Di Kaki Bukit Cibalak #21

Maaf, Ayah, yang namanya kebijaksanaan selalu muncul dari kewenangan. Patokannya sangat subjektif dan baur. Kebijaksanaan tidak akan menyelesaikan masalah ini dengan tuntas. Ini hanya menggeser masalah ke sampinng, bukan menyelesaikannya sama sekali.”

Ini adalah kisah dari pedesaan yang yang sangat membumi, kisah cinta bertepuk sebelah tangan errggh… cinta yang tak harus miliki lebih pasnya, politik orang bawah, permainan mistis sampai kritik birokrasi. Sejatinya ini bisa terjadi pada siapa saja, bagaimana orang kebanyakan menghadapi kerasnya hidup. Ga semua yang diharapkan bisa terwujud, ga semua yang dimimpikan bisa terkabul. Orang yang punya prinsip, orang idealis sekalipun melawan arus selalu pada akhirnya punya kepuasan tersendiri kala ia gigih dan kuat atas apa pilihannya. Salute!

Tentang riwayat sebuah desa di kaki bukit Cibalak, Sukabumi. Hikayat orang-orang desa dalam mengarungi kehidupan, perubahan zaman, perubahan kebiasaan, teknologi masuk desa, sampai polemik dasar makhluk Tuhan untuk bertahan hidup. Bagaimana desa Tanggir melalui masa, menjelma hingga kini. Masyarakat yang dituturkan dalam keseharian, petani, pedagang, pamong praja, semua mengalir nyaman. Sampai akhirnya bab pertama ditutup dengan sebuah hasil pemilihan lurah yang berakhir buruk, yang jujur kalah sama yang berduit, yang alim kalah sama sebab politik uang. Ternyata keluhuran budi, kearifan serta kejujuran Pak Badi tidak memberinya nasib baik, karena lurah baru mereka adalah Pak Dirga.

Sang protagonis kita, Pambudi merasa kecewa jagoannya kalah. Ia adalah pemuda 24 tahun yang idealis. Ia bertugas menjadi pengurus lumbung koperasi desa Tanggir. Dua tahun pengabdian yang coba berbuat lurus, menjaga martabat, anti korupsi. Kadang ia bertanya pada diri sendiri kenapa tidak bisa seperti Poyo, teman sejawat yang hidup sejahtera bersama istrinya karena sekongkol, karena korupsi, menghalalkan segala cara untuk kekayaan pribadi. Dan dengan kelapa desa baru ini, makin runyamlah karier Pambudi yang lurus.

Drama sesungguhnya dimulai ketika seorang nenek-nenek mencoba meminjam uang di koperasi, karena butuh uang untuk berobat, berasnya dijual sedikit, dan dengan ketus sang lurah malah memarahi, meminta pinjaman yang lalu untuk dikembalikan, dan dengan kasar mengusir Mbok Ralem. Pambudi yang tahu ada kas menanyakan kenapa, wong cilik butuh pinjaman malah ditolak? Ternyata uangnya akan diputar dengan licik oleh bosnya, marah Pambudi mengambil tindakan sendiri. Ia mundur, tindakan gentle, sangat lakitindakan yang sungguh berani. Katakan TIDAK pada korupsi.

Sebagai pengangguran, ia lalu melakukan pekerjaan kecil-kecilan. Memperbaiki kandang ayam, menggali parit, membuat labur untuk dinding, waktu luang, kelegaan, kenyamanan walau tak berduit itu lalu membuahkan pemikiran brilian. Ia kayuh sepadanya ke rumah Mbok Ralem dan menyampaikan sebuah tekad mulia. Membantunya, tanpa batas! Rocker man.

Dengan bersepeda mereka ke pasar Tanggir, lalu melanjutkan naik bis ke Yogyakarta. Dengan surat keterangan miskin dibawanya ke rumah sakit, Pak mantri bilang bisa mengobatinya gratis asal bukan penyakit ganas sejenis kanker. Maka setelah cek laboratorium, dengan uang seadanya, dengan modal nekad mereka ke rumah sakit. Ternyata Pambudi punya ide brilian, ia ke tukang foto, membeli koran Kalawarta, membayar iklan Sumbangan untuk Mbok Ralem, semacam Peduli Kasih era kini. Kalau sekarang ya sejenis Twitter do your majic, sehingga mengetuk hati pembaca untuk turut menyumbang. Luar biasa, tahun 1990an ada ide mantab gini. Dengan teknologi media cetak yang terbatas, dan ternyata berhasil! Keren.

Dan melalui Pak Barkah, kepala redaksi yang terketuk hatinya memajang iklan S.O.S. itu di halaman pertama, responnya luar biasa. Hari itu harian Kalawarta dibanjiri telepon dan uang melalui rekening kasih atau datang langsung kasih tunai. Koran daerah yang daya edarnya tak akan melewati batas provinsi dengan oplah 12,000 itu berhasil dalam program ‘Dompet Mbok Ralem’ sebesar 2.162.375 rupiah. Sumbangan dari berbagai kalangan, gereja, para pekerja kuli bongkar terminal, haji X, pedagang batik, hamba Allah. Luar biasa, banyak orang baik di Indonesia, banyak orang yang masih peduli sesama.

Sekembali ke desa, namanya melambung, di surau, di emperan toko, di pos ronda nama Pambudi jadi buah bibir. Tak terkecuali pujian dari seorang gadis SMP yang manis, Sanis yang jadi primadona. Sejatinya Pambudi menaruh hati pada kembang desa ini, cinta yang menggebu tapi tertahan dan dalam diam. Bagian roman ini ditampilkan dengan sangat baik, dibumbui malu-malu salam, malu-malu saling senyum sampai lirikan yang sekilas mendebarkan. Eksekusinya juga pas, kuberitahu ya, walau saling mencinta nantinya berakhir pahit. Sudah pas, cinta yang seperti ini nyata, lebih bisa diterima dalam cerita kehidupan yang keras ini, sayangnya nasib Sanis yang tragis tak diikuti dengan kasih asmara Pambudi yang manis. Andai keduanya turut remuk redam novel ini bisa jadi juara. Laiknya cerita buku-buku Hamka yang menyakitkan disiksa asmara. Tidak, Mbah Tohari tetap menyajikan madu cinta dengan seksama dalam porsi yang adil.

Drama kemiskinan di desa Tanggir berlanjut, ketenaran Pambudi memberi efek panjang. Ia ditegur sekretaris desa, yang memberi surat miskin, ia dipanggil camat karena ada warganya yang miskin tak melapor kepadanya dan camat kena damprat gubernur atas kelalaian melayani rakyat. Padahal kita semua tahu, mereka tak bergerak ketika Mbok Ralem terpuruk tanpa uang, kesakitan tanpa ada yang peduli. Kini setelah ia sembuh dengan bantuan pembaca koran, mereka malah saling tuding, saling menyalahkan. Ah khas birokrasi orde Baru yang korup.
Bukit Cibalak. Daya pikir manusia dapat membuktikan bahwa dulu, bukit ini adalah lapisan kerak bumi yang berada di dasar laut. Alam perkasa dengan kekuatan tektonis mengangkat lapisan kerak bumi ke atas permukaan laut dan lebih tinggi lagi. Masa berjuta tahun membentuk Cibalak yang berkapur, meninggalkan lapisan humus yang subur, dan alam mencipta masyarakat yang bersosialisasi hingga kini.

Asmara Pambudi kini dijadikan taruhan. Keluarganya dimusuhi para pamong yang menganggapnya sok pahlawan, Sanis yang jelita malah kini memasuki lingkaran kantor kelurahan setelah didapuk dandan dalam peringatan hari Kartini. Pambudi terusir, ia difitnah dalam kasus uang koperasi, dituduh menyelewengkan dana desa. Ia lalu bekerja dalam perantaua. Wani ngalah luhur wekasane. Di tanah rantau di Yogya, ia sempat lontang lantung, yang akhirnya kembali mempertemukan dengan Pak Barkah. Waktu memberinya kesempatan, waktu menempanya menjadi kuat, waktu pula yang memberi bukti atas idealisnya. Ia kini menjadi bagian dari koran, walau meras kurang cakap dalam jurnalistik, ia belajar, ia bekerja keras dan sembari melanjutkan kuliah. Masa muda, masa perjuangan. Bisa ditebak dengan mudah ke arah mana ia melaju. Kesuksesan.

Ini adalah buku pertama dari Penulis kawakan Ahmad Tohari yang selesai kubaca. Kubaca pasca kesedihan mendalam kehilangan Caisha Lettie awal tahun ini. Buku ini menjadi semacam obat, menjadi pelarian baca pasca tragedi keluargaku. Hanya berselang lima hari setelah kepiluan itu, kucoba susun kembali harapan hidup.

Ia sangat yakin bahwa kematian adalah sekadar proses alami yang langsung dikendalikan oleh Tuhan dari arasy. Takdir, cinta, rejeki semua sudah ada yang atur. Maka di tanah rantau Pambudi yang perkasa menempa diri dalam kerasnya kota. Seberapa kuat menahan goncangan badai ini? Dari kaki bukit Cibalak kita menjadi saksi penggalan kehidupan yang riuh dan adat yang kuat, birokrat yang rumit dan cinta yang kandas.

Bagi lelaki, cinta bukanlah segalanya.

Di Kaki Bukit Cibalak | Oleh Ahmad Tohari | GM 401 01 14 0057 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul eMTe | Pertama terbit 1994 | Cetakan kelima, Maret 2015 | ISBN 978-602-03-0513-4 | 176 hlm.; 20 cm | Skor: 4/5

Karawang, 240618 – Nikita Willy – Akibat Pernikahan Dini

#Day21 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Iklan

Menolak Ayah #20

Kalau kau tidak berperang, kau tidak membutuhkan senjata. Kalau kau ikut berperang, kau harus tahu siapa musuhmu. Kau harus bersungguh-sungguh membunuh. Perang dilakukan memang untuk membunuh.”

Apakah seluruh ilmu Batak ini akan terkubur nanti bersama kematianku?

Bagaimana pengaruh sebuah ulasan terhadap keputusan menikmati atau tidaknya sebuah karya? Kalau yang ulas adalah seorang teman terpercaya, maka sangat kuat. Saya mengambil keputusan membeli buku ini gara-gara ulasan teman di facebook, review-nya di sebuah Koran Nasional menambah keyakinan itu. Kunikmati awal tahun ini dalam kepiluan, Menolak Ayah adalah jenis novel yang sangat hebat di awal sampai pertengahan, lalu menukik tak terkendali sampai akhir. Awalnya sungguh bagus. Kita diajak menelusuri kehidupan warga Batak, seluk beluk era pasca kemerdekaan Republik Indonesia, hingga efek panjang yang merentang. Dibumbui kisah mistis dan kepercayaan leluhur, Menolak Ayah sungguh menjanjikan. Sayangnya tak bisa konsisten, novel ini langsung terjun bebas ketika sang protagonist merantau di ibu kota, dan segalanya tampak happy ending, seolah tangan midas yang mujarap. Kesendirian pada masa tua ternyata adalah masa depan yang pahit dan kelam.

Dalam keterbatasan dan kemiskinan, terasa sungguh menyenangkan. Tapi siapa yang dapat kembali ke masa lalu? Kisahnya panjang sekali, melibatkan era tua akar budaya Batak. Tondi artinya roh, semangat, jiwa kehidupan. Huta bukan hanya berarti kampung, tapi pemukinan yang menjadi sumber kehidupan. Jadi nama itu berati roh negeri sekaum. Saya jadi tahu asal usul marga yang banyak dan alirannya. “Bah, memutus rantai dengan nenek moyang, perbuatan yang sangat terkutuk bagi orang Batak.” Semua orang Batak yang ada di muka bumi, berasal dari pusat ini. Semua. Mereka adalah keturunan manusia yang diturunkan dari langit, seorang yang disebut si Raja Batak. Manusia pertama ini kemudian punya dua orang anak laki-laki yaitu Guru Tateabulan dan Raja Isuboan, dari keduanya lahir sejumlah keturunan, dan cucu dari si Raja inilah lahir marga-marga orang Batak.

Buku dipilah dalam lima bagian: Marga, Begu, Inang, Perang, Amang. Ini adalah novel riwayat Tondi yang bernama asli Immanuel Tondinihuta artinya Tuhan beserta kita. Pemuda Batak yang tumbuh dari era Indonesia merdeka hingga millennium. Sumatra setelah Proklamasi masih dalam gejolak. Di Medan dinyatakan sebagai Dewan Gajah, di Padang sebagai Dewan Banteng, Dewan Garuda di Palembang, dan Permesta di Manado. Ia masuk dalam pasukan pemberontak (tergantung sudut mana melihatnya). Pada dasarnya memang tak ingin ada perang. “Tidak. Aku tidak mau berperang. Aku cuma mau meninggalkan Siantar. Aku tidak tahu harus berbuat apa, sejak aku tidak sekolah lagi.” Sampai sekarang dia masih menganut agama Batak, agama purba yang menyembah Debata Mulajadi na Balon, dan menghormati alam dan roh-roh baik. Agama Batak atau biasa disebut Parmalim dianut orang Batak sebelum agama Kristen dan Islam masuk ke daerah itu.

Kakek Tondi adalah orang sakti. Keturunan raja. Kita harus menjaga keselamatan raja kita. Mengapa harus mempertaruhkan nyawa untuk keselamatan raja kita? Sebenarnya bukan raja itu yang kita kawal. Kita mengawal agama kita. Atau dia sudah berdamai dengan zaman, sudah pasrah andai pengetahuan dari nenek-moyang ini akan lenyap. Jika manusia berperang, seharusnya adat mendampingnya. Hukum Mulajadi na Bolon harus diikuti. Adat hanya dipakai untuk pesta, bukan untuk kehidupan.

Seperti ditulis sejarah. Banyak perang semasa kolonial. Dalam setiap peperangan, hanya satu pihak yang menang. Atau kedua-duanya hancur. Perang Aceh berlangsung selama 31 tahun dari taun 1873–1904, Perang Batak selama 29 tahun dari 1879–1907. Perang Padri tahun 1821-1837. Dan Perang Jawa 1825-1830. Faktanya membutuhkan waktu yang lebih lama untuk menaklukkan Aceh dan Batak. Maka pasca kemerdekaan, masih ada perang di antara penduduk sendiri. Hanya kehancuran yang ditinggalkan dari peperangan. Sekarang kau berperang, apa yang kau bela? Sejatinya sebagian orang ingin berperang, ingin kedaulatan. Ingin merdeka. Dia hanya ingin berperang. Perang adalah jalan. Banyak jalan untuk mencapai tujuan. Jalan adalah garis yang dibuat dari satu titik ke titik lain. Dari satu tempat menuju suatu tempat berikutnya. Tetapi bisa juga tidak ke mana-mana, sebab suatu jalan yang panjang bisa jadi hanya berputar-putar di satu tempat.

Maka Tondi bergabung dengan pasukan. Maka gerakan ini dinamakan Perjuangan Daerah. Dan ketika Sukarno dan Hatta ditawan Belanda, pusat pemerintahan republik dipindahkan ke Bukittinggi. Dan sekarang dia harus ke Bukittinggi, membawa surat yang harus disampaiakn ke markas pemberontakan di daerah itu. Masih tanda tanya apakah ia berhasil sampai ke kota itu.

Bagian ketika Tondi melakukan perjalanan di hutan adalah bagian terbaik. Begu penunggu harajoan sombaon, hutan terlarang, pun memilih laki-laki itu sebagai perantaranya. Mistis, penuh perenungan, perjalanan reliji seorang pemuda demi menemukan jati diri, menemukan pengalaman dalam maya. Telapak tangannya terkelupas kemudian kapalan. Keringat yang membanjir setiap mengayunkan kapak yang berat, pengganti olahraga baginya, menjadikan tubuhnya kekar. Mungkin semacam bakat alam, atau mungkin karena penderitaan hidup yang tidak terelakkan dari masa kecil, seorang anak yang diabaikan ayahnya. Dia punya ayah, tapi tidak pernah mengenalnya. Karenanya tanah, batu, pokok pohon, angin, ya, alam mengasuhnya. Maka menembangi hutan hanya demi kekayaan dunia adalah perampokan.

Danau Toba seluas laut, namun airnya mustahil menjadi garam. Tondi mendapat jamuan di sebuah rumah gadang di tengah hutan. Kopi dihidangkan dalam cangkir tembikar. Kopi yang sangat harum, melebihi kopi Sidikalang. Ini adalah pengalaman gaib, sungguh keren sekali adegan saat di rumah tengah hutan ini. Semacam dalam perkampungan jin? Ataukah jiwa-jiwa yang menjamunya adalah lingkup mistis tak terkata? Mungkinkah perjalanan ini dapat menjadi ziarah bagi Tondi dari tanah Batak hingga Bonjol di selatan sana? Saya tak mau cerita detail bagian hebat ini, biar kalian penasaran. “Bulan Juli tahun Sembilan belas lima tujuh. Sekarang ini sudah tahun lima Sembilan.” Kehiduapn di tengah belantara dataran Toba itu hanya singkat tetapi telah mengambil rentang waktu yang panjang bagi manusia.

Pengalaman di kebun yang ada di pinggir hutan juga hebat. Ada semacam kebetulan di sana, tapi siapa yang tahu? Dijamu sebuah keluarga yang aneh dengan wanita langka, menikah tapi masih tetap suci. Nasibnya sebagai perempuan, diapit tidak bersanggit, ditambat tidak bertali. Dia selalu ingat ibunya setiap kali berhadapan dengan perempuan, terutama yang lebih tua. Salah satu hikayat yang unik adalah untuk menghindari korban yang sia-sia dalam peperangan, putri memilih moksa, melenyapkan tubuhnya. Dia menjelma menjadi pohon enau. Dengan menjadi pohon enau, dia bisa berguna bagi manusia.

Sebelumnya Tondi sudah pernah mengalaminya di sebuah bis saat usianya jelang enam belas tahun. Naluri perempuan mungkin selalu mendahului masa. Melampaui ruang. Bergerak dalam kepastian akan datangnya kehidupan. Habibah dan cerita gelap dalam kelabu angin malam. Bersama samsu adalah anggur cinta, arak buatan Medan. Deritan roda bis menjadi irama nafsu. Nasib baik atau jalan yang membawanya ke dunia gelap? Si bontar mata belum bisa kupadamkan.

Nah, setelah panjang lebar kucerita tentang tanah Batak, di mana letak arti judul buku? Ada di dalam pertentangan keluarga pastinya. Ayah Tondi menjadi orang berada, pergi ke tanah Jawa, tanah yang dijanjikan untuk menikah lagi. Tanpa menceraikan ibunya. Parsirangan atau perceraian. Satu kata yang sangat buruk dalam khazanah adat Batak karenanya tidak pernah terlintas dalam benak Halia. Ibunya tetap setia, memilih mengalah dengan hidup dalam keterbatasan. Sang ibu berusaha kuat. Tetapi usaha hanyalah jalan, bukanlah kenyataan tujuan yang diharapkan. Bekerja serabutan, sempat mendapat kehidupan yang lumayan Ok saat menjadi koki di sebuah rumah sakit. Begitulah kiranya dengan semakin teraturnya roda pemerintahan, ketentuan-ketentuan administrasi semakin ketat, pegawai yang buta huruf sudah lebih dulu diberhentikan. Ia tersingkir. Bagian saat ia dekat dengan orang Belanda itu sungguh keren sekali dituturkan, ia bisa jadi melayang dalam kemewahan, bisa saja menjadi kaya nan hebat, tapi darah Bataknya yang setia menolak. Biarpun bisa sekolah di Belanda, apa artinya jika seperti layang-layang putus? Meskipun berada di tanah yang indah, apa artinya jika tak dapat kembali ke asalnya? Tugas seorang ibu adalah memelihara benih, melahirkan dan menunaikan tugasnya. Lalu, apakah kenikmatan yang pernah digumulinya bersama laki-laki yang bukan suaminya adalah dosa?

Tondi hidup bersama ibunya dan kakeknya yang hebat. Orang yang dihormati, punya ilmu kanuragan. Mungkin bagian ia menjelajah hutan dalam pengalaman gaib itu adalah kemampuan turunan dari sang kakek. Seorang anak memang seharusnya meninggalkan rumah orangtuanya. Anak boru atau anak perempuan diantar ayahnya ke rumah keluarga suaminya dengan perpisahan penuh kasih. Anak laki-laki pergi sejauh mungkin, tetapi apakah dengan kepergiaan ini saling benci? Silangit pergi, bersama pande mas itu yang kembali ke pesisir timur. Tondi bangga bila disandingkan dengan kakek. Jika selama ini orang-orang di kampung mengaitkan kemiripan mukanya dengan Ompu Silangit, dia bangga. Tapi dengan laki-laki yang harus disebutnya ayah itu, dadanya serasa terimpit.

Menitipkan istri dan anak pada orangtua, biasanya bagi laki-laki yang akan berperang. Seorang laki-laki yang meninggalkan ayahnya dan anaknya, generasi di atas dan di bawahnya, tanpa duka. Ah, perpisahan yang pahit. Menolak ayah, Tondi akhirnya memang tak mengakui ayahnya yang pergi meninggalkan keluarga, pergi untuk Negara dan kehidupan lain. Apakah karena telah menganut agama baru tidak mau dekat dengan ayahnya yang masih beragam nenek moyang? Apakah agama harus memisahkan ayah dan anak, memisahkan juga tidak dapat mengartikan syair ujaran-ujaran yang diandung-kan oleh para ibu.

Ya, bagian pertengahan di hutan itu sungguh bagus. Dituturkan dengan indah, dalam gejolak. Apa pun yang dirasakan, ternyata maya. Sedang kenyataan yang berlangsung, siapa yang dapat menjelaskan? Sayangnya novel ini menjelma buruk saat Tondi di tanah rantau, lalu di masa tuanya, semua hal yang diharapkan seolah terkabul. Di mana pun adanya, bayi yang sehat akan menangis dengan lengkingan kuat. Berapa anak Tondi tanpa pernikahan? Semudah itu ‘memprogram keturunan’? Hidup ini pahit Nak, banyak harapan tak terkabul, buku dengan sweet happy ending macam gini sungguh justru malah tak bikin pembaca bahagia. Kita suka tragedi, beri kami kisah pilu, Mbah.

Pada dasarnya sama saja, masa kecilku tentu saja tak bisa membedakan Medan, Palembang, atau Padang kalau ga lihat peta. Di sana, orang di kampung itu tak bisa membedakan Solo atau Yogya. Ini adalah sebuah fakta setiap daerah yang kita tinggali. Saya punya banyak teman Batak dengan berbagai nama. Salah duanya: nama pardomu yang artinya pertemu, sahala: tuah kesaktian. Nah, yang terakhir ini adalah teman FOC – Football on Chat yang suka salaman aka judi. Ternyata artinya ‘tuah kesaktian’ pantas saja sering menang, lha sakti cuy. Ada sahala tersimpan di piso ini.

Di mana pun, kami akan tetap jadi orang Batak.” / “Tapi Pardomutua sudah bukan orang Batak selama di onderneming.” Ah pertentangan jiwa manusia, jiwa saudara sedarah dalam menentukan pilihan hidup. Menolak Ayah adalah novel Batak dengan kerumitan tersendiri. Bagaimana dengan suku lainnya? Apakah ikatan yang kuat akan terberai jika pilihan hidup tak sama, pilihan hidup bertentangan dnegan adat? Jawabnya Ya. Apapun suku Anda, prinsipnya kalau kau tidak bisa mengangkat martabat, paling tidak jangan bikin jatuh. Selalu ingat asal usulmu.

Menolak Ayah | Oleh Ashadi Siregar | KPG 59 18 01526 | Penerbit KPG | Penyunting Christina M. Udiani | Pertama terbit, Juli 2018 | Cetakan kedua, November 2018 | Perancang sampul & Penataletak Leopold Adi Surya | vi + 434 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-424-864-2 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180219 – 250219 – Bob Brookmeyer – Jive Hoot || 230619 – Christina Aguilera – Genie In A Bottle

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day20 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019 #23Juni2019 #HBDSahalaSimanjutak

Breakfast At Tiffany’s #19

Yang paling bisa membuatku merasa lebih baik adalah melompat ke taksi dan pergi ke Tiffany’s. Tempat itu langsung menenangkanku, keheningan dan kemewahan; hal yang benar-benar buruk tidak akan mungkin menimpamu di sana, dengan pria-pria bersetelan indah itu, semerbak aroma perak dan dompet kulit buaya.”

Ini adalah jenis novel yang renyah di setiap lapisannya. Tampak seperti kisah nyata sang Penulis kala masih kere, menjalani kehidupan sebagai seorang penyendiri dalam sebuah apartemen sebagai Penulis lokal yang tak bernama, sunyi dalam perenungan mencari jati diri. Mencoba mencipta karya dengan banyak percobaan, hingga suatu ketika ada tetangga apartemen yang ternyata seorang gadis borjois, penyuka pesta yang mengubah kehidupannya. Memberinya warna, jatuh hati. Bertetangga dengan seorang artis akan membuatmu tampak layak jadi artis, maka Penulis ini berhasil mencipta cerita berdasar pengalamannya. Hingga latar belakang sang gadis pujaan diungkap. Selamat, jelas ini adalah sebuah anugerah buat Truman Capote, Breakfast At Tiffany’s adalah martir menuju ketenaran. Maka saat perpisahan, jelas ia kehilangan. “Kurasa tidak ada yang akan merindukanku. Aku tidak punya teman.” / “Aku, aku akan merindukanmu.”

Tahun 2007 atau 2008 saya pernah membacanya di kos Ruanglain_31, pinjam teman dari Jakarta. Apa kabar Uni Dien? Ga sempat mengulasnya, sehingga akhir tahun lalu ada teman yang mendonasikan buku-bukunya, saya ambil saja buku ini. Kubaca cepat, karena selain tipis, novel ini tak terlalu butuh banyak telaah. Nyaman, lezat di tiap halaman, enak sekali dinikmati.

Kisahnya seperti yang kuringkas di atas, tentang seorang penyendiri yang beruntung bisa bertetangga dengan artis. Dengan alur mundur, sebuah fakta keberadaan sang artis terkini, di Afrika? Patung, foto dan beberapa bukti mengarah ke sana. Diskusi dengan Joe Bell yang hampir tak percaya. Lalu kita diajak ke masa lalu, dengan sudut pandang orang pertama, sang aku (karakter tanpa nama) menyadari tetangga apartemennya seorang artis bernama Holly Golightly. Tengah malam itu, dia terkunci di luar karena kuncinya hilang, maka sang aku mengintip, menyaksikan Mr Yunioshi membukakan pintu komplek. Dan suatu malam, setelah beberapa kali kekesalan Mr Yunioshi, maka Holly gantian memencet bel apartemenku, meminta tolong. Dan mulailah kita saling mengenal. Awalnya hanya meminta tolong membukakan pintu, lalu menitip kucing, lalu mengajak keluar dan semakin hari semakin dekat.

Miss Holly adalah seorang penyuka pesta, tamunya ga main-main, kalangan Hollywood, para pria terkemuka, orang-orang terkenal. Sang aku otomatis keseret terkenal. Aku merasa tersanjung: bangga karena ada orang yang mengira Holly adalah kekasihku. Pesta pora, kebisingan tetangga, kegaduhan orang-orang dalam melayani malam, sungguh bertolak dengan sang aku yang pendiam. Mereka saling mengisi, Holly bercerita kehidupan artis, sang aku bercerita dunia literasi. Kegemarannya di tempat-tempat elit, salah satunya tentu makan pagi di Tiffany’s. Maka saat karyanya terbit betapa bahagianya. Langsung memberitahukan padanya. Pusing karena senang ternyata bukan sekadar ungkapan. Aku harus memberitahu seseorang; dan, melompati dua anak tangga sekaligus.

Siapa pun yang bisa memberimu kepercayaan diri, kau berutang banyak kepada mereka. Ada momen menyentuh hati, saat Holly kabur ke apartemennya dini hari, menginap dan cahaya pagi menyinari masuk jendela. Saat menyaksikan jalinan warna rambut Holly berkilauan di tengah-tengah sirat merah-kekuningan dari dedaunan, aku merasakan cinta kepadanya yang cukup untuk membuatku melupakan diriku dan keibaanku terhadap diri sendiri yang memicu rasa putus asa.

Namun fakta mengejutkan diungkap. Masa lalu Holly yang suram, suatu hari apartemen mereka didatangi seorang pria tua yang mengaku sebagai dokter, yang mengaku sebagai suaminya. Namanya bukan Holly. Dia adalah Lulamae Barnes. Dahulu. Dan kisah itupun memberi pukulan dlaam hati. “Ya ampun, Honey. Apa mereka tidak memberimu makan di sini? Kau kurus sekali. Seperti saat aku pertama kali melihatmu. Matamu cekung sekali.” Adegan ini sempat membuatku senyum kecut, gadis kan memang sengaja diet, bukan karena kurang makan. Ah orang tua. Aku memercayainya. Cerita itu terlalu masuk akal untuk dijadikan tipuan. Tapi, sungguh, aku sudah menghitung semalam dan aku hanya punya sebelas pacar – tidak termasuk apa pun yang terjadi sebelum aku berumur tiga belas tahun karena, yah, itu tidak layak dihitung. Sebelas. Apa itu menjadikanku pelacur? Tapi jujur kepada dirimu sendiri. Jadilah apa pun kecuali pengecut, seorang munafik, seorang penipu emosi, seorang pelacur: aku lebih memilih penyakit kanker daripada hati penipu.

Jangan pernah jatuh cinta kepada makhluk liar Mr. Bell.” Kau tak boleh memberikan hatimu pada makhluk liar: semakin banyak yang kauberikan kepada mereka, semakin kuat pulalah mereka. Jika kau membiarkan dirimu jatuh cinta pada makhluk liar, kau akan berakhir dengan mendongak menatap langit. Jika Holly bisa menikahi ‘fetus absurd’ itu, maka pasukan militer mana pun dari seluruh dunia ini sangat mungkin menyeretku.

Aku senang. Aku ingin punya paling tidak Sembilan anak. Beberapa bagian memang tampak melankolis, seperti cita-cita Holly yang sederhana. Masa mengubahnya. Kekesalan masa remajanya. “Aku sudah bilang, pernikahan itu tidak sah. Tidak mungkin sah.” Ceritanya tentang keagungan perhiasan. Mengenai berlian sebelum berumur empat puluh tahun adalah sesuatu yang kampungan, bahkan beresiko. Curhatannya tentang rencana pernikahannya dengan artis. Seandainya aku diberi kebebasan untuk memilih di antara semua orang yang hidup di dunia ini, hanya perlu menjentikkan jari dan berkata datanglah kamu, aku tak akan memilih Jose. Sampai topeng keglamoran kalangan jetset. Sebagian dari mereka mungkin berlidah jujur, tapi mereka semua berhati penipu.

Ada pertemuan, ada perpisahan. Holly sudah memutuskan. Aku duduk di ranjang Holly, memeluk kucing Holly, dan merasa sedih untuk Holly, hingga seluruh partikel terkecilnya, seperti yang dapat dirasakannya sendiri. Kami bertemu di pinggir sungai suatu hari; begitu saja. Bebas merdeka, kami berdua. Kami tidak pernah menjanjikan apapun. Kami tidak pernah. Hari-hari bersama Holly yang riuh akhirnya menjadi masa lalu juga. Bagaimana bisa mereka mengira telah menghancurkan hati kami jika sepanjang waktu, kami menginginkan mereka pergi. Kutegaskan kepadamu, kami sedang menertawakan hal ini saat kesedihan itu datang.

Pada akhirnya sang aku harus ‘mengakui’, kisah ini disamarkan. Aku harus melindungi keluargaku dan namaku, dan jika menyangkut kedua hal itu, aku menjadi seorang pengecut. Rumah adalah tempat kau merasa di rumah, dan aku masih mencari tempat itu.

Novel ini mengangkat nama sang Penulis. Diangkat ke layar lebar dengan bintang besar di masanya: Audrey Hepburn, menjadikannya nominasi Best Actress Oscar tahun 1961. Awalnya Capote ingin Marilyn Moonroe tapi justru Hepburn yang dapat peran Holly. Beberapa adegan jadi ikonik, seperti Hepburn memegang pipa rokok panjang dengan gaun pesta. Luar biasa memang, kita tak pernah tahu karya mana yang akhirnya bisa melambungkan nama seorang Penulis.

Tak seperti In Cold Blood yang kontroversial karena pembunuhan satu keluarga berdasar kisah nyata itu tampak mengerikan, Breakfast At Tiffany’s dibuat dengan warna-warni ceria. Novel ini menginspirasi banyak hal karena pengaruh pop culture, salah satu yang terkenal adalah musisi asal Texas bernama Deep Blue Something yang merilis lagu berjudul Breakfast At Tiffany’s dalam album Home tahun 1996.

Wuthering Heights. Aku mengucap “Oh” dengan kelegaan yang terdengar jelas, “oh” dengan peningkatan intonasi yang memalukan, “filmnya.”

Breakfast At Tiffany’s | By Truman Capote | copyright 1958 | Pengiun Books, Middlesex, 1961 | Diterjemahkan dari Breakfast At Tiffany’s | Penerbit Serambi | Penerjemah Berliani M. Nugrahani | Penyunting Anton Kurnia | Pemeriksa aksara Daniel Sahuleka | Pewajah isi Siti Qomariyah | Cetakan kedua, Maret 2009 | ISGBN 978-979-024-107-7 | Skor: 5/5

Karawang, 230619 – Roxette – Wish I Could Fly

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day19 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Thank’s to Anne Hyde atas tiga bukunya.

Yang Telah Tiada #18

Jadi Mary Grimes, kalau saya tidak meminumnya, suruh saya meminumnya, karena rasanya saya menginginkannya.”

Seri novella Penerbit Circa. Atau lebih tepatnya ini adalah satu cerpen yang dicetak dalam satu buku, dinukil dari kumpulan cerita Dubliners sejatinya ini memang cerita pendek, sama Penerbit Circa dicetak terpisah laiknya novela, novel pendek. Buku kumpulan cerpen yang terdiri dari lima belas cerita yang bersama-sama meceritakan Dublin dengan berbagai aspek kehidupan, tumbuh dari masa kanak-kanak sampai dewasa, bahkan yang sudah mati. Seperti Bartleby, Si Juru Tulis karya Herman Melville terbitan Oaks, bukunya sungguh tipis. Cerita sih lumayan bagus, tapi tak bisa sememuaskan karena saking sedikitnya halaman, buku ini selesai baca hanya jeda Magrib ke Isya! Tak ubahnya buku saku Yaa Siin yang bisa ditenteng di pengajian. “Saya suka gagasan itu, dan bukankah ranjang yang empuk sama baiknya dengan peti?” / “Peti itu tujuannya untuk mengingatkan mereka tentang datangnya maut.”

Saya melihat cerita dalam The Dead ini tentang percobaan pengampunan masa lalu, melupakan hal-hal lama yang sudah lewat, memang alangkah baiknya tak diungkit bila terasa akan menimpulkan masalah, apalagi masalah yang melibatkan rasa terhadap pasangan. Saya masih sangat ingat, tahun 2011 calon istri saya menumpuk diary-nya di tempat sampah, membuangnya jauh. Melepaskan masa lalunya demi kebersamaan kita. Dia mungkin tak melihat kemungkinan saya ambil, bisa saja kubuka curhatannya masa remaja. Kubacai tulisan mudanya. Namun saya tak lakukan. Saya hanya tersenyum, membiarkan masa lalunya yang tertinggal terkikis dari ingatan, membiarkan catatan hariannya lenyap dengan sendirinya. Karena pada dasarnya saya juga ga mau masa laluku dikorek, ditelusur detail maka kubiarkan segalanya berlanjut. The Dead menyajikan kisah cinta remaja yang menghantui pasangan, sekalipun ‘sang mantan’ sudah tak ada. Memikirkannya, memusingkannya. Jalan kita di dunia ini dipenuhi banyak sekali kenangan sedih, dan jika kita terjebak dalam kenang-kenangan sedih itu maka kita tidak akan pernah bisa memiliki keberanian melanjutkan hidup dengan langkah-langkah gagah dengan orang-orang di sekitar kita.

Kisahnya tentang pasangan Mr. and Mrs. Conroy yang menghabiskan malam dalam jamuan, lalu bisikan, rahasia masa lalu dan beberapa fakta yang tak saling tahu sebelumnya terkuak. Dituturkan dengan tenang dan mengalir tanpa hentakan emosi. Dibuka dengan sudut pandang para pelayan dan tuan rumah, mereka menyambut para tamu di acara pesta dansa tahunan yang diadakan nona Morkan. Selepas lewat jam sepuluh, barulah duo karakter utama Gabriel dan Gretta Conroy tiba.

Gabriel adalah lelaki muda dnegan tubuh tambun dengan perawakan agak tinggi. Basa-basi betapa perempuan kalau dandan memang lama, Gretta membutuhkan tiga jam. Acara malam itu larut dalam banyak diskusi di antara musik dansa. Tentang agama dan politik. Antara Kristen Protestan dan Katolik yang bagi kita seakan tak ada bedanya, padahal prinsipil. Sama seperti orang Barat memandang Sunni dan Syiah di Timut Tengah yang seolah sama saja, padahal sungguh bertentangan. Pilihan Gabriel Conroy menjadi penulis mendapat banyak sindiran, karena di sana masa itu tak mau sentuhan politik dianggap kurang mencintai bangsa. Sastra lebih mulia dibanding politik. Seorang yang lebih memilih menguasai bahasa asing dan lebih memilih seni daripada politik lokal adalah seorang yang layak dicurigai sebagai sosok yang tidak nasionalis. Ia suka keluyuran di dermaga ke toko-toko buku bekas ke Hickey’s di Bachelor’s Walk, ke Ebbs’s atau Massey’s di Aston’s Quay atau ke O’Chohissey di pinggir jalan. Mengingatkan hobiku yang menghabiskan berjam-jam memandang buku bekas, di Gladag Solo penuh kenangan indah. Gabriel memang bergaji kecil dalam memenuhi hasrat literasi. Ia lebih menyukai buku-buku gratis yang ia dapatkan untuk diulas daripada cek honornya yang bernilai kecil. Ia suka merasakan sampulnya dan membuka halaman-halamannya yang baru keluar dari percetakan.

Dalam iringan musik mereka menghabiskan malam yang dingin bersalju. Piano memainkan musik waltz dan ia dapat merasakan sapuan rok di lantai ruang dansa. Dan orang-orang mungkin berdiri bawah guyuran salju di dermaga di luar sana, menatap jendela-jendela yang menyala dan mendengarkan musik waltz.

Ada keagungan dan misteri dalam sikap istrinya itu seakan-akan wanita itu melambangkan sesuatu. Jika ia seorang pelukis maka sudah dilukisnya wanita dengan pose seperti itu. Malam itu, Gretta ‘keceplosan’ bilang masa lalunya. Masa remaja yang tak terlupa tentang seorang pria yang mencintainya, lelaki bernama Michael Furey yang tinggal sama neneknya, dia mati muda tapi hari-harinya sempat mengisi hatinya. Kabur dari rumah, dan teman-teman dan lari bersama-sama dengan hati nan liar dan bergelora menuju petualangan baru. Betapa asyiknya di luar sana, betapa menyenangkannya berjalan-jalan berjalan-jalan di luar sana, pertama-tama menyusuri tepian sungai dan kemudian melewati taman.

Lebih baik pergi dengan gagah ke alam lain, di tengah kejayaan sebuah gairah, daripada memudar dan layu pilu bersama usia. Diluarduga, nama dan kisah masa lalu istrinya itu ‘menghantuinya’ membuatnya tak bisa nyaman tidur sepulang dari pesta. Mungkin masa itu bisa disebut sebagai masa yang luas: dan jika mereka hilang drai ingatan kita, mari berharap bahwa setidaknya dalam pertemuan semacam ini kita masih tetap membicarakannya dengan bangga dan cinta, masih menjaga ingatan tentang orang-orang hebat yang telah tiada atau pergi, yang ketenarannya tidak akan pernah dilupakan oleh dunia. Begitulah, yang telah tiada tetap hinggap di pikiran setiap orang yang pernah dekat. Luapan cinta yang tertahan dari suami kepada istrinya yang masih muda, rasa sesak yang tak pernah hilang di akhir cerita.

James Joyce seperti karakter-karakternya, lebih peduli kepada keindahan dan kualitas estetis, yang bukan pragmatis seperti memberikan informasi tentang satu atau hal lain. Dia ingin membuat satu cerita yang menggambarkan keunggulan Dublin dibanding kota-kota lain di dunia yang pernah Joyce kunjungi, keramahannya. Keramahan inilah yang ditampilkan bibi dengan penuh keceriaan para bibi yang menghelat makan malam. Sejatinya ini hal yang lumrah, kita pasti juga akan dengan senang hati bercerita tentang kota-kota yang tinggali dengan senang hati. Saya akan dengan semangat akan berkisah betapa kucinta Solo, kusayangi setiap kenangan di Cikarang dan kini di Karawang dengan penuh cinta melewatkan hari-hari. Dublin bagi Joyce adalah kota yang kita tempati dengan segala momennya. Tradisi keramahan Irlandia yang luhur, dan hangat yang telah diwariskan oleh para leluhur kepada kita dan kelak harus kita wariskan kepada anak cucu kita, tetap hidup di antara kita. “Saudara-suadari, generasi kita mungkin melakukan kesalahan tetapi bagi saya, saya rasa generasi kita memiliki derajat keramahan, kemanusiaan tertentu yang bagi saya tidak dimiliki generasi baru yang sangat serius, dan terlalu terdidik, yang kini tumbuh bersama kita.”

Mari kita bersulang untuk kesehatan, kesejahteraan, panjang umur, kebahagiaan, dan kemakmuran mereka dan mereka tetap memegang posisi membanggakan yang mereka duduki dalam profesi mereka dan kedudukan terhormat mereka dan kasih sayang mereka di hati kita.

Seledri adalah makanan yang bagus untuk darah dan ia sekarang dalam perawatan dokter. “Oh saya rela kehilangan apa saja demi mendengar Caruso bernyanyi.”

Yang Telah Tiada | By James Joyce | Diterjemahkan dari The Dead | Dubliners halaman 175-226 | New York, Penguins Book 1996 | Penerbit Circa | Penerjemah Wawan Eko Yulianto | Editor Cep Subhan KM | Penata isi Shohifur Ridho’I | Penata sampul Azwar R. Syafrudin | Lukisan sampul Enggar Rhomadioni | xx + 76 hlm.; 11 x 17 cm | Cetakan pertama, Februari 2019 | ISBN 978-602-52645-9-7 | Skor: 3.5/5

Karawang, 220619 – Sherina Munaf – Kembali Ke Sekolah

#30HariMenulis #ReviewBuku #Day18 #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Kronik Kematian Yang Telah Diramalkan #17

“Jangan menyisir rambut kalian di saat malam; kalian akan memperlambat datangnya para pelaut.”

Novel tipis yang masuk dalam daftar bacaan #JanuariBaca tahun ini (2018). Kisahnya biasa, tapi eksekusinya luar biasa. Apa yang menarik dari kisah yang sudah kita ketahui ending-nya? Apa yang manjadi daya pikatnya? Alur dan tutur kalimat adalah penolongmu. Dan tentu saja nama besar Gabriel Garcia Marquez menjamin hal itu. sebagai Penulis nomor satu yang kuanugerahkan saat menyusun best 100 novels, Gabo adalah bapaknya surealis magic di mana apa yang dikatakan tak seperti apa yang kalian dengar. Bahkan tanggal lahir beliau kita jadikan sebagai tanggal berdirinya grup WA – Bank Buku. Yang mau gabung silakan informasi. Chronicle of a Death Foretold adalah sebuah cerita drama mengerikan yang disajikan dengan indah. Pembawaan yang unik dan seakan pembunuhan misteri metafisik.

Nah, ini adalah buku yang bercerita terkait kekesalan pasca menikah, sang istri ternyata sudah tidak perawan dan saat nama lelaki nama yang telah merenggutnya, sang suami mengembalikan istrinya kepada orang tuanya, nama yang disebut dibunuh. Sesederhana itu? Kalau cerita ya, istimewanya kisah dibawakan berliku dan puitik. Clotilde Armenta, pemilik usaha mapan itu, adalah orang yang melihatnya dalam nyala cahaya pagi, “Dia sudah terlihat menyerupai hantu.

Santiago Nasar mengenakan kemeja dan celana panjang dari linen putih, keduanya tidak dikanji, persis seperti yang dipakainya pada hari sebelumnya ketika menghadiri penikahan itu. itulah bajunya untuk kesempatan-kesempatan istimewa. Hari itu adalah hari kematiannya. Bersamaan dengan kedatangan uskup yang melintasi sungai. “Hidup terlalu singkat untuk orang-orang menceritakan kemeriahannya.” Pagi itu memang sejatinya ada semacam perayaan reliji. Uskup mulai memberi isyarat salib di udara menghadap kerumuman orang di dermaga, dan ia terus melakukannya secara mekanis setelah itu, tanpa dendam atau inspirasi, sampai kapalnya menghilang dari pandangan, dan semua yang tertinggal hanyalah keributan ayam jantan.

Kisah dibagi dalam lima bagian. Bagian pertama adalah adegan Nasar tewas, kenapa dia dibunuh singkatnya adalah ia orang yang menjadi kambing hitam sebuah efek kemeriahan singkat pesta pernikahan, mantan gadisnya. Angela Vicario, gadis cantik yang baru menikah satu hari sebelumnya, telah dikembalikan ke rumah orang tuanya, karena suaminya mengetahui bahwa ia sudah tidak perawan lagi. Tidak ada penderitaan yang lebih memalukan daripada seorang perempuan yang diputuskan dari cintanya dalam gaun pengantin.

Pernikahan yang memang sejatinya tak saling cinta, itu lalu dikisahkan dalam bagian berikutnya. Sang gadis jelita memiliki kisah masa lalu yang suram, masa lalu yang menyedihkan. “Satu-satunya yang kupinta dari Tuhan adalah agar memberiku kekuatan untuk melakukan bunuh diri. Tapi Dia tidak memberikannya kepadaku.” Angela memang tak mengharap pernikahan itu, adalah suaminya yang pemuja yang mengharap cintanya. “Aku tidak pernah mengerti bagaimana dia bisa tahu bahwa hari itu ulang tahunku.” Orang penting, orang kaya yang begaya. “Sepertinya dia juga berenang di kolam emas.”

Seperti pepatah lama, ‘Pemburuan akan cinta adalah pemburuan setinggi elang’ – Gil Vicente. Cinta pada pandangan pertama yang terus diperjuang tanap tahu detail masa lalu, detail snag gadis pujaan berbuntut panjang. “Cinta bisa dipelajari juga.”

Sang suami semacam kepala mafia yang borjuis. “Aku benci lelaki yang angkuh, dan aku belum pernah melihat orang yang begitu ngotot.” Namun pagi setelah pernikahan ia kecewa karena istrinya sudah tak suci, ia lalu mengerahkan pasukan untuk membunuh manusia masa lalu istrinya. Banyak warga sejatinya tahu, tapi tetap saja pagi itu tampak mencekam. Mereka otomatis merasa kasihan. “Kau selalu harus berpihak pada yang mati.”

Kisah lalu ditarik lebih ke balakang. Bagiamana harus mengantisipasi kemiskinan. Argumentasi tegas dari kedua orang tuanya adalah bahwa sebuah keluarga bermartabat dan kekayaan seadanya tidak punya hak untuk meremehkan nasib semujur itu. “Ibu mengajariku untuk tidak sekali-kali berbicara tentang uang di depan orang lain.”

Ketika kau mendengarkan dengan stetoskop kau bisa mengenali suara air mata menggelak di dalam jantungnya. Dari sebuah wilayah pesisir yang riuh dan bau ikan yang meruap. Salah satu simbol kejayaan utama dari rezim konservatif yang telah menyebabkan Kolonel Aureliano Buendia melarikan diri dari kekacauan Tucurinca. Aroma bunga-bunga dari jarak yang begitu dekat memiliki kaitan yang sangat erat dengan kematian bagi dirinya.

Detail kematian lalu diungkap. Pagi itu bagaimana Nasar menemui ajalnya. Tidak ada kematian yang lain yang begitu lebih gampang ditebak. Setelah adik perempuannya mengungkap nama untuk mereka, kembar Vicario pergi ke peti di kandang babi, tempat menyimpan teralatan pengorbanan dan dua pisau terbaik. “Kita seharusnya membebaskan anak-anak malang itu dari kewajiban mengerikan yang telah jatuh pada mereka.”

Di hadapan Tuhan dan di hadapan manusia, ini masalah kehormatan. Memegang tingkat yang terbikin dari lignum vitae (kayu kehidupan – pognut/pokhut; jenis kayu yang terkenal akan kekuatan, kekerasan, dan kerapatannya) yang telah mereka hadiahkan untuknya di pesta. Anjing-anjing menyalak kepadanya seperti biasanya setiap mendnegar dia masuk, tapi dia menenangkan mereka dalam remang-remang fajar dengan gemericik kuncinya. Dia menyimpan banyak kemarahan yang tertunda pada pagi hari terjadinya kriminalitas itu.

Aku bahkan tidak akan pernah menikahinya seandainya dia tidak menuntaskan urusan yang harus diselesaikan oleh seorang lelaki. Bulan tampak di ketinggian langit, dan udara sangat jernih, dan di dasar jurang kau bisa melihat percikan cahaya dari suluh Santa Elmo (percikan listrik yang menimbulkan daerah terang, muncul pada waktu berangin di sekitar titik kecil seperti puncak gereja atau tiang kapan, dinamakan santa pelindung para pelaut) di pemakaman. Itu adalah jiwa tersiksa dari kapal budak yang karam dengan muatan orang-orang kulit hitam dari Senegal yang menyeberang dari mulut pelabuhan utama di Cartagena de Indias. “Kalau kau menyembelih seekor sapi, kau tak akan mampu menantap ke dalam matanya.”

Jika dibandingkan mahakarya Seratus Tahun Kesunyian, jelas jauh sekali. Ini semacam novelet yang tak lebih dari dua ratus halaman, dinikmati di sebuah masjid Al Jihad, Karawang ketika menanti istri rapat koperasi, saya membacanya dalam keadaan setenang mungkin dalam kesunyian tempat ibadah.

Kronik Kematian Yang Telah Diramalkan | by Gabriel Garcia Marquez | diterjemahkan dari Chronicle of a Death Foretold | copyright 1978 | Penerjemah Dian Vita Ellyati | Editor Bahasa Sandiantoro | Desain Sampul/Tata Letak Andy FN | Pemeriksa Aksara Indri Tj | ISBN 978-979-25-9398-3 | Cetakan I: Desember 2009 | Penerbit Selasar Surabaya Publishing | Skor: 4/5

Karawang, 130818 – Backstreet Boys – Shape Of My Heart || 210619 – Agnes Monica – Matahariku

#Day17 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

Sine Qua Non #16

Sekarang aku menjelma jadi gadis aduhai.”

Semua royalti buku ini akan disumbangkan kepada Yayasan Nusa Membaca. Hebat. Cara berbagi yang hebat. Seingatku, ini adalah buku pertama Penulis senior Marga T yang berhasil kuselesaikan baca. Kubeli 10-Jun-18 kubaca bulan Agustus, baru setahun berselang sempat kuulas. Ini adalah kumpulan cerpen yang pernah terbit di media massa, merentang jauh tahun 1964 (saya belum lahir euy) sampai 2014 saat buku ini pertama terbit. Kubeli di Gramedia Karawang jelang libur Lebaran.

Gaya bahasa dan dialognyanya menyesuaikan zaman, artinya tak ada yang dirubah, sesuai aslinya. Keputusan yang bagus agar otentik, yah walaupun saya juga beberapa sempat mengernyitkan dahi. Selama lima puluh tahun, tulisan ini mewarnai Indonesia. Yakinlah, lima puluh tahun lagi akan tetap ada dan bisa dinikmati anak-cucu kita. Tulisan itu abadi.

Buku dibagi tiga, bagian satu dan dua selesai baca. Bagian tiga saya skip karena versi English dari bagian kedua. Isinya sama, hanya bentuknya English. Mari kita ulas satu per satu.

Bagian Pertama: Di Mana Waktu Membeku (cuplikan masa perantauan)

#1. Kamar 27
Di kamar 27 ada pasien baru tiba, seorang anak bernama Gunadi yang diantar oleh bibinya. Penyakitnya sudah akut sekali, harus segera dioperasi. Saat sang ayah datang, sang dokter Hedy reflek berteriak, “Hardi!” yang membuatnya kaget, walaupun tepat sang ayah kaget juga merasa ga kenal. Ada sesuatu tentunya di sini.

Lalu flash back disajikan, sang dokter ternyata memiliki masa lalu pahit. Saat anaknya lahir, ia malah melanjutkan kuliah kedokteran, anaknya dirampas mertua dan suaminya memusuhi sikap egosentris. “Kejam? Apa artinya kata itu bagimu?

#2. Secercah Sinar Pagi
Berdasarkan kisah nyata. Sang penulis jelas seorang dokter muda yang masih menggebu. Tentang Bandi yang masuk dalam dunia dokter muda. Kisah anak muda yang sedang jatuh hati. Buku-buku buatan Paman Sam setebal sepuluh sentimeter, maka tikus-tikus betina yang tiga ekor ini asyik baca roman-roman buku-saku. Pemikiran yang fresh dan aneh, termasuk cara pandang menangani koruptor. Koruptor akan saya suruh mengunyah dan menelan lembaran-lembaran duit yang mati-matian dikeduknya dari sana-sini, agar mereka kemasukan jutaan kuman, jatuh sakit dan tidak dapat lagi korupsi – tak usah sampai mati, cukup asal bertobat.

Nah ada pasien bernama Subandi yang unik. Penanganan yang tak biasa itu membuat drama para dokter jaga dan perawat. Pasien harus dianggap seperti anggota keluarga. Kalau ibu kita sakit dan menolak makan, bagaimana juga kita pasti akan membujuknya supaya mau makan, bukan? Dan Bandi menjadi kenangan yang tak terlupa.

s.q.a, saya baca pada status. Status qua anno. Artinya keadaan tetap. Tak berubah.

#3. Bila Bapak Mekanika Ngamuk
Apa sih istimewanya dicintai seseorang? Kan lebih hebat kalau kita dikejar-kejar seluruh dunia? Budi dan susi adalah kakak-adik yang terlihat akrab, saling canda dan tawa. Namun kadang kelewatan, sehingga rusuh di kelas mereka sampai keceplosan dan terdengar orang tua. Wah, bisa marah nih. Sampai akhirnya saat salah satu terjatuh, yang satu jelas harus membantu. “Be-bop-a-lu-la she’s my baby…”

#4. Ketika Hati Susi Membeku
Cerita remaja era 1970an, Susi bercerita kepada kakaknya Zita tentang perilaku teman-temannya di kelas. Antara gemas, kesal, bahagia. Hubungan pertemanan menjelma kekasih, antara benci dan cinta. “Kembalilah jadi gadisku.

#5. Hatiku dan Hatimu
Anak-anak kelas Susi menyewa vila di puncak, mereka berlibur, bergembira. Main tebak-tebakan, main hati. Ini semacam lanjutan kisah Susi karena dua karakter utama masih saling sayang-sayangan di ending dengan melihat bintang dalam peluk. Cerita dengan nama-nama karakter Indonesia sekali: Tuti, Budi, Mira, Frans, Kiki. Mungkin kecuali Johnny yang keren.

#6. Gerimis Permulaan Musim
Cerita tentang pasien di kamar ujung ruangan. Adis, anak bungsu, manja. Kecelakaan karena kebut-kebutan, temannya meninggal, ia kini dirawat. Dengan sudut pandang perawat dan dokter yang mengobati. Lalu kisah lain yang saling canda dalam kesedihan ditinggal pergi. “Ditinggal pergi lalu menjadi gila. Semua begitu. Perempuan. Laki-laki. Ditinggal pergi kekasihnya, jadi gila. Sebab apa? Sebab ia tak bisa melupakan.”

#7. Di Mana Waktu Membeku
Di sebuah rumah sakit di Jerman, Atika, dan cerita bros penuh kenangan. Jadi Atika mendapat hadiah, bunga mawar dan ucapan kasih dari anak seorag pasien. Pemuda aneh yang kadang datang menjenguk ibunya, tak sering mungkin ada masalah. Lalu sebuah fakta mengejutkan diungkap. “Betulkan Frau Seifert akan setuju perhiasannya diberikan kepadaku?!

#8. Dalam Ruang Tunggu
Zurich. Di ruang tunggu yang saling pandang sekilas, saling cuek, sebuah koran dan majalah yang menghiasi masa tahun 1980an. Tarik-ulur baca, di sebuah ruang umum. Ini mungkin cerpen terbaik, sederhana tapi memikat. Zaman itu tak ada HP, teknologi masih ala kadar. Menarik sekali menyaksikan orang-orang menghabiskann waktu dalam antrian. “Yang seperti ini, tidak ada pada zaman muda saya.

#9. Sebuah Noktah di Hati
Dan noktah itu makin melebar dan makin merah. Sengsaranya hati yang mengidap rindu. Tentang masa lalu yang dikenang, tentang cinta yang ke lain hati. Anak kecil yang manja dalam keluarga berada, menyaksikan lika-liku orang kaya. Sayangnya nama-nama karakter sudah kurang Indonesia. “Panggil aku Saudi!”

Bagian Kedua: Lukisan Kehidupan (kenangan dari mereka yang telah berlalu)

#10. Doa Istimewa
Susy dan mamanya yang menanti papanya pulang. Sudah jam lima, jam setengah lima ada bel berbunyi, girang eh ternyata tukang susu. Jam enam tiba. Tak ada yang hadir. Jam tujuh menjelang, makin bete. Ini tentang ulang tahun yang istimewa, Susy ingin mereka kembali bersatu. “Papa, jangan pergi dong.”

#11. Kalau Memang Jodoh
Ini adalah kejadian yang paling hebat dalam hidupku. Romantik banget, deh!” ini kisah dua anak muda yang kasmaran, menghadapi masa depan dengan oprimisme tinggi. Jerry dan Maria dan darah muda yang tertumpah.

#12. Ketika Fajar Berlalu
Kisah keluarga kaya yang anaknya memiliki penyakit berkepanjangan. Jenny dan kisah cinta yang dramatis. Ketika penyakitnya makin mengganas, pasangannya tetap nekad ingin menikahi, dan sebelum terlambat segalanya harus bergegas ijab. Kisah bak drama sinetron.

#13. Lukisan Kehidupan
Fiona yang terkena TBC semasa kecil. Dan ini adalah curhatan orang terkasih akan kehidupan Fiona. Besok dia mau nginap di rumah nenek. Kita bisa menggeratak. Dia kan punya buku harian. Orang bilang, cewek-cewek perasa selalu menumpahkan unek-unek di buku begituan.

#14. Riwayat Masa Lalu
Daniel yang meminta jawab kepada ayahnya, untuk sekadar mendapat kata “Tidak.” Lalu masa lalu diungkap. Anna yang sudah berumur tiga puluh, guru TK yang dianggap gadis tak laku-laku. Namun ada alasan lain yang membuat bimbang keputusan itu. Cinta yang tak padam di rentang lama berselang.

#15. Sepucuk Surat Kelabu
Sahabat pena dari Amerika, Emma yang sudah lama menikah tak kunjung diberi anak. John yang mudah tersinggung dan perkawinan mereka yang mulai retak. Surat terakhir dikirim dari biara. Ah, lika liku kehidupan.

#16. Gaun Sutra Ungu
Dongeng jelang tidur yang dibacakan nenek ke ibunya, ibu ke saya, dan ini adalah salah satu kisah yang dibacakan. Kisah dari negeri Cina. Kisah menyentuh hati tentang gaun dari masa lalu dan pencarian identias. Cerita bagus, yang sayangnya sang aku keburu terlelap sehingga tak tahu akhir dari perjalanan.

#17. Jam Tujuh Tepat
Amir yang menghilang. Para dokter yang mengabdi di pedalaman. Kamal menulisnya dalam diari. Amir yang jatuh hati dan meminta doa restu orang tuanya. Sulit, tapi tak mustahil. “Ia terus mengoceh tentang perkawinan dan bulan purnama.” Setelah dinanti-nanti tak kunjung tiba. Jam tujuh tepat ada sesuatu yang terjadi. Hiks,

Setiap lelaki memiliki kemampuan mencintai seorang gadis, tapi hanya lelaki yang mahahebat yang bisa mencintaiku.

Sine Qua Non: Dancing With The Holy Spirit (1964-2014) | Oleh Marga T | GM 401 01 14 0102 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desain sampul Fajrin Pratama | Cetakan pertama, 2014 | ISBN 978-602-03-1150-0 | 265 hlm.; 20 cm | Skor: 3.5/5

Karawang, 180619 – Sheila On 7 – Mudah Saja

#Day16 #30HariMenulis #ReviewBuku #HBDSherinaMunaf #11Juni2019

The Strain #15

Dalam waktu kurang dari seminggu, makhluk ini akan menghabiskan semua orang di Manhattan dan kurang dari sebulan untuk menguasai Negara ini. Dalam dua bulan – dunia ini.”

Buku fantasi karya dari sutradara terkenal Guilermo Del Toro, orang yang dulu menghasilkan film Pan’s Labyrinth, yang dua tahun lalu menghentak Oscar lewat The Shape Of Water. Ini adalah buku pertama beliau yang kubaca, duet dengan Chuck Hogan. Beberapa tahun lalu buku ini sempat dibahas mendalam di Total Film Indonesia, sempat membuatku penasaran berat. Bagaimana seorang sutradara mencipta karya novel.

Musuh terbesarku adalah diriku sendiri, ‘mano. Aku ini seperti anjing geladak yang mengendus-endus di jalan yang tidak tahu apa artinya hari esok.” Kisahnya panjang nan berliku. Tawaran masalah yang disajikan benar-benar berat. Sebuah pesawat mendarat di bandara, semua penumpang mati tanpa sebab yang jelas, kecuali empat orang. “Itu sebabnya keempat orang yang selamat menjadi kunci pemecahan teka-teki ini. Kalau-kalau mereka menyaksikan sesuatu. Atau terlibat di dalamnya.” Mereka tewas tanpa bekas luka, tanpa adanya racun di dalam tubuh, tanpa ada tanda-tanda penganiayaan. Jelas, dalam medis ini mustahil. Sesuatu di balik kematian 206 penumpang penerbangan transatlantik secara tiba-tiba dan tidak dapat dijelaskan. Virus? Serangan teroris? Bunuh diri masal? Lalu gerhana ini. Jika penyakit ini disebabkan virus, aku harus menemukan obatnya. Hanya satu obatnya: kematian. Pemusnahan jasad. Kematian yang mereka syukuri. “Mengapa kau meninggalkan empat orang itu dalam keadaan sadar? Itu menciptakan masalah baru.

Tragedi ini tentu saja menimbulkan banyak spekulasi. Semua pendarataan di JFK sudah dibatalkan untuk berjaga-jaga, dan jalur transpotasi udara dialihkan ke Newark dan LaGuardia. “Berapa lama pesawat itu mendarat sebelum akhirnya mati mesin?” Enam menit. Lalu segala penelusuran dicoba. Manusia memang tertarik pada hal-hal yang tak bisa dijelaskan, hal-hal aneh, dan mungkin tragis. Biasanya tubuh akan membiru setelah mati enam belas jam. Namun mayat-mayat itu tak membusuk, mereka tak bernapas, mati tapi tak membusuk. Harus melakukan apa kecuali melakukan penyelidikan dari awal. Kitalah awalnya. Mayat itu masih utuh, tak rusak. Hanya karena kita memahami bagaimana sesuatu bekerja, bukan berarti kita memahaminya…

Saling menyalahkan dan lempar tanggung jawab. Kode etik kedokteran adalah, Satu – tidak melakukan hal berbahaya. Kode etik politikus adalah, Satu – muncul di televisi. “Peraturan industri penerbangan adalah, ‘selalu salahkan pilot.’ Tidak ada yang namanya kesalahan penerbangan, baik jadwal yang terlambat maupun pemangkasan biaya pemeliharaan.”

Kami akan memulai dari sana.” Empat menit tanpa oksigen merupakan ambang batas kerusakan otak permanen. Kau tak bisa terus memikirkan semua jiwa yang nyawanya bergantung pada perintahmu: para manusia yang menumpuk di dalam misil bersayap yang melesat berkilo-kilo di atas tanah.

Lalu dipanggillah sang protagonis, sang jagoan utama. Ephraim Goodweather. Dia tidak menyetir mobil. Dia hidup dalam cengkraman lusinan batasan rutinitas obsesif-kompulsif, antara lain menyentuh dan berulang-ulang membersihkan semua cermin di dalam rumah, yang diyakininya bisa mengusir kesialan. Ia sedang berlibur dengan anaknya, Zack. Aku ingin menjadi ayah yang terbaik. Sebab itulah yang patut diterima Zack. Itulah satu-satunya tujuanku saat ini. Sedang main game ketika suara sirine terdengar di rumahnya. Eph adalah seorang duda, bercerai dengan Kelly Goodweather yang kini punya pacar baru Matt Sayles, sehingga pola asuh anak tunggal berganti. “Lalu bagaimana? Intinya, akhir pekan bersama putraku hilang, dan aku tak kan mendapatkannya kembali. Kau tahu, ada satu titik ketika aku harus memilih antara keluarga atau pekerjaan. Kukira aku akan memilih keluarga, tapi kelihatannya itu belum cukup.” Well, ini kondisi darurat, mau tak mau Eph ke bandara JFK. Lima menit kegelapan malam di siang bolong. Tetapi, ini adalah New York, dan kalau sesuatu sudah berakhir – itu benar-benar berakhir.

Eph adalah kepala proyek Canary, proyek yang dinamakan seperti trik penambang batu bara zaman dulu, Ketika para penambang harus membawa burung kenari dalam sangkar saat masuk ke dalam gua bawah tanah untuk mendeteksi ada tidaknya zat berbahaya secara kasar. Burung kenari yang efektif membaui gas metana dan karbon monoksida.
Mereka bisa telanjang di depan satu sama lain tanpa merasakan setaran seksual. Sebab proses mengenakan pakaian antibahan berbahaya sangatlah berlawanan dengan nilai seksualitas. Kepolisian sudah melakukan karantina, penyelidikan sudah berjalan. Dia bertelanjang kaki, dan hanya mengenakan pakaian rumah sakit – pakaian johny, dan terlihat waspada. Yang begitu tertutup si pemakainya akan terisolir dari atmosfer luar. “Semua meninggal, Ephaim. Semuanya.” Namun dalam penyelidikan lebih lanjut, ada empat orang yang masih hidup.

Lalu kisah membentang di tempat lain. Tentang Abraham Setrakian. Sardu. Atau makhluk yang dulunya Sardu. Kulitnya tampak hitam dan keriput menyatu dengan warna lipatan jubbah gelapnya yang longgar. Kisah selingan yang manjadi kunci itu diceritakan sepotong-sepotong. Aku menyebutnya Mr. Leech, si Tuan Lintah, karena kulitnya. Dalam mimpiku. Aku kembali melihatnya, si Mr. Leech dan dia sedang tersenyum.

Bagi mereka, gerhana sangat berlawanan dengan kata luar biasa. Lebih tepat dikatakan sebagai penanda dari langit dan Tuhan atas hilangnya harapan mereka. Teori kematian muncul. Ada yang bilang karena gerhana. Istilah yang tepat adalah okultasi, peristiwa tertutupnya sebuah benda langit oleh benda langit lainnya yang lebih besar. Seolah hukum alam yang biasanya dipercaya tentang kematian dan pembusukan sedang ditulis ulang, tepat di ruangan ini.

Untuk mengetahui penyebab kejadian ini. Pasti ada jawaban, penjelasannya. Jawaban yang rasional. Sesuatu yang mustahil telah terjadi, dan kita harus harus mencari tahu penyebabnya dan menghentikannya. Mendekorasi ulang dan merenovasinya kembali tiba-tiba bisa terlihat bagitu jorok.
Teori berikutnya adalah zombie. Manusia penghisap darah yang melegenda. Dari istilah Dickward – otak tumpul, hingga istilah lebih rumit seperti Necro-boy (mayat hidup), setiap kelompok populer memilih istilah favorit mereka sendiri. Makhluk yang takut sinar matahari dan menyaksikan tubuh makhluk itu pecah dan hancur berantakan secara bersamaan saat tercabik sinar matahari yang membakar, berubah menjadi abu dan uap. Camins. Peters. Lily… dan Luss. Ada kemungkinan juga vampire. Ada tujuh vampire asli, yang dikenal sebagai Tetus. Para penguasa. Bukan satu di setiap benua. Sebagai penguasa, mereka tidak memerintah sendiri-sendiri, melainkan sebagai klan. “Memenggal kepala hingga terlepas dari bahan adalah cara paling ampuh. Sinar matahari juga bisa – sinar matahari langung. Tapi juga ada beberapa cara lain, cara yang lebih kuno.”

Teori lain, bisa juga ada racun yang sengaja dikirim dari Jerman yang mengakibat penumpang tak sadarkan diri. Kepuasan yang melegakan dalam perbuatannya itu. Juga kekuatan. Ya – kekuatan. Seolah mengisap nyawa makhluk hidup lain ke dalam tubuhnya. Menurut Eldritch Palmer, setiap orang harus menikmati tidur bagai di dalam Rahim, dan tidur seperti bayi.

Menurutmu, apa yang kita lihat di atas atap pagi ini adalah akhir dari spesies kita.” Cerita muter-muter dengan penuh belit, memusing tak terkendali, sampai akhirnya di bagian Malam Permulaan, mulai muncul titik terang. Mereka tidak bisa menyeberangi air yang mengalir. Tidak bisa jika tanpa bantuan manusia. “Cermin berlapis perak, itulah kuncinya. Cermin berlapis perak bisa menunjukkan kebenaran.” Mungkin kau mengira sedang melibatkan aku dalam masalahmu. Padahal sebenarnya, akulah yang melibatkanmu ke dalam masalahku.

Setiap kaum imigran pasti merasa khawatir keturunan mereka akan merangkul budaya bangsa lain dan melupakan warisan budaya sendiri. Tapi ketakutan Neeva jauh lebih spesifik: dia takut putrinya yang telah terdokrin menjadi gadis Amerika dengan kepercayaan diri yang berlebih justru akan berbalik melukainya. “Aku tak yakin ini masuk akal. Masuk terowongan demi memerangi binatang buas di kandangnya sendiri.”

Kepanikan sudah terjadi. Panik adalah respon yang tepat untuk kejadian ini, lebih tepat daripada berpura-pura tak terjadi apa apun. “Aku selalu bilang, jika ingin mendapatkan perhatian orang-orang bawakan sekantong tikus untuk mereka.” Kekacauan ini tak hanya di Amerika, makhluk ini menginginkan dunia. “Catat perkataanku, jika kau melihat perubahan besar dalam ekologi tikus, itu berarti bencana buruk sedang terjadi. Jika tikus-tikus mulai panik, itu saatnya menjual saham GE. Satnya keluar, mengerti maksudku? Mereka pertanda.”

Sayangnya, kisah ini menemui antiklimaks. Cerita bombastis di awal, ibarat kita langsung di taruh di puncak gunung. Cerita lalu melandai dengan cepat, membosankan di tengah, dan akhirnya saat penyelesain disajikan, pembaca sudah lelah. Perperosok di jurang. “Cara paling gampang adalah mengendalikannya. Mangatur habitat mereka, mengganggu ekosistem mereka. Memotong jalur pasokan makanan dan membuat mereka keluar karena kelaparan. Kemudian cari sarang akarnya, bersihkan.” Sulit memang menjaga konsistensi.

Terapi alkohol sudah banyak membantu. Tapi satu hal yang tak pernah kumiliki adalah menenangkan diri dan menerima hal-hal yang tak bisa kuubah. Kesehatan adalah hak pertama setiap manusia yang lahir, dan kehidupan adalah serangkaian hari yang dilalui tanpa harus merasa cemas. Dia masih di luar sana. Kasus ini belum selesai, novel ada tiga seri. The Fall dan The Night Eternal.

Namun karena ini adalah sutradara besar yang menyandang Best Director. Rasanya kesempatan harus diberikan, liburan mudik lalu saya sudah beli seri keduanya. Target baca bulan Juli nanti. Semoga bisa lebih memuaskan. Del Toro adalah mbah-nya fantasi. Saya percaya The Fall bisa!

Rahasia untuk mempertahankan kekuatan kemudaannya? Unsur yang sangat sederhana. Balas dendam.

The Strain | By Guillermo Del Toro & Chuck Hogan | Diterjemahkan dari The Strain | Published in 2009 by Harper | Alih bahasa Ellysnawati | Penerbit Elex Media Komputindo | 188141510 | ISBN 978-602-02-4421-1 | Skor: 3.5/5

Karawang, 180619 – Dewa 19 – Separuh Nafas

#Day15 #30HariMenulis #ReviewBuku
#HBDSherinaMunaf #11Juni2019