The Joy Luck Club #17

Ada suatu pendapat bahwa orangtua tidak seharusnya mengkritik anak-anak. Mereka sebaliknya harus memberikan dorongan. Mama tahu, orang selalu berusaha bangkit untuk memenuhi harapan orang lain. Dan jika Mama mengkritik artinya Mama mengharapkan kegagalan.”

Buku yang luar biasa. Padat dan melelahkan. Kita jadi saksi kehidupan empat ibu imigran Cina ke Amerika Serikat, dan menjadi pula saksi kehidupan empat putrinya yang terlahir sebagai warga Amerika. Segalanya tumpang tindih. Bahasanya mendayu, agak rumit, nyastra di beberapa bagian yang butuh telaah. Seperyi kehidupan ini sendiri, novel ini juga menyajikan banyak sekali tragedy. Bagian-bagina pedih bahkan menjadi sangat banyak sebab mereka adalah orang asing di negeri asing. Butuh perjuangan ekstra untuk adaptasi dan menjalani rutinitas baru, jelas ini masuk radar buku istimewa. Ditulis dengan detail mengagumkan, dituturkan dengan sabar, renyah dan seperti judulnya novel ini juga memberi kebahagian, seperti kebanyakan orang Cina, keberuntungan bisa dibentuk. Kami orang-orang yang beruntung.

Kisahnya dibuka dengan Jing-Mei Woo memiliki nama panggilan June yang sudah kehilangan ibunya. Ia menggantikan main mahyong dalam perkumpulan, dan lalu mendengar banyak sekali pengakuan masa hidup ibunya yang dulu dianggap aneh dan keras.  Joy Luck Club adalah suatu ide yang diingat ibuku dari masa perkawinan pertamanya di Kweilin, sebelum masuknya Jepang.

Agar mudah mencerna ulasan kita jelaskan terpisah masa saja. Empat anak dan empat ibu, setelah mengambil sudut June, kita mengambil sudut lainnya. Saya urutakn dari anak-anak saja, yang kedua Rose Hsu Jordan. Memiliki masa lalu tragis saat menyaksikan adik kecilnya Bing tenggelam di pantai. Benar-benar bagian paling menggetarkan. Ia menikah dengan doctor Ted Jordan, sebenarnya menjadi tampak istimewa. Sayangnya tidak, mereka bercerai dan menyeret kasus di pengadilan. Aku akan selalu mengingat pesan orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri.

Ketiga Waverly Jong, masa kecil hingga remaja menjadi kebanggan keluarga. Juara catur cuy, cerdas dan sungguh menggairahkan. Ia menjadi semacam contoh anak lain, terutama June. Sayangnya telenta hebat itu seolah menghilang, tekanan dan seteru sama ibunya menjadikannya muak. Dia suka membicarakan permainanku seolah-olah dia yang menciptakan strateginya. Kehebatan main catur seolah lenyap, seperti datangnya, ia berhenti total seperti ada rem darurat diinjak.

Keempat Lena St. Clair seorang penerjemah. “Karena perempuan adalah yin, kegelapan yang tersembunyi, tempat nafsu yang tak terkendali bersarang. Dan laki-laki adalah yang, kebenaran yang bersinar, menerangi pikiran kita.” Ia menikah dengan Harold, sedari mula pernikahan ini tampak meragukan. Ada perjanjian pembagian harta, suaminya juga adalah atasannya. Ia mendesain dan menyuport banyak hal. Namun pembagian harta itu malah mengacaukan banyak sekali hal. Berakhir pula dalam frustasi.

Keempat ibu lebih banyak berkisah di masa lalu, di Cina yang gundah. Pertama Suyuan Woo, kisah paling menyedihkan adalah saat perang ia harus melepas satu dari dua anaknya, yang selamat bernama Jing-Mei yang menjadi pondasi utama novel ini.

Kedua An Mei-Hsu yang belajar banyak sama ibunya. Setelah percerian orangtuanya, ia tinggal sama ibu dan ayah barunya. Yang ternyata sudah punya istri lainnya lagi, ibunya tampak pasrah dan menerima keadaan, tapi jelas sakit siapa yang mau dimadu. An Mei ke Amerika dan menikah, memiliki tujuh anak. Ia adalah ibu Bing, yang mati tenggelam.

Ketiga adalah Lindo Jong, wanita kuat dan ibunya Waverly si juara catur. Ia banyak mengatur kehidupan, terlalu masuk ke pribadi yang justru membuat muak orang sekitar. Ia bangga menjadi seorang Amerika, yang lantas agak mengikis jiwa Cina-nya.

Keempat Ying-Ying St. Clair yang terlalu banyak tahayul. Timur adalah awal dari segala sesuatu, ibuku pernah berkata begitu kepadaku, arah dari matahari terbit, dari mana angin datang. Ia menikah bukan karena cinta, ia menyebutnya takdir. Menjalani hidup yang ngalir aja. Sampai suatu hari seorang Amerika di Shanghai Clifford St. Clair. Setelah suaminya meninggal dunia, ia menikah dengannya, pindah ke Amerika memiliki anak, salah satunya Lena, yang satunya lagi meninggal dunia. Sang Tiger. Jarak terpendek antara dua titik adalah garis lurus di tengah-tengahnya. Aku belajar permainan tengah dan mengapa taktik antara dua lawan itu seperti benturan ide. Pemain yang lebih baik memiliki rencana yang lebih jelas, baik untuk menyerang maupun untuk meloloskan diri dari jebakan. Aku mempelajari pentingnya membuat ramalan yang tepat pada akhir permainan, pengertian matematis tentang semua gerakan yang mungkin dibuat, kesabaran.

Para ibu-ibu ini rutin ngumpul dan main mahyong. Main mahyong Cina, kau harus bermain memakai kepalamu, sangat rumit. Lalu kami mengobrol sepanjang malam sampai pagi, menceritakan kisah-kisah yang menyenangkan di masa lalu, dan di masa yang akan datang.

Karena ini kisah para imigran, maka kerja keras adalah wajib. Saat agak mapan, mereka tentu coba penghasilan yang lebih baik lagi. Jadi, sejak lama kami memutuskan untuk berinvestasi pada bursa saham. Di sana tidak ada keahlian. Bahkan ibumu pun setuju.

Ini merupakan permainan yang serba rahasia, di mana kita harus menunjukkan tapi tak boleh menceritakan. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang karena itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita. Aku selalu akan ingat, peran orangtuaku, tetapi aku tak akan melupakan diriku sendiri. “Kalau sesuatu berlawanan dengan watak kita, kita dalam keadaan tak seimbang…”

Aku menangis gembira bersama mereka, karena aku sudah salah sangka. Aku sudah merasakan yang terburuk, setelah ini tak mungkin ada yang lebih buruk lagi. Ini bukan soal harapan. Ini soal alasan. Ini takdirmu. Ini hidupmu, sesuatu yang harus kau lakukan.

Dalam arus Cina kita dianggap harus menerima segalanya, mengalir mengikuti arus Tao dan tidak membuat gelombang Dan entah mengapa, melihat semua tanda-tanda kecil kedomestikan yang familier ini, ritus ehari-hari kami, membuatku mabuk di dalam. Seolah-olah dia membangun dinding tak tak kehilatan, setiap hari diam-diam merabanya untuk melihat seberapa tinggi dan lebarnya dinding itu.

Amy Tan lahir di Oakland, California tahun 1952. Ia menyandang gelar master linguistic dari San Jose State University. Esainya banyak dimuat di majalah, begitu juga cerpen-cerpennya. The Joy Luck Club adalah novel debut dan menjadi finalis National Book Award dan National Book Critics Award. Tahun 1990 memperoleh penghargaan Bay Area Book Reviewer Award for Fiction. Ini juga menjadi buku pertama Amy Tan yang selesai kubaca, buku lainnya jelas masuk radar wajib lahap! Kado terbesar tidak selalu yang terbagus.

Pepatah Cina yang mengatakan Chunwang chihan: jika bibir tidak ada, gigi akan kedingingan. Yang artinya satu hal merupakan akibat dari hal yang lain. Bagaimana mungkin di dunia yang penuh kesemrawutan bisa timbul begitu banyak persamaan dan perbedaan yang persis bertolak belakang?

Perkumpulan Kebahagiaan dan Keberuntungan | by Amy Tan | Diterjemahkan dari The Joy Luck Club | Copyright 1989 | Alihbahasa Joyce K. Isa | GM 402.94.990 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Mei 1994 | Cetakan kedua, Juli 1994 | 488 hlm; 18 cm | ISBN 979-511-990-7 | Skor: 5/5

Untuk ibuku dan kenangan akan ibunya;

Kau pernah bertanya kepadamu apa yang akan kuingat;

Ini, dan masih banyak lagi.

Karawang, 060421 – 110621 – 170721 – New York Jazz – Bar Jazz Classics

Thx to Lifian, Jakarta

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s