Saman – Ayu Utami

Saman – Ayu Utami

Dia katakan apakah saya siap? Saya jawab, tolong saya masih perawan…”

— catatan ini mungkin mengandung spoiler

Luar biasa, ini buku lokal lho bukan saduran apalagi terjemahan. Di era 90an ada buku se-fantasti ini, bahasa yang disampaikan blak-blakan, nyeni, memainkan ironi dan plot yang kuat. Gaya bercerita maju-mundur dengan penyampain sudut pandang orang pertama secara bergantian, sungguh saya suka. Harusnya dapat label 18+ nih, karena tutur katanya lantang dan pisuhan-nya jelas.

Kisah utama memang ada pada Saman tapi secara umum orang sekitar yang terlibat terseret dalam jalinan. Mungkin satu-satunya karakter paling waras di sini adalah Laila, tapi nyatanya ia juga mengidap kegilaan menggoda suami orang. Yah, keadaan memang demikian rumit. Dari pembuka kita sudah seakan diwanti-wanti, Laila yang masih perawan di usia kepala tiga berkencan dengan Sihar, seorang pekerja tambang minyak yang sudah beristri. Ketika menikah sudah menjanda, satu anak. Divonis sulit mendapat keturunan yang kini makin meruwetkan diri karena berarti Sihar tak akan mempunyai anak kandung. Laila datang, mungkin datang terlambat dan cocok untuk dijadikan pelampiasan, namun tak selurus itu. “Rasanya menyesal karena telah menikah. Tapi saya punya tanggung jawab. Apakah kita bersalah? Kadang saya merasa bersalah.”

Pertemuan pertama mereka dilangsungkan dengan gaya bertutur drama ala remaja jatuh hati pada pandangan pertama. Laila seorang fotografer bersama Toni datang ke kilang minyak di Anambas dari utusan rumah produksi kecil bernama ‘CV bukan PT’ untuk membuat profil perusahaan Texcoil Indonesia. Disambut oleh Rosano – panggil saja Cano (pemilihan nama karakter yang unik, bak mafia Italia), seorang atasan pekerja yang tak ideal. Sihar Situmorang seorang insinyur ditempatkan sebagai bawahan Cano, saat itulah mereka pertama bertemu. Ketika analisis pengeboram menyatakan ga rekomnedasi mulai, Cano dengan kuasanya marah. Debat itu mengakibat Sihar dipecat, dan jabatan supervisinya diserahkan ke yuniornya Iman. Dan saat mesin dipaksa jalan, kecelakaan kerja terjadi. Ada yang tewas, dan saat itu di tempat kejadian ada duo saksi yang bisa sangat memberatkan Cano – pekerja titipan orang dalam. Karena tahu ini lebih kepada human error dan otak error. Well, sampai di sini saya langsung teringat film Deepwater Horizon, tambang minyak yang meledak di lepas pantai Teluk Meksiko. Dimana saat Sim yang bertanggung jawab analisis menyatakan prosedur keselamatan meragukan dan belum siap mengebor, tapi Bos Vidrine tetap memaksa proses produksi lanjut. Boom! Meledakkan segalanya. Terinspirasi? Haha, tentu saja tidak. Saman terbit 1998 Deepwater adalah kejadian nyata tahun 2010. Jangan-jangan kejadian nyata itu representasi kecil buku ini, lho?!

Kecelakaan kerja itu membuat Sihar dan Laila dekat, menuntut Perusahaan. Berjuang bersama sekembali ke daratan. Mencari bantuann hukum yang hebat, dan Laila tentu saja teringat masa lalunya. Ia menghubungi Saman – eks pujaan hati Laila, dan Yasmin Moningka – the girl who has everything. Teman sekolah yang kini menjadi pengacara di kantor ayahnya sendiri Joshua Moningka & Partners.

Berikutnya kita akan diajak menelusuri masa lalu Saman. Nama aslinya Althanatius Wisanggeni, ia berganti nama karena diburu Pemerintah. Ia mengelola LSM, menukar diri dan identitas dalam organinasi yang dianggap sangat kiri. Saman, seperti non de guerre orang-orang komunis terdiri dari dua suku kata: Lenin, Stalin, Hitler, Trotsky, Nyoto, Nyono, Audit – dan ini segaris dengan orang-orang Indonesia yang dulu orang tua kita senang memberi nama anaknya hanya dalam dua suku kata? Wis adalah seorang pater (father), Pater Wissanggeni atau Romo Wis. Tahun 1983 setelah misa pentasbihan, Wis meminta pada Romo untuk menggembala ditempatkan di Perabumulih, tempat masa kecilnya. Masa lalu getir yang ingin ditelusurinya. “Saya memang punya ikatan dengan tempat itu.”

Kisah lalu malah ditarik makin ke belakang masa keluarga Sudoyo yang aneh bertempat tinggal. Nah bagian inilah yang terbaik. Sungguh menyesakkan, seram, dan begitu menakutkan. Bak kisah horror klasik karya Stephen King yang mengintimdasi. Ayah Wis adalah pekerja BRI – Bank Rakyat Indonesia, lelaki Muntilan yang dipindahtugaskan ke Perabumulih, seorang yang taat beribadah, beda dengan ibunya yang sekalipun juga ke Gereja namun masih suka menyimpan keris dan barang kuno dengan khidmat. Mungkin karena inilah, tragedi-tragedi gaib terjadi. Wis adalah satu-satunya anak yang bisa bertahan hidup hingga dewasa. Adiknya tak terlahir, hilang saat kehamilan. Begitu juga yang berikutnya. Dan saat yang berikutnya lagi terlahir selamat di klinik, hanya berumur tiga hari saat dibawa pulang. Misa arwah yang absurd. Ada makhluk tak kasat mata yang mengambilnya. Bagian ini begitu hidup, begitu mencekam.

Nah, dalam tugas itulah beberapa bagian mulai menjadi politik. Wis mencoba menyelamatkan remaja abnormal Upi yang daya khayalnya mengalahkan logika. Harus dipasung karena gila, nafsu seksnya yang tinggi, dan bikin warga khawatir. Wis mencoba menolong, membangunkan tempat yang lebih layak. Membantu warga berkebun, pemerintah memaksa warga untuk menanam kelapa sawit. Demo, ricuh, perlawanan. Orang-orang yang tak sejalan disingkirkan. Ini terjadi di era Orde Baru. Jelas sapu bersih. Wis sempat disekap, dan dikabarkan tewas terpanggang tapi nyatanya selamat dan untuk mengaburkan identitas ia menjadi Saman.

Setelah sudut pandang Laila, Saman, kini kita diajak ke sudut lain. Seorang penari yang mendamba kebebasan. Betapa ia benci ayahnya. Membelenggu pikiran dan tindakan anak muda. Namanya Shakuntala, tapi ayah dan kakak perempuannya menyebut sundal. Mendapat beasiswa menari untuk belajar ke New York. Dari sinilah kisah ditarik lagi lebih dalam mengenal masa sekolah Laila, Cokorda, dan Yasmin. Laila yang benci cowok dan bagaimana pasifnya saat ciuman, Cok yang ketahuan orang tuanya bawa kondom di tas sehingga kelas dua SMA diasingkan ke Bali. Yasmin yang cantik dan kaya, tampak sempurna, yang akhirnya menikah dengan Lukas. Namun tunggu dulu, karena sudut terakhir mengambil Yasmin maka ia juga begitu bermasalah.

Kisah ini ditutup di New York, Yasmin ternyata ada hati dengan Saman. Dan diceritakan dalam surat-menyurat. Lho, bukan hanya Laila ya? Yup. Mereka kenal Wis saat sekolah menjalani bimbingan agama, dan menjadi dekat setelah menjadi pembela hak asasi manusia. Bukan hanya dekat, tapi sudah seranjang. Pastor seranjang- tak seperti yang Anbda bayangkan. Yasmin bahkan mencipta imaji Saman saat bercinta dengan Lukas. Yah, begitulah. Rumit. Stress.

Laila menanti Sihar yang akan ke Amerika karena tugas, untuk selingkuh namun berubah rencana karena istrinya ikut? Shakuntala benci Sihar karena sebagai cowok tak berani mengambil keputusan, mengambil resiko? Padahal Laila juga merasa dosa dan minta maaf pada ayahnya. Di New York yang segalanya ingin dihapus. Kenapa ia berani janji ketemu Laila, dan merasa berdosa terhadap istri namun tak memberi kabar? Di Lincoln Park segalanya tergantung.

Sudah lama sekali saya tahu ini buku bagus. Tapi benar-benar memutuskan beli ya bulan lalu, saat saya sedang menyusun terbaik-terbaik menyampaikannya di grup Bola dan Bung Tak–nyeletuk, menyebut novel ini yang menegaskan untuk tak melewatkannya. Dan setelah di tangan, setelah baca kilat Jack Sang Pelompat, Saman tentu saja jadi pilihan kedua untuk segera dituntaskan. Di kesibukan kerja dan kelurga, bisa melahap tuntas dua hari adalah prestasi. Kata pertama yang terlontar seusai kalimat, ‘Ajarilah aku, perkosalah aku.’ Adalah ‘WOW’! lalu kuikuti dengan senyum getir.

Untuk buku yang terbit jelang tumbangnya rezim Pak Harto, jelas sungguh berani. Vulgar feminis dan apa adanya. Tentu saja kontroversi. Mengambil kisah seorang pastor di tengah negeri Muslim, tapi murtad karena kecewa Tuhan. Cinta segitiga, selingkuh, dan semua dituturkan dengan lugas, seakan laporan jurnalistik koran merah. Tak ada karakter yang benar, tak ada protagonis-antagonis. Pembaca diminta menafsirkan akhir sendiri. Awalnya direncana fragme berjudul Laila Tak Mampir di New York namun malah menjadi Saman dan kemudian sekuelnya Larung. Menang sayembara roman Dewan Kesenian Jakarta tahun 1998 dan diganjar penghargaan The Prince Claus Prinze 2000 dari Belanda. Ada di sampul tulisan itu.

Sepakat dengn Y.B. Mangunwijaya, ini novel superb, splendid. Cocok hanya untuk dewasa.

Saman | oleh Ayu Utami | KPG 015-1998-82-S | foto sampul Erik Prasetya |desain sampul F.X. Harsono | Cetakan 20, Februari 2002 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia | ix + 198; 14.5 cm x 20 cm | ISBN 979-9023-17-3 | Untuk ‘Komunitas Utan Kayu’ | Skor: 5/5

Karawang, 061017 – Sherina Munaf – Lihatlah Lebih Dekat

Iklan

(review) Frenemy: Aku Mendengarkan Nasehat Cinta Dari Seorang Jomblo Sejati

Gambar

Dengan embel-embel ‘Juara II lomba novel 30 hari 30 buku Bentang Belia’, novel remaja karya Ayuwidya ini menyeruak di antara novel-novel terjemahan luar negeri yang saya beli pertengahan tahun lalu. Saya sendiri heran kenapa bisa beli novel remaja yang sudah sangat jarang saya baca, si May juga heran tak biasanya saya baca cerita cinta. Di lemari buku saya mayoritas adalah buku-buku cerita terjemahan dengan cerita yang bukan cinta remaja. Jauh dari tema cinta-cintaan anak sekolah. Novel ini bahkan kelar dibaca istriku dulu, baru saya membacanya. Dia membacanya dalam semalam, saya besoknya juga dalam rentang yang tak lama.

Frenemy is someone, who is your friend but also an enemy (urban dictionary). Frenemy bercerita tentang seorang remaja bernama Tamara Galuh Wangi yang bersekolah di Arc. Dari pertama menginjakkan kakinya di sekolah tersebut dia sudah berniat untuk menjadi popular, berteman dengan orang-orang popular dan bertekad akan mengikuti ektra-kulikuler yang menjadi favorite di sana. Maka dari itu dia ingin berteman dengan Tiara yang jadi incaran semua cewek di sekolah, sebuah mimpi. Lalu Charlene yang selalu memakai barang bermerek, Kalin yang suka menyebut selebritis dan designer terkenal atau Bianca yang sering dikerubuti cowok-cowok. Namun sayang, impian itu kandas. Tiara hanya anak piatu dengan uang jajan pas-pasan yang pernah ke salon dengan rambut kriting gagal. Korban salon murahan yang enggak bisa membedakan ikal cewek-cewek ala Korea yang dimintanya dengan surai singa. Misi makin sulit untuk menjadi popular setelah dia terjebak menjadi teman seorang kutu buku kuper, Kayla.

Tamara ingin menjadi bagian dari girlband yang diadakan di Arc, salah satu ektra-kulikuler favorite, sayangnya gagal. Dia ingin menjadi cheerleader yang bisa menyoraki pemain basket yang kece, gagal juga. Salah satu sesi eliminasinya yang memakai dance bahkan berujung memalukan. Namun dari seleksi tersebut dia yang kena timpuk bola basket sampai pingsan malah dapat kenalan kakak kelas keren bernama kak Alven. Dari situlah mereka akhirnya dekat.

Tamara akhirnya memilih eksul tak popular, jurnalistik. Eksul ini mengelola majalah online sekolah Highlight yang isinya berkisar tentang dunia remaja yang dibagi dalam beberapa rubrik, Tamara di divisi artikel remaja padahal dia ingin di divisi gosip yang saat ini dipegang Viselle. Divisi gosip lebih mentereng karena sering diundang oleh orang-orang popular, jadi bisa ikutan tenar. Bahkan Viselle sesekali dapat voucher sogokan dari orang-orang yang ingin namanya dimuat dalam berita positif.

“Kalau lu beli sesuatu belilah yang mahal. Termahal yang bisa lu beli! Karena harga ga pernah bohong. Sesuatu yang mahal pasti terbuat dari bahan yang berkualitas, paling bagus dan pengerjaannya bagus, jadi dipakainya juga bagus”. Salah satu kutipan yang sebenarnya terdengar sombong, yang sayangnya benar. Waktu membacanya saya sempat geram, ini anak-anak sekolah enak banget ngomongnya. Belum pernah cari duit, emang duit tinggal metik dari pohon? Atau gaya remaja yang suka menghambur-hamburkan uang dengan makan enak, beli barang mahal sampai gaya pesta yang tak cocok buat di Indonesia.

Sampai akhirnya keajaiban bak cerita Cinderela yang menemukan pangerannya terjadi, Tamara jadian dengan pemain basket kaya raya yang mengubah segalanya. Bisa kalian bayangkan dari seorang kere berambut keriting gagal menjadi seorang yang diperebutkan cowok-cowok beken. Sepertinya hanya ada dalam cerita. Bersanding dengan wanita cantik akan membuatmu terlihat jelek, jadi lebih baik menyingkir saja. Mereka yang tak mau menyingkir biasanya akan berhadapan dengan lidah api Charlene. Dan, ternyata kak Alven yang naksir Tamara adalah saudara Charlene. Tamara yang terlanjur jatuh hati dan terbiasa diberi hadiah barang-barang mahal dari kak Alven akhirnya malah terjebak antara lanjut ingin menjadi popular ataukah menyerah. Dengan dekat dengan kak Alven, dia akan sering muncul di berita gosip sehingga akan mendongkrak polling popular.

Keadaan makin rumit saat muncul karakter baru bernama kak Arial. Seorang cowok yang cool, macam Rangga di film ‘Ada Apa Dengan Cinta?’ yang ternyata juga naksir Tamara. Bisa kalian bayangkan, cerita mimpi bangetkan? Sementara persahabatannya dengan si kutu buku makin meruncing karena sejak dekat dengan gang popular, Tamara berubah, yang menambah rumit situasi.

Dapatkah Tamara menjadi siswa paling popular? Bagi pembaca yang suka dunia remaja tentang cinta-cintaan kalian layak melahapnya. Kalau ga suka dunia cinta monyet sebaiknya jangan memaksa, kalau tetap juga melahapnya ya seperti saya ini. Ceritanya sederhana sekali. Ketebak dari awal, dan akan makin pusing melihat nama-nama merk produk fashion terkenal yang tak kukenal. Dunia literasi Indonesia memang makin beragam, dan novel ini tetap layak dihargai (dari kaca mata remaja) sebagai sebuah karya. Frenemy, friend and enemy. Kisah remaja galau, kita semua sudah melewati masa tersebut. Ehhhmm…, 10, 15 atau 20 tahun yang lalu. Enough!

Karawang, 010414