Alice Through The Looking Glass – Lewis Carroll

Boleh saja kau mengatakannya ‘tak masuk akal’, tetapi aku telah mendengar banyak hal tak masuk akal yang kalau dibandingkan dengan ‘tak masuk akal’-mu lebih masuk akal seperti kamus.” – Ratu Merah

Buku yang aneh sekali. Masih bagusan yang seri pertama, Alice In Wonderland karena terasa original, seri kedua ini menawarkan kebingungan yang sama, hanya dengan pola lebih rumit, lebih acak, dan jauh diluar nalar. Setelah membaca Alice Through The Looking Glass, rasanya film adaptasi tiga tahun lalu terasa terjemahan sangat bebas karena tak ada misi menyelamatkan Mad Hatter, di sini bahkan tak disebut. Adegan ikonik saat ini jatuh dari langit yang sangat lamaaaaaa itu penyesuaian, di noevl ga ada sama sekali. Misi di Alice Through lebih ke personal yang menjelajah dunia antah, antara mimpi dan selipan khayal, antara dunia terbalik dengan imajinasi terlampau tinggi. Semenit lalu balap lari, semenit lalu, ngerumpi dengan bunga mekar, semenit lalu, terhempas dalam laju kereta, semenit lalu menyaksikan adu kuda, semenit lalu menatap tembok dengan telur raksasa di atapnya dalam renunagn, semenit kemudian menjelma Ratu. Cerita acak yang menantang nalar. Alice In Wonderland masih sangat bisa diikuti, Alice Through sudah benar-benar melampaui kegilaan. “Tahukah kamu, hari ini banyak sekali puisi dibacakan padaku. Anehnya – sangat aneh menurutku – semua puisi sedikit banyak menyinggung tentang ikan. Kanapa di sini semua senang pada ikan?

Kisahnya Alice (kini berusia tujuh tahun enam bulan) dan Dinah, kucing kesayangannya sedang di kamar bermain dengan benang dan bola menghabiskan waktu, Dinah kini punya anak kucing Kitty. Lalu dalam keisengan Alicer bertanya, “Kitty, dapatkah kau bermain catur? Ayolah, jangan tersenyum sayang. Aku bertanya serius…” dan karena kesal Alice sampai mengancam, “… dan kalau kau tidak mengubah perilakumu segera, akan kumasukkan kau ke Rumah Kaca Cermin.” Dari omong kosong tentang cermin yang bisa ditembus itu malah menjadi nyata, mula-mula ada asap tipis menyelingkupi. Pura-pura kacanya melembut hingga bisa menembus masuk.

Di dunia cermin segalanya berbanding balik. Apa yang dialami Alice tentu saja dialami Pembaca. “Aku tak mengerti. Begitu membingungkan.” Dan Sang Ratu menjawab. “Itu akibat dari hidup dengan mundur. Awalnya selalu membuat bingung.” Semua makhluk di sini bisa bicara, dan kebun beralaskan seolah papan catur terbentang. Imaji saat ia mengajak Kitty main catur kini mewujud. Alice di dunia cermin untuk beradu strategi main catur!

Tak apa menjadi bidak, asal boleh ikut main – walau tentu saja aku ingin menjadi ratu.” Begitulah, para prajurit saling adu tangkas. Kuda yang diajak bertukar pikir, benteng menjulang dalam nuansa istana. Alice dalam misi menjadi ratu. Mula-mula ia adalah pion, menjelajah hutan. Bertemu banyak kenalan, monster Jabberwocky. Lalu kebun bunga daisy dan mawar yang berisik, bunga Lili Macan yang suka celoteh. Lalu adegan lari, lari yang seolah tiada henti sampai kelelahan karena semakin cepat Alice maju jarak yang dicipta malah makin melebar. Well, ingat alice ini dunia cermin!

Yang membuat aneh sekali tentu saja saat Alice tiba-tiba ada dalam laju kereta api, kepada sang masinis ia memberitahu tak punya tiket. Teman duduknya yang aneh, dengan serangga Agas yang memberi klu demi klu. Mungkin inilah hutan di mana semunya tak punya nama. Tiba-tia seolah dihempaskan ke hutan bertemu anak rusa yang terkejut bertemu anak manusia, saat di percabangan jalan di mana keduanya mengarah ke rumah Tweedledee dan rumah Tweedledum. Kalau yang ini sudah kita temui di seri pertama. Memang begitulah yang terjadi, mungkin terjadi, dan kalaupun terjadi, mestinya terjadi seperti itu. tetapi karena tidak terjadi, maka tidak terjadi. Itulah logikanya.

Di dunia cermin puisi adalah sebuah kebiasaan. Banyak sekali sajak dibacakan, baik sekadar untuk pemanis, untuk teka-teki, atau untuk teman ngelantur, pengantar tanya-jawab, yang semestinya malah jauh lebih membingungkan karena bermain diksi. Seperti penafsiran mimpi. “Kalau dia tidak bermimpi tentang kamu, kamu berada di mana? Kau akan tidak ada di mana-mana. Kau hanya bagian dari mimpinya.

Setibanya di sebuah toko, Alice disapa Domba penjaga toko. Alice tak tahu kenapa ia di sana, maka ia menjawab tak tahu, mungkin melihat-lihat dulu. Sang Domba yang pusing, malah berujar Alice seorang anak atau gasing, dan ia bisa mengambil barang seolah dari udara. “Yang terindah selalu paling jauh.”

Dan setiba di sebuah tembok menjulang, Alice melihat telur di atasnya. Telur itu ternyata adalah Humpty Dumpty! Ia duduk bersila di puncak tembok tinggi. Berdiam diri seolah patung. Ia semacam filsuf. “Persoalannya adalah apakah kau bisa membuat kata-kata dengan banyak arti yang berbeda-beda.” Alice dengan enteng dijawab Humpty Dumpty, “Persoalannya adalah kata-kata mana yang akan menjadi pemimpinnya – hanya itu.” dan hadiah yang kita tunggu tiap tahun dalam ulang tahun membuat si Humpty ketawa, kenapa menunggu hadiah satu dalam setahun kenapa ga dibalik saja, hadiah di 365 dalam 366 hari? Hanya di hari lahir kita tak memerlukan hadiah. Wow.

Dalam hutan, Alice bertemu pasukan. Mula-mula tiga, empat lalu bersepuluh, dua puluh, banyak sekali. Pasukannya ribuan, kacau. Bersama Raja dan sang pembawa pesan, mereka berteka-teki. Mereka lalu menyaksikan pertarungan Singa versus Unicorn. Bersama Hatta melaporkan perkembangan terkini perang. saat dalam diplomasi, terdengar suara genderang bertupi, membuat Alice menutup telinga dan memecjamkan mata. “Kalau suara genderang ini tidak bisa mengusir mereka tak akan ada lagi yang bisa.

Semua cepat sama saja, tetapi sungguh ceroboh memakai helm orang lain dengan pemiliknya masih ada di dalamnya.” Saat kembali tersadar, Alice sendirian di hutan melanjutkan perjalanan dan bertemu dua Kesatria hitam dan merah memperebutkan Alice untuk dijadikan tawanan. “Aku tak tahu. Aku tak ingin menjadi tawanan siapapun, aku ingin menjadi ratu.” Keduanya adu tangkas untuk menjadi pengantar Alice menuju istana. Bagian narasi indah tersaji di halaman 130. “… Bertahun-tahun berselang ia bisa menceritakan kejadian ini dengan sangat jelas, seolah baru terjadi kemarin – mata biru lembut dan senyum ramah si Kesatria, sinar matahari terbenam membuat rambutnya gemilang, dan terpantul menyilaukan dari baju logamnya, kudanya bergerak tanpa tujuan, dengan tali kekang menggantung di leher, merengguti rumput di dekat kaki Alice, dan hutan membayang gelap di kejauhan – semua itu bagaikan lukisan indah bagi Alice yang melidnungi matanya dengan telapak tangan sambil bersandar pada pohon, memperhatikan pasangan kuda dan penunggangnya serta mendengarkan setengah bermimpi lagu berirama sedih itu.” Seni naik kuda adalah menjaga agar tak ada tulang yang patah. Kurasa tidak, seni naik kuda adalah menjaga keseimbangan dengan baik.

Kotak kedelapan, akhirnya.” Dan saat langkah Alice menuju final di papan kotak kedelapan, berhasilkan Alice menjadi ratu?

Otakku akan tetap bekerja. Bahkan makin sering kepalaku di bawah, makin sering aku membuat penemuan baru.” Banyak hal merumitkan diri, membuat dahi berkerut. Semakin tipis halaman, semakin ngelantur. Puisi berserakan. Pengandaian ada di mana-mana, lha judulnya saja sudah aneh kan. Nasihat sang Kesatria patut dituangkan. “Selalulah berkata jujur – berpikir sebelum bicara – dan catatlah sesudah itu.”

Penampilan dua ratu selalu menarik perhatian, mereka berdebat dan saling oceh seolah dunia memah tempat keluh kesah. “Pikirannya agaknya sedang dalam tahap ingin membantah sesuatu, hanya saja dia tak tahu apa yang harus dibantahnya.” – Ratu Putih / “Sifat jahat dan pemarah.” – Ratu Merah. / “Mungkin kesabarannya juga pergi. Sungguh ini percakapan yang konyol.” – Alice

Realitas hidup adalah hidup hari ini. Berlama-lama bermain di cahaya berseri, Hidup ini bukankah hanya mimpi? Alice di Negeri Cermin, tak ubahnya sebuah dunia maya yang ideal untuk lari dari realita yang keras ini. “Dia mungkin demam karena terlalu banyak berpikir.”

Alice Di Negeri Cermin | By Lewis Carroll | Diterjemahkan dari Alice Through The Looking Glass | GM 616189002 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Penerjemah Djokolelono | Desain sampul dan ilustrasi sampul Ratu Lakhsmita Indira | ISBN 978-602-03-2505-7 | 176 hlm; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 210719 – Gloria Estefan – Don’t Wanna Lose You

Iklan

Origin – Dan Brown

Origin – Dan Brown

Kita harus rela membuang kehidupan yang telah kita rencanakan, demi memiliki kehidupan yang menanti kitaJoseph Campbell

Semua ketebak. Saya bisa menebak motifnya, saya bisa memprediksi apa isi presentasinya, saya bisa tahu endingnya. Mungkin karena saya sudah mulai terbiasa membaca cerita detektif, mungkin karena saya sudah menikmati buku Sapiens-nya Yuval Noah Harari, mungkin juga karena saya sudah membaca Dunia Sophie-nya Jostein Gaarder. Origin benar-benar mengikuti arus, mengikuti alur yang sudah saya perkirakan. Lantas kenapa nilai saya masih kasih tinggi? Kehebatan Dan Brown tetap pada pace cerita yang cepat, pembawaan yang asyik, serta selalu mencoba sedramatis mungkin. HP terjatuh tak sengaja ketika benar-benar dibutuhkan? Salah password karena tombol capslock terpencet? Presentasi kegagalan menyatakan kehidupan awal dari sup primodial? dst…, hanya dramatisasi yang dicipta berlebihan. Selalu, hebat jua berhasil memukau setiap pergantian bab. Saya mulai baca Selasa (02/07/19) dan selesai baca Sabtu (06/07/19) dengan satu lagi yang repeat tak jemu: Milk and Toast and Honey bisa seribu kali terdengar, untuk buku setebal 500 halaman dengan cetak lebar, jelas ini sebuah prestasi. Dan hanya buku-buku istimewa di atas 500 halaman yang bisa kuselesaikan baca kurang dari seminggu. Origin menawarkan pergulatan sains versus agama, jelas bukan hal yang baru. Origin membawa tanya semesta, kita dari mana, kita mau kemana? Bukan hal baru, pula. Dalam agama, hampir semua agama, aliran apapun mengajarkan: ‘Kita dari Tuhan, dan akan kembali kepada Tuhan.’ Apalagi teknologi yang ditawarkan, dari mobil tanpa sopir Tesla X, Uber mobil, modifikasi ruangan dan aula, sampai kemungkinan Komputer bisa berpikir. Origin mengajak kita tamasya ke tempat-tempat eksotis, warisan dunia. Sebuah jejak yang selalu dilakukan Robert Langdon, semua buku Dan Brown juga gitu (kan?!). Kali ini kita diajak ke Spanyol, lebih tepatnya tempat-tempat keramat di Bilbao, Barcelona dan Madrid. Bayangkan, dalam sehari semalam di tiga kota itu dicipta kehebohan, khas Dan Brown yang membawa-bawa sang professor dengan gadis pendamping yang jelita. Memang hanya sedikit sekali hal baru yang ditawarkan Origin, tapi pergulatan hati akan reliji yang terus melaju masih sangat bisa dinikmati.

Kisahnya dibuka dengan sebuah pertemuan rahasia antara seorang futuris ateis Edmond Kirsch dengan tiga pemuka agama mayoritas dunia, seorang Rabi Koves mewakili Yahudi, seorang ulama Syed al-Fadl mewakili Muslim dan Uskup Antonio Valdespino mewakili umat Kristiani di sebuah perpustakaan keramat Montserrat di Catalonia, Spanyol. Mereka sedang diskusi tentang agama dan sains, lebih tepatnya Edmond memperlihatkan sebuah temuan asal mula manusia dan akan ke mana, yang katanya akan mengguncang dunia, mengguncang iman umat yang paling fanatik sekalipun. Tergambar, ketiganya sangat khawatir dan mencoba mencegah temuan itu disebarkan. Sempat membuatku berkenyit dahi, wah temuan seberbahaya itukah? Sampai-sampai tiga pemuka agama terbesar di dunia, gemetar?

Edmond berencana membuat pengumuman penemuan itu sebulan lagi, nyatanya hanya berselang beberapa hari ia membuat semacam seminar mewah di Museum Guggenhein di Bilbao. Yang konon terlihat seperti suatu halusinasi makhluk luar angkasa, bentuk kolase bergelombang, meliuk, acak. Dengan arsitek Frank Gehry yang diresmikan tahun 1997. Dengan pengamanan canggih, dengan tamu undangan terbatas orang-orang penting, orang-orang terpilih, dengan penampilan dan sambutan yang luar biasa dalam museum bersejarah, anehnya seluruh tamu ga ada yang tahu sang pengundang akan mempresentasikan apa, termasuk tuan rumah, hanya promosi ini akan jadi temuan terhebat abad ini. Temanya: ‘SEMALAM BERSAMA EDMOND KIRSCH’. Salah satu tamunya adalah Robert Langdon. Edmond adalah salah satu mahasiswa Langdon yang sukses, lulusan Havard, seorang pecandu komputer, futurist, ateis dan mantan dosen ini mendapat kehormatan. Ketika masuk ke dalam museum, setiap tamu akan diberi earphone, awalnya dikira setiap tamu mempunyai pemandu museum, satu-satu sehingga tampak istimewa dan intim. Ternyata bukan, sang pemandu adalah satu komputer. Dimana mereka bisa merespon, membantu setiap orang untuk ngapain aja, menjelaskan seni yang dipamerkan. Pemandu Langdon bernama Winston, kalian nantinya akan tersenyum saat tahu nama ini dari mana berasal. Keterkejutan Langdon bisa saja mewakili pembaca, temuan ini maju sepuluh tahu lebih cepat. Komputer cerdas yang bisa berpikir? Juga bukan barang baru, film Her salah satunya memberi gambaran pada kita bahwa System Ios bisa menjadi teman, bukan sekadar teman ngobrol tapi juga teman kencan. Di sini Winston menjadi pemandu, teman diskusi, seorang pelayan, sampai partner memecahkan misteri. Hebat, rasanya pengen segera tahu sepuluh tahun lagi akan seperti apa.

Di antara tamu yang hadir, ada seorang pensiunan Angkatan Laut, Laksamana Luis Avila. Tamu tambahan di menit terakhir, sekali lagi dibuat dramatis. Sedari mula kita tahu, ia temperamen, kecewa akan hidup masa tuanya karena tragedi bom di Sevilla menewaskan anak istrinya, ia sempat akan bunuh diri, sampai akhirnya menemukan ketenangan hati, menemukan kedamaian dalam agama. Bukan Katolik umum yang kita kenal, ia ternyata menjadi umat Jemaah Palmarian, sebuah aliran agama Kristen yang menentang Paus, sehingga mendirikan aliran baru dengan komunitas terbatas dan khusus. Dengan Paus sendiri, Paus Palmarian dengan yang pertama adalah Paus Clemente tahun 1976. Yah, mungkin mirip dengan LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia) kalau dalam Islam. Cabang aliran agama, apapun agamanya selalu ada.

Saya juga perlu menjelaskan karakter ceweknya. Adalah sang pemilik museum, seorang wanita cantik yang menjadi tunangan Pangeran Spanyol, Pangeran Julian. Proses Ambra Vidal dilamar dibuat dramatis, ketika acara pagi hari di tv live, sang pangeran berjongkok dan memintanya menjadi pasangan. Siapa yang bisa menolak pangeran? Pangeran romantis lagi! Ambra tak punya pilihan lain. Tampak ia berjiwa bebas, cocok untuk pemikir pemberontak. Sebagai calon ratu, di acara besar, ia dijaga langsung dari kemanan kerajaan, Guardian Real dengan duo yang akan menemani kita sepanjang kisah: agen Fonseca dan agen Diaz. Sayang sekali, beberapa karakter tak berdosa menjadi korban tewas konspirasi ini, termasuk mereka berdua yang berdedikasi. Dunia memang tak adil, kadangkala.

Satu lagi, saya juga harus menulis nama Uskup Valdespino yang istimewa sepanjang kisah. Ia adalah kepercayaan raja, menjadi penasihat kerajaan yang peranannya jauh lebih penting ketimbang kepala keamanan Garza, humas gaul milenial Monica Martin, banyak keputusan raja diambil berdasarkan diskusi dengan sang uskup. Kejutan hubungan mereka agak janggal sih, tapi hati Raja siapa yang tahu? Perlu saya sampaikan, al-Fadl tewas di tengah gurun, jelas dibunuh karena niat menyebarkan penemuan Edmond. Lalu Rabi Koves juga dibunuh di sebuah diskotek, ini pembunuhan yang dilakukan seorang hitman. Hanya sang Uskup yang selamat, sehingga ia kini tersudut, dituduh menjadi dalang. Saya bisa nebak, tidak, dan kalian bisa pegang ini juga saat menikmati buku ini. Sebuah situs konspirasi sekali-kali muncul dalam selipan bab menjelaskan alur. Misteri siapa pemasok informasi dari dalam itu adalah monte@ihlesia.org, nah identitasnya ketika dibuka terlihat keren. Situs dengan alamat ConspiracyNet.com menjadi kunci yang membantu Brown mengalirkan kisah, menjadi alat bantu Pembaca mengungkap, sekaligus pengecoh.

Kehebohan Origin dipatik oleh pembunuhan Edmond Kirsch tepat saat ia akan mempresentasikan temuannya, tepat di atas mimbar, dengan kamera menyala siaran langsung ke seluruh dunia dengan penonton menyentuh angka tiga juta, sebuah kasus pembuhuhan dramatis yang ada hanya dalam kisah fiksi. Yang akan dikenang ratusan bahkan ribuan tahun ke depan. Kau hanya akan punya satu kesempatan, meraihnya sangatlah penting. Sang pembunuh adalah Laksamana Avila atas perintah Sang Regent, ia seorang pengsiunan tapi masih bisa melakukan dengan tembakan akurasi sempurna, menggunakan salib modifikasi sehingga bisa dirubah menjadi pistol, bisa meloloskan diri sebegitu mudahnya dalam pengamanan super ketat, dan karena Langdon muncul dalam video, ia ditangkap. Dituduh terlibat, termasuk Ambra sang pemilik museum jua bertanggung jawab. Namun dengan bantuan Super Komputer Winston, mereka berhasil meloloskan diri. Dengan dramatis pula. Naik kapal, naik jet pribadi, lalu helicopter, luar biasa. Semua itu terjadi hanya dalam semalam! Bahkan Will Gates saja bisa terheran-heran.

Misi ini kemudian berubah menjadi adu cepat, Langdon dan Ambra mencoba membongkar video Edmond untuk disiarkan ke internet, sementara pihak Gereja mencoba menjegalnya, dan pihak kepolisian Spanyol mengejar sang pelaku pembunuhan demi harga diri bangsa. Pangeran Julian yang didesak memberi keterangan. Semua saling silang dalam drama penuh aksi, khas Dan Brown. Pertanyaan jelas, bukan akankah Langdon selamat, karena karakter sepenting ini pastinya akan ada seri berikutnya, sekalipun sudah ditembak dengan ujung pistol menempel di dada, Brown ga akan berani menyingkirkannya, sekalipun berulang kali pula peluru hampir mengenai, terguling dalam pecahan kaca, lari Robert lari! Seolah remaja baru lulus sekolah dengan fisik prima. Bukan pula, akankah rahasia kehidupan ini berhasil terbongkar, akankah menguncang iman Anda? Iman kita? Bukan. Ga ada hal baru dalam penemuan Edmond, semua yang disiarkan sudah banyak bisa kita baca di buku-buku filsafat yang tebalnya bisa buat lempar kucing berisik di garasi. Pertanyaan sejatinya ada di masa depan, yang bertahan nantinya Agama atau Sains? Karena menurut prediksi Brown hanya satu yang bertahan! Dan kemungkinan Homo Sapiens yang tersingkir, dalam waktu masa depan yang tak jauh lagi. Ah masa depan yang misterius.

Hampir ga ada hal baru dalam Origin, ironi judul buku ya. Original tapi ga ada yang original? Semua adalah modifikasi hal-hal yang pernah ada. Dari mana asal kita tidak semengejutkan ke mana kita akan pergi. Ah terlalu berlebihan respon tiga pemuka agama tersebut, buktinya setelah membacanya saya juga biasa saja. Kurang bukti, kurang seksi, kurang meyakinkan. Di sini Dan Brown gagal menyakinkan kita semua, mayoritas deh kalau ga mau disebut semua. Teorinya ga kuat, dan prediksinya tentang masa depan manusia juga sudah banyak (coba) diungkap banyak ilmuwan. Hampir semua yang disampaikan adalah ramuan banyak bumbu. Dipadukan, disadur, diceritakan ulang dengan taburan aksi menakjubkan, memikat, nah kelebihananya ya di sini. Aksi Langdon yang sangat seru. Beberapa hal yang asyik di sini: “Timing sangatlah penting.” Benar apapun yang kalian hadapi, ketepatan waktu jelas masuk proritas. Lalu misteri empat puluh tujuh kata puisi, yang terus membuat tanya, puisi siapa? Apa sebenarnya kalimat yang dimaksud? Aku berada di dalam gunung, aku pasti sedang bermimpi. Hentikan tembakan, sarungkan senjata kalian. Origin hanyalah aksi tipu sang agen, dengan efek sekeren animasi Hollywood. Terjemahan bebas kumpulan puisi William Blake tahun 1790-an Amerika sebuah nubuat, Eropa sebuah nubuat. Dan mereka sudah datang!

Tyger tyger, burning bright? In the forest of the night.

Origin | By Dan Brown | Diterjemahkan dari Origin | Terbitan Doubleday, New York 2017 | Penerbit Bentang | Cetakan pertama, November 2017 | Penerjemah Ingrid Dwijani Nimpoeno, Reinitha Amalia Lasmana, dan Dyah Agustine | Penyunting Esto Ayu Budihabsari | Book design by Maria Carella | Jacket design by Michael J. Windsor | Jacket photograph: spiral stairs © rosmi duaso/Alamy | background © Birute Vijeikiene / Shutterstock | Pemeriksa aksara Eti Rohaeti, Oclivia Dwiyanti P., Aninda Pradita Haryawan | Copyright 2017 | 516 hlm.; 23.5 cm | ISBN 978-602-291-442-6 (softcover) | Skor: 4.5/5

Untuk Mengenang Ibuku

Karawang, 090719 – Eva Mayerhofer – Bend // 130719 – t.A.T.u – All About Us // 160719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Baca juga ulasan Inferno dari Dan Brown

baca

The dark religions are departed & sweet science reigns.

Misteri Rumah Masa Lalu – V. Lestari

Tidak tahukah, Mama rasa takut itu tidak boleh diutarkan? Karena kita jadi semakin takut.” – Kristina

Cerita Penulis janda beranak satu dengan segala kegalauannya. Kubaca tepat seminggu (01/07/19-09/07/19) diantara Alice Though The Looking Glass dan Origin, kisahnya memang tak muluk-muluk. Sesuai ekspektasi roman tahun 1990an dengan segala kesederhanaan teknologi. Sangat ketebak alurnya, cerita seakan adalah pengalamanan pribadi sang Penulis V. Lestari atau memang ini kisah nyata? Ini adalah buku pertama beliau yang selesai kubaca, lika-liku kehidupan pengarang lokal dalam menjalani keseharian. “Kau masih ingat nasihat Mama tentang isi hati orang yang bisa berbeda jauh dari penampilannya?

Yosepin (akrab dipanggil Bu Yos) adalah Penulis yang tinggal di rumah kontrakan Nyonya Samosir di Jakarta, induk semang yang kurang ideal karena suka menaikkan uang sewa rumah, suka bergosip, dan basa-basi yang pahit. Saat ini Yosepin mengalami paceklik ide, keuangan yang sedang turun, mantan suaminya Rahadi yang rese karena sering gangguin. Mereka cerai karena suaminya selingkuh. Ditambah lagi, anak semata wayangnya berusia 15 tahun yang sedang mekar-mekarnya suka gonta ganti pacar. Karena kecantikannya Kristina memang terlihat tomboy, laiknya playgirl. Setelah beberapa kali pacaran dengan teman sekolah sebaya, kini malah pacaran dengan lelaki seusia mamanya. Joko, seorang pekerja kantor berusia 33 tahun, lebih muda dua tahun dari Yosepin! Mereka memanggilnya Om Joko. Gmana ga bikin jantungan? Usia pacar anaknya dua kali lipat! Namun pada dasarnya Kristina baik jadi bisa jaga diri. Sebuah ironi dilontarkan. “Berjanjilah untuk lebih berterus terang mengenai perasaanmu. Kalau kau takut katakan saja. Jangan menyimpan sendiri. Bukankah kita bisa saling memberi keberanian?” Jelas sekali di sini hubungan ibu-anak sungguh erat, dan sang putri menjadi primadoa untuk berbagi, senasib sepenanggungan. Yosepin menyukai istilah kita yang digunakan Kristina. Itu menandakan Kristina menganggap masalah itu sebagai masalahnya juga.

Nah, plot benar-benar bergulir ketika sisa waktu perpanjangan kontrak rumah tinggal beberapa hari, diminta uang panjar buat perpanjang, dengan ancaman penghuni baru sudah mengantri, ia tak punya duit, sehingga mencoba bertahan dan mencari pinjaman, mau bilang ke Rahadi ga enak, karena kalau minta tolong ke mantan suaminya ia memberi angin harapan, Rahadi masih cinta, tapi tidak dengan Yosepin. Minta uang muka buat bukunya ke penerbit, malu. Jelas di sini Yosepin sangat menjunjung tinggi nilai hormat. Mau pinjam bank, takut susah cicil kreditnya. Ketika banyak hal yang dipeningkan bersamaan, muncullah malaikat penolong. Ia bernama Taufik SH, seorang pengacara yang tiba-tiba datang ke rumahnya kasih tahu, bahwa Yosepin dapat hibah rumah di Bogor dari seseorang yang misterius bernama Sasmita. “Lebih baik kita berprasangka daripada terlalu percaya.” Antara curiga dan bahagia, Yosepin menerima hadiah tersebut. Tanpa ketemu sosok yang berjasa, karena sang pengacara terikat sumpah jabatan, ia hanya menjalankan kewajiban. Dan Sabtu itu dengan mobilnya Joko, bertiga mengecek rumah di pinggir kali, di kawasan Gawir, Bogor.

Rumah itu tampak kumuh karena lama tak ditinggali, beralamat di Gang satu nomor dua belas A, yang ternyata adalah nomor 13 yang tabu, angka sial, sehingga nomornya disesuaikan (pintar juga idenya, dibuat mistis). Rumahnya retak-retak, pas ditikungan aliran air sungai kali Ciliwung, sehingga pondasinya dihajar air setiap saat. Dan dari tetangganya bernama Bu Sarma, ia tahu bahwa penghuni sebelumnya Pak Sasmita telah tiada, istrinya meninggal dunia karena sebuah tragedi suatu malam hujan dan badai menyeretnya dalam bencana (nantinya jadi sejenis motif menakuti). Mereka tak memiliki keturunan, tampak sering cek cok, dan musibah itu mencipta kemurungan. Lantas kenapa dia meninggalkan rumah itu begitu saja? Akibat kenangan traumatis? Yosepin karena terdesak keadaan, dan sangat membutuhkan rumah bernaung tak terlalu ambil pusing tentang omongan tetangga yang katanya rumah angker, rumah hantu, rumah yang tak aman, mereka tetap memutuskan pindah. Sekalian cari suasana baru, cari ide baru. Tantangan baru.

Kristina pindah sekolah, ia begitu ceria akan suasana asri pedesaan, kota hujan yang sejuk. Cucu bu Sarma, tetangganya bernama Iwan yang nantinya menjadi teman sekolah karena sebaya jadi akrab dan membantu adaptasi. Rumah dua kamar yang misterius itu mencipta aura janggal, malam pertama Yosepin merasa ada penghuni lain di kamarnya, malam berikutnya ada yang seakan memeluknya, padahal ia sendirian di kamar, Kristina ada di kamar sebelah yang ruangnya dipisah pintu penghubung. Kebebasan itu berbahaya, karena membuat orang kehilangan kendali diri. Jadi jangan cuma berpikir toh, tidak akan berbuat macam-macam. Kita itu manusia yang bisa berbuat salah, tergoda setan. Dan setan itu ada di mana-mana. Dan suatu malam di depan rumah ia melihat laki-laki berpeci mondar-mandir melihat rumahnya, mengawasi, pergi lalu mengamati. Semakin membuat cekam. Semalam ia tidak bisa tidur merenungkan semua. Bagaimana mungkin hal semacam ini bisa terjadi?

Karena dirundung banyak tanya, akhirnya Josepin meminta bantuan Joko untuk menyelidiki masa lalu Sasmita dengan mencari Taufik SH terlebih dulu yang juga misterius karena sudah pindah kantor, lewat iklan baris di Koran, pencarian ala detektif itu membuahkan hasil dan usaha memecahkan identitas sang pemberi rumah serta motifnya, Yosepin juga mencari saudara ibunya yang hilang kontak. Bu Delima yang kini sudah tua, lalu membuka beberapa rahasia keluarga. Nah bagian ini sangat menyentuh hati. Dan betapa mengejutkan ternyata nama Sasmita muncul, jadi bukan karena pemberian gratis dan asal, ada benang yang menghubungkan mereka, ada masa lalu orang tuanya yang mengejutkan, dan hubungan tak restu sampai dosa turunan. Sampai akhirnya suatu malam, rumah masa lalu itu ditempa hujan bertubi yang mengakibatkan longsong, sekali lagi. Akankah mereka selamat? Bagaimana nasib Joko yang terus membantu keluarga ini, apakah benar ada motif tersendiri? Atauakh benar-benar cinta mati kepada Kristina? Bukankah yang nampak pada pandangan pertama ini merupakan tantangan? Bukankah kemandirian itu juga berarti keberanian?

Secara garis besar, cerita ngalir nyaman. Khas tahun 1990an, bagaimana menghubungi penerbit masih dengan telpon meja, surat menyurat, masih butuh printer dengan serba hati-hati cetaknya karena harga kertas mahal. Terima kasih Yahoo! Pencarian alamat seseorang dengan memasang iklan di Koran, keramahtamahan yang masih terjalin di antara warga, tanpa sosmed, tanpa teknologi digital yang mewah. Facebook dan Twitter pun tersenyum. Memang Yosepin sudah menggunakan komputer untuk menulis cerita, sudah mulai meninggalkan mesin ketik. Komputer tidak bisa diperintahkan seperti bos menginstruksikan sekretarisnya.

Komputer generasi awal, yang klasik. Tahun 1995? Hhhmm… yah, simpannya saja masih pakai disket!
Saya sudah bisa menebak ke arah mana kisah ini, ketika hubungan Joko dan Kristina memang tak lazim, sangat janggal. Saya bisa menebak pasti ada sesuatu dengan alasan hibah rumah ini, tapi ga nyangka juga identitas Sasmita yang ternyata punya alasan sangat kuat. Saya bisa menebak, akhir dari kebuntuan ide nulis Yosepin yang tetap saja bisa kejar dealine. Hal-hal semacam ini lumrah, wajar. Dan V. Lestari mengikuti alur rel tebak itu. Memang tak muluk harapan itu, keunggulan novel ini jelas khas manusia Indonesia. Nama-nama Indonesia sekali, Joko, Iwan, Wati, Sasmita, Didit, Taufik Sarma, dst justru menjadikan terasa asli Indonesia. Konflik yang ditawarkan juga seperti rakyat kebanyakan. Ekonomi, cinta, keceriaan remaja, mistisme, dan syukurlah tak ada sara (suku, agama, ras dan antar golongan) yang disinggung sama sekali di sini. Memang sudah sangat pas. Misteri rumah masa lalu menjadi bacaan novel bagus di tengah bacaan sastra yang berat, kumpulan cerpen melimpah, terjemahan dari Eropa Timur sampai non-fiksi yang sungguh melelahkan. Buku sederhana, yang tampak istimewa. Buku ini juga klasik dalam memetakan karakter orang, yang protagonist akan konsisten baik sampai akhir, yang tampak jahat tetap digambarkan di sisi negatif terus, ga ada konflik batin berlebih, ga ada wilayah abu-abu sifat manusia. Betapa kenangan masa lalu bisa menjadi sesuatu yang berharga sekali. Sesuatu untuk dinikmati sekarang.

Apalah arti hidup ini bila kita tidak memiliki ketenangan dan ketentraman. Orang tak bisa begitu saja tidur dan melupakn tanggung jawab atau kewajibannya.

Misteri Rumah Masa Lalu | Oleh V. Lestari | GM 401 01 15 0001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Proofreader Selviana Rahayu | Desain sampul oleh maryna_design@yahoo.com | ISBN 978-602-03-1220-0 | 456 hlm.; 18 cm | Skor: 3.5/5

Teruntuk Ikka Vertika dan Meilani

Ariobimo Jakarta, 110719 – Roxette – Milk and Toast and Honey

Parasite: Kolaborasi Jahat Orang-Orang Miskin

Kebudayaan adalah parasit mental yang muncul secara tidak sengaja, dan sesudahnya memanfaatkan semua orang yang terinfeksi olehnya.” – Karl Marx

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Catat, saya ga kenal semua cast and crew film ini. Saya sangat awam film Asia, termasuk dari Negeri Gingseng. Hanya sesekali lihat, salah satu yang menancap di kepala adalah megahit: Oldboy yang ternyata bagiku biasa saja. Kalian harus mencium banyak kodok sebelum menemukan seorang pangeran. Saya belum banyak mencium kodok Korea, jadi rasanya wajar saya tak menemukan pangeran di sini. Selamat datang di dunia Bong, di mana sedetik setelah tertawa kalian bisa mengeluarkan air mata kesedihan.

Nah, Parasite ini hype-nya lebih gila. Era sosmed membantu mempromosikan segala puja puji. Daun-daun ditempel di banyak sisi poster film seakan jaminan film bermutu. Kisahnya tentang keluarga miskin yang mendamba kehidupan mewah. Kemiskinan orang pinggiran yang lazim kita temui di bantaran kali Ciliwung di Jakarta itu kita dapati juga di Korea Selatan. Satu keluarga terdiri sepasang suami istri dan dua anak. Mereka pengangguran semua. Kerja serabutan untuk bertahan hidup. Cerita dibuka betapa kere-nya. Wifi gratis hilang, ada kecoa ketika ada semprot asap jendela tetap dibuka agar dapat asap gratis, kerja melipat bok pizza malah sebagian besar rusak, ada gelandangan yang hobinya pipis di depan rumah mereka. Ah gambaran jelata yang sempurna. Gambaran orang susah yang pantas untuk diangkat dalam komedi satir.

Catat lagi ya, ekspektasi saya sangat tinggi setelah film ini memenangkan Cannes Film Festival tahun ini, gempitanya luar biasa. Palme d’Or tayang bisokop lokal woy! Saya sampai bilang ke May sebelum mulai, “Kamu bisa berharap banyak ke film ini.” Harga dianggap sebagai tanda kualitas. Siapa yang meragukan Cannes? Di semua lini media menyerang kita, bilangnya penuh pujian kudus, sebagus itu, wow, brilian, film of the year dan masih sangat banyak lagi. Hampir-hampir menyatukan kaum snob dan fan film ledakan. Nyaris semua kalangan bilang keren, sekali lagi nyaris. Dari sineas kenamaan Joko Anwar, rekan sejawat twitter, Grup WA Bank Movie sampai direkap dan semua satu suara, sekali lagi nyaris satu suara. “Twitter dan Facebook membantu saya untuk memutuskan apa yang dipedulikan orang.” Kata Winstead, dan ini mencipta gelombang optimis. Gelembung pecah dalam antusiasme membuncah. Setelah (tidak) ditunggu tiga hari, akhirnya muncul di bioskop Karawang. Awalnya mau nanti-nanti saja, nunggu sabda Lee, lha istri malah confirm ikut. Jadinya kita titipkan Hermione ke rumah nenek, berduaan kita bermalam Jumat (27/06/19) di bioskop. Hiks, ga niat nonton di hari pertama. Malah mendadak duduk dalam sekap di malam pertama tayang di kota tercintah.

Suatu hari seorang kawan yang mapan dan tamvan (diperankan exclusive oleh bintang Seo-Joon Park – yang katanya terkenal dan bikin histeris seisi studio), teman Ki-woo (Woo-sik Choi) ini datang. Memberi hadiah sebuah batu bertuah yang disebut bernilai seni. Batu itu katanya, adalah batu keberuntungan. Ada aura positif yang dipancarkan. Dan ternyata kedatangan si tamvan selain kasih hadiah juga menawarkan pekerjaan. Ia akan kuliah keluar negeri. Ketika menghadapi ketidakpastian, biasanya muncul naluri pertamanya menolak sesuatu yang baru, dan mencari-cari alasan mengapa konsep yang tak biasa itu bisa gagal. Ki-woo walaupun tampak meragukan, ia malah mengambil kesempatan itu. Menjadi guru les pengganti. Ijazah yang dipalsukan lewat photoshop yang jadi keahlian sang adik. Ki-jung (So-dam Park). Ketika satu orang sukses masuk istana tertutup itulah, ia membawa gerbong lainnya. Tak sekadar satu tipuan tertentu yang mencari paparan seni. Seni menipu kemudian menjadi sumber penghasilan yang dahsyat. Sang adik menjelma guru seni buat si bungsu. Lalu berikutnya ayahnya, Ki-taek (Kang-ho Song) menjelma sopir Mr Park (Sun-kyun Lee) yang nantinya menjadikan sang istri (Hye-jin Jang) pembantu sang nyonya rumah Yeon-kyo (Yeo-jeong Jo). Lengkap sudah, kolaborasi jahat orang-orang miskin. Saat keluarga Park liburan keluar kota, berencana menginap, maka secara otomatis keluarga miskin ini menjadi tuan rumah semalam, pesta pora siap digelar hingga sebuah bel rumah berbunyi di malam badai tersebut. Membuyarkan segala halu yang sudah disusun. Sumber daya ekonomi paling penting adalah kepercayaan akan masa depan, dan sumber daya ini terus-menerus terancam oleh para penipu.

Sutradara Rusia Contantin Stanislavski bilang bahwa dalam akting permukaan, aktor tak pernah larut dalam perannya. Mereka menyadari keberadaan penonton dan penampilannya tak bisa otetik. Akting permukaan, “tak pernah menghangatkan jiwamu dan merasuk ke dalam perasaan manusia yang sensitif dan dalam tak bisa diperlakukan dengan teknik semacam itu.” Rasa percaya diri berlebih mungkin cenderung sulit diatasi di wilayah kreatif. Tips menonton film sederhana. Kalian menyadari kondisi bahwa kalian datang untuk menilai acara itu, tidak untuk merasakannya. Akibatnya sejak kalian duduk kalian sudah menghakiminya. Jangan, kalian akan tetap menemukan kejanggalan sekalipun dari pemenang Cannes. Duduk, nikmatilah. Tak pernah ada masalah dengan ide aneh.

Pesulap senang mengelabuhi penonton, tetapi yang terpenting baginya adalah membuat sesama pesulap bingung. Ending Parasite jelas menimbulkan interpretasi beragam. Sebagian membuat bingung, dan muncul kata ‘mengapa si A membunuh si B’, ‘mengapa si itu malah kabur ke sana?’, ‘mengapa dia ketawa adiknya tewas’, dan seterusnya. Ya, mengapa? Mengambil resiko menjadi lebih menarik saat dihadapkan pada kerugian pasti jika diambil. Bayangan kerugian pasti mengaktifkan ‘system go’. Hal ini saya rasakan saat ‘Jessica’ tercinta berdarah. Lihatlah tatapan marah seorang ayah yang menganalisis cepat segala tragedi ini.

Saat mendapatkan pengetahuan di suatu bidang, kita terpenjara oleh prototipe kita sendiri. Memperkuat kesimpulan mereka bahwa situasi ini harus dirubah. Secara bersamaan berkepala panas dan dingin. Kepala panas, menghasilkan tindakan dan perubahan; kepala dingin membentuk tindakan dan perubahan dalam bentuk yang bisa diterima dan dilaksanakan. Ini situasi genting. Dan seperti kata sang ayah dalam kamp pengungsi bencana: rencana terbaik ya tanpa rencana.

Bergaul dengan orang berada di rumah mereka laiknya tinggal di kamp fantasi bola. Kamu merasa diri hebat hingga tiba giliran untuk memukul bola, kamu tak hanya gagal memukul, bahkan melihat bolanya pun tidak bisa. Keluarga miskin ini sadar bahwa mereka bukan kalangan jetset, mereka hanya memainkan kamuflase, ya yang paling menyedihkan bagiku adalah saat Ki-woo dalam adegan ciuman di lantai atas menyaksikan orang-orang kaya ini berpesta ulang tahun di kebun yang sejatinya mendadak saja tampak anggun. Tidak, kamu tidak bisa bicara dengan bahasa yang sama. Barangkali kemiskinan sosial tidak akan pernah bisa dihapus, tapi banyak di Negara maju kemiskinan biologis jadi masa lalu. Benarkah?

Dalam Budha asas pertama adalah “Kesengsaraan ada, bagaimana meloloskan diri darinya?” Dalam Parasite jelas sekali, mempertontonkan menjadi penipu ga papa, asal kita bisa lolos dari jerat kemiskinan, yang ternyata menghuni nyaman di tubuh inang memberi konsekuensi tragis. Siapa sangka ada parasite lain yang bisa saling tikam? Kalian terkejutkan? Saya juga. Film menjelma hebat saat bel malam hujan deras itu berbunyi, mengacaukan segalanya. Membunuh tawa penonton, mencipta banyak kerut di dahi, lalu mencoba filosofis dengan menampar kepahitan hidup dalam teori sebab-akibat. Kemiskinan, penyakit, tua, pengangguran, sampai kematian bukanlah takdir tak terhindarkan manusia. Mereka adalah buah ketidaktahuan kita. Sebab-akibat. Tirai kesenyapan sedemikian tebal sehingga kita bahkan tidak bisa merasa yakin bahwa hal-hal semacam ini terjadi – apalagi menjabarkan secara rinci.

Perbedaan nyata antara kita dan keluarga milyuder adalah mitos pelekat yang menyatukan individu, keluarga, dan zonasi masyarakat. Pelekat itu telah menjadikan keluarga Park tampak elok dipandang. Kalian pasti ikut melongo ketika pertama kali sang guru les matematika masuk ke dalam rumah istana calon bos guna hanya menjadi pengisi waktu tambah belajar. Ekspresi spontan katro itu mencipta ide jahat, kesenjangan, dan rasa ingin, harapan karena ada peluang. Lebih baik berbisnis dengan orang-orang ‘rekomendasi’ ketimbang berjudi dengan alam. Padahal kita tak tahu rantai rekomendasi sendiri ternyata memutar lalu melilit leher, semua terlambat. Referensi tak ubahnya koalisi jahat, di mana kita menyerahkan pisau dengan ujung tajam menghadap diri sendiri.

Jadi sangat wajar selepas keluar biskop May complain. Filmnya sudah bagus di awal dan memberi akhir yang mengecewakan. Kita maklumi karena dia memang penikmat sinetron Cinta Buta-nya Nikita Willy jadi akhir kisah yang menyedihkan rasanya belum bisa diterima. Saya, justru sebaliknya. Saya kecewa di awal sampai terdengar bunyi bel rumah itu, komedinya terlihat konyol. Sekeluarga ditipu sekeluarga, orang-orang kaya dan berpendidikan dengan mudahnya terpedaya, tunggu dulu karena kita sudah sepakat tak banyak cari plot hole, bisa kita lewati sahaja. Film menjadi thrilling ketika palu kejutan pertama ditabuh bahwa ada parasite lain yang menghuni inang, dan sampai ending, inilah bagian terbaik film. Sebuah replacement, sebuah ironi, sebuah tragedi.

Namun bukan produk yang menciptakan nilai. Konsumenlah yang menciptakannya. Konsumen Parasite sedang sakaw. Film drama? Komedi? Horror? Thriller? Saya lebih suka menyebutnya ironi-komedi! Kita terlalu gembira akibat momen eureka atau kemenangan karena berhasil mengatasi hambatan. Parasite jelas bukan film biasa, tapi belum bisa disebut menjadi yang terhebat tahun ini. Dia kaya sehingga dia baik. Atau dia baik karena dia kaya. Karena kalau kita kaya kita juga akan seperti mereka.

Ada arogansi yang menemani kesuksesan.

Parasite | Year 2019 | Directed By Joon-ho Bong | Screenplay Joon-ho Bong, Jin Won Han | Cast Kang-ho Song, Sun-kyun Lee, Yeo-jeong Jo, Woo-sik Choi, So-dam Park, Hye-jin Jang, Seo-Joon Park | Skor: 4/5

Karawang, 280619 – Sherina Munaf – Lihatlh Lebih Dekat // 060719 – Boyzone – No Matter What

Kamis Yang Manis #30

Orang-orang berubah, digantikan dengan orang baru. Dan Tuhan mengetuk-etuk diriNya dalam banyak cara.” Mack

Kau bisa menilai banyak hal dari cara berjalan. Akhirnya event #30HariMenulis #ReviewBuku ada di penghujung juga. 30 buku, 15 dari Penulis lokal dan 15 terjemahan selesai kuulas dalam 30 hari selama bulan Juni. Ini adalah perayaan kelima sejak 2015. Konsisten, dan terus diperbarui. Sebenarnya malah sangat banyak yang pengen kukejar menuntaskan ulas buku, tapi tetap di bulan ini sesuai target. Hufh… #HBSherinaMunaf #HBDNikitaWilly

Siapa yang tahu apa yang tertidur di kedalaman pikiran seseorang? Siapa yang tahu apa yang diinginkan seseorang?”

Fresh from the oven. Ini tidak baru. Setan gunakan matamu.

Buku ini terbit bulan Maret, dan saya selesaikan baca di bulan April 2019. Sempat mau langsung kuulas, tapi ternyata kegilas buku lain. Bulan puasa tiba dan akhirnya terendam. Ekspektasiku terhadap John Steinbeck ketinggian, memang laik tinggi sih, buku ini happy ending dengan terlalu manis, kebanyakan gula, makanya kurang sreg bagiku mengingat beberapa buku lain yang sudah kubaca. Tak ada di dunia ini yang seperti Suzy. The Pearl, Of Mice and Men yang memberi akhir sangat mengejutkan. Ini adalah buku sekuel, saya sendiri belum membaca seri satu, Cannery Row. Namun ga masalah dah biasa saya diterjunkan langsung di tengah permasalahan. “Aku mungkin akan menghilang. Aku menyimpan kegelisahan dalam diriku, aku mungkin akan menghilang.

Ceritanya tentang orang-orang di daerah Cannery Row dengan kegalauan masing-masing. Fokus utama sejatinya ada di Doc yang seorang ilmuwan nyentrik yang jomblo akut, yang ada di pemikirannya adalah ilmu pengetahuan, percobaan penemuan tentang fauna laut, dan hobinya nongkrong di laboratorium itu menyita banyak sekali daya dan waktu. Perubahan bisa jadi diberitahukan oleh sedikit rasa sakit, sehingga kau sedang terserang flu. Mengorbankan banyak hal. Maka dimunculkan karakter cantik yang mencoba mendobrak kerasnya hati. Suzy. Misalnya Doc mengatakan sesuatu dan kau tidak tahu apa artinya. Tanyalah! Hal paling baik di dunia yang bisa kau lakukan untuk sembarang orang adalah membiarkannya membantumu. Suzy sebagai pendatang memberi angin segar, dan diciptalah konspirasi ‘comblang’. Sendiri dia merenung, bukan tentang kelemahan Doc, tetapi tentang penghianatan teman-teman Doc yang mempertanyakannya, siapa yang berani mempertanyakannya. Sepanjang 400 halaman kalian akan disuguhi cinta mereka, dengan banyak kalimat filosofis. “Aku mencintai kebenaran, bahkan jika kebenaran itu menyakitkan. Bukankah lebih baik mengetahui kebenaran tentang seseorang.” Cinta monyet untuk para senior. Suzy yang diletakkan dalam posisi kasih. Jika seorang laki-laki mengatakan sesuatu yang menarik perhatianmu, maka jangan menyembunyikan itu darinya. Semacam mencoba untuk membayangkan apa yang sedang dia pikirkan alih-alih kau akan menjawabnya.

Dan seperti judulnya yang manis, endingnya juga sangat manis. Jika aku tak bisa mendapat keberanian dari keagungannya, dia berpikir, aku sebaiknya menyerah. Tak seperti dua buku Steinbeck sebelumnya yang sudah kubaca, jelas ini keluar jalur. Tak seperti harapanku. Sebuah kejadian tidak perlu merupakan kebohongan jika ia tidak perlu terjadi.

Apakah aku sudah cukup kerja? (1) Apakah aku sudah cukup makan? (2) Apakah aku sudah dicinta? (3) Adalah tagline di kover warna orange ini. Cukup mewakili hati yang terasing yang mendamba kenyamanan, cukup untuk menampar jiwa yang egois. Pernahkah kau tahu orang-orang yang sangat sibuk dengan kepandaian mereka sampai tidak punya waktu untuk melakukan hal yang lain?

Kisahnya tentang persahabatan Mack dan Doc, ini kisah antara, ini kisah yang menghubungkan nasib orang-orang di sekeliling mereka. Jangan berbangga diri dan mengatakan bahwa kau tidak membutuhkannya atau menginginkannya. Itu adalah tamparan ke pipi. Hal yang disukai orang di dunia adalah memberimu sesuatu dan melihatmu menyukai dan membutuhkannya. Itu bukan sifat rendahan.

Suka banget dengan kalimat ini. “Salah satu penyakit di zaman kita adalah mendakwahkan bahaya pada orang-orang sepertimu yang khawatir dan tergesa-gesa. Orang yang tidak berpikir bahwa dunia akan berakhir adalah orang yang berbahaya.” Menampar kita, cocok untuk semua era sebenarnya, tapi sangat pas di saat ini. Waktu esok seolah sangat panjang, well tak ada yang tahu kan?! Lalu kalimat ini juga cukup keras memukul kita. “Orang-orang tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka harus didorong. Ada orang yang dalam pikirannya tidak ingin menikah, tapi menikah juga.” Banyak temanku yang di usia sangat matang, belum menikah karena menikmati masa lajang. Banyak pula yang sudah menikah tapi malah mendamba masa lajang, mengingat waktu lalu yang sudah lewat. Ironi kehidupan. Itu hanya akan menjadi jalan palsu lainnya sebuah rasa frustasi baru. Lalu kalimat “Aku ingin menyumbang pada ilmu pengetahuan. Mungkin itu adalah pengganti bagi keinginan untuk menjadi ayah buat seorang anak. Sekarang, sumbanganku bahkan jika ia keluar, sepertinya masih lemah.” Ini juga menjadi pertanyaan semua umat manusia, hidup ini apa? Berguna bagi orang lain? melakukan penemuan-penemuan untuk kenyamaan umat masa depan? Lalu apa? Pahit, kawan! Lihatlah setiap kekacauan yang pernah kau dapatkan dan kau akan menemukan bahwa lidahmulah yang memulai.

Tahun 2019 ini saya mulai menikmati musim Jazz, indah banget ternyata aliran musik ini. Maka pas bagian ketika salah satu karakter mendengarkan ‘Stormy weather’ by Cacahuete saya langsung menyalakan musiknya, teduh dalam badai, saya tahunya lagu jazz ini dinyanyikan oleh Lena Horne dengan instrumen terompet yang dominan. Dari musik tidakkah keinginan-keinginan dan kenangan-kenangan terbentuk?

Saya belum sempat browsing, apakah benar ada novel berjudul ‘Akar Pi Oedipus’? Rasanya memberi tautan untuk turut menikmatinya. Ujaran tentang ledakan penduduk, banyak anak banyak rejeki tapi intaian kemiskinan ada. Sudah banyak yang mengulas, tapi masih tetap keren ketika Steinbeck yang menulis. Populasi meningkat dan produktivitas bumi menurun. Dan pada masa depan yang teramalkan kita akan tercekik oleh jumlah kita sendiri. Hanya pengendalian kelahiran yang bisa menyelamatkan kita, dan itu adalah satu hal tak akan pernah dipraktikkan umat manusia.

Kutipan indah tentang sabar muncul pula kala ada kegaduhan. “Cara terbaik di seluruh dunia untuk membela dirimu adalah dengan menjaga tinjumu tetap di bawah.” Atau yang ini “Untuk rasa sakit atau frustasi manusia punya banyak obat, tapi tak satupun obat itu adalah amarah.” Karena semua orang tahu kau hanya membodohi dirimu sendiri. Kau tidak akan menulis makalah itu karena kau tidak bisa menulisnya. Kau hanya duduk di sini seperti seorang anak kecil yang bermain-main dengan harapan.

Aku sepertinya takut. Sesuatu semacam teror mendatangiku ketika aku memulai. Sejatinya Doc memang dikelilingi orang-orang yang penuh kasih. Saling membantu, saling mengisi, Minggu ke gereja, malam ngopi di kafe, hari kerja yang riang, dan kenyamanan di laboratorium yang tak terperikan. Mitosnya adalah laut, angin dan ombak pasang dan dia menghubungkan mereka semua dengan mengumpulkan binatang. Dia membawa harta karunnya ke dalam laboratorium. Bersikap tenang untuk diri sendiri membuatnya tenang dalam menghadapi dunia. Lalu apa masalahnya? Bukankah ini adalah akhir yang bahagia? Ya, sejatinya sudahlah ditutp saja. Ratusan halaman kalian akan disuguhi cerita yang indah-indah, sementara syarat buku yang bagus salah satunya harus ada konfliks berat. Enggak ada di sini. Doc yang menghadapi hari-hari ceria di tengah masyarakat yang ideal. Ternyata, konfliks yang diharap itu adalah cinta. Ahhh… dari Pemenang Nobel Sastra, kita diajak bercinta. Memang bukan sembarang cinta karena karakter utama sudah tak muda lagi. Doc dicomblangkan, didesak, dan bahkan sampai dipertaruhkan dengan Suzy agar coba bersama. Dan yah, sweet thursday itu mewujud nyata. Walau sesekali ada masalah, poinnya adalah happily ever after. Doc menemukan belahan jiwanya. Cukup. Siap jadi presiden?

Kelebihan utama buku ini bukan pada cerita, tapi kedua hal: pertama sifat para karakter yang unik. Selain penamaan yang aneh, mereka juga memiliki kebiasaan tak lazim. Sungguh bagus memberi kegiatan para tokoh dengan tindakan tak wajar. Semua karakter yang dicipta bagus banget membawakan perannya. Kedua, sekalipun ini buku cinta yang terlambat, pembawannya tak cemen. Tak melow, tak mendrama berlebihan. Kisah cinta yang dituliskan dengan rasa dewasa. Kapan lagi kalian baca buku cinta yang menawarkan alur berliku? “Aku membutuhkanmu, aku akan tersesat tanpamu.” Ehem… Sekalipun tujuan utama pada akhirnya bisa disentuh, liku labirin itu sangat seru. Dan kalian pasti ikut bahagia atas kebahagiaan tokoh favorit. Nama-nama yang bagus: Mack, Doc, Hazel, Joseph and Mary (satu orang), Lee Chong, Suzy, Fauna, Whitney No. 2, Old Jingeballicks, dan seterusnya.

Terjemahan Basa Basi bagus banget. Beberapa istilah yang masih rumit diberikan catatan kaki, semisal. “Ini semisal ‘whatcha-macallit’ yang artinya ‘pembicaraan tentang orang yang namanya tak bisa diingat.’ Atau “Veritas in vino” adalah idiom Latin yang artinya ‘kejujuran dalam anggur’ yang bermaksud orang akan jujur ketika mabuk. Hal-hal yang sangat membantu mengimaji tanya. Beberapa masih ketemu typo, tapi dalam 400 halaman rasanya salah ketik tak lebih dari sepuluh kata adalah lumrah. Sebagai terjemahan Bahasa Indonesia pertama ‘Sweet ThursdayBasa Basi termasuk sukses menghantarkan kisah Doc. Salute!

Aku benci hukum yang menahan kemurahan hati dan menjadikan amal sebagai ladang bisnis.Dia sedang mengalami perubahan yang sangat mendalam sampai dia sendiri tidak menyadari perubahan itu sedang terjadi.

Di antara semua angan-angan muram kita, perasaan bersalah adalah yang paling penuh liku, paling jenaka dan paling menyakitkan. Ah penyataan yang manis, “Aku tak utuh tanpanya. Aku tak hidup tanpanya. Ketika dia bersamaku aku merasa lebih hidup dibanding sebelumnya, dan tak hanya ketika dia merasa senang saja.” Suzy yang bahagia, Pembaca yang bahagia, penduduk Cannery Row yang suka cita. Mencoba untuk melepas dari proses berpikir meskipun berpikir adalah pekerjaan manusia yang paling bermanfaat.

Dia pernah kuliah – dia sudah membaca begitu banyak buku sampai aku tidak bisa menyacah mereka – dan bukan komik juga. “Ketika kau membuat rencana, langit runtuh ke ekormu.” Henry Penny. Ah hidup ini… Seseorang berteriak untuk mendapatkan perhatian di dalam dunia yang tak terpersepsi atau mungkinkah bahwa kebahagiaan pamungkas manusia justru adalah rasa sakit? Mari ngopi.

Kamis Yang Manis | By John Steinbeck | Diterjemahkan dari Sweet Thursday (renewed edition) | Terbitan Penguins Books, New York, 1982 | Penerjemah Hari Taqwan Santoso | Editor Tia Setiadi | Pemeriksa aksara Daruz Armedian | Tata sampul Sukutangan | Tata isi Rania | Pracetak Kiki | Cetakan pertama, Maret 2019 | Penerbit Basa Basi | 400 hlmn; 14 x 20 cm | ISBN 978-602-5783-82-1 | Skor: 4/5

Karawang, 130419 – Michael Jackson – One Day in Your Life || 300619 – Melody Gardot – Worrisome Heart

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day30 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Jokowi, Sangkuni, Machiavelli #29

Jokowi adalah konstruksi media. Dalam kesadaran ini, para penasihat, pembisik, dan Jokowi sendiri mesti ‘memberi makan’ media dengan materi berita yang disukai hari-hari ini.”

Ini adalah buku kumpulan esai kedua Bung Seno Gumira Ajidarma yang kubaca setelah Tidak Ada Ojek Di Paris. Isinya sama, tulisan beliau di berbagai media, disatukan dan bumbuhi keterangan lengkap pustaka. Kalau obrolan Tidak Ada Ojek tentang kota metropolitan dan kehidupan kaum jelata, kali ini beliau mengambil tema politik. Banyak banget yang ingin disampaikan seolah, tema beragam. Mungkin judulnya yang agak provokatif dengan menyandingkan Pak Presiden dengan dua tokoh jahat.

Sulit bersikap tegas terhadap saudara dan kawan sendiri jika mereka bersikap korup dan merugikan orang banyak.

Tentu saja ini tergolong nepotisme, yang dalam aristokrasi feudal, sahih sajalah adanya.
Secara teoritis, feodalisme sebagai ideology sudah ditinggalkan, dalam praktiknya, nepotisme dan kroniisme adalah bukti kehadiran feodalisme.
System nilai adalah istilah lama saja dari pengertian wacana.
Bedanya, pada Gus Dur kata-katanyalah yang menarik sebagai hiburan sensasional; pada Jokowi tindakannyalah yang diikuti dengan hati riang, seolah-olah karena mampu membereskan Tanah Abang, pasto akan mampu juga membereskan segalanya. Setelah dikecewakan 1.001 pejabatm politikus dan wakil rakyat yang memble, muncullah Jokowi bagai jawaban 1.001 harapan.
Referensi terhadap wayang ini menunjukkan, dunia politik Indonesia di zaman baru tetap berorientasi kepada dunia lama.
Batara Wisnu, yang dalam Bhagavad-Gita berkata kepada Arjuna, “Engkau hanyalah alatku.” Bhatara-Yudha adalah scenario yang ilahiah sifatnya, tempat Kresna menjadi pawing yang harus menjaga kodrat setiap orang.
Klasifikasi calon presiden: (1) pemimpin etis, (2) pemimpin merakyat (3) pemimpin nanggung.
Barangkali penting bagi kebahagiaan pendukungnya – artinya mempunyai dampak ‘spiritual’, tetapi tidak memberi akibat konkret dalam kehidupan praktis, karena sepak bola jika dikembalikan kepada ‘hakikat’-nya (astaga!) memang adalah ‘main bola’ (baca ketrampilan memainkan bola dengan kaki) sahaja, meski bertatapan dnegan dunia bisnis.
Boleh diamati, seberapa jauh Prabowo telah berkomentar tentang Wiranto dan seberap ajuh Wiranto telah berkomentar tentang Prabowo di media massa.
Dalam situasi itu, seorang Golput dapat mengatakan dirinya sebagai ‘berpolitik dengan cara tidak berpolitik’, sedangkan yang tidak mencoblos karena malas cukup dikatakan sebagai ‘tidak berpolitik’. WIRANTO Soekita (1929-2001) ternyata –dalam klasifikasi saya- mengajukan tiga kategori, yakni (1) berpolitik, (2) terlibat dalam politik (3) tidak berpolitik.
Narsisme teracu kepada pemuda Narcissus yang dikisahkan Ovid, penyair Romawi yang hidup dalam masa kekuasaan Kaisar Augustus (63 SM – 14 SM). Peud atampan yang sellau menolak cinta itu, terkutuk untuk mencintai bayangannya sendiri di permukaan kolam, da akan tersiksa begitu rupa sehingga hanya kematian bisa membebaskannya [Hamilton: 1961 (1940), 87-8]. Cerita ideologis sebagai cinta kepada diri sendiri melebihi cinta kepada siapa pun, sehingga disebut narsisisme.
Kewasdaan Troya. “Aku takut kepada orang Yunani, meskipun ketika mereka memberi hadiah.” – Pendeta Laocoon.
Nilai etis prinsip kemenangan adalah segalanya, jelas lebih rendah nilainya daripada sikap terhormat dalam kekalahan.
Pendekatan persuasif dalam mencapai tujuan, dengan hasil akhir win-win solution – yang kadang terdengar rada-rada munafik.
Mao Zedong: mundur selangkah untuk maju beberapa langkah.
Terdapat tiga strata social dalam pewayangan. Strata tertinggi adalah dewa-dewa, strata di bawahnya adalah para kesatria, dan strata terbawah adalah rakyat jelata, yang terwujud dalam punakawan. Di antara para dewa dan kesatria terdapatlah ‘strata antara’ yakni manusia setengah dewa, yang meskipun bertubuh manusia, tetapi tingkat kesuciannya setara – jika tidak melebihi – dewa, yang dikenal sebagai para Begawan ahli rupa. Adapun para raksasa sebagai anasir kejahatan adalah oposisi abadi terhadap semua strata.
Jokowi tidak pernah berhasil ngibul: sekali wagu tetap wagu. Ndeso.
Pengalaman sebagai pedagang pun membuat ia sulit dikibuli pedagang lain.
“Jangan dikira saya ini tidak bisa tegas. Saya juga bisa tegas.” Meskipun diucapkan dengan nada datar, saya menyarankan tidaklah terlalu perlu untuk coba-coba mengujinya.
Apa bedanya badut politik dengan badut biasa? Ternyata bukan berbeda, tetapi bertentangan. Jika badut biasa nilai tambahnya jelas, yakni memberikan hiburan, dan karena itu dibutuhkan, maka kehadiran badut politik sangat memprihatinkan.
Kuasa adalah suatu bnetuk tindakan atau hubungan antarkhalayak, yang pada setiap persentuhannya bernegosiasi, sehingga karena itu tiada akan pernah tetap dan stabil. Orde Baru membangun berhala baru yang bernama ‘stabilitas’.
Politik praktis, politik dalam pengertian sempit, yang urusannya adalah seberapa banyak mendapat massa terpilih, kursi di parlemen, dan jago-jago partai menjadi menteri, syukur-syukur menjadi presiden plus wakilnya.
Dalam buku taktik catur 1001 Winning Chess Sacrifices and Combinations penjelasan ‘zugzwang’ adalah ‘compelled to move’ atau ‘dipaksa untuk bergerak’, adapun penjabarannya: suatu posisi ketika seorang pemain tidak terancam, tetapi hasilnya adalah kerugian baginya pada saat bergerak.
Situasi zugzwang adalah situasi yang snagat sulit diatasi: harus bergerak, tetapi ancaman menjadi nyata justru karena pergerakan itu sendiri.
Dalam buku How Not To Play Chess: sebelum mengajari orang-orang menjadi suci dan sufi, adalah lebih baik menunjukkannya bagaimana menghindari dosa.
Kapan seseorang tidak harus berterusterang? Itu terjadi jika suatu pesan berpeluang, atau bisa dipastikan akan menimbulkan persoalan apabila disampaikan dengan terbuka, tetapi yang tetap mendesak untuk disampaikan. Pada saat itulah dibuthkan kata-kata bersayap. Dengan begitu kata-kata bersayap bukanlah sekadar sindiran, melainkan terdapat factor ungensi di dalamnya.
Mereka adalah pribadi yang tidak tertarik kekuasaan, kekayaan, maupun status social, karena bagi mereka kebahagiaan terdiri atas pengetahuan atas kebenaran.
Membuat catur lebih terbandingkan dengan politik daripada permainan lain, dan secara social lebih istimewa. Seolah dengan menjadi pemain catur sama belaka dengan menjadi ahli strategi dalam kehidupan politik.
Mereka yang berotak unggul dan memilih jadi pecatur di Uni Soviet sebetulnya melarikan diri dari kenyataan, karena hanya di atas papan catur yang disebut peraturan bisa dipegang teguh (Rand, 1982: 52-7).
Jika ia menyukai film, bukanlah melulu karena tergiring arahan pembuatnya, melainkan karena bermakna bagi diri dan kehidupannya, demi kepentingannya sendiri. Jadi makna bagi pemirsa, bukan konsumsi melainkan produksi.
Kekuasaan harus dibatasi, tidak seumur hidup. Karena kekuasaan absolut selalu melakukan korupsi terhadap rakyat, dnegan cara mengubah rakyat menjadi kawan dan partisan.
Anarkisme adalah gerakan politik yang menuntut penghapusan Negara, mengganti semua bentuk otoritas pemerintahan dengan persekutuan bebas, dan kerja sama kelompok maupun pribadi secara sukarela.
Bersama Verheijen, saya juga setuju: “Kecintaan saya terhadap tumbuhan dan hewan cukup besar, tetapi kepentingan manusia harus didahulukan.”
Patriotism dalam politik tak pernah kekurangan dimensi.
Tubuh manusia dibentuk oleh norma-norma kesehatan, gender, dan keindahan. Tubuh secara konkret dibentuk oleh diet, olahraga, dan intervensi medis.
Kesemuan itu jadi berganda, karena politik identitas sendiri secara teoritis adalah pengingkaran terhadap fakta, bahwa dalam situasi pascamodern, identitas selalu sekaligus kenergandaan identitas.
Seperti telah diketahui bersama, dalam politik kata rakyat paling sering dieksploitasi, dimanfaatkan, dipinjam, diatasnamakan, maupun diputarbalik.

Pemimpin yang ideal adalah yang bebas dari kontrak politik, karena dukungan partai yang mana pun tidaklah mungkin dilakukan tanpa kepentingan.

Jokowi, Sangkuni, Machiavelli | Oleh Seno Gumira Ajidarma | copyright 2016 | Cetakan pertama, September 2016 | Penerbit Mizan | Desainer sampul Dodi Rosadi | 216 hlm.; 21 cm | ISBN 978-979-433-977-0 | Skor: 3.5/5
Untuk Nagalangit dan Lautan Cahaya

Karawang, 300419 – Brian Adam – Heaven // 290619 – Sherina Munaf – Click Clock

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day29

Originals #28

Saya bangun pagi dan terbelah antara keinginan untuk memperbaiki dunia atau menikmati dunia. Ini menyulitkanku membuat rencana hari ini.”E.B. White

Para psikolog menemukan ada dua jalan menuju keberhasilan: konformitas dan originalitas. Konformitas artinya mengikuti orang kebanyakan di jalur konvensional dan menjaga status quo. Originalitas memilih jalur yang jarang dilalui, memperjuangkan ide baru yang melawan arus, tetapi akhirnya membuat segala sesuatu menjadi lebih baik. Tentu saja dari judulnya kita sudah tahu, buku ini mengupas banyak sekali hal di poin kedua.

Buku yang sangat bervitamin. Untuk menjadi original ternyata justru diminta untuk lebih berpikir sederhana, ga usah muluk-muluk. “Dalam hal gaya, ikutilah arus. Dalam hal prinsip teguhlah sekukuh karang.” Banyak ide fresh di antara kita, di sekeliling kita. Saya baca buku ini akhir tahun lalu, sebagai buku penutup rangkaian #2018lazionebudybaca, iseng menghitung, saya terhenti di angka 110. Sempat pula kumau ulas, ketik panjang lebar, tapi malah awal tahun ada tragedi yang membuatku pilu dan istirahat dari banyak hal. Nah, baru sempat lagi lanjut ketik ulas di momen #30HariMenulis ini. Mendekati akhir. Kebiasaan, aturan agama, dan hukum itu sebenarnya dibuat oleh manusia dan karenanya bisa dirubah. “Mari kita jadikan tahun mendatang berarti. Terasa energi yang tak mungkin diciptakan oleh band rock. Setiap orang ada tugas penting yang harus dilaksanakan.

Ciri khas originalitas adalah menolak status qou dan mencari jalan pilihan yang lebih baik. Titik awalnya adalah keingintahuan: memikirkan secara mendalam mengapa sesuatu yang default itu ada pada mulanya. Kita terdorong mempertanyakan hal yang default saat mengalamai vuja de, kebalikan dari de javu. Déjà vu terjadi saat kita menemui sesuatu yang baru, tapi rasanya kita pernah melihatnya sebelumnya. Vuja de, kita menghadapi sesuatu yang familier tetapi kita melihatnya dengan sudut pandang baru yang membuat kita mendapatkan wawasan baru untuk masalah lama. Sudah lama para ilmuwan sosial tahu bahwa kita cenderung terlalu percaya diri saat menilai diri sendiri. Banyak orang gagal menciptakan originalitas karena mereka menghasilkan sedikit ide dan kemudian terobsesi untuk mengasahnya agar sempurna.

Ia akan mencerahkan, menginspirasi, dan sekaligus mendukung Anda. Banyak contoh dipaparkan dalam buku ini, beberapa yang sudah sangat terkenal. Contohnya sejarah Google yang dibuat Larry Page dan Sergey Brin, aplikasi paling terkenal di dunia digital ini awalnya juga terdengar biasa. “Kami hampir tak mendirikan Google, terlalu khawatir kalau berhenti dari program doctoral kami.” Kata Larry Page. Mereka orang-orang besar yang ketika merancang sejarah, juga memiliki kekhawatiran gagal sehingga mencari pijakan di bagian lain. Jadi walaupun sedang mencipta hal besar, mereka tetap melanjutkan studi, ibarat rencana cadangan masih dalam jalur. Mereka bermain aman dengan mengikuti jalur sukses konvensional. Dapatkah penemu menilai idenya sendiri secara objektif? Yakni seni memperkirakan keberhasilan ide? Poinnya adalah, jangan serta merta melepas yang ‘pasti’ kecuali yang utama sudah mapan. Pengusaha yang melindungi diri dengan memulai usaha sembari tetap bekerja kantoran jauh lebih anti risiko dan tak percaya diri.

Banyak usahawan mengambil banyak risiko-tetapi mereka biasanya gagal, bukan sukses.” Kata Malcolm Gladwell. Setiap usaha memang memiliki resiko, tapi tetap harus menghitung jalur kemungkinan. Semakin sedikit jalur jatuh, semakin bisa ditekan minim tentunya semakin besar potensi berhasilnya. Saat menghadapi situasi yang tidak disukai, mereka memperbaikinya. Dengan berinisiatif memperbaiki keadaan, hasilnya tidak banyak alasan untuk berhenti bekerja. Mereka menciptakan pekerjaan yang mereka inginkan. Jargon berbahaya yang sering kita temui adalah: “Jika ide itu memang bagus, pasti sudah ada yang mengerjakannya.” Kalau kayak gini ga akan maju, ga akan mulai-mulai. Buku ini jelas mengajak tabrak aturan! Kita mulai menyadari bahwa sebagian besar keadaan itu punya asal-usul sosial: aturan dan sistem itu diciptakan oleh orang. “Peluang menghasilkan ide berpengaruh atau sukses adalah fungsi positif dari jumlah total ide yang dihasilkan.

Cara menjadi berkuasa bukanlah dengan menentang kemapanan, tetapi pertama-tama tempatkan diri di dalamnya dan kemudian tantang dan khianati kemapanan itu. Dalam politik, banyak hal yang perlu dibuat unik. Ahli politik mengevaluasi presiden Amerika, mereka menetapkan bahwa pemimpin yang paling tak efektif adalah yang mengikuti kehendak rakyat dan hal-hal yang telah ditetapkan presiden sebelumnya. Presiden terhebat adalah yang menentang status quo dan mewujudkan perubahan di seluruh negeri. Apapun ideologi politiknya, orang akan lebih menyukai calon yang tampak ditakdirkan akan menang. Saat peluangnya turun, orang jadi kurang menyukainya. Indonesia kini dalam situasi politik, ujung Pilpres sudah kita ketahui, hasil akhirnya Pertahana melanjutkan program kerja. Berani melawan arus demi sebuah adil makmur? Seperti kata Ira Glass, “Sesuatu yang mungkin paling penting yang bisa dilakukan adalah banyak bekerja. Hasilkan banyak karya.” Jadi mari kerja kerja kerja. Bangsa besar ini… akan berhasil dan sejahtera… satu hal yang harus kita takuti adalah ketakutan itu sendiri.

Sekutu terbaik Anda adalah orang-orang dengan jejak rekam yang tangguh dan menyelesaikan masalah dengan cara yang mirip dengan cara Anda. Layaknya sebuah tuah, kalau kamu ingin tahu sifat seseorang, lihatlah kawan dekatnya. Maka kalau ingin sukses ya harus berkawan, kolaborasi, bareng orang sukses pula. Sahabat adalah seseorang yang melihat lebih banyak potensi dalam diri Anda ketimbang yang Anda lihat sendiri. Saya melihat kesuksesan biasanya tak dapat diubah mendahului yang lain, tetapi menunggu dengan sabar saat yang tepat untuk bertindak. Dan ingat, sukses itu tergantung cara pandang. Sukses satu orang jelas beda dengan sukse orang lain. Saya berhasil menyelesaikan program tulis bulan Juni 30 ulasan, jelas bagiku sukses yang mungkin bagi orang lain sepele. “Yang terpenting bukan gagasannya, tetapi eksekusinya.” Mengapa musuh bisa menjadi sekutu yang lebih baik dibanding orang yang pura-pura mejadi teman, dan mengapa nilai bersama bisa memecah-belah bukan menyatukan. “Jika Anda ingin membuat koneksi yang inovatif, Anda tak boleh mempunyai serangkaian pengalaman yang sama dengan orang lain.”

Dalam teori sukses, saya pernah dengar tiga rumus: jadilah yang pertama, atau jadilah berbeda, atau jadilah yang terbaik. Kalimat ini sudah sangat sering saya dengar di banyak diskusi, nyatanya memang harus usaha ekstra. Ketika Anda semakin menghargai prestasi, Anda akan semakin takut gagal. Alih-alih mengincar prestasi unik, dorongan kuat untuk sukses membawa kita ke arah yang dijamin sukses. Menjadi orisinal bukanlah jalur termudah untuk mengejar kebahagiaan, tetapi cara ini memberikan kebahagiaan dalam rangka pengejaran tersebut. Berdasarkan kata-kata Penulis William Deresiewicz, mereka menjadi domba-domba terbaik dunia.

Di dunia kerja, saya sebagai HR dalam wawancara karyawan keluar mencantumkan penilaian selama kerja di sini. Ternyata menurut buku ini, kurang efektif. Justru dibalik. Alih-alih meminta ide pada karyawan yang akan keluar, mulailah meminta pandangan saat pertama kali mereka masuk. Semakin ahli dan pengalaman seseorang, cara pandang mereka terhadap dunia semakin sulit dirubah. Menurut Adam, orang-orang yang baru masuk memiliki pikiran yang fresh, semangat membuncah, dan tentu saja ide yang tak lazim karena mereka belum mengalami kerja di sini! Well, benar juga ya. “Tak seorang pun yang datang ke sini membawa ide yang mereka anggap jelak.” Orang yang sering berpindah pekerjaan akan lebih cepat berhenti bekerja, tetapi ternyata tidak: peluang orang yang telah lima kali pindah kerja dalam lima tahun terakhir akan berhenti dibanding dengan orang yang bertahan di tempat kerjanya selama lima tahun tidaklah berbeda. Rumus HR dalam melawan dead wood adalah mencipta situasi. Untuk mengeluarkan orang dari zona nyaman, Anda harus menumbuhkan ketidakpuasan, rasa frustasi, atau kemarahan pada keadaan sekarang dan menjadikan sebagai kegagalan pasti. Jika Anda mendapat waktu untuk berpikir, pola umum mudah lenyap dalam detail. Saya juga terpikat oleh keamanan kedudukan mapan.

Warby Parker adalah gabungan dua nama tokoh ciptaan novelis Jack Kerouac, semangat pemberontak dimasukkan ke dalam budaya mereka, dan cara itu berhasil. Saya ga terlalu mengenal sang penemu jualan daring kaca mata ini, di buku ini ia disebut berulang kali seolah menemukan emas di tanah kosong. Seperti semua pencipta, inovator, dan agen perubahan besar, empat sekawan Warby Parker mengubah dunia karena mereka mau melakukan sesuatu yang belum jelas hasilnya. Salut atas keberanian bertindak, keberanian mengambil jalan berbeda. Seolah menebas jalur hutan perawan, membuat batu setapak menuju puncak. “Periode ditemukannya produk paling minor cenderung sama dnegan periode dihasilkannya karya besar.” Luxottica lahir di masa yang sangat pas, era internet yang sedang mewabah dan kebutuhan kaca mata yang banyak dengan pembelian garansi. Mereka tidak mampu mengubah dunia adalah karena mereka tek belajar untuk berpikir original. Mereka memusatkan energi untuk melahap pengetahuan ilmiah yang ada, tetapi tak menghasilkan pengetahuan baru.

Wabah sinetron di televisi lokal di jam utama sungguh memprihatinkan. Kita mayoritas sepakat tentunya sinetron merusak moral, membuat candu buruk bagi generasi berikutnya. Nyatanya produk itu laku. Kita tahu mematikan televisi saja tak cukup menunjukkan pada para produser sinetron bahwa rakyat siap berdiri memrotes. Tapi seberapa banyak? Masalahnya produk itu laku, dijejali iklan melimpah, dan semacam jaminan finansial sehat. Ketika kita sedang berusaha memengaruhi orang lain dan mendapati mereka tak menghormati kita, keadaan ini menciptakan siklus kekesalan yang tak berujung pangkal. Jika Anda ingin mengubah perilakunya, pakai lebih baik menyoroti manfaat perubahan atau kerugian akibat perubahan? Penerima yang marah secara acak diminta memberikan satu dari tiga respons berikut: malampiaskan, mengalihkan, atau mengontrol. Bagaimana respon Anda terhadap produk sinetron kita kawan?

Model ATM – Amati, Tiru, Modifikasi sudah jadi kewajaran di era ini. Tentu saja tak ada yang benar-benar original, dalam arti bahwa semua ide kita dipengaruhi oleh hal-hal yang pernah kita pelajari dari dunia sekitar. Kita selalu meminjam pemikiran-pemikiran, baik secara sengaja atau tidak. Kita rentan terhadap ‘kleptomnesia’ – secara tidak sengaja mengingat ide-ide orang lain sebagai ide kita sendiri. Originalitas termasuk memperkenalkan dan mengembangkan sebuah ide yang relatif tidak umum di dalam sebuah domain tertentu, dan berpotensi memperbaiki domain tersebut.

Di dunia musik, kita tahu banyak sekali genre dan tergantung sudut pandang siapa yang terbaik, siapa yang biasa. Tergantung selera, tergantung obsesi. Beethoven dikenal sebagai pengkritik karya sendiri yang baik. Sesuatu yang istimewa, tahu karyanya laik enggaknya. Jadi ingat Sherina Munaf di twitter lalu bilang, sebulan stuck ide nulis lagu, butuh tambahan waktu. Kita harus segera membangkitkan ide sendiri sebelum menyaring pendapat orang lain. Dan cara ini ternyata membantu menjelaskan mengapa akhirnya lagu berhasil rilis. “Saya dianugerahi selera musik yang kuat. Terkadang tulang saya menggigil.” Kata Darwin.

Ia menghabiskan empat puluh tahun berikutnya bekerja di sebuah penerbit demi stabilitas hidup dan menulis puisi di sela-sela waktu. Seperti komentar pendiri Polaroid, Edwin Land, “Tak seorang pun benar-benar orisinal di satu bidang, kecuali ia telah memiliki stabilitas emosi dan sosial yang berasal dari sikap yang tetap di semua bidang lainnya di luar bidang tempat ia menjadi orisinal.

Ketika kita meratapi originalitas di dunia, kita menyalahkan ketiadaan kreativitas. Untuk menjadi orisinal, orang dewasa harus lebih jarang belajar dan lebih sering tak belajar. Dan mereka menginspirasi saya agar tak terlalu mengikuti harapan menciptakan dunia yang lebih baik bagi mereka. “Keyakinan pada ide sendiri itu berbahaya, bukan hanya karena membuat kita rentan terhadap ide positif salah, tetapi juga membuat kita berhenti menghasilkan variasi yang membutuhkan untuk meraih potensi kreatif kita.”

I have a dream” King, 1963

Originals “Tabrak Aturan”, Jadilah Pemenang | By Adam Grant | Copyright 2016 | Diterjemahkan dari Originals | Terbitan Viking, an imprint of Penguin Random House LLC 375 Hudson Street, New York 10014 | Penerbit Noura | Penerjemah Mursid Wijanarko | Penyunting Aswita Fitriani | Penyelaras aksara Lian Kagura, Sheilla | Penata aksara Aniza Pujiati | Perancang sampul Artgensi | Cetakan pertama, April 2017 | 348 hlm.; 15 x 23 cm | ISBN 978-602-385-277-2 | Skor: 4/5

Untuk Allison

Karawang, 311218 – The Vure – Mint Car // 280619 – Christina Aguilera – Beautiful

Thank a lot Noura. Bless you.

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day28 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019