Potongan Tubuh #20

“Menurutku, pada akhirnya bukankah semua manusia memang penjahat kambuhan? Terbiasa naik kereta, terbiasa bekerja, terbiasa makan, terbiasa menghasilkan uang, terbiasa main, terbiasa mengusik orang, terbiasa berbohong, terbiasa salah sangka, terbiasa bertemu orang…”

Luar biasa, memesona. Beginilah seharusnya cerita pendek dicipta. Dicerita dengan abu-abu sehingga tetap mencipta penasaran. Dunia yang sejatinya di sekitar kita, dibuat rumit untuk membuat pembaca mau ke arah mana sebenarnya cerita ini. Pintar sekali yang bikin kisah, kita tak dibiarkan tenang. Nama-nama penulisnya asing, tak satupun kenal. Namun tak ragu saat kubeli bukunya, sebab kualitas terbitan Baca yang beberapa kali kulihat mengalihbahasakan buku-buku Korea, bagus. Ini sama saja, sama kerennya. Tak perlu jadi fans BTS untuk bisa masuk ke dunia literasi Negeri Gingseng.

#1. Benar, Aku Seekor Jerapah? By Park Min-gyu

Mars, Venus, hingga pengandaian kehidupan yang berputar. Setiap manusia pasti memiliki aritmetika masing-masing. Bagaimana bekerja mendorong penumpang yang sesak dalam kereta, hingga tangannya kuat. Menyaksikan penderitaan begitu banyaknya orang setiap pagi perlahan menjadi salah satu sumber stres. Kereta, ah itu semacam hewan raksasa yang merangkak, menderu dari stasiun sati ke yang lainnya.  Mungkin trik rahasia pembangunan Piramida juga ketidakadilan. Sangat tidak adil kalau harus berhenti sekarang. Mungkin ini adalah aritmrtika para budak.

Saat ibunya sakit hingga masuk rumah sakit, mereka malah lebih khawatir sama biaya perawatannya, bukan fokus pada penyembuhannya. Ayahnya tampak lelah lungai. Penggambarannya, seperti warna kelabu seperti di layar kalkulator mati yang baterainya sudah habis. Sekarang hitungannya sudah tidak keluar. “Aku menangis karena lebih bahagia ketika mendengar ibu bisa keluar dari rumah sakit dibandungkan ketika mendengar bahwa ibu sudah sadar.”

Aku meluruskan kaki dan mendongakkan kepala untuk melihat awan yang bergerak sambil berbicara. Seperti Thousand Character Classic, “Dunia memang luas dan liar, sementara aku sendirian.”

#2. Pecinan by Oh Jung-hee

Kehidupan keluarga menengah ke bawah. Diambil sudut dari seorang anak yang masih sekolah, berpindah ke kota baru, temannya Chi Wok menjadi teman sejati. Ibunya yang sudah tua sudah muak jualan tembakau, ayahnya mencari kerja dengan menghubungi para kenalan. Lucu sekali cara pindahnya, sudah pamit sama tetangga kanan kiri, sudah siap berangkat sejak subuh, eh mobilnya tak kunjung datang. Truk baru sorenya, itupun izin cabut lagi sebab mengantar sapi dulu, dan baru muncul lagi tiga jam kemudian. Sebuah gambaran keluarga miskin, bertahan hidup yang luar biasa.

Pindah ke kota yang bising, sebagai anak-anak tentu perlu waktu lebih lama beradaptasi. Canggung bagai awan mendung yang memeluk hujan. Persahabatan yang menghantar pada perkenalan dengan keluarga Chi Wok, kakaknya yang jadi teman tidur orang asing, fakta ia adalah anak tiri, hingga carut marut kehidupan kota di pesisir pantai. Kapal dan perahu dirapatkan di pelabuhan, bendera mereka melambai-lambai seperti konveti.

“Bagiku, kawasan rumahku dan Pecinan merupakan buritan kapal yang sudah dimasuki air dan akan segera tenggelam.”

#3. Istri Lelaki Miskin by Eun Hee-kyung

Sang suami menemukan istrinya memiliki diary. Ia miskin, mabuk-mabukan, dan tak terlalu perhatian. Maka dengan buku harian itu ia menjadi tahu pemikiran istrinya. Sejak lajang hingga saat ini. Perempuan memang lebih peka, atau lebih perasa bila menyangkut keluarga. Sejatinya ini, seperti makna diary itu sendiri, adalah sejenis curhat.ah suami miskin, pemabuk. Bahwa ia hanya melakukan dua hal di hidup, yang pertama adalah minum alkohol dan yang kedua adalah sadar dari mabuk.

“Hidup adalah sesuatu yang serius, hidup adalah sesuatu yang garus dilakukan dalam keadaan sadar walau seperti es kotak seragam yang dibekukan menggunakan cetakan serupa.”

#4. Tanah Milik Ayah by Lim Chul-woo

Kemping militer membawa masalah. Sepasukan prajurit menggali tanah yang akan dijadikan latihan, malah menemukan tulang belulang manusia. Karena daerah itu sepi dan sebenarnya jauh dari pemukiman, mereka Prajurit Oh dan Sang Aku, lalu mencari ketua RT atau tetua desa setempat. Seorang nenek menyambut, lalu kakek muncul dari ruang lain. Ikut menyelidik, ikut mendatangi tempat tulang manusia ditemukan. Jadilah sebuah penelusuran kelam masa lalu.

“Semalam kami memimpikan orang itu. Tapi memang tidak dapat dipercaya… ternyata hanya pertanda untuk hal ini.”

#5. Menara Pasir by Jo Jung-rae

Pelukis mula yang belajar banyak dari idola. Ayahnya gagal menjadi pelukis, maka ialah harapan utamanya. Kuliah seni, jadi cewek tomboy, merdeka. Lalu perkenalannya dengan pelukis muda kenamaan Min Hyeong-woo. Kaya, elegen, lukisannya dipuja penikmat dan kritikus seni. Diam-diam mengagumi, hingga akhirnya sebuah jalan pintas malah dicipta ayahnya. Ayahnya yang kaya, malah mempenalkan sang pelukis, dan membeli mahal salah satunya. Keinginan terpendam yang diwujudkan seketika.

Perkenalan, hubungan yang lebih serius, lalu menikah. Menjadi istri pelukis ternama, menjamu tamu-tamu seniman dan pengulas karya. Menarik, hingga akhirnya jamuan makan itu mencipta kengerian. Ia memiliki dan mengetahui rahasia sang suami. Menara pasir yang luruh.

“Puluhan ribu batu bata bertabrakan dan pecah di dalam hatiku, menara pasir raksasa diempaskan ombak dan kini mulai runtuh. Serpihan diriku bertebaran ke mana-mana.”

#6. Sebatang Jarum by Cheon Un-yeong

Ini kisah pembunuhan, tapi tak biasa. Korbannya adalah biksu tua, yang sejatinya divonis bunuh diri, tapi ibunya malah mengaku membunuhnya. Aku adalah perajah tubuh, pembuat tato yang buruk rupa, dan begitu pendiam. Perempuan dengan keahlian menggambar di tubuh pelanggannya. Aku merasa sangat lelah seakan baru melakukan hubungan seks mahadahsyat setiap menyelesaikan sebuah tato. Segalanya tak wajar, dan kabar buruk menyusul kemudian.

“Aku tidak ragu sedetik pun ketika melemparkan anak kucing ke dalam WC.”

#7. Potongan Tubuh by Pyun Hye-young

Dari sudut pandang suami yang kehilangan istrinya yang terjatuh/bunuh diri/dibunuh di lembah sungai. Setelah sebulan melakukan pencarian mayat, dari kota U yang jaraknya lima jam perjalanan, kepolisian menemukan potongan tubuh. Untuk identifikasi, ia bolak-balik. Dari potongan kaki, lalu potongan tangan, dst. Dengan rasa sesal dan keraguan, sang suami menelusur kesalahan masa lalu. Toko yang ditutup, kesulitan keuangan, tak punya anak, hingga pertengkaran dengan almarhum. Tak ada jalan kembali.

“Katanya indra pendengaran adalah yang paling terakhir mati dari seluruh indra manusia.”

Sejatinya, saya tak mengenal buku-buku Korea. Negara ini memang sekarang sangat maju, dan begitu menggeliat di berbagai bidang, termasuk sastra. Sekali lagi, Terbitan Baca memuaskan. Bukti bahwa, sastra luar yang dialihbahasakan ke Bahasa Indenesia jika diolah dan diramu benar, sangat memikat.

Potongan Tubuh | by Pyun Hye-young, Park Min-gyu, dkk | under the support of Literature Translation Institute of Kore (LTI Korea) | Penerjemah Dwita Rizki | Penyunting Harum Sari | Pemeriksa aksara Dian Pranasari | Penata isi Nurhasanah Ridwan | Perancang sampul Sukutangan | Penerbit BACA | Cetakan  I, Juli 2019 | ISBN 978-602-6486-32-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 200622 – Nina Simone – I Put a Spell on You

Thx to Azi Mut, Bandung

#30HariMenulis #ReviewBuku #20 #Juni2022

Satu komentar di “Potongan Tubuh #20

  1. Ping balik: #Mei2022 dan #Juni2022 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s