Dekut Burung Kukut #1

Dekut Burung Kukuk #1

Event 30 hari menulis kembali datang, artinya selamat datang kembali bulan Juni. Bulannya review buku, bulannya Sherina, bulan keenam yang selalu istimewa. Dalam 30 hari ke depan saya akan ulas 15 buku lokal 15 buku terjemahan. Mungkin tak akan sehari satu buku, karena bulan ini bertepatan Lebaran yang artinya akan kepangkas seminggu mudik yang artinya pula intensitas di depan laptop akan tergerus demi kumpul keluarga dan saudara, yang pasti tetap 30 buku akan saya pilih pilah acak untuk dapat ulas.

Buku pertama tahun ini adalah dari Penulis favorit JK Rowling, kali ini dengan nama lain.

Partikelir. Terdengar rancu, terdengar agak aneh. Mungkin karena saya terbiasa mendapat terjemahan kata ‘swasta’ untuk lanjutan kata ‘detektif’. Partikelir (/par-ti-ke-lir/), berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) artinya adalah bukan untuk umum; bukan kepunyaan Pemerintah; bukan (milik) dinas; swasta.

Robin: “Ya, memang. Padahal banyak orang datang kemari dan mencerocos tentang apa saja yang mereka suka. Mau tidak mau, kau mendengar banyak hal dari balik ini.”

Informasi. Di era serba instan, modern, dan mudah didapat ini, informasi bukan masalah bagaimana mendapatkannya, tapi lebih mau memilah atau memilih informasi apa yang akan kita serap. Dekut Burung Kukuk menyajikan sebuah kisah di mana informasi masih sangatlah sebuah komoditi berharga, demi harga diri, nama baik dan sebuah pengakuan.

Kisahnya tentang detektif partikelir yang harus menyelidiki kasus pembunuhan seorang model. Cormoran Strike adalah detektif sewa, seorang veteran perang Afganistan yang tinggal di hiruk pikuk kota London. Ia punya masalah kompleks. Terluka batin akan identitasnya, kematian ibunya yang tak wajar (potensial untuk kisah berikutnya), frustasi drop out kuliah yang sebenarnya sangat menjanjikan hingga banting stir masuk militer. Tragedi di medan perang yang membuat luka fisik sehingga kini ia menjadi warga negara yang menyepi, otaknya yang pintar analis dan deduksi mengarahkannya jadi seorang penyelidik sewa. Kisah cintanya juga tak mulus, kekasih kuliahnya dan sampai cerita ini disajikan akhirnya putus. Charlotte yang cantik menjauh, memaksa Strike tinggal di kantor sewanya. Makin parah, tak butuh waktu lama, mantannya tunangan. Banyak jenius di luar sana dicipta nasib sial oleh tangan Tuhan yang kejam. Strike hanya salah satunya, gambaran luar yang masih bisa diselamatkan.

Seorang model ternama Lula Landry mati, diperkira bunuh diri. Setelah tiga bulan sang kakak angkat John Bristow melaporkan kasus ini ke detektif Strike untuk menyelidiki ulang karena tak puas dengan hasil investigasi kepolisian. Sang detektif yang tegap dan sedang murung keuangan dengan senang hati menerima tawaran itu. Di hari saat tawaran datang, sekretaris baru dari outsource datang. Robin yang lulusan psikologi awalnya dipandang sebelah mata, ya karena gaji kecil dan hanya disewa part-time dari Temporery Solution tapi tak dinyana perannya di buku ini justru sangat penting. Bisa jadi buku berikutnya Robin akan jadi seperti ‘Robin’ nya Batman, jadi partner bukan sekedar pembantu di balik meja receptionist.

Lula Landry adalah anak adopsi Sir Alec dan Lady Yvette Bristow. Ia dibesarkan dengan nama Lula Bristow tapi memakai nama Landry saat bergelut di bidang modeling. Kakak Lula, John sendiri adalah pengacara, nah anehnya pengacara ini tampak tak wajar saat meminta tolong ke Strike. Seakan menantang nalar, ‘bisa ga lu pecahkan kasus ini?’

Kasus ditelusur dengan logika pas, menyesuaikan era sekarang tapi tetap dengan hati dan seluk beluk penelitian wajar tanpa gadget wow ala Mission Imposible. Bagaimana Strike harus berlari dengan susah payah, bagaimana kehidupan glamour seleb Inggris dengan segala kemunafikan, bagaimana jua sebuah sapaan dan diskusi selidik dilakukan dengan standar alami dan benar-benar enak diikuti. Tak ada sesuatu yang mistis tak ada sesuatu yang memerlukan sihir, berbanding balik dengan segala Potter itu.

Novel pertama JK Rowling dengan nama pura-pura disamarkan Robert Galbraith, atau novel kedua pasca final hit Potter setelah The Casual Vacancy ini terbilang sukses. Sukses, memuaskan pembaca. Saya berhasil menebak siapa pembunuhnya bahkan sebelum ke bagian dua. Rowling terlalu banyak memberi klu, memberi banyak celah untuk menebak, terlalu mengerucut ke satu pihak. Kalau kita sudah sering menikmati cerita detektif, kita pasti makin hari makin familiar arah dan tujuan para kriminal. Dan alur serta alibi penjahat Dekut Burung Kukuk ini pernah ada dalam serial Agatha Christie. Klu yang disodorkan Rowling terlampau berlimpah di awal sehingga simpanan rapat yang seharusnya jadi esensi utama sudah pudar. Tapi justru hal-hal kecil selain tebak pembunuh yang menyenangkan diikuti. Alangkah baiknya kalian sudah membaca bukunya dulu, baru membaca ulasan ini, tapi ga papa, saya tetap mencoba tak memberi bocoran penting. Hal-hal kecil yang menggelitik itu diantaranya: kita baru tahu bahwa detektif Strike ternyata cacat fisik parah setelah mengarungi seperempat bagian. Walau back cover bilang: ‘… veteran perang yang memiliki luka fisik dan luka batin...’ tapi tak dijelaskan sakitnya apa. Lalu trivia menarik bagaimana Lula memilih nama Landry sebagai nama tenar alih-alih nama belakang keluarga juga bagus sekali, dijelaskan sederhana di tengah cerita dalam penyelidikan. Satu lagi, kematian Charlie. Entah kenapa saya ga kepikiran kematiannya yang jaaaauh hari itu ternyata menyeret sang pembunuh dalam psikologi miring. Jelas, novel detektif ini sukses banget ketimbang Casual yang adem.

Buku ini hanya tinggal tunggu waktu untuk diadaptasi ke layar lebar. Apalagi novel lanjutannya sudah tersedia pula, sangat menggiurkan produser Hollywood. Casual sendiri sudah diadaptasi ke mini seri TV, namun gaungnya redup. Mending ke layar lebar sih. Karena memang, kualitas Casual terjerebab pasca Potter. Pemilihan kisah detektif kurasa sudah sangat pas untuk keluar pakem sihir, hanya aneh saja kenapa pakai nama lain. Kalau niat disamarkan, harusnya rapat. Absurd-lah, Penulis besar mencipta kisah penyelidikan, memilih nama lain sebagai Penulis namun identitasnya terbuka. Kalau benar-benar berniat berjudi untuk respon jual, harusnya memang ditutup. Tapi kalau niat laku, Rowling menintakan kata apapun juga pasti diburu. Ahh andai identitas Robert baru diumumkan di kemudian hari, novel ini akan jadi begitu menarik sekali 20, 30, 100 tahun lagi.

Semoga seri-seri berikutnya lebih keren dan saya diberi kesempatan menikmati segalanya. #PotterFreak

Prolog – “Kenapa kau lahir saat salju membuat langit bungkuk? Andai saja kau tiba ketika dekut burung kukuk, atau saat buah-buah anggur di tandan meranum hijau, atau, setidaknya saat kawanan burung camar berkicau, sehabis menempuh perjalanan jauh yang ganas menyelamatkan diri dari serangan musim panas.

Kenapa kau mati saat bulu-bulu domba dipangkas? Andai saja kau pergi ketika buah-buah apel ranggas, atau saat gerombolan belalang berubah jadi masalah, dan lahan gandum semata hamparan jerami basah, dan napas angin berembun sangat berat sebab semua hal indah tiba-tiba sekarat.” – Christina G. Rossetti, A Dirge – Sebuah Ratapan.

1-Sungguh celaka orang yang cacat celanya menjadi ikut terkenal karena ketenarannya. – Lucius Accius, Telephus.

2-Tak asing dengan berbagai kemalangan, aku belajar meringangankan penderitaan orang lain. – Virgil, Buku 1.

3-Barangkali akan membantu kalau mengingat kembali hal-hal yang akan lampau. – Virgil, Buku 1

4-Dan yang oaling baik, sebagaimana kata pepatah adalah mengambil untung dari kegilaan orang lain. – Pliny Tua, Naturalis

5-Berbahagialah orang yang memahami sebab musabab segala sesuatu. – Virgil Georgics, Buku 2

Epilog – Tak ada sesuatu yang sempurna dalam segala-galanya. – Horace Odes, Buku 2

Dekut Burung Kukuk| by Robert Galbraith | copyright 2013, first published in Great Britain by Sphere | cover images: street scene and design by LBBG – Sian wilson | diterjemahkan dari The Cuckoo’s Calling | GM 402 01 14 0002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | alih bahasa Siska Yuanita | alih bahasa puisi hlm 7 & 517: M. Aan Mansyur | design sampul Marcel A.W. | cetakan keempat, Agustus 2016 | ISBN 978-602-03-0062-7 | 520 halaman; 20|Skor: 4/5

Untuk Deeby yang sesungguhnya dengan ucapan terima kasih.

Karawang, 241217-010618 – Sherina Munaf – Singing Pixie
#1 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Thx to Widy Satiti untuk pinjamannya. #Laz4-0Cro

Iklan

My Sweet Heart #30

My Sweet Heart #30

Huray! Akhirnya catatan ke 30 dari 30 sampai juga. Sesuai target 15 buku lokal dan 15 buku terjemahan selama bulan Juni dalam event #30HariMenulis #ReviewBuku dengan berbagai kendala dan keseruan yang menyelingkupi. Dengan segala kelelahan dan berbagai kenekadan, inilah catatan akhir itu. Tulisan di mulai tepat tanggal 1 Juni di Karawang dalam laptop Meyka dan diakhiri di Palur dalam laptop Wildan. Dipost antara perjalanan mudik dan arus balik yang macet. Ditulis dalam kekhusukan Ramadhan penuh berkah. Di sela-sela usaha tetap berlomba cari pahala. Dengan optimisme ala optimis prime, bisa tepat berakhir di akhir bulan. Sampai jumpa bulan Juni 2018.

Sekali lagi dari KKPK – Kecil Kecil Punya Karya punya ponakan Winda LI. Dibeli kemarin saat ke Gramedia Solo, saat Wildan cari buku psikotest untuk persiapan tes masuk Angkatan Laut, dibeli saat saya cari novel Jack London, The Call Of Wild. Winda membeli tiga buku KKPK. Buku setipis ini dengan kecepatan santaipun seharusnya bisa diselesaikan sekali duduk. Tapi tidak, tadi pagi saya baca di Jatipuro ketika antar ibu ke Pasar Jatipuro dapat dua bab, sisanya saya baca siang ini di Palur. Draft sudah saya siapkan untuk perjalanan arus balik esok ke kota Karawang.

Untuk sebuah buku KKPK sejauh ini My Sweet Heart adalah salah satu yang terbaik. Pantaslah masuk Gold Edition: Best Seller. Kisahnya mungkin sederhana tapi untuk buku anak-anak jelas plotnya lucu. Apalagi ending-nya yang menggantung menggemaskan. Saya sendiri tersenyum menggerutu. Kata Winda, ada buku KKPK lain yang juga menarik. Sayangnya program ini sudah berakhir hari ini. Mungkin tahun depan?

Ceritanya ya tentang keseharian sang Penulis dibumbui daya khayal anak SD – Sekolah Dasar. Tiras adalah si Salim – sok alim karena dalam keseharian sekolah mengenakan hijab. Padahal ia tomboi suka main game battle dan play station. Nah hari itu Tiras ditinggal sendirian di rumah, membaca komik Detective Conan menunggu mang Kiki tapi via telpon ia ga jadi datang. Adegan mengunci pintu dua kali klik dan adegan angkat telpon yang wajarnya biasa bisa dibuat lucu. Hebat dik! Berteman akrab dengan Sarry yang di hari pertama sekolah naik angkot, turun bersama dan berlomba lari.

Nah, kisah sesungguhnya ada di di sini. Dari Kang Ginanjar, Amira tahu ada tiga orang di dunia in berwajah mirip dengan pribadi kita. Dia berujar bahwa ia tahu ada seorang anak yang mirip dengan Tiras, via rekaman HP sedang bermain bulu tangkis. Anak itu bernama Mei Ling. Dari namanya jelas keturunan Cina. Tiras lalu diajak bertemu langsung saat turnamen bulu tangkis. Keluarga ini datang terlambat, untungnya pertandingan Mei ada di akhir jadi aman. Mereka mendukung di tribun penonton, “Ayooo Mei Ling, sikat! Smash!”

Sayangnya menjelang akhir laga, Mei cidera. Wasit memberi waktu untuk pemulihan, saat itulah Tiras kebelet pipis. Tak disangka mereka bertemu langsung, saling terkejut. Dan terbesitlah ide untuk melanjutkan pertandingan, Tiras yang maju. Kesepakatan diraih, mereka bergegas bertukar kostum. Tiras yang hanya tahu pengetahuan dasar bulu tangkis mencoba melawan. Tapi karena Mei sudah leading jauh, dan sang lawan mulai mengejar akhirnya mereka ada di skor dramatis 14-14. Dengan sistem lama di mana sang pemenang adalah yang pertama cetak skor 15, pertandingan dibuat dramatis dan yak! Betul Tiras palsu menyudahi perlawanan Erwin dengan jurus crazy ball.

Kesepakatan bertukar tempat ternyata tak sampai di sini. Mereka setuju, sampai hari Minggu mereka akan menjalani kehidupan baru. Tiras di rumah Mei bersama bunda Fu Jin Siao dalam kehidupan kelas atas yang gemerlap. Rumah bak istana, mobil Mercedez Benz dengan sopir pribadi, sekolah elite di mana ketika masuk dengan sidik jari, dan kehidupan orang kaya lain di mana koneksi internet bisa diakses setiap saat. All hail game online!

Sementara Mei hidup dalam keseharian sederhana di mana setiap hari adalah keseruan. Pulang sekolah main lumpur, membaur dengan teman-teman tanpa tekanan berlebih dari orang tua. Konflik baru muncul saat di sekolah Tiras sangat kurang dalam aljabar, sementara Mei kurang dalam pelajaran bahasa. Mei Ling sampai dapat julukan Ratu Buta Bahasa dari bu guru Esti, sementara Tiras dengan julukan salim. Penyesuaian diri itu awalnya sulit, tapi dengan segala keseruan khas anak-anak tentu saja dapat teratasi. Tapi tak sampai di sana saja, karena akan ada masalah lain yang akan menghadang mereka. Bisakah kali ini diatasi? Kisah ditutup dengan sebuah informasi dari Mang Ginanjar, sesuatu yang unik. Renang?

Sampulnya unik. Ilustrasi cantik Mei Ling. Bak sebuah gambar kartun, cantik sekali Mei yang mengacungkan dua jari ‘peace’ sementara Tiras memberi kode telunjuk di depan mulut yang berarti ‘sssttt…’ dengan kombinasi cerita bagus, ilustrasi oke jelas ini termasuk KKPK yang sukses. Ayoo Winda cari lagi buku Amira dan saya numpang baca lagi. Lho. Hehehe…

My Sweet Heart | oleh Amira Budi Mutiara | ilustrasi isi Agus Willy | ilustrasi sampul Nur Cililia | penyunting naskah Dadan Ramadhan | penyunting ilustrasi Iwan Yuswandi | design isi dan sampul tumes | pengarah design Anfevi | layout dan setting isi Tim Pracetak | Penerbat DAR! Mizan | Cetakan III, Maret 2017 | 116 hlm.; illust.; 21 cm | ISBN 978-602-420-170-8 | Skor: 3,5/5

Palur, 290617 – Pink – Just Give Me A Reason – Subuh dan diposting di Gemuh kota Kendal

#HBDSherinaMunafKu #27Tahun

#30HariMenulis #ReviewBuku​

(review) Kumpulan Cerpen Benny Arnas: Bulan Celurit Api (bagian I)

Rencananya dalam sebulan ini saya mau posting review buku. 30 buku yang pernah saya baca akan saya review. Sebenarnya sih mau tanggal 4 April 2015 sampai sebulan sesudahnya, namun ternyata ada kendala. Draft sudah ada, minimal 5 catatan sudah siap. Ternyata koneksi di rumah acakadut jadi ketika posting, gagal terus sampai puluhan kali. Sehingga baru bias dimulai hari ini. Mudah-mudahan kendala koneksi bisa teratasi. Here we are…

#30HariMeriewBuku #1

Setelah terpesona dengan kumpulan cerpen Hasan al Bana (oiya saya hutang review part 2 ya) saya coba lagi kumpulan cerpen yang lain, kali ini dari bung Benny Arnas yang ternyata sama-sama dari tanah Sumatra. Ada 13 cerpen pilihan yang tercantum, 12 buah sudah dipublikasikan 1 buah fresh. Biar tak terlalu panjang, review lagi-lagi saya pecah jadi 2 posting.

Dibuka dengan prolog, “Memandang Mengarang”, beliau menceritakan proses dari awal bagaimana dirinya bermetamorfosa menjadi penulis. Dari anggota nasyid, Forum Lingkar Pena (FLP) sampai guru-guru yang membimbingnya menjadi sekarang. Terkesan narsis, bukan hanya dalam bercerita tapi juga pilihan back-cover. Terlihat bung Benny berani memajang foto narsisnya (tentunya sudah dipilih yang paling cakep) dan di dalamnya masih terselip foto dia sambil main piano. Bagaimana seorang narsis menghasilkan cerpen yang sudah puluhan kali muncul di koran? Berikut diantaranya:

Bulan Celurit Api

Mak Muna melihat malam ini bulan tampak sabit membentuk celurit, menurut ramalan turun termurun itu petanda buruk. Malam ini sedang ada hajatan, pesta rakyat promosi lurah menjelang pemilihan. Joget-jogetan di atas panggung, mabuk sampai keramaian yang membuat mak Muna yang sudah tua ini pusing. Ternyata zaman benar-benar telah berubah. Mak Muna yang seorang janda ditinggal mati suami kini benar-benar muak. Inikah petanda buruk dari bulan celurit api? Ternyata tidak, ada kejadian yang lebih gawat dari sekedar pesta Tarup.

Percakapan Pengantin

“Sepatutnya, perkawinan mereka adalah pertautan tak lazim. Oh mereka sama-sama tulikah? Sama-sama pengkor kakinyakah? Sama-sama julingkah? Tidak. Mereka tak berkekurangan serupa itu.” Dari pembuka ini kita sudah diperingatkan bahwa ada sesuatu yang salah dalam pesta pernikahan ini. Yang datang sedikit, penuh resiko, penuh tanda tanya. Lalu kita dijejali “percakapan” dua pengantin penuh kekhawatiran. Sampai akhirnya kalimat penutup yang menohok fakta disajikan.

Tentang Perempuan Tua Dari Kampung Bukit Batu Yang Mengambil Uang Getah Para Dengan Mengendarai Kereta Unta Sejauh Puluhan Kilometer Ke Pasar Kecamatan

Judulnya panjang sekali. Sepanjang perjalanan Mak Atut yang naik sepeda onthel ke pasar Kecamatan sejauh 16 kilometer. Motifnya jelas, mengambil uang (gaji) suaminya yang meninggal seminggu lalu. Ternyata suaminya meninggal gara-gara kecelakaan saat bekerja yang mengakibatkan mobil sialan itu di-massa. Setelah perjalanan yang melelahkan itu, Mak Atut bersitegang dengan juragan para yang merasa dirugikan karena mobilnya digembosi. Namun jelas Mak atut lebih marah kehilangan suami. setelah mereda dan menerima uang 250 ribu dia kembali pulang. Namun sampai di tengah jalan, tepat 8 kilometer dari rumah dan 8 kilometer dari pasar kecamatan, terjadi twist yang keren sekali.

Bujang Kurap

Ini kisah klasik dari desa / daerah sang penulis: Lubuklinggau. Tentang asal usul penggilan bujang kurap. Panggilan yang berkonotasi negatif tersebut ternyata tak seburuk kedengarannya. Mungkin seperti kata “kasep” dalam Jawa yang artinya sakit kronis ternyata dalam Bahasa Sunda berarti “ganteng”. Jauh ya?! Yang pastinya sih ga seperti Malin Kundang dari Minangkabau.

Hari Matinya Ketib Isa

Ketib Isa meninggal dunia pagi ini. Seorang penghulu kampung yang dihormati. Uniknya Mak Zahar, istrinya sungguh berbeda jauh dari sifat almarhum. Pasangan yang aneh, suami yang baik mendapat istri yang suka bergosip dan berperilaku buruk. Kedua anaknya Komar dan Zul ternyata sifatnya turun ibu, petakilan, suka mabuk, judi dan bikin onar. Sampai akhirnya setelah pelayat berkumpul, kedua anaknya pulang. Dengan penuh amarah Mak Zahar menyambutnya dengan caci maki yang didengar warga. Kejutan terjadi. Kepiluan apa yang membuat kematian Ketib Isa semakin menyedihkan?

Bulan Celurit Api | kumpulan cerpen oleh Benny Arnas | cetakan pertama, Oktober 2010 | Penerbit Koekoesan | ISBN 978-979-1442-36-7 | 130 halaman, 140 mm x 210 mm | Skor 3.5/5

Karawang, 080415