Je Suis Karl: Dunia Duka Memiliki Lorongnya Tersendiri


“Kita tak akan menemukan kedamaian.”


Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Tema pemberontakan, jalan terjal melakukan penggulingan kekuasaan. Anak-anak muda radikal, yang muda yang coba kuasa, yang muda yang bergolak. Idealisme diapungkan. Gaung Eropa yang maju, dunia Barat yang jadi acuan modernitas. Pemikiran bebas, dan segala tautannya. Mulanya dikemas dengan bagus, disuarakan dengan lantang, gegap gempita setelah pembuka yang sangat pahit. Lantas terjerebab, dunia duka dan lorong pilihan menghadapi kehidupan setelahnya. Separuh tersesat, separuh mati. Dalam Notes from Underground, Fyodor Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya. Hal itu tercapai di Je Suis Karl, lantas bagaimana?


Kisahnya tentang Maxi Baier (Luna Wedler), pelajar yang menghadapi duka. Ayah Alex Baier (Milan Peschel) dan ibunya menyelundupkan imigran Muslim ke Berlin, Yusuf (Aziz Dyab) yang dikenalnya di lembaga sosial, dan berteman di facebook. Mereka khas generasi pasca Perang Dunia Kedua yang berpikiran terbuka, berwawasan tinggi. Keluarga ideal dunia Barat saat ini. keluarga ini makin lengkap dengan kedua adiknya yang menggemaskan. Saat itu Maxi baru saja pulang, dan peluk cium kehangatan disajikan.


Lantas kita disuguhi seorang pengantar paket untuk tetangga yang sudah tua, diterima oleh Alex. Meletakkan barangnya di belakang pintu, ia keluar lagi untuk mengambil anggur yang tertinggal di mobil, lalu booom! Ada serangan teror, paket itu meluluhlantakkan apartemen beserta isinya. Dalam keadaan limbung, burung-burung gagak berjatuhan. Dan dunia duka dimulai dari sini.


Dalam investigasi dan berita Koran, satu suara merujuk ke gerakan ektrimis Islam sebagai sangkaan. Namanya sangkaan, diakhiri tanda tanya. Penonton tentu saja (diarahkan) langsung ke Yusuf, sebab dua tahun lalu pernah tinggal di sana. Apartemen runtuh itu menjadi tugu seremoni duka dengan bunga, foto, lilin, dan segala doa. Korban meninggal sepuluh orang, ibu dan kedua adiknya termasuk. Maxi sendiri selamat, sebab setelah pulang ia langsung cabut ke rumah temannya Pia. Kini berdua menghadapi dunia yang tak sama lagi.


Alex banyak termenung. Entah langkah apa yang bisa diambil untuk mengobatinya, film yang bagus mengantar penonton merasakan apa yang dirasakan para karakter. Ya tentu saja, ini keadaan yang pelik dan sungguh berat. Maxi sama saja, jiwa mudanya lantas meluap. Ia bisa saja menyalahkan ayahnya karena menerima paket, ia juga kesal sebab tindak lanjut penyelidikan tak menemui titik terang. Muncullah pemuda tamvan Karl (Jannis Newohner) yang mengajaknya mengalihkan perhatian duka, mengajaknya ke Praha untuk ikut sidang terbuka para pemuda dengan tajuk, Re-Generation. Dengan langkah bimbang, sedang marah sama ayahnya, ia berangkat. Dari sini sebenarnya mudah sekali ditebak, ada yang janggal dalam diri Karl. Maxi ke sana dengan tujuan abu-abu. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.


Dari film dukacita penuh renungan, kita beranjak dalam tempo sesingkat-singkatnya ke area hingar bingar konser, pembicara motivasi, konferensi Eropa yang menghentak. Keduaan itu seketika coba dicerabut. Para muda-mudi yang digdaya bersama semangat angkatan baru, para milenial ini bersorak dan hinggap dalam optimism bahwa dunia ada di tangan mereka, masa depan terbentang untuk mereka, para orangtua minggirlah!


Karl adalah pembicara yang jago. Singa podium, ia menghipnotis puluhan peserta, dan live streaming di kanal yang betapa hebohnya saat view-nya tembus 50 juta. Sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Dari Praha mereka melanjutkan rute seminar ke Paris. Dan masa di antaranya tumbuh asmara, beberapa ring satu diperkenalkan. Mudah ditebak, Maxi: muda, cantik, pirang, bernyawa, ia jatuh hati sama Karl yang seketika mengisi hatinya. Dia ingin merasakan sukacita murni dari gerakan ini, dan pandangan liar yang luar biasa menyertainya.


Sementara penonton diberitahu siapa dalang teror Berlin, ternyata lingkaran dekat. Ini juga mudah ditebak, tak mengejutkan, walau nama Islam yang diapungkan di awal, itu hanya pemicu alih. Alex yang frustasi mencari Maxi, lantas seolah nemu ‘ding’ di kepala, mencari nama Yusuf di facebook tidak ditemukan, langsung menelpon polisi. Dunia serta merta berada di sisinya.
Re-Generation ini lantas menyusun rencana besar di Starboug. Buat sesuatu yang menghentak dunia, saat live streaming nanti kita buat gerakan pemberontakan. Gerakan muda yang akan mengguncang dunia. Dengan Odile Duval Sang pemudi tuan rumah sebagai acuan, dan rencana jahat bersama letusan tembak di ujung. Dunia memang sudah gila, nurani disembunyikan, sebuah pencapaian view di layanan daring menjadi patokan bahagia, hingga letupan massa mengambil alihnya. Susunan ini langsung mengingatkanku pada Origin-nya Dan Brown, yang juga diinspirasi dari Snow-nya Orhan Pamuk, dan saya yakin Pamuk juga terinspirasi dari kisah lama entah siapa. Dunia ini tak ada yang seratus persen original, bahkan dari novel yang berjudul Original. Semua saling silang pengaruh-memengaruhi. Ya, tak ada karya yang sepenuhnya unik, kalau ada maka karya sastra itu tak akan bisa dipahami sama sekali. Hahaha…


Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus satu suara dulu, bahwa tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Mau dalam bentuk apapun kemiskinan ada, penderitaan ada, kesedihan tercipta. Selama manusia hidup, tiga hal itu akan ada beriringan dengan esensi utama selubung histeria bernama bahagia. Kita hanya bisa mengurangi, mengikis, mendulang kemapanan. Ilmu pengetahuan mungkin agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Namun tetap saja, dunia ideal tak akan bisa terwujud.


Sepertiga awal film ini bagus sekali, dibuka dengan menghentak. Dukacita menyelingkupi, dikasih bocoran pelaku teror, sayangnya di bagian tengah menjadi film gemerlap. Warna merah yang dominan malah memeriahkan dukacita. Renungan kehilangan anggota kelurga menjelma musik disko dengan goyang kerlipnya. Ya ampun. Untungnya, kita yang tahu rencana Maxi turut ambil pidato menjadi was-was akhirnya diberi kelegaan. Dan saat Yusuf dan Alex menyusul ke Paris, kegemparan itu tetap saja menyelamatkan mereka. Dalam lorong gelap, hanya cahaya HP dan perjalanan pelarian itu sungguh menenangkan. Cerita berhenti pada titik itu. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.”


Banyak cerita dengan awal yang sangat bagus, menyentuh, menggetarkan. Je Suis Karl memberi patik hebat, kedukaan ini memberi kita simpati. Kesedihannya terlihat nyata, aktingnya bagus, kita turut luluh lantak. Keluarga nomor satu, di sini dicerabut secara tiba-tiba, benar-benar picu sempurna untuk sebuah film. Satu saja contoh novel yang berhasil menghantuiku, bagaimana cerita keren dibuka. Dalam If Tomorrow Comes-nya Sidney Sheldon, kita disuguhi dunia jungkir balik hanya dalam beberapa lembar. Sang ibu menelpon memberi kata-kata perpisahan, padahal sang anak sedang bahagia menyambut kemungkinan pertunangan dengan pemuda konglomerat. Sang ibu menarik pelatuk, menembak diri sendiri. Naas. Guratan cerita keren, salah satunya harus memberi impress mula kepada pembaca/penonton. Je Suis sudah melaksanakan tugasnya dengan gemilang, rencana icip beberapa menit malah bablas hingga menit akhir. Walau adegan gemerlang di pesta itu agak merusak mood upacara pemakaman.


Kekacauan sudah pernah terjadi, sedang terjadi dan akan terus terjadi di belahan bumi manapun. Hanya selentingan jenis, bentuk, dan moral saja dikedepankan. Pegangan bisa berubah-ubah, patokan dimana ideologi diapungkan hanya picunya. Manusia di era manapun aka nada yang tersesat, sebab tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Generasi awal sahaja terjadi pertikaian, apalagi Re-generation, cuma secuil upil di pentas megah dunia.


Je Suis Karl | Rilis 23 September 2021 (Indonesia) | Germany | Directed by Christian Schwochow | Screenplay Thomas Wendrich | Cast Luna Wedler, Jannis Newohner, Milan Peschal, Edin Hasanovic, Anna Fialova, Fleur Geffrier Aziz Dyab | Skor: 4/5


Karawang, 270921 – Erin Boheme – Teach Me Tonight


Je Suis Karl bisa dinikmati di Netflix

HBD Lee 47, panutan film

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s