Rekomendasi 100 Film


You’re talking to me?”


Sebuah panduan tontonan yang disarikan dari era jadul awal mula film ditemukan sampai tahun 2000-an. Buku ini terbit tahun 2009 jadi selang 12 tahun ini jelas sudah sangat banyak film rilis dengan kualitas mumpuni. Sekalipun begitu tetap relevan untuk dinikmati. Sayangnya di era digital, panduan nonton sudah sangat mudah ditemukan. Gampangnya tinggal buka situs imdb.com kamu sudah bisa menemukan rating film-film yang biasanya sejalan lurus dengan kritikus.


Semua filmnya bahasa Inggris dengan pertimbangan bahwa film-film inilah yang secara luas dikenal masyarakat kita. Meliputi berbagai genre: komedi, animasi, kriminal, petualangan, aksi, western, musikal, misteri, riman, fiksi ilmiah, dan sebagainya. Merentang sejak film bisu hingga saat abad 21. Umumnya yang menang Oscar dan mendapat apresiasi banyak kalangan baik dari kritikus ataupun pengamat film.


Dilengkapi dengan ringkasan, cast and crew, tahun, dan penghargaan yang didapat. Di akhir buku dicantumkan pula daftar 250 film terbaik IMDB dan 100 film top versi Majalah Time. Lalu glosarium untuk kata-kata yang tak lazim. Semacam itulah, kalau dalam satu kalimat: daftar 100 film rekomendasi.


Kalau buku ini terbit tahun 1990-an akan sungguh bermakna sebagai acuan tonton, sayangnya di era digital di mana rekomendasi melimpah ruah, kita dengan mudah mendapatkannya. Saya teringat majalah Cinemags yang pernah membuat 100 film paling berpengaruh yang diterbitkan tahun 2008, itu saja sudah kuanggap standar, apalagi ini. timing memang sangat penting, segmen pembaca juga penting, banyak faktor, yang jelas rekomendasi dengan lampiran data sekadarnya sudah terlalu umum.


Kubaca ulang saat isoman bulan Juni lalu, beberapa kunikmati saat berjemur pagi ditempa matahari. Dibaca santuy dan benar-benar mencoba blank info film, tapi ya begitulah. Rekomendasi film saat ini saya mengacu pada dua hal: para nominasi Oscar yang setiap tahun kukejar tonton dan Harsoyo Lee, sahabat saya di Bank Movie – BM yang tinggal di Sumatra. Jadi sudah ada acuan terpercaya.


Ok, saya coba ceklis film-film yang sudah kutonton: Chinatown, The Godfather, Gone with the Wind, Lawrence of Arabia, Psycho, Rear Window, Schindler’s List, Taxi Driver, To Kill a Mockingbird, 2001: A Space Odyssey, dan The Wizard of Oz. hanya 11! Padahal saya sudah menonton ribuan film, tak ada Harry Potter, tak ada A Lot like Love, tak ada Titanic, tak ada pula film paling favorit A Little Miss Sunshine. Komplain? Ga lah, wajar sebab semua orang punya seleranya sendiri. Semakin ke sini saya semakin merasa, pendapat tiap individu itu penting, maka penting untuk menghargai. Tiap orang punya seleranya masih-masih, jadi tak masalah jika si A bilang keren, sementara untuk film yang sama si B bilang buruk. Apalagi grup BM mengajarkan toleransi. Biarkan mengalir…


Buku ini apakah rekomendasi dinikmati? Ya dan tidak. Ya bagi yang butuh hiburan berkelas dan belum banyak nonton film, saya bisa jamin film-film di sini keren. Walau saya hanya nonton 10% saja, semuanya yang tercantum sepakat bagus. Untuk jawaban tidak, sekali lagi ini zaman digital, sudah gampang sekali cari saringan kelas. Saya bisa mencerita film apa saja yang keren dan busuk sampai berbusa-busa.


Kenapa saya mencinta Abigail Breslin? Ya film itulah yang menggeloraku. Kenapa Harry Potter wajib tonton, sebabbbukunya bagus banget, dan adaptasi fantasi imaji paling sukses setelah The Lord of The Ring. Maka bagi yang sudah banyak nonton film, buku ini bisa jadi sekadar lewat. Oh, saya tonton yang belum kutonton deh, mumpung ada waktu luang. Nha!


Memuat film-film terkemuka sepanjang masa. Apresiasi dan panduan bagi penggemar dunia sinema. Ini tak bohong.


100 Film | by Ibnu M. Zain | Kode Penerbitan PN-596-02-09 | Editor Ready Susanto | Pembaca pruf Adib Musta’in el-Hasan | Cetakan I, November 2009 | Penerbit Nuansa | ISBN 978-602-8023-02-3 | Skor: 3/5


Karawang, 260821 – Norah Jones –Young Blood


Buku ini kubeli tahun 2012 di Toko Buku Aa, Karawang saat awal pindah ke sini dan mencari toko buku ideal, dan karena saya terbiasa tak pulang dengan tangan hampa dari toko buku, maka saya memilah dan memilih dengan banyak faktor pertimbangan. Toko buku Aa lebih banyak menjual stasionery, ATK, dan perlengkapan sekolah. Hhhmmm….