Februari2022 Baca

Cassie, kau harus percaya. Rumah ini berhantu. Ada sesuatu yang terjadi di sini.” Para Pengganggu (E.E. Richardson)

Bulan kedua tahun ini tetap santai. Sejatinya sedang kejar film-film Oscar, tapi entah kenapa mood menonton terkikis taham. Tetap nyamannya baca buku, sejauh ini filmnya tak sampai setengahnya kunikmati.

Buku memang pilihan utama untuk membuang waktu. Pagi, siang, malam. Di manapun bisa. Terutama kegiatan nyupir. Februari hampir tiap minggu nyupir, baik keluar kota. Depok, Cilamaya, atau sekadar jalan-jalan. Atau dalam kota, ya ampun ke mal-mal sampai bosan, saya sembunyi ke tempat parkir baca buku.

Dari delapan buku, buku nomor 8 paling krusial. Berulang kali dulu coba dibaca, akhirnya kelar separuhnya di Depok. Buku nomor 5 kubaca kilat, dua hari kelar. Namun ada yang lebih kilat, nomor 7, buku Atria tipis dan ketebak kubaca sehari saja. Memang butuh tekanan lebih berat untuk buku bagus.

#1. A Dog’s Life by Ann M. Martin

Daftar cerita binatang yang menarik sangat panjang, maka tanpa ragu saya ambil buku ini. A Dog’s Life membawa sub judul, autobiografi anjing terlantar, yang secara sederhana bisa kita tangkap, ini kisah hidup anjing liar dari lahir hingga mencapai titik tertentu. Dan benar, di pembuka kita sudah tahu anjing ini akan makmur. Akan damai, duduk di perapian yang hangat, dengan belai kasih pemilik. Namun, penyajiannya ternyata tak sehebat yang kuharap. Terlalu sederhana untuk novel yang menyandang stempel Newberry honor Award. Oklah kalau untuk kisah menyentuhnya, tapi secara cerita terlampau sederhana.

“Hati-hati! Aku tidak mau kau memegang anjing yang tidak kau kenal.”

#2. Pengantar Ilmu Antropologi by Koentjaraningrat

Buku non fiksi yang bergizi, saking bergizinya saya sampai sepintas membandingkannya dengan Sapiens. Namun ternyata setelah ditelaah lebih lanjut, tidak. Sapiens dibawakan dengan fun dan sangat luar biasa. Buku ini lebih banyak teori-nya, rerata dinukil dari buku-buku sebelumnya, teori yang sudah ada disusun dan dijadikan acuan. Sedang Sapiens malah banyak yang mengandalkan spekulasi, banyak yang berdasar pemikiran, dan ‘sejarah’ manusianya tampak fiksi. Maka, hanya beberapa yang laik disandingkan.

“Kepribadian Timur mementingkan kehidupan rohani, mistik, pikiran prelogis, keramah-tamahan, dan kehidupan kolektif. Sedang Barat, mementingkan kehidupan material, logis, hubungan berdasarkan azas-guna, dan individualism”

#3. Sebastian Darke by Philip Caveney

Lucu. Ini memang buku fantasi remaja, maka menempatkan diri ke sana itu penting. Beberapa bagian memang sederhana, beberapa klise, tapi idenya patut diacungi jempol. Seorang putri yang berjuang untuk merebut kembali haknya di tampuk pimpinan kerajaan. Langsung mengingatkanku pada Prince Caspian atau Lion King. Di sini para protagonist hanya ditempatkan sebagai peran pembantu memang, tapi tetap saja menyenangkan. Kunci utama adalah penyampaian kisah yang nyaman dan mudah dicerna. Kita hanya ada di lingkar luar kekuasaan, dan itu justru asyiknya.

“Aku sudah menyarankan Tuan Muda untuk membuangnya sebelum terjadi musibah, namun, seperti biasa, tidak ada yang mendengarkan aku.”

#4. Chicken Soup Romantic Soul (kolabs)

Saya sudah pernah membacanya doeloe tahun 2005/2006-an. Bukunya dipinjam teman tak kembali, makanya beli lagi. Bukunya dulu terasa bagus banget. Kisah-kisah romantis keluarga biasa orang Barat, hal-hal remeh temeh yang dilakukan pasangan untuk mengarungi kehidupan. Beberapa nempel di ingatan, hingga sekarang. Seperti seorang istri yang menyiapkan kejutan atas usulan kenaikan upah suami. Yang disambut meriah, suaminya heran, kok bisa tahu? Padahal istrinya, menyiapkan cadangan kejut bila gagal. Begitu juga pasangan, seorang tukang bangunan, mau romantis gmana? Ya udah, nama istrinya dicetak saja di tembok-tembok. Hehe, intinya sejenis itu. Kejadian biasa untuk hal-hal luar biasa. Kubaca ulang, selesai pas 14 Februari.

Setiap orang bisa bergairah, tetapi hanya pecinta sejati yang sanggup menjadi konyol.”Rose Franken

#5. Menunggu Godot by Samuel Bechett

Kubaca dalam dua hari. Secara cepat dan lugas. Walau berisi dua ratus halaman, tapi karena berisi dialog, isi buku tak padat. Pilihan katanya juga umum, tak perlu kerut kening. Intinya dua orang menunggu Godot di sebuah hutan, di bawah pohon. Lalu muncul orang asing yang mengisi kekosongan, lalu muncul utusan bahwa yang ditunggu tak bisa hadir, ia akan hadir besok senja. Dan esoknya beberapa hal terulang. Ini adalah naskah sandiwara, berisi dialog dan beberapa petunjuk gerak laku di atas panggung.

Estragon: Maka yang bisa kita lakukan tak lain cuma menunggu saja di sini.

#6. Days of Drums by Phillip Shelby

Kisahnya rumit, menyentuh 400an halaman guna mengungkap dalang pembunuhan Senator Charles Westbourne. Kudu sabar sebab untuk mencapainya kita diajak berkeliling mengenal para penghianat, pembunuh serial berdarah dingin, istri yang marah, affair, rahasia-rahasia gelap para pejabat, tampak kejam dan tak pandang bulu, mengenal organisasi agen rahasia pemerintahan yang bertugas menjaga keamanan Gedung Putih. Maka benar adanya, menikmati fiksi rumit dan panjang itu melelahkan, dan saat diganjar cerita bagus, sungguh memuaskan.

Dia sangat suka membunuh dan menyiksa, terutama wanita. Dia lari dari sini sebelum bisa kucegah. Dia dilaporkan meninggal, tapi muncul lagi di DC.”

#7. Sang Pengganggu by E.R. Richardson

Buku tipis yang tipikal. Kalian pasti bisa menebaknya. Keluarga baru, pasangan tunangan yang masing-masing sudah punya dua anak bersatu ke rumah tua yang baru saja dibeli. Rumah itu tampak angker, yang memang ada penghuni lain. Seperti judulnya, ia jadi sang pengganggu. Empat anak yang bersatu tak akur, saling silang tak mau bersatu. Dan misteri rumah tua itupun coba diungkap. Masa lalu kelam.

“Yah, Joel kasus ini semakin lama semakin menarik.” / “Kurasa maksudmu menyeramkan.”

#8. Notes From Underground by Fyodor Dostoevsky

Kita kadang-kadang memilih suatu omong kosong karena oleh kebodohan kita, kita mengira omong kosong itu jalan yang paling mudah untuk memperoleh sesuatu keuntungan. Catatan yang luar biasa. Melimpah penuh amarah, sekaligus ketakutan. Seolah benar-benar tulisan refleks curahan hati. Seorang penulis jenius curhat, hasilnya menakjubkan di satu sisi, mengerikan di sisi lain. Kata-kata kritik biasanya mengcuat di puncak, tapi kali ini justru memerlihatkan betapa muak ia, yang mengaku cerdik, terhimpit di tengah masyarakat yang bebal dan menyebalkan.

“Angan-angan biasanya bisa terasa manis dan hidup sekali setelah kita mengalami suatu masa sia-sia, mereka datang bersama penyesalan dan air mata, dan kutukan dan keharuan.”

Karawang, 120322 – Eliane Elias – Jammin’