Pekan Ke 17: Atlanta Vs Lazio

Perkiraan Line-up

Strakosha;
Bastos, De Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Milinkovic, Lulic;
Luis Alberto;
Caicedo.
LBP 0-3
Serie A yang sulit, drop poin dari replay VAR tak guna. Memang menyedihkan kompetisi kelas satu, wasitnya buruk. Hanya dengan mengutamakan dan memperbaiki diri yang bisa menjuarakan Lazio. Kami selalu bersama. #ForzaLazio
AW
Atalanta 2-2 Lazio, Gomez
Atalanta bukan lawan enteng. Lazio abis keok kayak dendeng. Gomez bakal golin serenteng.
Arifin
Atalanta 2-1 Lazio, Gomez.
Atalanta menang. Lajio tumbang. Om budi borong buku.
Bagas
Atalanta 1 – 1 Lazio, Felipe Caicedo
Dengan tidak adanya Immobile sangat terasa bagi Lazio, hasil 1 – 1 sudah bagus bagi tim tamu, yang penting tidak kalah. Forza Laz.
Mariana R. Prayitno
Atalanta 2-0 Lazio, Cristante
Dalam 9 pertemuan terakhir, hanya ada 1x hasil draw. Itu artinya kedua tim tak punya hobi menggambar. Mungkin keduanya lebih suka menyanyi.
Arief rindu Siska
Atalanta v Lazio 1-0
Ilicic
Atalanta sedang semangat tinggi gara-gara lolos ke fase gugur Liga Europa & melawan BVB. Ada yang tidak suka melihat Lazio di 4 besar. Atalanta baru kalah 1x di Atleti Azzuri d’Italia.
Takdir
Atlanta 1-3 Lazio
Skorer Savic
Analisis: Tanpa Immobile Lazio bisa apa? Inilah pertandingan pertama The Great musim ini di Serie A tanpa sang bomber. Bisa apa tanpa goal getter andalan? Bisa menunjukkan Lazio bisa menang dengan fair play!
Karawang, 171217


Iklan

Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Murder On The Orient Express: You’ll Never Guess Whodunnit

Mary HERMIONE Debenham: “I am sleeping here where everyone can see me. And I can see everyone.”

— Catatan ini mungkin mengandung spoiler —

Bah. Sebuah kisah detektif kalau belum menikmati sebaiknya memang jangan baca apapun, jangan lihat apapun, jangan dengar dari siapapun. Preview, ulasan, review, trailer, kutipan, tagline, bahkan potongan tulisan sekecil apapun di poster. Karena bocoran sesepele remeh temeh berpotensi merusak kejutan. Walau sejatinya setelah kalian membaca ulasan ini kalian jua tak akan (gamblang) menemukan siapa pembunuhnya.

First impress, sudah saya pos di ig @lazione.budi: Wow, just wow. #MurderOnTheOrientExpress is movie of the year. It completely my expectation and beyond. I was pleased and surprised. Balance, imbalance, justice. Everyine is a suspect. E.V.E.R.Y.O.N.E…

Menikmati kisah detektif harus hati-hati, sehati-hati dalam proses penyelidikannya sendiri. Dari judulnya kita tahu ada pembunuhan di kereta, kalau ada pembunuhan maka pasti ada pembunuh. Hidup ini penuh masalah, menonton film bisa jadi masalah, menikmati alur bisa saja menjadi masalah. Saya memutuskan cara memecahkan masalah ya, menutup segala kemungkinan bocor informasi masuk. Saya sudah punya bukunya tiga bulan lalu, tapi tak kuputuskan membaca tuntas. Saya hanya baca 2-3 bab awal dan meninggalkannya demi dapat merasakan feel, mendapatkan kepuasan menonotn dalam layar besar. Menahannya. Teaser poster sudah tersebar, trailer sudah wara-wiri. Saya bergeming, semakin sedikit klu yang didapat (seharusnya) semakin besar ledakan akhir. Bum! Saya merasakan klimak cerita, sungguh beruntung bisa meluangkan waktu di Kamis malam (9/12) hanya dengan 25,000 Rupiah bersama belasan penonton lain. Film paling bagus tahun ini, so far.

Kisah dibuka dengan setting tahun 1934 di Yerusalem, Palestina. Hercule Poirot (Kenneth Charles Branagh) meminta sajian santap dua buah telur sempurna, sampai diukur. Bagian ini hanya coba memperlihatkan sebuah perfectionist style. Ia ke sana diundang untuk memecahkan kasus pencurian sebuah benda keramat keagamaan zaman old. Ada tiga terduga pencuri yang dijajar di pelataran Tembok Ratap: priest, rabbi dan imam. Imam, Pendeta Yahudi, Pendeta Kristiani: sebuah perlambang kota ini adalah kota suci tiga agama. Setelah menancapkan tongkat di tembok, Poirot mulai membuka detail proses penyelidikan. Dan dari sebuah jejak di TKP (Tempat Kejadian Perkara) ia dengan lantang bisa menemukan pencurinya yang ternyata adalah (jreng jreng jreng…) sang pelapor sendiri, seorang polisi. Massa langsung merespon mengejarnya, dan tongkat yang ditancap itu ternyata sudah diperhitungkan. Hebat. 

Dalam proses kepulangan yang dibuat dengan suguhan sederhana, kita diperkenalkan beberapa karakter yang nantinya ikut dalam perjalanan kereta dari Istanbul, Turki. Dari Mary Debenham, Dokter Arbuthnot, kepala kereta api sekaligus sahabat Poirot, Tuan Bouc sampai Hardman. Dari perkelahian aneh Countess Rudolph Andrenyi, sampai sajian roti yang mengembang. Tuan Bouc-lah yang membooking satu tempat duduk, awalnya penuh karena sedang musimnya. Tapi seorang penumpang bernama tuan Harris, tak muncul. Aturan 1,5 jam melapor sudah dilanggar sehingga satu kursi itupun kini milik Poirot. Semua itu dalam gerak cepat menuju Orient yang di-stater. Poirot dapat teman sekamar MacQueen, pria gendut yang tampak gugup.

Kereta berjalan dengan kebimbangan, aura tegang memang sudah dicipta sedari bunyi tut tut tut -nya. Para penumpang sudah tampak mencurigakan, sebuah suguhan suspence untuk membuat penonton menduga, untuk membuat penonton memilah, menebak. Salju turun untuk bersatu dalam kepulan asap kereta.

Setelah malam pertama berlalu tanpa insiden, Poirot yang sedang menikmati kesendirian dengan tawa novel Charles Dickens: A Tale of Two Cities, saya sudah membacanya tak banyak agedan lucu, entah apa yang membuatnya terbahak. Cinta sejati, mati demi cinta? Ahh… Catherine! Didekati oleh Ratchett, dalam adegan makan satu kue berdua kita tahu, ia membawa pistol. Meminta tolong dan menawari Poirot sejumlah uang untuk menjaganya, karena terus terang musuhnya banyak dan dia diancam. Poirot yang sedang ingin santai menikmati perjalanan, agak terkejut juga ada pistol di atas meja. Monyongnya mengarah padanya walau tak diancam. Marah, “I detect criminal. I do not protect them.” Penolakan yang mengakibat kematian sang gangster. Saat kereta melaju di daerah Vinkovci, Kroasia longsoran salju menghantam kereta dan sebagian badan oleng. Lebih ekstrem lagi, gerbong sebagian masih di atas jembatan. Scene mencekam, setting yang bagus. Waktu kematian diperkira dini hari, sebelum kejadian Poirot beberapa kali terbangun dan menyaksi kejanggalan dengan gerik aneh sang kondektur Michel.

Setelah kematian tuan Samuel Ratchett, semua penumpang seakan tampak meyakinkan sebagai tersangka. Saya urutkan dari kanan nama-nama (potensi) tersangka itu saat duduk di ‘Jamuan Terakhir’, biar nyaman merunut. Kenapa ga sesuai pandangan meja dari the professor sampai the princess, saat diumumkan ada pembunuhan? Yah, karena gambar dua belas manusia duduk dalam deret meja di terowongan itu adalah gambar paling mengesankan dalam film 2017. Cucok dijadikan wallpaper.

My name is Hercule Poirot and I am probably the greatest detective in the world.

#1. Sang asisten, Hector MacQueen (Jos Gad): “Hard to believe, you talk to a man… and only the next morning, he’s blue.

Sebagai sekretaris sang korban, sebagai orang yang mencatatkan semua kegiatan tuannya, asisten yang baik, awalnya. Si gendut yang pengugup, ini terbukti tak sebaik lapisan luar. Melakukan beberapa kecurangan dalam pencatatan keuangan, memanipulasi data demi kepentingan pribadi, pencurian terencana, dan menyeret masalah menjadi makin rumit. Apakah hanya kejahatan material saja yang ia lakukan? Ataukah lebih parah lagi?

#2. Profesor, Gerard Hardman (Willem Dafoe): “In this case I consider that justice has been done.

Turin.” Satu kata yang berarti banyak makna. Ia adalah orang pertama yang setelah bilang semua dari kalian akan diinterogasi yang dengan berani bilang, ‘Emang lu siape?’. Tiap muncul dia saya selalu membayang wajah jahat Green Goblin. Muka kodok yang patut dicurigai, apalagi ia jua tak bisa tampak secerdas seorang professor.

#3. The  Countess, Elena Andrenyi (Lucy Boynton): “I reached for my husband as soon as I heard.

Tatapan Lucy yang tajam, tampak sakit. Ia tak ada di meja saat diumumkan ada pembunuhan, nantinya kita tahu ternyata ia kecanduan narkoba. Apa yang kamu takuti? “Everything!” dalam kisah-kisah thriller, orang macam gini patut dimasukkan sebagai kandidat utama pelaku kejahatan. Egoism seorang puteri.

#4. The Count / Pasangan Countness, Rudolph Andrenyi (Sergei Polunin): “He is a dangerously handsome man, with his back to the world.”

Ketika di adegan pembuka, tak dijelaskan detail kenapa ia tersulut saat ada fotografer yang mengambil gambarnya dan marah sampai berkelahi. Sesuatu yang disimpan, karena ia sebenarnya defensive. Ia akan marah jika ada yang mengusik, pesohor introvert. Tatapannya sama seram dengan sang putri.

#5. Pelayan, Hildegard Schmidt (Olivia Colman): “The Princess entrusted my skills to serve her well.”

Saat diinterogasi Poirot, ia tak tampak meyakinkan dengan bahasa Jerman. Rautnya khawatir seakan takut salah jawab dan wanti-wanti kemarahan sang Ratu. Bagi yang pengalaman menikmati kisah-kisah Christie, peran pelayan jadi begitu penting. Sangat penting, banyak kejadian krusial diambil sudut pandangnya. Nah raut Schmidt bisa menampilkan daya asli pelayan yang terintimidasi. 

#6. Sang Ratu, Natalia Dragomiroff (Judi Dench): “It is not my place to be troubled.”

Seorang putri dari Rusia. Akting asisten Bond ini tak pernah mengecewakan. Menjadi orang penting, bersama anjing-anjing kerajaan yang harus diperlakukan istimewa. Sudah tampak mengesalkan sebelum Orient bergerak, seharusnya memang harus dicurigai ini orang karena saat tahu Sang Gangster tewas, ia faceless dan setiap nama korban saat disebut seakan ingin meludahi, ‘fppuuuf…’ Jelas ada sesuatu yang besar dibaliknya. Orang penting, kaya yang berlagak, sombong.

#7. Janda, Caroline Hubbard (Michelle Pfeiffer): “Anything for an audience.”

Saya selalu kesulitan nulis namanya, alamat typo kalau ga jiplak. Seorang wanita berkelas, berbicara tentang putrinya, seorang aktris, performer. Termasuk akting-nya saat bicara dengan sang detektif, penuh kepalsuan. Sangat elegan, tapi sebenarnya ketika twist diungkap ialah yang paling rapuh, bahkan dibanding sang kepala pelayan sekalipun. Angelina Jolie sempat masuk kandidat utama untuk menerima peran ini, tapi sampai batas waktu taka da klik. Michelle jua sumbang suara untuk lagu closing credit, seminggu lebih saya putar ulang bersanding dengan Sherina Munaf.

#8. Dokter, Dr. Arbutnot / Kolonel Arbuthnot (debut istimewa Leslie Odom): “There’s a very ill patient waiting for me.

Si jago tembak, si keling yang jatuh hati sama Hermione. Awalnya tampak annoying, gerak-geriknya kaku. Membantu memperbaiki kapal yang rusak, membantu mendeteksi dan analis kematian korban dan sebagai mantan tentara, ia memiliki pistol. Seorang terpelajar yang bisa dipercaya, sekaligus paling berbahaya. Agak mengkhawatirkan saat dia sering bersama Poirot dalam mengupas fakta demi fakta.

#9. Pengajar, Mary HERMIONE Debenham (Daisy Ridley) : “Who would do such a hideous thing?”

Sudah berkenalan dengan Poirot sebelum naik kereta, lebih pasnya sebelum naik kapal. Kekasih sang dokter. Seorang wanita idaman Inggris Raya, pengajar sekaligus pengasuh anak yang ‘aman’ dari tuduhan, awalnya. Adegan interogasi minum teh di bentang salju dengan latar kereta itu salah satu adegan paling menakjubkan cinema tahun ini, Hermione disebut, ada nada khawatir mengambang di udara. “I like a good rose.” Dan pada akhirnya Mary gemetar masuk pusaran kemungkinan terlibat, akting jempol Daisy yang cantik. Bisa kita saksikan aktingnya saat ini di bioskop dalam #TheLastJedi.

#10. Kepala pelayan, si tua penggerutu Edward Masterman (Derek Jacobi): “A valet and his master should be as strangers.”

Wawancara dengan Poirot alasan berkereta mau berobat, operasi gigi. Tapi sakit gigi tak harus sampai hopeless gitu kan. Pasti ada sesuatu yang membuat hatinya khawatir, atau setidaknya menanggung beban. Seorang tua yang makan asam garam pengalaman, masa lalunya diungkap dengan pilu. Dan rasa muak kita lalu berubah sedih.

#11. Penjual, Biniamino Marquest / Antonio Foscarelli (Manuel Garcia-Ruflo): “I’ve become well established in America.”

Ceriwis, maklumlah sales. Penjual mobil yang dulunya sopir, tampak sangat meyakinkan, orang yang Pede. Latar belakangnya seorang keturunan Latin yang membuatnya patut diwaspadai, bahkan nantinya seorang penumpang mengarahkan Poirot untuk menempatkannya di posisi pertama sebagai orang yang patut dicurigai. Rasis sih, tapi mau bagaimana lagi?

#12. Sang misionaris, Pilar Estravados (Penelope Cruz): “On their death, all good men are greeted by an angel’s laughter.”

Sedari awal hingga akhir, wajah Cruz tampak tak bahagia. Ngomongin al kitab terus, seakan cenayang nasib buruk. Setiap fakta yang terkelupas, ia berpaling ke Tuhan. Dosa masa lalu yang tertumpuk di punggung, jelas ada yang salah dengan tindakan masa lalu pahit menghantui. “Wine is where the devil finds his darling.”

Ditambah yang berdiri dua: 

#Kondektur yang siaga, Pierre Michel (Marwan Kenzari): “No assassin could have moved through the car without me seeing him.”

Tampak aneh, setiap Poirot keluar kamar di malam kejadian, Michel siaga dan menyapa. Siap melayani, kenapa selalu ada dalam gerbong itu? Apalagi nantinya saat sebuah kancing baju ditemukan ternyata menyeretnya. Tapi wajah Michel tampak tak berdosa, ia seakan hanya menjalankan tugas.

#Pemilik dengan pistol teracung, M. Bouc (Tom Bateman): “This is luxury my friend, not some new trend.

Si tampan yang memuja kemewahan kereta Orient inilah yang langsung meminta Poirot untuk memecahkan kasus ketika tahu ada pembunuhan saat kereta terhenti longsor. Ini mengenai reputasi Perusahaan miliknya, sebelum kereta kembali berjalan ia memohon kepada Poirot agar sang pembunuh sudah ditemukan. Tapi mengingat kasus pembuka yang ternyata polisi pelapor sendirilah pelakunya, bukan hal mustahil pemilik jua sutradara kasus bukan?

Dua belas tersangka, plus dua penanggung jawab Orient Express. Berhasilkah kalian menebak siapa pembunuh sebenarnya? Ketika semua karakter mencoba merancang kebohongan, hanya dua sosok yang tak bisa kena tipu yaitu Tuhan dan Poirot!

Dari novel Penulis favorit Agatha Christie, Murder On memang sebuah remake, karena tahun 1974 Sidney Lumet pernah mengadaptasi. Konon bagus, dan sukses sehingga jasi semacam tolok ukur. Termasuk klu yang di akhir menuju ‘Death On The Nile’, itu juga sudah dibuat. Proyek berikutnya Branagh berpotensi memecah belah kubu lagi. Memang kenikmatan sejati di dapat kalau esensi kejutnya kena, men-jab muka penonton. Karena saya belum lihat versi jadul dan menahan baca novelnya, kejutan peraga dengan mimik sempurna bak lukisan Leonardo Da Vinci, The Last Supper sukses besar.

Keluhan utama film ini, (mungkin) yang paling krusial. Misscast Branagh, dia jelas jauh dari penggambaran Christie seorang Poirot yang kenal. Gendut, kumis yang terawat baik, mengerucut dan tebal (tapi tak seekstrem itu juga kali), dan agak pendek. Branagh terlalu tampan, walau kumis palsunya merambah wajah, kegagahannya tak hilang. Tapi apalah, era sudah banyak berubah. Sherlock saja bisa sukses di tangan Robert Downey Jr., yang juga tak ada mirip-miripnya sama seni tulis Sir Arthur Conan Doyle, bahkan harusnya lebih parah karena aksen British khas itu lenyap, Branagh orang Irlandia dan aksennya masih ada. Jadi jelas, saya menerima dengan tangan terbuka Poirot pertama yang saya tonton di bioskop ini. Lagian Branagh adalah produsernya, satu tim sama Ridley Scott, Mark Gordon, Michael Schaefer jadi yah, dia yang punya duit biarin aja. Apalagi tahun 2015, James Prichard, cicit sang Penulis sekaligus CEO Agatha Christie Ltd. sudah memberi hak adaptasi ke Kinberg Genre, dan rancangan sekuelnya pun dipersiapkan. Dia yang punya duit, dia juga yang bikin, dia pula yang main peran utama. Narsis banget. Hay whatever Purist, karena poin yang dipuja penikmat layar lebar first thing first, ya cerita. Kisahnya harus kita akui, bagus banget. Walau tentu saja ini semua berkat sang Penulis, Dame Agatha Mary Clarisa Christie yang bisa membuat plot berlapis. Michael Green tetaplah harus diapresiasi. Ini adalah film ketiganya tahun ini yang ia tulis setelah Logan yang muram itu dan Blade Runner 2049, belum kutonton. Jelas masuk daftar antri.

Saya mencatat ada lima adegan keren:

#1. The Wailing Wall

Walau tak ada adegan ini di novel manapun karya Agatha Christie mana pun, opening ini sudah pas. Terlepas saat ini Yerusalem sedang berhawa panas terkait penyataan Presiden Trump yang sepakat memindahkan ibu kota Israel dari Tel Aviv. Bagian ketika ketiga terduga pencurian berjejer di pelataran Tembok Ratap. Sempat was-was juga Poirot akan menyebut salah satunya, karena kalau script itu menunjuknya pasti kena cekal di negara yang mayoritas. Dan syukurlah, sang pelaporlah yang kena. Apa kalian kira tongkat yang ditancap itu sekedar iseng?

#2. Hermione

Nama ini istimewa. Jadi sebuah trivia sederhana yang berubah mewah saat nama putriku disebut. Jamuan minum teh, salju yang tipis, kepala kereta yang oleng, senyum Poirot yang ambigu serta mimik cantik Daisy. 

#3. TKP

Pagi saat tahu ada pembunuhan, Poirot meminta sang dokter untuk ikut memastikan bersama jua sang Pemilik yang khawatir dan proses analisis deduksi yang Indah. Yang istimewa dari bagian ini adalah, bagaimana kamera menyorot ada di atas, bergerak lambat menyusuri gambar-gambar lokasi kematian. Bagus, sangat bagus. Gaya pengambilan gambar bak tatapan Tuhan kepada umatnya, dengan palu untuk menghakimi.

4. Analis Scan Tersangka

Setelah analisis mayat korban, Poirot yang mendapat info dari Bouc ada dua belas orang penumpang dalam gerbong yang kemungkinan sebagai pelaku, Poirot berjalan pelan untuk mengumumkan. Sarapan khidmat itu menjadi mencekam karena, sambil berjalan menatap kanan kiri meja Poirot men-scan setiap orang. Satu orang absen, setiap wajah tampak mencurigakan, setiap orang wajib diwaspadai, acting semua actor pas. Cara pengambilan gambar, juga istimewa seakan kamera itu adalah mata sang detektif. Scan itu ditutup dengan hening tanya. ‘Kalian semua adalah tersangka’

5. The Last Supper

Suara tembakan, dan dalam ringkus maya. Dua belas penumpang dalam jamuan terakhir. Dan kita masih bertanya-tanya, sebenarnya siapa pelakunya? Nyaris semua Fakta karakter diungkap, Poirot memegang pistol, moncong-nya mengarah kepada ssetiap orang, bergantian. Dengan tenang membuka final act dan taaa-daaa… seluruh penonton terkesima, tepuk tangan menggema, convetti diterjunkan, dan tempik sorai terdengar sepanjang terowongan. Bagaimana bisa ada cerita se-brilian ini?

Spoilert Alert! — Gatal saya tak menjelaskan bagian ini, seakan ada eek yang tertahan kalau ga dilepas. Satu paragraf ini tak menjawab siapa pembunuhnya, tapi jelas memberi banyak jawab. Kita hanya duduk menyaksikan kepeningan Poirot, semua dipecahkan olehnya. Jadi baca dengan bijak.

Nama Lanfranco Cassetti jadi kunci utama kasus ini yang menyambung ke kasus penculikan, pemerasan disertai pembunuhan Daisy Armstrong. Keluarga Armstrong yang terpukul kehilangan buah hati berefek panjang sekali. Ayahnya bunuh diri, dan semua elemen penumpang menyimpan dendam. Dendam membara. Identitas Cassetti diungkap sesaat setelah pembunuhan. Lalu kulit bawang orang-orang terkasih sekitar keluarga Armstrong dikupas satu per satu. Berikut masa lalu para penumpang. Huruf H yang dicari dalam klu ternyata adalah identitas dari Elena – yang berarti Helena Goldenberg alias Countess Andrenyi aka tantenya Daisy! Sonia Armstrong ternyata nyonya Hubbard alias Linda Arden! Wow, silakan terkejut. Dragomiroff adalah ibu baptis Sonia. Schmidt adalah koki keluarga. Artbuthnot adalah rekan seperjuangan dalam perang. Mary adalah guru privat Daisy. Marquez adalah sopir keluarga. Masterman adalah kepala pelayan. Pilar adalah pengasuh. Ayah MacQueen adalah pengacara kasus dan membuat kacau segalanya karena mengakibat matinya Susanne. Sudah? Belumlah, harus ada tembakan penutup. Dan dalam terowongan itu memang terdengar tembakan pada akhirnya, walau tak menggelegar. Kalian masih tak akan bisa menebaknya?!

Ada iklan cokelat Godiva di film, dengan setting tahun 1934 terjadi ketidaksingkronan dengan fakta. Karena bungkus cokelat itu menggunakan logo baru, dan tokonya sendiri hanya ada di Brussel tahun 1950. Bagaimana bisa ada dalam perjalanan kereta Orient Express? Dalam novel uang yang ditawarkan Rachett adalah 20,000 Dollar di film sebesar 10,000 lalu menaikkan tawaran 15,000 Dollar, tapi akhir dari dialog itu sama. “Gue ga suka tampang lu!”

Skoring Patrick Doyle bagus sekali, walau rasanya sulit masuk nominasi Oscar tapi benar-benar bernyawa mengiringi setiap percobaan pemecahan kasus. Saat credit title, saya seorang yang menikmati Lagu ‘Never Forget’ yang dinyanyikan dengan indah oleh Michelle Pfeiffer. Tulisan biru dengan latar hitam, mencoba nyeleneh, tak lazim.

Saat akhirnya kereta menurunkan Poirot di stasiun Brod, saya sudah mematok satu hal yang pasti. Pembunuhan di Sungai Nil, kutunggu dengan tak sabar. Dan segala adaptasi Christie layak diantisipasi. Termasuk menyaksikan versi lama? Go ahead!

Menonton bersama tetangga meja kerja. Bagaimana pendapat Rani Skom? “Murder On itu apa ya, eerrgh… kalau yang belum tahu ceritanya sih mungkin apa, eeergg… bagus. Tapi karena sudah tahu ceritanya gmana ya? setiap film, eh setiap film yang diadaptasi dari buku yang udah gue baca itu selalu errgh… (jeda beberapa detik). Beyond my expectation, gitu. Tapi untuk nilai, 1 sampai 10. Murder On The Orient Express itu dapat nilai 8. Dah, udah!

Transformasi hebat dari seorang guru pekok, aneh dan narsis Gilderoy Lockhart menjadi detektif hebat, menjadikannya Poirot kelima belas yang muncul di layar setelah Austin Trevor (1931-1934), Francis L. Sullivan (1937), Heini Gobel (1955), Martin Gabel (1962), Tony Randall (1965), Horst Bollman (1973), Albert Finney (1974), Peter Ustinov (1978-1988), Vidas Petkevicius (1981), David Suchet (1989-2013), Anatoliy Ravikovich (1981), Alfred Molina (2001), Konstantin Raykin (2002) dan Mansai Nomura (2015). Apalagi yang dikomplainkan? Mau membanding-bandingkan mana yang terbaik? Semua Poirot ada di masanya, semua punya keunggulan dan kekurangan. Waktu mengubah banyak hal, pengalaman adalah pelajaran paling bermakna. 

I just loved everything and every bit of this film, it’s just was amazingly director and perfect story. Ujarannya, “I see evil on this train.” Berujung pemecahan kasus berkelas, sangat menyenangkan menyaksikan Poirot pertamaku di layar lebar. Scary, and yes I thoroughly enjoyed this movie. What a journey. For great escapism and a reminder of a simpler time, Murder On achieves this goal for audience that truly appreciate its greatness!

Well Done.

Murder On The Orient Express | Year 2017 | Directed by Kenneth Branagh | Screenplay Michael Green | Cast Kenneth Branagh, Daisy Ridley, Leslie Odom Jr., Tom Bateman, Penelope Cruz, Richard Clifford, Josh Gad, Johnny Depp, Derek Jacobi, Michelle Pfeiffer, Judi Dench, Olivia Colman, Willem Dafoe | Skor: 5/5

Duh, saya belum bahas Herkules dan Image Dragon, believer!!!

Karawang, 08-09–91217 – Sherina Munaf – Ku Disini

Pekan Ke 16: Lazio Vs Torino

Pekan Ke 16: Lazio Vs Torino

Prakiraan formasi – –  3-5-1-1
Strakosha;
Bastos,, de Vrij, Radu;
Marusic, Parolo, Leiva, Sergej, Lulic;
Luis Alberto;
Immobile.
LBP
3-0
Sepertinya ini akan jadi ajang ngamuk Lazio. Di EL menurunkan cadangan, kini saatnya kita bener-bener menikmati Lazio yang sesungguhnya. Tak ada keraguan kemenangan besar pasti tersaji.
Arifin
Degrit 1-0 Torino. Ciro immobile.
Anal: degrit menang. Torino tumbang. Om Busi girang.
DC
Lazio 3-1 Torino
Immobile
Immobile bertemu dengan klub lamanya. Tapi ga ada belas kasihan. Paling tidak 1 gol darinya.
Takdir
Lazio 2-0 Torino
Immobile
Analisis: Musim ini Lazio memetik poin penuh terus selama bermain di luar Olimpico, tapi rekor itu terhenti di Regenboog. Penampilan Palombi yang mengecewakan dan Caicedo yang mulai rajin cetak gol, walaupun semua mudah tinggal sepak. Januari The Great harus mencari seorang goal getter pendamping Immobile. Lini tengah sudah tak perlu dipertanyakan, komposisi starter kelas wahid. Lini belakang terlalu bertumpu pada De Vrij, ketika absen jaminan kebobolan. Fokus Lazio memang Serie A jadi rasanya starter pilihan Inzaghi pasti pemain-pemain yang jelas Terbaik. Kabar bagusnya Felipe Anderson sudah kembali, pilihan tengah yang makin banyak memberikan alternatif strategi. Torino sudah tak berbahaya, Belotti mulai redup bersamaan dengan isu kepindahan. Lazio akan poin penuh dengan gap dua gol, kecuali dicurangi lagi sama VAR. Bukan VARgic ya…
Felidit Bale CEO Bundhas
Lazio 2-3 Torino, Belotti
Lazio tampil kurang pokok. Strakosha mendadak pekok. Belotti kembali berkokok.
Arief
Lazio v Torino 2-1.
Immobile
Keran gol Immobile sedang macet. Tidak mencetak gol pada 2 pekan terakhir membuat Icardi melenggang manja di puncak capocannieri. Bertemu mantan, Immobile akan menyakitinya.
Amanda Prayitno
Lazio 2-2 Tori-who; Immobile
Biasanya tim yang gaspol di awal musim. Akan kehabisan pertalite di tengah jalan. Untuk kemudian berhenti total di akhir acara. Seperti itulah kura-kura jika diadu dengan kelinci.
Jabo
Lazio 4-1 Torino, Immobile
Lazio pasti akan dengan mudah ngalahin Torino. Dan pastinya dengan skor besar. Selamat berpesta De Grit
WAO
Lazio 3-2 Torino
Scorer : Immobile
The Great melawan Torino. TV Jak trengginas nyiarin beruntun. Wis, pasti menang dengan skor meyakinkan 3-2.
Damar IRR
Lazio 1-0 Torino, Caicedo
Faktor kurang fokusnya Lazio dikarenakan bermain di liga dan Europa league masih menjadi masalah Elang ibukota, kembalinya Felipe menjadi senjata ampuh bagi Lazio untuk menekuk Torino, forza Laziali.  Bisogna vincere.
Emas
Lazio 2 – 0 Torino
Gol Luiz Alberto
Kembalinya Felipe Bale tentunya menambah kepercayaan Lazio. Sayang mimpi Bale berduet dengan pangeran Nani harus tertunda sementara. Tapi aura bintang Nani tetap terpancar dari luar lapangan.
Deni
Lajio 4-0 Torino
Immobile
Lajio main kandang. Lajio main menyerang. Lajio akhirnya menang. Fans dan pelatih pun ikut senang
Siska
Lazio 3-1 Torino
Caicedo
Lihat statistik lazio menangan main di kandang saat ketemu Torino. Selisih golnya juga lumayan. Untuk pertandingan kali ini (mungkin) skornya sama dg skor pertemuan terakhir
Ajie
Lazio 4-2 Torino, Immobile
Lazio bisa menang. Lazio mungkin menang. Dan lazio pasti menang.
Karawang, 111217

The Darkness – Jason Pinter

The Darkness – Jason Pinter

Chester: “Jalanan ini biasanya dipenuhi oleh para pekerja professional. Ini sudha jam makan siang, tapi kau bisa menghitung dengan jari mereka yang memakai setelan jas. Seberapa persen penurunan pekerja keuangan? Dua puluh persen. Dulunya jalanan ini menyiratkan sesuatu. Lebih dari seratus ribu orang kehilangan pekerjaan di kota ini dalam kurun waktu dua tahun. Dan sekarang pikirkan berapa banyak dari mereka yang duduk di rumah, melihat tabungan berkurang sedikit-demi-sedikit sambil menunggu panggilan yang mungkin tak pernah ada.”

Kisah tentang penjualan narkoba di kota nyaman New York yang diungkap oleh jurnalis. Idenya bagus, eksekusinya bagus, sampai pertengahan dengan lelucon segar, penempatan karakter yang pas, dan proses menjelang ‘Perang Besar’ lumayan seru. Yang disayangkan, eksekusi final. Menurutku buruk. Jurnalis yang berkelit dalam ancaman, memburu berita dalam ketegangan, di akhir jadi jagoan kelahi bak polisi gagah yang meringkus Bandar Besar. Sayang sekali, daki cerita yang menanjak bergairah itu anti klimak. Ending-nya mencoba menyentuh dengan memberi harapan, seorang newbie yang memposisikan diri seperti karakter utama saat newbie dulu, namun tetap tak bisa menyelamatkan penuturan yang kedodoran. 

Kisahnya sebenarnya sangat bagus di awal sampai pertengahan. Sudut pandang berpindah-ganti dari reporter perempuan yang terancam, jurnalis saingan yang mencoba membuat berita sensasional, sampai pengedar narkoba yang galau karena terdesak kebutuhan di tengah krisis ekonomi. Pertama, Paulina Cole. Jurnalis New York Dispatch, seorang orang tua tunggal dari putri yang kini kuliah. Kedua, Henry Parker, jurnalis saingan Cole, bekerja untuk New York Gazette. Seorang pria lajang yang kehilangan saudara gara-gra narkoba, Stephen Gaines tewas dibunuh Bandar. Ketiga, seorang pekerja kantoran yang tiba-tiba diberhentikan karena krisis sedang melanda Amerika, Morgan Issacs. “Ekonomi sedang sulit, Dollar hampir taka da nilainya, selain nilai kertanya.” Awalnya dapat pesangon yang lumayan sehingga tak terlalu khawatir. Namun berjalannya waktu, CV dan usia muda tak menjamin ia segera mendapat pekerjaan baru. Karena ekonomi buruk sedang melanda Negara, banyak pemuda yang bernasib sama dengannya. Sampai batas keuangan sudah mengkhawatirkan, ia masih jobless. Ketiganya lalu dirajut dalam masalah peredaran narkoba jenis baru bernama The Darkness, Sang Kegelapan.

Pembukanya, Cole wartawan senior pamit dari kantornya. Setelah jalan beberapa meter, ada mobil dari Perusahaan berhenti mengajaknya masuk untuk mengantar pulang, mengaku dikirim oleh Ted Allen, atasannya. “Saya Chester dari New York Taxi and Limo.” Ternyata Cole diculik, diancam dengan keselamatan putrinya Abigail. Cole diminta mengikuti instruksi dalam bungkusan plastik, untuk tidak melapor polisi. Dengan menunjukkan foto Abby di pantai dengan pakaian seksi dan merobeknya. Ah.. pembuka yang bagus. Mengancam anggota keluarga terkasih untuk mengikuti alur panjahat.

Cerita digulirkan seminggu, dimulailah Senin. Henry Parker yang berangkat lebih awal ke kantor terkejut karena sudah banyak pekerja yang tiba. Ternyata sang former jurnalis, Penulis alcoholic yang lama menghilang kini datang lagi ke New York Gazette. Jack O’Donnell, Penulis Through the Darkness kembali dari mengasingkan diri. Jack adalah bintang pujaan Henry, alasan dia menjadi penulis berkat nama besarnya. Seorang suri tauladan dalam berkarya, tapi tidak untuk kehidupan sehari. Alkoholik dengan kehidupan pribadi yang suram. Nah, ada benang benar dengan Cole. Karena yang menjatuhkan karirnya adalah ia, dengan artikel negative. Cole sendiri adalah mantan reporter Gazette.

Morgan Issacs yang sudah diambang keterpurukan suatu hari mendapat telepon nomor asing. Dari seorang misterius bernama Chester – Jason tak pinter merangkai nama-nama karakter, entah fiktif ataukah bercabang. Logikanya penjahat professional tak menggunakan nama sama, harusnya memakai nama alias atau ambigu untuk di beberapa kejahatan, agar tak terlacak. Lha, penipuan SMS berkedok transfer aja bisa pakai seribu nama bajakan, masak Bandar narkoba dengan terang-terangan bilang Chester ke beberapa calon korban. Dan sayangnya tak menyimpan twist karena Chester yang ini juga Chester yang itu. Morgan diundang untuk menemuinya, mendapat rekomendasi dari almarhum rekannya, kurir narkoba yang tewas dan dalam ketergesaan ia mengikuti alur. Jobless yang menjadi kurir narkoba, bagaimana pertemuan, ruang rahasia sampai cara kerja obat terlarang itu beredar terbaca seru bak film-film spy yang misterius. Adegan terbaik tersaji saat pemaparan para calon pekerja yang salah satunya berakhir tragis, yang seandainya kita ditempatkan di sana seolah tak ada pilihan selain mengiyakan pekerjaan itu.

Pembunuhan sadis terjadi, korbannya Ken Tsang. Pengedar narkoba itu ditemukan tewas di sungai dengan bentuk remuk redam. Pembunuhan itu ditunjukkan pada dunia, bahwa siapapun yang berhianat dalam perputaran bisnis kotor ini akan berakhir tragis. Juga kepada warga kota, narkoba kini merajalela. Polisi Curt yang sering membantu Henry, menyelidiki criminal itu. Penelusuran Henry dan Jack mengarah pada sebuah bisnis ilegal di gedung misterius di mana salah satu lantainya disewa oleh 718 Enterprises, sebuah perusahaan siluman yang sulit terlacak. Yang dalam selidik mereka adalah temoat traksaksi/markas/transit narkoba. Perjalanan itu mengakibatkan Henry jadi saksi ledakan yang menewaskan target saksi kunci, menghebohkan berita nasional sampai telusur social media dan bagaimana menanganinya. Tampak hidup dan gerak cepat bak novel-novel Dan Brown.

Hari Kamis, New York Dispatch menerbitkan tulisan yang menghebohkan. Ditulis oleh Cole dalam ancaman. Artikel exclusive, Gazette ketinggalan. “The Darkness: Narkoba yang akan membawa Manhattan kembali ke zaman batu. Kegelapan muncul menikuti munculnya obat jenis baru di jalanan, polisi dna penduduk diam-diam ketakutan akan kekacauan seperempat abad lampau.” Ternyata berkas yang diterima Cole di pembuka itu adalah paksaan untuk merilis dalam koran sebuah barang baru, sebuah kerikil Kristal narkoba yang lebih candu dan lebih melayang bernama The Darkness. Dan ya,  judul buku dinukil dari sana. Nah, Morgan yang kini jadi pengedar di hari pertama rilis tampak sangat menjanjikan karena bisa mendistribusikan the darkness dengan sukses. Kebahagiaan dirasa Morgan karena kemewahan yang hilang dan diidamkan itu akhirnya kembali. Selamat tinggal kesulitan keuangan.

Ujung dari perseteruan kejar ala Kucing-Tikus ini seharusnya di saat target pembunuhan berikutnya. Seorang eks rekan Chester di militer menjadi mendebarkan. Bagaimana prosesnya dibuat dengan gaya macam Hit Man, padahal pelakukannya amatir Morgan yang terpaksa mengangkat senjata. Dan dipertemuan sudut pandang dalam perputaran plot. Saat ledakan pistol terdengar dan Morgan kabur, semua tampak sangat seru. Dah, akan lebih mengena biarkan menggantung, biarkan seni menjadi seni. Banyak hal tak perlu penjelasan gamblang nasib para karakter.

Sayangnya alur bagus itu malah justru dirusak. Nasib Morgan dijelaskan hingga ke ujung, siapa penghianatnya. Proses transaksi berikutnya yang menjerat, pengintaian yang menyeret ke akhir yang mencoba meledak. Sayangnya klise. Henry yang jadi tokoh utama jadi begitu enteng mengangkat senjata, ahli berkelahi dan bak jagoan tunggal yang mendepak para cecunguk. Padahal para bajingan itu professional, mantan militer yang tentunya gagah nan macho dan tampak sangat digdaya sepanjang kisah. Kok keok sama jurnalis yang bahkan tak bisa dengan benar memegang senjata? Duh! Sayang sekali.

Akhir kisah nasib sang alkoholik dan de javu kisah juga tak bisa menyelamatkan secara keseluruhakn karena eksekusi ending yang kedodoran. Dengan hasil akhir yang mengecewakan seperti ini apakah saya minat buku Pinter lainnya? Di halaman depan tertulis daftar novel Mira Books: The Mark, The Guilty, The Stolen, The Fury. Kisah Henry Parker ternyata berseri. Dan The Darkness ini adalah seri  kelima. Kalau beli, rasanya enggak deh. Tapi kalau pinjam baca, saya tak pernah menolak. Buku tebal dengan anti klimak, terasa mengecewakan. Tapi tak terlalu jua karena hanya pinjam, untungnya.

Sebelum saya tutup, saya mau buat paragraph tambahan. Kesan ketika narkoba merajalela dan mengancam kota New York kembali seperti era 1980an mengingatkan pada sebuah adegan film Spider-Man. Bagaimana Peter Parker meringkus para penjahat dengan jaring-nya di antara gedung pencakar langit di hiruk pikuk New York, kota yang penuh kejahatan bisa dibereskan dalam lemparan jarring pintal. Yah, kota besar impian dunia itu memang tampak megah dan menakjubkan. Bahkan dulu saya pernah punya keinginan suatu hari mengunjunginya, berurutan dengan kota London tentunya. Oiya, saya tak terlalu nggeh sama kejadian buruk era 1980an yang menyelimuti. Nah poin terpenting novel ini justru di sini, saya penasaran histori New York dari zaman batu sampai terbaru. Aneh juga, dua kota impian itu kenapa ga dari dulu ga saya kejar baca, pelajari dan nikmati sejarahnya? Terima kasih Darkness kamu mengingatkan…

Sang Kegelapan | by Jason Pinter | diterjemahkan dari The Darkness | copyright 2009 | GWI 703.11.1.046 | alih bahasa Ni Wayan Shanti | editor Anna Ervita Dewi | penata isi Budi Triyanto | Penerbit VioletBooks, imprint Penerbit Gramedia Pustaka Utama | ISBN 978-979-081-634-3 | cetakan pertama, 2011 | Skor: 3/5

Untuk penjual buku, pustakawan dan pembaca yang mendukung karyaku. Terima kasih. Dan untuk Bud White, yang menolak mati.

Karawang, 061217 – Sherina Munaf – Sing Your Mind

Thx to Sekar Ayu F, pemberi pinjam buku-buku (un)bermutu.

Logan: Emotional Adventure

Logan: Emotional Adventure

Charles: “You know, Logan… this is what life looks like. A home, people who love each other. Safe place. You should take a moment and feel it.”

Wow, just wow. Beginilah film penutup seharusnya dibuat. Petualangan emosional yang menyertai aksi jagoan. Seakan kita sedang menikmati drama bukan sebuah epik manusia super, jelas ini adalah film terbaik 2017 sejauh ini yang saya tonton. Menempatkan manusia mutan (yang special) dalam keterangsingan, menuai usia senja dengan segala lika-liku ketuaannya dan merentang jauh ke depan di masa misterius tahun 2029. Beginilah seharusnya pamitan yang selayaknya, dark and depressing movie of the year. Akhirnya solo action Wolverine menemui puncaknya. Origin saya suka, walau pada bilang tak cocok untuk musim panas karena biaya mahalnya tak terlihat. The Wolverine saya suka, walau dibarengi dengan ratapan sinis kritikus. Logan, jelas yang terbaik. Menempatkan manusia srigala dalam kesedihan tak bertepi.

Logan yang kita kenal kini sudah tua dan alcoholic dengan daya self-heal yang menurun, menggunakan nama kecilnya James Howlett (perpisahan aksi yang layak dari Hugh Jackman). Masa depan di mana manusia mutan nyaris punah, keberadaannya diburu dan dibinasakan umat manusia. Kini jagoan kita menjadi sopir online, macam sopir Grap atau Ubet, dengan mobil mewah limo. Setelah opening absurd, adegan pembukanya sadis, menerangkan sejatinya bahwa film emang wajib R-rating  / Untuk Dewasa, untuk kekerasan fisik dan sadisme. Di New York, bagaimana sang chauffeur sedang istirahat bobo malam dalam mobil, segerombolan cecunguk sedang mencoba maling roda mobil. Para penjahat itu dengan aksi bak film The Raid, dibabat brutal. Padahal Wolvie sudah mencoba defense, “Jangan sampai lecet woy! Ini mobil sewa,” namun tetap saja bak big buk tersaji, tewas deh para preman itu. Sebuah pembuka yang menjanjikan.

Lalu kita tahu kesehariannya. Ngumpulin duit buat beli obat duo mutan renta yang diamankan di sebuah tempat dengan tenda raksasa. Bagaimana Profesor X aka Charles Xavier (perpisahan aksi yang pilu Sir Patrick Stewart) ringkih dalam lindungan Wolvie untuk rutin minum obat agar kekuatan pikiran dahsyatnya tak memporakporandakan sekeliling. Masih dalam gerak kursi roda yang anehnya malah sering bikin joke segar, ‘I have to pee’. Satu lagi mutan rentanya adalah Caliban (Stephen Merchant), mutan yang bisa mendeteksi keberadaan mutan lain. Dengan kepala plontos dan riweuh, bikin Logan kesel. Kelemahannya adalah cahaya, jadi sepanjang film pas di panas terik akan memakai penutup macam sorban, akan dibuka saat di tempat tak banyak cahaya. “Beware the light!” Dalam frame-frame inilah kita tahu, Wolvie kini menjadi penjaga, seakan menjadi anak bakti yang patuh menjaga orang tua sudah jompo. “That was my favorite mug.”

Awalnya cerita digulirkan dengan tenang, sang sopir ditawari seorang imigran Meksiko, Gabriela (Elizabeth Rodriguez) uang sebesar 50 Ribu Dollar, untuk mengantar seorang remaja putri 11 tahun yang introvert Laura (debut istimewa Dafne Keen) ke utara. Sebuah tempat di Dakota Utara bernama ‘Eden’. Penawaran yang menggiurkan karena sedang kesulitan keuangan, tapi dari Gabriela kita tahu ini hanya fantasi. Tempat itu diambil dari komik X-Men edisi #132, bahwa suatu hari Wolverine akan menyelamatkan umat mutan yang tersisa, ke sanalah masa depan itu mengarah. ‘She read too many stories.’ Awalnya menolak, tapi keadaan memaksa. ‘Lets go to f**king fantasyland!’

Sementara Logan juga diancam pihak berwenang untuk memberitahunya kalau tahu keberadaan Laura. Sayangnya aksi Donald Pierce (Boyd Holbrook) tak bisa begitu menyakinkan, jadi titik lemah film ini. Ia adalah kepala keamanan Alkali-Transigen yang memburu mutan. Hanya sedikit yang benar-benar bagus, seperti saat ia meneror Wolvie ‘I am a fan, by the way’ sambil senyum sinis dan bercanda sarcasm ke Charles, ‘The world famous mutant octogenarian.’ Tampak meyakinkan dari awal, aksi Donald tersingkir oleh Dokter Zander Rice (Richard E. Grant) yang lebih tahu seluk beluk gen mutan. Dan aksi sang dokter sendiri nantinya juga kesingkir sang mutan buatan X-24 (diperankan oleh Hugh Jackman juga). Adegan brutal head-to-head-nya luar biasa, salah satu adu fisik paling heboh tahun ini. Mengerikan juga menyaksikan pertarungan seperti ini, trilogy X-Men dan kroni-nya seolah terlihat untuk level beginner.

Gabriela ditemukan tewas. Menyisakan file video, siapa Laura and the genk – Rebecca, Delilah, Jonah, Gideon, Rictor, Bla bla bla. Donald disikat saat merambah markas, Wolvie marah. Saat Donald akan dibuang Caliban, ia justru berbalik disekap. Di markas, saat terkepung kita disuguhi aksi luar biasa. Hit Girl seakan anak PAUD yang belajar merangkak. Laura membantai pasukan pemerintah, dengan cakar adamatium. Menggulingkan penggalan kepala, seolah itu adalah bola bekel. Dan menjadi satu timlah mereka, Logan yang marah mengantar anaknya Laura yang punya kekuatan setara Wolvie, bisa menyembuhkan sendiri dan bercakar, serta ditemani sang kakek Charles menuju utara. Jadilah ini road-movie, mengingatkanku pada Little Miss Sunshine yang mengantar anak-anak dalam  versi cadas sekaligus mengingatkanku pada Nebraska yang mengantarkan kakek untuk menjemput hadiah, versi sedih. Farewell to arms.

Dalam perjalanan ada adegan menyentuh sekaligus berakhir sangat kejam, di mana Logan di tol kota Oklahoma berpapasan dengan truk yang mengangkut beberapa kuda. Kuda itu lepas dalam kecelakaan, saat Logan berencana cuek dan tak mau menolong dengan bilang, “Someone will come along.” Tapi Charles menegaskan, “Someone has come along.”  Sebenarnya Logan sudah bilang, lepas saja yang dalam arti tatapannya bilang, ‘ga usah campur tangan dengan orang-orang baik karena ujungnya pasti tragedy.’ Charles menggunakan kekuatan pikirannya dan tak mau menolak ajakan makan malam, bahkan nantinya bermalam istirahat agar esoknya bisa melanjutkan perjalanan dengan fresh. Feeling Logan tepat, firasat Logan sangat pas. Malam itu jadi ajang bantai-membantai di rumah keluarga Will Munson.

Dalam sebuah adegan makan malam keluarga, kita disuguhi trivia menarik di mana dialog pengajar di sekolah dituturkan dengan maksud tersembunyi. Marvel emang jago menyelipkan humor, Marvel emang pintar atur dialog ringan jadi lawakan segar. Keluarga Munson pasti berfikir mereka sedang berkelakar tentang masa lalu di sekolah umum, kita tahu karena First Class yang megah memang patut diapresiasi.

Berhasilkah Laura menemui teman-temannya di Eden, berhasilkah regenerasi mutan berlangsung? Bagaimana nasib Wolvie akhirnya? Saksikan salah satu film drama menakjubkan tahun ini! Film superhero Marvel rasa drama yang uniknya tanpa scene after credit. Namun tetap nyaman dinikmati tulisan jalannya dengan iringan lagu ‘The Man Comes Around’ nya Johny Cash.

Adegan opening-nya juga seru. Seolah sebagai pengganti potongan adegan pasca credit yang ditaruh di depan. Wade Wilson alias si slengekan Deadpool (Ryan Reynold) yang dalam kotak telepon, berlaku kocak dalam gerak pelan dengan background kelahi sampai seseorang tepar tertembak, ia menelpon 911 dan ambil es cream dari tas. Pecahan adegan ini seolah ngajak Wolvie untuk cross-over Deadpool suatu hari nanti, dengan porsi seimbang tentunya, ga ada dominasi. Patut ditunggu. Sangat layak dinanti.

Jelas rating film ini dewasa. Kejam, pembunuhan di mana-mana. Film lebih humanis dengan lebih sedikit efek CGI dan penggunaan green screen. Anehnya, partner Wolvie seorang remaja yang turut membabibuta menggunakan cakar seluwes dirinya. Bagian Dafne beraksi membabat lawan mayoritas dilakukan green screen. Termasuk adegan saat mereka masuk kasino, James menggunakan aktor pengganti yang sudah berusia 18 tahun. Masa depan Dafne dipastikan cerah, seperti Hit Girl yang dituntut fan agar lebih banyak lagi muncul di sekuel, ia pasti akan kita temui di seri X-Men lainnya. Atau malah X-Men: Laura? Sangar kan.

Ada beberapa pertanyaan yang menggantung mengenai setting waktu. Charles berujar sebuah kejadian di Westchester yang memilukan yang mengakibatkan banyak korban termasuk anggota X-Men. Tak ada detail insiden apa, yang jelas Westchester adalah tempat sekolah mutan berdiri. Apakah kejadian itu pewujud punahnya para mutan, apalagi 25 tahun sudah tak ada mutan terlahir lagi. Ditambah mereka diburu pemerintah, coba dibinasakan. Rasa penasaran ini makin kuat karena soulmet Charles, Magneto tak muncul sama sekali dan tak disebut. Kalian pasti penasaran ke mana hilangnya helm ajaib itu?

Di Inggris pelakuan rilis dirayakan istimewa karena jam penutaran dipaskan dengan jam 10:23 p.m. 10 adalah X dan 23 adalah nomor si Laura, masa depan mutan jadinya X-23. Keren ya. film ini selain memuat kekerasan fisik juga memuat f-word banyak – ada 35 kali, verbal yang tak nyaman di telinga itu memuat Wolvie jarang senyum, maki-maki tak jelas nyaris sepanjang menit – hanya tiga kali tersenyum dalam durasi sepanjang itu!

Benar kata William Styker di X-Men 2 bahwa ‘One day, someone will finish what we started. One day!’ Apakah ini benar-benar final aksi Hugh? Waktu yang kan jadi jawab. Superman sudah banyak pemerannya, Batman bisa direnteng pelakunya, Spiderman bahkan sudah direboot dua kali dalam kurum sedekade, tapi Wolverine hanya satu Hugh Jackman – the one and only. Logan adalah film paling sedih tahun ini. Wolverine pamit, Hugh pamit dalam peluk ‘hati’ nya. Emotional adventure.

Logan | Year 2017 | Directed by James Mangold | Screenplay Scott Frank, James Mangold, Micahel Green | Cast Hugh Jackman, Patrick Stewart, Dafne Keen, Boyd Holbrook, Stephen Merchart, Richard E. Grant | Skor: 4.5/5

Karawang, 051217 – Sherina Munaf – Click Clock


Pekan Ke 15: Sampdoria Vs Lazio

Pekan Ke 15: Sampdoria Vs Lazio

Prakiraan formasi
3-5-1-1
Strakosha
Bastos-De Vrij-Radu
Marusic-Parolo-Leiva-Sergej-Lukaku
Luis Alberto
Immobile
LBP
0-3
Musim ini seluruh laga yang dihelat diluar Olimpico menang semua. Il Samp akan jadi korban berikutnya. Poin poin krusial tak boleh lepas. Forza Lazio.
Imoenk runner up fpl
Samp 1-3 Lazio, Immobile
Immobille bakal ngamuk. Setelah gagal lolos pildun, ini saatnya pelampiasan dendam. Il Samp yang jadi korban.
Catet!!!
Burnley Master
Sampdoria 1-2 Lazio, Immobile
Lawan yang kuat. Lazio masih kuat. Immobile tambah kuat.
DC
Sampdoria 2-1 Lazio
Quagliarella
Dua tim posisinya beda-beda tipis. Tetapi Sampdoria main kandang. Lazio akan tumbang.
Damar irr
Sampdoria 0- 2 SS Lazio. Immobile
Ajang pembalasan. Lazio akan kembali berpesta. Immobile akan mencetak gol. Bisogba vincere
Bagas
Samp 0 – 1 Lazio, Immobile
Lazio akan berusaha mencuri 3 angka, dan Immobile akan mewujudkan dengan gol tunggalnya, Forza Laz…
Sin, Cos, Huang
Samp 3-1 Lazio; Ramirez
lha wong Juventus raja Italia aja tak berkutik di Luigi Ferarris, apalagi cuma Lajio. Degrit akan mengalami kekalahan paling telak musim ini. Para fans terbungkam. Mereka tak lagi dapat menyanyikan Ciro cublak suweng dengan bangga.
Arief
Samp v Lazio 1-0
Zapata
Kepercayaan tinggi sedang berada di Sampdoria usai mengalahkan Juventus. Di Luigi Ferraris, Samp selalu menang. Juve saja bisa dikalahkan, apalagi Lazio.
Siska
Sampdoria 1-2 Lazio
Luis Alberto
Dalam 3 lawatan terakhir ke kandang Sampdoria,  Lazio tak terkalahkan. Sampdoria memang sudah mengalahkan Juve, tapi yang main besok adalah Lazio, bukan Juve 🙈 Jadi, seharusnya Lazio bisa menang.
Deni
Sampdoria 2-2 lazio
Immobile
Lajio main tandang. Lajio berusaha menang. Sampdoria bermain menyerang. Akhirnya didapatkannya hasil imbang.
Takdir
Samp 2-3 Lazio
Immobile
Analisis: Sembilan kemenangan beruntun terhenti di Derby. Gagal bangkit menjamu Fiorentina, terlepas dari penalti kontroversi menit akhir permainan Lazio sudah mulai tertebak. Tiga bek, lima tengah, satu second striker dengan seorang Immobile di ujung. Gitu terus, tak heran Viola berhasil meredam lini tengah dengan duo muda menjanjikan Simone dan Chiesa. Ditambah lagi kualitas cadangan the Great sangat jauh dari harapan. Felipe Caicedo macam King Cobra jilid II. Patric benar benar jadi teman Spongebob. Jangan ngomongin Nani deh, selalu muncul di saat tak tepat. Ga usah ngomong Scudetto dulu, raih 40 poin salvation dulu baru kita bahas selanjutnya. Il Samp akan tampil menyerang, setidaknya babak pertama, Lazio suka dengan tim ofensif bukan menunggu bola jadi hasil HT akan jadi cermin FT karena babak kedua akan lebih banyak defensif, kecuali Felipe Anderson sudah kembali, Lazio akan menjelma Barcelona. Kalian merindu Bale-nya Lazio? Saya juga.
Emas
Lazio 2 – 2 samdoria
Imobille
Tim yg pernah dibela kurnia sandy ini pernah melumat juara bertahan.Faktor bejo lazio akan sedikit pudar seiring cidera sang pangeran roma yg baru.Hasil imbang cukup membuat admin tidak menghilang.
Karawang, 021117

Wonder Woman: Captain ‘Price’ America

Wonder Woman: Captain ‘Price’ America

Diana Prince: I am Diana, Princess of… | Steve Trevor: Price! Diana Price!

Setelah segala keterpurukan film-film adaptasi DC belakangan ini sejauh mana usaha mereka untuk kembali bangkit? Sample tahun lalu Suicide Squad dan Batman Vs Superman: Dawn of Justice gagal secara kualitas. Bandingkan keluaran Marvel yang sukses box office dan jauh dari hujatan kritikus macam Doctor Strange dan Civil War. Tahun ini DC mengeluarkan dua andalan utama, Wonder Woman dan Justice League untuk menantang gempuran pasukan Avengers.

Jumat mendung (9/6) kemarin pasca Taraweh yang tergesa, saya sempatkan seorang diri berjalan kaki ke CGV Blitz Festive Walk Karawang untuk menikmatinya. Banyak review yang sudah mencoba masuk ke otak, tapi saya abaikan. Bahkan tomat fresh pun sempat digulirkan sebelum rilis resmi. Hasilnya? Dari jam 20:20 sampai 22:50 saya terduduk lesu. Lelah. Durasi jadi complain pertama karena banyak scene yang bisa dipangkas tanpa mengurangi inti cerita. 

Kisahnya tentang DC girl paling imut dari latar belakang masa kecilnya sampai era sekarang. Cerita pembukanya di kota Paris, Diana Prince (dimainkan dengan seksi oleh Gal Gadot) menerima berkas berisi foto dirinya bersama empat pasukan di era Perang Dunia, kiriman dari Bruce Wayne itu bertuliskan keinginan mengetahui cerita di balik gambar. Dengan tersenyum, dan kisah langsung diseret jauh ke belakang. Di sebuah pulau terpencil bernama Themyscira tentang legenda Amazon, tersebutlah warga yang berpenghuni semua perempuan. Pulau yang dilindungi dari dunia luar. Diana kecil (dimainkan dengan imut Lilly Aspell – ulang tahunnya sama euy 30 April. Bisa aja DC casting pemain) sudah terlihat istimewa. Antuisme, aktif dan ceria. Kerumunan warga yang semuanya perempuan itu seakan tak dimakan era, semua yang ada di situ adalah gambaran masa jauh dari peradaban. Pakaian seksi, berlatih perang dengan senjata pedang, tombak, panah dengan lengan kiri tersampir tameng. Semua tersaji ala ala film Hercules versi feminim. Dari penuturan ibunya, Diana tahu tentang sejarah Tuhan. Bagaimana Ares, dewa perang turun ke bumi dan meluluhlantakkan sendi kehidupan dan dengan Pedang Pembunuh Dewa-lah ia bisa ditaklukkan.

Era berjalan dengan sekali kedip. Diana sudah dewasa, tampak sangat cantik. Nah, suatu ketika pembatas dunia luar itu tembus. Sebuah pesawat perang masuk ke area Themyscira. Pilotnya Steve Trevor (Chris Pine) yang terjatuh di laut, Diana langsung menyelam guna memberikan pertolongan. Sayangnya barikade udara itu menyeret pasukan Jerman yang mengejar Steve, tarung saru tersaji. pasukan Amazon dengan senjata tradisional dalam serang lingkup senjata api. Dengan Lasso kebenaran Steve bertutur bahwa ada penjahat perang yang mengancam kedamaian dunia, Jenderal Erich Ludendorff (dimainkan dengan menyakinkan oleh Danny Huston) dan kepala laboratorium Dr Isabel Maru (Elena Anaya) yang sedang mengembangkan senjata baru yang bisa melakukan pembunuhan massal. Dan tentu saja dipikiran kaum Amazon itulah perwujud dewa Ares era modern. Dengan alibi inilah, Diana harus dikirim ke dunia luar, harus mencegah kiamat. Saatnya menjadi pahlawan sesungguhnya. Dengan tameng, lasso, Pedang Pembunuh Dewa. Adegan pamitnya bak remaja pertama kali mau merantau yang diantar warga sekampung. Dibuat menyentuh. “Be careful in the world on men, Diana. They do not deserve you. You have been my greatest love. Today, you are my greatest sorrow.” Dan demi JL maka berdua berangkat mengarungi lautan berperahu menuju kerasnya kehidupan.

Sesampai di London (It’s hideous!), dikenalkan dengan sekretaris. “Well, where I am from that’s called slavery.”. Lalu kita dipertemukan dengan sang negosiator Inggris dengan pihak Jerman, Sir Patrick Morgan (lulusan Hogwart yang keren itu, David Thewlis). Awalnya kaku dan ditolak pemerintah misi itu, rencana tak disetujui mereka cari jalan lain. Dengan tekad pahlawan, Sir Patrick off record mengizinkan Steve membentuk tim. Dan Diana-pun diajak berkenalan dengan rekan seperjuangan. Pertama mata-mata aneh Sammer (Said Tagmaous), kedua si kurus layu Charlie (Ewen Bremner) dan berikutnya si penyelundup The Chief (Eugene Brave Rock). Tim siap berangkat! Bak sajian perang penuh bom, rentetan senjata dan pada akhirnya Diana bertatap sama Ludendoff adalah bagian terbaik, “You know nothing of the gods.”, dan sampai kejutan identitas Dewa Ares tentunya. Hiruk pikuk ledakan musim panas. Dan tentu saat foto jadul di Belgia itu dibingkai. Berhasilkah perang besar digagalkan? “I shall destroy you!”

Seperti biasa, saya adalah penikmat credit title. Saya tonton sampai layar benar-benar kosong. Bahkan sampai petugas kebersihan bioskop datang, ‘mengusir’ bilang bahwa scene after credit tidak ada. Yah, saya jawab ‘sudah tahu, saya menikmati tulisannya’. Lalu apa yang saya dapat dari 5 menitan tulisan berjalan ke atas bersama score menghentak Rupert Gregson-Williams itu? Termasuk permainan cello tema Wonder Woman jadul terdengar. Film ini didedikasikan untuk ayah sang sutradara: William T Jenkins yang seorang kapten pilot Air Force. Juga untuk para contributor bergenerasi sebelumnya yang berjasa atas franchise ini: William Moulton Matston, George Perez, Jim Lee, Chiff Chiang dan Lynda Carter yang pertama kali memerankan Diana secara live acton tahun 1975.

Bahwa sedari awal film, tak ada judulnya sama sekali dan tak ada pula yang memanggilnya Wonder Woman sepanjang film. Tulisan judul baru muncul saat usai. Ketika Diana mempresentasikan hidupnya demi keadilan, dan menyebut dirinya sebagai ‘Wonder Woman’.

Keunggulan utama film ini tentu saja segala aksi Gal Gadot, cast yang sempurna. Film superhero dengan leading role wanita pertama sejak Eletra, wew sudah lama sekali ya ternyata. Untungnya sukses, kekhawatiran kita akan cewek berbaju seksi, keluar dari pakem sehingga norak tak terwujud. Salut, Gal Gadot langsung naik pamor. Segala filmnya otomatis diburu, saya bahkan belum nonton Furious 7, apalagi film kelas B macam Keeping Up with the Joneses, Criminal, Triple 9 sampai Kicking Out Shoshana. Keculai franchise Fast and Furious, nyaris semua tak kutahu. Film yang akan dikenang selamanya, film yang mengubahnya menjadi aktris papan atas. Wonder woman 2, Flashpoint, Justice League Part Two secara otomatis juga ditunggu. Tahun ini kita dua kali dihadiahi sang Wonder dua kali. JL yang minggu lalu kutonton, jelas juaranya Gadot dan ini.

Sayangnya plot yang disajikan kurang bagus, biasa saja. Tema manusia jadul, super hero zaman old dari zaman Perang Dunia yang bertahan hidup sampai era millennial tampak tak asing di telinga. Sang Kapten and co dibekukan dan memimpin sekumpulan manusia super. Yah, DC terlambat lagi. Emang nasib.

Salah satu adegan favorit yang tampak biasa tapi sangat mengena, saat Diana pertama kali makan es cream dan berujar, “It’s wonderful. You should be very proud.” Yeah, Gal Gadot, kamu pasti sangat bangga!

Wonder Woman | Year 2017 | Directed by Patty Jenkins | Screenplay Allan Heinberg | Story Zack Snyder, Allan Heinberg, Jason Fuchs | original story Wonder Woman created by William Moulton Marston | Cast Gal Gadot, Chris Pine, Connie Nielsen, Robin Wright, Danny Huston, David Thewlis, Lily Aspell, Ewen Bremner | Skor: 3,5/5

Karawang, 1206-3011-17 – Sherina Munaf – Beranjak Dewasa

#HBDSherinaMunafKU

Draft tulisan ini sudah kubuat bulan Juni 2016 dan baru sempat saya edit dan pos hari ini.