Captain America: The First Avenger – Drama Calls Action

Abraham Erskine: Whatever happens tomorrow you must promise me one thing. That you will stay who you are. Not a perfect soldier, but a good man.

Mungkin karena ekspektasiku ketinggian setelah mendengar dan membaca review teman-teman yang bilang bagus, jadinya setelah nonton saya ga mendapatkan klimak yang dicari. Dengan embel-embel ‘best superhero ever made’ kapten Amerika berjalan lambat bak film drama yang tayang di prime time.

Karena saya sudah nonton Avengers dan sekuelnya maka udah tahu adegan di pembuka itu maksdunya apa. Setelah penemuan ‘mahkluk yang tertidur’ setting waktu lalu diputar mundur ke era tahun 40an di mana Nazi sedang digdaya. Johann Schmidt (Hugo Weaving) – nantinya jadi Red Skull – memimpin pencarian sebuah benda dari Asgard, tentu saja kalian tahu apa itu Asgard, benda ini untuk membuat senjata canggih guna meluluhlantakkan Negara musuh. Dibantu Dr. Zola (Toby Jones) akhirnya benda tersebut ditemukan. Sementara itu di Amerika, di kota Bronklyn tersebutlah seorang pemuda kurus dan pendek Steve Rogers (Chris Evans) yang mendaftar ke angkatan perang. Karena fisiknya yang kecil, tentu saja ditolak. Namun Dr. Abraham Erskine (Stanley Tucci) yang sedang melakukan eksperimen malah menunjuk Steve untuk percobaan pertamanya. Bersama Howard Stark (Dominic Cooper) – yup, ayahnya manusia setrika – mereka membuat serum yang disuntikkan ke Steve. Tada…! Keluar dari ruang operasi, Steve jadi kekar berotot. Wah inilah penemuan terbaik abad 21. Mau dong saya…

Dengan bodi baru Steve mengejar penghianat penelitian yang ternyata anggota Hydra. Pengejaran yang seru, Steve bisa melompat jauh, lari kencang, sampai menghajar orang babak belur. Sayangnya penemuan tersebut tak bisa diselamatkan jadinya Steve adalah satu-satunya manusia instan. Dimulailah petualangan di barak tentara, buat film dokumenter dengan seragam ‘Captain America’ sampai memanggil pemuda-pemuda Amerika untuk bergabung dalam angkatan perang. ‘I Want You!’. Cerita akhirnya mempertemukan sang kapten dengan Red Skull. Siapa jagoan sesungguhnya?

Well, penampilan Chris Evans sangat bagus. Salah satu casting superhero paling pas selain Robert Downey Jr tentunya. Totalitasnya dari membentuk tubuh bengkring sampai jadi sixpack perlu diacungi jempol. Ga nyangka aja, Evans yang selengekan bisa jadi berwibawa gitu. Masih melekat di ingatan penampilannya sebagai salah satu anggota F4 yang kacrut. Cast yang lainnya juga sangat Ok. Hayley Atwell jadi pemanis yang pas, saat perpisahan di mobil itu lucu sekali. Tommy Lee Jones tampil cool seperti biasanya. Sayangnya film ini lebih ke drama yang kurang menyentuh. Aksinya kurang, kejutannya tak ditata rapi sehingga terkesan dilepas, dan kekalahan musuh utama yang kurang memorable. Rasanya emang kurang nendang. Jatuhnya malah terlihat wagu, bukan klasik.

Film rilisan 2011 yang berarti sudah melewati tiga film: Avengers, Winter Soldier dan Age of Ultron baru saja saya tonton. Tinggal membuktikan film ‘tentara musim dingin’ yang katanya penuh aksi. Mudah-mudahan sesuai harapan.

Captain America: The First Avenger | Directed by: Joe Johnson | Cast: Chris Evans, Hayley Atwell, Sebastian Stan, Tommy Lee Jones, Hugo Weaving, Dominic Cooper, Stanley Tucci | Skor: 3.5/5

Karawang, 270515

Iklan

(review) American Sniper: Don’t Pick It Up

Jelek. Itu yang terlintas di benak saat akhirnya muncul catatan ending. Bagaimana bisa film seburuk ini ditempatkan nominasi Oscar? Saya berani bertaruh, Cooper ga ada menang best actor.

Dari adegan pembuka saja, saya langsung memberi nilai negative. Seorang anak kecil yang akan melempar granat mortir kea rah pasukan tank, ditembak jatuh oleh sniper. Lalu sang ibu berpekik dan melanjutkan usaha si anak, ditembak juga. Adegan pembuka yang mewakili isi keseluruhan cerita. Ada aturan tak tertulis dalam cerita yang saya nikmati, salah satunya jangan memperlihatkan secara implisit pembunuhan anak-anak dan wanita. Di mataku, rate film American Sniper langsung jatuh.

Chris Kyle (Bradley Cooper) adalah seorang sniper kelas wahid. Bertugas di Timur Tengah untuk melindungi pasukan Amerika dalam operasi militer di sana (dalam film ini di sebut Tur). Saking hebatnya menembak, teman-teman yang bertugas denganya merasa aman. Jadi saat konvoi pasukan untuk menyisir sebuah daerah, Kyle ada di atas gedung untuk mengamati lokasi sekitar perjalanan.

Kyle mendaftar di militer, seperti biasa adegan awal ya pasukan latihan militer yang keras. Berguling di pantai, lari penuh keringat, push up sampai latihan menembak. Kyle berkenalan dengan Tara Renae (Sienna Miller) di sebuah pub. Awalnya Tara menolak berkenalan dengan laki-laki lain, yang terlihat melepas cincin nikah/tunangannya. Lalu datang Kyle, mereka cocok. Sampai akhirnya menikah dan punya anak. Lalu cerita berkutat dari keluarga dan tur ke Timur Tengahnya. Gitu terus berulang-ulang sampai akhir.

Dalam sebuah tur, teman Kyle sesama sniper terluka bagian mata, dia tertembak sniper lawan. Ini sebuah penghinaan untuk seorang penembak, Kyle dan kawan-kawan marah besar dan bersiap membalas dendam. Lalu dalam adegan yang dibuat secara dramatis, sang sniper lawan dalam sasaran Kyle namun daya jangkaunya melebihi batas. Di satu sisi, instruksi dari bos agar menahan tembakan dahulu sebab kalau sniper lawan jatuh maka tempat persembunyian mereka otomatis diserang. Saat dilemma itulah, Kyle harus memutuskan, menarik trigger saat ada kesempatan atau menunggu sang bos memberi perintah. Sampai akhirnya sebuah angin ribut datang tiba-tiba, benar-benar film ala India yang dramatis.

Dalam sebuah adegan Kyle sekeluarga sedang di tempat umum, bertemu dengan eks pasukan yang pernah diselamatkan Kyle dan menganggap Kyle adalah hero. Di sinilah menurut saya, film ini berlebihan. More war propaganda ala Amerika. Kyle dianggap pahlawan di sana, sehingga tak heran dalam sepekan film ini berhasil tembus 100 juta. Angka yang luar biasa untuk sebuah film biopic. Film ini memang berdasarkan kisah nyata, benar-benar feel Oscar dapat. Salah satu kata yang mengena sekali adalah: I’m willing to meet my creator and ask for every shot that I took. Sebuah pekerjaan yang berat.

Secara keseluruhan film ini jelek. Mengagung-agungkan Amerika seolah mereka punya kuasa penuh dalam perang Irak. Mereka jagoan dan setiap tentara yang tewas dalam perang adalah pahlawan. Lalu apakah Kyle akhirnya juga tewas dalam perang?

Ini film Eastwood, tapi ga semua filmnya bagus kan. Kecuali kalau kamu fan beratnya, silakan. Namun nasehat saya buat kalian yang gat ahu Eastwood, hanya satu: Don’t waste your time or money!

American Sniper | Director: Clint Eastwood | Story: John Hall | Cast: Bradley Cooper, Sienna Miller, Kyle Gallner, Cole Konis | Skor: 1.5/5

Karawang, 280115

(review) American Hustle: Lie – And We Loved Each Other.

Gambar

Sydney Prosser: You’re nothing to me until you’re everything.

Christian Bale menanggalkan baju Batman-nya, dengan kepala botak dan penampilan jadul memakai kaca mata besar, dia menyamar secara meyakinkan. Amy Adams memakai pakaian kerah you-can-see menjadi penggoda para klien. Bradley Cooper mendadani penampilannya menjadi penyidik ala KPK (Komisi Pemberantas Korupsi) berwajah preman. Jennifer Lawrence Menjadi istri Bale yang cerewet dengan rambut keritingnya. Dan Jeremy Renner melengkapi cast bintang sebagai seorang walikota yang dicintai warganya.

Film dibuka dengan Irving Rosenfeld (Christian Bale) seorang penipu ulung yang berdandan menutupi kepala botaknya dengan rambut palsu, berpenampilan bak seorang bisnisman. Bersama Sydney Prosser (Amy Adams) dan Richie DiMaso (Bradley Cooper) mereka bertiga sedang mencoba menjebak walikota dengan sekoper uang suap. Skenarionya mereka diutus seorang syeik untuk memberikan uang pelicin guna mendapat izin mendirikan casino di New Jersey. Sebagai walikota yang terkenal bersih dan dicintai warga Carmine Polito (Jeremy Renner) terang-terangan menolaknya dan meninggalkan pertemuan. Seakan rencana rencana ini berantakan, lalu film pun digulirkan ke belakang, melihat latar belakang semua karakter.

Irving Rosenfeld adalah anak tukang kaca yang sejak kecil diajarkan menipu. Sewaktu kecil dia disuruh ayahnya memecahkan kaca toko di sekitar tempat usahanya, sehingga kacanya laku. Perbuatan anak kecil tentu saja dianggap hanya kenakalan, sehingga permintaan maaf dan denda ala kadarnya. Tak heran sewaktu dewasa dia menjadi seorang penipu. Sydney Prosser adalah remaja bosan dengan rutinitas bekerja di majalah cosmopolitan, walau awalnya bekerja dengan hati tapi waktu membuatnya tak betah, sehingga dia melakukan bisnis ilegal. Richie DiMaso adalah seorang penyidik FBI, yang suka menjatuhkan para politikus. Menganggap mereka kotor, sehingga sering melakukan penjebakan di mana ruang pertemuan sudah disiapkan dengan alat perekam. Carmine Polito adalah walikota yang terlihat bersih, dengan hati melayani masyarakat. Saat dijebak dia sedang berusaha membuka kesempatan lapangan kerja sebanyak-banyaknya, sehingga tawaran pembukaan casino dari seorang syeik Abu Dhabi terlihat menggiurkan.

Setelah pengenalan karakter, kita lalu disuguhi alasan kenapa duet penipu Irwing dan Sydney mau bekerja sama dengan FBI. Rencana-pun disusun, awalnya atasan Richie tak menyetujui rencana ini, karena melibatkan uang besar sebagai kail-nya. Namun akhirnya berubah pikiran setelah mendengar rayuan. Adegan lalu ditarik kembali ke masa di awal film saat sang walikota keluar ruangan dengan marah. Irwing mengejarnya dan meminta maaf atas kelancangan mereka. Dengan pengalamannya dalam bersilat lidah sebagai penipu, Carmine termakan umpan. Negosiasi kembali dibuka. Lalu muncullah seorang karakter aneh Rosalyn (Jennifer Lawrence) sebagai istri Irving. Dia adalah istri yang cerewet dan protektif terhadap keluarga, tapi ternyata itu hanya sampul karena saat menjelang akhir kita dikejutkan fakta dibalik sifat hati-hatinya. Saat walikota menelpon ke rumahnya untuk memenuhi undangan negosiasi dengan syeik di hotel Plaza yang mengangkat adalah Rosalyn sehingga terpaksa diajak datang juga. Irwing yang ada affair dengan Sydney jelas keberatan. Di durasi satu jam film kita serasa ikut duduk dalam perundingan. Membiarkan para wanita pesta di luar, keadaan serasa menegangkan setelah tahu, Carmine mengajak seorang gangster. Apalagi kita tahu syeik palsu asal Abu Dhabi yang disewa FBI adalah seorang Mexico. Keadaan makin tegang saat sang gangster menyapanya dalam bahasa Arab. Batin saya teriak, ‘modaro koe!’ Saat semua terdiam, sesorang menjatuhkan gelas di atas meja sehingga konsentrasi buyar. Namun pihak walikota tetap fokus dan terdiam seakan masih meminta jawab dalam bahasa asing. Diluar duga Irwing dan Richie sendiri, si syeik palsu itu bisa menjawab dengan lancar. Sehingga kesepakatanpun terjalin, transaksi uang suap pun berlanjut.

Merasa ini adalah kemenangan besar, FBI berpesta. Namun Irwing malah seperti tersadar saat mendengar perkataan sang walikota yang membela rakyatnya. Setelah negosiasi selesai, Irwing meminta maaf ke rumah Carmine dan menjelaskan segalanya. Sadar dirinya dijebak, walikota marah besar lalu menghajar dan mengusirnya. Saat semuanya sudah terasa clear demi kepentingan setiap golongan, muncul twist yang membuat saya tersenyum. Karena ternyata sisi keberpihakan setiap karakter memang terlihat abu-abu sedari awal sehingga saat FBI melakukan penggerebekan, semua yang awalnya terlihat jelas malah berantakan. Twist apakah itu? Lihat sendiri biar kalian bisa berteriak ‘bravooo!’ seperti saya.

Inilah film yang digadang-gadang akan menang oscar tahun 2014 ini. bersama 12 Years A Slave, American Hustle mengirim banyak wakilnya. Bale tampil luar biasa, bertubuh gendut dan memakai kaca mata membuatku pangling. Jen-Law sekali lagi membuktikan bahwa oscar tahun lalu bukan hanya kebetulan. Amy Adams sama gilanya, menjadi seorang wanita affair yang bersisi dua, membuat kita bertanya-tanya ke arah siapakah dia berpihak. Renner juga tampil brilian, tebar senyumnya bak selebriti. Cooper pun 11-12, menampilkan sisi egois seorang pemberantas korupsi. Secara keseluruhan ini film istimewa karya David O Russell. Melanjutkan kehebatannya tahun lalu Silver Linings Playbook, dia kembali memasang Jen-Law dan Cooper. Sebuah prestasi luar biasa. Yang jadi tanya berapa piala yang akan diboyong film ini, layak kita nanti Senin nanti.

Film ini memaksaku membandingkan dengan keadaan di Indonesia. Coba bayangkan KPK menjebak suap seorang gubernur bersih dan dicintai misalkan saja, Jokowi. Akan menjadi heboh negara ini. Well, yang dilakukan FBI saya berpendapat seperti pernah dilakukan oleh KPK. Yah, siapa yang tahu? Politik memang rumit. Tetap semangat para pemangku jabatan bersih, moga istiqomah.

American Hustle

Director: David O Russell – Screenplay: Eric Warren Singer, David O Russell – Cast: Christian Bale, Bradley Cooper, Amy Adams, Jeremy Renner, Jenifer Lawrence – Skor: 4.5/5

Karawang, 020314 – Welcome March

(review) Robocop: This is the future of American justice!

Gambar

Bagi yang menghabiskan masa kecil sampai remaja di tahun 90an, Robocop adalah pahlawan yang layak dikenang. Selain, tentunya Son Goku, Kura-Kura Ninja, Power Ranger, Ksatria Baja Hitam sampai Wiro Sableng. Robocop adalah idola di zaman paling memorable akhir 80an sampai pertengahan 90an, kemunculannya di tv atau di media cetak menjadi sebuah hiburan wajib. Kala itu kita tak semudah sekarang mendapatkan informasi dan hiburan digital tak sebanyak opsi Saya sumringah saat ada komik strip sehalaman bergambar Alex Murphy di majalah Bobo. Sebagian saya gunting dan tempel di dinding. Sebuah kegilaan masa kecil begitu bahagia.

Jadi saat mendengar Robocop akan di-reboot tahun 2014 saya sangat antusias. Seperti saat TMNT rilis tahun 2007, Dragon Ball Evolution tahun 2009, Saya menontonnya di bioskop dengan hati berdebar, takut dirusak. Teaser poster-nya membuatku mengernyitkan dahi, warnanya hitam bukan perak. Penutup wajahnya ada segaris merah menyala. Trailer-nya bagus dengan adegan ikonis tangan Robocop yang ada di samping paha, lalu muncul pistol, ‘jreeet!’. Penantian panjang itu saya tuntaskan pada hari Minggu, 16 Februari 2014 lalu saat ke Mal Lippo Cikarang. Nonton dengan teman STM yang artinya satu generasi, sama-sama menggilai robot ini. Saat layar dibuka lampu biskop dimatikan, muncullah logo Metro-Goldwyn-Mayer (MGM) dengan backsound singa. Eh bukan, ternyata suara Samuel L Jackson yang kocak meniru suara…, apa ya? Hhhmmm…, seisi bioskop tergelak, sinting!

Film dibuka dengan penjelasan seorang presenter kocak Pat Novak bahwa Amerika membutuhkan robot untuk menyelesaikan masalah, salah satunya masalah terorisme. Kecepatan dan ketangkasan robot tak bisa disamai oleh manusia. Namun manusia masih punya nurani, masih punya hati sehingga dalam misi selalu berfikir dua kali. Adalah Dr Dennett Norton (diperankan dengan keren oleh Gary Oldman) yang mendapat tugas untuk menyatukan manusia dengan robot. Dengan didanai organisasi milik Raymond Sellars (Michael Keaton) mereka memilah tubuh siapakah yang akan dijadikan pioneer.

Saat memilah dan memilih itulah secara bersamaan, seorang detektif bernama Alex Murphy mengalami serangan teror. Saat bersama rekannya Jack Lewis (Michael K. Williams) mengurai kejahatan senjata illegal, Jack kena tembak dan tak sadarkan diri. Sang antagonis Antoine Vallon (Patrick Garrow) merasa perlu menyingkirkan Alex yang sudah tahu jati dirinya. Dengan memasang bom di mobilnya. Naas bagi Alex, dalam sebuah adegan romantis tiba-tiba alarm mobilnya berbunyi. Merasa keheranan karena ada kejanggalan, Alex mencoba mematikan alarm. Saat tangan kirinya menyentuh pintu mobil, Boom! Lalu secara cepat keputusan harus diambil, dengan kondisi separuh tubuh cacat, untuk menjaga agar Alex tetap hidup mereka menawarkan opsi untuk menjadikan Alex percobaan manusia-robot.

Saat melihat dalam kaca tubuh Alex, tiga bulan kemudian, saya ngilu. Serem sekali, saya ga berani menatap layar beberapa saat. Saat akhirnya baju robot dipasang semuanya saya sempat berujar. ‘Lho kok tetap seperti versi original dengan warna perak?’ Ga seperti di poster yang berwarna hitam. Namun ternyata itu tak lama, karena segera berubah setelah teriakan: “Make him more tactical. Let’s go with black.”

Saat publik menanti pengenalan sang manusia robot, Robocop gagal saat uploading data kejahatan. Otaknya error dan jati diri Alex sedikit terenggut. Namun ternyata dari situlah akhirnya dia berubah jadi Robocop yang kita kenal. Jiwanya sudah tak sepenuhnya ada dikendali Alex, namun sudah secanggih komputer, sehingga saat menatap kerumunan semua orang terdeteksi: Threat or No Threat. Kemudian dendamnya muncul untuk memburu Vallon. Ketika semuanya sepertinya berjalan lancar, ada penghianat dari dalam. Siapakah dia? Tonton segera di bioskop kesayangan Anda!

Saat kita disuguhi drama yang memikat dengan tensi yang terjaga sampai menjelang klimak, harusnya Alex meledak dan menghancurkan layar. Namun sayang, Jose Padilha tak melakukannya. Ending-nya anti klimak. Susunan bagus dari awal serasa berantakan saat suara baling-baling helikopter mendekat. Seperti ada yang hilang ketika credit title muncul.

Secara keseluruhan saya suka. Dramanya bagus, dan saya memang suka film drama. Aksinya memang minim tapi tetap nikmat disaksikan. Ikon pistol di paha, motor gedenya, penutup wajah, sampai deteksi pengelihatan muncul. Dan itu sudah cukup membuatku sumringah. Kura-kura Ninja gagal, villainnya kurang gahar. Dragon Ball Evolution lebih buruk lagi. Berantakan, sungguh buruk, plot hole di mana-mana. Robocop yang ini lumayan, setidaknya Jose tak merusak idola kita. Jadi bagi yang pengen nostalgia masa kecil, film ini bisa jadi salah satu obat mujarap. Mumpung masih hangat dan seru-serunya.

Robocop

Director: Jose Padilha – Screenplay: Joshua Zetumer – Cast: Joel Kinnaman, Gary Oldman, Michael Keaton, Samuel L Jackson, Abby Cornish – Skor: 3/5

Karawang, 190214