The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared – Jonas Jonasson

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared – Jonas Jonasson

“Balas dendam itu tidak baik. Balas dendam itu seperti politik, satu hal akan diikuti hal lain sehingga buruk menjadi lebih buruk akan menjadi paling buruk.”

Kisahnya unik. Setting waktunya terbagi dua antara sekarang (2005) di mana sang kakek ulang tahun keabad, naik jendela lalu menghilang dan 100 tahun sebelumnya, merangkak waktu demi waktu sampai akhirnya ditemukan dalam satu ttitik. Bagus, sungguh cerdas.

Di rumah lansia di kota kecil Malmkoping segala cerita bermula. Saat ulang tahun ke 100 tahun, Alan Karlsson kabur. Rencana perayaan istimewa, sang walikota hadir. Juga wartawan surat kabar setempat. Orang-orang jompo lain, serta seluruh pegawai panti, dipimpin oleh Direktur Alice yang pemarah. Hanya yang berulang tahunlah yang tidak berniat datang ke pesta.

Alan, masa lalunya lalu kita ketahui. Hebat, pernah bertemu bahkan terlibat hal-hal penting sama orang-orang besar dari Albert Einstein, Jenderal Franco, Soong May Ling, Kim II Sung, Stalin, Winston Churchill, Robert Oppenheimer, Mao Tse-Tung, dan seterusnya. Bagi Pembaca Indonesia, ada bagian khusus yang snagat menarik karena Alan pernah tinggal, bahkan lama dan berpengaruh di Bali. Sekali lagi, hebat, luar biasa. Dia adalah pewujud mimpi petualangan sejati. “Indonesia adalah negara di mana segalanya mungkin.”

Nama Penulisnya unik: Jonas Jonasson. Bak urang Sunda yang mengulang nama per kata dan dibubuhi, macam Lia Amelia, Wawan Setiawan, Barna Subarna, Eman Sulaeman, Riska Riskania, Ika Kartika, Nana Karyana, Iwan Setiawan, Yanti Aryanti, Andi Sugandi, Ani Suryani, Amar Sumarna, Yuyun Yuningsih, Udin Safrudin, dst.

Saya harus akui terbitan Benatng sekali lagi berkelas. Bukti bahwa selain penerjemah yang handal kita butuh proof reader, penyunting, pemeriksa aksara dan orang-orang yang memastikan buku itu bisa memuaskan pembaca. Sekali lagi, Bentang menyusunnya dengan istimewa, seperti biasanya. 

Cerita yang benar-benar lucu, gila, dan absurb. Novel bagus karena menyangkut politik, bertemu orang-orang besar, dituturkan dengan jenaka lalu meledak bak dinamit. Rekomended!

“Never again.”

The 100-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared | by Jonas Jonasson | diterjemahkan dari The Hundred-Year-Old Man Who Climbed Out of the Window and Disappeared | judul asli Hundraaringen som klev ut genom fonstret och forsvan | terbitan Piratforlaget, Sweden, 2013 | cetakan kelima, Maret 2015 | penerjemah Marcalais Fransisca | penyunting Ade Kumalasari | perancang sampul Adipagi | ilustrasi isi Adipagi | pemeriksa aksara Fitriana, Intan, Intari Dyah P. | penata aksara Martin Buczer | Penerbit Bentang | viii + 508 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-018-3 | Skor: 5/5

“Segala sesuatu berjalan seperti apa adanya, dan apa pun yang akan terjadi, pasti terjadi.”

Karawang, 091117 – Sherina Munaf – 1000 Topeng

Iklan

Anak-Anak Tengah Malam – Salman Rushdie

Midnight’s Children – Salman Rushdie

Buku yang sungguh berat. Bukan tidak untuk semua orang, bukan untuk Pembaca umum. Butuh perjuangan ekstra, butuh konsistensi dan dorongan kuat agar menuntaskan nyaris 700 halaman hikayat panjang sejarah India dari pra kemerdekaan, proses proklamasi yang dibuat megah saat tengah malam, sampai India dalam gejolak pasca berdiri sendiri. Memang bukan buku politik, hanya kisah keluarga istimewa yang diseret dengan keluwesan sastra. Tak mudah karena kejadian biasa dituturkan dengan penuh gaya, namun tak rumit juga sebab semua terang tak bertafsir ganda. Pengorbanan waktu-waktu demi sampai akhir itu tak rugi karena memang ini adalah buku yang sangat luar biasa, bervitamin, berbobot sungguh berat. Layak, memuaskan.

Tak ada yang bisa diingat ketika Tai masih muda. Sejak dulu ia berlayar dengan perahu yang sama, berdiri dengan posisi bongkok yang sama, melintasi Danau Dal dan Nageen… selamanya.

Orang datang ke Kashmir untuk menikmati hidup, atau mengakhirinya, atau keduanya.

Napasnya bau tapi hatinya wangi. Kau pikir aku ini siapa? Cuma anjing buduk ‘pendusta yang biasa’?

Hidung yang seperti itu, idiot kecil, adalah hadiah yang besar. Kuberi tahu: percayai ia. Ketika ia memperingatkanmu, waspadalah atau kau akan habis. Ikuti hidungmu dan engkau akan pergi jauh.

Jika seseorang tidak melakukan pekerjaan kelas satu untukku, kuenyahkan dia!

“Aku sudah hidup dua kali lebih panjang daripada usiaku seharusnya,” ia menyiulkan lagu lama Jerman ‘Tannenbaum’. 

“Dalam setiap peperangan, medan perang menderita kehancuran yang lebih buruk dibandingkan pasukan mana pun. Itu wajar.”

“Lupakanlah itu! Seni seharusnya meninggikan, seni seharusnya mengingatkan kita pada warisan sastra kita yang luhur!”

Legenda terkadang menjadi kenyataan, dan menjadi lebih berguna daripada fakta.

Dunia sudah tak waras, apakah kami adalah manusia di negeri ini? Atau binatang? Dan jika harus pergi, kapankah pisau itu akan datang untukku?

Karena ia punya sebuah bom untuk diledakkan: setelah dua tahun perkawinan, anak perempuannya masih perawan.

“Matahari terbit di tempat yang salah!”

Suami pantas mendapatkan kesetiaan tanpa tanya, tanpa syarat, cinta sepenuh hati.

Kalau begitu, di manakah letak optimis? Di dalam takdir atau dalam kekacauan?

Kehamilan ibuku, tampaknya sudah ditakdirkan, tetapi kelahiranku justru lebih disebabkan oleh kebetulan.

“Kunci, simpan, kemas. Itulah syarat-syarat saya. Sebuah keinginan, maukah Anda memperkenankan permainan kecil ini bagi seorang penjajah yang akan pergi?

Times of India edisi Bombay mengumumkan bahwa mereka akan memberi hadiah pada ibu mana pun di Bombay yang dapat mengatur waktu melahirkan seorang anak agar persis pada hari kelahiran negeri yang baru.

“Bukan intuisi Tuan Methwold. Ini adalah kenyataan yang dijamin.”

“Wee Willie Winkie adalah namaku; menyanyi untuk mendapat makan malam adalah ketenaranku!” Mantan pesulap dan tukang pertunjukan intip, penyanyi. Para penghibur akan mengorkestrasi hidupku.

Ada es masa depan, menunggu di bawah muka air. Ada sumpah: aku tidak akan sujud di hadapan Tuhan ataupun manusia.

Mungkin jika ingin tetap menjadi seorang individu di tengah sesak banyak orang, kita harus membuat diri kita fantastis.

Ia temukan: majalah-majalah Jerman lama; What Is To Be Done? Karya Lenin; tikar sembahyang terlipat.

Dua puluh menit berlalu, dengan aaah aaah dari Amina Sinai, yang muncul makin cepat dan nyaring menit demi menit, dan aah aaah lemah melelahkan dari Vanita di kamar sebelah.

Jawaharlal Nehru memulai: “… Bertahun-tahun yang lalu kita berjanji untuk bertemu dengan takdir; dan sekarang tiba waktunya ketika kita akan menebus janji kita – tidak sepenuhnya atau secara menyeluruh tetapi secara substansial… ini bukan saatnya bagi kritikan yang picik atau destruktif. Tidak ada waktu untuk sakit-sakit. Kita harus menegakkan bangunan mulia India uang merdeka, tempat semua anak dapat berdiam.” Sehelai bendera terkembang: jingga, putih, dan hijau. Sementara dunia tertidur, India terbangun menuju kehidupan dan kebebasan.

Dan ketika ia sendirian – dua bayi di tangannya, dua kehidupan dalam kuasanya – ia melakukan untuk Joseph, tindakan revolusionernya sendiri, dengan pemikiran dia tentu akan mencintainya karena ketika ia menukar label nama kedua bayi besar itu: memberi bayi yang miskin kehidupan istimewa dan menghukum anak keluarga kaya dengan akordion dan kemiskinan… “Cintai aku, Joseph!”

“Ibu, saya melihat bayi Anda hanya sekali dan jatuh hati. Apakah Anda memerlukan seorang pengasuh anak?”

Aku belajar: pelajaran pertama kehidupanku: tak ada seorang pun yang bisa menghadapi dunia dengan mata yang selalu terbuka.

“Kelahiran anak pertama akan membuat Anda menjadi nyata.”

“Istri apa yang kudapat ini! Mestinya aku membeli sendiri anak laki-laki dan menyewa perawat – apa bedanya?”

“Dulu ada tujuh pulau,” Dr Narlikar mengingatkannya. “Worli, Mahim, Salsette, Matunga, Colaba, Mazagaon, Bombay. Orang Inggris menggabungkannya. Laut, bung Ahmed, menjadi tanah. Tanah naik, dan tidak tenggelam di bawah air pasang!”

Anda yang memproduksi; aku yang mengusahakan kontraknya! Fifty-fifty; adil seadil-adilnya!

“Aku sudah muak, kalau tak seorang pun di rumah ini yang akan meluruskannya kembali, maka semuanya akan tergantung padaku!”

Untuk setiap tangga yang kaunaiki, ada seorang musuh yang menanti di tikungan; dan untuk setiap ular, ada tangga yang akan memberi kompensasi. Tetapi lebih dari itu, bukan sekedar bermain wortel-dan-tongkat.

Dan betapa itu adalah sebuah gagasan yang jauh lebih maju daripada apa pun yang ada dalam sinema kita sekarang.

“Bapak-bapak dan ibu-ibu, mohon maaf tetapi ada berita yang sangat buruk. Sore ini, di Birla House di Delhi, Mahatma yang kita cintai dibunuh. Seorang gila menembak perutnya, ibu-ibu dan bapak-bapak – Bapu kita telah tiada!”

Dari burung ia belajar cara menyanyi; dari kucing ia belajar sebentuk kemandirian yang berbahaya.

“Simpan rahasia dan mereka akan membusuk di dalam dirimu; jangan katakan sesuatu dan perutmu akan sakit dibuatnya.”

Di gunung Sinai, Nabi Musa mendengar perintah tanpa jasad; di Gunung Hira, Nabi Muhammad (juga dikenal dengan Mohammed, Mahomet, dan Nabi-Yang-Terkahir) berbicara dengan malaikat. (Gabriel atau Jibreel, sesuka Anda) Dan di atas panggung Cathedral and John Connon Boys’ High School, dijalankan ‘di bawah naungan’ Masyarakat Pendidikan Anglo-Skotlandia, temanku Cyrus-Yang-Hebat memainkan peran perempuan sebagaimana biasa, mendengar suara St Joan mengucapkan kalimat-kalimat Bernard Shaw.

“Aku mendengar suara-suara kemarin. Suara yang berbicara kepadaku di dalam kepalaku. Aku kira – Ammi, Abboo, aku benar-benar mengira – malaikatlah yang berbicara denganku.”

Realitas adalah masalah sudut pandang, semakin jauh Anda dari masa lalu, semakin konkret dan masuk akal kelihatanya – tapi ketika Anda mendekati saat ini, tak urung ia akan tampak semakin sulit dipercaya.

Panas, menggerigiti batasan pikiran manusia antara fantasi dan kenyataan, membuat apa pun tampak seperti mungkin; sengkarut setengah-terjaga dari istirahat sore mengaburkan otak manusia, dan udara dipenuhi rasa lengket yang merangsang gairah.

Telepati, kalau begitu: monolog batin dari apa yang disebut jutaan yang berkerumun, massa maupun kelas, berebut ruang di dalam kepalaku.

Bagi anak Sembilan tahun, kesulitan menyembunyikan pengetahuan hampir tak dapat tertanggungkan, tetapi untunglah orang-orang terdekat dan terkasihku tak kurang berhasrat untuk melupakan ceracauku sebagaimana aku ingin menyembunyikan kebenaran.

Aku telah belajar bahwa rahasia tidak senantiasa sesuatu yang buruk.

“Aku adalah kuburan di Bombay… saksikan aku meledak!”

“Aku bisa mengetahui apapun, tak ada sesuatu pun yang tak dapat kuketahui!”

Berbahaya kalau terlalu lama melihat kematian, nanti ada sedikit bagian darinya yang ikut masuk ke dalam dirimu, dan ada pengaruhnya.

Tidak ada bantahan, saat itu juga aku tahu bahwa aku telah jatuh cinta. Kau bisa saja menyusun stretegimu sehati-hati mungkin, tetapi perempuan akan meruntuhkannya sekali pukul.

Saleem Sinai mencintai Evie Burns; Evie Burns mencintai Sonny Ibrahim; Sonny tergila-gila pada Monyet Kuningan; tetapi apa kata si Monyet? “Jangan bikin aku muak, ya Allah!”

Evelyn Lilith Burns tidak ingin banyak berurusan denganku setelah itu, aneh juga, aku tersembuhkan darinya. Perempuan selalu menjadi pengubah hidupku: Mary Pereira, Evie Burns, Jamila Biduanita, Parvati-si-penyihir yang harus menjawab siapa jati diriku, dan si Janda yang aku simpan untuk bagian akhir, dan setelah yang terakhir Padma, dewi kotoranku. Perempuan mengikatku, tetapi mereka tidak mengambil posisi sentral.

Anak-Anak Tengah Malam | by Salman Rushdie | diterjemahkan dari Midnight’s Children | copyright 1981, 2006 | Penerbit Serambi Ilmu Semesta | penerjemah yuliani Liputo | penyunting Anton Kurnia | pemeriksa aksara Eldani | pewajah isi Siti Qomariyah | cetakan II, November 2009 | ISBN 978-979-024-145-9 | Skor: 5/5

Untuk Zafar Rushdie yang, di luar dugaan, dilahirkan pada sore hari

Ruang HRGA CIF NICI, Karawang, 081117 – Sherina Munaf – Sing Your Mind

Eragon – Christopher Paolini

Eragon – Christopher Paolini

“Kau seharusnya merasa bangga; hanya sedikit orang yang bisa meloloskan diri tanpa terluka sewaktu membantai Urgal pertama merak. Tapi caramu melakukannya sangat berbahaya. Kau bisa saja mengahncurkan dirimu sendiri dan seluruh desa.”

Kubaca saat Harry Potter mencapai puncak hype Reliku Kematian. Eksteptasi tinggi, tentang naga yang bisa berkomunikasi dengan tuannya, tentu saja sangat menarik.

Kisah penunggang naga yang terinpirasi dari berbagai fantasi. Alur dunia ajaib dengan dilengkapi peta laiknya The Lord of The Ring, balutan sihir dari era keemasan Harry Potter, sampai dunia berlapis bak dalam His Dark Materials. Perpaduan itu menghasilkan drama panjang Siklus Warisan, sampai empat buku yang semuanya tebal. Sedari awal rencana mau dalam bentuk trilogy: Eragon, Eldest, dan Brisingr. Tapi karena buku pamungkas itu ternyata jauh lebih rumit dan sungguh tebal maka jadilah penutupnya disampaikan dalam Inheritance. 

Kisahnya, tersebutlah di sebuah desa kecil Calvahall hidup remaja lima belas tahun bernama Eragon. Suatu hari dia menemukan sebuah benda bulat lojong berwarna biru di hutan sata berburu, benda yang semula dikira batu, namun batu yang rencananya dijual itu disimpannya dan ternyata sebuah telur. Telur naga! Dari tuturan si pendongeng tua Brom tentang sejarah naga, tentang sihir, dan ilmu seni bertarung dengan pedang, Eragon menamai naganya Saphira. Eragon adalah penerus klan penunggang naga, klan itu ditumpas oleh Raja Galbatorix. Dahulu kala klan penunggang naga adalah penjaga negeri Alagaesia. 

Makhluk-makhluk Ra’zac yang dikirim sang raja untuk mencari dan merebut kembali telur naga yang hilang, mengobrak-abrik dan membumihanguskan desa, yang untuk menambah seru konflik, mereka membunuh paman Garrow, dan penuh dendam Eragon bertekad memburu dan bersumpah akan kembali membangun klan. Negeri Alagaesia dipimpin dengan kejam, Raja Galbatotix mempunyai tiga telur naga yang dijaga dan dalam rencana nantinya diberikan kepada anak buahnya sebagai penunggang naga. Dan tahulah kita, ternyata telur yang ditemukan Eragon itu salah satunya. Bagaimana telur itu bisa di hutan dijelaskan bahwa lima belas tahun yang lalu putri Arya mencurinya dari Urubean.

Eragon, Brom, Saphira dalam misi besar demi Klan Penunggang Naga. Berhasilkah? Bisa kita tebak dengan mudah, salah satunya tak selamat. Selalu ada konflik rumit untuk sebuah buku besar. Eragon jelas harus memenuhinya.

Saya baru membaca satu seri, tiga lainnya dalam proses. Seperti Bartimaeus yang butuh kesabaran, laiknya His Dark Materials yang butuh perjuangan. Saga Eragon saya nikmati perlahan dan mengalir. Cerita fantasi petualangan yang sangat menarik. Imajinasi itu bisa dipetakan, dibentuk dalam aturan sihir. Naga dalam saga Paolini adalah makhluk supranatural yang bisa berkomunikasi dengan Panunggangnya. Menjadi lebih istimewa karena pengisi suaranya Rachel Weisz.

Adaptasi filmnya gagal total. John Malkovich yang tampak sangar, sangat digdaya sepanjang film, menggambarkan kekuatan besar yang dipegangnya, kekejaman nan tanpa ampun serta kehebatan menata Negara dengan gaya keras itu, di bagian pertempuran akhir tampak sangat mengecewakan. Anti klimak, apalagi adegan pertarungan di udara yang ditunggu-tunggu visualnya, duh terlampau cepat diakhiri. Sayang sekali, berkat pemetaan film yang salah, sekuelnya bernasib tak jelas hingga sedekade lebih. Seperti The Golden Compass yang tenggelam dan respon pasar yang buruk, adakah harapan Eldest dkk ke layar lebar?

“Bantu aku Saphira, aku terlalu lemah untuk melakukannya sendiri.”

Eragon | by Christopher Paolini | diterjemahkan dari Eragon | copyright 2003 | cover art by John Jude Palencer | ilutrations on page 2, 3 and 10 by Christopher Paolini | alih bahasa Sendra B. Tanuwidjaya | GM 322 04.001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan keenam, Januari 2006 | 568 hlm.; 23 cm | ISBN 979-22-0862-3 | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Tasya ft Duta Sheila On 7 – Jangan Takut Gelap

Petualangan Don Quixote – Miguel de Cervantes

Petualangan Don Quixote – Miguel de Cervantes

Buku ini menghantui sudah jauh hari. Segala review dan ulasan positif membuatnya nyaris selalu ada dalam top 100 novel paling berpengaruh sepanjang masa versi manapun. Jadi saat tengah tahun alkisah di sebuah sosmed seorang teman penjual buku daring mengunggah gambar sampul buku yang sangat keren dengan latar utama hitam dan ilustrasi duo penunggang kuda,dengan caption dalam proses alih bahasa, saya tentu saja sangat antusias. Beberapa hari kemudian, muncul lagi treaser yang memperlihatkan betapa tipis buku ini karena dalam gambar diperlihatkan sisi samping vertical pandang. Langsung drop saya, waduh, buku aslinya setebal al kitab, kenapa jadi diciutkan seakan buku saku? Sampai akhir Oktober 2017, saya masih was-was. Dan saat bulan berganti, saya kejar untuk segera memiliki. Dah, yah saat pada akhirnya saya memegangnya, buku tipis sekali, jauh dari ekspektasi, hiks. Saya baca tengah malam bersama segelas kopi yang bahkan belum sampai pada tegukan akhir, petualangan sang kesatria sudah kututup. Kalau ditanya hasil terjemahan yang lebih sederhana apakah mengecewakan? Saya bilang ya. Saya suka detail, saya ingin telaah lebih jauh, saya suka versi original yang dipindahkan ke bahasa lokal. Tapi tetap, rasa syukur dan apresiasi saya apungkan. Sebuah mimpi melahap buku-buku langka dalam Bahasa perlahan satu per satu terwujud. Apalah, saya tetap haturkan terima kasih Immortal Publisher yang sudah merealisasikannya. Kutunggu, akan kutunggu versi gaban. Ayolah, please…

“Kecantikan dan ketidaksopanan tidak baik hadir berbarengan. Tawa yang datang dari pikiran kosong adalah tawa orang bodoh. Jangan sakit hati oleh kata-kataku. Aku tidak bermaksud menyakiti”

“Kau akan menjadi seorang kesatria – seorang kesatria sejati, sehingga tak seorang pun akan mengunggulimu di dunia ini.”

Penjaga rumah menceritakan akibat buruk dari buku-buku tentang kepahlawanan milik Don Quixote. Kemenakannya menjelaskan kebiasaan liar pamannya yang disebabkan oleh apa yang dibacanya.

Sancho Panza semata mengkhayalkan pulau yang dijanjikan tuannya. Don Quixote memikirkan banyak hal menakjubkan hingga ia terbangun dari mimpinya oleh suara pengawalnya, yang menyampaikan takzim, “Aku harap Yang Mulia tidak lupa akan pulau itu.”

“Kaumasih harus banyak belajar tentang petualangan para kesatria. Aku bilang mereka raksasa. Kalau kau takut, menjauhlah dan berdoalah, sewaktu aku berjuang pada pertempuran mengerikan dan tak seimbang ini.”

“Hati-hati tuan dengan apa yang Anda lakukan. Yakinlah bahwa setan itu yang telah merasuki gagasan di kepala tuan.”

Kalau dalam pertempuran kau melihat aku tercacah menjadi dua bagian (suatu hal yang kerap terjadi), kauharus mengangkat bagian tubuhku yang tercecer di tanah itu dengan pelan. Kemudian letakkan dengan hati-hati dan tepat pada bagian yang lain, yang masih ada di atas kuda. Kemudian, beri dua tetes obat ajaib itu, dan dalam sekejap aku akan kembali sembuh.”

“Aku bersumpah sampai aku bisa menghukum orang jahat yang mecederai seperti ini, aku tidak akan makan roti di atas meja, atau tidur di atas atap, atau –“ seruan itu sungguh memperdayainya, tetapi matanya masih membekaskan nyalang karena geram.

“Kita hanya berdua, dan menghadapi lebih dari dua puluh orang? | “Aku sama hebatnya dengan seratus orang.” Mereka terkapar tanpa daya, satria, pengawalnya dan kudanya, kalah oleh para kurir biasa.

“Bagaimana kau bisa memimpin sebuah pulau atau kerajaan? Seorang pemimpin besar harus tidak takut pada apa atau siapapun.”

“.. dan pergilah ke kota Toboso. Di sana kalian harus menemui nona Dulcinea, ceritakan kepadanya tentang petualangan besar ini, yang akan menjadikan kalian orang bebas.”

Dulcinea tidak akan tahu kalai itu tulisanku, karena ia tidak bisa membaca ataupun menulis.

“Ini tempat mengobrol yang cocok untuk kita, ada rumput untuk kuda-kuda, dan semuanya begitu bening. Di sini aku bisa berfikir dengan tenang tentang kekasih yang aku cintai.”

Petualangan Don Quixote | by Miguel de Cervantes | diterjemahkan dari Don Quixote de la Mancha | penerjemah Muajib | penyunting Fahrudin NAsrulloh AM | penyelaras akhir Puput Alvia | tata letak Werdiantoro | rancang sampul Sukutangan | catakn I, Agustus 2017 | ISBN 978-602-6657-62-6 | 124 hlm.; 13×19 cm | Penerbit Immortal Publisher | Skor: 5/5

Karawang, 071117 – Sherina Munaf – Primadona

Steppenwolf – Hermann Hesse

Steppenwolf – Hermann Hesse

“Hanya Untuk Orang Gila” – Risalah Steppenwolf. Tidak untuk sembarang orang.

Steppenwolf yang terlunta-lunta, penyendiri, pembenci kesepakatan dalam hidup, selalu memberikan seperempat uangku untuk menyewa rumah ini. Inilah kelemahanku.

Bagaimana aku dulu mencintai kegelapan, petang yang muram di akhir musim gugur menjelang musim dingin, begaimana dulu aku begitu tertarik menyesap rasa kesendirian dan melankolis ketika terbungkus dalam mantel sambil berjalan menghabiskan separuh malam menembus hujan dan badai.

Sesudah dua atau tiga musik dari piano, pintu ke dunia lain tiba-tiba terbuka. Aku mempercepat langkahku menuju surga dan melihat Tuhan sedang bekerja. Aku merasakn luka yang suci.

Tiba-tiba aku mengucapkan syair, syair yang begitu Indah dan aneh sehingga aku tidak berani menulisnya dan kemudian syair-syair itu menghilang.

Kenikmatan massal dan orang-orang yang berperilaku seperti orang Amerika yang gampang puas dengan hal remeh adalah benar, maka akulah yang salah, aku gila. Benarlah bahwa aku Steppenwolf, panggilan yang sering kupakai untuk diriku sendiri.

Di samping rasa sedihku, terdapat kebahagiaan.

Pernikahan untuk menutupi kembali suasana hari-hari masa bujangnya, kegiatan resmi untuk mengenang tahun-tahunnya ketika masih menjadi siswa.

Aku tidak menyukai keramaian, paling tidak untuk setiap hari, anggur yang memabukkan yang menyebarkan daya tarik tertentu dan memiliki rasa tersendiri.

Kesendirian adalah kemerdekaan. Inilah yang selalu menjadi harapanku dan sudah bertahun-tahun aku bisa mencapainya.

Steppenwolf memiliki dua kepribadian, sifat manusia dan sifat serigala. Ada dua sisi dalam satu darah dan satu jiwa yang bertentangan sengit, maka hidup akan didera penyakit.

Manusia mungkin tidak saja semata-mata hewan yang setengah rasional, tetapi juga anak Tuhan dan ditakdirkan untuk mendapatkan keabadian.

Dia membenci hal-hal yang berhubungan dengan kantor, pemerintahan, atau hal-hal konvensional, seperti hal ia membenci kematian, dan mimpi terburuknya adalah disekap dalam barak.

Orang yang berkuasa dikacaukan oleh kekuasaannya, orang yang memiliki uang dikacaukan oleh uang, orang yang patuh dikacaukan oleh kepatuhannya, pencari kenikmatan dikacaukan oleh kenikmatannya.

Secara bebas dia memandang rendah orang-orang biasa dan merasa bangga dirinya tidak menjadi bagian dari orang-orang itu.

Cita-citanya adalah bukan melepaskan melainkan menjaga identitasnya. Dia rela berada di jalan Tuhan, tetapi tidak dengan menyerahkan kenikmatan dunianya.

Selalu ada sejumlah besar kekuatan dan sifat liar yang ada dalam hidup yang terbungkus.

Pertentangan dari formula kehebatan benarlah adanya, dia yang tidak menentangku menjadi bagianku.

Ruang ini adalah ruang khayalan yang rumit dan cita-cita yang memiliki banyak tahapan di mana Steppenwolf menemukan perwujudannya.

Hidup di dalam dunia yang seolah-olah bukan dunia, menghormati aturan tetapi membuat jarak dengannya, memiliki seolah ‘tidak memiliki apa-apa’, meninggalkan seolah-olah ini bukan penurunan takhta.

Angan-angan bersandar pada analogi yang salah.

Dari semua karya sastra hingga kini, drama menjadi hal yang paling dihargai oleh penulis dan kritikus, dan karena ia menawarkan (atau mungkin menawarkan) kemungkinan terbesar dalam menampilkan ego sebagai entitas berbagai jenis, tetapi bagi ilusi optik yang membuat kita percaya bahwa karakter dalam drama merupakan satu entitas yang dimasukkan dalam tubuh yang tidak dapat menolak, tunggal, terpisah, dan satu dan untuk semua.

Manusia seperti halnya bawang terbuat dari ratusan lapisan, sebuah tektur yang terbuat dari benang.

“Kalau aku bisa menjadi anak-anak lagi!” Faktanya tidak ada formula untuk kembali menjadi serigala atau anak-anak. Sejak awal tidak ada keluguan dan keadaan tunggal.

Orang jenius tidak selangka yang kadang kita pikirkan, tidak juga sering muncul di buku-buku sejarah atau tentu saja di koran.

Setiap kali hidupku hancur berkeping-keping, pada akhirnya aku memperoleh sesuatu peningkatan dalam kebebasan dan pertumbuhan dan kedalaman spiritual.

Aku sudah cukup sering memerankan Don Quixote dalam kesulitanku, hidupku yang penuh kegemaran meletakkan penghargaan di atas kenyamanan, dan sifat kepahlawanan di depan alasan. Ada akhir dari semua ini.

Ingatan ini membumbung, bersinar dan kemudian padam. Seberat gunung, tertidur di otakku.

Jalan yang bijak ini tidaklah bagus, tetapi aku membuat resolusiku seperti ini: lain kali aku harus menggunakan cara lain selain opium.

“Di mana di kota ini atau di dunia ini kematian seseorang yang membuatku merasa kehilangan? Dimana orang yang akan menganggap penting kematianku?”

Ketika aku, Harry Haller berdiri di jalan dan tersanjung dan kaget dan bersikap penuh sopan santun dengan tersenyum kepada orang baik, sekilas wajah di sana berdiri juga Harry yang lain, yang juga menyeringai.

Besok atau lusa diriku juga akan dikubur dalam tanah dengan pentas kesedihan yang penuh kemunafikan – tidak, di sana semuanya berakhir, semua perjuangan, semua budaya, semua keyakinan, semua kebahagiaan, dan semua kenikamatan dalam hidup kita – sudah sakit dan segera terkubur di sana.

Di sanalah ia tinggal, melakukan tugasnya bertahun-tahun membaca dan memberi keterangan pada teks, mencari analogi diantara mitologi Asia Barat dan mitologi India, dan ini membuatnya puas, karena ia percaya bahwa hal ini memang berharga.

Bagaimana mungkin kau mengatakan bahwa kau sudah melalui berbagai masalah hidup ketika kau bahkan tidak bisa berdansa?

“Kau memiliki pandangan yang baik tentang hidup, kau selalu melakukan hal-hal yang sulit dan rumit, tetapi justru hal yang sederhana tidak kau pelajari.”

Steppenwolf | by Hermann Hesse | diterjemahkan dari Steppenwolf | Penerbit Pustaka Baca! | cetakan 1, 2011 | alih bahasa Rahmat Fajar | desain cover Haetami El Jaid | pemeriksa aksara Pritti dan Ratih In. | penata aksara Herry Ck. | ISBN 979-2462-35-X| Skor : 5/5

Karawang, 061117 – Backstreet Boys – Siberia

Pekan Ke 12: Lazio Vs Udinese

Lazio Vs Udinese. 

Prakiraa formasi
3-5-1-1
Strakosha
Bastos – De vrij – Radu
Marusic – Parolo – Leiva –  Savic – Lulic
Luis Alberto
Nani

LBP 3-0
Rangkaian laga mudah ditutup oleh Udin. Berikutnya kita masuk periode penentuan, dimulai dengan derby. Bulan November yang aneh sebagai tuan rumah semua laga dan Desember yang sangat antusias ke arah mana Lazio nantinya. De Vrij kapten? Sebuah kail untuk diperpanjang kontaknya. Well, selamat datang kembali Behrami.
Bagas
Lazio 3 – 1 Udin, Alberto Luis
Lazio tak terbendung, kemenangan demi kemenangan diraihnya, mungkin nanti Milan yang akan mengembalikan Lazio ke Bumi datar ini. Forza Milan
Arief
Lazio v udinese 2-0
Immobile
Udinese meraih 2 kemenangan beruntun. Tapi, Lazio tangguh di Olimpico. Immobile cs. Berpeluang menambah koleksi golnya.
Ajie
Lazio 1-0 Udinese
Immobile
Laga ketat. Skor ketat. Minim gol.
Siska
Lazio 3-1 Udinese
Immo
Dalam 5 pertandingan terakhir, Lazio tidak pernah kalah dari Udinese. Saat ini Lazio masih dalam trek positif mengejar skudeto. Dan untuk memuluskan jalan menuju skudeto Lazio kudu mengalahkan Udinese dong 😌
Huang Dara
Lazio 5-0 udinese, Immobile
Kata udinese berasal dari kata udin (orang indonesia) dan cheese (keju). Udin berdagang keju ke kota tak bertuan ini dan segera sukses besar. Tak butuh waktu lama, Udin kemudian diangkat menjadi bupati pertama di sana sekaligus menamai kota tersebut dengan gabungan namanya dan produk yang kini menjadi andalan ekspor mereka, Udinese.
Christian
Lazio – Udin 4-0
Immobile
Lazio menang besar, saingan ketat dengan klub2 lainnya, tapi Lazio ingin mengikuti Jejak Leicester setelah sekian lama merindukan Juara Serie A.
Sekarang saatnya atau tidak sama sekali.
DC
Lazio 2-1 Udinese
Immo
Main kandang. Antacebel dalam 5 match terakhir. Dengan data ini Lazio di atas awan, 3 poin eksakli.
gold
Lazio 2 – 0 udinese
Gol = luiz
Luiz alberto ? 😅 no.
Luiz felipe ? 😅 no.
Luiz nani ? 👍🏽 yes.
Laga pembuktian siapa luiz yang sebenarnya
Takdir
Lazio 4-2 Udinese
Luiz Alberto
Analisis: Karena sudah disebut saya penasaran sama pemain bernama Behrami. Nama aslinya Valon Behrami, lahir di Mitrovica, Kosovo pada tanggal 19 April 1985. Memperkuat Lazio selama 3 musim 2005-2008. Saat menjadi tuan rumah Euro, Swiss memang begitu digdaya. Timnya tak pernah kejebol dalam proses bola hidup. Betul, dulu memang pernah digadang calon kapten The Great, entahlah apa yang membuatnya ke EPL memenuhi godaan The Hammers. Kalau ditilik Hammers dan Biancoceleste memang punya hubungan mesra. Padahal musim perdana dia pergi Lazio juara 2009. Di usia 32 tahun bergabung hanya dengan tim teri nya Udin, rasanya karirnya jauh dari kata cemerlang. Ah andai 2008 tak mengikuti saran Di Canio.
AW
Lazio 4-1 Udinese, Nani
Nani Nani-san? Nani is the best winger. Bonjour Nani.
Damar irr
Lazio 3-2 udinrese..
Savic
Menjelang DDC Lazio akan bermain dgn santai, pemain utama akan banyak dicadangkan, tapi tenang pemain cadangan cukup kok kalau lawan team beginian. Forza Lazio, bisogna vincere. 

Kampung Gajah – Bandung, 051117

Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Robinson Crusoe – Daniel Defoe

Classic tales

Kutipan-Kutipan

Kesederhanaan, ketenangan, kesehatan masyarakat, semua hiburan yang baik dan kesenangan yang diinginkan, merupakan berkat yang ada dalam kehidupan kelas menengah. Inilah cara orang menjalani hidup dengan tenang dan baik.

“Anak muda. Sebaiknya kau jangan pernah berlayar lagi. Seharusnya kau melihat hal ini sebagai pertanda yang jelas dan nyata bahwa kau bukanlah seorang pelaut.”

Pengaruh buruklah yang membawaku pertama kali lari dari rumah ayahku, pengaruh ini pula yang pertama membawaku pada ide liar dan tak dapat dicerna oleh akal sehat untuk mengejar kekayaanku.

Namun keputusanku sudah bulat, kemana pun angin berhembus aku harus pergi dari tempat mengerikan itu. Kelanjutannya kuserahkan pada nasib saja.

Tetapi itulah kebiasaanku, selalu melakukan hal yang salah.

Kekayaan sering kali merupakan musuh terbesar kita, sebagaimana yang terjadi dengan diriku.

Aku mendapat tiga bantuan. Pertama, laut yang tenang. Kedua, ombak yang mengalir ke pantai. Tiga, angin kecil yang berhembus membawaku ke arah darat.

Pulau ini tidak dihuni kecuali binatang liar.

Aku yakin bahwa itulah suara tembakan pertama yang terdengar di pulau itu sejak dunia diciptakan.

“Apa gunanya dirimu? Kau sama sekali tak berguna bagiku. Tak berguna untuk menggali. Salah satu dari pisau ini lebih berharga dari tumpukan ini.”

Aku tidak akan terdampar di pulau ini andai saja tidak terdorong oleh keinginanku untuk memperdagangkan manusia diluar batas.

Orang jahat dipertimbangkan dengan kebaikan yang ada padanya dan hal terburuk yang menimpanya.

Benda yang akan kuberikan padamu adalah salinannya (sekalipun di dalamnya terdapat hal-hal yang sama diceritakan berkali-kali) selama hal ini berlangsung.

Aku segera mengabaikan untuk memuliakan hari Minggu, karena dengan menghilangkan tandanya dari posku, aku lupa yang mana hari Minggu itu.

Aku bukan tipe orang yang mudah putus asa.

Saat merenung mengenai bagaimana aku terdampar di tempat mengerikan ini, di luar jangkauan manusia lain, tiada harapan ditolong ataupun tetap hidup dan aku tidak akan mati kelaparan, semua rasa deritaku menghilang.

“Ya Allah, tolonglah diriku, karena aku dalam kesulitan yang besar.”

Akulah raja dan penguasa negeri yang tidak berpenghuni ini dan berhak memilikinya. Jika aku bisa membawanya, aku mungkin mewariskannya sebagaimana setiap penguasa sebuah manor di Inggris.

Hari ini aku berpuasa dengan khidmat, menyediakan waktu untuk beribadah, dengan bersujud dan merendahkan diri dengan sungguh-sungguh, mengakui dosa kepada Allah, mengakui kebenaran penghakiman-Nya terhadap diriku dan berdoa kepadanya.

Sekarang aku mulai merasakan betapa membahagiakannya hidup yang kini kujalani, dengan semua penderitaannya, daripada kehidupan buruk yang kulalui sebelumnya.

Aku melihat betapa bodohnya memulai sesuatu pekerjaan sebelum memperhitungkan biayanya, dan sebelum kita menilai kekuatan kita dengan benar apakah kita dapat melakukannya.

Alam dan pengalaman mengajarkanku, melalui perenungan bahwa semua hal baik di dunia ini tidak akan menjadi baik bagi kami jika digunakan melebihi kebutuhan.

Orang yang paling kikir, suka iri hati, dan suka mengeluh di dunia ini bisa disembuhkan dari dosanya jika ia berada dalam posisiku.

Sekalipun hidupku menyedihkan, hidupku ini juga penuh dengan belas kasihan.

Sekalipun udara memang sangat panas sehingga pakaian tidak diperlukan, tetapi aku tidak pernah hidup telanjang.

Ketika aku melakukan pelayaran ini, yang ternyata lebih lama daripada yang kuperkirakan.

Kini, aku melihat betapa mudahnya Allah membuat penderitaan terburuk manusia menjadi jauh lebih buruk lagi. Sekarang aku melihat pulau terpencilku sebagai tempat yang paling menyennagkan di dunia dan aku benar-benar ingin kembali ke sana lagi.

“Poll”, makhluk yang bersosialisasi dan mendatangiku.

Kelaparan bisa menjinakkan hewan liar.

Saat itu, aku benar-benar terkejut dengan jejak kaki telanjang manusia di pantai, yang sangat jelas ada di pasir.

Betapa aneh kehidupan manusia ini! Apa yang kita kasihi hari ini akan kita benci pada keesokan harinya. Apa yang kita cari hari ini besok akan kita abaikan.

Sikap damai, bersyukur dan kasih merupakan kerangka doa yang lebih tepat dibandingkan ketakutan dan ketidaktenangan.

Aku pun mengira bahwa tidak ada satu pun di gua itu yang lebih menakutkan daripada diriku.

Robinson Crusoe | by Daniel Defoe | diterjemahkan dari Robinson Crusoe | terjemahan Bahasa Indonesia oleh Peusy Sharmaya | Penerbit PT. Elex Media Komputindo | EMK 777101669 | ISBN 978-979-27-8093-2 | Skor: 5/5

Karawang, 041117 – Backstreet Boys – Incomplete