War Story: Bad Story, Lazy Directing

Featured image

Cerita perang yang tak ada adegan perangnya. Ngegoliam dari awal sampai akhir. Sebenarnya ga masalah ga ada aksi tembak-tembakan ataupun berkelahinya asal didukung cerita yang Ok. Film yang rilis tahun 2014 lalu, saya tertarik pas lihat posternya. Dengan pose bayangan hitam Catherine Keener membawa kamera dengan latar biru dan artistik. Posternya saya pakai sebagai picture profil di path, yah walau sekarang udah ga aktif di Path. Baru punya kesempatan nonton semalam.

Sebenarnya cerita sederhana namun dibuat frustasi. Lee (Catherine Keener) adalah seorang fotografer perang yang ditugaskan di Tunisia. Setelah traumatik dari tugas sebelumnya di Libya, Lee membawa wajah muram penuh duka ke sebuah hotel tempatnya menginap. Hotel yang pernah ia singgahi. Di sana Lee adalah karakter asing dari kumpulan warga kelas bawah. Efek perang yang buruk tersaji lewat pengambilan gambar yang selalu muram dari awal sampai akhir film. Skore music lebih muram lagi, menyayat gesekan biolanya. Musiknya benar-benar seram, musik duka yang mengintimidasi. Lalu Lee membawa duka itu kepada seorang imigran gelap Hafsia (Hafsia Herzi). Seorang perempuan yang keluar dari Libya menuju Perancis yang sayangnya terdampar di Tunisia. Lee mencoba menerangkan kepada Hafsia tentang masa lalunya, dia berjanji akan menolong sebisa mungkin. Hafsia yang hamil diluar nikah akan melakukan aborsi dan Lee berjanji mengantarnya ke negeri impian Perancis. Awalnya menolak, namun dengan perjuangan gigih Lee berhasil meyakinkannya. Lee bertemu Albert (Ben Kingley) untuk meminta bantuan finansial ke Perancis. Teman lama yang dikiranya sudah mati. Berhasilkah mereka melewati perbatasan menuju tanah yang dijanjikan?

Seperti yang saya bilang dari awal, ceritanya sederhana. Sang sutradara justru membuatnya rumit. Menampilkan gambar-gambar frustasi, yang bisa jadi seperti bilang: ‘kasih kami penghargaan, kasih kami sebuah piala’ karena drama (dibuat) berat yang tersaji. Eksekusinya buruk, cerita lemah, penampilan aktor sebesar Ben juga tak dimaksimalkan, sebatas lewat, dan yang paling membuat kecewa plotnya lambat. Butuh tiga kali nonton untuk menuntaskannya. Pertama ketiduran saat menit belum sampai setengah jam. Masak aer, bikin kopi. Ketiduran lagi saat dialog panjang dengan Albert. Dan percobaan ketiga berhasil merampungkannya, dengan ending yang, ‘yah cuma gitu doang’.

Ada satu adegan yang bagus menjelang akhir. Saat Hafsia di depan pintu toilet, dengan pengambilan gambar dua karakter. Satu bening satu buram, lalu Hafsia bimbang untuk mengambil keputusan. Ini adalah scene yang menarik yang sayangnya kurang lama. Sepintas, seperti film ini. Hanya sepintas ada dalam ingatan, kemudian lupakan. War story without war scene at all. Boring boring movie…

War Story | Directed by: Mark Jackson | Story: Kristin Gore, Mark Jackson | Cast: Catherine Keener, Ben Kingsley, Hafsia Herzi | Skor: 2/5

Karawang, 180515

Iklan

Good and Bad in Oscar 2014

Tulisan lanjutan mengenai pesta perhelatan akbar Oscar 2014. Berikut lima hal yang menurut saya terbaik dan terburuk:

Good:

1. Ellen Is The Best Choice!

Gambar

Mega selfie-nya bikin twitter sampai nge-hang gara-gara retweet (RT) foto ini. Awalnya saya kira komputer warnet ngadat sehingga saya refresh berkali-kali ga muncul new tweet. Akhirnya saya tahu penyebabnya, tweet Ellen memecahkan rekor RT. Kurang ajar, kompor meleduk. Belum lagi adegan pizza, minta receh, sampai dandan peri yang mengundang tawa. Acara Oscar tampak cair dan sungguh nikmat dilihat. Ellen adalah pilihan bagus untuk MC tahun ini, semua orang pasti setuju.

2. Photobomb Benedict

Sebagai Sherlock yang jenius, Khan yang kejam dan naga Smaug yang gila  dalam diri seorang Benedict Cumberbath tentunya kita mengira dia mengalir darah seorang serius. Saat foto red carpet U2, Benedict bergaya konyol di belakangnya. Aneh, unik, konyol sekaligus keren. Ada yang mau niru?

3. Lupita Dalam Pidato Emosionalnya

Gambar

Benedict Cumberbath terlihat matanya merah dan sedikit menitikan air mata mendengar pidato kemenangan Lupita. Saya-pun terharu.

“It doesn’t escape me for one moment that so much joy in my life is thanks to so much pain in someone else’s. And so I want to salute the spirit of Patsey for her guidance. And for Solomon, thank you for telling her story and your own.”

4. Gravity Menang Besar

Ya, saya terkejut. Kemenangan besar Gravity dengan meraup tujuh dari sepuluh nominasi membuat saya geleng-geleng kepala. Apalagi mereka menang beruntun di pengumuman awal jadi sempat berpikir, jangan-jangan sapu bersih. Syukurlah tak terjadi: Best Director, Visual Effects, Cinematography, Film Editing, Sound Editing, Sound Mixing, and Original Score. Deretan piala yang membuat David O. Russels gigit jari.

5. Leto Membayar Janjinya

Sebelum Hari-H Jared Leto memberitahukan publik bakalan pidato yang menggugah seandainya dia menang, dan benar saja saat namanya disebut, dia pun mempersembahkan kemenangannya untuk 36 juta orang yang kalah (meninggal ) dalam melawan AIDS.

“Di 1971 Boger City, Louisiana, ada seorang remaja perempuan yang hamil anak keduanya. Dia keluar dari SMA dan menjadi seorang ibu tunggal, entah bagaimana caranya berhasil memberikan kehidupan yang layak untuknya dan anak-anaknya.  Dia mendorong anak-anaknya untuk kreatif, bekerja keras dan dia adalah ibu saya. Dia ada di sini malam ini. Kemenangan ini juga kutujukan untuk semua orang yang merasa diperlakukan tak adil karena siapa dirimu dan siapa yang kau cintai,”

Bad:

1. Pink

Untuk memperingati anniversary film The Wizard of Oz. Pink menyanyikan lagu ‘Somewhere Over the Rainbow’. Dengan latar yang mencerahkan, sayang penampilannya hari ini sedang tak bagus.

2. Leo Kalah Lagi

Gambar

Walau sudah terprediksi Mathhew bakalan menang, namun saya tetap sedih melihatnya sedih karena kalah lagi. Karir panjangnya selama lebih dari 20 tahun tak segera berbuah Oscar satu pun. Padahal kita semua tahu, film yang dibintanginya selalu berkualitas. Mungkin hanya satu yang flop, sisanya adalah film kaliber Oscar. Lihat mimik Jonah Hill yang duduk di belakangnya saat pengumuman dibacakan, walau dia bertepuk tangan namun wajahnya melirik Leo terlihat kasihan. Tatapan itu seperti mewakili seluruh fan Leo di dunia. Setelah empat kali gagal, entah sampai kapan sang mega-bintang akan meraihnya. Tetap semangat, better luck next time bro!

3. U2 Mengigau

Gambar

Entah kenapa dengan U2, legenda pop yang sudah malang melintang di dunia tarik suara itu seakan redup bintangnya saat menyanyikan soundtrack Mandela: Long Walk to Freedom. Wajar saja mereka kalah dengan Idina Menzel yang dengan cerianya menghentak panggung dengan Let It Go! Saya menguap mendengakannya.

4. Jen-Law Slip Again

Tahun lalu si cantik Jennifer Lawrence terpeleset ketika dia menang best actress, saat itu dia dua kali mendapat nominasi. Saya maklum, mungkin mentalnya belum siap dan usianya yang masih sangat muda untuk sebuah penghargaan besar. Kemarin di acara yang ketiga kalinya dia hadir, dia kepleset lagi. Semacam ritual jatuh agar juara? Ough!

5. Ada Apa Dengan Alfonso?

Sepertinya dia belum siap naik ke atas panggung, ataukah terkejut filmnya menang? Saat pengumuman pemennag best editing untuk film Gravity dia seakan seseorang yang pertama kali di depan umum, seperti demam panggung. Nyelonong begitu saja ‘saat pidatonya belum selesai’. Walau akhirnya dibalas saat pidato best director namun tetap saja, hal ini membuatku mengernyitkan dahi.

Karawang, 040314