Black Or White: A Doll Boring Movie

Elliot Anderson: I couldn’t have been a worse witness if I tried

Ketika kita memutuskan untuk menikmati sebuah karya, apa sajakah pertimbangannya? Ada yang karena sutradara. “Pokoknya kalau yang bikin Nolan saya pasti nonton di bioskop, wajib IMAX 3D.” Saya pernah mendengar teman berkomentar seperti itu. Ada yang karena genre-nya. “Setiap tengah tahun saya akan semakin rutin nonton ke bioskop, karena saat itu film action bertebaran.” Ada yang karena adaptasi buku yang sudah dibaca. “Wah novel Breaking Dawn romantis sekali, jadi penasaran sama filmnya.” Ada juga yang berdasarkan aktornya, “Oh ganteng banget sih Brad Pitt, jadi pengen nonton Fury.” Nah, macam-macam alasan seseorang sampai mau meluangkan waktu buat duduk manis nonton layar. Untuk kasus Hitam Atau Putih, saya menggunakan alasan yang terakhir. Film ini dibintangi Kevin Costner, bintang besar yang kini lebih sering bermain drama. Yaiyalah, udah tua. Ga mungkin kan dia berkuda lagi jadi koboi, encoknya kambuh ntar. Layak disimak aktor yang pernah memerankan Robin Hood dan Lieutenant Dunbar ini.

Tanpa mengetahui review dan betapa bagus atau buruknya, saya menonton Black Or White tanpa ekspektasi. Film dibuka dengan kabar pilu, Elliot Anderson (Kevin Costner) baru saja ditinggal mati istrinya, Carol (Jennifer Ehle) karena kecelakaan. Tabrakannya sendiri tak ditampilkan, hanya efeknya yang disuguhkan. Sepeninggal Carol, Elliot kini harus mengasuh cucunya yang berkulit hitam, Eloise Anderson (Jillian Estell). Anak dari putrinya yang meninggal sejak lahir. Dari bangun tidur, menyisir rambutnya yang kribo, mengantar sekolah sampai belajar. Kewalahan, Elliot menyewa pengajar sekaligus sopir pribadi, yang juga berkulit hitam Duvan Araga (Mpho Koaho). Semakin ke sini semakin rumit, apalagi dirinya alkoholik. Segala masalah diakhiri dengan minum minuman keras. Cara mengasuhnya ditampilkan dengan aneh, masak orang secerdas Elliot bisa dengan buruknya menerima nasehat guru privat cucunya untuk mengurangi nonton tv atau main game.

Konflik baru digulirkan ketika bibi dari ayahnya meminta hak asuh. Rowena Jeffers (Octavia Spencer) merasa berhak mengasuh keponakannya, apalagi sepeninggal Carol dikhawatirkan dia tak terawat. Elliot bergeming, dirinya berniat mengasuh dengan cinta. Lalu muncullah ayah kandung Eloise, Reggie Davis (Andre Holland) yang begitu menyebalkan. Janji sesekali main untuk menengok anaknya untuk sekedar makan malam, eh ga datang. Kerjanya minta duit dan nge-drug. Kisah ini akhirnya di bawa ke pangadilan untuk menentukan ke mana Eloise akan berlabuh. Apakah berlanjut ataukah berpindah tangan. Sangat sederhana bukan? Namun setiap ngomongin anak-anak, apalagi sampai menyinggung perbedaan warna kulit, hal itu jelas tak jadi sederhana. Karena akan ada banyak hal yang diungkap. Seberapa berani film ini ‘memerangi’ rasis?

Well, Film yang biasa. Kalau tak mau dibilang mengecewakan. Satu-satunya adegan menarik terjadi saat adu argumen di pengadilan. Saling singgung warna, saling serang kekurangan. Namun itu bukan hal baru, perang kata-kata di pengadilan sudah banyak ditampilkan dan jauh lebih berkelas (rekomendasi dariku: The Judge). Jelas Black Or White tak ada apa-apanya. Kevin Costner tampil bagus, dan hanya dia yang menonjol. Mungkin karena dia produser-nya sehingga punya hak istimewa. Berdasarkan kisah nyata, apa yang ditampilkan tak semenarik yang dibayangkan. Akting yang buruk dari banyak cast terutama sekali Jillian Estell. Sebagai pusat cerita dirinya kaku, bermain film tanpa ekspresi, duh! Plot hole dimana-mana sehingga mudah ditebak, saat Elliot mendatangi perumahan warga kulit hitam untuk menyatakan hak-nya saya sudah bisa memprediksi bakalan menang apa kalah nantinya. Drama yang kurang dramatis, sekali tonton dan lupakan.

Black Or White | Director Mike Binder | Screenplay Mike Binder | Cast Kevin Costner, Octavia Spencer, Jillian Estell | Skor: 2/5

Karawang, 081015

Black Hat: Extremely Disapointing Mann

Elias: This isn’t about money. This isn’t about politics. I can target anyone, anything, anywhere.

Gila, ini gila! Sutradaranya adalah Michael Mann, aktornya Chris Hersworth. Filmnya berantakan ga ketulungan. Sulit diterima akal sehat, seorang Mann membuat film seburuk ini. Nonton bareng si May, dia juga complain ada film tak jelas seperti ini. Dia mencoba melihat sisi positifnya ada setting Jakarta dengan muncul sekali Bahasa Indonesia. Sisanya meh!

Film dibuka dengan meyakinkan. Ini adalah film hacker/cracker jadi tampak megah saat ditampilkan detail jaringan dengan menyelami jalur-jalur komunikasi dalam computer. Rumit dan berkedip. Setelah beberapa menit yang berputar-putar dalam jaringan, efeknya adalah ledakan. Pemerintah kelabakan, ada sabotase server dalam komputer mereka. Lalu muncullah, Nick Hartaway (Chris Hemsworth) dalam penjara. Ceritanya Nick adalah tahanan karena menyalahgunakan keahlian membobol jaringan untuk kepentingan pribadi. Pemerintah membutuhkan bakatnya, sehingga dia pun dipanggil agar membantu memecahkan kode-kode binary. Tawaran diterima, Nick minta imbalannya adalah potong masa kurungan. Lalu dimulailah petualangan black hat!

Bersama Chen Lien (Wei Tang) bahu membahu membongkar sindikat jaringan cracker dari Chicago, Los Angeles, Beijing, Hongkong sampai Jakarta! Yup, setting film merembet sampai ibu kota kita. Beberapa terdengar orang berdialog menggunakan Bahasa Indonesia. Saat adegan penyelundupan melalui jalur laut, terdengar seseorang berteriak — hhmmm… lupa — , bilang bahwa ini sudah semuanya. Yang mendeteksi kalimat itu justru istri saya, dia heran. Saya yang udah ngantuk berat karena plot yang lambat mencoba rewind, oh benar ternyata pertarungan sampai di Jakarta. Sayangnya itu satu-satunya daya pikatnya. Sisanya tak masuk akal, kaku, tembak-tembakan yang buruk, plot hole dimana-mana dan boring.

Entah apa yang ada dalam benak Mann, film ini buruk sekali. Salah satu yang terjelexx tahun ini. Padahal Mann adalah orang yang mempesona kita dalam Heat yang legendaris itu. Sebelum menonton saya sudah dikasih peringatan, ini film ga jelas. Karena saya selalu harus nonton dulu baru komentar maka ya saya buktikan dan ternyata benar. Mengecewakan sekali. Maaf Mann saya harus bilang ini film sampah. Black hat, sang ahli komputer diperankan Chris memalukan para hacker yang biasanya terlihat cool jadi terlihat idiot. Duh!

Black Hat | Directed by: Michael Mann | Screenplay: Morgan Davis Foelh | Cast: Chris Hersworth, Leehom Wang, Wei Tang, Viola Davis | Skor: 1/5

Karawang, 180515