Aku Menguntitmu Kemana-mana Seperti Mata-mata; Kau Cantik, Cantik Sekali


Identitas by Milan Kundera


Larik sajak Baudelaire: “Wahai Maut, nahkoda tua, kini saatnya! Ayo angkat sauh! / Daratan ini bikin kita bosa, O Maut! Ayo meluncur lepas!”


Buku tentang cinta dan obsesi membahana. Pasangan dua orang terluka, yang satu kehilangan anak dan bercerai dua kali, yang lainnya drop out kuliah kedokteran, menjadi pekerja kasar dan kere. “Berhenti kuliah bukan suatu kemunduran, yang aku lepas sat itu adalah ambisi. Aku tiba-tiba jadi orang tanpa ambisi…” Dua hati yang terluka itu bersatu, di awal mula sungguh cinta yang membara. Bertemu dalam seminar di sebuah hotel, terpanah asmara, lantas meletupkannya dalam birahi. Namun, seperti cinta dengan pondasi yang tak kuat pada umumnya, lantas hubungan ini goyah. Mereka kehilangan identitas sejati sebagai manusia.


Mengambil sudut pandang mereka berdua, saling silang bergantian. Jadi kita bisa memposisikan lelaki/perempuan saat ganti bab. Tak ada rahasia, tak ada yang disimpan. Sayang sekali, anadai identitas pengirim surat disimpan atau bahkan tak diungkap sekalian, bakalan jadi lebih bombastis.
Kisahnya tentang Chantal, perempuan mandiri dengan pekerjaan mapan di Paris dan memiliki apartemen yang nyaman. Dan Jean-Marc, pria dengan hidup sederhana. Chantal yang kaya dan mapan, empat tahun lebih tua. Mereka menjadi pasangan kekasih akibat sebuah meeting berbagai perusahaan, dan setelahnya hidup seatap. Lantas kita diajak ke masa lalu mereka.


Chantal adalah janda, ia pernah terluka karena anaknya meninggal. Di sini tak dijelaskan kenapa, yang pasti dukacita itu menghantui. Ia selalu drop dan depresi saat mengenang masa hitam itu. Bercerai dengan suaminya, lalu menikah lagi, dan bercerai lagi. kehidupan ideal yang dulu ia damba dengan rumah dan anak-suami luluh lantak. Ia juga bermasalah dengan kakak iparnya, gunjingan dan kabar sedap menguar di dua keluarga masing-masing. Maka saat suatu hari kakak iparnya datang, bersama anak-anaknya yang berisik ke apartemennya sungguh membuatnya malas, bahkan marah.


Sementara Jean-Marc adalah pemujanya. Ia benar-benar cinta mati sama Chantal. Mungkin sebagai lelaki dengan status sosial di bawah kekasihnya membuatnya minder, maka dibalas cinta itu dengan menggebu. Dulu cita-cita menjadi dokter terdengar mulia, dan saat ia gagal menyelesaikannya, hidupnya jadi biasa saja.


Ia memiliki masalah dengan sahabat sekolahnya. Teman akrab yang lantas terpisah, dank arena respon kejadian yang tak akan dimaafkannya, ia menjauh. Namun saat mendapat kabar teman F sakit keras, ia didesak Chantal untuk menengok. Perjalanan ke rumah sakit itu malah memberi jawaban dari pertanyaan masa lalu yang abu-abu. Waktu itu kukatakan: antara kebenaran atau sahabat, aku selalu memilih sahabat. Itu kukatakan supaya provokatif. Persahabatan bagiku waktu itu, adalah bukti adanya sesuatu yang lebih kuat ketimbang ideologi, ketimbang agama, ketimbang bangsa.
Bahkan saat mendapat kabar sobatnya akhirnya meninggal, tak ada dukacita yang muncul. Membuat Chantal agak kecewa. Persahabatan itu mutlak diperlukan orang, agar ingatannya bisa bekerja dengan baik. “Aku kecewa dan sedih karena aku merasa tidak kecewa dan sedih.”


Suatu hari mereka berlibur ke pantai, Chantal datang duluan dan berjalan-jalan sendiri menikmati debur ombak. Saat menyaksi para turis yang tak terlalu terpesona dengan Chantal, ia marasa tua. Perempuan memang sensitif sama usia tua, seakan belum siap. Perempuan mengukur ketuaanya dengan ketertarikan atau ketidaktertarikan yang ditunjukkan laki-laki terhadap tubuhnya. Pria-pria yang dulu akan terjaring dalam sepintas lihat, kini tak lagi tertarik. Hal ini diceritakan ke Jean-Marc saat ia tiba. Cerita sambil lalu itulah yang menjadi picu kisah utama cerita ini.


Jean-Marc mengirim surat-surat cinta tanpa identitas ke Chantal. “Aku Menguntitmu Kemana-mana Seperti Mata-mata; Kau Cantik, Cantik Sekali.” Kita tahu identitas pengirim surat sampai separuh kisah lebih, sebab memang dirahasiakan. Menjadikan Chantal dalam kebingungan. Ia hanya menduga-duga siapa pengirim surat. Sempat mengira pengemis di dekat apartemen yang lantas diberi uang besar. Sempat pula menduga seorang lelaki di kafe dekat rumah yang sering memerhatikan. Ia merasa dirinya diperhatikan, dan iapun memperhatikan. Perempuan romantis dan bebal yang memuja setiap pucuk surat cinta sebagai benda sakral, dan berlarut-larut melamunkannya.


Semakin ke sini, surat-surat itu makin mendamba, bahkan membuat Chantal datang ke ahli tulisan grofolog meminta opini, membawa tulisan tangan Chantal dan surat cintanya. Hal-hal sederhana yang melatari ini adalah Jean-Marc tak ingin Chantal bersedih, dan Chantal meresponnya dengan amarah sebab dirinya justru merasa terhina. Apalagi saat kepergok, surat-surat cinta itu disimnpan di lemari di bawah pakaian dalam, bh, dan lainnya. Sungguh clutak.


Chantal marah, ia lantas memutuskan pergi ke London, alasannya untuk urusan kerjaan, yang sekaligus kabur menenangan diri. Jean-Marc yang serba salah, ingat ia numpang saja di situ, lantas diam-diam mengikuti naik kereta bawah tanah ke Inggris. Dan dalam perjalanan yang sayu itu, kita bukan mendapat jawaban maksud ujung cerita, kita malah mendapat pertanyaan, mengapa? Kita dapat menyesali diri karena melakukan tindakan tertentu, memberi komentar tertentu, tetapi kita tidak bisa menyesali perasaan.


Kisahnya sebenarnya sederhana, tipis. Dua orang yang saling melengkapi, tapi malah terjerumus saling tak percaya. Memang percaya penting. Serta upaya melupakan kenangan pahit. Kita sudah harus teken kontrak buat melupa. Tuhan sendirilah yang memaksakan kontrak itu pada kita. Ingatan itu mungkin telah membuantnya siaga. Jean-Marc mungkin lelaki yang baik, tapi muncul pertanyaan, apakah bila ia kaya ia akan mencinta Chantal? Cinta timbalbalik antara dua manusia tidak bisa kita ukur berdasar banyaknya kata yang saling mereka ucapkan. Bisa saja ia hanya memanfaatkan uang kekasihnya ‘kan? Tempatku di pinggiran dunia ini, kamu menempatkan diri di pusatnya.


Tidak ada cinta yang bertahan terhadap kebisuan. Dan setiap manusia pernah mengalami masa dilema. Keputusan ke London sudah tepat, keputusan yang satu menyusul kurasa kurang bijak. Seperti yang disampaikan keputusan di akhir. “Yang hakiki dalam kehidupan adalah meneruskan kehidupan. Itu artinya melahirkan anak, dan apa yang mendahuluinya, senggama. Dan yang mendahuluinya lagi berarti bujuk rayu, dst.”


Buku ke sekian kali dari Milan Kundera yang kubaca, tetap yang terbaik adalah Kitab Lupa dan Gelak Tawa yang penuh ironi. Bagaimana peluangnya di Nobel Sastra tahun ini? mari kita lihat…


Identitas | by Milan Kundera | Judul asli Identity | Faber and Faber 1999 | Penerjemah Landung simatupang | Penyelaras Syafi’I Alielha | Tata letak Tri Noviana | Desain sampul Andre Tanama | Proof reader Suhairi Ahmad | Cetakan pertama, Februari 2018 | Tebal: vi + 184 | Ukuran 19 cm x 13 cm | ISBN 979-98459-8-X | Penerbit Gading | Naskah ini pertama kali dalam bahasa Indonesia dicetak oleh Freshbook 2006 | Skor: 4.5/5


Karawang, 290921 – Eliane Elias – Jammin’


Thx to Buku Vide, Yogyakarta

Hello Ghost: Manfaatkan Masa Kini dengan Baik, dan Kau akan Ditempanya

“Apa yang kulakukan sekarang akan menciptakan siapa aku nanti.” Jean-Paul Sartre (1905 – 1980) dalam “Nausea”

Pentingnya menjaga kejutan tak bocor. Film lama yang sungguh nikmat dilahap saat kita tak tahu obsesi apa yang dijalani para tokoh ini, motif yang disimpan rapat sepanjang film dibuka jelang akhir. Segala yang tampak dan diperjuangkan, terlihat masuk akal, walau membantu hantu sendiri tak masuk akal. Hiburan sejati, seolah kita tercerahkan, ada hikmah yang bisa ditangkap saat credit title muncul, cieee…, di mana dukacita lama dipoles dan diubah menjadi harapan. Orang-orang di dimensi lain biasanya dalam film bisa mengamati kegiatan kita, lantas bila karakter utama kita bisa balik mengamati mereka, apakah semenakutkan yang dikira? Oh tidak, mereka orang-orang baik, maksudnya hantu-hantu baik dengan keingina aneh-anah sahaja, tak ada salahnya dipenuhi. Dan apa konsekuensinya? Harapan! Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita. Hello Ghost menawarkan air mata pengorbanan yang sangat pantas dipeluk seerat-eratnya, sehangat-hangatnya.

Kisahnya tentang Sang-Man (Tae-hyung Cha) yang gagal bunuh diri. Ia frustasi menjalani hidup, sebatang kara tertekan keadaan. Ada di titik lelah, disintegrasi pribadi. Berbagai cara dilakukan, terbaru, setelah minum banyak obat dan tak jadi mati, ia mengalami sejenis halusinasi. Hati kecilnya terjeblos ke dalam sunyi yang meresahkan. Di rumah sakit melihat hantu, bukan hanya satu tapi empat. Keempatnya meminta tolong padanya untuk melakukan hal-hal yang tak tuntas di masa hidup. Pertama seorang lelaki parlente sopir taksi (Chang-Seok Ko) dengan rambut sigrak pinggir dan hobi merokok. Ia semena-mena duduk di tempat tidur pasien. Ia jorok dan suka mengintip rok para perawat dengan melakukan tiupan hantu sehingga roknya terangkat terayun dikit. Hantu cabul dengan senyum genit nyaris sepanjang film. Hantu ini ternyata cukup arif, untuk menjaga agar kepribadiannya, kehidupannya (di masa lampau), perasaan-perasaannya, dorongan-dorongan keinginannya, tak terkuak langsung. Ia menginginkan kembali taksinya.

Kedua, seorang ibu (Young-nam Jang) yang menangis mulu. Ia hobi masak dan ingin menyediakan masakan keluarga spesial, melewatkan makan malam istimewa. Makhluk Tuhan yang menangis sampai terlelap kini bersiap-siap menguras air mata lagi dan lagi, sementara para tukang teriak pun akan segera kembali bersuara, dialah yang ketiga, seorang anak kecil (Bo-Geun Cheon) yang merengek minta ke bioskop dan makan permen segede ikan, dalam artinya sebenarnya. Terakhir lelaki tua (Moon-su Lee) berharap Sang membantunya menemukan kamera yang belum dikembalikan.

Karena Sang yang memang tak tahu mau ngapain lagi hidup, dan rasanya tak ada salahnya memenuhi harap para hantu gentayangan itu, serta ia ingin gegas terlepas dari kewajiban nyeleneh itu, (dan mungkin agar bisa segera mati tenang) maka satu per satu keinginan itu coba dikabulkan. Mereka ikut tinggal di apartemennya dan mengikuti kegiatan sehari-hari. Pikiran Sang jumpalitan ketika ia mulai diganduli, tapi itu belum seberapa, ia nantinya juga jadi penyampai pesan dari orang mati.

Dalam prosesnya, kita malah mendalami masa lalunya. Menemukan hal-hal umum, betapa hidup masih layak diperjuangkan. Apalagi ia jatuh hati sama perawat Jung Yun-Soo (Kang Ye-won), yang tentu saja memberinya ‘ada sesuatu di masa depan yang diperjuangkan’ seolah berbisik, ayooolaaahhh semangat. Cintanya bersambut, dan misi-misi itu segera dituntaskan. Roman mukanya yang bodoh itu memang tampak meyesatkan, hantu-hantu itu seolah tampak familiar dan mereka say hello, menyapa untuk tujuan mulia.

Lantas saat mendekati akhir, keheningan seakan berdenyut. Kita menemukan sebuah titik di mana mereka yang menghantui tak asing. Sang butuh beberapa detik untuk menyusun kepingan segala informasi itu, lantas saat ia menemukan klik, harus gegas sebelum terlambat. Saat kejutan ini ditampilkan di layar, dalam adegan dramatis berlari sebelum segalanya terlambat, kita malah menemukan hikmah yang pas dari film ini. Sayangilah mereka, orang-orang tercinta yang ada di sekeliling kita sebelum perpisahan ke alam berikutnya terjadi. Sedih ya? Ya, saya sampai menitikan air mata. Lega kan? Jelas. Hal-hal yang tak tuntas kini bisa ditutup kembali dengan rapat. Betapa berharga kesempatan. Betapa dunia fana yang ada batasnya ini begitu sempit, dan bersyukurlah semua orang yang memiliki kesempatan tumbuh dalam kasih sayang orangtua serta sanak famili.

Manfaatkan masa kini dengan baik, dan kau akan ditempanya. Suka sekali sama adegan akhir saat Sang dan Yun-Soo di kursi taman, seolah perjuangan sepanjang film ini dibayar lunas. Suasana taman masih tampak lembayung, dengan rona nada bahagia. Waktu seolah berjalan lambat dan menyebar. Nada-nada musik seakan-akan saling merenggangkan tanpa kehilangan tempo. Tidak semua film happy ending itu malesi, Hello Ghost justru film mencerahkan. Ide hantu-hantu baik yang menolong mengingatkanku pada Sartre tentang keberadaan. Ia pernah bilang, “Apa yang tersisa kalau Anda menyingkirkan warna, ukuran, bentuk, tekstur, dan baunya? Apa yang tersisa ketika Anda menyingkirkan emosi dan perasaan, rekaan dan gagasan fantastis? Ketika semua yang bisa Anda sebutkan hilang dan disingkirkan dari kehidupan, apa yang tersisa?” Sartre menjawab: keberadaan.

Manusia sebenarnya adalah makhluk yang diboncengi perasaan bersalah. Maka akhir yang indah ini meluap-luap. Melegakan semua orang, keberadaan orang-orang tercinta di manapun berada di dimensi lain sekalipun.

Hello Ghost | Year 2010 | Korea | Directed by Young-Tak Kim | Screenplay Young-Tak Kim | Cast Tae-Hyun Cha, Ye-won Kang, Moon-su Lee, Chang-Seok Ko | Skor: 4.5/5

Karawang, 290921 – Billie Holiday – A Foggy Day

Rekomendasi Lee, Thx.