Aku & Film India Melawan Dunia (Buku 1) #22

Aku & Film India Melawan Dunia (Buku I) #22


Saya ingat dengan baik film Bollywood pertama yang saya tonton di televisi (baca TPI). Berjudul Teeja (1990) dan dibintangi oleh Sanjay Dutt…”


Beginilah rasanya membaca sesuatu yang asing, susah tune in. Dari semua nama aktor yang disampaikan tak lebih dari lima orang saja yang kukenal, dari seluruh film yang terbaca paling banyak delapan sembilan yang pernah dengar, yang sudah nonton tak lebih dari lima. Lantas kenapa saya memasuki dunia asing ini? Tentu saja nama besar Mahfud Ikhwan, ia mencintai film-film India, mencipta dua seri karenanya, sebagian besar dari blog pribadinya. Walau asing, bahasa penyajian terasa nyaman dan rona-rona klik akhirnya terasa karena sudah sebagian besar karyanya kunikmati.


Satu hal yang selalu ku-amin-kan, adalah pemilihan kata ‘saya’ ketimbang ‘aku’, sama seperti saya. Semua curhatan saya memakai ‘saya’. Dari sejarah bahasa Indonesia sejatinya sama saja, tapi bagiku lebih pas, lebih enak, dan kurasa terasa sopan. Walau seperti yang pernah saya tulis, kata ‘saya’ berasal dari kata ‘sahaya’ (budak). Anehnya, judulnya malah pakai kata ‘Aku’. Duh!


Seperti biasa, Cak Mahfud banyak menyampaikan banyak hiperbolis di mana bagian-bagian yang mungkin bagi kita sederhana menjadi wow. Seperti perburuan film, mencipta subtitle, menemukan teman sehobi, menemukan tempat untuk ‘berdakwah’ seluk beluk film favorit, sampai hal-hal nyeleneh detail aktor pujaan, yang bagi kita yang tak akrab sama dunia Bollywood tampang mereka tampak sama. Fans BTS ngamuk!

1. Dushman Duniya Ka

Pembukanya sederhana hanya satu lembar seolah menjadi peringatan sebab ada kalimat, “Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.


Lebai? Ya. Kasar? Ya. Perumpamaan yang ngawur? Bisa jadi, sebab memang ada benarnya walaupun tak keseluruhan. Judulnya sendiri sangat tinggi mengandaikannya, ‘Sang musuh semesta’. Selalu ada pengecualian ‘kan, apalagi era sekarang. Film India banyak yang tak hingar-bingar, merenung dalam pencarian makna hidup. Dua film dua tahun lalu Section 357 dan The Photograph bahkan masuk ke dalam 14-best-film-of-the-year ku.

2. Thank You, India (Movies)!

Ini catatan yang dahsyat, menyatakan cinta dan efek film yang lebih besar sebab film India adalah karunia. Saya kutip sebagian paragraf pembukanya, “…Jika kepala saya adalah sebuah lemari penyimpan, film India adalah salah satu harta yang tak akan pernah saya buang, sesuatu apa pun. Dan tak ada satu pun hal yang bisa mengambil dari saya. Tidak rasa snob, tidak juga intelektualitas, lebih-lebih pseudo-intelektualitas.” Terdengar ngeri ga? Hehe

Sherina Munaf Dan Segala Kegilaan Yang Tercipta
Ada tiga alasan utama kenapa film-film ini terasa unik: sulit di dapat, memperkaya, menjadi istimewa. Well, Sherina Munaf pasca Petualangan Sherina juga gitu. Sampai akhirnya iklan Simpati, Panasonic, Advance, dll membuatnya sering tampil di TV.

3. Musik India dan Lingkar Dada Inong Melinda

Nah ini, Cak Mahfud merasa mendapat teman senasib, sependapat, seirama, pokoknya klop suka film India hingga seoalh sudah satu frekuensi. Mahasiswa filsafat yang kepergok dengar dan nikmati lagu India dari radio.

Bagaimana bisa kamu tidak menyukai musik yang lahir dari perabadan tertinggi dan tertua di dunia?” Mustofa


Waktu Briptu Norman ngetop, memang sempat mengangkat lagi film-film (dan lagu-lagu) India, tapi yah itu sesaat, seperti meteor yang cemerlang lalu menghilang.

4. Minggir! Inspektur Vijay Telah Kembali!

Satu dari tujuh hal yang selalu ada dalam India adalah tokoh bernama Inspektur Vijay dan Tuan Takur.” – On the spot, Trans 7.


Betul juga ya, orang awam menyebutnya ‘Polisi India’ bagi orang yang akan membantu tapi terlambat, kasus sudah ditutup, dan ia datang saat segalanya sudah beres. Hal agak mengejutkan adalah, Cak Mahfud membenci Kuch Kuch Hota Hai yang terkenal itu. Apakah terlalu mainstream? Apakah terlalu umum? See, ia bahkan juga membenci aktor paling terkenal era 90-an hingga kini, Shah Rukh Khan, Sang Raja Khan. Kenapa? Vijay adalah koentji.

5. Nana dan Saya

Saya sudah menyukainya bahkan sebelum tahu namanya.” Haha, jadi ingat lagu Savage Garden, ‘I Knew I Loved You’. Namun tak seperti itu, ini tentang cinta pada pandangan pertama di tahun 1997 di layar RCTI ia melihat sosok istimewa. Ini lebih seperti ulasan film-film yang dibintangi Nana, di mana pujaan itu menjadi kesan mendalam. Nama aktornya Nana Patekar.


Bukankah hal yang sama terjadi padaku akan Sherina yang muncul di tv kala hujan petir akhir tahun 90-an ia tersenyum manis di lagu ‘Kembali Ke Sekolah’? Cinta memang aneh, kawan.

6. Nonton India: Perjuangan Tak Berkesudahan

Lebih-lebih untuk seseorang yang mendaku dirinya memiliki kewajiban profetis untuk mendakwahkan film India. Tapi, saya bersyukur pernah melakukan kegilaan kecil yang menyenangkan ini.”


Ini sejarah bagaimana film India memasuki jiwanya. Curhat terselubung, proses berkesinambungan menjadikannya obsesi, lalu candu, dan terendam dalam tak bisa dilepas. Ah, seperti itulah masa-masa indah (sederhananya masa muda). Sejenis sejarah film India muncul di TV, zaman itu hiburan tak semelimpah sekarang, film India setahuku juga diulang-ulang, tapi pada puncaknya tahun 90-an, semua stasiun TV pada berlomba menayangkan. RCTI, TPI, TVRI, terdengar jadul bukan? Dan begitulah, perjuangan menikmatinya tapi tak sesederhana itu.
Apalagi anak santri, di hari Jumat sudah siap sedia di Masjid di jam 11, padahal film India lagi menuju eksekusi ending penting. Terpangkas saat lagi seru-serunya. Jangan lupa, nama Ida Laila disebut dengan lagu favorit, “Khayalan Masa Lalu.”

7. India dalam Film India: Amatan Sekilas Seorang Penonton Indonesia

Ini air kencing asli India […], kau tidak membutuhkan uang, kedudukan atau massa untuk mendapatkannya. Kau hanya butuh keberanian. Dan Cuma itulah yang kumiliki…”Sameer Khan dalam Halla Bol (2008)


Sejarah film India, dari awal mula hingga populer merakyat. Dari Dadasaheb Phalke, Aku memutuskan memantabkan industri film ini dengan fondasi yang kukuh untuk menyediakan lapangan kerja bagi seniman-karyawan sepertiku…”


Dari sini saya tahu, film India memang dimaksudkan menyampaikan budaya dan sosial India. Ah, lagu Peterpan yang itu…

8. Tentang Mumbai Noir

Ngomongin genre sejatinya gampang-gampang susah. Sama seperti kita semua, semuanya mudah bergeser. Saat ini suka fantasi, dulu suka horror, lain waktu mencinta drama, suatu ketika terkejang-kejang sama action lebai. Lalu film jenis apakah Mumbai Noir ini?

9. Shah Rukh Khan Si Bajingan

Seolah menjawab bab 4 yang ‘mempermasalahkan’ Kuch Kuch Hota Hai, kalimat pembukanya adalah, “Siapa bilang saya tak suka Shah Rukh Khan? Seperti penggemar film India, tentu saja saya menyukainya. Ya, saya tak bisa menolak untuk menyukainya. Terutama saat ia menjadi bajingan.”


Nah ‘kan, kontra dan ada tapinya. Mirip Tom Cruise yang teramat jarang jadi tokoh antagonis, sampai-sampai film aneh Collateral saat ia jadi penjahat tampak sangat istimewa. Dan bab ini didedikasikan khusus untuk sang Raja Khan, saat ia melakoni tokoh Cruise yang langka itu.

10. Aamir Khan dan Kisah-Kisah Tiruan

Kisah-kisah dalam film India yang banyak menjiplak gaya film luar, referensi utama jelas Hollywood. Kaya akan jenis dan macam sinema, tak otomatis merajai box office. Mengedepankan kuantitas ketimbang produk bermutu malah menjadi film-film ini masuk sungai yang luas, lalu tersekat dan terpilah sendiri ke selokan-selokan kepala kita.


Cak Mahfud mendaku bahwa kesukaan pada film India menjadikannya keuntungan, salah satunya ia tahu Akele Hum Akele Tum yang mengekor Kramer vs. Kramer, ia menepuk sekali, dua lalat terjerebab. Atau Ghulam yang menjiplak On The Waterfront, dan tentu saja Mann yang merupakan copyan An Affair to Remember. Yah, begitulah dunia, yang lebih buruk dari imitasi adalah cinta yang membabi buta.


Dunia penuh dengan hingar bingar berita, dijejalkan dari berbagai sudut dan sumber. Memilih hobi, memilih pujaan, memilih tempat berlabuh dengan segenap hati adalah kewajaran. Bahkan dalam psikologi, manusia itu harus punya hobi, kalau belum tahu harus cari sebab hobi bisa jadi adalah pelarian dari kepenatan hidup yang berfungsi sebagai filter masalah, terurai dan terendam dengan sendirinya oleh waktu. Sah-sah saja Cak Mahfud ‘berdakwah’ dengan menggempur para pembacanya dengan film-film India. Bukankah, saya pernah mabuk Sherina hingga tak bisa membedakan mana apel mana pir? Aku dan Obsesi Sherina Melawan Dunia (Buku I).


Aku & Film India Melawan Dunia (Buku I) | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2017 | Penyunting Prima Sulistya | Desainer sampul Azka Maula & Eka PoCer | Penata letak Azka Maula | Foto sampul menggunakan poster film Billu (2009) | vii + 150 hlm., 13 x 19 cm | ISBN 978-602-1318-47-8 | Penerbit EA Books | ISBN 978-602-1318-47-8 | Skor: 4/5


Karawang, 220721 – Pulp Fiction (1994) Ost.

30HariMenulis #ReviewBuku #22 #Juli2021

2 komentar di “Aku & Film India Melawan Dunia (Buku 1) #22

  1. Ping balik: #Mei2021 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s