Depresi

Depresi by Dr. Paul Hauck

“Alasan utama kita merasa kecewa adalah karena kita membujuk diri sendiri untuk merasa kecewa! Adalah pikiran kita biang masalahnya, bukan orang tua kita, suami atau istri, atau atasan kita. Bukan ban bocor yang membuatmu tiba-tiba marah, melainkan pikiran.”

Ini adalah buku tipis tentang tips-tips menghadapi stress, sebelum berubah jadi depresi kita harus mencegahnya. Rasa bersalah jadi dominan, rasa minder, tekanan hidup, hingga rasa kasihan. Bukan hanya terhadap diri sendiri, juga terhadap orang lain. Keadaan itu harus ditekan, stress mau diobati atau tidak, masalah masu dipecahkan atau tidak, yang jelas waktu terus bergulir jadi relaks saja. Maka tak perlulah sampai depresi. Ada berbagai cara mengatasinya, dari psikoanalis, konseling, curhat bareng, memindahkan beban ke tempat yang tepat, dst. Cocok dibaca untuk semua orang, khususnya yang mau belajar psikologi.

Ada tiga penyebab depresi: 1) Menyalahkan diri 2) Mengasihi diri 3) Rasa kasihan terhadap orang lain. Lalu semua dikupas satu persatu. Rasa bersalah sungguh kental dalam stress, bahkan hanya usulan yang baik, tapi berakhir tak baik. Hanya karena Anda yang mengusulkan, tidak membuat Anda menjadi orang yang bertanggung jawab atas yang terjadi selanjutnya. Orang-orang ingin melakukan sesuatu karena mereka memang menginginkannya atau karena mereka sangat menginginkan persetujuan dari Anda dan takut akan mengecewakan. Shakespeare bilang, perasaan bersalah bisa membuat kita semua menjadi pengecut.

Rileks saja jadi begitu penting. Hidup hanya sekali, jalani nikmati. Penggunaan kata hati yang tepat dapat menjaga tindakan kita. Semakian Anda khawatir bahwa sesuatu akan terjadi, semakin besar kemungkinan hal itu akan terjadi. Perilaku dibentuk dari pikiran. Kita bisa berubah untuk hal yang lebih baik. Yang harus kita lakukan hanyalah mengubah pemikiran kita. Suasana hati datang dari pikiran, selanjutnya Anda harus bisa meyakinkan diri bahwa pikiran tersebut memang salah. Maka penting sekali menjaganya tetap lurus. Perilaku yang baik adalah segalanya tetapi mustahil, dan perilaku buruk adalah monster seperti Anda yang membutuhkan hukuman.

Karena ini tentang pikiran, agama juga disinggung. Semua agama pada dasarnya baik, dan mengajarkan kedamaian. Namun benarkah sudah tepat menjalankan sesuai ajaran? Kebanyakan orang mengira diri mereka beriman padahal sebenarnya tidak. Agama menghendaki kita hidup bahagia, jujur pada diri sendiri, dan saling menyayangi satu sama lain.

Termasuk dalam agama yang katanya butuh pengorbanan. Pikiran bahwa agama telah mengajarkan untuk menderita secara emosional, salah. Agama bukanlah cambuk, melainkan sebagai selimut. Jadi jika mengalami depredi, merasa bersalah, dipenuhi rasa takut, Anda tidak hanya dianggap bermasalah dari sisi kejiwaan, tapi juga tidak beriman kepada agama.

Anda akan menyadari bahwa seiring dengan bertambahnya umur, Anda dapat berpikir lebih masuk akal tentang hantu dan lainnya. Dan bahwa Anda bisa meyakinkan diri Anda sendiri untuk tidak memercayai tahayul tersebut. Semua kepercayaan ini pernah diyakini dengan kukuh tetapi selalu berubah setiap tahunnya karena anda memikirkan kembali, menganalisisnya, dan dengan serius mempertanyakannya.

Keluarga jelas utama. Maka penting sekali menjaganya tetap harmonis. Menjaga kesetiaan bukan hal yang paling mudah dilakukan di dunia ini, apalagi di zaman sekarang. Menjaga janji pernikahan membutuhkan ketabahan yang jarang dimiliki oleh setiap orang.

Depresi juga bisa dipicu karena stabil emosinya. Kebiasaan lekas marah akan berhenti secara otomatis ketika kita menemukan kembali kenangan yang sudah lama terlupakan, yaitu kenangan yang sepertinya termakan oleh pikiran bawah sadar kita semenjak masa kecil, disebut sebagai mitologi Freud.

Egois dalam pandangan positif juga perlu ternyata. Artinya mementingkan diri sendiri selama itu perlu. Orang yang egois adalah orang-orang yang sangat bijaksana dan sehat. Kenapa? Kata ‘egois’ artinya menginginkan hal-hal pribadi secara eksklusif. Baik, bagaimana kalau kata-katanya diganti ‘mendorong ketertarikan terhadap diri sendiri’, berarti kita sudah semakin mendekati kehidupan yang dijalani oleh orang-orang yang sehat.

Membela diri itu penting. Apalagi kalau dipersalahkan membabi buta. Seseorang berhak membela dirinya sendiri, benar tetapi pada hanya pembelaan diri. Memukul seseorang (pengecualian untuk anak-anak) harusnya hanya dilakukan pada kesempatan-kesempatan tertentu ketika seseorang dalam keadaan bahaya.

Karena buku ini ditulis oleh seorang dokter yang sudah berpengalaman dengan pasien, maka setiap kasus dibedah kita diberi contoh. Para pasien yang pernah stress atau sampai depresi dipaparkan dan disampaikan cara menanggulangi. Bagus sekali, dengan contoh kasus kita tahu sang penulis sungguh pengalaman. Tak ngawang-awang, atau sekadar pengandaian.

Di akhir buku kita diperkenalkan singkat cara menyelesaikan masalah depresi. Akar dari masalah terletak pada perilaku dan perasaan tiap-tiap individu terhadap dirinya sendiri atau orang lain dan ini bisa dirawat dengan menggunakan metode terapi kejiwaan. Berikut metodenya:

1) psikoanalis, dipeloposi oleh Freud. Mengatasi konfliks emosional yang dipercaya berakar sejak awal anak-anak, teknik analisis secara spesifik pada pikiran bawah sadar seseorang.

2) psikoterapi dinamis, mengubah atau mengembangkan kepribadian dengan mengendalikan materi bawah sadar.

3) psikoterapi suportif, terapi kejiwaan yang bertujuan membantu orang-orang memahami masalah, masa lalu, dan penyesuaian diri untuk lebih bertoleransi, daripada hanya mencoba untuk mengubah atau memperkuat kepribadian mereka.

4) casework/lembaga sosial, mirip prikoterapi suportif, tapi memiliki banyak unsur dinamis.

5) konseling/penyuluhan, usaha bersama dengan yang bersangkutan, berdiskusi dan mempertimbangkan pemecahan masalah.

6) terapi tingkah laku, mempelajari pola perilaku yang mengganggu sehingga bisa diajari untuk perilaku normal.

7) terapi kelompok, saat terapi tradional sudah dikembangkan, peserta berkelompok antar anggota bercerita dan satu dua orang hadir sebagai psikiater yang menyimpulkan pemecahan masalah dengan sistem timbal balik.

Buku ini memiliki kelemahan mendasar dalam editing. Penggunaan huruf kapital ‘A’ pada ‘Anda’ sudah tepat, tapi entah mengapa semua kata menjadi ‘A’ besar untuk kata non-Anda, contoh: Andalan, PAndangan, MengAndalkan, PAndai, SeAndainya, dst..

Sebagai penutup. Depresi akan berhenti meskipun Anda tidak melakukan apapun untuk mengatasinya. Namun saat mengalami depresi Anda bisa mengandalkan satu hal: tidak masalah Anda minum obat atau tidak, depresi ini akan tetap berakhir, dan meskipun Anda tidak melakukan apapun untuk mengatasinya, itu juga akan berakhir. Anda tidak perlu bunuh diri untuk mengatasi penderitaan, yang perlu Anda lakukan hanyalah bersabar.

Buku kecil, isi besar. Jos!

Depresi: Penyebab dan Cara Mengatasinya | by Dr. Paul Hauck | diterjemahkan dari Depression: Why it happens and how to overcome it | Copyright 1983 | Penerjemah Ary KRistanti | Editor bahasa Sandiantoro | Desain sampul Hari Sulistiawan | Penata teks Andy Firawan | Pemeriksa aksara Agus Hidayat | Desain cover Byzantium creative | ISBN 978-979-25-9378-5 | Cetakan I: agustus 2009 | Penerbit Selasar Surabaya Publishing | Skor: 4/5

Untuk pemikir paling kreatif yang pernah saya temui: Albert Ellis

Karawang, 031221 – Miles Davis – Blue in Green

Thx to Ade Buku, Bandung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s