Menembus Kabut

“Tugas manusia yang beriman adalah menyeru dirinya, kemudian keluarganya, kemudian handai tolannya, kemudian masyarakatnya – untuk berbakti kepada Tuhan dan menjauhi larangannya…”

Novel tipis yang dengan cepat selesai kubaca. Dalam perjalanan tugas luar kantor hari ini ke Bandung, kumulai baca saat masuk tol Karawang Timur, dan sebelum sampai tol Buah Batu, 50 halaman itu sudah tandas. Memang tipis, kecil, dan ceritanya sangat sederhana. Dan karena ini buku proyek Departemen Agama, di mana ada misi di sana, maka apa yang disampaikan lurus-lurus saja. Novel, tapi berisi petuah. Ada hikmah dalam cerita, pesan-pesannya tersurat. Jelas dan sangat blak-blakan. Manusia harus hidup lurus, yang baik menang, yang jahat kalah, dan begitulah. Pesan moral itu disampaikan, apa adanya.

Kisahnya tentang Ismail anak yatim piatu yang hidup di gubuk liar Jakarta, merantau ke sana dengan bermodal nekad. Ia tinggal dengan tukang becak yang sudah tua dan sakit-sakitan Mang Simin. Hidup sebatang kara, maka untuk saling melengkapi: Ismail menganggap Mang Simin ayahnya, Mang Simin menganggap Ismail anaknya. Mereka saling menguatkan akan kejamnya dunia.

Dibuka dengan Ismail yang pulang kerja sebagai penyemir sepatu di warung makan Surya. Dicegat oleh preman Sam’un. Dengan penghasilan seribu perak diembat separonya, padahal awalnya mau buat beli obat demam Mang Simin. Keapesan ini dicerita pada bapaknya, dan mereka hanya bisa pasrah. Apa yang bisa diperbuat oleh orang miskin seperti mereka.

Malam itu, Mang Simin serasa tergugah mendengar suara adzan. Maka ia memutuskan untuk menunaikan salat berjamaah ke Masjid An-Nur. Di usianya yang sudah senja, ia menemukan kedamaian. Dimbimbing oleh Ustaz Makmun Razak, dan jamaah yang mendukung. Ismail sempat heran, sebab ayahnya tak ada di rumah saat kembali dari membelikan buah. Dan sekembali dari masjid berpetuahlah.

Besoknya, saat subuh ia kembali salat. Dan begitulah, ia akan berkomitmen menjalankan perintah Allah. Hari itu, Ismail dengan Yono yang sama-sama mencari nafkah menyemir sepatu, dan dari sopir-sopir truck yang baik mendapat rejeki lebih, beberapa karyawan yang makan di warung makan Surya memberi tips. Alahkah senangnya mereka.

Malamnya, Ismail pulang terlambat, dan preman Sam’un sudah menanti di gang tak menemukannya. Ia lalu ke gubuk langsung, mengobrak-abrik isi rumah, memaki, mencari ybs. Dan saat Ismail dan Mang Simin pulang mendapati gubuk mereka berantakan, terjadilah cekcok. Untung ada jagoan lokal, Mang Jalal yang menghantam balik sang preman. Terkaing-kainglah begundal tersebut.

Sementara aman, tapi sampai kapan? Besoknya saat tahu Jalal ada acara di kampung sebelah, preman ini kembali datang. Dan terjadi lagi kegegeran, tapi secara dramatis jagoan kita datang, melempar preman berengsek ini ke sungai. Kisah makin klise, saat di masjid ada lowongan untuk tukang bersih-bersih, dan sang tuan rumah makan mengulurkan tangannya untuk mengentaskan buta huruf. Sederhana, dan sangat klise. Kata-kata, “Jangan malu mengerjakan yang halal”, “Jadi orang jangan sangka buruk kepada orang lain”, “Menyantuni anak yatim yang sebagai mana anjuran Nab Muhammad SAW.” dst.. Isinya begitu penuh petuah.

Karena ini buku proyek pemerintah, jelas upaya untuk mengarahkan rakyat untuk bersyukur. Apalagi masa-masa setelah penumpasan PKI, maka agama diapungkan. Buku-buku lama banyak yang cari aman. Dulu pernah beberapa kali baca yang temanya, wirausaha, masyarakat yang aman dan sentosa, ketahanan pangan yang hebat, sampai pembangunan yang bagus dan laik dapat pujian. Ah, Orde Baru yang hebat. Nah, tema-tema sejenis itu sudah tak laku di era Reformasi. Sudah digerus oleh banyak fakta pahit. Namun, sejujurnya saya juga tak terlalu ikuti buku-buku proyek pemerintah saat ini, kurang mendapat perhatian untuk literasi. Sayang sekali…

Kubaca santuy sepanjang tol, ditemani Raisto. Bacaan ringan seperti ini cocok dilahap kala perjalanan. Tak butuh konsentrasi lebih, ngalir saja, intinya dapat. Memang sudah direncana, pas dapat tugas keluar kantor, langsung kupilih. Terima kasih.

Menembus Kabut | by Tim Penyusun | Ketua Drs. H. Zainal Arifin | Anggota Sukendar BA, Moh. Thohir | Proyek Pembinaan Generasi Muda Departemen Agama 1980/1981 | Skor: 2/5

Karawang, 241022 – Michael Buble – At This Moment

Thx to Derson, Jkt

Iklan

6 komentar di “Menembus Kabut

  1. Ping balik: #Oktober2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s