Tamasya Bola #30

Tamasya Bola by Damanto Simaepa

“… sepakbola (terutama di Eropa) bisa ditulis sama bagusnya dengan sastra dan sama emosionalnya dengan karya jurnalistik tentang perang atau kemiskinan…” (halaman 369)

Done. Tiga puluh review dari 30 hari di bulan Juni akhirnya selesai juga. 15 buku terjemahan, 15 buku lokal.

Apa menariknya cerita tentang Barcelona? Apa serunya ngomongin Manchester United? Mereka sudah besar dari sananya, ga perlu dikupas hal-hal umum yang tiap akhir pekan dibahas ratusan juta orang. Setelah keluhan cara pandang dan pilihan puja-puji klub, kita justru diajak menelusur dunia antah pengalaman hidup sang Penulis kala remaja, cintanya pada bola atau bahkan detail sepak bola amatir saat belajar di Belanda. Bah, ga ada yang tertarik menikmati hidup sang penulis, kecuali kamu adalah Rob Hughes atau Rayana Djakasurya. Sungguh buku yang membosankan, sempat melambung tinggi ketika membaca kata pengantar oleh Penulis pemenang Kusala Sastra Khatulistiwa 2018: Mahfud Ikhwan, buku ini langsung terjerebab di mula, terkatung-katung tanpa arah yang nikmat di tengah dan pada akhirnya membuat ingin segera meletakkannya di rak saking bosannya, hal-hal lumrah bagi pembaca menjelang ending. Bukan seperti ini buku tentang bola ditulis, padahal bung Damanto Semaepa mengkritik habis tabloid Bola yang kini sudah selesai, karena gaya bahasanya yang melimpahi pembacanya dengan data-data boring, lha malahan Tamasya Bola sama buruknya tatacara dituturkan. Secara aksara yang coba melambungkan tinggi gayanya, gagal; secara pilihan tema yang juga ga nyaman sampai akhirnya cerita pengalaman pribadinya, astaga tiga ratus halaman yang menyiksa. Tak heran buku ini butuh sebulan untuk kutuntaskan, lebih sering tertidur pulas ketika baru beberapa lembar kusingkap, lebih membosankan dari kisah-kisah dongeng Disney yang gitu-gitu saja. Padahal kuniatkan tuntas pertama bulan Agustus ini (2019), malah jadi paling akhir selesai lahap. Atau emang lagi apes, buku ini dinikmati di sela novel Sastra Maut di Venesia yang wow, Max and the Cats yang penuh tualang, The Story Girl yang brilian? Dihimpit novel-novel ternama, Tamasya Bola seolah pamflet sales motor yang dilambaikan di pinggir jalan, diambil pejalan bukan karena kita butuh, tapi lebih karena kasihan. Sayang sekali…

Pada mulanya adalah pertengkaran, menjadi judul bagus begitu juga isinya oleh Mahfud Ikhwan. Blog belakang gawang lahir, dan bagaimana segala hal yang umum di tabloid ternama Nasional itu begitu menjemukan, jadi mengapa ga nulis sendiri, dengan gaya maskulin? Mourinho menjadi dewa yang diagungkan, sekaligus seorang pendosa yang dicaci setiap minggu, apapaun hasil akhir pertandingannya. Sosok besar di dunia bola sepak yang komentarnya dijadikan bahan dasar para wartawan untuk dikutip. Terkutuklah mereka yang hanya menyukai tebak-tebakan skor! “Yang terbaik dari sepakbola, siklus perubahan selalu terjadi.”Mou

Buku dibagi dalam empat bagian: Pesta & Gelak Sedih, Pe(r)sona, Kuasa dan Politik, dan Tamasya. Kisah pembukanya sih sebenarnya lumayan tentang final Champions 2015 ketika lagi-lagi Juventus tersungkur. Sepuluh menit yang menghadirkan ambang batas antara kalah dan menang. Remontada, Semoga! Tentang Barcelona generasi emas. “Yang hilang dari generasi kami adalah sejarah remontada.”Xavi Hernandez.

Manusia berpikir, Tuhan tertawa menjadi pembuka kisah ketiga kegagalan Barcelona musim 2011-2012. ‘Saya sepakat dengan Franklin Foer yang menyatakan, untuk menjadi penggemar Barca, Anda harus siap-siap patah hati’ (h. 22). Saya pribadi enggak sepakat, harusnya lebih luas mengambil cakupan, kenapa? Karena nama klub diganti manapun pasti klik, ‘menjadi fan blablabla, siap patah hati.’ Mau diganti Fulham, Brescia, Herta Berlin, atau Granada bisa, atau justru lebih pas. Barca sudah terlalu sering angkat piala bos, patah hati dalam lima tahun bisa dihitung jari. Nah! ‘Pemujanya yang fanatik bisa saja frustasi, tapi tidak pernah mentranformasikannya menjadi anarki atau berperilaku layaknya begundal keji.’ (h. 22).

Ada satu paragraf yang akan membuat fan Chelsea tertawa ngakak. Saya kutip yes. “Jika melihat saksama apa yang terjadi dalam pertandingan melawan Chelsea, Anda takkan menemukan penjelasan dalam aspek permainan sepakbola. Pemain terbaik Anda mendapatkan pinalti yang sangat jarang digagalkan. Tim anda menguasai bola, mendikte lawan, unggul jumlah pemain, dan mendapat peluang melimpah. Tetapi Anda tetap kalah.” (h. 25) Well, dalam sepakbola penentu pemenang yang dihitung adalah bola masuk ke gawang, dan Chelsea memainkan tempo, bertahan dengan baik dan melakukan serangan efektif. Sesederhana itu sobat. “Jawa telah lama menemukan kebenaran ini: orang pintar akan dikalahkan oleh orang yang berusaha keras, dan orang yang berusaha keras akan dikalahkan oleh orang bernasib baik.” (h. 27). Dan seterusnya, ketegangan akan terus menukik turun sampai akhir, sebagian besar ada di blog belakang gawang.

Sejarah kemenangan sepakbola adalah akumulasi kesalahan demi kesalahan.” Eto’o.

Ada satu kutipan lagi di halaman-halaman akhir tentang sang pengulas yang tenar di Indonesia tahun 1990an sampai awal 2000an, “Rob Hughes semakin jarang diterjemahkan setipa pekan. Kolom-kolom yang diisi oleh wartawannya sendiri nyaris seragam, dari segi teknis menulis dan pengambilan posisi penulis terhadap apa yang ditulisnya. Semua ditulis dengan nada netral, dingin, dan berjarak dengan sepakbola. Analisis hasil pertandingan yang muncul pada edisi Selasa nyaris tak memberi nilai tambah apapun bagi saya setelah menonton pertandingan akhir pekan.” (h. 366). Ya kita sepakat, Bola memang tutup karena kreativitas dibungkam, dan isinya berita ‘umum’.

Kita yang besar di era 1990-2000an jelas terbiasa Bola, dan terjemahan 442 yang bagus. Bola Vaganza sempat juga hadir, tapi memang hanya beberapa artikel yang menarik. Saya malah suka bonusnya sahaja untuk dipajang. Puncak kejayaan sepakbola sebelum merambah modern seperti saat ini, bisa jadi adalah 2006 ketika Italia berpesta di Jerman. Itulah masa saya berhenti berlangganan. Lagian Lazio memasuki dark era pasca Cragnotti.

Terakhir, maaf ya saya enggak anti Barcelona atau MU, apalagi timnas. Sebagai Laziale apa yang disampaikan segi-ketiganya terlampau umum, nah ketika yang ditulis mendetail khusus ke dalam justru malah tentang pribadi, pengalaman sendiri yang bagi kita tak terlampau penting untuk tahu. Alamak kamu, cerita suatu sore kepleset di lapangan tepi pantai bersama anak-anak lokal, apa menariknya? Coba sesekali ulas lebih dalam, kejayaan Genoa yang pernah ‘merampok’ scudetto Lazio jelang Perang Dunia, atau bagaimana drama dibalik kepindahan Alan Shearer ke Newcastle dan masa kepelatihannya yang singkat nan pahit, atau nulis sejarah mendalam SPAL yang terlahir kembali, Parma yang terjatuh di kubang terdalam lalu melakukan come-back per musim, drama di baliknya jelas lebih memikat. Hal-hal semacam itu sejatinya akan sangat jauh lebih sedap ketimbang mengata kehebatan Barca yang hanya sesekali terjatuh, MU yang mengeluhkan pesta norak Liverpool juara, atau mencaci dengan fasih timnas berulang kali. Kita semua sudah tahu itu. Seperti novel, mayoritas novel keren bercerita tentang penderitaan, cinta yang kandas, atau dendam lama yang tak terbalas. Sepakbola ulasan juga harus begitu…

Maaf sekali lagi.

Tamasya Bola: Cinta, Gairah, dan Luka dalam Sepakbola | Oleh Damanto Simaepa | Copyright 2015 | Penyunting Fahri Salam, Ilustrasi sampul Saiful Bachri | Pemeriksa Aksara Eko Susanto | Penata letak dan visual Janurjene | I – xviii + 384 hlm.; 14×21 cm | ISBN 978-602-1318-31-7 | Penerbit Mojok | Skor: 2.5/5

Untuk Gerei dan Nadya

Menulis sepakbola adalah menulis manusia-manusia yang menonton, memainkan, mengeluh, menangis, bergembira, bersedih, frustasi, dan seluruh perasaan yang mendefinisikan kita sebagai manusia lewat permainan indah ini.

Karawang, 300819 – 300620 – Red Hot Chili Peppers – Right On Time

#30 #Juni2020 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf

Thx to Dema Buku

Upaya Menangkap Kenangan Sepakbola

Sepakbola Tak Akan Pulang by Mahfud Ikhwan

Tak ada yang lebih tabah dari Pendukung Liverpool.”

Kumpulan artikel dari Geotimes dari awal musim 2018 sampai akhir musim 2019. Lumayan bagus juga ternyata, tulisan yang mencatat sejarahnya sendiri, semacam ringkasan kisah-kisah terpilih per minggu sehingga cocok buat menelisik kenangan. Saya pribadi menjadi lebih dalam tahu apa hal-hal menarik di pekan tersebut. Sejatinya tak istimewa tulisannya, tapi menanam memorinya lah yang mencipta kesan, sehingga buku seperti ini akan seperti buku kenangan sekolah. Semisal lima atau sepuluh tahun lagi ketika dibuka baca akan ketawa sendiri, oh dulu detailnya gini toh. Oh dulu terjadi drama yang konyol itu. Oh dulu pendapatku tentang pemain ini ternyata syahdu, dst. Ini bukan tentang kualitas tulisan, tapi bagaimana menangkap momen untuk disimpan. Terbakar!

Dari penulis Dawuk yang dahsyat itu, kita diajak mengenang musim kompetisi Eropa musim 2018/2019. Lha, baru kemarin? Iya. Tapi jelas ini ditulis dan diolah dengan kejelian pengamat. Sempat tercipta momen malesi di kepala, tapi setelah dalam tiga kali kesempatan duduk tuntas, ada kelegaan. Justru setelah membacanya saya terpatik, kenapa saya ga bikin tulisan sendiri semacam gini saja, toh ini kompetisi Eropa, yang tertutama lima liga terbaiknya yang tentu saja sudah akrab. Ketimbang bikin artikel Lazio seribu kata yang pembacanya segmented – kata William Loew – maka akan lebih lebar pangsa baca dengan menggores cerita lebih luas. Itu yang terpikir, yang jelas artikel Lazio sudah off semusim karena kzl ga naik-naik peringkat, tapi justru selama saya off nulis ulasan dan menepi dari hingar bingar Serie A, Lazio menggila.

Dibuka dengan tulisan yang dijadikan judul yang dibuat 14-07-18, masa ketika liga belum dimulai, Inggris yang menjadi sang penemu permainan malah diolok, sepak bola yang sulit dibawa pulang pialanya setelah sekian tahun berjibaku. “Itu salah salah Bapak menaruh bola.” Tulisan kedua yang justru bagus. bagaimana Juventus yang kita kenal, sebagai pecundang Champions League mencoba menaikkan harap dengan membeli pemain bekas berusia 33 tahun dengan banderol mahal bernama Ronaldo. Ketika isu ini berhembus, saya ingat sekali saya tertawa ngakak. Incaran Savic, kebanyakan nawar dan Lotito keukeh di angka 150 juta, justru mereka malah membawa pulang CR7, yang harus diakui terbaik di dunia, tapi udah kepala 3 woy. Masih ingat betapa frustasinya dibuat Radu? Dua kali beruntun kita babat 3-1.

Artikel ketiga tambah lucu dengan judul Yang Aneh, Yang Lumrah. Bagaimana Liverpool yang punya pertahanan buruk, dan kiper yang hobi blunder musim dimulai dengan gemilang. Tiga pertandinagn mereka di puncak, lumrah. Tiga pertandingan tanpa kebobolan, nah baru aneh. Harus diakui pembelian Virgil Van Dijk dan Alisson adalah sebuah langkah jitu. di Juventus Stadium, di depan kursi penuh sesak, di pertandingan keduanya Serie A Ronaldo mencetak assist pertamanya – sebuah bola liar yang gagal dimasukkannya ke gawang kosong. Ganjil? Sama sekali tidak, jika kalian cukup mengenal Liga Italia, dan sedikit paham soal betapa sulitnya menjadi striker di sana. Artikel keempat tentang Leeds United, tim yang kita kenal hebat di sebelum dan sesudah pergantian Milenium ini punya sejarah besar, dan menunjuk mantan Pelatih Lazio (dua hari yang absurd), Marcelo Bielsa demi mendongkrak kasta.

Selalu ada yang pertama adalah cerita kehebatan Parma, bagaimana bisa mereka terpuruk ke Serie D karena bangkrut lalu per musim naik terus, promosi tiga kali yang artinya sekarang sudah di kasta tertinggi lagi! Gilax. Sang kapten Lucarelli menjadi legenda karena itu, “Ini tak nyata.” Lalu pensiun. Jorge Mendes adalah tukang sulap di bisnis agen pemain/manager sepak bola, menjelajahi klub-klub dengan gelontor talenta, menjajahnya menjelma kekuatan tim. Bekas pemain sepakbola gagal, bekas pemain DJ klub malam, dan segala kiprahnya di Wolve dalam gelimang pemain Portugal. Pantas Rui Patricio gagal ke Lazio, di sana ternyata tercipta gurita. Liverpool dan penantian gelar juara EPL adalah minyak dan air yang sulit akur. 28 tahun tahun, dan masih berjalan. “Mungkin musim ini saatnya kalian (wartawan) menuntut mereka juara.” – Mou

Yang kekal, yang dikocok ulang. Jeda international memang malesi, semenarik apapun permainan timnas, tetap malesi ikuti. Dan terasa aneh ketika tahu spandung di Bernabeu, “Ronaldo tak lagi dibutuhkan.” Hantu Fergie yang membuat Moyes dipecat, Van Gaal jadi olok-olok, dan kita tahu Mourinho dipecat, kali ini terbukti Baby Face juga babak belur. Mou dan MU, keduanya saling menghancurkan. Emery dan Arsenal adalah lelucon, di artikel ke-10 ini, mencatat Unai pernah mencetak kemenangan beruntun yang luar biasa ternyata, oh iya saya ingat moment itu, fan Gunners melambung dan memujanya, ‘pilihan yang tepat’ katanya. Walau ketika dibaca sekarang, sungguh lucu menyebut Arsenal Baru.

Lopetegui dan Madrid adalah lawakan berikutnya. Drama Piala Dunia 2018 di timnas Spanyol, dan Madrid memecat seenaknya, ga ada yang aneh, justru lumrah di Bernabeu hal macam gini, sebuah rutinitas, yang bikin berang adalah Madrid tak pernah lupa menjadi juara. Dan itulah kenapa banyak orang tak pernah kehabisan alasan untuk membenci mereka. Ini adalah cerita sedih, tragedi helikopter di atas stadium Leicester City menjadi berita kabung. Vichay Srivaddhanaprabha adalah presiden klub paling bahagia ketika The Foxes mengejutkan dunia di musim 2016 karena sejarah juaranya, kali ini beliau kembali mengejutkan dunia atas kepergiaanya yang dramatis bersama putrinya.

Oh Milan itu tim semenjana toh, yang kata Bung Mahfud adalah tim yang hanya berebut posisi empat besar, atau justru tiket Liga Malam Jumat. Begitu juga MU sekarang. “Bersiap menghadapi kesemenjanaan atau biarkan Jose Mourinho merombak tim.”Jamie Jackson (Guardian). Menurut kamus, tim atau sesuatu yang biasa, rata-rata, di tengah, disebut medioker.

Chelsea dan Sarri yang tampak tak menemukan klik itu, berantakan di Wembley. Pelatih nirgelar yang tampak aneh dipilih Roman. Dan Bayern yang tampak kacau di tangan Niko Kovac. Bom, bir, babak belur menjadi tema yang sebenarnya hanya dikait-kait membentuk pola, bagaimana Jerman vs Inggris menjadi laga tak pernah tak seru. Akhir kisah Mou di MU, dalam big match memalukan. “Secara fisik, kami tak sanggup menandingi Liverpool. Aku bahkan ikut lelah hanya dengan melihat Andy Robertson (berlari).” – The Special G(one).

Ole Gunar Soljaer memberi harapan fan MU dengan kembali mencetak lima gol di debutnya sebagai pelatih magang. “Kami bermain dengan keasyikan melimpah…” Jesse Lingard. Arsenal kembali medioker setelah awal musim yang cerah, setelah unggul cepat dengan Pool, mereka digelontor lima gol. Itu Arsenal lama, Arsenal yang sama, itu-itu saja. Sementara City kembali ke kehebatannya lagi. Liverpool yang fokus ke Liga menurunkan pemain antah di FA Cup. Ada yang kenal Ki-Jana Hoever, siapa Rafael Camacho? Siapa pula Curtis Jones? Siapa yang ingat kalau Alberto Moreno masih di Pool? Dan mereka melaju.

Cerita Hudderfield Town dan David Wagner yang akhirnya berpisah setelah timnya jadi juru kunci, tak ada pemecatan karena memang dia adalah legenda. The Terriers mencapai ‘kesepakatan bersama’. “Ini hari yang menyedihkan.”Dean Hoyle. Dulu pernah menimang-nimang jersey Hudderfield untuk kubawa pulang ketika sang penjual salah mengambilkan jersey Brighton yang kupesan. Tapi ga jadi beli juga akhirnya, sekarang tim ini sudah tenggelam di divisi bawah, sayang sekali.

Di tulisan ke-20 ini, Si Gila Bielsa menguliahi tim dengan video bejibun. Dan Frank Lampard yang belajar melatih di Derby Country memberi harapan ke EPL. Sala adalah sebuah keanehan di dunia sepakbola yang sulit dijelaskan. Pemain Nantes yang dibeli mahal Cardiff City hingga memecahkan transfer klub itu hilang dalam perjalanan udara. Berharap membantu Cardiff keluar zona merah, ia tak pernah tiba. Sarriball adalah istilah permainan sepakbola ala Maurizio Sarri, di Chelsea performanya bak yoyo, berpendulum liar. Di bulan Februari 2019, mereka dihajar Bourne 4-0 lalu City 6-0, skor memalukan The Blues. “Sarriball telah gagal, aku tak melihat ada Plan B di sana.”Chris Sutton, mantan pemain Chelsea yang gagal. Saya ingat ini pemain posisi striker tapi malah jadi bek. Bisa juga lu ngeritik ye. Haha…

Dari Keppa untuk Pep, ini baru setahun lalu tapi ternyata ingatanku akan moment-moment penting sepakbola tak setajam dulu. Saya sempat lupa apa yang terjadi, oh ternyata ini drama final Carling Cup yang mana Keppa tak mau diganti jelang pinalti, padahal cedera, seolah dia adalah penentu starting line-up. Mau jadi pahlawan, justru malah gagal memberi gelar pertama Sarri. Padahal drama besar, tapi kenapa saya bisa melupakannya ya? dengan membaca artikel ini, goresan itu terlihat kembali. Benar-benar di usia ini, saya memang memilah mana kenang bagus yang bisa disimpan, mana kenang buruk yang harus dilepas, dan ternyata berhasil, sesaat. “Ini kejadian yang baru saya saksikan setelah sekian lama.” – komentator final.

Zidane pulang. Pas dengar ia resign setelah tiga gelar legendaris UCL, saya sudah yakin ia akan kembali. Tapi ga nyangka secepat ini. Babak belur dengan pelatih timnas Spanyol, lalu pelatih magang itu mencipta nirgelar musim ini, Zidane kembali ke Bernabeu. Sepakbola ‘kacau’ a la Zidane yang tenang dan mematikan. Penunjukannya adalah kelegaan besar yang mendekati kesempurnaan. Dan ‘debut’nya memang 2-0 vs Celta Vigo, Madrid yang normal. Virgil melakukan blunder yang jarang dilakukannya, lalu Ole yang ditunjuk menjadi pelatih tetap langsung terhempas dua kali.

Ternyata di April 2019, Juventus sudah mengunci gelar Serie A. Waduuh… separah itu ya musim lalu. Lazio sedang fokus Copa dengan gengsi sehingga terlalu banyak melepas laga, Atalanta menjelma kekuatan baru. Kalian bosan melihat Zebra juara, musim ini Lazio akan merebutnya. Siapkan sampanye terbaik kalian! Ronaldo yang dibeli untuk UCL, gagal di musim pertamanya di Italia.

Dan apakah senja tak jadi turun? Sehingga Liverpool, ia yang telah sekian lama menjalani puasanya, yang melintasi milenia dalam dahaga, dan masih terlarang menyentuh piala? Musim ini harus diakui Liverpool tak sekadar bagus, tapi menghebat di semua lini. Punya mental juara, punya poin tertinggi di era EPL dan ga juara, sungguh ironis. “Kami gagal juara bukan tak beruntung, kami gagal juara karena Manchester City.”Klopp. Berbagai kalimat perpisahan akhir musim, Robben – Riberry pamit dari Bayern, Barcelona juara tapi tak semeriah yang diharapkan, Valencia menjelma kekuatan baru karena menyodok zona Champions, jangan lupakan Atalanta yang akan melakukan debut di Liga Para Juara. Ada dua paragraf penuh tentang Lazio – akhirnya – hufh… saya ketik ulang sekaligus penutup ulasan ini. Ciao

Lazio, dibawah pelatih Simone Inzaghi, memenangi Copa Italia, tropi besar pertama mereka sejak 2013. Diperkuat pemain-pemain bekas macam Senad Lulic, Milan Badejl, Ciro Immobile, dan Lucas Leiva, atau pemain-pemain yang hanya menunggu waktu untuk pergi seperti Sergej Milankovic-Savic, dan Luiz Felipe, Lazio mengalahkan tim paling menarik dan paling banyak dibicarakan di Italia musim ini, Atalanta.

Gelar ini, juga kesanggupannya membuat Lazio stabil di klasemen liga membuat Simone Inzaghi masuk daftar pelatih baru Juventus. Ia bisa saja tetap di Lazio atau justru ke klub lain, AC Milan misalnya. Tapi sudah semakin jelas, di kepelatihan karier Simone tampaknya akan lebih cemerlang ketimbang Fillipo.

Dua paragraf ini membuatku teringat draf ulasan juara yang sudah kuketik panjang, ternyata sudah setahun dan belum jadi kupos. Bagaimana teriakan juara para Laziale Karawang membahana dalam peluk keceriaan di rumah Bung Adit – ketua Lazio Region Karawang. Mungkin bagi fan lain ini gelar minor, tapi bagi kami ini adalah catatan sejarah besar dekade 2010 menjadi dua kali Copa, sementara Roma nol besar. See…, setiap moment menjadi sangat berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda.

Setelah menyelesaikan baca dan ulas ke-30 tulisan ini, apakah saya ke web geotimes.com? nope. Saya kurang suka berita daring, ga nyaman. Mayoritas ya gitulah, malesi. Buku ini cukup jadi menaikkan pamor, tapi jelas tak cukup tergerakkan jari meng-klik-nya. Saya juga bisa nulis ngoceh sepakbola semacam ini, tentang Lazio di blog ini. Justru berkat Sepakbola Tak Akan Pulang, saya berniat bikin tulisan tandingan, seminggu sekali? Bisalah, apalagi bikin gerah Lazio di sini hanya disinggung sesekali. Bayangkan semusim, Lazio itu tim, maka menyedihkan Biancoceleste disebut tak lebih banyak dari pemain atau pelatih macam Ronaldo, atau Klopp. Mungkin akan kumulai ketika Serie A resmi dilanjutkan lagi bulan ini? #ForLazio #Scudetto

Sepakbola Tak Akan Pulang | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2019 | Penyunting Aria Duta B | Tata Letak Werdiantoro | Ilustrasi Sampul Bambang Nurdiansyah | Rancang sampul Katalika Project | Cetakan pertama, 2019 | Penerbit Shira Media | ISBN 978-602-5868-88-7 | vi + 210 halaman | 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 030520 – Hanson – A Song to Sing (live and electric)

Final Copa 2019: Musim Lazio Masih Bisa Diselamatkan

Senad Lulic: “Kami siap!

Inilah laga terbesar Lazio musim ini. Kemenangan akan menyelamatkan segalanya, kekalahan berarti kegagalan ke Champion dan nirgelar kembali. Lupakan Liga Sparing yang memang patut dilupakan, lupakan kebobrokan Serie A yang memang sedang bobrok. Inilah partai hidup mati Lazio. Satu kemenangan lagi dan akan tercatat dalam sejarah. Mumpung Juve, Milan, Inter, dan Genoah sudah tersingkir. Ayo rapatkan barisan.

Dimulai dari kekalahan menyakitkan dari juru kunci Chievo Verona di Olimpico dengan skor 1-2 pada 20 April. Lalu dirunut kalah lagi dari pesaing utama zona juara, Atalanta 1-3, pintu Lazio The Great ke Liga Champion musim depan tertutup sudah. Bisa jadi akibat konsentrasi yang terkuras habis demi sebuah piala di akhir musim, Simone Inzaghi mengorbankan banyak laga di Serie A yang sudah tak menarik. Fokus melawan Milan di semifinal leg dua (menang agg 0-1) memang berubah sebuah tiket final berkat gol tunggal Correa melalui nutmeg. Namun efek tiket itu memang mahal, sangat mahal, termasuk keputusan meminta mundur sang pelatih. Inzaghi kini mendapat mosi tak percaya manajemen, evaluasi musim sedang berjalan dan tiga tahun setengah yang dirasa cukup. Maka malam ini jadi pertaruhan sesungguhnya Lazio dan seluruh daya upaya untuk memenangkan piala. Semua kekuatan fokus di Olimpico, segalanya dikerahkan. Laziale bersatu! Musim Lazio masih bisa diselamatkan. Akhir karier kepelatihan Inzaghi di Olimpico masih bisa diselamatkan.

Atlanta mengalami musim yang menakjubkan, ya harus kita akui. Dengan skuat yang lebih solid, pelatih yang sempat dicoba Inter Milan, Gian Piero Gasperini dan rontok ini, kembali menemukan sentuhannya. Terlihat cara bermain Atlanta dengan strategi variatif. Mental menang juga menjadi kunci, terlihat skuat hitam biru tak mudah drop ketika mereka tertinggal terlebih dulu. Seperti saat di semifinal, Atlanta sempat ketinggalan cepat dari Fiorentina di kandangnya, tapi mental mereka sedang bagus-bagusnya sehingga berhasil membalikkan keadaan. Termasuk saat melawan Lazio dua pekan lalu, tertinggal gol cepat Parolo, Atlanta malah menggila. Saya sendiri menyaksikan betapa seolah pamain Atlanta ada di mana-mana, sehingga serangan Lazio yang memang kerap disusun dari bawah sulit dikembangkan. Bola dikejar terus, dan hasil akhir adalah kekecewaan. Lazio yang ofensif itu rontok tanpa daya. Gradi bersih yang berantakan.

Di Serie A memang posisi jomplang. Atalanta sedang panas-panasnya, bukan sekadar mencapai tiket ke Champion, posisi mereka bahkan sudah memperebutkan posisi tiga! Pekan masih dua lagi, rasanya kita sudah mendapat komposisi empat besar saat ini dengan yakin. Dengan poin 65 mereka kini unggul tiga angka dari posisi lima dan saling pepet sama inter. Lazio kini ada di posisi kedelapan dengan 58 poin, jauh dari zona yang ideal sebagai tim besar, sekadar ke Liga Sparing aja masih butuh perjuangan. Memang rasanya Lazio bunuh diri, nirpoin sering terjadi gara-gara kesalahan sendiri. Komposisi pemain yang tak berimbang maka saat Lucas Leiva sebagai pemain jangkar krusial cedera, habis sudah, penyerang yang terlalu mengandalkan Immobile, ketika Immobile buntu, habis sudah, sesekali Caicedo masih bisa memberi solusi tapi jelas Immobile Depend terlalu besar. Caicedo menjadi player of the month Maret-April berarti ada sesuatu yang benar-benar harus dibenahi. Urusan bek masih sungguh rumit, hanya Acerbi yang benar-benar konsisten. Luiz Felipe masih butuh menit terbang, Radu dah menua sulit sekali berlari 90 menit, ga kena encok saja dah syukur, Bastos, Wallace, Patric pintu keluar terbuka lebar. Ada yang masih ingat Basta? Sepertinya ia kena jentikan Thanos, lenyap tak berbekas.

Awalnya kukira kesuksesan Atalanta menyingkirkan Juventus dengan skor telak tiga gol hanyalah kebetulan, tapi ternyata enggak. Mereka bisa konsisten memacu kekuatan. Bayangkan dalam tiga belas pertandingan mereka tak terkalahkan, lima laga terakhir sapu bersih dan Lazio ada di dalamnya! Inilah penantian Atalanta selama 56 tahun, mereka juga akan all out. Atlanta sudah tiga kali ke final: 1963, 1987 dan 1996. Lawan yang sedang dalm top performa melawan tim pincang Lazio. Lazio yang punya tradisi di Copa melawan tim yang sedang on fire. Lazio sudah sepuluh kali di final dengan enam piala diantaranya. Terakhir tahun 2013 menggasak Roma. Jadi ketika harapan piala itu sudah benar-benar dekat, sungguh segala energi akan dikerahkan. Betapa serunya?! Bursa taruhan wajar memihak mereka, statistik laga akhir memang sangat menentukan, kepercayaan diri menatap final mereka bisa saja di atas nirwana, Lazio jadi ‘tuan rumah’ tentunya dukungan lebih melimbah dan menggugah dan membuncah. Tujuh Laziale Karawang siap ramaikan! Laga yang paling dinanti-nanti ini kini tinggal hitungan jam. Lulic siap. Laziale siap. Lazio Siap. #ForzaLazio #AvantiLazio

Prediksi Foccer:
LBP 0-3
Lulic siap. Laziale siap. Lazio siap.
DC
Atalanta 1-2 Lazio
Immobile
Kalah lagi? Masa iya. Galah, tropi ini penting.
AW
Atalanta 2-1 Lazio, Zapata
Game ini sudah tahu sama tahu. Kedua tim musim ini sudah sering bertemu. Hasil kemenangan dikunci Duvan Zapata sebagai penentu.
AP (X)
Atalanta v Lazio 0-1
Immobile
Lazio wajib juara di kandang sendiri. Atalanta menjalani musim yang indah. Atalanta berpeluang juara Coppa ke 2x.
Isabela Moner Prayitno
Atalanta 2-1 Lazio; Ilicic
Dari beberapa perhelatan terakhir, juara copa italia selalu tim yang memiliki posisi lebih baik di klasemen Serie A. Ssttt, aku kasih tahu kamu. Di atas saya adalah orang terlucknut di dunia karena telah melakukan spoiler Game of Thrones. Dosanya tak terampuni. Semoga Allah mengampuni jiwa-jiwa terkutuk seperti itu.
Damar IRR
Atlanta 1-2 Lazio
Caicedo
Lazio akan terus menekan sepanjang waktu, Lazio akan comeback dan Lazio akan menang.
Emas Nani
Atalanta 3-1 lazio
Zapata
Partai final yang ga diinginkan. Walau Lazio lebih sering berada di final. Musim ini Atalanta akan mengheningkan suasana nobar 7 buah laziale karawang.
Nicola Ventola
Atalanta 3-2 Lazio
De Roon
Tim Kota Bergamo rasanya layak meraih gelar Coppa Italia setelah konsistensinya selama bbrpa musim terakhir. Lazio akan kesulitan d partai puncak nanti.
Mamanya Barra
Atalanta 0-2 Lazio
Immobile
Kedua tim akan tampil dengan skuad terbaik. Pertandingan akan sangat menarik. Selamat bermain kembali Milinkovic-Savic.
Takdir
Atlanta 2-2 Lazio, Immobile
Laga akbar tahun ini tersaji penuh drama. Lazio unggul dua gol dulu, Atlanta menyamakan kedudukan. Dua kali lima belas tak ada gol dan pinalti adalah solusi drama ulangan sepuluh tahun lalu. Hari H, final!

Perkiraan formasi:

Atalanta XI (3-4-2-1): Pierluigi Gollini; Andrea Masiello, Jose Luis Palomino, Gianluca Mancini; Timothy Castagne, Marten de Roon, Remo Freuler, Hans Hateboer; Josip Ilicic, Alejandro Gomez; Duvan Zapata

Lazio XI (3-5-1-1): Thomas Strakosha; Felipe, Francesco Acerbi, Stefan Radu; Senad Lulic, Luis Alberto, Lucas Leiva, Sergej Milinkovic-Savic, Adam Marusic; Ciro Immobile

Karawang, 150519 – Roxete – She Doesn’t Live Here Anymore

Buku – Film – Bola (BFB)

Beberapa hari yang lalu saya mendapat pesan lumayan panjang di grup Whats App sepak bola, salah satunya pesannya ‘“Hidup seperti pertandingan bola. Babak pertama (masa muda) menanjak karena pengetahuan, kekuasaan, jabatan, usaha bisnis, salary dsb. Babak kedua (masa tua) menurun karena darah tinggi, trigliserid, gula darah, asam urat, kolestrol. Semoga para sahabat waspada dari awal hingga akhir, harus menang 2 Babak!”

Pesan tersebut bisa diartikan secara luas, salah satunya ya nikmati hidup, jaga kesehatan, tetap syukur dan jangan serakah akan kekayaan dunia. Jangan karena kesibukan di babak pertama dalam hidup (usia muda) kita lupa menikmati hidup menyalurkan hobi dalam setiap momen. Menjalani hidup ini, saya orangnya santai, terlampau santai malah. Memang hidup harus punya target, punya ‘barisan bebek’ namun tetap hobi jangan sampai tak jalan. Bukan hanya di setiap akhir pekan, setiap hari saya selalu berusaha menyenangkan diri sendiri. Dan ketiga hal ini adalah posisi teratas dalam rutinitas fun menjalani singkatnya hidup ini.

Buku

Gambar

(buku yang menumpuk, waktu yang sedikit)

Setiap bulan saya pastikan ada budget buat beli buku. Yang pasti beli majalah film dan sebuah novel. Ini minimal, biasanya akan lebih. Setiap ke toko buku, banyak yang pengen dibeli, setelah nikah bukan hanya minat dalam genre yang jadi pertimbangan namun juga harganya. Tapi tetap beli buku jalan terus. Jadi wajar kini koleksi di perpus keluarga sudah dua rak buku penuh, karena pembelian ini rutin sejak pertama kali kerja tahun 2004. Ingat sekali, gaji pertama yang ga seberapa saya belikan novel Harry Potter dan Batu Bertuah, album musik M2M: The Best Of dan sebagian dikasih ke ibu. Semenjak itu saya tak terhentikan.

Mayoritas adalah novel bergenre fantasi dan anak, namun saya tak membatasinya. Selama itu terlihat menarik, dapat review OK atau terdengar bagus bisa jadi akan masuk ke rak. Selain buku cerita dan majalah, saya dulu juga langganan koran, koran yang katanya nomor satu nasional. Kewalahan membaca setiap hari, saya putuskan menjadi langganan dua kali tiap akhir pekan. Namun semenjak beli BB, koran jadi sedikit tersingkir. Kualitas berita cetak memang jauh lebih bagus ketimbang internet namun saya kewalahan menyimpan koran di rumahku yang sempit. Perpus pribadi saya sudah terisi buku, apalagi harganya awal tahun ini naik sehingga akhirnya kita memutuskan menghentikan beli rutin. Dan kurasa koleksi buku lebih menjanjikan masa depan, untuk anak-istri dan cucu sebagai warisan.

Film

Gambar

(komunitas Gila Film di Jakarta)

Saya sudah suka film dari kecil. Dulu di kota kecil pinggiran Solo, ada bioskop Palur Teater. Jaraknya sekitar satu kilometer dari rumahku. Sesekali kakakku mengajak nonton di sana, bukan film blockbuster luar negeri hanya film lokal seperti Warkop DKI, Doyok-Kadir atau film horror Suzana. Zaman itu hiburan tak sebanyak sekarang variannya. Sesekali ke tanah lapang di komplek TNI-ABRI buat nonton layar tancep, sambil makan kacang dan jagung bakar. Film jadul Berry Prima sama Advent Bangun. Dari memori-memori masa kecil yang menyenangkan itu, kebiasaan bergeser ke TV swasta yang menyajikan film Layar Emas tiap Selasa dan Kamis malam. Bahagia itu sederhana.

Menginjak masa Sekolah bersama teman-teman yang sekelasnya mayoritas pria kita sempatkan ke bioskop di kota Solo. Di kota Bengawan ini jumlah bioskop lebih bervariasi, harganya Rp 4.500,-. Saya ingat sekali film pertama yang kami tonton berempat bersama Wisnu, Yudi, dan Seno adalah film The Fast and The Furious. Film balap yang keren itu selalu membekas di hati. Sebenarnya kita berniat nonton Ada Apa Dengan Cinta? yang kala itu sedang booming, namun selalu kehabisan tiket. Setelah berkali-kali gagal, dan terpaksa nonton di stodio sebelah akhirnya dapat juga kita menikmati film yang membawa Nicholas Saputra dan Dian Sastro melambung itu.

Selepas sekolah saya tetap continue nonton, apalagi saya kerja dan kuliah di kota Cikarang tinggal di kos yang hanya lima menit dari Mal Lippo ada bioskopnya. Jadi deh tiap akhir pekan nonton film. Hampir selalu sendirian saya ke bioskop, selain nonton saya juga maniak game ding-dong yang seruangan dengan lobi bioskop. Dari sekedar hobi, akhirnya saya iseng buat review film dan menemukan komunitas film di Jakarta. Saya juga langganan majalah film sehingga wawasan jadi lebih luas. Kegemaran yang terus kebawa sampai sekarang. Yah walau di Karawang tak ada 21 atau Blitz, saya dipaksa nonton di laptop atau dvd bajag-an yang jelas hobi nonton film lanjut terus.

Bola

Gambar

(salah satu malam terbaik sebagai seorang Laziale)

Saya sudah suka main bola sejak kecil. Sewaktu SD seingatku kita main bola di jam istirahat sekolah dengan gawang hanya memakai batu bata ditumpuk dua di kedua sisinya. Kalau sore main di tanah lapang di kampung atau main di depan halaman rumah orang yang punya selep-padi, siangnya buat menjemur padi sorenya buat main bola.

Namun saya benar-benar menikmati yang namanya pertandingan sepak bola di layar kaca sejak piala dunia 1998. Jagoanku Italia yang tersingkir sama tuan rumah via adu pinalti. Waktu itu striker mahal Christian Vieri sedang on fire dan mencetak 5 gol selama perhelatan. Gara-gara Vieri saya jadi mendukung Lazio, yang saat itu bermain di sana walau hanya semusim. Dia hijrah ke Inter dengan bandrol gila sebagai pemain termahal di dunia. Tapi hatiku sudah tertambat di Olimpico, sehingga kepindahan Vieri tak mengubah jagoan.

Lalu karena jagoanku Italia maka saya menjadi pendukung Chelsea yang di akhir 90an memiliki banyak pemain negeri Pizza. Dari Gianluca Vialli, Pierluigi Casiraghi, Roberto Di Matteo sampai Gianfranco Zola. Semua pemain bintang. Saat peralihan pemain, klub metropolitan ini tetap kujagokan. Sehingga akhirnya bergeser dari ‘di mana pemain Italia’ menjadi ‘seorang True Blue’.

Dari cerita singkat kecintaanku pada klub ibu kota tersebut, akhirnya ketagihan sampai sekarang. Bola, jelas sudah menjadi bagian hidupku. Setiap pekan kalau ada laga Chelsea dan Lazio maka dapat dipastikan saya akan update.

Gila Buku, Gila Film, Gila Bola. Dari ketiganya saya menikmati hidup yang singkat ini.

Karawang, 140314