The Broken Circle Breakdown: Sumber dari Segala Keindahan adalah Kehidupan

Hidup membuatmu merasa dendam. Hidup mengambil semuanya darimu dan menertawaimu. Hidup menghianatimu.”

Pandangan keras ideologi baik politik, agama, sosial, atau apapun itu tak laik disampaikan ke khayalak pendengar heterogen karena potensi menyinggung SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan), apalagi ini di tengah konser yang hening dan syahdu. Lebih gila lagi, yang disampaikan menghujat agama mayoritas dengan pelik pekik menyatakan ateis. Luar biasa konyol bukan? Luar biasa gila!

Sedih maksimal. Kesedihan layar sinema yang ditawarkan sungguh menggerus hati, pahit getirnya kehidupan dalam rumah tangga, dijalin dan dililitkan dengan erat, mencekik megap-megap sesak napas dalam ketidakberdayaan menapaki kerasnya masalah yang didapat. Kalau ngomongin luka keluarga, jelas sungguh sulit diabaikan. Dunia fana ini, memberi kita keniscayaan bahwa orang terkasih nomor satu, dan sarinya jelas keluarga di urutan teratas. Maka saat plotnya tentang anggota kelurga sakit keras dan efek setelahnya, jelas ini menjadi suguhan tema berat. Disajikan dengan riak timbul tenggelam antara harapan dan keambyaran, The Broken Circle Breakdown adalah fakta betapa manusia selalu tak berdaya di hadapan takdir. Sekuat apapun, secerdas apapun, sesuper apapun.

Kisahnya tentang pasangan keren di Ghent, Belgia. Mereka tampak ideal di luar, tapi setelah berkeluarga dan kita turut serta menyaksikan kehidupan rutinitas, kita tahu ada masalah besar di antara mereka. Masalah yang bakalan meledak di masa depan. Didier  (Johan Heldenbergh) adalah musisi kenamaan, ia adalah lead vocal, seorang idealis. Musik yang dibawakan sama grup adalah jenis bluegrass, sering tampil di kafe, menjadi idola lokal. Nantinya makin besar dan berkembang hingga bisa tampil dalam konser. Seorang ateis murni dan radikal.

Dalam ensiklopedia dijelaskan bahwa ateis berasal dari bahasa Yunani, athos. Kata itu tidak mengacu pada orang-orang yang tidak memercayai Tuhan: kata itu mengacu pada orang-orang kesepian, orang-orang yang diabaikan oleh para dewa. Maka, ini membuktikan bahwa manusia tak pernah bisa benar-benar ateis. Karena, kalaupun kita ingin diabaikan oleh-Nya, Tuhan tidak akan mengabaikan kita di sini. Maka untuk menjadi seorang (hampir) ateis, pertama-tama harus menyendiri dan tak menikah. Didier banget, tapi sekali lagi ia hanya hampir ateis.

Elise (Veerle Baetens) adalah perempuan pencipta tato, sekujur tubuhnya dihiasi, nama-nama mantan kekasih diukir, tapi setelah putus dihapus. Ia seorang realis, menjalani hidup dengan dasar pijakan kepercayaan padaNya yang kuat. Lihat, pasangan musisi dan pembuat tato, tampak serasi bukan? Masalah agama/keyakinan-lah yang dirasa menjadi pijakan penting.

Awal mula bertemu adalah Didier mengunjungi toko tato, berkenalan, mengajak Elise menyaksikan konser lokal, dan malam itu kita tahu Elise jatuh hati. Adegan pembukanya adalah ini, lagu Will the Circle Be Unbroken? Apa yang menarik di dunia ini? Amerika. Musisi bluegrass terhebat siapa? Memang ada yang lebih hebat dari Musisi Amerika? Dst… dialog puitik dan keren yang laik dikenang dalam keromantisan akut. Hubungan mereka langsung klik dan panas. Berlanjut ke jenjang serius, dan saat Elise memberitahu bahwa ia hamil, Didier marah. Dalam rumah koboinya, ia langsung pergi dengan perasaan murka sebab ia malas berkomitmen.

Entah kenapa tiba-tiba saat pulang ia membawa bahan material bangunan, anak kita tak kan tidur di trailer yang secara tak langsung berteriak, ‘Ok kita berkeluarga’. Kehadiran buah hati Maybelle (Nell Cattysse) melengkapi keping kebahagiaan mereka. Tumbuh kembang dalam suasana indah hubungan. Namun tunggu saja, ini film berat, dan masalah pelik itu muncul juga, Tuhan mengirim penyakit kanker untuk Maybelle setelah ulang tahunnya yang keenam.

Film dibuka dengan adegan nyanyi mendayu, lalu di rumah sakit Maybelle diambil darahnya. Diagnose kanker, proses terapi, penyembuhan berlarut, rambutnya gundul, kemoterapi yang gagal, dan berakhir dengan kesedihan maksimal. Keluarga ini hancur, rumah yang ceria itu menjelma seketika kesunyian. Pedih sekali.

Endingnya sendiri menghentak, luar biasa. Saat tekanan hidup sungguh berat. Elise sendiri juga menjadi penyanyi, masuk ke dalam grup dan sukses berat sebab suaranya bagus. Saat keruntuhan itu terjadi ia kembali ke toko tato, dan mengganti namanya jadi Alabama. Termasuk alasan sentimental di baliknya, seperti dimula Didier yang mengagumi Amerika, di akhir menjadi boomerang kemarahan karena dalam siaran TV Presiden Bush yang menentang penelitian embio dan menolak gerakan aborsi. Begitulah, satu-satunya konsistensi adalah ketidakkonsistensian.

Adegan ujung di rumah sakit menampilkan jawaban makna kehidupan. Seperti disebutkan dalam kitab-kitab kuno, nyawa seseorang meninggalkan tubuhnya enam jam setelah ajal menjemputnya, menurut Suyuti pada saat itu jiwa seseorang menjadi suatu yang gaib dan dapat berpindah-pindah, dan ia harus tinggal di alam Barzakh hingga kiamat datang. Maka bergemalah nyanyian itu mengantar di titik akhir.

Didier bilang ke anaknya, tak ada kehidupan setelah kematian. Mati ya mati, hilang dari dunia, menuju ketiadaan. Sementara Alabama, percaya ada surga dan segala konsekuensi akhir. Maka saat Maybelle menyaksi kematian burung gagak yang menabrak teranda (tenda/beranda) ia bertanya kemana perginya jiwa si burung? Surga itu dimana? Surga adalah masa depan yang kita semua impikan, tapi bagi Didier, surga adalah tempat mimpi-mimpi dalam kenangan dilestarikan.

Tak aneh setelah kehilangan anaknya, Elise menempel stiker burung di teranda agar burung-burung lain selamat. Kegiatan sederhana ini memicu kemarahan sang suami dan begitulah, runtuh segalanya. Tak semua orang bisa sepakat denganmu, tak bisa dipaksakan keyakinan orang lain agar sama. Dunia yang berbeda adalah dunia yang universal, tak perlu merasuki isi kepala orang terdekat. Jadi lingkaran itu akan hancur juga kalau dipaksa belok ‘kan?!

Berkat The Broken, saya teringat kata-kata N.G. Cherneshebvski (1928-1889), seorang filsuf, sastrawan, kritikus serta perjuang revolusioner dari Uni Soviet. Beliau bilang, “Sumber segala keindahan adalah kehidupan. Kenyataan hidup dan keindahannya mendahului kesenian dan perasaan estetis tentang keindahan. Kesenian hanyalah reproduksi kehidupan, dan di dalam karya-karya kesenian kiranya tak ada hal yang tak terdapat di dalam kenyataan hidup. Keindahan tertinggi dan sebenar-benarnya adalah keindahan yang ditemukan di dalam dunia kehidupan.” Dengarkan kau, kehidupan bukan melulu soal prinsip, kehidupan adalah soal mencari keindahan.

Tokoh Elise/Alabama dimainkan oleh artis sekaligus penyanyi, maka lantunan lagunya terasa menghentak indah. Tokoh Didier juga terlihat nyata, sifat ateis dan komitmennya juga luar biasa. Pedonan utama ateis adalah ia tidak memedulikan apa pun, kecuali cinta dan kebahagiaan. Masalahnya seorang filsuf entah siapa saya lupa, pernah bilang, “… dan ingatlah ini: mereka yang mencari kebahagiaan justru tidak akan pernah menemuinya.”

Ini bisa juga disebut film musikal sebab banyak sekali selingan nyanyi, bagus-bagus lagi. saya lebih suka menyebut ini jenis film drama pilu. Tindakan-tindakan yang diambil seolah nyata, tragedinya juga pas banget, seolah para tokoh benar-benar memiliki opsi tindakan, bukan menurut skenario.

Polanya sendiri acak, kita diminta menyusun potongan-potongan adegan yang tersaji. Pembukanya adalah nyanyian awal mula mereka berkenalan, lalu di rumah sakit saat cek darah itu jelas Maybelle sudah enam tahun, makin ke tengah durasi justru makin mundur masanya, dan adegan penghujung adalah final masa kini. Pola macam ini bagus, dan membuat gelombang pikir. Lega sekali akhirnya tuntas, melelahkan mengharukan. Seperti di dalam mimpi buruk, semua orang merasa sendirian, dan kita tak menyadarinya itu hanyalah maya. Orang-orang yang membuat keputusan buruk dalam kehidupan mereka gara-gara gejolak kekeraskepalaan sesaat, dan kemudian seumur hidup patut menyesalinya.

Pada akhirnya, burung gagak di dalam dadaku akan hidup; ia akan mengepakkan sayangnya dan, tepat sebelum gerakannya menyesakkan dadaku, sebelum air mata ini menetes – ia sudah terbang bebas.

The Broken Circle Breakdown | Tahun 2012 | Negara Belgia | Directed by Felix van Groeningen | Screenplay Carl Joos | Story Johan Heldenbergh & Mieke Dobbels; Play The Broken Circle Breakdown featuring the Cover-Ups of Alabama | Cast Veerle Baeten, Johan Heldenbergh, Nell Cattrysse | Skor: 5/5

Karawang, 070821 – The Corrs – So Young

Thx to Lee, rekomendasi terbaiq.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s