Spider-man: No Way Home: Bersedih Atas Keadaan Artinya Menerima Takdir

Peter: “The Avengers?” / Peter: “Yeah.” / Peter: “That’s great.” / Peter: “Thank you.” / Peter: “What is that?” / Peter: “Wait, you don’t have the Avengers?” / Peter: “Is that a band? Are you in a band?”

===catatan ini mungkin mengandung spoiler===

Film aksi dengan banyak ngobrol di tengah aksi. Remaja, baru lulus sekolah berulah, membuat New York porak poranda, mengakibatkan orang terdekat mati, lantas coba memperbaiki. Peter tampak begitu menyesal sampai-sampai kita merasa kasihan. Namun sudah terlambat, tidak ada gunanya air mata, tidak ada waktu untuk berkata-kata, ada banyak hal yang perlu dilakukan. Kenakalan remaja yang mencipta tragedi, sungguh sulit dimaafkan. Mencoba memperbaiki sesuatu yang besar untuk anak seusia itu. Hiks,… seharusnya bersedih atas keadaan artinya menerima takdir. Bukan mengolahnya.

Ini, sekali lagi sekadar hura-hura, walaupun tempo sedikit dinaikkan, tantangan ditambah, beban ditimpakan, musuh dilipatkan, tapi tetap saja ini sekadar study tour ke puncak Liberty. Sejujurnya tak terlalu deg-degan, adegan kematian itu bahkan tak menyentuh hatiku sama sekali, kemunculan jagoan lain juga tak dramatis, cipta senyum aja enggak, walaupun aku belum kena bocoran tapi mengingat musuh lama muncul, jagoan lama jelas juga pasti muncul. Seisi bioskop yang penuh sesak juga adem, adem bukan karena cuaca Karawang yang hujan lebat, tak ada tepuk tangan seperti saat Infinity War, tak ada teriak histeris seperti adu Kapten dan Iron-Man, tak ada pula pertanyaan cerdas muncul dari kerumunan, mau ke lipatan mana lagi semesta itu? Tidak, ini Spider-Man yang sama dari dua seri sebelumnya, Laba-laba Hura-hura versi ketiga.

Peter Parker (Tom Holland) akhirnya lulus sekolah, tapi jelang hari kelulusan identitas alternya sebagai Spider-man terbuka. Melalui pengumuman live video Mysterio melanjutkan ending hura-hura di Eropa. Ketenaran mendadak itu mencipta kegemparan di mana-mana. Hampir seluruh kota memusuhi, teman-teman sekolah juga. Mana kompornya kepala warta yang terkenal ngeselin Jonah Jameson (JK Simmons). Terpecah dua kubu: Mysterio vs Spider-man. Kondisi terkini ini memaksa Peter, kekasihnya MJ (Zendana), sobatnya, Ned Leeds (Jacob Batalon), serta bibinya May (Marisa Tomei) yang baru putus sama Happy Hogan (Jon Favreau), pindah tinggal sementara ke apartemen Happy.

Pengumuman hasil seleksi kuliah ke MIT melukai mereka, semua tak lolos sebab terlibat kejahatan sebagai Spider-man dan CS-nya. Wah, ini tidak fair, kirain penerimaan mahasiswa baru di luar negeri tak sebobrok PTN kita. Impian ke Boston kuliah bareng kandas, digarami oleh temannya yang punya koneksi kampus, Flash Thompson (Tony Revolori). Haha, the power of orang dalam juga merambah Amerika.

Muncul inisitif Peter meminta pertolongan Dr. Strange (Benedict Cumberbatch) ke Sanctum Sanctorum untuk menghapus memori bahwa Peter Parker adalah Spider-man. Apes, perapalan mantra rusak gara-gara terganggu Peter si ceriwis, menambahkan syarat dan permintaan. Koneksi ke semesta lain pun turut rusak, dan mengakibat makhluk semesta lain masuk ke semesta kita.

Awalnya penjahat yang masuk, lantas masalah bertumpuk dan Peter bikin ulah lagi mencoba memperbaiki hal-hal yang salah, memberi kesempatan kedua. Pilihan itu memberi konsekuensi fatal. Mengakibat kematian seseorang yang emosional, lantas ia mendapat bantuan jagoan dari dimensi lain. Dengan dendam membara Peter dan Peter dan Peter mencoba melakukan hal-hal yang perlu dilakukan, di puncak Liberty segalanya dituntaskan.

Mungkin perlu menyaksi ulang semua film Spider-man baik versi Garfield dan Tobey. Suka sekali versi pertama, sekadar bagus versi kedua, biasa aja versi ketiga. Dan masalahnya ini adalah rangkaian ketiga. Kesimpulanku di bawah ini hanya ungkapan hati, mengapa? Pertama melihat antusiasme penonton awal, kedua hype yang luar biasa besar, ketiga sosmed menggila, keempat box office meledak, kelima: satu kalimat penting yang perlu kita antisipasi dan renungkan adalah: ekspektasi ketinggian. Persis kata MJ, kalau kita mengharap kecewa, bukan kekecewaan yang kita dapat.

Pertama, agak kesal seorang Sir Stephen Strange dikalahkan bocah. Dia itu Yang Maha Keren, hebat, dan luar biasa kocak. Di sini, berkali-kali kena tipu, benda sihirnya direbut, di dimensinya sendiri mantranya dipatahkan matematika, hingga terjengkang ke air terjun jauh di sana selama setengah hari. Bagaimana bisa, Bocah Spidey yang berniat baik tapi berbuat salah ini membelokkan seorang penyihir hebat?

Kedua, sejatinya misi yang diemban Peter sederhana. Bocah kecewa yang gagal ke kampus impian, merusak semesta. Apa itu kalau bukan egois? Untuk jadi hebat tak melulu harus kuliah di kampus bergengsi, banyak kok pengusaha sukses kuliah di BSI. Pekerja teladan kuliah di Gunadarma. UGM tak menjamin kamu keren, begitu juga UI. Tak melulu tentang keinginan kamu dan temanmu harus dituruti. Well, ini anggota Avenger (bukan band) yang sudah ke planet seberang, udah memenggal kepala Thanos, udah berhasil mengembalikan separuh warga bumi yang hilang, bisa-bisanya disodori konflik bocah kzl tak diterima kuliah.

Ketiga, ending dengan menghapus memori tentang seseorang pernah kita saksikan beberapa kali. Salah satunya yang paling membekas tentu saja dalam Fantastic Beast and Where to Find Them. Mirip sekali ‘kan. Jadi saat Peter masuk ke kafe dan memesan kopi, lantas melupakan skenario itu, ah sudah pernah kusaksikan dan jauh lebih emosional. Lagipula, rapal mantra kan ingatan semua orang tanpa kecuali, kenapa Peter masih ingat dia Spider-man?

Keempat, saat final battle Si Hijau menghilang terlalu lama. Dia kan jadi pemicu utama ledakan amarah. Saat si Listrik dan Kadal mencoba menahan serangan, kenapa tak muncul. Si Gurita bahkan lebih mantab saat masuk dalam pertempuran, Si Hijau malah di ujung sekali. Dan sungguh aneh, adegan dramatis tusuk-tusukan sejenis itu masih ada di tahun 2021.

Kelima, terlepas dari beberapa kegagalan memenuhi harap ada yang masih bagus dipandang. Daftar ini hanya sebagian kecil yang laik dipajang sebagai wallpaper atau layar HP, bahkan sebagai poster kamar:

Pertama, adegan saat Spider-man menjelajah mencari Listrik dan Pasir, ia berayun-ayun di antara tower listrik dan hutan. Cahaya mentari pagi yang berwarna orange sebagai lanskap sungguh ciamik. Kedua, bagian saat ngobrol ketiga Laba-laba di puncak Liberty, ngobrol santai seolah sahabat lama bertemu kembali. Ketiga, MJ berayun sama Spidey bagian awal. Keempat, Si Tentakel vs Spidey di jembatan Alexander Hamilton.

Kelima, adegan Dr. Stange vs Spider-man di area lain dengan kereta api menerjang angkasa. Ini bagus banget, best action lah bagian ini. Sayang sekali tuan rumah kalah. Alasan mengapa bagian ini tampak eksotik:
Pertama, bagaimana sihir dilipat, kedua gedung ditumpuk, ketiga kereta api melintas di udara, tanpa rel! Keempat pecahan-pecahan gambar bisa ditarik oleh jaring lantas disatukan, padahal itu bukan gambar, itu udara di sekeliling kita yang ditangkap.

Kelima, bagiku Dr. Strange tetaplah yang terhebat. Itulah mengapa setiap ia muncul, aku penasaran sihir apalagi yang bakal dirapalkan. Rangkaian MCU ini, film paling komplit dan terkesan adalah Dr. Strange. Komedi, aksi, drama, sihir, bahkan musuhnya tak dibunuh tapi dibikin kesal. Dan scene paling ujung saat bilang: Dr. Strange will be return adalah inti dari No Way Home. Tahun depan sihir ini bakalan menggila. Kenapa? Pertama, ada Wanda, bukankah dia tiada? Ketiga, judulnya ada kata Madness, keempat semakin masuk ke dunia sihir komik semakin seru dan membingungkan bagaimana sihir bekerja. Kelima, kalian balik lagi membaca awal paragaf bahwa nomor dua tidak ada.

Kusaksikan di malam hujan Senin (20/12/21), penonton penuh. Indikasi film berhasil menautkan emosi penonton, bisa jadi salah satunya adalah penonton turut histeris, memaki kejadian di layar, antusiasme tinggi akan nasibnya, ketawa ngakak, hingga shock akan adegan-adegan aksi. Blas, tak kurasakan malam itu. Sepi celetukan selama dua jam, jelas untuk film action, keheningan itu adalah kekecewaan.

Ini dunia buatan, yang sering kali menyelami pikiran kita.

Spider-man: No Way Home | Year 2021 | USA | Directed by Jon Watts | Screenplay Chris McKenna, Erik Sommers | Story based on Marvel Comic by Stan Lee, Steve Ditko | Cast Tom Holland, Zendaya, Benedict Cumberbatch, Jacob Batalon, Jon Favreau, Jamie Foxx, Willem Dafoe, Alfred Molina, Benedict Wong, Marisa Tomei, JK Simmons, Rhys Ifans, Andrew Garfield, Tobey Maguire Tom Hardy | Skor: 4/5

Karawang, 211221 – Helen Merrill

Thx to Bung Handa BM