Menemukan Kebahagiaan, Menggunakan Seratus Indra Rahasia


The Hundred Secret Senses by Amy Tan

“Libby-ah, oh, Libby-ah,” ujarnya sedih. “Kenapa kau menangis?”

Ini jelas lebih mudah dicerna ketimbang The Joy Luck Club yang plot-nya berlapis. The Hundred Secret Senses sekalipun menyertakan dunia yin yang absurd dan mengundang arwah untuk berdiskusi, mengunjungi hantu-hantu masa lalu untuk membantu memahami masa kini, setidaknya alurnya masih runut. Sudutnya fokus pada Olivia, yang lainnya hanya sempalan, atau kalaupun keluar jalur, hanya mencerita detail yang menunjang. Kwan jelas begitu dominan menemani, sebagai kakak-nya yang paling setia, Kwan justru tokoh terpenting, terutama aspal cerita yang padat, dan eksekusi kunci di endingnya yang tak terduga.

Olivia, gadis keturuan China yang tinggal di Amerika, baru diberitahu bahwa ia memiliki kakak yang tinggal di China, dan karena ada gesekan sama walinya Big Ma, dikirim ke Amerika. Begitulah, mereka saling menjaga dan saling bertukar pikiran laiknya saudara erat. Kwan memanggil Olivia dengan panggilan, Libby-ah, dengan aahhh mendesah. “Janji mengajakku ke bioskop atau kolam renang akan mudah terhapus dengan dalih lupa, atau lebih buruk lagi, variasi-variasi licik mengenai apa yang dikatakan dan dimaksud.”

Kwan anak istimewa, bisa melihat Dunia yin, dunia antah di mana arwah tinggal. Seringkali Kwan curhat kepada Olivia, tentang reinkarnasi, bagaimana kehidupan masa lalu mereka, jadi siapa di masa lalu, dan bagaimana melakukan penyucian. “Suatu hari nanti angin akan bertiup kencang dan ia akan mencenfkeram seberkas atap jerami, siap terbang ke Dunia Yin.”

Olivia, bercerita, “Pertama kalinya aku melihat perantara itu, aku berpendapat ia mirip orang China. Saat berikutnya mirip orang asing, kemudian bukan kedua-duanya. Ia seperti bunglon uang bisa berubah warna seperti ranting atau dedaunan. Di kemudian hari aku mendengar pria ini punya darah ibu seorang perempuan China dan darah pedagang Amerika.”

Olivia memiliki sahabat karib, Simon, Pria Yahudi keturuan Polandia. Hubungan ini lalu berubah menjadi lebih serius dan mereka sepakat pacaran. “Menoleh ke belakang, aku bisa melihat betapa dungunya diriku karena melanjutkan hubungan dengan Simon. Tetapi ketika itu aku masih muda, dan tergila-gila setengah mati.”

Namun, ada kendala berat. Simon tak bisa melupakan kekasih lamanya, Elza. Bagaimana mereka berpisah disampaikan Simon, dan dengan kemuakan, Livia mendengarkan. Kejutannya adalah, Elza meninggal dalam kondisi hamil, tertimpa salju saat main sky. Ada selembar surat yang selalu disimpan Simon yang mengingatkan mantannya. Dan ini sungguh menjadi beban berat Olvia. Yah, siapa sih yang tak kesal, pacarmu cerita tentang mantannya dengan mata berkaca dan penuh damba. “Aku takut kalau-kalau Elza luar biasa cantik, perpaduan antara Ingrid Bergman yang bermandikan cahaya lampu landasan bandara dengan Lauren Bacall yang merajuk di tengah asap rokok bar.”

Melalui bantuan Kwan, Simon diajak berkomunikasi dengan arwah Elza, dan dengan beberapa modifikasi, meminta Simon move on. Dan begitulah, Simon dan Olivia akhirnya menikah. Penyatuan yang sejatinya ada ganjalan. Ada kesan, tak murni dan dipaksakan. Jelas, ini bukan pondasi keluarga yang kukuh. “Aku merasa seakan memenangkan lotre namun terlanjur membuang karcisnya. Ini bagai lelucon kejam yang dilontarkan para dewa peluangm dewa kebetulan, dan dewa nasib buruk padaku.” *
Olivia sejatinya juga punya keistimewaan, tapi tak semenonjol kakaknya. “Aku memiliki ingatan fotografis yang sangat tajam. Caraku mengingat masa lalu bukanlah seperti membalik-balik tumpukan foro. Prosesnya lebih selektif dari itu. Bila seseorang bertanya padaku di mana alamatku saat berumur tujuh tahun, angka-angkanya takkan berkedip-kedip di depan mataku.”

Sebagai fofografer, dan Simon sebagai penulis. Mereka adalah keluarga kecil yang potensial idaman. Naas, setelah sepuluh tahun menikah, keinginan memiliki keturunan tak kunjung sampai. Konsultasi ke berbagai dokter, melakukan ritual apapun, termasuk ritual ala Timur yang alami. Dan sebuah vonis dokter kandungan muncul. Simon mandul. Ah, tak mungkin rasanya, sebab ia pernah hampir jadi ayah saat dulu Elza hamil. Sempat mengira hasilnya kebalik, mungkin Olivia, dan dokter dengan tegas bilang lakinya yang bermasalah. Dari sinilah percekcokan muncul. “Begitu menyedihkan, begitu menyedihkan. Bagaikan dua orang yang kelaparan, bertengkar terus sambil membuang-buang nasi. Kenapa kalian melakukan ini, kenapa?”

Life must go on. Mereka sedang mencari rumah, dengan modal tambahan dari waris dan dana yang telah dikumpulkan, mencari rumah idaman, sederhana tapi nyaman. Pencariannya unik, perdebatan muncul, biasa. Namun yang parah, saat sang developer bilang, rumahnya strategis dekat dengan sekolah anak favorit. Sempat terasa menyebalkan, dan hampir memutuskan tidak amabil, ternyata di lantai atas ada ruangan luas kosong yang potensial untuk direnovasi menjadi ruang nyaman. Begitulah, kita tak pernah tahu apa yang terjadi di masa depan. “Sebelum ini Anda tidak menghargai pendapat saya. Kenapa Anda sekarang bertanya pada saya?”

Nah, suatu hari mereka mengajukan dana ke lembaga. Bahwa mereka akan melakukan riset, tulisan tentang makanan dan tempat eksotik di China. Berdua, kolaborasi. Sempat lama tak ada kabar dan hampir terlupa, mereka malah cekcok lagi. Dan kali ini keputusan bulat, mereka sudah tak bisa sejalan lagi, mereka akan cerai. “Kemudian aku merasa diriku semakin kecil namun semakin padat, nyaris remuk tertindih beban hatiku sendiri, seakan hukum gravitasi dan keseimbangan telah berbuah dan aku sedang melawannya.”

Kwan tampil sebagai penyelamat, seringkali menyatukan, seringkali bilang bahwa kalian ini sejatinya cocok dan saling melengkapi, kenapa mesti berpisah? “Well, kau tahu apa yang dikatakan orang tentang pasangan yang sudah menikah, begaimana dengan berlalunya waktu mereka semakin mirip satu dengan lainnya.”

Begitu pula berpendapat, semuanya bisa diselesaikan dengan komunikasi. Kwan berulang-ulang mengundang makan, mengajak kumpul, hingga memastikan tak ada bara di antara mereka. “Karena tahu betapa senangnya Kwan memberikan saran, aku menyampaikan semuanya sejelas mungkin.”

Informasi kejutannya, pengajuan dana riset itu disetujui. Dan kebimbangan menyeruak. Bagaimana bisa, sepasang orang yang sedang berantem berangkat dua minggu ke negeri jauh untuk terus bersama? Muncullah ide, Kwan ikut dalam perjalanan. Ia begitu rindu rumah, ingin bertemu Big Ma, dan jadi pemandu sekaligus. Well, berhasil. “Namun motivasi utamaku adalah rasa takut akan penyesalan. Aku khawatir bila aku tidak pergi, suatu hari kelak aku akan menolah ke belakang dan bertanya-tanya, Bagaimana seandainya aku pergi?”

Kwan tampak bahagia setengah mati. Yang jelas, gagasan mencari telur khayalan di China terdengar sangat menarik. Banyak omong, banyak tingkah, banyak harapan. Bayangkan saja, puluhan tahun pergi dari kampung halaman, dan kini pulang. Betapa antusiasnya. “Aku bagaikan mengejar ayam, kemudian berbuah jadi ayam yang dikejar. Aku Cuma punya waktu semenit untuk memutuskan perasaan mana yang paling kuat, perasaan itulah yang kemudian aku ikuti.”

Dan kejutannyalah yang didapat. Sesampai di desa, terjadi pengelihatan maya, yang menyedihkan. Tak pernah disangka, lepas rindu itu berubah jadi duka lara. “Ia berpendapat angka lima mewakili semua hal biasa yang mengikat manusia fana pada dunia orang hidup – kelima warna, kelima citarasa, kelima indra, kelima elemen, kelima emosi…”

Benarkah ini karena kutukan? Orang berkata Changmian desa terkutuk. “Jadi sekarang kau tahu mengapa desa ini bernama Changmian. Chang berarti menyanyi, mian berrati sutra, sesuatu yang lembut tapi terus memanjang seperti benang. Nyanyian lembut, tidak pernah berhenti.”

Ataukah ada pertanda lain? “Reinkarnasi. Kau tahu, setelah kau mati, roh atau jiwamu atau apa pun bisa dilahirkan kembali sebagai orang lain.”

Begitulah, separo akhir buku kita diajak berpetualang di China di kampung halaman Kwan. Dengan begitu sederhananya, khas pedesaan yang sejuk dan asri. Keabadian hanya berlaku sampai orang melupakan dirimu. “Apakah dunia akhirat terpilah-pilah? Kau baru bisa masuk Dunia Yin bila kau orang China.”

Sampai akhirnya kita diajak ke masa lalu, yang terjadi di antara Nona Banner dengan Yiban adalah cinta yang seluas dan setenguh langit didedah, kejadian di depan pintu gua yang mistik itu seolah direka ulang. Simon dan Olivia yang sedang berantem, kini malah saling mengkhawatirkan. Dan dalam prosesnya malah saling menjaga, melindungi. Siapa yang akhirnya menemukan kedamaian di akhir?

Kubaca dalam tempo santuy, sejak tanggal 10 Juli 2022 dan baru selesai baca dini hari tadi 10 November 2022 jam 3 pagi jelang nonton bola Chelsea vs Man City. Walaupun novel amy Tan tergolong berat, sebab selain karena tebalnya, isinya juga tak bisa. Selalu melingkar, diajak bersafari ke area luas. Buku ini, jelas memutar sangat jauh. Untuk mendapat feel-nya kita menjelajah masa lalu keluarga ini, kemapanan di Amerika hingga akhirnya kembali ke titik mula. Mungkin kejutnya yang bagus dan sangat pas, menyenangkan semua pihak, walaupun sejatinya ada nada tragis di dalamnya.

Orang yang sudah mati, misalkan. Sekalipun Kwan bisa berkomunikasi dengan arwah, aturan basic tetap ditegakkan. “Kau masih bisa membuat kenangan. Kau bisa membuat yang bagus. Ajarkan pada kami cara membuat kenangan yang bagus supaya lain kali kami mengingat apa yang tidak boleh dilupakan.”

Kurasa Kwan bermaksud menunjukkan pada kita bahwa dunia bukanlah suatu tempat melainkan keluasan jiwa. Dan yang utama, jalinan saudara itu penting. Saat saudara kita mengalami kesulitan, kita harus rela berkorban demi kebahagiaannya. Tulus, murni. Walaupun nyawa taruhannya. Kwan yang luar biasa strong!

Seratus Indra Rahasia | by Amy Tan | Copyright 1995 | First published by Penguis Putnam | Alih bahasa Lanny Murtiharjana | GM 402 06.004 | Februari 2006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | 426 hlm; 23 cm | ISBN 9779-22-1956-0 | Skor: 4.5/5

Untuk Faith

Karawang, 101122 – Fats Waller – Handful of Keys (Remastered)

Thx to Ade Buku, Bandung

Iklan

Satu komentar di “Menemukan Kebahagiaan, Menggunakan Seratus Indra Rahasia

  1. Ping balik: November2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s