The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society: Film Spesial Untuk Pecinta Buku

Juliet Ashton: “Do you suppose it’s possible for us to already belong to someone before we’ve met them?”

Drama cinta kehidupan yang menarik. Persahabatan, cinta, perang, tragedi, permusuhan, dan sederet buku yang mendamba. Ini adalah film special untuk para pecinta buku. Dibuat oleh Mike Newell, orang yang mencipta Edward Cullen tewas kena Avadra Kedabra, dibintangi oleh Lily James yang sinarnya memancar dari awal sekali film sampai ending. Film drama romantis di era pasca Perang Dunia Kedua. Kisahnya mungkin terlihat klise, tapi keberanian mengambil keputusan, sebuah tindakan ambil resiko demi (ehem..) cinta, ya demi cinta, adalah sebuah perjuangan dan pengorbanan luar biasa. Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan, tapi tindakan sang protagonis atas segala konsekuensi di akhir benar-benar laik dihargai, diapresiasi dan sungguh tindakan berani. Siapa yang menolak kemewahan? Siapa yang berani melepas kenyamanan hidup? Siapa yang rela masa depan yang mapan itu dihempaskan? Demi cinta, yang jiwaku ada di tangannya. Kalian belum tentu bisa, kawan-kawan.

Judulnya agak aneh memang, di mula sekali dijelaskan bahwa nama itu terucap secara spontan ketika sekumpulan warga Guernsey di pulau Channels tahun 1941, dicegat pasukan Jerman yang memang sedang menduduki wilayah tersebut. Karena sedang diberlakukan jam malam, sekumpulan warga saat ditanya ngapain keluar malam-malam, salah seorang menjawab dengan seadanya habis acara di klub baca, nama organinasi/perkumpulannya? ‘Perkumpulan Sastra Guernsey dan Pie Kulit Kentang’. Aneh? Ya. Setidaknya ada akar kenapa judul film seperti ini.

Kisah lalu merentang ke tahun 1946 pasca Perang, Inggris menata kehidupan. Dari pusat kota London, seorang Penulis jelita berusia 32 tahun Juliet Ashton (diperankan dengan anggun oleh Lily James) sedang melakukan tur buku, promosi buku baru, dan segala hal dalam percobaan mendongkrak penjualan. Dengan nama pena Izzy Bickerstaff, yang kebetulan adalah buku yang terselip dalam saku saat interogasi di pembuka. Tampak betapa akrab ia dengan editornya Sidney Stark (Matthew Goode), saling mengisi dan sering jalan bareng. Sepintas terlihat begitu tampak serasi dan potensial menjadi pasangan sempurna. Memang ada pasangan yang lebih hebat dari dua orang kutu buku, Penulis dan Editor? Rasanya sulit menandingi. Sidney kita catat dulu.

Sementara kehidupan London yang meriah ala tahun 1940an berjalan, Juliet juga berkawan akrab dengan seorang militer tampan Mark Reynold (Glen Powell). Di sini terlihat sang pria tampak mapan, wibawa, serta menjanjikan kemewahan hidup. Kehidupan yang glamor dalam komunitas kalangan atas, makan malam mewah, sampai hal-hal yang begitu mengidam untuk kaum hawa: perhiasan mahal dan cinta yang membuncah. Catat juga, dulu nama Mark.

Nah, suatu hari Juliet mendapat surat dari pulau terpencil di Guernsey, daerah yang berbatasan dengan Perancis, mengenai kegiatan malam Jumat mereka membacakan buku. Klub baca tersebut terus berlanjut ternyata. Sang pengirim adalah Dawsey Adams (Michiel Huisman) bilang di Guernsey yang sepi sulit menemukan buku buku bagus, salah satu yang dicari adalah Essays of Elia, Charles Lamb nya Shakespeare. Korespoden pun terjadi. Ketertarikan, dorongan untuk menulis lebih lanjut komunitas ini, dan rasa penasaran akan nasib seorang pemudi yang hilang menghantar Juliet ke pulau tersebut. Kejutannya, saat akan naik kapal. Di pelabuhan yang riuh. Juliet dilamar oleh Mark Reynold. Kejutan itu tak bisa ditolaknya, dengan ciuman romantis di pinggir kapal. Dengan lambaian tangan berjari cincin janji suci, Juliet menuju petualangan baru.

Di Guernsey, Juliet tinggal di penginapan yang aneh. Induk semang penyuka gosip, dan bagaimana nasib orang-orang di masa perang memiliki pandangan negatif atas Elizabeth McKenna (Jessica Brown Findlay) yang hilang saat Perang. Elizabeth didakwa menghianati Negeri karena berkencan dengan tentara Jerman. Bahkan ia memiliki anak, Kit yang kini diasuh oleh Adams. Nah selama di pulau itulah Juliet menemukan banyak sekali pengalaman seru yang bisa mengubah hati dan pikirannya. Bergabung dalam klub buku, menelusuri memori bagaimana sesungguhnya sikap warga terhadap pendudukan, sampai akhirnya kedekatannya dengan Adams menimbulkan banyak spekluasi. Niatan Juliet di sana memang awalnya membuat tulisan klub buku ini, menemukan banyak kejanggalan sampai akhirnya kemarahan anggota bahwa pertemuan ini tak boleh masuk cetak. Masa lalu Elizabeth diungkap berkat Mark yang punya koneksi militer, sampai akhirnya fakta menyakitkan harus dibuka. Roman Juliet dan Adams menambah panas suasana, karena kejutan tunangan tiba mendadak membuat drama ini makin merumit. Adam kita catat juga tentunya.

Bagaimana Juliet akhirnya harus memilih di antara tiga hati: sang militer yang mapan dan tampan yang sudah jadi pacarnya, sang editor nyentrik yang cocok sekali dari segala sudut, atau sang pemuda dari pulau terpencil yang menebar cerita cinta dalam kesederhanaan, di antara kegalauan kata yang harus diketik. Sang penulis tahu yang terbaik buatnya, sang penulis tahu yang terbaik buat penonton.

Kisah Penulis melakukan riset dan menemukan cinta walaupun sudah punya kekasih mungkin terdangar klise, penelusuran sejarah sampai akhirnya dihantam kepahitan hidup bisa jadi sudah banyak, sebuah komunitas dengan keceriaan sekaligus kemarahan sudah hal biasa, wajar ada gesekan. Setting pasca perang dan warga kembali menata hidup filmnya juga sudah banyak dibuat. Pesona Lily James sudah umum terlihat di berbagai film. Kelebihan The Guernsey adalah paket komplit tersebut, dikombinasi serta diramu dengan keteguhan hati. Dan keberanian mengambil keputusan akhir yang luar biasa. Salutlah sama Juliet, berani melawan arus kenyamanan.

Diadaptasi dari buku karya Mary Ann Shaffer dengan judul yang sama yang menulis berdasarkan riset langsung ke Cambridge lalu ke tempat aslinya di Guernsey, Channels Island, buku ini sejatinya biografi Kathleen Scott, istri dari seorang petualang kutub dari Inggris, Robert Falcon Scott, film ini bahkan tak dilirik sama sekali di Oscar. Padahal tahun 2018, film tentang Penulis lain Lee Israel dengan konflik batinnya dalam Can You Ever Forgive Me? Kurasa setara kualitasnya. Film yang nirgelar setelah duo Oscar Aktris dan pendukungnya rontok. Bagi pecinta buku, jelas dua film ini begitu seksi.

Ada banyak bagian menarik di film ini yang nostalgia sekali. Pertama, saat Juliet menemukan buku Charles Lamb yang ia kirimkan. Di kamar berdebu, buku ditumpuk bersama buku usang lain. Tulisannya di ujung kanan atas, buku itu dipersembahkan olehnya. Jelas, ini kebiasaan saya sekali karena semua buku yang kubeli, ujung kanan atas selalu kusematkan identitas dan kenangan saat beli bersama siapa, kapan dan dalam momen apa. So sweet dan touch, Juliet tersenyum sendirian. Siapa yang tak meleleh melihat namamu diukir dalam kenangan seseorang? “Benda yang kecil. Hanya sebuah buku. Namun ini membawaku jauh ke sini.”

Kedua saat Juliet membalas surat Adams, dengan latar ia Ke toko buku mencarikan buku yang diminta Charles Lamb’s Tale-nya Shakespeare. Dan kata-kata balasan surat, “Bagaimana babi bisa membuatmu memulai perkumpulan sastra?” duh nuansa indah menghadiahkan buku untuk orang asing. Dulu saya ‘merayu’ cewek dengan memberi mereka hadiah buku di hari special, sayangnya ga ada yang nyambung. Sulit sekali menemukan kekasih yang sehobi sebagai kutu buku, dulu era sekolahku jangankan sosmed, HP saja barang mewah. Oiya, dengan istriku saya selalu ingat pas kita sepakat menikah, saya membawakan hadiah buku. Bukan sastra, bukan novel fiksi, bukan pula favorit genre fantasi. Tapi buku pertama yang kuhadiahkan kepada May adalah buku resep masakan! Waktu itu ia bilang gap inter masak, dan saya reflek beli buku cara masak. Sampai saat ini masih tersimpan, tapi ibunya yang simpan. May nya sudah bisa masak walau ala kadar, dan memori hadiah buku selalu membayangi.

Ketiga tentu saja saat jelang akhir, bagaimana Juliet mengetik dengan begitu intens. Adegan selama tiga menit itu begitu romantis disajikan. Kegigihan menulis kala hujan, panas, dan keletihan mendalam. Melakukan riset dari beberapa buku, buka-buka catatan sampai telaah di banyak buku dengan serakan di berbagai sudut (surga buku), sampai akhirnya menemukan sekuntum bunga kering yang tersemat. Bunga yang bisa jadi pemicu keputusan akhir mengingat adegan di kamar yang canggung itu Cek dan risek data era lalu, tanpa Goggle gan. Klasik! “Sesuatu telah terbuka, entah kenapa setelah menulisnya membuatku bersemangat lebih.”

Lebih keren lagi, Juliet memutuskan tak akan mencetaknya, dia konsisten dengan janjinya dengan komunitas, buku itu special dipersembahkan untuk mereka yang laik dan pernah mengalaminya sendiri. Ini kisah nyata, draft itu tak terbit sama sekali sampai akhirnya tahun 2006 muncul ke permukaan. Tahun 2008 final draft diterima dan izin diterbitkan dari Annie Barrows, putri dari saudarinya Cynthia. Sepuluh tahun kemudian kita nikmati dalam film. “All I wanted was to write a book that someone would like enough to publish.”

Film tentang buku dengan latar apapun, cinta, tragedi, perang, super hero sampai sekadar klub buku yang menyaji drama antar anggota selalu mudah menyentuh hatiku. Mari kita lihat buku apa saja yang terilhat di film ini: To The Lighthouse (Virginia Woolf), Treasure Island (Robert Loius Stevenson), The Tempest (William Shakespeare), Jane Eyre (Charlotte Bronte), The Importance of Being Earnest (Oscar Wilde), The End (A.A. Milne) sampai buku yang menjadi pemicu kisah Charles Lamb nya Shakespeare. Betapa menyenangkan buku-buku pujaan kita mewarnai layar. Dan tentu saja The Guernsey masuk dalam daftar elit itu.

We have to write about them.

The Guernsey Literary and Potato Peel Pie Society | Year 2018 | Directed by Mike Newell | Screenplay Don Roos, Kevin Hood | Novel by Mary Ann Shaffer, Annie Barrows | Cast Lily James, Jessica Brwon Findly, Tom Courtenay, Michiel Huisman, Katherine Parkinson, Matthew Goode | Skor: 4/5

Karawang, 130319 – 130419 – Coldplay – Death and All His Friends

#PutihkanGBK

Iklan

Pekan Ke 31: Lazio Vs Sassoulo

LBP 3-0
Papan liga Champion riuh. Milan keok lagi saudara saudara. Sassoulo, jaminan tiga poin.

Hasbi
2-0
Immobile
Lazio sedang dalam tren positif di Serie A. Sassuolo mungkin bisa sedikit menyulitkan. Tapi Lazio bisa menang dengan mudah karena sedang dalam performa bagus.

AP
Lazio v sassuolo 1-0
Immobile
Lazio ga boleh mengulangi hasil ketika melawan SPAL. Sassuolo udah aman setelah menumbangkan chievo 4-0. Immobile akan kembali menjadi pembeda

Takdir
Lazio 3-1, Immobile
Lawan Inter di kandang lawan bisa menang. Lawan Spal di kandang lawan, kalah. Lawan Sassoulo di kandang sendiri kebangetan kalau Immobile ga nyekor juga. Mumpung Milan sedang terjatuh lawan Pemuncak, rugi kalau sampai momen bagus di sia siakan.

YR
Lazio 1-2 Sassuolo
Immobile
Walau Lazio main di kandang sendiri.
Lazio bakal kewalahan.
Karena Sassuolo sering menyulitkan.
Tapi Immobile tetap mencetak gol

Damar IRR
Lazio 3-1 Sassoulo
Auguri Inzaghi. Semoga bisa 3 poin di dapat. Dan main di kandang wajib menang.

Karawang, 070319

Mirage: Badai Akan Datang, Lubang Cacing Segera Tercipta – Selamatkan Aku

Aku sudah menyelamatkanmu. Sekarang giliranmu.”

Dua badai yang sama merentang 25 tahun dari 1989. Kasus pembunuhan yang harus dipecahkan yang melibatkan tukang jagal selingkuh, penuh misteri dan penebusan dosa masa lalu. Seorang anak tercinta hilang, atau lebih tepatnya belum terlahir, kini kita di dunia yang berbeda. Dikejar waktu 72 jam, berhasilkan Vera Roy menyelamatkan segalanya? Apakah kehidupan sebelumnya hanya delusi ataukah ini semua mimpi? Karakter wanita yang kuat dengan pasangan yang menarik, waktu yang tergelincir, misteri pembunuhan, cerita detektif, betapa ini adalah film paket komplit yang sungguh tak bisa ditolak. Tapi yang tadinya khayalan anak bisa menjadi kenyataan. Kita hidup dalam sistem yang kacau.

Seperti Source Code, Butterfly Effect, sampai Back To The Future, hidup yang bercabang. Kita perlu upaya sadar untuk mengetahui, sekarang di retakan waktu yang mana. Mendapatkan rekomendasi film ini dari panutanqu di Bank Movie, In Lee We Trust, awalnya skor 3.5 ga minat, skor naik 4 langsung unduh dan tonton. Ternyata menakjubkan sekali. Sayang aja, kutonton pasca kubuat daftar film terbaik akhir Maret lalu. Jelas film ini masuk lima besar 2018. Demi menyelamatkan Niko, demi menyelamatkan Gloria, demi menyelamatkan sang tokoh utama. Selamat datang di dunia pararel, yang bikin cerita pintar sekali. This is impressive movie. Well written, well shot, and well acted. An amazing plot and script. I was on the edge of my seat the entire time. It’s definetely to watch, highly recommended. Kusarankan untuk berhenti baca di sini, bagi yang belum dan ingin menikmati Mirage (Durante La Tormenta) film Spanyol yang rekomendasi banget. Saya sudah memperingatkan.

===Tulisan ini mengandung Spoiler===

Kisahnya tentang perjalanan lintas waktu demi menyelamatkan dan diselamatkan, ada tiga lapis. Perjalanan lintas waktu dengan kamera perekam, tv dan badai istimewa sebagai pemicu terciptanya lubang cacing. Dibuka dengan sebuah berita bahwa pada tanggal 9 November 1989 terjadi peristiwa bersejarah jelang runtuhnya Tembok Berlin, berita tersebut tersaji lewat siaran tv, malam hari di sebuah rumah di Spanyol. Seorang anak 12 tahun Niko Lasarte (Julio Bohigas-Couto) sedang berlatih gitar, direkam dengan kamera diletakkan di atasnya. Cuaca yang gemuruh di luar memberi sebuah kilatan retak pada waktu. Sang ibu berangkat bekerja, dan saat sendirian Niko mendengar suara mencurigakan dari rumah tetangga. Penasaran, menyelidiki dan betapa terkejutnya karena menemukan mayat tuan rumah Hilda Weiss di lantai bawah. Melihat sang suami Angel Prieto memegang pisau menuruni tangga, Niko ketakutan berlari keluar dan tragis dia tewas seketika tertabrak kendaraan.

Adegan berikutnya loncat, di rumah yang sama, kini dihuni oleh pasangan muda bahagia Vera Roy (Adriana Ugarte) dan David Ortiz (Alvaro Mortez), Vera adalah seorang wanita karir di rumah sakit lalu memutuskan menjadi ibu rumah tangga demi mengurus keluarga. Suaminya yang orang penting kantoran tampak wibawa, seorang pria bertanggung jawab. Dan putri semata wayangnya yang cantik menggemaskan Gloria Ortiz (Luna Fulgencio), membuat ayunan baru, menghabiskan banyak waktu dengan si kecil adalah anugerah terindah bagi Vera. Gambaran keluarga kecil yang ideal. Suatu saat, Vera menemukan korek api dalam saku sang suami, cek cok terkait komitmen berhenti merokok, dan melemparnya keluar jendela. Hufh… dari Aitor Medina sahabat sekaligus tetangganya bertutur tentang temuan tv jadul dan rekaman video tahun 80an, riwayat kematian Niko dan fakta tak terbantah sang pembunuh Angel hanya bertahan tiga bulan dalam penjara sebelum akhirnya bunuh diri. Lalu drama benar-benar dimulai saat malam petir saling bersahutan, Vera terbangun menuju ruang tengah, menemukan tv menyala menyiarkan berita tahun 1989 dan video rekaman di gudang diputar. Gambar yang terlihat adalah Niko yang ada di mula, dan betapa terkejutnya ia ketika bisa berinteraksi dengan Niko melalui gambar di tv, Vera dengan lantang meminta Niko untuk tak keluar menyeberang jalan, jangan Nak karena kau akan mati, saya adalah manusia masa depan! Dan ta-daaa… Niko selamat. Lha kok bisa? Ya, sebuah paradok waktu sudah dicipta.

Dokter Vera Roy terbangun di rumah sakit, pusing dan bertanya kebingungan karena para perawat dan asisten segera memintanya melakukan operasi. Ketika salah seorang memenaggilnya dokter Vera, dia terkejut. Apa? Dokter? Dia itu cuma perawat dan sudah resign, bahkan kini dia cuma seorang IRT, semua orang tentu saja serentak tak mengerti jua, termasuk penonton yang tak kena spoiler. Ono opo iki? Dan tahulah kita, ketika menit demi menit berjalan, bahwa kini Vera ada di kehidupan Niko yang selamat. Yang otomatis segalanya berbeda. Ketemu David, suaminya, oh bukan kini ia milik orang lain, menikah dengan Ursula mantannya. What? Lalu gmana anaknya? Gloria? Oh dia masih lajang. Dia adalah wanita karir yang sukses secara finansial, wanita mandiri sebagai dokter syaraf terbaik. Why? Gloria tercinta tak terlahir di dunia cabang Niko Tak Tertabrak! Orang yang terjebak dalam rekaman video, berkat cuaca buruk disertai petir sebagai sapaan Tuhan.

Vera hanya punya waktu 72 jam untuk mengejar badai terakhir, atau lubang cacing tertutup, ia harus menyelesaikan segalanya, memecahkan puzzle, menangkap petir tepat waktu, ia hanya ingin kehidupannya kembali, Gloria tercinta kembali. Menit film ada banyak di cabang ini, mayoritas dalam penyelidikan. Mencari Niko, oh Niko sudah pindah, kesaksiannya terhadap hilangnya bu Hilda karena pembunuhan tak didengar karena ia diberitakan ke Jerman, pulang. Angel kini hidup bahagia, tak terjadi apa-apa di malam naas itu. Benarkah? Malah, ia menemukan nama Niko adalah nama karakter dalam novel berjudul Mirage karya Karen Sardon yang didedikasikan untuk Niko Lasarte. Dibantu oleh inspektor Leyra (Chino Darin) Vera memburu sang penulis, bagaimana bisa ia mendapat ide cerita tentang lelaki yang selamat gara-gara nasihat video dari wanita yang berasal dari masa depan? Oh itu hanya khayal! Fantasi murni. Waduh… ini hanya fantasi? Niko adalah anak kecil pengidap skizofrenia. Halusinasinya terasa nyata sehingga mengilhaminya. Semua itu hanya ada dalam pikiran ibunya.

Semakin merumit, mereka lalu kembali mencari bukti lain, pembunuhan yang sudah terjadi 25 tahun lalu dengan sang pembunuh bebas berkeliaran. Dengan bantuan Leyra, saling kejar menyusun kepingan, Leyra menjaga Vera dari kejaran polisi karena dianggap bebahaya, tak waras, malah diberi kertas bertuliskan Hotel Belmonte kamar 1016. Saat di sana, bukan jawaban temuan Niko yang diharap yang didapat karena malah menemukan David yang berselingkuh. Menjijikan. Di cabang lain, ia adalah suaminya! Koneksi yang ada adalah korek api Arabesco. Meminta salaman, aku ingat seluruh kehidupan denganmu. Aku tahu alasanku di sini. Kejaran waktu itu menuai sebuah akhir di sebuah gedung lantai atas dengan pilihan tindakan yang mengejutkan. Tindakan bunuh diri yang menjadi picu demi mengembalikan kehidupan lama. Gilax! Ide gilax! Brilian.

Ada bedanya menjelaskan ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’? Menjabarkan ‘bagaimana’ berarti menyusun ulang serangkaian peristiwa spesifik yang mengarah dari satu titik ke titik lain. Menjelaskan ‘mengapa’ berarti menemukan hubungan sebab-akibat yang menyebabkan terjadinya serangkaian spesifik itu dan bukan semua peristiwa lain.

Diawali dengan petir yang sama, Mirage mencapai kesimpulan tiga rangkaian waktu akhir yang berbeda. Ending-ending yang berbeda tadi, tidak mutlak terjadi hanya karena satu langkah awal. Akan tetapi terjadi percabangan-percabangan yang memungkinkan tindakan berbeda. Kekhawatiran mengenai masa depan menjadi pemain utama dalam teater akalbudi manusia. Ini bukan sekadar tentang mengubah masa lalu, lalu masa depanpun berubah. Karena setiap retakan yang dicipta memiliki takdir masing-masing maka, karakter utama harus memilih kehidupan mana yang mungkin ideal. Orang-orang cenderung berdamai dengan status quo menyatakan bahwa ‘beginilah akhir nasib saya, dan saya harus jalani dengan syukur.’ Namun tidak, Vera justru memilih kembali berjudi dengan waktu demi sang buah hati dengan bunuh diri dan sungguh meyakini bahwa di retakan waktu berikutnya ia bisa kembali memeluk Gloria. “Sekarang giliran kamu menyelamatkanku.

Menulis cerita perjalanan waktu yang berkelas sungguh sulit, banyak telaah dan spekulasi. Banyak penjelasan yang harus dipaparkan. Kalau sudah baca tentang teori waktu, dan nonton film lompatan waktu mungkin terdengar mudah dalam teori, praktiknya sulit. Mirage memaparkan lingkaran waktu dengan sangat rapi. Seharusnya tak multi tafsir karena sudah dijelaskan dengan gamblang. Apalagi di adegan interogasi sang pembunuh, detail-detail yang menjadi tanya di awal dan di tengah terjawab semuanya. SEMUANYA. Jadi penonton benar-benar tinggal menikmati dan terhenyak di depan layar. “Kalau kau ingin selamat, kau harus percaya.”

Kenyataan adalah sekarang, ya saat ini. Masa lalu tertinggal dan hanya menjadi ingatan samar, masa depan msiteri dan hanya menjadi harapan samar. Niko tewas tertabrak, fakta satu. Namun di pararel lain. Karena kenyataannya kini Vera bersama Niko yang selamat, fakta dua. Gloria adalah putrinya, fakta tiga. Namun sekali lagi itu di pararel lain. Kenyataan saat ini Gloria tak ada di dunia karena ia masih lajang! Niko seolah masa lalu dan Gloria seolah masa depan. Dan dengan sungguh berani, saya selamatkan kalian semua karena kalian bukan fiksi! Ending yang ditawarkan bisa jadi happy untuk semua orang baik hati dan tidak sombong, tapi itu belum cukup. ‘Saya harus memulai dari awal lagi!’ Situasi kita saat ini adalah tak terhindarkan sehingga kita memiliki lebih banyak kemungkinan di hadapan kita yang bisa kita bayangkan.

Bila kebahagiaan didasarkan pada merasakan hidup ini bermakna, maka agar lebih bahagia kita butuh menipu diri sendiri secara lebih efektif. Tak perlu delusi kolektif untuk menerawang dan berjalan di pararel lain, hanya orang yang menyalakan rekaman dengan petir yang tepat yang bisa menciptanya. Bisa jadi saat adegan akhirnya Niko mencium Vera, selesai sudah semuanya, tapi tidak. Jean-Jacques Rousseau bilang, ‘Apa yang kurasa baik – adalah baik. Apa yang kurasa buruk – adalah buruk.’ Vera berpendapat ia merasa buruk sekalipun penawaran itu sungguh menantang. Ga semua orang berani ambil keputusan itu lho, bukan hanya cewek.“Sekarang giliranmu.

Para pemikir terbaik sibuk memberi makna kepada kematian, bukan meloloskan diri darinya. Para dewa-dewi menciptakan manusia, mereka menetapkan kematian sebagai takdir manusia yang tak terhindarkan. Sesat pikir kilas balik. Dari masa lalu ke masa kini benarkah hanya ada satu jalan yang kita tempuh, tapi banyak sekali cabang jalan menuju masa depan? Setiap saat kita diberi opsi tindakan. Contoh pagi ini saya bangun tidur, memilih untuk di depan laptop melanjutkan menulis ulasan, padahal bisa saja saya pilih baca buku Sharp Objects yang baru kudapat separuh. Benarkah pilihan Sharp Objects itu hilang karena tak mau kuambil? Ataukah ada pararel lain yang tercipta sehingga membuat paradok baru? Vera tak mau menerima takdir itu, kecintaan dan kepercayaannya atas kehadiran Gloria memberikan kekuatan luar biasa.

Realitas yang dikhayalkan bukanlah kebohongan. Saya berbohong sewaktu saya mengatakan saya menggenggam erat tangan Sherina Munaf sewaktu nonton bioskop film Triangle, padahal saya tahu betul Triangle tak tayang di bioskop Indonesia. Realitas yang dikhayalkan adalah sesuatu yang dipercaya Vera, asal kepercayaan itu terus dipegang, realitas yang dikhayalkan memiliki pengaruh kuat. Realitas objektif berupa tv, kamera, termasuk meja dan gitarnya Niko. Realitas yang dikhayalkan berupa petir yang menyambar, pembunuhan Hilda, dan Gloria. Vera terus mempertahankan realitas yang dikhayalkan, yang diragukan banyak orang. Dan kalian sudah tahu hasilnya. Akar penderitaan sejati adalah pengejaran tiada akhir dan tanpa arti terhadap perasaan-perasaan sementara yang menyebabkan kita terus-menerus tegang, gelisah dan tidak puas. Kenapa Vera berani melemparkan diri dari atas gedung? Karena ia mampu menimbang konsekuensi lengkap keputusan itu.

Mirage sejatinya tentang kesadaran dan sudut pandang. Kesadaran dan kekuatan adalah hal yang mirip, semua perilaku itu digerakkan oleh kesadaran. Kesadaran masih menjadi misteri sains hingga kini, bagaimana bisa muncul seketika bangun tidur. Menurut ilmu psikologi, kesadaran adalah kesiagaan (awarness) seseorang terhadap peristiwa-peristiwa kognitif yang meliputi memori, pikiran, perasaan dan sensasi fisik. (Solso R. L., dkk, 2008). Tampaknya kesadaran manusia tidak ditentukan oleh organ tubuh, keberadaan energi, atau susunan DNA kita. Kata David Chalmer, kesadaran kita berasal dari tuhan sendiri. Vera terbangun di rumah sakit, kesadarannya pulih dan ternyata fakta yang ada ga match dengan fakta yang ada dalam pikirannya. Vera terbangun lagi di tempat tidur dengan David di sampingnya dengan begitu fakta telah kembali sejalan. Semua itu terkait kesadaran Vera, dan karena ia adalah sang tokoh utama, si sudut pandang cerita maka hanya memikili satu telaah kesadarannya. Perhatikan film-film time travel dari Source Code, Edge of Tomorrow, Triangle, dst semua memulai cerita dari terbangun tidur yang artinya awal sekali apa itu kesadaran. Cerpen saya tahun 2011 berjudul ‘Terjebak’ juga berulang dari awal bangun tidur berkat dering telpon. Ini semua tentang kesadaran. Betapa banyak kebenaran milik orang-orang malas yang telah diterima atas nama imajinasi. Perasaan kita hanyalah getaran sementara, berbuah setiap saat seperti gelombang samudera.

Jadi berhati-hatilah saat ada sebuah video interaksi dan wanita itu bilang dari masa depan. Aku bermimpi tanpa tidur, ini bukan sekadar khayalan (mirage).

Mirage (Durante La Tormenta) | Year 2018 | Spanish | Directed by Oriol Paulo | Screenplay Oriol Paulo, Lara Sendim | Cast Adriana Ugarte, Chino Darin, Javier Gutierrez, Alvaro Morte, Nora Navas, Miquel Fernandez, Julio Bohigas Couto | Skor: 5/5

Karawang, 060419 – 070319 – Trio Larose – Swingo – Sheila On 7 – Jalan Keluar

Pekan Ke 30: Spal Vs Lazio

LBP 0-3
Milan kembali gagal raih poin penuh. Lazio masih punya tiga laga yang kalau menang semua ada di zona Champion. Murgia sang agen mainkan peranmu. #ForzaLazio

Hasbi
Spal Vs Lazio 0-2
Immobile
Lazio sedang dalam tren positif di Serie A. Permainan Lazio mulai membaik. Minimal Lazio menang selisih 2 gol.

AW
SPAL vs Lazio : 1-2, Milinković-Savić
Lazio sedang menanjak setelah bekap Inter. Tapi SPAL pun bisa bikin mereka teler. Joaquin Correa siap bikin geger.

AP
Spal V Lazio 0-1
Immobile
Mumpung Milan lagi jelek, tertahan oleh tim papan bawah Udinese. Lazio wajib menang untuk menjaga asa top 4. Spal lagi dalam performa buruk, terancam degradasi. Immobile akan kembali masuk papan scoresheet.

Takdir
Spal 1-3 Lazio, Immobile
Ini tentang Murgia yang katanya anak didik Formello. Yang katanya calon kapten masa depan. Yang menjadi pahlawan gelar super copa, yang sepanjang musim dipercaya starter tapi gagal tunjukkan performa,yang akhirnya keluar dari skuat. Ini tentang Murgia, yang katanya calon kapten masa depan The Great yang hari ini justru jadi lawan the Great. Lini tengah bakal riuh Murgia versus Cataldi, dari yang katanya versus dari yang katanya.

DC
SPAL 0-4 Lazio
Alberto
Lawan tim lemah. Ga masalah main tandang. Lazio menang.

Resto Kita – Karawang, 030419

The Best Films 2018

Wrinkle In Time yang ditunggu-tunggu itu rontok, Disney mengacak-acak perlintasan frekuensi kisah antar semesta. Chritopher Robin yang imajinaf remuk jua dalam adaptasi. Pun Mary Poppin Returns yang terlalu biasa untuk sekuel raksasa.
Daftar ini sempat menerjang angka 31 film. Pangkas, padatkan, ringkas, rank. Tahun 2018 bisa jadi begitu menikmati banyak film 4 sampai 5 bintang.

Dari pencarian putri tercinta yang hilang sampai sang pembasmi monster hollow. Dari jentikan Thanos yang melenyapkan separuh pahlawan sampai kasus penipuan dunia literasi. Dari tempat sunyi yang mencekam sampai komedi zombie ‘one take’. Dari konser perpisahan yang mengharu sampai konser ke Amerika Selatan yang rasis. Dari cerita pahlawan India sampai kejutan Peter Parker. Dari lajang tua mencari cinta sampai drama pembantu rumah tangga. Tersaji penuh gaya.

31 Maret 2019, ketiga kalinya saya nge-ranking film terbaik tahun sebelumnya. Inilah 14 film terbaik 2018 versi LBP – Lazione Budy Poncowirejo:

#14. The Equalizer 2 – Antoine Fuqua
Sekuel yang sama hebatnya dengan seri originalnya. Film untuk para pecinta buku. Kejutan bagaimana orang yang mengulurkan tangan seolah menolong ternyata adalah orang yang menjerumsukan. Film seri pertama Denzel Washington yang berseri. Tetap tenang, tetap mematikan. “… today you got to choose.”

#13. Searching – Aneesh Chaganty
Film detektif amatir versi modern di mana semua kamera yang menyorot penyelidikan menggunakan kamera komputer. Benar-benar ga nyangka pelaku ‘penculikan’ adalah orang tersebut. Seru, tragis, mendebarkan. Salut buat perjuangan sanga ayah David menemukan klu demi klu yang terserak di dunia maya. Searching Margot. “I didn’t know her. I didn’t know my daugther.”

#12. Bleach – Shinsuke Sato
Adaptasi manga yang luar biasa menyenangkan. Monster raksasa hijau menguasai kota, penjaga perdamaian tiba dengan intrik antar dimensi. Badai menerjang kota dan menewaskan Ichigo, “Saya masih hidup. Saya belum menyerah. Saya tak akan menyerah”

#11. A Quite Place – John Krasinski
Sssttt… bersuara berarti mati. Ketegangan makin maksimal saat disaksikan dalam kesunyian bioskop. Minimalis karakter, minimalis tempat, minimalis volume. Menegangkan. Sssttt… dan pesona Emily Blunt menyelamatkannya. “Your father will protect you. Your father will always protect you.”

#10. Can You Ever Forgive Me? – Marielle Heller
Penulis Lee Israel yang frustasi, kesulitan ekomoni mendorongnya melakukan kejahatan. Kejahatan yang mungkin tampak sepele di mata hukum, tapi sungguh biadap bagi para kolektor sastra. Chemistry dengan pemabuk aneh yang saling mengisi, Melisa McCarthy dan Richard E. Grant sungguh lucu. Pengen jegal, senyum kecut di tengah duka. Dan ini kisah nyata! “Can you keep a secret?”

#9. Love For Sale – Andibachtiar Yusuf
Bahkan ada yang menyandingkannya dengan (500) Days Of Summer yang fenomenal itu. Pencarian pasangan di usia jelang paruh baya yang menyakitkan. Jualan cinta yang tak ada indahnya. Dasar Kelun! “Sungguh mencintai adalah pekerjaan yang berat dan penuh resiko karena selalu melibatkan perasaan, tapi kukira, mengambil resiko tak pernah ada salahnya.”

#8. Black Panther – Ryan Coogler
Kejutan Marvel 2018, film solo super hero yang menghentak tatanan. Berbulan-bulan bertahan di bioskop Karawang, melibas logika. Bagaimana sang raja bangkit, terjatuh dan bangkit lagi demi bersatu dengan pasukan Avenger. “…And its’ hard for a good man to be king.” Wakanda Forever!

#7. Pad Man – R. Balki
Kisah nyata di India, di mana para perempuan tak mengebakan pembalut hygiene manjadi pelatuk Laxmi untuk menemukan mesin pembuat pembalut yang murah. Dan kisah cinta tumbuh di waktu yang tak tepat. Sudah tepat tindakan Lakshmilant ‘Laxmi’ Chauhan di ending itu, sudah sangat tepat. Namun tetap saja, sungguh mengharu. “… kau keenam, kau ketujuh, kau kedelapan...”

#6. Spider-Man: Into the Spider-Verse – Bob Persichetti, Peter Ramsey, Rodney Rothman
Peter Parker adalah Spider-man. Scene after credit Venom menjelaskan kematiannya, dan bagaimana kalau muncul Spider-man lain? dan bukan hanya satu? New York yang damai? Nope, Sony melipatgandakan pula para villain! “This could literally not get any weirder…”

#5. Roma – Alfonso Cuaron
Keindahan film hitam putih yang kuat dalam (hampir) semua segi, drama berkelas kehidupan pembantu rumah tangga di Meksiko yang keras. “We are alone. No matter what they tell you, we woman are always alone.”

#4. Bohemian Rhapsody – Brian Singer
Film dengan kepuasan teknikal maksimal. Membuat fan Queen kegirangan, menjaring pendengar baru. Ya, saya. Saya langsung membeli complete album Queen setelah menyaksikan. Dan di Oscar laik menang banyak, hanya keok di satu di kategori puncak. Merinding saat lagu Love of My Life. “You’re a legend Freddy.” / “We’re all legends.”

#3. Cut of the Dead – Shinichiro Ueda
Comedy of the year. Horor ngakak. Film zombie aneh dan luar biasa sukses mengocok perut semua penonton. Tertawa sejadi-jadinya dalam gedung bioskop. Luar biasa lepas. Ga nyangka, drama tv tanpa iklan tanpa putus itu ternyata dibuat dengan kegilaan tiada dua. Film low budget yang menghentak tatanan.

#2. Green Book – Peter Farrelly
Pengalaman pertamaku nonton bioskop sendirian. Benar-benar sendiri, melewati pergantian malam dengan drama berkelas. Dari semua kandidat best-picture jelas secara hiburan, road-move ini juaranya. Pertama kalinya film terbaik Oscar dipilih yang benar-benar terbaik. Chemistry sopir dan majikan yang menyenangkan. Ekspresi pertama kali makan KFC, oh my… “Its takes courge to change people’s heart.”

#1. Avengers: Infinity War – Anthony Russo, Joe Russo
Wow wow wow. Ekspektasi yang tinggi itu tetap terpenuhi. Marvel merayakan 10 tahunnya setelah Iron Man meluluhlantakkan tatanan. Thanos dan jentikannya yang memukau umat manusia. Cahaya mentari yang menyilaukan dan mengejutkan semua penonton. Red code! End Game menanggung beban yang luar biasa berat bulan ini. Salute Russo Brothers! “Your optimism is misplaced, Asgardian.”

Karawang, 310319 – Sherina Munaf – Primadona

Daftar ini sempat mencantumkan Fantastic Beasts: The Crimes of Grindelwald yang menggantung, The Guerney Literary and Potato Peel Pie Society yang romantis, Dragon Ball: Broly yang menyesakkan, Mission Imposible: Fallout yang seru, Cold War yang mengharu, First Reformed yang puitis, Isle of Dog yang animasi unik, Mary Queen of Scots yang menyakitkan Saoirse Ronanku di ending, dst.

Happy Birthday Winda Luthfi 13 tahun, sayangku, manisku, cintaku.

Pekan Ke 29: Inter vs Lazio

LBP 0-3
Milan kalah semalam membuat Laziale dan Interisti senang. Inter berpeluang menjauh, Lazio berusaha mendekat. Akan lebih indah buat keduanya Roma ikut tersungkur. #ForzaLazio

AP
Inter v Lazio 1-0
Perisic
Inter harus menang agar tak disalip Milan. Lazio tentu tak ingin kalah demi menjaga posisi di top 7. Perisic akan menjadi pembeda.

Damar IRR
Inter 1-2 Lazio, Immobile
Forza gamelaggio. Kali ini Elang akan mematuk ular. Tiga poin wajib bagi Biancoceleste.

Hasbi
Inter 1-1 Lazio, Immobile
Inter Milan akan kesulitan menghadapi Lazio meskipun main di kandang sendiri. Lazio tentu akan memberikan perlawanan sengit. Skor 1-1 cukup realistis dengan Immobile mencetak gol tunggal Lazio.

Takdir
Inter 0-2 Lazio, Immobile
Pertandingan main mata. Saudara tua yang saling mengasihi. Kali ini Inter mengalah demi Primaveranya menuju zona juara.

AW
Inter vs Lazio 2-1, Perišić
Inter sedang dalam grafik naik. De Vrij siap jadi tokoh licik. Perišić nyekor langsung icik-icik.

Javier Bergomi
Inter 3-1 Lazio, Perisic
Match penting bagi Nerazzurri untuk semakin mengamankan posisi di zona UCL mumpung Tim tetangganya kemaren kalah sama Tim terbaik Kota Genoa. Lazio bisa dikalahkan dengan skor yang cukup telak.

DC
Inter 2-0 Lazio
Brozovic
Inter menang. Lazio kalah. Ga ada imbang.

Emas
Inter 2-2 Lazio, Ciro
Partai tim papan tengah kembali tersaji. Sama ngotot. Sama ngeyel.

HAS
Inter 0-1 Lazio, Acerbi
Duel perburuan zona UCL masih ketat. Lazio akan tampil allout vs Inter yang sedang “bermasalah”. Acerbi akan membuat kota Milan berduka akhir pekan ini.

YR
Inter 4-1 Lazio
Icardi
Inter akan menghancur leburkan Lazio.
Demi peluang lolos ke UCL musim depan.
Dan menggagalkan upaya Lazio lolos UCL musim depan. Karena Roma lebih mampu berbicara di UCL ketimbang Lazio.

Mie Ayam Sopo Nyono Perumnas – Karawang, 310319

Bleach: Ketika Monster Raksasa Meluluhlantakkan Kota Muncullah Sang Petarung

Ichigo: “I am not so noble to risk my life for strangers or so low to desert people in trouble.”

Cerita penjaga perdamaian kota, menghantar arwah-arwah penasaran untuk ke soul society, dan memburu para hollow (monster) agar dunia kembali tenang. Fantasi yang menggairahkan.

Dibuka dengan tragedi di mana ada ibu dan seorang anak yang mencoba memberi payung pada gadis yang menangis di pinggir danau yang ternyata adalah jelmaan, menewaskan Masaki Kurosaki (Masami Nagasawa). Tahun melompat dan kini Ichigo Kurasaki (Sota Fukushi) adalah seorang pelajar, ia bisa melihat hantu. Keistimewaan itu suatu hari memberinya kesempatan menjadi petarung. Di kamarnya tiba-tiba muncul seorang cewek berkimono dengan pedang dan kecurigaan menatap sekeliling, Rukia Kuchiki (Hana Sugisaki) adalah seorang shinigami yang tugasnya berburu hollow, si Rukia yang terkejut bahwa keberadaanya diketahui manusia yang kemudian malah menjadi manusia karena kekuatannya secara tak sengaja tersalur ke Ichigo. Dalam sebuah kesempatan langka yang mendesak, ia sepenuhnya mentransfer tenaga dalamnya. Rukia terjebak, yang lalu menyamar sebagai murid baru pindahan, mengambil tubuh gigai (tiruan). Ichigo yang bisa melihat hantu ternyata memiliki kekuatan spiritual besar.

Kota Karakura yang butuh seorang shinigami untuk menjaganya dari serangan hollow, memaksa Rukia melatih Ichigo. Ia tinggal di kamar Ichigo, dan menjadi bagian kehidupan manusia. Secara keseluruhan sejatinya Bleach memang menceritakan hubungan mereka berdua. Fokus yang tepat. Bermain pedang, ditembaki bola tenis, mengangkat beban, ketahanan fisik. Tumbuh benih cinta, wajar. Rukia yang seorang shinigami yang menyamar menjadi menusia malah jatuh hati dalam keseharian, dan ini adalah dosa. Kesalahan. Ichigo yang memiliki love interest Orihime Inoue (Erina Mano), terlihat cemburu tapi Bleach ga jatuh dalam roman drama remaja, hanya kisah sempilan. Seorang murid freak, Uryu Ishida (Ryo Ishizawa) menambah rumit keadaan karena dengan panah saktinya ia ternyata adalah seorang Quincy. Quincy adalah makhluk langka yang memiliki dendam terhadap shinigami, maka hubungan Uryu dan Ichigo menjadi lawan-teman. Dan jadilah Ichigo seorang shinigami pengganti.

Sementara dari seberang, sepasang shinigami kakap Renji Abarai (Taichi Saotome) dan Byakuya Kuchiki (Miyavi) dari dunia 6 meminta Rukia untuk kembali, ia terlalu lama menjadi manusia. Renji adalah teman masa kecilnya, dan Byakuya adalah kakaknya! Di sini jelas Byakuya tampak sangat keren, semua kalimat yang diucapkan tenang tapi menohok, khas seorang antagonis bengis yang seolah tak terkalahkan. Mereka meminta Rukia membunuh Ichigo agar kekuatannya kembali, Rukia yang jatuh hati tentu saja menolak. Bahkan sampai diultimatum bila tak segera mengeksekusinya, keduanya akan dibunuh. Ichigo meminta kesempatan, ia akan berlatih lebih keras guna membasmi The Grand Fisher, hollow raksasa paling dicari yang digambarkan mengerikan dengan wajah bak topeng badut keji dan banyak lengan panjang berburu (bayangkan!). Seolah monster-monster Ultraman adalah barbie. Maka dalam adegan puncak, kota Karakura luluh lantak diterjang monster, Ichigo menjadi shinigami guna bertarung menumpasnya, sang Quincy membantu dengan panah, dan sajian dahsyat makhluk raksasa menjelma tornado tersaji epik. Mungkin kelemahannya hanya kurang lama adegan pertaruhannya, ga sampai berdarah-darah, adu kuat itu malah menjadi rentan. Jadi siapa yang akhirnya menyerah? Rukia yang meminta kekuatannya kembali? The Grand Fisher yang ternyata adalah pembunuh ibunya akankah bisa dimusnahkan? Uryu yang menaruh dendam kesumat kepada shinigami? Ataukah akhirnya Byakuya yang tampak amortal membumihanguskan semuanya? Rekomendasi tonton!

Skoringnya sangat pas, musik rock yang menghentak ketika mengiringi pertarungan, wow keren, gitar eletrik yang menyayat-nyayat hati ala Mad Max. Lagu “News From the Front”dari Bad Religion diselipkan di tempat yang semestinya, bukan sekadar iringan tapi juga menampilkannya dalam poster kamar. Panel manga dipindahkan dalam live action, mencoba sesetia mungkin, dalam sebuah mega adu pedang yang rupawan, bahkan ada adegan duel di atas dua bis di mana pedang bisa memanjang dan mebelit bak ikat tali. Tambal sulam beberapa bagian wajar, tapi secara keseluruhan sudah dalam arah yang tepat. Ceritanya mudah dipahami, untuk penonton awam sekalipun langsung klik sedari awal pengantar dunia Soul Society. Eksekusi ending, cerita jagoan dengan pedang besar menjadi sangat logis, sangat pas sekali. Rasanya sekuel hanya menanti waktu. Adaptasi sesukses ini jelas menuntut kelanjutan.

Tak perlu jadi pengikut manga-nya (termasuk saya) untuk bisa menikmati sajian live action yang seru ini, apalagi fan beratnya pasti jingkrak-jingkrak. Seperti inilah seharusnya anime menjelma nyata, sedih sekali menyaksikan Dragon Ball di-evolution-kan Amerika sepuluh tahun lalu. Luluh lantak, Bleach jelas di jalur yang sangat tepat. Poin pentingnya jelas, melibatkan kreator aslinya Tite Kubo dalam proses film. Kesuksesan ini jelas memicu anime lain untuk mewujud nyata, Naruto menjadi sangat mungkin, One Piece? Sherina Munaf pastinya gemetar menanti. Tak perlu warna-warni berlebih laiknya kartun, tak perlu efek sangat berlebih untuk menyuplai cerita, Bleach justru tampak seakan lebih sederhana, monsternya ga seglamor hollywood, efek CGInya ga senyata IMAX, tapi justru inilah nilai lebihnya. Kuat dalam bercerita, melaju dalam kecepatan konstan, dan aksi perang dengan porsi yang imbang. Banyak karakter, seolah tancap gas di opening, wajar. Anime memang selalu memberi banyak sekali tokoh dengan keistimewaan masing-masing, Bleach dengan cerdik menyajikan pengenalan itu dengan tulisan singkat dan durasi tepat. Bahkan ada sebentar adegan penjelasan dunia fantasi yang terpecah dua dengan title card kartun, bagaimana hollow harus diburu dan roh-roh gentayangan harus dikembalikan ke masyarakat jiwa. Jagoan kita berambut orange dengan model anak milenial, tampak nyentrik dan gaul. Karakter Yasutora ‘Chad’ Sado adalah contoh bagus, bagaimana muncul seketika, menitnya tak signifikan tapi bisa memberitahukan penonton bahwa ia adalah teman dekat sekaligus partner sang protagonis, bahkan di adegan yang tak lebih dari tiga menit di pertempuran saat di restoran, ia bisa menghalau lemparan benda padat dengan satu tangan, jelas ia punya keistimewaan juga bisa melihat kehadiran arwah tapi memang sengaja tak terfokus. Mustahillah berjilid-jilid series itu dipadatkan semua dalam durasi movie. Mungkin kahadiran Kisuke Uraha yang kurang eksplore, tapi tetap Ok. Mungkin untuk kelanjutan akan lebih detail. Kita semua tahu adaptasi manga dan anime mayoritas menjadi hancur, hampir semuanya: Dragon Ball, Full Metal Alchemist, Attact on Titan, Ghost in the Shell, Death Note, dst. Bleach kembali menaruh harapan itu.

Film rekomendasi Huang, teman grup Bank Movie, yang kilat kuunduh, kutonton langsung tuntas dalam gerimis malam libur, dan puas. Rasanya wajib kumasukkan dalam daftar film terbaik 2018 yang besok kudata. Apakah kesuksesan ini akan menghantarku (kembali) menjadi penikmat anime? Enggak, waktu menjadi kendala utama. Kecuali mini seri, rasanya film berpuluh-puluh bagian dengan ratusan karakter kayak gini sudah ga cocok kunikmati. Cukuplah sekali tonton selesai. Cukuplah saya tahu Dragon Ball, Naruto, One Piece, Crayon Shincan dan segelitir panel manga. Bleach yang mempesona datang terlambat, para hollow sudah menyebar dan memporakporandakan kota. Dan saya tetap duduk tenang membaca novel.

Bleach always be bleach

Bleach | Year 2018 | Directed by Shinsuke Sato | Screenplay Tite Kubo (Manga), Ardwight Cahmberlain, Shinsuke Sato, Daisuke Habara | Cast Sota Fukushi, Hana Sugisaki, Ryo Yoshizawa, Miyavi, Taichi Saotome, Erina Mano, Yu Koyanagi, Seiichi Tanabe, Yusoke Eguchi, Masami Nagasawa | Skor: 4/5

Karawang, 300319 – Sheila on 7 – Tunjuk Satu Bintang