Raya and the Last Dragon: … dan Mereka Bahagia Selamanya

“Mencintai artinya berbagi kebahagiaan demi kebahagiaan kepada orang yang kita cintai.” GW Von Leibnitz (1646 – 1716)

Film obat tidur, kata Hermione. Kita sudah coba nonton belasan kali dan selalu tertidur, selalu gagal mencapai bahkan separuhnya. Kita ulang lagi dari awal tiap nonton ulang. Paling jauh mentok di adegan Raya berhasil ketemu Sisu. Semalam kita paksakan. Jadi kalau aku yang ngantuk, dia yang bangunin, begitu juga sebaliknya, kalau dia ngantuk, aku yang menyemangatinya buat jaga. Dan benar saja, komitmen dan kolaborasi ini sukses, sebelum ganti hari akhirnya kelar. Hufh, lega. Mungkin penilaian ini kurang fair atau pas sebab ditonton dengan kekuatan lemah mata. Ada ribuan film dibuat setiap tahun yang siap kita tonton, perkiraan setahun kita menonton seratus saja. Namun, belum pernah saya mengakhiri film dengan demikian gemilang. Hahaha… Mungkin Raya memang bukan jenis film nyamanku aja.

Kisahnya di Kumandra, tentang melawan kekuatan jahat Druun. Naga-naga zaman old pada jadi patung, hanya satu naga yang selamat tapi menghilang. Sebuah permata harus dijaga agar Druun tak bangkit. Beberapa klan sekitar Kumandra berkumpul, tapi terjadi peperangan perebutan permata. Raya dan ayahnya Chief Benga, akhirnya gagal mempertahankannya sebab klan-klan saling berebut. Druun merajalela, menerjang banyak makhluk dan mencipta patung di mana-mana. Termasuk sang ayah yang melakukan pengorbanan. Raya kini sendiri.

Enam tahun kemudian, Raya dan Tuk Tuk (binatang lucu yang bisa berjalan bak roda) yang kini juga sudah besar menjelajah gurun. Namaari, putri Chief Virana yang dulu berhianat mencoba mencegah, permusuhan lama muncul. Nah dalam adegan dramatis, Raya berhasil membangkitkan naga terakhir Sisu. Mereka lantas kabur, dibantu kapten Boun dalam kapal. Mereka melanjutkan mencari permata-permata lain.

Singkat cerita, permata dan para pemiliknya berhasil berkumpul. Druun mengancam dengan ganasnya, mereka masing-masing menjaga jarak dan ego untuk menyelamatkan diri. Kalau ego dan kepentingan pribadi diapungkan, mereka takkan berhasil menyatukan. Hanya kepercayaan dan pengorbanan yang mungkin bisa menyelamatkan segalanya.

Raya mengajukan diri, ia rela menyerahkan permata itu di tangan Namaari, seterunya. Lalu ia mematung. Yang lain juga dalam kebimbangan, dan kekalutan. Demi kelangsungan hidup warga dan naga-naga yang hilang, demi kebersamaan, demi segala yang hidup dan masa lalu terang. Satu per satu menyerahkan permata ke Namaari, satu per satu pula mematung disambit Druun. Namaari memiliki tanggung jawab besar, taka da jalan kembali. Dan saat semua permata bersatu, para pemiliknya jadi patung semua. Beberapa detik yang menegangkan, sebab permata bersatu itu tak bergeming. Berhasilkah?

Ini film Disney, di mana ketegangan hanya selingan. Kekhawatiran sekadar lintas masa sesaat, ketakutan bahkan tak berarti. Meyakini happy ending adalah niscaya, menjadikan segalanya baik-baik saja adalah tradisi mereka, apa yang sudah dibuka dalam gegap gempita diakhiri dengan taburan konveti meriah bak 17 Agustus. Merayakan tempat yang tenang dan damai, dunia Disney adalah dunia impian.

Secara cerita jelas ini biasa, ini film anak-anak. Film dengan cerita ringan. Tak perlu kerut kening, rebahan, nikmatilah. Masih untung berhasil tuntas. Karena Hermione habis nonton Earwig, jelas Raya kalah kelas.

Naganya lucu, kurus, imut, dan taka da seram-seramnya. Di sini jadi karakter baik, jadi jangan berharap ada semburan api. Naganya gemerlap, tampak aneh sebab lincah sekali seolah beban badannya yang panjang berliku tak jadi masalah. Benar-benar film untuk fun. Saya malah tertarik sama monster tak kasat mata, Druun yang menghantui warga. Ibarat hantu yang mengancam manusia, bisa muncul setiap saat. Kalau yang tersentuh Druum menjadi patung, manusia yang tergosa setan akan terjerumus dosa. Pengembaraan kehidupan kan sejenis itu. Sentuhan jadi patung juga secara otomatis mengingatkanku pada Penyihir Putih di Narnia pertama, di mana untuk berkuasa, dia mengubah para seteru menjadi arca. Dan walau pada akhirnya kembali hidup (sama dengan di Raya), waktu-waktu terdiam itu seolah abadi. Kita tak bergerak, sementara dunia berjalan terus. Kita adalah titik diam, waktu berputar tak mengenal ampun. Ibarat usia kita saat terpatung 30 tahun, lantas enam tahun kemudian kembali hidup, apakah dihitung umur 36 tahun secara aktual, atau menjadi 31 sebab terbeku selama itu?

Tema memercayai teman juga disuguhkan, terutama eksekusi kunci. Saat semuanya mencoba menyelamatkan diri masing-masing, Raya memulai dengan pasrah dan yakin bahwa musuhnya bisa dipercaya dengan menyerahkan pertama itu. Pengorbanan untuk misi utama yang lebih mulia. Dalam hidup bisa saja seperti itu, justru jalan keluar terbaik adalah menjerumuskan diri dalam hal-hal yang dibenci. Menyatu sama musuh-musuh, atau orang-orang di luar lingkaran. Yang biasanya ngumpul sama teman sehobi, kini malah keluar dari zona nyaman demi hal-hal baru yang perlu dijelajahi. Selamat datang di semesta raya.

Raya and The Last Dragon | Year 2021 | USA | Directed by Don Hall, Carlos Lopez Estrada | Screenplay Qui Nguyen, Adele Lim | Cast (Voices) Kelly Marie Tran, Awkwafina, Gemma Chan | Skor: 3.5/5

Karawang, 280921 – Nassar – Seperti Mati Lampu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s