Filsafat: Beberapa Kali Kita Mendengar Gemanya


Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia by Dr. P.A. Van der Weij

“Kesengsaraan Negara-negara, bahkan kesengsaraan seluruh umat manusia tidak akan berakhir hingga para filsuf menjadi penguasa dunia ini atau mereka yang sekarang menjabat sebagai raja atau pemerintah akan mempelajari filsafat dengan sungguh-sungguh dan dengan demikian kuasa poliik dan filsafat terdalam dalam tangan yang sama”. (Plato, Buku V, bab 18)

Bagus. Seolah kita mendapat ringkasan pemikiran para filsuf terkenal. Beberapa sudah kubaca, beberapa sebagian kecilnya baru tahu. Namun pemikiran mereka ternyata sebagian tumpang tindih dan saling silang, seperti arti filsafat sendiri yang definisinya memang mengalami tafsir bebas, maka wajar para filsuf jua menyampaikan pemikiran itu dengan liar. Intinya, ini tentang ultim. Makna hidup manusia, kita dihadirkan di bumi ini ngapain, mau ke mana, tujuan apa – atau dalam satu kalimat singkat: Kita dilahirkan sebenarnya buat apa sih? Nah, terpecah dalam tiga garis besar: Ilmu pengetahuan, Agama, dan Filsafat. Filsafat ada di tengah-tengah, dijepit dengan ilmu reliji yang bilang dengan mantab: setelah kematian ada kehidupan, dan ilmu pengetahuan yang sebagian bilang: hidup ya saat ini, saat mati, maka selesai sudah. Kalian tak ‘kan menemukan jawaban terbuka di buku ini, sebab filsafat memang menawarkan jawaban luas dan tafsir bebas.

Pertanyaan menarik bagi kita ialah apakah kita sebagai pribadi dan sebagai masyarakat masih sanggup memberi suatu “makna” kepada kehidupan kita. Kita berefleksi tentang diri kita sendiri dan tentang pertanyaan eksitensial ini, apakah hidup kita masih mempunyai makna? Dan kalau masih ada, makna yang bagaimana?

Banyak filsuf beranggapan Tuhan pun penuh kemungkinan-kemungkinan dan bahwa Tuhan dengan menciptakan juga diciptakan atau lebih jelas lagi, bahwa Ia menciptakan diri-Nya sendiri.

Terbagi dalam bab khusu di mana tiap filsuf dibahas tersendiri. Ada yang butuh 2-4 bab, mayoritas satu filsuf hanya sebab. Untuk memudahkan ringkas saja, saya bikin nomor dan per filsuf.

#1. Plato

Filsafat Yunani memang bukan bermula darinya, tapi jelas Plato terbesar dan mulai mendapat perhatian penuh.

“Keadilan adalah harmoni atau keselarasan. Keadilan berarti memberi kepada setiap orang yang menjadi haknya. Negara yang benar dan adil baru akan terwujud bila semua bagaiannya (golongan-golongan) secara harmonis bekerja sama sesuai dengan kesanggupan serta fungsi mereka masing-masing demi kesejahteraan keseluruhannya.”

#2. Aristoteles

Aristoteles berpendapat juga bahwa supaya kita sungguh-sungguh bahagia, kita tergantung pada hal-hal lahiriah seperti kekayaan yang paling sedikit cukup, mempunyai anak-anak yang baik, sahabat-sahabat, keindahan tubuh, dan waktu senggang.

“Hidup bahagia adalah hidup menurut keutamaan dan hidup berkeutamaan terdiri dari usaha tak henti-hentinya untuk mewujudkan kemungkinan-kemungkinan manusiawi kita yang positif.”

#3. Thomas Aquinas

Disebut sebagai Aristoteles Kristiani. Jiwa timbul dari penciptaan yang berevolusi. Meskipun manusia tidak bisa memilih bebas dalam mengejar kebahagiaan secara umum, namun ia dapat memilih secara bebas apa yang akan dicari dan diusahakannya sebagai kebahagiaan.

“Dalam pengejaran ini dan terutama dalam menentukan apa yang membahagiakan manusia, kita harus menempuh suatu jalan pajang dengan pelbagai tahapan.”

#4. Stoa

Ia berdiri “dengan kepala di awan-awan dan kakinya di aliran banjir deras”, tenang sekali, tak dapat diganggu, dan rasionalitas. Mereka tidak percaya lagi pada sistem-sistem spekulasi yang besar dari Plato dan Aristoteles. Mereka lebih memikirkan kehidupan praktis. Ajaran tentang pengenalan logika dan ajaran tentang Ada (fisika) mereka butuhkan sebagai dasar untuk sikap hidup mereka (etika). Alam semesta terdiri dari unsur pasif (materi) dan faktor aktif yang menciptakan, yaitu logos atau Tuhan.

“Jangalah pernah mencemaskan apa yang tidak Anda kuasai secara batiniah, yang tidak menjadi tanggung jawab Anda. Pikirkanlah dan cemaskanlah hanya yang Anda sendiri kuasai. “Yang meresahkan manusia, bukanlah benda-benda itu sendiri, melainkan pendapat-pendapat mereka tentang benda-benda itu.””

#5. Marcus Aurelius

Apakah manusia itu? Sang Kaisar menjawab: “Sekadar daging, sekadar napas hidup, dan prinsip yang memimpinnya (hegemonikon)” seorang filsur kaisar, termasuk stoa muda. Aurelius mencapai pada kesimpulan ekstrem, semua yang bersifat duniawi sebagai sia-sia dan tak berguna.

“Kalau saya melakukan sesuatu, hendaklah saya melakukannya demi kebaikan manusia.”

#6. Epikuros

Hidup sesuai dengan kodrat manusia. Stoa mewartakan bahwa hidup menurut kodrat manusia kita berarti hidup sesuai dengan rasio dan itu berarti hidup sesuai dengan kehendak dan maksud Tuhan. Jadi kesenangan adalah motor serta norma dari seluruh tingkah laku manusia kita, itulah kehidupan kita.

“Jiwa adalah suatu benda yang tersusun dari bagian-bagian halus dan tersebar di seluruh struktur tubuh kita, mirip dengan napas hangat.” Atom-atom jiwa itu sangat halus dan licin.

#7. Boethius

Ia telah berfilsafat tentang makna kehidupan manusia, tentang kebahagiaan, dan kemungkinan ultim manusia. Lika-liku kehidupan yang sukar diramalkan dan tentang pertanyaan entah suatu Penyelenggaraan Ilahi atau suatu takdir yang buta serta penuh tingkah mengatur segala-galanya.

Janganlah ia mengandalkan “Fortuna” karena dewi keberuntungan ini berubah-ubah dan tidak dapat diperhitungkan. Dewi Fortuna sendiri menegaskan: “Saya memutar roda yang cepat dan kesukaan saya yang paling besar ialah menjungkirbalikkan yang di bawah ke atas dan yang di atas ke bahwa.”

#8. Spinoza

Kemungkinan ultim serta tertinggi manusia adalah “kebebasan roh atau kebahagiaan”. Kebebasan roh itu lebih bersifat suatu tugas daripada miliki tetap karena sambil berjuang manusia harus coba meraihnya.

“Manusia harus membebaskan diri dari naluri-naluri dan nafsu-nafsunya.”

#9. Jean-Jaques Rousseau

Seolah-olah hati dan pemikiran tidak dimiliki oleh makhluk yang sama. Ia sangat muak dengan kehidupan intelektualitas dan snobistis pada zamannya. Ia yakin juga bahwa cara yang paling pasti untuk membuat si anak tak bahagia ialah “membiasakan dia untuk menghendaki segala-galanya sebagai miliknya”.

“Berbuat sebaliknya dari yang menjadi kebiasaan sekarang ini dan hampir selalu Anda akan bertindak dengan tepat.”

#10. Kant

Seorang filsuf moral paling terkenal, mengimpikan perdamaian abadi. Kant tak bermaksud menciptakan suatu sistem filosofis tentang “Ada”, tapi ia ingin mencari syarat-syarat yang kiranya memungkinkan hal serupa itu.

“Tantangan etis melebihi dunia fenomena (hal-hal yang diamati) dan berada di tahap numena (hal-hal yang tak kelihatan).”

#11. Fichte

Dalam kerja sama dengan dan di bawah dorongan dari Aku Absolut (Tuahn) kita harus berusaha untuk meningkatkan moralitas di dunia dan di diri sendiri untuk menghumanisasikan dunia dan diri kita sendiri.

“Matahari terbit dan terbenam, bintang-bintang menghilang dan kembali lagi, dan seluruh langit menari-nari melingkar. Tetapi mereka tidak pernah kembali lagi dalam keadaan seperti mereka menghilang dan dalam sumber-sumber kehidupan yang bercahaya itu kehidupan dan perkembangan juga…”

#12. Hegel

Ia berpikir dengan mempergunakan pertentangan-pertentangan yang seolah-olah langsung melawan pemikiran, tapi akhirnya diperdamaikan dalam sintetis. Mengerti secara sungguh-sungguh filosofis, sebetulnya berarti mengerti segala sesuatu sebagaimana Tuhan mengertinya. Yang Tak Berhingga.

“Kebenaran harus disamakan dengan keseluruhan; kebenaran mencakup segala sesuatu yang ada.”

#13. Marx

Menurut materialism ini, alam semesta terdiri dari suatu aglomerasi atom-atom, yang dikuasai oleh hukum-hukum fisis-kimiawi. Bilamana dikatakan bahwa manusia mempunyai roh, jiwa, atau kesadaran – dan seorang materialis pun tidak segan mengatakn demikian – maka hal itu tidak berarti bahwa mereka menerima suatu unsur non-materiil dalam dunia atau dalam diri manusia. Apa yang mereka sebut kesadaran, jiwa. Atau rih, pada akhirnya tidak lain daripada sejumlah fungsi serta kegiatan otak.

“Menurut marxisme, makna dan kemungkinan ultim manusia ialah humanism manusia serta dunia melalui humanism sistem kerja. Bagi umat manusia, kemungkinan ultim itu membawa juga peluang optimal untuk mewujudkan kemakmuran, perkembangan, kebudayaan, teknik, kesejahteraan, dan perdamaian. Tentu saja cita-cita itu indah! Namun sayang sekali, komunisme menghalalkan segala sarana apa saja – termasuk pembunuhan, teror, dan kediktatoran – untuk mewujudkan cita-citanya.”

#14. Schopenhauer

Pada Hegel masih ditemui suatu optimism rasional yang diwarisinya dari tradisi Yunani dan Kristiani. Menurutnya segala Ada akhirnya bersifat rasional, bermakna, dan dapat dimengerti. Schopenhauer pun bertolak dari gejala-gejala, fenomena-fenomena, dunia, serta manusia menurut pengekspresiannya masing-masing.

Dalam hidup dunia serta hidup manusia ditemukan banyak sekali ketidakberesan.
Dunia (realitas yang kita kenal) sama sekali tidak bere, sakit, bersengsara, dan jahat, tidak akan sulit pula untuk menerima kesimpulannya dari penelitian fenomenal ini bahwa kalau dunia dalam fenomena-fenomenanya, hal-ihwalnya, dan akibat-akibatnya begitu jelek, haruslah diterima adanya suatu kekhilafan dasar, kejahatan radikal, dan ketidakberesan sehubungan dengan dunia itu.

“Kesenian – terutama musik – merupakan suatu sarana yang ampuh untuk menampilkan semacam emosi serta ekstasis supra-individual yang melenyapkan keinginan serta gairah individual.”

#15. Nietzsche

Dalam suatu skeptik akademis, ia kehilangan iman kepercayaannya.

“Betapa dahsyatnya tanggung jawab yang harus dipikul umat manusia sekarang, yaitu tanggung jawab Tuhan dulu. Segala sesuatu harus diciptakan kembali, yaitu filsafat, moral, kesenian, ilmu pengetahuan, dan politik.”

#16. Max Stirner

Menikmati diri saya sendiri, tenggelam sama sekali dalam kuasa serta miliki saya, tuan atas semua orang serta segala-galanya dan tidak mengabdi kepada manusia atau Allah, itulah makna kehidupan menurut Stirner.

“Yang ilahi adalah urusan Tuhan dan yang manusiawi adalah urusan manusia.”

#17. Kierkegaard

Sokrates Kristiani, seorang filsuf eksistensialisme. Di sini individu tidak dihadapkan pada Ketiadaan, melainkan di hadapan Tuhan.

“Orang kafir mempunyai rasa bersalah, tapi bukan rasa berdosa.”

#18. Jaspers

Kebenaran-kebenaran, yaitu pertama, tidak ada Allah kecuali Dunia, kedua, tidak ada sesuatu pun yang absolut dan tuntutan-tuntutan etis dapat dijelaskan atas dasar kebiasaan manusia. Dan ketiga, dunia adalah segala-galanya, kenyataan satu-satunya, dan sesungguhnya.

“Kepercayaan adalah hidup bersumber pada Yang Melingkupi (das Umgreifende), artinya membiarkan kehidupannya dituntun dan dipenuhi oleh Yang Melingkupi.”

#19. Sartre

Saya dapat menangkap san mengungkapkan “ketiadaan” dari Ada karena “ketiadaan” memisahkan kesadaranku dari Ada. Ini bunyinya amat berdwiarti. Sebab dapat dikatakan juga: jika ketiadaan memisahkan kesadaranku dari Ada, tidak ada yang memisahkan kesadaranku dari Ada dan dengan itu saya bersama kesadarabku hadir pada Ada!

“Karena kemungkinan ultim tidak kita kenal dan tetap tidak akan kita kenal, karena itu oula makna keberadaan kita tidak pernah dapat ditunjukkan dengan tepat.”

#20. Albert Camus

Camus yakin betul bahwa kehidupan kita tak bermakna. Seluruh keberadaan kita adalah absurd, sebagaimana bagi dia ketara sekali dari penderitaan orang yang tak berdosa, khususnya anak-anak.

Kita mengatakan “ya” dan serentak juga “tidak” kepada kehidupan. “Tidak” kita katakan kepada absurditas, ketidakadilan, penderitaan orang tak berdosa. Dan yang lebih radikal lagi kepada maut.

#21. Gabriel Marcel

Hampir selalu ada ia akan menolak yang ekstrem dan memilih jalan tengah. Menurut mereka, manusia tidak lebih dari materi (tubuh) saja. Cinta kasih menyatakan juga bahwa orang yang dicintai tidak bisa mati karena cinta kasih berlangsung terus di seberang kubur.

“Saya hanya adalah persona karena iman, kepercayaan, dan cinta kasih kepada Engkau. Dengan demikian, saya tetap bisa menerima keberadaan saya dan di dalam diri saya hidup suatu harapan yang tidak bisa mati.”

#22. Teilhard de Chardin

Seorang ahli geologi serta paleontology dan pada bidangnya itu ia dianggap sebagai salah satu sarjana terbesar di zamannya. Seorang Pastor Katolik, pergaulannya yang begitu erat dengan dunia ilmiah telah membuka matanya bagi kesenjangan yang semakin melebar antara agama dan ilmu pengetahuan. Dan menyakini pertentangan itu tak perlu terjadi.

“Di sini tampak suatu etika yang menganggap perjuangan melawan kelaparan, ketidaktahuan, penyakit, ketidakbebasan, dan peperangan sebagai tugas utamanya.” Ah, terlihat terlalu bagus, dan di sinilah keretakan dengan realita yang dinamis.

#23. Hidup di Seberang Maut

Bab penutup disampaikan dengan sangat bagus, tiga hal disampaikan dan pembaca bebas menyimpulkan. Pertama dari Ilmu pengetahuan: “Sebab setiap manusia sesudah periode yang singkat saja kembali lagi ke suatu keadaan di mana sebelum kelahirannya ia ternyata sudah berada sejak kekal. Daya hidup yang telah mengangkat dia di atas tahap umum serta tak berbentuk, akhirnya mengantar dia kembali ke tahap umum serta tak berbentuk itu.”

Kedua dari Filsafat: “anusia sebagai pribadi akan lenyap lagi dalam arus materi; ia tidak hidup sengan cara apa pun juga setelah kematiannya. Manusia tak lain adalah suatu susunan atau struktur yang terdiri dari daya dan materi.”

Dan terakhir dari Agama: “Tiga agama besar yang bersama-sama memiliki miliaran pemeluk sepanjang sejarah hingga kini, Yahudi, Kristen, dan Islam. Bertiga sepakat bahwa setiap manusia – sesudah kematiannya – menuju kesatuan dengan Tuhan.”

Buku ringkasan yang sangat berbobot bagi pembaca awam sepertiku. Jika waktu bisa diputar dan punya kesempatan kuliah lagi, bisa jadi jurusan Filsafat yang paling menarik minat. Ia ada di tengah-tengah, aman, dan begitu bikin mikir!

Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia | by Dr. P.A. Van der Weij | Judul asli Grote filosofen over de mens | Utrech, Erven J. Bijleveld Twede druk, 1972 | Diindonesiakan oleh Dr. K. Bertens | GM 618215001 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Desai nisi Fajarianto | Desain sampul Agustinus Purwanta | ISBN 978-602-03-6769-9 | Skor: 5/5

Karawang, 011122 – 151122 – Bob Brookmeyer – Jive Hoot

Thx to Justin SecondBook, Jakarta

Iklan

Satu komentar di “Filsafat: Beberapa Kali Kita Mendengar Gemanya

  1. Ping balik: #Oktober2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s