The Little Secret That Can Change Your Life #24

“Anda harus mempercayai kecerdasan intuisi Anda. Jika Anda memiliki pikiran jernih dna hati yang terbuka, Anda tidak harus mencari petunjuk. Petunjuk itulah yang akan mendatangi Anda.” – Phil Jackson dan Hugh Delehanty – Sacred Hoops

“Ingatlah rahasia kecil ini. Jika kau menjadi pemenang di arena balap tikus, kau tetaplah seekor rikus.”

Temukan waktu. Sediakan waktu. Karena hidup Anda dan kualitas hidup di dunia ini tergantung pada ketersediaan waktu.

Segala yang kita lakukan, urusannya adalah antara kita dengan Tuhan. Dia hakim dan sekaligus saksi kita.

Kekayaan kita akan membuat kita sakit, akan ada kepahitan di dalam tawa kita, dan anggur yang kita cecap akan membakar mulut kita.

“Kau baik-baik saja ‘kan?” Jika seseorang menanyakan bagaimana kabar Anda, tentu akan terdengar menyenangkan jika Anda menjawab tegas, ‘Sibuk!’

Kerja bukanlah bagian dari kehidupan, tetapi kehidupan adalah bagian dari kerja. Mereka mewujudkan semangat baru abad ke dua puluh satu – “Saya kerja, maka saya ada.”

Periklanan adalah spiritual semu dari materialism, yang menyodorkan janji-janji yang tidak bisa terpenuhi oleh benda-benda yang ditawarkan.

Siapapun yang menatap air akan menatap bayangan dirinya sendiri di permukaan, mula-mula ia menemukan wajahnya. Siapapun yang menyelami diri sendiri akan menghadapi resiko berbenturan dirinya sendiri. Benturan itu merupakan ujian pertama atas nyali, sebuah ujian yang menakutkan banyak orang. – Carl Jung

Di Amerika ada pemujaan membabi buta mengenai pertumbuhan ekonomi dan aktivitas belanja, tanpa memandang pengaruh buruknya terhadap lingkungan atau betapa tunduknya mereka kepada tirani materialism dan konsumerisme. – Vaclav Havel (Eks Presiden Ceko)

“Kau tahu pepatah lama, Begitulah. Dengan menyantap bangkitlah selera.”

Apa yang tersembunyi di balik penggelembungan hasrat ini? Pada orang-orang kaya, pengasingan dan bunuh diri spiritual. Pada orang-orang miskin, kecemburuan dan pembunuhan. – Fyodor Dostoyevsky

… dan mengikuti pacuan gila tikus got. Menyebar-nyebarkan kartu kredit seperti membagikan permen, mesin pemasaran ini hadir untuk mengubah ketakutan, harapan, dan impian orang dalam pembelian tunai.

Inilah yang terpenting. Kita sanggup setiap saat untuk mengorbankan milik kita demi menjadi diri kita. – Charles De Bois, Approximations

Konon, tidak satu pun dari kita adalah korban. Masing-maisng dari kita bertanggung jawab atas tindakan-tindakan kita dan bisa menolak serangan gencar pemasaran.

Kita mengumpulkan poin dan membayar cicilan spiritual demi mendapatkan surga, sebuah bonus besar kita peroleh setelah kita menempuh jalan yang lurus dan sempit sebelum ajal tiba. Sebaliknya ancaman neraka, api dan belerang dimaksudkan untuk menghalangi para calon pendosa agar tidak menempuh jalan sesat.

Pada saat begitu banyak orang berusaha menemukan makna, tujuan, arah, dan hidup mereka, “Lakukan tanpa pamrih” menyajikan kompas moral yang simpel untuk membimbing kita mengatasi penghianatan dan penyesatan dunia modern. Doing it because. Lakukan tanpa pamrih. Mengakui bahwa ada prinsip-prinsip moral yang tak memerlukan penjelasan dan mengatasi segala keraguan.

Kebanyakan dari kita pastilah ingin menjadi penghuni surga jika tempat itu ada. Tapi, bagaimana sekiranya tidak ada surga? Apakah kita akan merasa ditipu? Tolollah kita karena menjadi orang jujur, bisa percaya dan baik? Tentu tidak. Kita seharusnya menjadi luhur demi keluhuran itu sendiri. Karena itu hal baik yang perlu dilakukan, bukan karena ada imbalan.

Melakukan tindakan yang baik, bermoral, benar dan pantas berarti mempertahankan kemandirian pilihan, memimpin dan bukan mengikuti. Beraksi bukan bereaksi.

Melangkahlah tegap sesuai dengan irama Anda sendiri. Dan tetaplah jujur pada dir sendiri.

“Aku menetang dominasi kulit putih dan aku menentang dominasi kulit hitam, aku mengharapkan masyarakat yang bebas dan demokratis di mana setiap orang akan hidup bersama dalam harmoni dan memiliki kesempatan yang sama. Inilah cita-cita yang ingin kupertahankan dan wujudkan. Namun, jika diperlukan, aku siap mati untuk cita-citaku.” – Nelson Mandela

Sebagian tertatih tatih mempertanyakn Tuhan dan bukan berusaha menemukan apa yang bisa mereka lakukan untuk menjawab persoalan mereka.
Ketimbang merenung mengapa kita menderita. Lebih baik kita menggunakan waktu untuk meringankan penderitaan di sekeliling kita.

Memberi maaf membuat kita bebas, ia melepaskan kita dari penjara emosional yang bisa menghancurkan jiwa kita.

Sebab, memberi maaf adalah jalan menuju keutuhan dan kedamaian.

“Jangan tanyakan apa yang bisa diberikan oleh Negara kepadamu, tetapi tanyakan apa yang bisa kau berikan kepada Negaramu.” – John F. Kennedy

Bersihkan lemari kita, hematlah dengan uang, dan tunjukkan rasa ‘terima kasih’. Istirahatlah, cari ketenangan dna ingat selalu bahwa kecil itu indah, sedikit itu banyak.
Ingatlah wajah yang paling sengsara dan paling lemah yang mungkin pernah kau lihat, dan renungkanlah apakah langkah yang akan kau ambil memiliki manfaat bagi Dia.

Manusia bukanlah binatang kurban. Ia punya hak untuk ada demi dirinya sendiri, tidak untuk mengorbankan dirinya demi orang lain. Tidak pula mengorbankan orang lain bagi dirinya.

Salah satu tanda berlalunya masa muda adalah lahirnya rasa kebersamaan saat kita berada di antara orang lain.

Saya tidak mengharuskan Anda mengeluarkan cek. Uang hanya salah satu cara untuk membantu. Kita bisa juga memberikan cinta, waktu, dan perhatian kita. Bimbinglah anak-anak kecil.

Temukan waktu. Sediakan waktu. Karena hidup Anda dan kualitas hidup di dunia ini tergantung pada kesediaan waktu.

“Lebih baik Anda tutup mulut dan kelihatan tolol ketimbang buka mulut dan menyingkap siapa diri Anda.” – Mark Twain

Kita bangga memamerkan ‘kerja banting tulang’ dan meyakini bahwa sibuk berarti bahagia.

Buku tipis yang berhasil baca kilat tak lebih sejam.Yang mengejutkanku adalah buku ini dialihbahasakan AS Laksana, Penulis pujaan yang telah mencipta banyak cerita pendek yahud. Ternyata karir kepenulisan seseorang memang sangat beragam dan panjang. Kita tak tahu beliau-beliau bermasa lalu bagaimana sebelum benar-benar mengenal dekat. Dan satu hal lagi, Para Penulis hebat itu bisa menterjemahkan, mengalih bahasakan ke Indonesia. Hiks, bagaimana dengan yang ga expert English nih? Referensinya bergantung para translator. Sangat berterima kasih kepada mereka yang memilah dan memilih buku mana yang kita impor menjadi bahasa kita.

The Little Secret That Can Change Your Life | by Joann Davis | copyright 2005 | Foto 63 hlm Free-Stock-Photos | Alih bahasa A.S. Laksana | Penyunting Tharien Agnes | Penyelaras akhir Rani Andriani Koswara | Penata letak Tim Sigma | Desain sampul Sangga Langit | Hak cipta terjemahan Indonesia TransMedia | Didukung oleh AgroMedia | ISBN (13) 978-979-006-043-2 | ISBN (10) 979-006-043-2 | Cetakan pertama, 2007 | x + 112 hlm.; 11.5 x 19 cm | Skor: 2/5

Untuk Jenny dan Colin yang telah memberiku secercah kejujuran yang hamper saja lupa kutanyakan

Karawang, 280618 – Sherina Munaf – Ada

#24 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Iklan

Manusia Setengah Salmon #23

Manusia Setengah Salmon #23

Hidup penuh dengan ketidakpastian, tetapi perpindahan adalah salah satu hal yang pasti. Setiap kali gue ke airport untuk kerja ke luar kota gue selalu melihat orang-orang yang hendak pergi berpelukan keluarga atau pacarnya di depan pintu masuk. Kepindahan mereka membuat orang-orang terdekatnya sedih… gue jadi berfikir ternyata untuk mendapatkan yang lebih baik, gue ga perlu menjaid manusia super. Gue hanya perlu menjadi manusia setengah salmon: berani pindah.

Buku yang buruk. Dengan ekspektasi rendah, hasilnya memang sesuai. Apa yang bisa diharapkan dari curhatan orang kaya tentang cinta dan kejombloannya yang memprihatinkan? Komedian stand up yang kelucuannya tak lucu, dimana masalah yang disodorkan tak pelik-pelik amat, jelas ada yang kurang. Seberat-beratnya masalah Dhika tentang cinta lebih pelik masalah cintanya Cak Lontong. Hanya fan Dhika yang konsisten memujanya. Dunia diluar sana masih sangatlah penuh dengan konflik yang jauh lebih berbobot.

Kisahnya berkutat keseharian Dhika yang dituangkan ke blog. Keseharian tentang kuliahnya, tentang keluarganya, tentang pembantu dan sopirnya, tentang cinta dan mencoba kalimat bijak yang ga bijak-bijak amat terkait pilihan hidup. Sedari pembuka kita sudah tak nyaman dengan cerita kebiasaan bokap (ayah) nya yang suka kentut di mana saja. Dengan vibra dan segala keanehannya.

Di bagian dua hanya tulisan di twitter yang dijawab dan ditulis ulang! Gilax bisa ya kalimat sosmed dijual gini. Satu dua sih masih OK, tapi ini buaanyak dan temanya sesederhana tips mengerjakan ujian. Yah..

Sepotong hati di dalam kardus masalah cinta dan kesiapan move on. Cowok diputusin ceweknya, yah bisa jadi kesedihan yang melimpah, Dhika dengan santai mencipta pengalaman ala sinetron. Cool di depan, meraung kencang di dalam. Kepindahan rumah jauh lebih penting ketimbvang kepindahan cinta.

Bagian keempat adalah cerita tips kencan pertama yang berkesan. Menurutku kencan tak perlu tips, berpacaran tak perlu buku paduan, selain sekedar lucu-lucuan yang sayangnya tak lucu. Berikutnya masalah sopirnya yang bau keteknya parah. Sederhananya langsung kasih tahu, beri deodoran yang pas, selsesai. Enggak, Dhika memberi kepanjangan tulisan muter-muter sampai dapat tipsnya dari majalah Gadis lama biar bau itu hilang, dengan cara sopan. Yailleh hal sederhana dibuat rumit sendiri, sopir pasti sepakat ikuti bos demi kenyamanan bersama.

Hal-hal yang seharusnya tidak dipikirkan tapi kenapa entah kepikiran adalah bab paling payah. Hal-hal yang dengan mudah kita temui di twitter ini ditulis ulang dan dicetak. Cerita-cerita yang kini dengan tagar #RecehkanTwitter jauh lebih berkelas. Jauh lebih lucu dan menghibur.

Bab berikutnya lebih glamour lagi, ke Venice, Italia. Masalah makan yang sulit dan muter-muter. Pesan moral bagaimana proses perjalanan mencari makanan enak dan lezat ala the genk. Piza di Jababeka kurasa sudah jauh lebih nikmat ketimbang segala ketakjelasan ini.

Dari Italia kita ke Belanda. Bagaimana sosok ibu yang selalu mengkhawatirkan anaknya di tanah rantau. Wajar, sangat wajar. Pengalaman belajar Dhika di Negeri Belanda bersama teman-teman kuliahnya dan bagaimana mama terus mencoba menerima kabar sang buah hati. Sesungguhnya terlalu perhatian orang tua kita adalah gangguan terbaik yang pernah kita terima. Sepakat.

Bab norak berikutnya interview Dhika dengan hantu-hantu ga jelas. Benar-benar ga jelas. Tulisan macam gini bisa-bisanya dicetak? Berikutnya curhat sobat Trisna, S2 Swiss yang jomblo perak, usia 25 tahun dan belum pacaran! Curhatnya jelas ga di angkringan apalagi lesehan depan toko, curhat Trisna di kafe kopi daerah Senopati. Jomblo itu pilihan, status kita menyatakan kedekatan kita dengan calon pasangan. Sepelik apapun cinta gadis lulusan luar negeri, lebih pelik penganggur kelas jelata.

Jenis-jenis jomblo ini ditulis dengan gaya alay, emo yang berlebih dan mengada-ada serta komedi ala kadar yang tak lucu. Paper jomblonology yang ga guna. Daripada sakit gigi lebih baik sakit hati. Apa hubungannya dengan dokter gigi yang menyambung ke film The Last Exorcism of Emily Rose? Sebagai kaum jelata, jangankan ke dokter gigi rutin, buat beli odol rutin saja susah. kebiasan ke dokter gigi dua kali setahun itu bagus. menjaga, merawat dan mengetahui ga ada masalah dalam mulut. Namun takut ke dokter gigi kurasa cocoknya untuk kaum anak dan jelang remaja. Bagaimana kalau sudah gede dan masih takut ke dokter gigi? Kurasa ini hanya cocok untuk cowok-cowok berbehel yang senyumnya membuat muntah kaum snob. Sepakat?

Bab penggalauan idem dengan Recehkan tagar di twitter yang kini menjamu dan cocok dibaca santai buat seru-seruan aja. Pindahan rumah dan akhirnya bab penutup yang dinukil sebagai judul itu agak mending yang menaikkan rate, tapi tetap secara keseluruhan buku ini jelex. Tulisan curhat blog biarkan tetap di blog, tolong yang dicetak jual lebih berbobot. Ga ala kadarnya.

Kover dan gambar dibaliknya ampun deh. Narsis dan payah akut. Pede bikin muntah kalangan pemuda jangkis, bagaimana bisa seorang Penulis bisa senorak itu memajang dirinya dengan berbagai pose heran. Sedikit narsis tak apalah, lah kalau memajang 6×4 pose norak ya kebangetan. Plus sebuah pembatas buku yang layak dilempar di bak sampah. Berlindunglah kami dari segala kebobrokan ini ya Allah.
Bahasa Penulis memang gaul sih makanya tak cocok kulahap. Gue, elo, papa, mama, sampai segala kamus gaul 2000an dikembangkan. Mungkin cocok untuk generasi milenial yang jelas ga nyaman buat kita yang melewati generasi Dragon Ball saat Goku menyatakan cinta untuk Cici.
Saat buku ini kubaca, Penulis sudah menikah dan sudah beberapa kali mencipta film serta konsisten menjuri lomba stand up komedi yang kesemuanya tak kuikuti beritanya.

Hanya sesekali lihat sekelebat lewat di tv atau berita sosmed. Dan merasa masih malesi…

Manusia Setengah Salmon | oleh Raditya Dika | Editor Windy Ariestanty | Proofreader Gita Romadhona | Penata Letak Nopianto Ricaesar | Desain kover dan ilustrasi isi Andriano Rudiman | Penerbit Gagas Media | Cetakan keenam, 2010 | xiii + 264 hlm.; 13 x 20 cm | ISBN (13) 978-979-780-531-9 | ISBN (10) 979-780-531-x | Skor: 1,5/5

Karawang, 12-280618 – Sherina Munaf – Pergilah Kau
Thx to Jokop yang telah meminjami buku ini.

#23 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSher

Anna Karenina #22

Anna Karenina #22

“Kejadian tadi Stiva. Kejadian tadi, pastilah itu pertanda buruk.”
Buku yang aslinya sangat tebal, terbitan KGP sampai dua jilid. Sampai sekarang ga kesampaian untuk memiliki, makanya saat melihat terbitan Gradien yang tipis ya langsung sikat. Dibaca dalam sehari, dalam acara ngumpul keluarga, ternyata kalau kita sempat-sempatkan baca saat semua terlelap bisa juga sekalipun sedang ga di rumah.
Hanya peduli pada kepentingan sendiri. Seenaknya saja.
Untukmu masa depan masih terbentang luas – Stiva
Harapan adalah kekuatan yang sering kali membuat manusia mampu melakukan banyak hal, mengalahkan ketakutan sekaligus keraguan yang mungkin masih bercokol di dalam hati.
Maukah engkau menjadi istriku? Menikahlah denganku,Kitty. Hatiku sudah lama tertambat, terpenjara dalam kilau kedua matamu.
Orang tua out telah dibutakan oleh harapan.
Sesuatu telah mati di dalam diri Levin.
Ada sesuatu yang melimpah dalam diri perempuan itu. Sesuatu yang telah mencuri hati Vronsky.
Selalu ada maaf dalam ruang bernama cinta.
Menertawakan betapa kejam nasibnya, dan betapa bodoh dan naïf dirinya.
“Oh tidak. Dengarkanlah, jika pria itu ternyata mampu berpaling ke lain hati xecepat ia membalikkan telapak tangan, maka akan lebih baik bagi Kitty untuk patah hati sekarang.
“Aku ingin bersamamu. Ya aku harus bersamamu.”
Andai saja kita bertemu sepuluh tahun lebih awal, andai saja ia tidka datang ke pesta debut Kitty, andai saja…
Kamu pergi dengan ibunya dan pulang membawa anaknya. Bagaimana perjalananmu Vronsky? Pastilah menyenangkan bisa kembali ke Petersburg?
Semua ini bukan salah Anna. Pria mana yang sanggup bertahan di depan gairah kecantikan Anna. Apalagi bocah bau kencur seperti Vronsky.
Ia sudah memiliki segalanya suami yang begitu menyayangi dirinya. Seorang anak yang memujanya, rumah yang nyaman. Hidupnya sempurna. Benar apa yang dikatakan Lidia, ia beruntung.
Ia selalu menerima Alexie seakan-akan ia adalah bagian takdir yang harus dijalani.

Ulasan singkatku di ig: lazione.budy – Buku ke #50 tahun ini yang kubaca adalah #AnnaKarenina karya #LeoTolstoy kutuntaskan baca sehari ini di rumah Aunty Mega, Klari. Duuh… Kejamnya cinta. Saya malah sependapat ‘Cinta tak selalu memnutuhkan pertanyaan mengapa’. Apalagi statusnya seorang istri yang terikat janji suci. Cinta pada pemuda yang menggoda dan menantang dunia dengan bilang ya. Salut sama #Alexei sabar dab lura biasa mempertahankan keluarga apapun rintangan. Apapun alasannya, dia seorang gentlemen. Hanya suami luar biasa gilax yang mau tetap menerima istrinya sekalipun ia sudah melukai. ’Silakan lakukan apa pun yang kamu mau. Kamu tetap istriku. Titik.’ Cinta selalu mempunyai tempat untuk maaf, tidak semua orang mendapatkan kesempatan kedua.’ Sementara saat say abaca versi padat Terbitan Gradien Mediatama. Suatu saat saya pasti akan mendapatkan versi seribu halamannya. Suatu hari nanti…

Anna Karenina | By Leo Tolstoy | Dikisahkan olhe Svetlana Belova | Penerbit Gradien Meditama | cetakan pertama, 2013 | Penyelia Ang Tek Khun | Penata Letak Techno | Deasin sampul Heavenly.illusionz | ISBN 978-602-208-102-9 | 1 2 3 – 2014 2013 | Skor: 5/5

Happy families are all alike; every unhappy family is unhappy in its own way. – Leo Tolstoy

Karawang, 260618 – Sherina Munaf – Demi Kamu dan aku

#22 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Comedy Apparition #21

Ya, Helloween adalah ajang reuni bagi para penyihir.

Saya melabelinya tomat buruk. Laiknya film-film yang harus dirate pasca menikmati, Comedy Apparition jelas terpilah ke dalam keranjang rotten. Entah di goodreads apakah buku ini bisa mencuri hati pembaca, namun pengalamanku dengan Harry Potter, Narnia, Game Of Thrones, Hobbit, Spiderwick Chronicles, Bartimaeus Trilogy, sampai segala bacaan Neil Gainman membuatku tahu bahwa fantasi tidak seharusnya begini. Mungkin apes jua, akhir tahun lalu saya selesai baca Samudera Di Ujung Jalan Setapak dengan fantasi Lenny Hempstock yang luar biasa keren, novel ini langsung drop tak ada apa-apanya. Mencoba memberi warna dengan opsi sihir yang aneh, tak bisa menyelamatkan. Ini adalah buku ‘belajar mengarang tingkat dasar’.

Buku yang jelek sekali. Tak ada konflik, tak ada masalah berarti yang disodorkan, tak ada sesuatu yang membuat Pembaca penasaran. Ini buku semacam parade pamer imaji kosong, tak ada penawaran kisah berbobot. Benar-benar buruk. Entah apa yang ada di dalam pikiran sang Penulis sehingga bisa memainkan sihir tanpa experliarmus, tanpa pertarungan, sihir tanpa trik sehingga tak ada hal bagus untuk diikuti. Kenapa roller coster begitu seru? Karena rutenya naik turun, karena memacu andrenalin, karena benar-benar menantang. Bayangkan andai rute rel coaster itu datar, lempeng saja, memutar dengan tanpa sudut kemiringan. Duh! Mending naik odong-odong sekalian, kisah dengan alir datar gini hanya menarik minat anak-anak, basic. Sangat dasar. Comedy jelas sebuah karya hambar yang tak menarik untuk Potter mania (dan berani-beraninya disebut!), seonggok sampah bagi pecinta fantasi. Buku ini sekedar lewat dan lupakan, sayang sekali. Padahal dapat kesempatan dicetak dan jual oleh Penerbit Laksana yang terkenal bermutu, saya punya lima atau enam terbitan mereka dan semua berkelas sebelum kitab kuning ini muncul memberi noda dalam rak perpustakaan keluarga.

“Dengar Stephen kita punya cara masing-masing untuk berkompromi dengan hal-hal buruk. Aku mencicil rasa sakitnya. Aku tidak bisa meledak begitu saja. Apa kau pernah melihatku marah-marah?”

“Darah kalau belum kena oksigen berwarna biru.”

“Kau tahu tidak kalau gelas pertama kali diciptakan pada tahun lima ribu sebelum Masehi dan sebenarnya bukan berbentuk padat, namun adalah cairan yang sangat dingin?”

“Ada dua puluh sembilan kata ‘lelucon’ di Perjanjian Lama.”

Musik adalah interpretasi hati. Kadang-kadang itu menular. Biasanya aku menyimpan perasaanku di dalam MnM’sku.

Koin berarti kekayaan, semanggi daun empat berarti keberuntungan, kancing atau bidal berarti kau akan menjadi perewan tua, jepitan baju berarti kemiskinan, kuali berarti masalah, padi berarti perkawinan, paytung berarti perjalanan, cincin berarti pernikahan dini, dan kunci berarti kemasyuran.

Kodok kalau terlalu banyak makan kunang-kunang akan jadi bercahaya. Bedanya, kami membuat agar cahayanya tidak pudar-pudar sampai akhir Day of Death nanti. Seilmiah apapun, kalau tidak normal ya tidak normal.

Kami sebenarnya atheis, tapi tidak apa-apa kok kalau kalian mau membesarkan bayi Kristen.

Aku tidak pernah berdandan. Satu-satunya make up yang kupakai cuma bedak bayi dan tabir surya.

Kamar ini memang tidak ada kalau kami tidak ada tamu, namanya kamar tamu, dia hanya muncul sesuai fungsinya.

“Burung bulbul jatuh cinta pada bunga mawar. Dia bernyanyi untuknya setiap hari. Tapi bunga mawar hanya menikmatinya saja.”

Tidak ada yang bisa menjelaskan kenapa mendengarkan musik berpengaruh pada perasaan, atau kenapa janin bisa pintar kalau mendengarkan musik klasik. Ada sihir dalam musik, frekuensinya bisa memanggil roh.

Hatimu berdebar-debar sangat kencang mengikuti irama lagu dan seluruh bagian dari dirimu berdentum-dentum. Kalau kau memegang buku, kau akan merasakan itu bergetar di antara jari-jarimu.

Nyesel sekali beli buku ini. Saya ambil saat melimpah pilihan di pameran buku akhir tahun di Gedung Wanita, GOR Karawang. Bayangkan, dengan banyaknya buku berkualitas saya justru membawa pulang kumpulan cerpen 99 Penulis (belum selesai baca) dan buku sampah ini. Pertama lihat sejatinya sudah dua tahun sebelumnya di (Alm) toko buku Kharisma, KCP. Waktu itu sempat menimang-nimang, memilah antara buku ini atau Albert Camus: Summer. Waktu itu masih waras, jelas pilih Camus. Masuk pertimbangan karena ini Penulis lokal dengan gaya fantasi di mana settingnya luar negeri. Mengingatkanku pada novel My Secret Identity, novel remaja lokal dengan setting Amerika. Kisah Penulis yang menyamar dan terus mencoba menghindar publitas itu sukses membuatku takjub yang mana setiap lembarnya memberi tanya dan kejutan. Lha ini, Comedy benar-benar payah di semua lini. Pamer skill penamaan karakter (kalau nama keren bisa mencetak best seller buku ini bisa jadi masuk), pamer gaya English (bolehlah setting luar negeri tapi tetap intinya kosong), pamer referensi kisah-kisah fantasi (ya ya ya, sebut saja) namun melupakan daya pikat utama alasan kenapa kita membaca novel. Nol. Konflik! Kejutan, dan segala syarat bagus cerita tak ada. Entah ini memang bertujuan untuk buku panduan fantasi pemula atau memang Ginger tak bisa meramu alur cerita dengan benar. Ga yakin, remaja pun suka cerita hapily ever after macam gini, apalagi generasi tua.

Hari Helloween dan Day of Death di mana mereka sesuai tradisi menguliti kucing hitam dan memarut paruh gagak. Mereka tidak pernah melewati satu kali pun malam penuh perayaan itu, tidak karena Every langsung pucat dan minta tinggal di rumah saja, tidak karena Yvonne muntah-muntah mengingat pembantaian kecil-kecilan itu.

Dengan mengikuti gaya Penulis keren ga otomatis menjadikanmu keren. Dengan memiripkan gaya kisah-kisah romance, fantasi, detektif yang bagus, ga serta merta menjadikanmu Penulis bagus. Anda boleh saja mengutip Penulis Besar yang pernah lahir, Anda juga boleh mengambil referensi polanya, namun tetap pilihlah gaya bahasa sendiri. Comedy jelas masuk dalam kategori buruk, sangat buruk.

Kualitas cetak OK, pemilihan kover OK, proofreader OK, nyaris tak ada typo, editorialnya amazing, pemilihan front OK, tata letak dan segala hal teknis dalam dunia percetakan luar biasa. Penerbit Laksana memang OK di bagian ini, namun semua runtuh karena kopong. Tak ada hal menarik di dalamnya, zonk. Mengecewakan sekali kisah macam gini bisa lolos, masih mending KKPK atau fantasteen, atau Penulis SD yang apa adanya. Mereka masih punya permasalahan dengan teman, dengan keluarga, lha Comedy. Wkwkwkk… benar-benar komedi buruk.

Laiknya dongeng indah yang datar. Dan, pernikahan itu bagi mereka adalah pernikahan paling indah yang pernah mereka lihat, selain pernikahan mereka sendiri.

Comedy Apparition | Oleh Ginger Elyse Shelley | Editor Diara Oso | Proofreade RN | Tata Sampul Ferdika | Tata isi Violet V. | Pracetak Wardi | Cetakan pertama, 2015 | Penerbit Laksana | 244 hlm.; 15.5 x 24 cm | ISBN 978-602-7933-87-3 | Skor: 1/5

Kaarwang, 250618 – Nikita Willy – Cinta Putihmu

#21 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Rumah Kertas #20

“Bluma membaktikan diri pada satra tanpa pernah membayangkan bahwa sastralah yang merenggutnya dari dunia ini. Bluma mati gara-gara mobil, bukan gara-gara puisi.”

Novel yang menggairahkan. Kisahnya tipis tapi tak sederhana, membuat kita para pecinta buku yang ngakunya die hard tak ada apa-apanya. Ini adalah contoh nyata segala yang dicinta berlebihan itu tak sehat. Bagaimana buku menjadi obsesi, jadi pegangan dan daya pikat utama hidup ini. Saya memang sudah merencana jauh hari suatu hari punya perpustakaan keluarga, yang minimalis tapi elegan. Namun impian itu beneran hanya seujung kuku sang kolektor. Pematiknya adalah seorang dosen pecinta sastra yang mati tertabrak mobil saat di jalan membaca puisi. Dari tragedi itu sangat Aku (sudut pandang adalah Penulis sendiri) menelusuri sebuah kiriman buku yang merentang jauh ke Amerika. Buku yang berlumur semen itu dibawa dan rencana dikembalikan, nyatanya malah membawa petualangan seru dan nyelenh akan hobi buku seorang eksentrik membangun rumah dari buku! Bukan tersirat, tapi benar-benar membangun dari kertas! Keren.

“Buat Carlos, novel ini telah menemaniku dari bandara ke bandara, demi mengenang hari-hari sinting di Monterrey itu. Sori kalau aku bertingkah sedikit mirip penyihir buatmu dan seperti yang sudah kubilang sedari awal, kau takkan pernah melakukan apapun yang bisa mengejutkanku.” – 8 Juli 1996

Aku kerap bertanya-tanya mengapa kusimpan buku-buku yang mungkin baru ada gunanya jauh di masa mendatang, judul-judul yang tidak terikat dengan minatku pada umumnya, buku-buku yang pernah kubaca sekali dan tidak akan kubuka lagi, selama bertahun-tahun.

Jauh lebih sulit membuang buku ketimbang memperolehnya.
Kita lebih suka kehilangan cincin, arloji, payung ketimbang buku yang halaman-halamannya tidak pernah bisa kit abaca lagi, namun yang tetap terkenang seperti bunyi judulnya, sebagai emosi yang jauh dan lama dirindu.

Seorang profesor sastra klasik yang sengaja berlama-lama menyeduh kopi di dapur agar tamunya bisa mengagumi buku-buku di raknya.

Ada bintang-bintang menyilaukan di peta sastra, orang-orang yang jadi kaya raya dalam semalam berkat buku-buku yang payah, yang dipromosikan habis-habisan oleh penerbitnya, di suplemen-suplemen koran, melalui pemasaran, anugerah-anugerah sastra, film-film acakadut dan kaca panjang toko buku yang perlu dibayar demi ruang untuk tampil menonjol.

“Dunia orang hidup berisi cukup keajaiban dan misteri yang menindaki perasaan dan pemikiran kita dengan cara-cara yang begitu tak terjelaskan sampai-sampai nyaris membenarkan konsepsi tentang hidup sebagai suatu kondisi kena sirep.”

Saya sadar bahwa buku tidak seharusnya bercampur dengan kehidupan rumah tangga. Mereka cenderung lekas kotor.

Membangun perpustakaan adalah menciptakan kehidupan. Perpustakaan tidak pernah menjadi kumpulan acak dari buku-buku belaka.

Saya perlu membaca semua catatan yang ada di sebuah buku untuk menjernihkan makna tiap-tiap konsep, jadi sulit bagi saya untuk duduk membaca buku tanpa ditemani dua puluh buku lain di sampingnya, kadang hanya untuk menafsirkan satu bab saja secara utuh.

Namun sialnya beberapa jam sehari yang bisa saya peruntukkan untuk membaca? Paling banter empat, lima jam. Saya kerja pukul delapan pagi sampai lima sore di sebuah jabatan yang tidak enteng tanggung jawabnya. Tapi sepanjang waktu itu, yang saya rindukan cuma bisa kembali ke sini. Di gua inilah – izinkan saya menggunakan istilah ini – saya luang beberapa jam yang menyenangkan sampai pukul sepuluh, saat saya biasanya naik ke lantai atas untuk makan malam.

Ngengat membuat Brauer gila.

Ia memberikan mobil untuk temannya agar bisa mengisi garasi dengan buku.

Kalau boleh saya pinjam separuh kalimat Borges: Perpustakaan adalah pintu untuk memasuki waktu.

Dengan menulisi marjin-marjinnya dan menggarisbawahi kata-kata, kerap kali dengan warna berbeda-beda yang mengandung sandi tertentu, ia bisa menangkap maknanya.

Buku apapun yang dicetak misionaris-misionaris Katolik amatlah langka, tapi Perpustakaan Nasional kami punya satu.

Kalau Anda ingin menulis puisi Anda perlu secarik kertas dan alat tulis yang berfungsi sama seperti kalau Anda ingin mangambil hati seorang perempuan, persiapannya kan macam-macam termasuk yang kelihatannya tidak asyik.

“Kemudahan untuk mencari buku-buku yang dicari itu satu hal, tapi menempatkannya berdekatan dan berjauhan itu soal lain.”

Lukisan itu jadi lukisan baru, bayang-bayang jadi hidup, nyala api memainkan lidahnya dan seolah-olah tidak ada beda riil antara cahaya yang berasal dari pigmen dan minyak dengan ruangan tempat karya itu berada.

“Jangan takut. Atau kita berdua justru harus takut. Saya nyaris tak percaya.”

Tipe akademisi yang penuh semangat yang puas diri, yang sedikit-sedikit suka menyitir kutipan-kutipan sastra, dan kalau mati memilih ditabrak mobil sedang membaca Emily Dickinson

Yang menakjubkan adalah bahwa kebetulan atau nasib meresponnya persis demikian.

“Lantas suatu hari tak dinyana, Anda kehilangan urutan kenangan-kenangan ini. Kenangannya sendiri tidak hilang tapi juga tidak bisa ditemukan.”

… ia menyuruh buku-buku diubah jadi bata.

Ia tidak gembira, tidak pula sedih, ternganga oleh brutalitasnya sendiri, dibuai oleh siul si kuli, radio yang menyala atau debur ombak laut, pekik camar di pantai.

Banyak kamus sering dipakai buat mengepres dan meluruskan macam-macam ketimbang dibuka-buka dan tidak sedikit buku dipakai untuk menyimpan surat-surat, dan rahasia agar tersembunyi di rak. Orang rupanya bisa mengubah takdir di buku-buku.

Buku-buku menjalin kekerabatannya sendiri atau karena pada akhirnya aku kembali bisa menguasai emosiku, kuputuskan bahwa sudah waktunya menyekar ke makam Bluma.

“Ya setiap orang punya kesukaannya sendiri-sendiri. Dia bangun rumah dari buku-buku itu sudah cukup mengejutkan. Lebih mengherankan lagi waktu di melubanginya. Seperti yang kubilang, dua hari ia menggodami temboknya, dan si bocah bilang itu karena buku yang dicari tidak ketemu.”

Ia bukan seorang dukun sihir dan membacakan keras-keras buatnya hal-hal yang sepenuhnya tidak ia pahami, tapi kedengarannya seperti musik, dan ia tidak punya bayangan buat apa tulang-tulang itu.

Beberapa endorse di sampul belakang:

“Kisah yang tak terlupakan tentang dunia sastra, kepustakaan, dan kecintaan akan buku. Sebuah novel untuk dibaca ulang berkali-kali.” – Critiques Libres

“Buku tipis yang akan menghantui pembaca jauh sesudah ditutup.” – New York Times

Sebuah mahakarya – Frankische Landeszeitung

Buku yang sangat bagus, sayangnya sangat tipis. Kelemahan buku ini ya hanya terlalu tipis, seperti novella atau bahkan kumpulan cerpen yang dijilid.untuk dikatakan novel jelas kurang panjang, halamannya tak lebih dari 100. Selain itu, tak ada. Cerita yang dipersembahkan untuk para pecinta buku, para kolektor dan kutu buku kelas kakap. Wajib koleksi!

Rumah Kertas | By Carlos Maria Dominguez | Diterjemahkan dari La Casa De Papel | Pertama terbit 2002 oleh Penerbit Ediciones de la Banda Oriental di Montevideo, Uruguay | Penerjemah Ronny Agustinus | Ilustrasi isi Melia P. Khoo | Penerbit CV. Marjin Kiri, eksklusif dari Guilermo Schavelzon & Asoc., Agencia Literaria, Barcelona | Cetakan kedua, Oktober 2016 | vi + 76 hlm., 12 x 19 cm | Ilustrasi sampul ‘Le Libraire’ karya Andre Martins de Barros | ISBN 978-979-1260-62-6 | Skor: 4.5/5

Untuk mengenang Joseph sang adiluhung

Karawang, 250618 – Sherina Munaf- Sebelum Selamanya

#20 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Semusim, Dan Semusim Lagi #19

Semusim, Dan Semusim Lagi #19

Semua anak ada ibu bapaknya, kecuali impian. Semua pasangan ada jantan ada betinanya, kecuali kenyataan. – Darmanto Jatman, “Dengan Apa Petualangan Tepat Ditimbang?” dalam kumpualn puisi Bangsat!, 1975

Kisahnya standar, remaja mencinta yang akhirnya menggila karena sang kekasih memiliki kekasih sesungguhnya di luar. Semua serba biasa sampai akhirnya muncul seekor ikan mas koki yang bisa bicara, setelahnya semakin bagus dan memuncak. Absurb dengan keberanian gila. Sayangnya terlalu buaanyaaak kutipan orang-orang besar yang mengingatkanku pada buku-buku Dee yang pada akhirnya malah kembali terjatuh, biasa.

Sebagai novel pemenang Sayembara Menulis Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2012, seharusnya bisa lebih seksi terlihat. Seno Gumira Ajidarma menyukai kisah ini, mungkin karena kesamaan unsur jazz yang melimpah, puja-puji musisi legendaris Amerika banyak betebaran. Namun sekali lagi, banyaknya kutipan yang dinukil menjadikannya drop. Ga apa adanya, ga murni karya sendiri.

B.B. King adalah anugrah Tuhan untuk umat manusia di muka bumi.

Dari semua hukum, agama Buddha adalah bunga dan buah, Konghucu adalah dahan dan daun-daunnya, Shinto akar dan batang. Jadi smua ajaran asing adalah cabang-cabang dari Shinto. – John Bowker, Beliefs That Change The World.

Aku percaya setiap perempuan harus bertemu dengan setidaknya satu pria keren sepanjang hidupnya untuk benar-benar memahami hal ini.

Bola besar berwarna orange itu semakin turun, turun, dan turun, seoalh-olah di bawah sana ada sesoerang yang menariknya dengan tali yang tak tampak.

Aku tidak mengerti kenapa orang sering memupuk keingintahuan tentang hidup orang lain, yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan hidup mereka sendiri.

Sudah lama aku memutuskan bahwa di dunia ini ada hal-hal yang tidak perlu kupikirkan, dan perpisahan Joe dengan ibuku adalah salah satunya.

Jumlah orang kidal di dunia ini adalah tiga belas persen dari total populasi. Orang-orang pengguna tangan kanan cenderung hidup lebih lama sembilan tahun dibanding mereka yang kidal. Di dunia ini ada tiga jenis kebohongan, bohong beneran, bohong putih, dan statistik. (There are three kind of lies; lies, damned lies, and statistics. – PM Inggris, Benjamin Disraeli – dipopurkan oleh Mark Twain.

Bertemu dengan orang baru adalah hal terakhir yang kusukai di dunia ini.

Minum cappuccino tanpa tahu sejarahnya juga tetap enak.

“Iya, tapi kalau kamu belum pernah dengar Miles Davis dan John Coltrane dan Thelonious Monk, berarti hidupmu sia-sia.”

Album My Favorite Thing (1961) dan Kind of Blue (1957). Yang terakhir magnum opus-nya Miles David. Pada bulan Desember 2009 Anggota dewan Amerika mengambil suara dengan hasil 409 lawan 0, sungguh mengagumkan bagaimana sebuah lagu bisa dikategorikan sebagai harta tak ternilai.

Musik membawa kebahagian dan arti hidup bagi banyak orang. Bahkan seorang nyentrik seperti Nietzsche pun pernah bilang tanpa musik hidup ini bakal hanya akan jadi semacam kesalahan.

Aku tak pernah punya ponsel sebab kuanggap orang lain adalah neraka.
Selama ini aku banyak membaca tetapi aku tidak pernah sanggup menulis. Aku bahkan tidak menulis buku harian karena menurutku itu hal yang konyol.

Murakami pernah bilang hal ini dalam novel Hear the Wind Song; dua hal yang tidak seharusnya ada dalam cerita adalah kematian dan hubungan seks sebab cepat atau lambat orang akan mati dan pria akan tidur dengan wanita. Tidak ada gunanya menulis sesuatu yang niscaya.

Menyodorkan naskah cerita pada orang yang kita bunuh berkali-kali dalam cerita sepertinya bukan tindakan yang bijaksana.

Dalam pandangan Faulkner semakin sulit dipahami semakin tinggilah nilai kesusastraannya.

Kata Hemingway, ‘Apakah kekuatan emosi lahir karena kata-kata besar?’ ada kata-kata yang lebih simple, lebih baik, lebih lazim, itulah yang kugunakan.

Tahukah engkau, Gadis kecil, Blowing in the Wind adalah kalimat sihir.

Dalam diriku ada tiga unsur yakni segala macam bahan yang menjadikanku seekor koki, dan suatu struktur yang membuatku disebut jenis ikan mas koki. Kau tahu dari sisik, kulit licin, isi perut, sirip dan bentuk mata yang buruk ini.
Sebab jika ada hal yang begitu mahalnya sampai tidak bisa dibeli itu adalah waktu. Wittgenstein pernah berkata alangkah baiknya jika setiap kita membeli buku, kita juga sekalian membeli waktu untuk membacanya.

“Segala sesuatu terjadi sebagaimana seharusnya dan jika kau memeriksanya dengan sungguh-sungguh kau akan tahu memang begitu adanya.” – Marcus Aurelius

Segala sesuatu terjadi pada kita baik ataupun buruk pasti akan berlalu yang tersisa hanya ingatan bahwa dulu kita pernah sangat bahagia atau sangat sedih. Lalu ingatan itu nantinya akan memudar.

Dunia ini hanya begini-begini saja? Kau tidak rugi apapun, percayalah.
Aku tidak seharusnya di sana. Seperti aku seharusnya tidak ada di mana-mana.

“Kau pernah dengar apa pun yang orang tua lakukan pada akhirnya akan merusak anaknya?”

Benar setiap orang punya urusannya sendiri. Dan urusanku kali ini adalah menertawakan seisi semesta.

Semusim, Dan Semusim Lagi | Oleh Andina Dwifatma | Editor Hetih Rusli | GM 401 01 13 0028 | Desain sampul Rio Tupai | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, April 2013 | 232 hlm.; 20 cm | ISBN 979-979-22-9510-8 | Skor: 3/5
Untuk Sheila Putri

Karawang, 250618 – M2M – Pretty Boy

#19 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku

Jangan Lepaskan Aku #18

Jangan Lepaskan Aku #18
Alurnya sangat lambat. Khas hiburan tenang penuh perenungan, tak ada hentakan sama sekali. Semua berjalan dalam aliran santai yang menyejukkan, beberapa bagian tampak melelahkan tapi mayoritas memang memberi kekuatan menyentuh hati. Penggambaran manusia kloning yang bisa berfikir saja sudah begitu berani, ditambah detail bagaimana para karakter ini menghadapi kenyataan yang sangat telak menohok kita: Mereka makhluk-makhluk lemah pendonor yang tak pernah takut mati, karena toh mau tersingkir sekarang atau nanti sama saja. Kehidupan akhir yang ditelan waktu. Tak ada cita-cita, tak ada harapan masa depan. Dirinya hanyalah ‘boneka’ manusia yang harus siap memberikan organ demi kelangsungan umat.
Kuselesaikan baca seminggu ini dimulai saat bikin SIM di Polres Karawang 14 Maret selesai 23 Maret, bersamaan satu buku motivasi dan satu novel adaptasi best picture Oscar. Saya mulai baca beruntun paska buku lokal yang lagi gencar promo ‘Laut Bercerita’. Wew, jauh sekali ya kualitasnya. Laut yang tergesa dan monoton padahal kalau dilihat konfliknya berat tentang drama penculikan mahasiswa era 1998, potensi bagus. Melawan buku alur tenang gini. Tentang orang-orang kloning yang menunjukkan eksistensi. Kalau digarap orang lain, saya ga yakin Let Me bakal akan sekuat ini. Pemilihan diksi, pembawaan yang bagus, dan permainan kata itu sangat penting. Arogansi manusia di era modern ini, apakah sampai sehagar ini? “Karena kita masing-masing dikopi dari seseorang yang normal, maka diluar sana pasti, bagi kami masing-masing di suatu tempat ada seorang model yang menjalani kehidupannya.”
Kisahnya dinarasikan oleh Kathy yang mengenang masa lalu. Persahabatannya dengan pasangan kekasih Ruth dan Tommy membuka rahasia-rahasia di balik dinding sekolah Hailsham.
“Aku tahu. Dia berniat mengatakan sesuatu yang berbeda.”
“Mungkin ini tak banyak membantu. Tapi ingat ini, setidaknya ada satu orang di Hailsham yang punya pandangan berbeda. Setidaknya satu orang percaya kau siswa yang sangat baik, sebaik siswa manapun yang pernah ditemuinya, tak peduli seberapa kreatifnya dirimu.”
“Itu cukup bagus untuk Galeri. Oh ya yang itu langsung masuk Galeri.”
“Jika kita kehilangan sesuatu yang berharga dan sudah mencari-cari dan masih juga tidak menemukannya, kita tidak perlu patah hati sepenuhnya. Kita masih punya penghiburan terakhir, berfikir suatu hari nanti sudah dewasa, kita bebas bepergian ke seantero dunia, kita selalu bisa pergi dan menemukannya lagi di Norfolk.”
Bagi kalian, kalian semua jauh lebih buruk untuk merokok daripada untukku.
Pikiran utamaku adalah bahwa aku tidak boleh menunjukkan betapa panik diriku. Betapa gundahnya dirinya bahwa kasetnya hilang.
Itu hanyalah benda, seperti bros atau cincin. Terutama sekarang setelah Ruth tiada, ini menjadi semacam barang milikku yang paling berharga.
Kalian sudah diberitahu tetapi tidak diberitahu. Kalian sudah diberitahu, tetapi tidak satupun kalian benar-benar mengerti, dan aku berani bilang beberapa orang senang membiarkannya seperti itu.
“Seks mempengaruhi emosi dengan cara yang tak pernah kauduga.”
“Menghormati kebutuhan fisik kami, bahwa seks karunia yang indah.”
“Kalau kau tidak menemukan seseorang dengan siapa kau benar-benar ingin berbagi pengalaman ini, jangan lakukan!” tapi sekitar musim semi di tahun yang kubicarakan sekarang, aku mulai berfikir aku tidak keberatan berhubungan seks dengan laki-laki.
Kami punya banyak buku terbitan abad kesembilan belas seperti karanagn Thomas Hardy dan orang-orang semacamnya yang bisa dibilang tidak berguna.
Kalau sedang kesuliatn dia lebih suka dibela olehmu daripada oleh laki-laki manapun. Harus kau akui, itu pujian yang tulus.
Dan bukan hanya karena itu bukti. Tapi demi kebaikanmu sendiri, kau akan mendapatkan banyak darinya untuk dirimu.
Dari pemenang Nobel Sastra 2017, inilah buku kedua sang Penulis Inggris kelahiran Jepang Kazuo Ishiguro yang kubaca setelah An Artist of the Floating World. Karena buku ini memang melejit setelah beliau menang, maka hype-nya tinggi. Tapi bagiku masih bagusan An Artist. Terasa original menikmati Jepang pasca Perang Dunia Kedua dengan segala bentuk permasalahan lokalnya ketimbang melesat jauh di era modern di Inggris. Kazuo sendiri seorang imigran yang akhirnya memilih pindah kewarganegaraan. Tema Never Let tergolong berat, pembawaannya butuh kesabaran dan konflik yang minim menantang kita untuk bertahan, menganalisis serta keberanian menyelesaikan masalah Ruth dan kawan-kawan, sampai akhirnya meledak di ending. Tema kematian yang hampa, serta tanpa ekspresi menghadapi hari esok menjadi begitu mengeri, berani, lugas dan sangat emosional.
Saya jadi begitu penasaran sama lagu yang jadi begitu sering disebut dan menggairahkan rilisan tahun 1956, Judy Bridgewater berjudul Songs After Dark.
Jangan Lepaskan Aku | by Kazuo Ishiguro | Diterjemahkan dari Never Let Me Go | Copyright 2005 | 617186017 | Alih bahasa Gita Yuliani K. | Editor Rosi L. Simamora | Desain sampul Marcel W. | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan kedua, November 2017 | ISBN 9789792274936 | 360 hlm.; 20 cm |Skor: 4.5/5
Untuk Lorna dan Naomi
Karawang, 2303 – 240618 – Sherina Munaf – Impian Kecil
#18 #Juni2018 #30HariMenulis #ReviewBuku