Rumah No. 33


“Apakah aku sudah mati? Rasanya sih tidak mati…”


Buku renungan. Awalnya memang sangat menjanjikan untuk menjadi sebuah kisah penuh perenungan, bagaimana orang-orang terkasih ditinggal mati. Sebagai ibu dan istri dari keluarga bahagia dan melalui kesibukan dengan rutinitas kaum menengah atas, Sophie mati mendadak tertabrak bus saat pulang dari kafe, minum minuman keras terlalu banyak. Tapi dia tidak bisa – belum bisa – meninggalkan suami dan anaknya. Ollie yang berantakan, Freddie yang terlalu kecil dan sahabat terkasihnya Jenny yang harus mengetahui sesuatu sebelum semuanya terlambat. Tidak, ditabrak bus adalah hal paling menyebalkan dari semua hal yang menyebalkan, titik. “Hal-hal buruk kadang terjadi pada orang. Tidak terlalu sering. Tapi itu terjadi.”


Sophie hidup di dunia Antara. Rohnya melayang menyaksikan banyak hal terjadi tanpanya. Awalnya bagus sekali, dasarnya sangat menjanjikan, mengingatkanku pada buku renungan The Lovely Bonesnya Alice Sebold. Sayangnya, sampai di tengah dan menuju akhir justru buku ini malah jadi buku roman percintaan, menjadi buku ala ala Harleqiun beserta bonus roh melayang di antara para pecinta.
Takdir telah memainkan beberapa tipuan jahat. Kisahnya tentang Sophie, istri Ollie dan ibu seorang anak kecil Freddie. Dimula sekali kita diberitahu bahwa ia meninggal dunia, menjadikannya ragu dan bingung, sebab dunia baru itu asing, ia bisa menyaksikan seluruh kejadian kehidupan orang-orang terkasih. Ia mejalani kehidupan baru ini selama setahun, selama itu pula ia menjadi saksi bagaimana anak dan suaminya menjalani waktu-waktu tanpanya.


Ollie yang memang suami idaman, memperlihatkan kesetiaan yang luar biasa. Namun mau sampai kapan? Sebagai duda keren, hanya masalah waktu ia akan kawin lagi. Freddie yang masuk kecil, ia tumbuh kehilangan kasih ibu. Dan masa-masa itu ia saksikan dalam dimensi lain tanpa bisa mengubah fakta apapun. Sepertinya halnya rahasia, kata-kata yang tak terucapkan ikut terkubur bersamamu. Waktu tak bisa ditarik mundur, beberapa rahasia yang taj terucap turut lenyap bersama kematiaanya.


Lalu sahabat karibnya, Jenny yang banyak membantu kehidupan baru mereka. Tresno jalaran soko kulino. Karena ia sering ke rumah Ollie, membantu banyak hal dari mengasuh anak, Mengasuh anak adalah urusan yang luar biasa rumit dan membutuhkan perencanaan militer. Membereskan rumah, memasak, hingga menjadi teman curhat suaminya, tumbuh asmara di antara mereka. Sungguh langka teman yang mengisi kehidupan lajangmu dan masih ada di sana saat anakmu mulai sekolah. “Fred, tidak akan ada yang menggantikan ibumu. Aku akan selalu mencintainya, dan mencintaimu, lebih dari siapa pun di seluruh dunia.”


Dan kalian dengan mudah bisa menebak kisah ini menuju ke mana. Kalian berdua adalah meteran yang kugunakan untuk mengukur setiap hubungan, hubunganku. Kalian berdua adalah panutan. Apalagi keduanya merupakan pasangan ideal semasa Sophie hidup, maka saat ia mati seolah ini memang kesempatan kedua buat calon pasangan baru ini.


Kedekatan keduanya memang sudah jadi kelaziman sebab sudah semakin sering. “Gerbang sekolah membara Jenny. Clinton dan Lewinsky tidak ada apa-apanya dibandingkan gosip ini.” Terdengar lebai? Ya seperti itulah, di Barat sama saja kalau ada pergubjingan janda/duda.


Kupikir seorang pria yang merayu sahabat pacarnya pada akhirnya pasti akan merayu orang lain juga. Hanya masalah waktu sebelum dia melakukannya, dan kehadiran wanita lain yang menarik minatnya. Tidak ada yang menandingi kematian dalam memberimu kesadaran akan perpektif. “Kemustahilan fisik mengenai kematian dalam benak seseorang hidup.”


Rasa kehilangan memang menyedihkan. Awal-awal masa itu jelas sekeliling seolah menjadi renungan untuk lebih baik di kemudian hari. Tidak, dukacita tidak membuat mereka berdua menjadi orang yang lebih baik. Rasanya nyaris banal, pertengkaran ini. Perasaan yang terus menghantui bahwa sesuatu telah hilang. Sebab waktu lalu mengembalikan keadaan, waktu menyembuhkan duka. “Kadang-kadang, saat sendirian, terutama waktu Freddie di sekolah, pikirku melayang ke tempat-tempat yang aneh dan aku hanya ingin bersama seseorang yang mengenal Sophie seperti aku mengenalnya. Kau satu-satunya. Aku merasa terhubung kepadanya melalui kau.”


Ollie yang tak biasa mengasuh anak lalu mulai belajar. Puluhan kosakata Eskimo untuk salju tidak ada apa-apanya dibandingkan kosakata seorang ibu untuk kelelahan. Ya, suami bekerja, ibu rumah tangga mengasuh buah hati, dan sungguh tugas itu tak mudah. “Aku pernah membaca kalau pasangan kalau ternyata semakin sedikit tahu tentang satu sama lain semakin lama bersama. Kita mengira sudah tahu semuanya jadi kita berhenti bertanya, setidaknya mereka terhindar dari hal yang memalukan.”


Sungguh frustasi tidak dapat mengubah jalannya peristiwa, hanya menyaksikan saja. Seperti pernikaha Jenny. Dia akan menikahi seorang bajingan dan aku tidak dapat berbuat apapun untuk menghentikannya. Ia mengamati tapi ya sebatas itu, dan saat kehidupan orang-orang terkasih mulai bahagia tanpamu, kamu sudah saatnya pergi? “Kau bisa berada di tempat yang salah pada waktu yang salah.”


Kalau membicarakan hidup ini adil tak adil, semua orang memiliki pandangan masing-masng. Sophie bisa saja komplain akan nasibnya. “Memang tidak adil, sama sekali tidak adil. Hidup sialan ini sungguh tidak adil, kenapa bukan orang yang pernikahannya payah yang mati? Kenapa harus orang yang begitu dicintai seperti Sophie? Kenapa?”


Nah kata ‘kenapa’ bisa jadi rujukan hidup, artinya setiap makhluk/individu memiliki takdirnya masing-masing. Memainkan perannya sendiri, dan setiap manusia berbeda, unik. Bisa saja menimpa siapa saja. Jodoh, mati, rejeki sudah ada yang atur. Sophie tewas ditabrak bus setelah mabuk sama teman-temannya, maka yang terjadi ya terjadilah. Syukurlah itu tidak pernah tejadi, bencana tidak terjadi dua kali.


Karena saat kau bersamaku rasanya seakan dunia bukan tempat yang payah. Kau membawaku ke tempat yang berbeda dari tempatku berada sekarang. Apakah ini masuk akal?”


Rumah No. 33 | by Polly Williams | copyright 211 | diterjemahkan dari The Angel At No. 33 | GM 402 01 13 0078 | Alih bahasa Barokah Ruziati | Deasin sampul Fiona Franny | Editor Primadonna Angela | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | cetakan pertama, Mei 2013 | 472 hlm.; 18 cm | ISBN 978-979-22-9617-4 | Skor: 3.5/5


Untuk Ben, penuh cinta


Karawang, 220618 – 170821 – Jazz Radio (online)

Kubeli di Carefour Karawang tahun 2017 setelah servis si Biru.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s