Islam tanpa Toa

“Ini sudah fitrah. HMI itu tidak mempersoalkan apakah kamu salat pakai qunut atau tidak. Apakah kamu tahlil atau tidak. Yang salah adalah yang tidak salat dan menutup telinga saat azan.”

Bangsa kita sudah terbiasa hanya melihat segala sesuatu dari kepentingannya belaka, tidak mau melihat dari kepentingan dan kacamata orang lain. Singkatnya, bangsa ini ternyata sangat egois. Di sini, kebiasaan lebih diterima daripada kebaikan.

Setiap manusia berproses dari ketidaktahuan menjadi tahu dengan harapan mencapai kesempurnaan. Dan muncullah diskusi seru ini. Buku yang dinukil dari milis, bahasanya bebas. Seperti zaman sekarang melihat debat daring terbuka di twitter atau facebook. Temanya bagus, polemik yang sudah lama ada, masih ada, dan akan selalu ada. Tentang toa atau pengeras suara di masjid-masjid kita. Pro kontra wajar, alasan yang disampaikan juga sangat wajar, dan masuk di akal. Yang pro, biasanya karena sudah kebiasaan. Toa sudah jadi tradisi di banyak Negara Islam, dan penggunaan yang unik di Indonesia pun sejatinya sudah diatur dalam Instruksi Dirjen Bimas Islam No. Kep/D/101/78 tanggal 17 Juli 1978. Namun tentu saja, pelaksanaan tak bisa serta merta mulus sebab Indonesia yang sangat luas, memang kudu beda-beda aturannya. Ada yang usulkan dibuat Perda, ada yang minta dibuat khusus tiap kota, dst. Sulit, dan sungguh takkan bisa memuaskan semua orang. Sementara yang kontra, kebanyakan adalah warga metropolitan. Kota besar yang plural, di mana kebebasan dan kepentingan pribadi harus dilindungi. Merasa terganggu, merasa kurang respect sama warga non muslim, hingga meminta hanya untuk azan saja penggunaan toa. Dan kembali lagi, tak semudah itu pelaksanaannya sebab ini menyangkut hajat hidup orang sangat banyak, menyangkut banyak sekali manusia dengan berbagai isi kepala yang beda-beda.

Menjadi semacam ontologi keresahan akan fenomena ini. Dicetak dengan apa adanya, di mana tema utama dipaparkan di pembuka. Lalu sang penulis komentar dicantumkan di bawahnya. Lantas dibalas komen oleh orang lain, yang pro-kontra tadi, lalu bahasan melebar ke mana-mana. Dari masalah listrik masjid yang nyantol langsung di kabel tiang sehingga tak bayar listrik, masalah taraweh yang 8 atau 23 rakaat, pembacaan qunut di subuh, hingga kembali lagi ke masalah toa, bahkan ada isu sensitif bagaimana seorang mualaf kembali memeluk agama lama, sebab malu sama keluarga, agama barunya ternyata berisik.

Begitu juga joke jadul, siapa sebenarnya yang paling dekat sama Tuhan? Hindu, Kristen, atau Islam? Ternyata Islam yang paling jauh sebab Tuhannya harus diseru, biasanya yang diteriakin kan orang jauh. Yang dekat, cukup dibisikkan jadi Kristen yang memanggil ‘Bapa’ dalam ketenangan bisik. Kedua, Hindu yang memanggil tuhannya dengan ‘Om’. Hehe… begitulah, milis ini benar-benar hidup.

Sayangnya, beberapa ada yang tersulut marah. Walau kalau dibaca sekarang sebenarnya masih taraf tak keterlaluan, lihat saja forum twitter yang merdeka dan tak berbatas. Tak ada apa-apanya. Jadi menyatukan pendapat itu tak sederhana, menghujat di mana-pun ada. Tak peduli di forum agama, masyarakat, hingga tingkat Negara. Sama saja, ya mungkin tingkatan marahnya aja yang beda-beda.

Hebatnya, di buku ini dicerita di akhir terjadi kopi darat (kopdar) yang damai, dan melanjutkan diskusi dengan penuh persaudaraan. Terlihat terbagi dalam dua kubu besar, pertama adalah pihak yang kontra dikepalai oleh Ami Geis yang sekuler, dan pendukungnya banyak. Yang pro bisa disematkan ke Kang Hamid, dan pendukungnya lebih banyak lagi. Yang di tengah-tengah juga ada, di mana tak pro dan tak kontrak, hanya nimbrung mencerita pengalamannya. Walaupun, jelas itu sungguh subjektif. Dari yang pernah tinggal di Melbourne yang tenang lalu merindu suara toa di Indonesia. Atau yang tinggal di apartemen damai, sehingga di bulan Ramadan nuansa riuh otomatis hilang. Atau yang mencerita di negeri Turki, toa hanya untuk azan saja sehingga tak mengganggu. Atau yang mencerita bahwa masjid kita terlalu banyak, dengan mudahnya orang mendirikan masjid sebab ada amal jariyah di sana, tak peduli jumlah jamaah. Atau yang cerita, rumahnya laku impas dengan saat beli karena dekat masjid sehingga rumah dekat masjid tak cocok untuk investasi. Hingga orang yang dapat kesempatan studi ke Australia malah ditolak dan memilih Malaysia, demi ‘dekat’ sama agama. Semuanya bebas, dan benar-benar apa adanya.

Untungnya lagi, buku ini ditutup dua tulisan yang sangat bagus. Amat bagus malah. Allah dalam menilai perilaku ummatnya berdasarkan amal dan pengetahuannya. Pertama, epilog dari Taufiq Sutan Makmur dimuat di Seputar Indonesia yang terbit di Minggu, 16 September 2007. Bernas dan nyaman dibaca. Curhat suara-suara kramat seorang warga menengah. Merasa terganggu suara orang ngaji orang tua dan anak-anak yang cempreng dengan lentangnya bangunin sahur, hingga ‘taubat’ dan respect. Serta cerpen Malaikat dan Corong Mushala oleh Ahmad Tohari, yang terbit di Harian Republika, 5 November 2007, mencerita Joni Ariadinata membuat cerpen dan minta izin dibacakan, isinya tentang di malam lailatul qudar, di petala langit malaikat melihat surya di sebuah mushala yang terang, yang setelah di-zoom adalah seorang jamaah yang dengan tangga naik ke masjid memutus kabel, sehingga malam suci itu tak bisa ‘meriah’ dengan teriakan keluar sebab toa-nya mati. Meski malam terasa lama, tapi akhirnya berjalan juga. Lucu? Ironis? Saya lebih melihatnya, sebagai ending buku yang keren. Sebab, mau menarik kesimpulan apapun itu terasa benar sekaligus salah, tinggal melihat dari sudut pandang mana. Dunia sudah berubah dan beragama juga menuntut cara yang berbeda, tidak bisa seenaknya. Islam tanpa Toa? Ah, bukankah akan lebih kontradiktif bila menyebut Islam tanpa salat?

Islam tanpa Toa | by Jamaah Milis KAHMI Pro Netword | Penyunting Misbahudin | Layout Iman Iskandar | Desain sampul Fahmi Shihab | Penerbit Pustaka @lam Maya | xviii + 166 hlm; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-979-17782-0-6 | Cetakan pertama, April 2008 M | Skor: 3.5/5

Karawang, 010922 – Shirley Horn – Fever

Thx to Sri Wisma, Bandung

Iklan

Satu komentar di “Islam tanpa Toa

  1. Ping balik: #Agustus2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s