Misterius dan Ajaib


Zahiya by Najib Mahfoudz


“Ayah tak menghukummu. Sekolah bukanlah hukuman. Sekolah adalah sebuah pabrik yang mencetak anak-anak menjadi manusia berguna. Tidakkah kau ingin seperti ayahmu dan kakak-kakakmu?”


Buku ini akan cult. Rare. Akan susah dicari lagi sebab langka. Sudah dua puluh satu tahun dan belum dicetak lagi. buku-buku pemenang Nobel Sastra akan mahal suatu hari, apalagi dari penerbit kecil, penerbit yang tak survive dimakan waktu. Semoga harga jualnya dua puluh satu tahun lagi akan menembus 10x lipat.

#1. Anak yang Berguna

Pembuka yang bagus banget. Susahnya menjadi anak yang berguna untuk orangtua. Disuruh belanja ke warung sama ibunya, seorang anak lelaki yang nurut tapi pelupa dan tanpa kreativitas akhirnya tersesat. Suruh beli buncis saja bolak-balik ke warung, dari pertanyaan sepele, ‘Buncis saja? Minyaknya? Merteganya?’ menjelma kisah panjang nan melelahkan sebab ia tak bisa mengambil keputusan, hingga akhirnya ia tergoda sebuah pertunjukkan sulap orang gipsi.


“Tak apa-apa. Kau akan kuberi uang lagi, tetapi akan kuambil dari celanamu. Dan jika kau kembali dengan piring kosong, kupukul kepalamu.”

#2. Masuk Sekolah

Anak lelaki yang pertama masuk sekolah, meragu dan menjalani keterasingan. Berkenalan dengan teman baru, menjalani rutinitas pendidikan. Zaman melesat, dunia berubah, setiap helaan napas menjadi makna yang tersisih demi apa? Dan ia kebingungan di tengah kota.


“Kek, mari kubantu menyeberang.”

3. Zahiya (Kafe yang Kosong)

Lelaki 90 tahun yang ditinggalkan Zahiya setelah menemani selama 40 tahun. Mohammed Rasheedi dalam dukacita, coba dihibur oleh pelayan kafe. Dan pemakaman sederhana, dan hidup terus melaju. Anak-anaknya menawari tinggal bersama ketimbang sendirian di rumah sepi. Rumahnya ditinggalkan, ia bersama cucunya tinggal sama anknya di Heliopolis. Makna sejati bekersamaan, ia termangu dalam kesendirian di kota bergetar dengan takut dan sedih. Menjalani senjakala, menghadapi keterasingan.
“Zahiya adalah segalanya bagiku, ia adalah pikiran dan tanganku.”

4. Malam Pemabuk

Seorang pemabuk Jantung Safwan pulang ke jalan Nuzha nomor 42, masuk rumah salah ke rumah orang. Sampai empat kali bolak-balik kebingungan, hingga di tanah kosong yang kadang dibuat pemakaman dan berkata, “Ini rumahku yang hilang atau ingatanku?” Dibantu pulang oleh polisi yang lewat. Oh ternyata ia mabuk selama setengah abad. Cerita mabuk penuh tipu daya membingungkan.
“Oh malam penuh berkah, penuh berkah!”

5. Zaabalawi

Syeikh Zaabalawi orang suci, namanya ada dalam lagu dan aku harus mencarinya. Petualangan mencari manusia istimewa, dari Khan Gaafar lalu ke perkampungan Al-Azhar, lalu ke Kamar Dagang, lalu ke rumah seorang kaligrafer Hassanein di Umm al-Ghulam, lalu ke rumah composer terkenal Syeikh Gad, dan seterusnya, pencarian itu meliar, yang jelas ia orang baik dan meninggalkan banyak kesan baik dengan orang-orang yang dikenalnya. Bersama berlalunya hari seperti asap di udara. Kadang-kadang penantian yang lama meletihkanku.
Aku sedang terlentang di atas tumpukan kecil daun bunga melati, saat percikan air mancur menerpa-nerpa di atas kepalaku dan pelipisku tanpa henti… sebuah orchestra nyanyian dan kicauan mendengung di telingaku… di seluruh dunia taka da satu alasan pun untuk ucapan dan gerakan, karena alam bergerak dalam kegairahan ekstasi.

6. Ibu Guru

Seorang kepala sekolah baru tiba, para guru menyambutnya. Beberapa penilaian bilang penampilannya kusut, tapi cara menjelaskan pelajaran enak. Lalu drama les privat terjadi, Badran Badawi, 14 tahun terjatuh hatinya dan berjanji akan menikahinya setelah dewasa. Saat ia sudah cukup umur ia memenuhi janjinya. Namun apa yang terjadi? Ia menolak kekerasan sama seperti ia menolak kedunguan. “Tapi waktu terus berjalan.” / “Biarkan waktu berlalu, aku tetap begini.”
Siapa yang tahu apa yang dikandung pagi hari?

7. Hari untuk Berucap Selamat Tinggal

Kehidupan berjalan bersama semua tuntutannya, seolah-olah tak ada yang terwujud. Setiap orang memeluk rahasianya sendiri, memilikinya untuk dirinya sendiri. Tak ada yang tersisa selain tamasya perpisahan. Jantungku berdetak di dalam amplop berisi kekhawatiran-kekhawtiran yang tertutup rapat. Betapa mengasyikkan waktu itu! Saat-saat yang benar-benar membahagiakan, saat-saat yang tak dapat diulangi lagi, saat-saat yang menolak untuk diulangi lagi. “Kau ada hati yang baik, dan itu ada harganya.” Cinta seharusnya muncul dan tegak melawan perbedaan sikap, tapi perbedaanlah yang telah mengakhiri cinta.
“Waktu yang kita lalui membutuhkan kesabaran dan kebijaksanaan.”

8. Apartemen Itu…

Mereka mengesampingkan urusan keduniaan dan menemukan perlindungan dalam kedamaian abadi. Terasa aneh, aku dianggap oleh mereka sebagai seseorang yang beruntung, yang berdiri sendiri dan beban yang kusandang adalah cahaya. Kesepianku yang mengerikan adalah suatu neilai, sesuatu untuk dicemburui.
“Aku ingin saatnya tiba dan menemukanmu telah melaksanakan tugas keagamaanmu yaitu menikah.”

9. Sebuah Tuntutan

Tersadar dari waktu yang berjalan lama, masa lalu dengan kenangan-kenangannya telah mengepungku. Tiba-tiba aku telah menjadi tertuduh. Janda ayahku menuntut biaya hidupnya.
“Perempuan itu merampok kami dan menghilangkan hak hukum kami.”

10. Rencana Jangka Panjang

Rumah kuno seharga setengah juta. Isam al-Balqi terlahir kembali, di usia tujuh puluh tahun. Apa yang masih tertinggal dalam hidup setelah berumur tujuh puluh? Seorang pemalas yang miskin, kini jadi jutawan mendadak berkat warisan, rumah itu dijual secepatnya setelah ibunya meninggal. Hidup sudah terbiasa untuk tidak meratapi apapun.
“Seseorang yang ditemai uang tidak pernah sendirian.”

11. Pembunuh Tak Dokenal

Ia melakukan dengan sabar, tenang, penuh pertimbangan, dan teliti, seperti yang hanya terjadi dalam cerita. Rasanya tak mungkin pembunuhan terjadi tanpa motif. Petugas penyidik itu merasa berada dalam kabut kebingungan dan merasakan frsutasi yang belum pernah dialami sebelumnya. Orang gila bisa membunuh, tetapi tidak akan menyelesaikan kejahatannya dengan sempurna. Pembunuh itu tak lain adalah dirinya sendiri, kelakar setaniah. Seorang gila? Sebuah wabah? Senjata rahasia? Cerita-cerita pander?
“Taka da lagi pembicaraan mengenai kematian mulai hatri ini. kehidupan harus berjalan sepeti biasa…”

12. Lelaki dan Lelaki

Pada setiap lemparan dadu, lelaki itu berkomentar dengan sinis: ia adalah seorang ahli dalam perang psikologis, dan yakin dengan kemenangannya. Sebuah irama monoton yang memberikan peringatan mengenai sebuah perjalanan tanpa akhir.
“Paling ujung.”

13. Tikus Norwegia

Pak A.M. penghuni paling tua di apartemen ini mengajak pertemuan tukar pendapat. Tentang kemungkinan serbuan tikus-tikus besar terhadap mereka. Racun? Atau menempatkan kucing?
“Tadi dikatakan kalau tikus Norwegia itu menyerang kucing?”

14. Kedai Kucing Hitam

Mereka sedang menyanyikan sebuah lagu ketika seorang asing muncul di pintu.
“Saat aku takut, aku akan tertawa terbahak-bahak.”

15. Kesunyian Rumah Tua

Rumah tua yang akan ditinggalkan. Dan di malam terakhir akan ditinggalkan, atau malam yang disepakati akan ditinggalkan terjadi sesuatu. Lantas saat ia mengutarkan niat tak jadi pergi kepada adik-adiknya, geger. Rumah tua, rumah warisan.
“Kita akan tunggu hingga wajar.”

16. Sri Baginda

Lelaki yang tinggal di alun-alun disebut raja, keturunan rumput-rumputan. Dibesarkan, tumbuh dan berkembang dalam taman. Dari seorang yang tak dikenal, derajatnya semakin tinggi. Dan massa menjunjung tinggi.
“Orang-orang kita berbaik hati.”

17. Perang

Jerman dalam invasi ke Negara-negara sekitarnya. Rasanya masih sangat jauh, hingga akhirnya merembet ke sekitar mereka setelah berbulan-bulan saat mereka mendengarkan radio kabar itu. Dahrough dan Salama menanti dengan was-was masa genting, suara bom-bom sudah kian dekat.
“Kau menipu malaikat pencabut nyawa dengan tetap hidup.”

18. Perempuan

Penduduk Farghana yang dikepung daerah berselisih, Da’bas dan Halwagi adalah dua desa tak pernah akur. Lantas saat ada sejoli yang saling mencinta, akankah kedamaian tiba? Oh tentu tidak semudah itu.
“Aku lebih pantas dihormati daripada ibumu.”

19. Di Sebuah Halte

Kepasifan suasana itu hampir beku, ketika seorang laki-laki dan pemuda berteriak, “Pencuri… tangkap pencuri itu.” Gerimis semakin deras sehingga membentuk galur berderet-deret warna perak tanpa henti, lalu hujan turun dengan derasnya. Drama live action di depan mata, di naungi halte menyaksi suasana sekitar.
“Jika sebuah adegan film, ini memalukan. Jika kenyataan, ini benar-benar memalukan.”

20. Tanah Kosong

Biarkan pertemuan itu menjadi dahsyat dan ganas. Biarkan pertempuran itu memuaskan hausnya balas dendam yang telah membakar selama dua puluh tahun penantian yang sabar. Ah, mengapa semua menjadi lenyap dan tak ada yang tertinggal selain debu?
“Harapan terkubur bersamanya.”
Yes, Najib Mahfoudz memang sudah jadi idola sejak pertama baca dalam Karnak Kafe, setelahnya tetap memukau. Sempat ragu buku ini jangan-jangan adalah novella Karnak Kafe, sebab ada seb judul: Kafe yang kosong. Makanya meminta foto identitas buku diterjemahkan dari mana. Ternyata beda. Sebelum Zahiya, saya baca Bisik Bintang, kumpulan cerpen tipis yang hebat. Sungguh-sungguh nyaman dan enak sekali menjelajah kata. Nah, dari Bisik Bintang ada satu cerpen yang sama dengan dalam Zahiya, seorang kepala keluarga yang menikah lagi dengan perempuan muda, lantas kabur membawa uang besar, padahal uang yang lebih besar di simpan di langit-langit.
“Aku mungkin lupa diri jika marah, tetapi selalu dengan alasan bagus.”
Zahiya (Kafe yang Kosong) | by Najib Mahfoudz | Diterjemahkan dari The Time and The Place (and Other Stories) | Anchor Book, USA, cet. 1994 | Penerjemah Susi Ivvaty | Penyunting Amien Wangsitalaja | Desain sampul Ronny KS | Pracetak Andi Setiono, JB. Budi Wijayanto | Penerbit Terawang Press | Cetakan pertama, Februari 2000 | 176 halaman + viii; 1 cm | Cerita pendek-Sastra Terjemahan | ISBN 979-8681-30-4 | Skor: 5/5
Karawang, 070921 – Olivia Rodrigo – Happier
Thx Latifah, Yogyakarta