Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021

Satu komentar di “Pseudonim #21

  1. Ping balik: #Juli2021 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s