Sastra adalah… Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

“Jika Anda seorang pengarang, dan tak menemukan ungkapan-ungkapan yang pas untuk menjelaskan perasaan yang rumit dan intim dan dalam dari tokoh-tokoh yang ingin Anda ceritakan dalam bahasa Indonesia, maka boleh jadi Anda akan lari mencari pertolongan kepada bahasa yang Anda alami sehari-hari atau kepada bahasa yang Anda anggap lebih kompleks berdasar kecenderungan bacaan Anda…”

Menurutku buku ini setara bagusnya dengan Cerita, Bualan, Kebenaran. Tips-tips menulis yang dibalut bukan tips menulis. Nyaman dan terasa sangat masuk akal. Jelas lebih keren dari Menumis itu Gampang yang bertema umum. Poinnya sama, Cak Mahfud bercerita kesehariannya. Buku ini terasa lebih asyik sebab bahasannya fokus ke proses kreatif, yang setelah ditelaah, tak kreatif juga, tak banyak nasehat, atau petuah membumbung. Benar-benar cerita bagaimana ketahananan menulis buku itu perlu, pengalaman dari Penulis pemenang DKJ dan KSK. Dua penghargaan sastra paling bergengsi tanah air. Walau judulnya provokatif, bagaimana penulis menganggur, percayalah, itu hanya jeda. Judulnya biar tampak eksotik. Itu hanya masa santuy, sejatinya menulis memang kudu tahan banting, konsistensi, dan dipaksa. Maka tata kelola waktu juga sebuah kunci, dan buku ini jelas patut dipertimbangkan jadi rujukan proses mencipta karya. Seperti yang dulu pernah kubilang di ulasan buku Mario Vargas Llosa dalam Matinya Seorang Penulis Besar (sudah diterjemahkan oleh Shira Media), bahwa buku-buku dibalik karya sangat patut dicetak sebanyak mungkin agar pembaca tak meraba ngasal. Setidaknya kita tahu, buku-buku itu diterbitkan penuh pengorbanan, tak sim salabim mengada.

#1. Hanya Penulis

Sosial media, atau di sini Facebook telah mengikat kita dalam pergaulan instan. Bisa saling mengenal secara daring orang-orang asing, serta para idola yang dulu rasanya tak terjangkau. Dibuka dengan sebuah kotak pesan masuk yang menanyakan pendapat kontribusi penulis di masa pandemi. Dan dijawab dengan apa adanya, mungkin benar kurang memuaskan, tapi ini benar-benar real. Kenapa, sebab “jangan memberi panggung kepada orang-orang yang tak kompeten,” adalah mutlak.

Jangan tanya tanggapan Lesti.

#2. Penulis? Oh, yang di Percetakan

Karena sudah baca dua kumpulan esai, saya jadi tahu perjalanan hidup Cak Mahfud yang lulusan pesantren, kuliah Yogya, bekerja di Jakarta, lantas menyepi menekuri tulisan dengan serius kembali ke Yogya. Maka saat baca judulnya, jelas ini adalah lontaran tanya dari rekan saat di Utan Kayu. Penjelasan bagaimana ia ‘tak menyangka’ jadi penulis suatu hari kelak tampak seolah hanya mengikuti arus kehidupan. Dan penulis yang dikenali sekaligus tak dikenali, kocak juga kontribusinya, saat truk-truk bahan bangunan yang bising di balik tembok tempat tinggalnya dan ia bergeming, tak turun tangan. Tak mengapa, saya sama saja kalau di posisi itu.

#3. Alasan untuk Tidak Menulis

Sudah menulis dari era mesin tik, dan bagaimana cerpen pembuka Belajar Mencintai Kambing berproses. Sibuk jadi semacam kelakar saat ditanyakan pada Penulis. Hingga bagaimana tatapan pada Ayu Utami di meja kafe seberang dengan laptopnya, sepuluh tahun kemudian, beliau punya karya setara bagusnya. Sejatinya, penundaan menunaikan tugas (di sini menulis) adalah hal wajar bagi manusia. Termasuk alibi, kalau punya komputer, kalau punya laptop kualitas bagus, kalau punya tempat nyaman menulis, serta kalau kalau yang lain.

Penutupnya bagus, langsung kena jap. “… semakin cepat capek dan diserang pegal-pegal. Saya pasti akan jauh lebih sigap dan lebih cepat menyelesaikan tulisan ini jika saya masih seumur para penulis muda yang sore itu saya temui.” Hahaha…

#4. Pengarang dan Kemelut

Mengandaikan masa hidup di era lama, tak hanya cocok untuk para penulis. Bayangkan, kalau kamu buruh di masa kemerdekaan, apakah mungkin sudah bergabung angkat senjata? Atau bayangkan hidup di masa ’65, mungkin kamu buruh yang keciduk karena ikut coblos Merah. Nah, di sini membayangkan bagaimana kalau penulis hidup di masa itu? Bakalan angkat senjata? Bakalan turut serta disingkirkan? Chairil Anwar memang penyair terbesar kita, dan bagaimana ia berumur muda banyak memberi warna kebangkitan Indonesia.

#5. Bahasa Indonesia dan Persoalannya – bagi Seorang Pengarang Jawa

Ini menyenggol Azhari Aiyup si penulis Kura-kura Berjanggut yang fenomenal itu. Bagaimana cerpennya terbit di Kompas dan mencipta iri Cak Mahfud, terutama gaya bahasa, pilihan diksi, hingga keluwesan bercerita yang bagus, seorang Aceh yang mahir berbahasa Indonesia.

Dan bagaimana kehidupan sehari-hari mempengaruhi kehidupan sosial kita, terutama bahasa. Jadi seperti apakah bahasa Indonesia yang baik dan benar itu. Lebih nyaman memang memilih “percampuran” bahasa ibu dan bahasa Indonesia, dan itu sangat wajar. Bukankah malah tampak aneh, orang Jawa dengan fasih bercerita tentang kehidupan suku Dani?

#6. Pulang, Pola, Mood

Pulang kampung adalah jeda dari kesibukan. Menikmati waktu dengan keluarga, menelusuri kenangan, ngopi sama rekan main kelereng, hingga ketawa-ketiwi sama teman-teman lama yang tak merantau. Begitu pula penulis, mudik adalah masa kosong dari mengetik kata-kata, refreshing-kan pikiran, mengisi ulang ide-ide. Masalahnya, mood-nya tak kunjung kembali saat telah kembali ke kota tempat kita mencari uang.

“Jadi, sekali lagi, mood itu eksis. Ia bukan mitos. Ia ada, dan beberapa orang betul-betul memerlukannya untuk mencipta. Ia, membentuk sejenis pola bagi orang-orang tertentu…”

#7. Buku Baru

Buku debut Ulid bersampul kuning yang terkenal itu, disambut dengan sederhana oleh penulisnya. Bersepeda Wymcicle AC Milan santuy ke tempat kelahirannya, mengambil 25 eksemplar, merayakan dengan mampir ke tempat teman, meminta meresensinya, dan setelah lama berselang itulah satu-satunya resensi. Hiks, si sulung yang malang katanya. Namun lihatlah, setelah belasan tahun, buku itu justru kembali nge-hits efek ketenaran.

“Semua istimewa pada masing-masing tempatnya.”

#8. Melihat Pengarang tidak Bekerja

Ini hanya curhat masa tak mood menulis. Klontang-klantung, ngopi sama teman, haha hihi lupa waktu, menunda nulis, buka sosmed yang menghamburkan waktu banyak, menunda lagi nulis untuk mencari makan, kembali membuat kopi, dst. Hal-hal wajar yang memengaruhi kreativitas, yang terasa tak wajar adalah, saat penulis tak bekerja, malah jadi tulisan. Ironi di atas ironi kata Spongebob.

“Dengan malas ia bangun dan mematikan lampu… dan dengan malas ia akhirnya memutuskan bangun.”

#9. Tentang Menulis Populer

Ini mungkin yang paling bagus, tulisan populer itu yang bagaimana? Pertama mendengarnya, jelas buku-buku buruk Tere Liye. Laris manis, penulisnya baper, ngudi-udi di sosial media demi mendongkrak penjualan. Kita harus sepakat di awal, bahwa buku-buku Tere jelex, tapi sayangnya laris manis, dikutip para abege, dan beberapa berhasil diadaptasi film. Itulah tulisan populer, menurutku.

Cak Mahfud menjabarkan panjang lebar, dimula dalam seminar yang diadakan para pelajar, yang lantas membedahnya. Benarkah tulisan populer itu mudah? Beliau menjawab, dalam jenis tulisan apa pun, menulis populer haruslah didasari oleh kemampuan teknis yang lebih dari sekadar memadai, malahan lebih lihai, dengan kemampuan menyampaikan ide dan gagasan atau cerita kepada pembaca di atas rata-rata. Jangan dikata lagi isi yang disampaikan. Terlihat Cak Mahfud sering kali curhat terkait seminar/bedah buku yang diisinya. Saya sendiri dua kali ikut, dan seru. Cuma satu pertanyaanku waktu itu, nulis cerpen sudah, esai sudah, novel sudah, kapan nulis puisi? Cuma dijawab tawa, dan bilang ‘endak… endak...’ sambil terus mengelak.

“… sengaja atau tidak, para penulis pop ini kemudian menyepakati, dalam banyak kesempatan mungkin malah memanfaatkan, pandangan bahwa yang populer adalah dangkal dan gampangan…”

#10. Penulis dan Tidurnya

“Terlambat karena kita tidak bisa mengatasi kenapa kita terlambat jauh lebih tidak menyenangkan dibanding terlambat karena kita lali atau disebabkan melakukan hal lain…”

Ceritanya, beliau lagi nostalgia bagaimana mencipta tidur yang nyaman. Memiliki kamar pribadi tentu saja sebuah kenyamanan, atau malah sebuah kemewahan bagi kita kebanyakan (keluarga Rafathar jelas tak dihitung). Tidur di masjid sesuatu yang lumrah, tidur di pos ronda wah ekstrem, tidur cepat dengan niat agar esok bisa bugar dan siap menulis, sungguh utopia. Saya sendiri sering kali tidur larut kala hari libur, dan bangun subuh setelahnya. Rasanya, sayang sekali akhir pekan tak memeluk buku lebih lama. Sebuah kerugian bagi pecinta buku bangun kesiangan di hari libur.

#11. Sastra adalah.. Yang Gelap-Gelap Gitu, ‘Kan?

Sampai sekarang, definisi sastra masih simpang siur dan mengundang pendapat beragam. Teori sastra di buku Welleck dan Warren yang kebetulan sudah kubaca, juga menimbulkan banyak tafsir. Maka kalau dalam seminar ada yang berpendapat Satra itu gelap, wajar. Apalagi deretan contoh yang disajikan mayoritas mengiyakan. Satu paragraph yang mengutar menyelamatkan seseorang yang menganggap KKN Desa Penari sebagai sastra, bisa jadi benar. Namun kita tak tahu, seratus tahun lagi, buku dari sensasi twit ini bisa jadi berbelok nyastra. Merefleksikan kehidupan, menggetarkan hati pembaca… nah… ‘kan.

“Saya menjawab bukan untuk membuatnya mengerti, tapi untuk membuatnya diam.”

#12. Duaribu Duapuluh

Pandemi dan orang-orang yang bertahan hidup sampai sekarang. Saya, dan kalian yang membaca blog ini, saya ucapkan selamat. “Hidup hanya menunda kekalahan,” kata Chairil Anwar, dan ya 2020 memang tahun tak wajar.

Suka sekali sekali penutup bab, sekaligus buku ini tentang Jimmy Glass yang menyelamatkan Carlisle United tahun 1999 dari degradasi dari divisi empat Liga Inggris. Kiper cadangan yang mencetak gol dramatis, yang mendadak jadi pahlawan, lantas pensiun dini 27 tahun sebab tak ada yang memakai jasanya. Baru tahu, dan kalian harus tahu. Tipis memang, pahlawan dan pecundang.

Kubaca selama libur Lebaran saat mudik ke Solo kemarin, kutuntaskan setelah kembali tiba di Karawang. Selang seling sama buku kumpulan cerpen Frederick Forsyth: No Comebacks. Jelas pilihan bagus, keduanya saling melengkapi, esai dan cerpen, dan sebuah buku tipis kumpulan puisi dalam sepekan, langsung kelar.

Selamat ulang tahun Mahfud Ikhwan, 42 tahun. Buku-buku barumu selalu kunanti.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja | by Mahfud Ikhwan | Ilustrator Alfin Rizal | Tata Sampul alfin Rizal | Tata Isi Vitrya | Pracetak Antini, Dwi, Wardi | Cetakan pertama, Maret 2022 | Penerbit Diva Press | 128 hlm; 13 x 19 cm | ISBN 978-623-293-651-5 | Skor: 4.5/5

Karawang, 090522 – Patrice Rushen – Forget Me Nots

Thx to Gramedia Karawang

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s