Dimensi Mistik dalam Islam-nya Annemarie Schimmel. Nah, kali ini kita ke seberang Benua. Di Amerika yang asing, seorang guru sufi Syaikh Muzaffer Ozak. Nama asing bagi yang tak mendalami genre ini, tapi ia memang pahlawan sebar Islam di dunia Barat. Bila seseorang benar-benar mencintai Tuhannya, maka Dia akan menuntun tiap episode kehidupan si hamba menjadi semakin dekat pada-Nya, melalui jalan-jalan yang tidak pernah terduga sebelumnya.

“Bersihkan mukamu, dan jangan sibuk menyalahkan cermin.”

#3. Zarathursta by Frederick N (Narasi) –1977

Buku yang luar biasa (membingungkan). Kubaca ditanggal 1 Januari di rumah Greenvil sebagai pembuka tahun, di tengah mulai kehilangan arah (bosan dan mumet), maka kuselipkan bacaan-bacaan lain yang setelah bulan berganti kuhitung ada 9 buku, tapi tetap target baca kelar buku ini di bulan Januari terpenuhi tepat di tanggal 31 di lantai 1 Blok H, walau tersendat dan sungguh bukan bacaan yang tepat dikala pikiran mumet. Awal tahun ini banyak masalah di tempat kerja, pandemik harus ini itu, aturan baru semakin meluap, dan tindakan-tindakan harus diambil. Di rumah, lagi mumet urusan buku yang menggunung. Maka lengkap sudah Sang Nabi menambah kesyahduan hidup ini dengan sabda aneh nan rumitnya. Tuhan adalah sebuah dugaan, tetapi aku ingin dugaan kealian tidak lebih kuat dari kehendak cipta kalian.

“Kita adalah realis komplit dan tanpa kepercayaan atau takhayul.”

#2. Eichmann in Yerusalem by Hannah Arendt (Pustaka Pelajar) – 2012

Buku yang sangat kueeereeeen. Salah satu buku non-fiksi terbaik yang pernah kubaca. Kisahnya berliku. Walau intinya satu, pengadilan Adolf Eichmann yang berakhir dengan hukum gantung. Pengadilan Jerusalem ini dikupas tuntas, ditelusur dari awal mula proses ini menemukan kik, bahkan ditarik mundur terlampau jauh di mana tersangka lahir dan tumbuh kembang.

“Setelah beberapa saat ini, Tuan-tuan kita akan bertemu kembali. Demikianlah nasib semua orang. Hidup Jerman! Hidup Argentina! Hidup Austria! Aku tidak akan melupakan mereka.”

#1. Bung Karno, Penyambung Lidah Rakyat by Cindy Adams (Medpress) – 1965

Bagi Bung Karno, biografi ini dimaksudkan untuk memberikan pemahaman yang lebih baik terhadap Sukarni maupun terhadap Indonesia (oleh masyarakat dunia). Buku yang sangat bagus, salah satu biografi terbaik yang pernah kubaca. Begini seharusnya sebuah pengakuan dibuat, ditulis oleh Penulis lain, dengan melakukan penuturan kisah hidupnya. “Ini adalah pekerjaan yang sulit bagiku. Sebuah otobiografi tak berbeda dengan pembedahan mental. Sangat sakit, melepas plester pembalut luka-luka dari ingatan seseorang dan membuka luka-luka itu – banyak di antaranya yang mulai sembuh – terasa perih…”

Yup, yang penting jangan nyebelin.

Karawang, 040122 – John Coltrane – Tanganyika Strut

Segala-galanya Ambyar by Mark Manson (2/2)

Ulasan dibagi dalam dua bagian. Bagian pertama buat dibaca di sini. Ini bagian kedua dari dua. Seperti bukunya, yang pertama tentang harapan yang lain adalah keambyaran.

Aku rasa pikiranmu begitu terbuka, sampai otakmu tercecer.” – Carl Sagan.

Bagian kedua ini bermula dengan formula kemanusiaan. Pertengkaran membutuhkan dua orang yang saling peduli. Otak Pemikir Kant adalah Mr. Olympia dalam semesta para intelektual. Bagi Kant, satu-satunya yang membedakan kita dari seluruh benda di semesta adalah kemampuan kita untuk berpikir – kita mampu memahami dunia di sekitar kita, melalui pikiran dan kehendak, memperbaikinya. Inilah baginya yang istimewa, sangat istimewa – nyaris sebuah mukjizat – karena dari antara aneka kehidupan yang tak terpermanai, cuma kitalah (sejauh yang kita tahu) yang sungguh mampu menyetir kehidupan. Kehidupan Kant yang menurut kita monoton karena melakukan banyak hal yang sama, malah menjadi sebuah rutinitas kebahagiaan. Menemui rasa sakit dan ketidaknyamanan. Inilah mengapa tidak ada perubahan tanpa rasa sakit, tidak ada pertumbuhan tanpa ketidaknyamanan. Bahwa kita ditakdirkan untuk selalu bertikai untuk perbedaan-perbedaan kecil.

Kehidupan yang umum dari anak, remaja, dewasa, tua adalah proses yang harus dihadapi. Penderitaan manusia itu seperti gim Whac-A-Mole, gim di mana tikus-tikus tanah bermunculan, dan pemain harus memukul satu demi satu untuk mendapatkan poin. Setiap kali Anda menggebuk satu penderitaan, penderitaan lainnya muncul. Semakin cepat menggebuk penderitaan, semakin cepat pula penderitaan datang lagi. Jadi dari segala yang berjalan, penderitaan itu akan selalu ada. Tak peduli betapa kaya rayanya kamu. Penderitaan itu mungkin menjadi mendingan, barangkali berubah bentuk, barangkali semakin bisa dihadapi hari demi hari. Namun, dia selalu ada. Penderitaan adalah bagian dari kita. Penderitaan adalah kita. Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat.

Semboyan terkenal Woodstock dan banyak gerakan bebas-mencintai di tahun 1960-an adalah “Jika rasanya enak, lakukan! (If it feels good, do it!)” Sentimen ini merupakan dasar dari banyak gerakan New Age dan perlawanan budaya hari ini. Seperti pegangan kaum hippies, just do it. Keputusan itu pada dasarnya adalah sebuah tawar-menawar dengan masa depannya: aku merelakan kenikmatan saat ini demi mencegah sesuatu yang lebih buruk menimpaku di masa depan.

Dan ketika setiap agama yang baru memercayai bahwa dirinya yang memberikan kebenaran paling tulen yang mempersatukan seluruh manusia di bawah satu panji-panji, sejauh ini, semuanya terbukti tidak sempurna dan tidak berlaku universal. Menurutku, agama kalian yakini, jangan merusak hubungan dengan menyalahkan agama lain karena ini seperti melihat cermin, kamu adalah bayangan kamu. Yakini, lakukan, tanpa menuding yang lain salah. Ada orang-orang yang hidupnya ambyar: orang-orang miskin, tersisih, terlupakan dan tersakiti. Anda tahu kan, orang-orang yang setiap hari kerjaannya meng-ecek facebook. Lebih buruk lagi, cek facebook dan berkicau ngawur tentang kebenaran agamanya sendiri yang hakiki, yang lain kafir. Saya yakin kalian pernah melihatnya, atau malahan masih berteman dengan individu seperti itu? jauhkan saran saya. Kemampuan kognitif Elliot (kecerdasan, ingatan, dan perhatian). Sokrates menyatakan akal sebagai akar dari segala kebaikan. Descartes berpendapat bahwa akal kita terpisah dari gairah-gairah kebinatangan, sehingga tugas akal adalah mengendalikan gairah-gairah tersebut.

Kekuatan yang mendesak kita untuk mengisi kesenjangan-kesenjangan tersebut adalah emosi kita. Dalam hal ini, setiap tindakan mendatangkan reaksi emosi yang kadarnya setara dan datang dari pihak lawan. Bagi Nietzsche semuanya kacau, dan ia membenci semuanya. Demokrasi itu naïf, nasionalisme itu dungu, komunisme itu penuh tipu muslihat, kolonialisme itu menyakiti hati. Semua yang berhubungan dengan duniawi – baik pada gender, ras, suku, bangsa, atau sejarah – bersifat fana. Di bagian dua ini kehidupan pribadi sang filsuf dikupas detail. Adalah Meta adalah wanita pertama Swiss yang mendapat gelar Ph.D. yang menjadi orang terdekatnya, banyak membantu dan menyelingkupi kehidupan ‘Sang Pembunuh tuhan’. Ilmu pengetahuan tidak bisa disangkal merupakan agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Cinta hanyalah wadah terjadinya pertukaran perasaan, di mana masing-masing diri kalian membawa apa pun yang dipunyai untuk ditawarkan dan saling menjajakannya hingga mendapat keuntungan traksaksi yang paling bagus.

Lalu ada penelitian, Efek Titik Biru (Blue Dot Effect) menyatakan bahwa pada dasarnya, semakin banyak kita mencari ancaman, semakin niscaya kita melihatnya, tidak peduli seberapa aman atau nyamannya kondisi lingkungan yang sesungguhnya. Semakian menyedihkan hubungan menyedihkan dijalani, kejujuran menjadi semakin penting. Semakin mengerikan dunia ini, keberanian menjadi semakin penting untuk dimunculkan. Semakin membingungan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga. Kita memang manusia yang memeluk rasa, terutama cinta yang dalam tak peduli itu berefek derita karena pengorbanan atau saking dungunya tak melihat secara wajar, cinta buta yang mengilhami. Karena itupun satu-satunya bahasa yang dimengerti oleh Otak Perasa: empati.

Ruang dan waktu adalah apa yang kita sebut sebagai ‘konstanta universal’. Salah, Einsten menjawab, kecepatan cahaya-lah yang merupakan konstanta universal, sesuatu yang dipakai untuk mengukur segala hal lain. Kita semua bergerak, sepanjang waktu, dan semakin kita mendekati kecepatan cahaya, semakin ‘melambat’ gerak waktu, dan ruang pun semakin mengerut.

Berikutnya kita memasuki tahap apa itu perasaan. Amat mudah mempermainkan emosi orang dan membuat mereka marah atas hal-hal yang sepele – media berita telah menciptakan model bisnis dari kegiatan macam ini. Freud bilang pada dasarnya kita adalah hewan-hewan, yang impulsif dan egois dan emosional. Jika kamu dapat memasuki keresahan orang lain, mereka akan memercayai semua sampah yang Anda sampaikan.

Daniel Kahneman, otak pemikir adalah “Peran pembantu yang membayangkan diri menjadi pahlawan”. Internet pada akhirnya tidak didesain untuk memberi apa yang kita butuhkan, sebaliknya, internet memberikan pada orang-orang apa yang mereka inginkan. Satu-satunya bentuk paling sejati kemerdekaan, satu-satunya bentuk paling etis dari kemerdekaan, adalah melalui pembatasan-diri. Koneksi dunia maya nyaris tanpa batas, sampai-sampai kita dari bangun tidur sampai tidur lagi, kita kecantol sama koneksi digital. Jujur saja, ketika bangun tidur kalian pasti langsung cari HP yang akan menemani sepanjang hari, lalu sebelum tidur pun akan menaruhnya dengan tepat di mana, ya kan ya kan.

Ide saya sebegitu mustahilnya sampai mungkin saja justru akan berhasil. Edward Bernays, seorang figur muda pemasaran dengan ide liar dan kampanye pemasaran yang bahkan lebih liar lagi. Dia adalah kemenakan Freud. Pemasaran secara spesifik menunjuk atau menguatkan kesenjangan moral pelanggan dan kemudian menawarkan cara mengisinya. Dunia digital juga memudahnya segala pembelian produk, maka dunia iklan merasuk ke dalamnya. Nyaris setiap saat mata kita digampar iklan di layar yang muncul seketika tanpa kita minta. Mereka mengkloning diri, menjadikan hal-hal yang sebenarnya tidak kita butuhkan menjadi opsi, lagi dan lagi. Kemajuan teknologi adalah salah satu menifestasi Ekonomi Perasaan. Paradox pilihan, semakin banyak pilihan yang diberikan pada kita, semakin kita tidak merasa puas atas pilihan yang kita ambil.

Menurut model kepribadian “Lima Besar”, kepribadian seseorang terdiri lima ciri dasar: kemauan untuk bergaul, kemauan untuk menyadari, kemampuan untuk berpendapat, neurotisisme, dan keterbukaan akan pengalaman baru. Nah ‘kan, kembali ke dalam itu sangat penting. Keterbukaan dan menempatkan diri menjadi penting di era yang banyak menebas sekat. “Bicara banyak tentang dirimu sendiri dapat juga menjadi cara untuk menutupi dirimu.” Nietzsche.

Thich Quang Duc, membakar diri dalam meditasi. Diam. Tenang. Damai. Meditasi secara ilmiah terbukti meningkatkan rentang perhatian dan kesadaran diri dan pengurangan kecanduan, keresahan, dan stress. Meditasi secara esensial merupakan latihan untuk mengatur penderitaan dalam kehidupan. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita. Konsep populer mengenai ‘cinta yang keras (tough love)’ adalah Anda membiarkan anak untuk mengalami penderitaan karena dengan menyadari hal-hal yang penting di saat berhadapan duka, anak akan meraih nilai yang lebih tinggi dan berkembang.

Dunia digital yang pesat memberi banyak kemudahan sekaligus teror baru. Elon Musk ditanya tentang ancaman apakah yang paling mengerikan: pertama, peran nuklir skala besar, kedua perbuhan iklim dan yang ketiga ia terdiam. Air mukanya berubah kecut. Ia melihat ke bawah, tampak berpikir dalam. Lalu ia tersenyum dan berkata, “Saya hanya berharap komputer-komputer bersikap baik pada kita.” Dunia IT yang misterius ini sampaikah menggeser nurani? Generasi mendatang yang akan tahu, kita memetakan dan meletakkan dasarnya! Plato bilang bahwa seseorang harus membangun karakter melalui aneka bentuk penyangkalan diri, ketimbang melalui pemanjaan diri. Kata ide sendiri datang dari dia – jadi, Anda boleh berkata bahwa ia menciptakan ide tentang ide.

Tidak ada Negara yang sepenuhnya dil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Jadi syukuri kita tinggal di mana, di Indonesia dengan segala kelemahannya? Lihat sisi positifnya, lakukan apa yang bisa dilakukan. Di tengah pandemi seperti ini, justru kita akan terlihat aslinya. Mau di sisi mana sebenarnya tingkah polah kita. Kemakmuran membuat kesulitan mencari makna. Itu membuat penderitaan yang bertambah akut. Riset menunjukkan bahwa semakin seseorang terdidik dan mengetahui banyak hal, semakin pendapat orang tersebut terpolasisasi secara politik. Apalagi kalau ngomongin politik, yang wajar saja Mas. Dunia politik kita sejatinya juga ga jauh beda dengan negara miskin di pojok Afrika atau negara maju Amerika. Jadi masalahnya bukan tempatnya kita di mana, tetapi mau menaruh pikiran kita ke mana. Pada dasarnya perkembangan psikologi kita senantiasa berevolusi untuk menuhankan segala yang tidak kita pahami. Internet adalah inovasi tulen. Semua menjadi setara, secara fundamental, membuat hidup kita menjadi lebih baik. Jauh lebih baik. Masalahnya ada pada kita.

Di kover belakang tertulis, ‘…blog markmanson.net menarik dua juta lebih pembaca setiap hari’. Di identitas penulis akhir buku tertulis ‘…menarik lebih dari dua juta pembaca setiap bulannya.’ Manson tinggal di kota New York. Jadi sebenarnya dua per hari atau bulan?

Tulisan yang bagus adalah tulisan yang mampu berbicara dan merangsang kedua otak pada saat yang sama. Semuanya runyam, semuanya ambyar. Komitmen yang lebih besar mendatangkan kedalaman yang lebih berkualitas. Buku kedua Mark Manson ini jelas lebih bagus dalam menyampaikan pendapat dan ide, dengan judul yang lebih gaul memakai kata ‘ambyar’ yang baru saja disahkan di KBBI sehingga secara instan berhasil menggaet kaum muda. Blogger yang sukses menasehati kita. Grasindo panen lagi, yakinlah ini akan menjadi best-seller lagi tahun ini. Beruntung saya bisa menuntaskan baca di bulan yang sama diterbitkan cetakan pertamanya. Segala-galanya, secinta-cintanya, sesayang-sayangnya.

Tamat.

Segala-galanya Ambyar | by Mark Manson | Diterjemahkan dari Everything is F*cked | Copyright 2019| Penerbit HarperCollin | ID 572040009 | Penerbit Gramedia Widiasarana Indonesia (Grasindo) | Cetakan kedua, Februari 2020 | Alih bahasa Adinto F. Susanto | Tata isi wesfixity@gmail.com | Sampul wesfixity@gmail.com | modifikasi desain karya asli Leah Carlson-Stanisic | ISBN 978-602-052-283-8 | Skor: 4.5/5

Untuk Fernanda, tentu saja

Karawang, 290220 – 060320 – 140320 – 150320 – 300420 – Andra and The Backbone – Hitamku – Sempurna

(review) The Book Thief: Words Are Life

Gambar

Narrator/Death: The only truth that I truly know is that I am haunted by humans.

Film dinarasikan oleh malaikat kematian (disuarakan Roger Allam), dibuka dengan sebuah adegan di sebuah kereta menuju kota fiktif di Jerman di era paling kelam abad 20 tahun 1939. Seorang anak perempuan Liesel Meminger (Sophie Nelisse) – dengan nama panggilan Lisa, yang menjerit atas kematian saudara laki-lakinya, mati kedinginan dan lapar. Pemakamana adiknya yang singkat di tengah hujan salju, Lisa menemukan sebuah buku yang terjatuh dan membawanya pulang, buku berjudul: “The Grave diggers Handbook”. Lisa ditampung dan dijadikan anak angkat oleh Hans Hubermanns (Goeffrey Rush) seorang ayah yang kekanak-kanakan, seorang tukang cat dan Rossa Hubermanns (Emily Watson), ibu yang galak. Di era Hitler di mana malaikat kematian begitu sibuknya. Lisa yang buta huruf, anak yatim piatu, tinggal bersama orang tua angkat. Dia belajar membaca saat usia 11 tahun, namun dari situlah dia mulai menyukai tulisan. Siang hari sekolah sambil membantu Rossa malam harinya bersama Hans belajar membaca. Pada suatu malam Lisa melihat buku-buku dibakar, dia mencuri salah satunya untuk melepas dahaga membacanya.

Rudy: You’re stealing books? Why?

Lisa: When life robs you, sometimes you have to rob it back.

Lisa mempunyai seorang tetangga pirang teman sekolahnya Rudy Steiner (Nico Liersch) yang ayahnya berangkat perang. Lalu keluarga ini menyembunyikan seorang Yahudi bernama Max (Ben Schnetzer) yang sakit-sakitan. Kisah bergulir dalam keseharian yang dilanda kekhawatiran perang. Lisa pada suatu saat mengantarkan sebuah pakaian bersih hasil laudry ke orang kaya, di sana dia melihat sebuah perpustakaan keluarga dengan buku berlimpah. Di sana dia diberi izin meminjamnya. Rasa lapar akan buku akhirnya tersalurkan.

Max menghadiahinya sebuah buku kosong agar Lisa mengisinya dengan kisah-kisah yang menawan. Words are life, Liesel. All those pages, they’re for you to fill. Namun kenyataan hidup memang pahit. Hans wajib militer, Rudy sedih karena rindu pada ayahnya dan nantinya saat menginjak usia 14 tahun dia akan wajib militer, Max adalah buronan dan barang siapa yang menyembunyikannya hukumannya sama. Cerita anak-anak di sebuah setting yang kelam. Bagaimanakah akhir dari perjalanan ini? Sang malaikat maut melalui narasinya berujar, “tak ada manusia yang hidup abadi”.

Pondasi cerita yang sangat bagus dari awal sampai tengah ini sayangnya ditutup dengan anti-klimak. Berdasarkan buku best seller karya Markus Zusak yang menawan, harusnya sang sutradara Brian Percival sudah mempunyai bahan yang bagus, sayangnya dia tersandung dengan ending yang rapuh. Dengan akting cast nya istimewa. Rush tampil prima dengan alat musiknya, orang tua yang nrimo akan keadaan hidup, Watson tampil lugas sebagai ibu yang galak namun di sisi lain feminim, dan tentu saja akting menawan Sophie, sebagai pusat cerita dia yang saat syuting berusia 13 tahun tampil solid. Dengan wajah cantik dan bilingua-nya yang meyakinkan, sinarnya akan terang di masa depan.

Gambar

The Book Thief

Director: Brian Percival – Screenplay: Michael Petroni – Cast: Roger Allam, Sophie Nelisse, Goeffrey Rush, Emily Watson – Skor: 3,5/5

Karawang, 200314