Badla: Kau Ada di Sini Sebab Kau Ingin Berada di Sini


“Di manakah keadilan?” N.G. Cherneshebvski (1928-1889)


Apakah kita cukup kuat untuk membongkar sebuah kasus pembunuhan? Tagline-nya sangat pas dan sudah mewakili inti cerita: memaafkan setiap saat tidaklah benar. Film sejatinya hanya di kamar hotel, tapi dalam berkisah latar lantas melalangbuana ke rimba ingatan. Berdua merangkai kesepakatan, bekerja sama saling silang pendapat dengan was-was menjaga atensi untuk membunuh kata. Waspadalah, ada orang lain yang ingin mengambil keuntungan dari informasi yang kau miliki. Ini adalah film perang kata-kata demi menegakkan keadilan.


Luar biasa. Aku terhenyak. Tak menyangka, tutur cerita yang disajikan sungguh samar, dan saat tirai itu dibuka, aku terkejut. Pintar sekali yang bikin cerita. Ide menyelidiki, menakar, menimbang berbagai kemungkinan, mengungkap kasus berat dilakukan orang sipil dan berhasil dengan gemilang saja sudah terdengar aduhai. Ini disajikan dengan nampan emas, dengan kuah melimpah masih panas dan segar, aromanya dahsyat. Detektif dengan pengungkapan menyenangkan. Sajian istimewa dari India, aku jatuh hati (lagi) sama aktor senior Amitabh Bachchan.


Kisahnya tentang pasangan selingkuh Naina Sethi (Taapsee Pannu) dan Arjun (Tony Luke) yang sama-sama sudah berkeluarga, berlibur ke Eropa. Sebuah telpon masuk dan menyadarkan mereka untuk gegas pulang, di perjalanan terjadi kecelakaan. Korban pemuda bernama Sunny Kaur langsung meninggal (setidaknya sampai di jelang akhir yang kita tahu), dalam kepanikan karena buntutnya akan panjang, mereka malah menjerumuskan diri dalam palung masalah dengan menenggelamkan korban beserta mobilnya di danau.
Saat bergegas, mobil mereka bermasalah dan muncullah penolong. Keluarga itu membereskannya, menjamunya, dan kini malah runyam. Sebab mereka adalah orangtua korban, saat HP anaknya dihubungi ada di kantong Arjun, dan ia berakting menemukannya di meja lantas dikembalikan. Well, jalan pintas mengatasi masalah itu kini justru menjadi jalan panjang nan berliku meliar parah.


Sekembali ke rutinitas, mereka mencoba melupakan, kembali ke keluarga masing-masing. Oh tidak bisa, perasaan dosa dan kesalahan itu menghantui, dan kasus ditelusuri sedetail-detailnya. Naina adalah seorang bos dengan kuasa besar di Perusahaan, kunci utama di sini, ia punya uang dan suka manipulatif demi kepentingan pribadi, Arjun sejatinya coba dihilangkan. Namun tidak, kasus malah makin rumit. Dosa satu menentang dosa berikutnya.


Di hotel lain, kita kedatangan tamu, atas saran Jimmy pengacaranya, ia meminta tolong pada pembela kondang yang dalam kariernya 40 tahun tak pernah kalah dalam bersidang. Badal Gupta (Amitabh Bachchan) akan disewa Naina, ia kena kasus berat tuduhan pembunuhan kekasih gelapnya Arjun di hotel. Badal meminta calon kliennya menjelaskan sejujur-jujurnya, sebab kalau ia tak jujur ia akan tahu dan kesepakatan batal. Maka dituturkan ulang kasus ini. Apa yang tampak di depan, itu direka ulang dengan berbagai versi dan sudut pandang. Ia mencoba membuat kita bingung, melahirkan keraguan dan membuat kita takut untuk memenuhi kehendaknya. Badal tahu ada kejanggalan, mengoreksi, menjelaskan, meluruskan. Kejujuran memang pahit, tapi berhasilkah disampaikan? Sebab sang penutur dilema, “Aku akan menjadi bukan hanya tertuduh pertama, tetapi malah menjadi tertuduh utama.”


Naina makin kagum akan pembela kondang ini, sebab telaah dan analisisnya tajam, bahkan kasus pembunuhan di hotel yang awalnya terpojok sebab kamar terkunci dari dalam, dan segala tuduhan mengarah kepadanya. Ia lalu menyusun alibi dan agak merasa tenang sebab meyakini ada orang ketiga, kepalanya berdarah kena pukul, dan ia masih berpotensi bebas. Namun kita kembali di awal, dari desa kecil Aviemore tempat kecelakaan yang menewaskan Sunny. Dengan pola acak dan plot liar, irisan bawang itu dikupas dengan sangat seru dan sabar, sampai pada keputusan final. Ok, akhirnya Naina mencerita seaktual mungkin, segamblang mungkin, sesadis mungkin. Kita baru tahu, ada ungkapan besar terungkapkan jelang Badla berakhir. Kali ini tepuk tangan saya membahana, penonton terpesona, tirai pertunjukan ditutup dengan sungguh meriah. Konveti ditabur berhamburan memenuhi panggung. Sensasi sedap cerita film berkelas baru saja terjadi.


Ternyata setelah browsing, ini adalah adaptasi dari film Spanyol berjudul Contratiempo (2016). Sudah sangat lazim, film dari satu negara didaur ulang negara lain. Entah aslinya bagaimana, yang jelas versi Badla benar-benar memukauku. Film-film India, kata Cak Mahfud menjadikannya keuntungan baginya, salah satunya ia tahu Akele Hum Akele Tum yang mengekor Kramer vs. Kramer, ia menepuk sekali, dua lalat terjerebab. Atau Ghulam yang menjiplak On The Waterfront, dan tentu saja Mann yang merupakan copyan An Affair to Remember. Kali ini adalah adaptasi resmi. Sejujurnya daripada bilang imitasi atau tiruan, mending adaptasi resmi. Rasanya lebih terhormat.


Amitabh Bachchan sukses besar memainkan orang cerdas yang selalu penasaran. Itulah yang membuat 100% ampuh, insting yang tajam. Saking lamanya tak melihat aktingnya, serasa nostalgia. Biasa nonton di tv tahun 1990-an, dulu rasanya ia sudah tua, kali ini makin terlihat tua. Tangguh, cerdik, lentur, keras, dan tua tapi tidak terlalu tua. Atau singkatnya ia tetap berkharisma, dari tatapan matanya saja kita tahu, ada kejanggalan yang akan dibongkar, dari intonasi, kita turut was-was salah langkah. Bahasa adalah peperangan dalam bentuk lain. Dan pada akhirnya segalanya terbuka dari hotel sebelah. Hebat sekali, oh ini to alasan beliau keras dan tak pandang maaf. Sabar sekali kisanak.


Menjaga agar saat menonton tidak kena bocoran di era digital sungguh sebuah perjuangan. Maka tanda spoiler patut diacungkan di mula bila kita mau bercerita sinopsis secara detail sampai tangan kapalan mengetik, mulut berbusa, saking semangatnya. Aku bersyukur di dunia ini, masih ada hal langka yang bagus selain puisi: twist. Menipu penonton!


Kau ada di sini sebab kau ingin berada di sini. Ketika rasa shock mulai memudar, berbagai pertanyaan muncul. Kok bisa?!


Badla | Year 2019 | India | Directed by Sujoy Ghosh | Screenplay Sujoy Ghost, Oriol Paulo | Cast Amitabh Bachchan, Taapsee Pannu, Amrita Singh | Skor: 5/5
Karawang, 270921 – Karrin Allyson – All Or Nothing at All


Review ini didedikasikan untuk Harsoyo Lee, yang hari ini ulang tahun 47. Sehat, bahagia, makmur. Thx atas rekomendasi film-filmnya. ❤


Aku hanya berharap kita semua tetap sehat, rukun di BM dalam keragaman, tak ada yang lain.

Je Suis Karl: Dunia Duka Memiliki Lorongnya Tersendiri


“Kita tak akan menemukan kedamaian.”


Kehidupan adalah perjalanan luar biasa menuju wilayah tak dikenal. Kita hanya menggunakan kiasan dan analogi untuk menggambarkan perjalanan waktu. Tema pemberontakan, jalan terjal melakukan penggulingan kekuasaan. Anak-anak muda radikal, yang muda yang coba kuasa, yang muda yang bergolak. Idealisme diapungkan. Gaung Eropa yang maju, dunia Barat yang jadi acuan modernitas. Pemikiran bebas, dan segala tautannya. Mulanya dikemas dengan bagus, disuarakan dengan lantang, gegap gempita setelah pembuka yang sangat pahit. Lantas terjerebab, dunia duka dan lorong pilihan menghadapi kehidupan setelahnya. Separuh tersesat, separuh mati. Dalam Notes from Underground, Fyodor Dostoyevsky melukiskan seorang anti-hero yang ingin menjadi lawan dari hal-hal yang rasional, dapat dimengerti, dan bermanfaat… dia ingin menciptakan ketidakteraturan dan kekacauan sebanyak-banyaknya. Hal itu tercapai di Je Suis Karl, lantas bagaimana?


Kisahnya tentang Maxi Baier (Luna Wedler), pelajar yang menghadapi duka. Ayah Alex Baier (Milan Peschel) dan ibunya menyelundupkan imigran Muslim ke Berlin, Yusuf (Aziz Dyab) yang dikenalnya di lembaga sosial, dan berteman di facebook. Mereka khas generasi pasca Perang Dunia Kedua yang berpikiran terbuka, berwawasan tinggi. Keluarga ideal dunia Barat saat ini. keluarga ini makin lengkap dengan kedua adiknya yang menggemaskan. Saat itu Maxi baru saja pulang, dan peluk cium kehangatan disajikan.


Lantas kita disuguhi seorang pengantar paket untuk tetangga yang sudah tua, diterima oleh Alex. Meletakkan barangnya di belakang pintu, ia keluar lagi untuk mengambil anggur yang tertinggal di mobil, lalu booom! Ada serangan teror, paket itu meluluhlantakkan apartemen beserta isinya. Dalam keadaan limbung, burung-burung gagak berjatuhan. Dan dunia duka dimulai dari sini.


Dalam investigasi dan berita Koran, satu suara merujuk ke gerakan ektrimis Islam sebagai sangkaan. Namanya sangkaan, diakhiri tanda tanya. Penonton tentu saja (diarahkan) langsung ke Yusuf, sebab dua tahun lalu pernah tinggal di sana. Apartemen runtuh itu menjadi tugu seremoni duka dengan bunga, foto, lilin, dan segala doa. Korban meninggal sepuluh orang, ibu dan kedua adiknya termasuk. Maxi sendiri selamat, sebab setelah pulang ia langsung cabut ke rumah temannya Pia. Kini berdua menghadapi dunia yang tak sama lagi.


Alex banyak termenung. Entah langkah apa yang bisa diambil untuk mengobatinya, film yang bagus mengantar penonton merasakan apa yang dirasakan para karakter. Ya tentu saja, ini keadaan yang pelik dan sungguh berat. Maxi sama saja, jiwa mudanya lantas meluap. Ia bisa saja menyalahkan ayahnya karena menerima paket, ia juga kesal sebab tindak lanjut penyelidikan tak menemui titik terang. Muncullah pemuda tamvan Karl (Jannis Newohner) yang mengajaknya mengalihkan perhatian duka, mengajaknya ke Praha untuk ikut sidang terbuka para pemuda dengan tajuk, Re-Generation. Dengan langkah bimbang, sedang marah sama ayahnya, ia berangkat. Dari sini sebenarnya mudah sekali ditebak, ada yang janggal dalam diri Karl. Maxi ke sana dengan tujuan abu-abu. Jika kamu tidak tahu apa yang kamu cari, akan sulit untuk menemukannya.


Dari film dukacita penuh renungan, kita beranjak dalam tempo sesingkat-singkatnya ke area hingar bingar konser, pembicara motivasi, konferensi Eropa yang menghentak. Keduaan itu seketika coba dicerabut. Para muda-mudi yang digdaya bersama semangat angkatan baru, para milenial ini bersorak dan hinggap dalam optimism bahwa dunia ada di tangan mereka, masa depan terbentang untuk mereka, para orangtua minggirlah!


Karl adalah pembicara yang jago. Singa podium, ia menghipnotis puluhan peserta, dan live streaming di kanal yang betapa hebohnya saat view-nya tembus 50 juta. Sebuah pencapaian yang patut dirayakan. Dari Praha mereka melanjutkan rute seminar ke Paris. Dan masa di antaranya tumbuh asmara, beberapa ring satu diperkenalkan. Mudah ditebak, Maxi: muda, cantik, pirang, bernyawa, ia jatuh hati sama Karl yang seketika mengisi hatinya. Dia ingin merasakan sukacita murni dari gerakan ini, dan pandangan liar yang luar biasa menyertainya.


Sementara penonton diberitahu siapa dalang teror Berlin, ternyata lingkaran dekat. Ini juga mudah ditebak, tak mengejutkan, walau nama Islam yang diapungkan di awal, itu hanya pemicu alih. Alex yang frustasi mencari Maxi, lantas seolah nemu ‘ding’ di kepala, mencari nama Yusuf di facebook tidak ditemukan, langsung menelpon polisi. Dunia serta merta berada di sisinya.
Re-Generation ini lantas menyusun rencana besar di Starboug. Buat sesuatu yang menghentak dunia, saat live streaming nanti kita buat gerakan pemberontakan. Gerakan muda yang akan mengguncang dunia. Dengan Odile Duval Sang pemudi tuan rumah sebagai acuan, dan rencana jahat bersama letusan tembak di ujung. Dunia memang sudah gila, nurani disembunyikan, sebuah pencapaian view di layanan daring menjadi patokan bahagia, hingga letupan massa mengambil alihnya. Susunan ini langsung mengingatkanku pada Origin-nya Dan Brown, yang juga diinspirasi dari Snow-nya Orhan Pamuk, dan saya yakin Pamuk juga terinspirasi dari kisah lama entah siapa. Dunia ini tak ada yang seratus persen original, bahkan dari novel yang berjudul Original. Semua saling silang pengaruh-memengaruhi. Ya, tak ada karya yang sepenuhnya unik, kalau ada maka karya sastra itu tak akan bisa dipahami sama sekali. Hahaha…


Sebelum melangkah lebih jauh, kita harus satu suara dulu, bahwa tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Mau dalam bentuk apapun kemiskinan ada, penderitaan ada, kesedihan tercipta. Selama manusia hidup, tiga hal itu akan ada beriringan dengan esensi utama selubung histeria bernama bahagia. Kita hanya bisa mengurangi, mengikis, mendulang kemapanan. Ilmu pengetahuan mungkin agama yang paling efektif karena ini adalah agama pertama yang mampu berevolusi dan memperbaiki dirinya sendiri. Namun tetap saja, dunia ideal tak akan bisa terwujud.


Sepertiga awal film ini bagus sekali, dibuka dengan menghentak. Dukacita menyelingkupi, dikasih bocoran pelaku teror, sayangnya di bagian tengah menjadi film gemerlap. Warna merah yang dominan malah memeriahkan dukacita. Renungan kehilangan anggota kelurga menjelma musik disko dengan goyang kerlipnya. Ya ampun. Untungnya, kita yang tahu rencana Maxi turut ambil pidato menjadi was-was akhirnya diberi kelegaan. Dan saat Yusuf dan Alex menyusul ke Paris, kegemparan itu tetap saja menyelamatkan mereka. Dalam lorong gelap, hanya cahaya HP dan perjalanan pelarian itu sungguh menenangkan. Cerita berhenti pada titik itu. Hippocrates bilang, “Kehidupan ini singkat, kesenian berumur panjang, kesempatan cepat berlalu.”


Banyak cerita dengan awal yang sangat bagus, menyentuh, menggetarkan. Je Suis Karl memberi patik hebat, kedukaan ini memberi kita simpati. Kesedihannya terlihat nyata, aktingnya bagus, kita turut luluh lantak. Keluarga nomor satu, di sini dicerabut secara tiba-tiba, benar-benar picu sempurna untuk sebuah film. Satu saja contoh novel yang berhasil menghantuiku, bagaimana cerita keren dibuka. Dalam If Tomorrow Comes-nya Sidney Sheldon, kita disuguhi dunia jungkir balik hanya dalam beberapa lembar. Sang ibu menelpon memberi kata-kata perpisahan, padahal sang anak sedang bahagia menyambut kemungkinan pertunangan dengan pemuda konglomerat. Sang ibu menarik pelatuk, menembak diri sendiri. Naas. Guratan cerita keren, salah satunya harus memberi impress mula kepada pembaca/penonton. Je Suis sudah melaksanakan tugasnya dengan gemilang, rencana icip beberapa menit malah bablas hingga menit akhir. Walau adegan gemerlang di pesta itu agak merusak mood upacara pemakaman.


Kekacauan sudah pernah terjadi, sedang terjadi dan akan terus terjadi di belahan bumi manapun. Hanya selentingan jenis, bentuk, dan moral saja dikedepankan. Pegangan bisa berubah-ubah, patokan dimana ideologi diapungkan hanya picunya. Manusia di era manapun aka nada yang tersesat, sebab tidak diberitahukan kepada kita dalam bahasa apa Tuhan berbicara pada Adam. Generasi awal sahaja terjadi pertikaian, apalagi Re-generation, cuma secuil upil di pentas megah dunia.


Je Suis Karl | Rilis 23 September 2021 (Indonesia) | Germany | Directed by Christian Schwochow | Screenplay Thomas Wendrich | Cast Luna Wedler, Jannis Newohner, Milan Peschal, Edin Hasanovic, Anna Fialova, Fleur Geffrier Aziz Dyab | Skor: 4/5


Karawang, 270921 – Erin Boheme – Teach Me Tonight


Je Suis Karl bisa dinikmati di Netflix

HBD Lee 47, panutan film