Upacara Bakar Rambut


Melajulah pada pagi yang baru terbit / kali ini, tak ada suara peluit // kau pergi diam-diam / tanpa pesan tanpa beban // berangkatlah menuju keabadian / rel-rel dingin memagari / aku mengiringi // baik-baiklah dalam perjalanan panjang akan aku urai doa-doa / memenuhi penjuru langit — tulisan di kover belakang


30 puisi pilihan. Seperti biasa, walau sulit menikmati puisi, juga menulis ulasannya; saya selalu berusaha membacanya tiap bulan, juga tak gentar untuk terus mengasahnya. Ini adalah buku puisi ketiga yang kubaca tahun ini, jadi kalau target per bulan satu maka saya masih ketinggalan kereta, lima buku gegas kukejar. Dan kumpulan puisi ini tampak mirip dengan buku-buku lainnya, sulit tune in. sebagian besar adalah duka, kematian suami setelah menikah. Walau saya tak mengenal sang penyair, jelas ini adalah curhat. Pengalaman yang dibalut dalam syair.


Ok, saya kutip sebagian dari beberapa puisinya yang laik bagi tiap kuganti paragraf.


Rumah Seribu Ikan: Aku mengolah berbagai rasa / melunakkan duri dalam anganku / sungguh!


Ini seperti proses singkat perjalanan manusia, dari dewasa, menikah, lalu menjanda, dan kehidupan setelahnya dilalui dalam duka dan rindu. Bercerita dalam bahasa ngawang-ngawang sehingga tak nyaman dicerna.


Ikan yang Pusing: aku mendengar orang-orang berbisik / ramai sekali / seperti angin yang mengikuti / banyak mata di belakang / aku rasa itu mata ikan / menganggap aku nelayan yang puna umpan


Terbagi dalam tiga bagian: Rumah Tuna, Laki-laki Bermata Merah, dan Kelahiran Ketiga. Dengan masing-masing bagian terdiri 10 buah. Yang pertama tentang pernikahan, proses manusia melepas kemerdekaan, melepas lajang untuk mengikatkan diri dalam keluarga. Kedua tentang kematian, pasangan yang hilang dan ribuan duka yang tertancap menjadikan memori tanggal dan timbul bersisian. Ketiga tentang kedukaan dan menanggapi hidup yang timbang dengan berbagai pola, termasuk melakukan upacara bakar rambut.


Laut Telah Pindah Rumah: Seperti hari kemarin yang selalu bergemuruh / aku meninggalkan rumah / membawa buku dan album kenangan / hanya itu


Hidup memang tentang merespon situasi, saat sukacita kita akan membuncah dalam beragam lenguh bahagia seolah dunia dalam genggaman, roda yang berkelindan dan memutar pada porosnya, saat duka kita diselingkupi nestapa. Seperti itulah hidup, rangkai kejadian itu kembali ke respon. Ada yang biasa saja, ngalir dengan tetap syukur, ada yang terpuruk terpenjara dalam gua kehilangan saat hal-hal tak diingin menghinggapi.


Aku Mencintaimu Bersama Kematian yang Datang: sayang, segalanya telah padam / lampu-lampu itu putus kabelnya / tak ada yang membenahi / tak ada lagi tanganmu / tak ada sentuhan


Banyak memainkan diksi laut dan kehidupan di dalamnya, cuaca yang menerpa juga sebagai selingan, dan tak kutemui kata ‘senja’ yang biasanya menjadi kata favorit banyak sekali penyair. Unsur air dominan, doa-doa disampaikan dalam khusuk dan khuduk. Hari-hari duka kehilangan orang terkasih masih digenggam rindu, kenangan adalah ilusi, maka ia menjadi lingkar dalam kepekaan yang menghantui. Sedihnya manusia, tak bisa melepas dan menyimpan dengan baik kenangan yang mana bisa dan mana yang enggak. Aliran waktu konstan, padahal ia diam. Syair Byron dalam Manfred, di mana pengetahuan tak membawa kita bahagia, dan ilmu sekadar bentuk lain dari ketidakbahagiaan.


Berjalan di Bawah Keranda
: aku dan kamu kini dipisahkan waktu / dunia berbeda / kenangan menggulung / mereka tak pernah tahu kesedihan ini


Buku ini juga kado buat sang penulis memasuki usia kepala tiga, maka terpilih tiga puluh puisi. Kebanyakan ditulis di Bumiwangi dan Sudut bumi. Pemilik blog sudutbumi.wordpress.com, selain buku ini punya kumpulan puisi lain: Nyalindung (2005), Cerita Tentang Daun (2007), dan Kalender Lunar (2011). Oh, mari kita nikmati hari-hari bersajak.


Masa Duka: pernikahanku baru berjalan dua tahun / tanpa kelahiran anak-anak / tanpa kemelut rumah tangga / tahukah kau, shah janan, / aku telah memperpanjang masa duka / menguntai doa mengurai lara


Tak ada pretensi apapun, kecuali untuk bahagia. Selamat berpuisi dan dalam bahagia untuk Anda.


Upacara Bakar Rambut | by Dian Hartati | Kurator M. Romyan Fauzan dan Pradewi Tri Chatami | Desain cover Kulniya Sally | Desain isi sHerLy | Ilustrasi cover dan isi Annisa Luthfiasari | Cetakan I, Desember 2013 | Penerbit Medium dan Rumah Seni Lunar | 98 hlm.; 14 x 20 cm; HVS 70 gram | Kode Penerbitan PM-021-3-13 | ISBN 978-602-8144-20-9 | sjor: 3/5


Kado bagi diri


Karawang, 130821 – Backstreet Boys – Incomplete


Thx to Ade Buku, Bandung