The Man Who Loved Books Too Much #14

Gilkey: “Kuberitahu sesuatu, semua, dan maksudnku semuanya, pencuri buku adalah pembohong sejati.”

Cerita tentang pencuri buku, tapi sang pencurinya tak terlalu suka baca buku. Hanya ingin mengoleksi, bukan kutu buku sejati. Dari situ saja sudah sangat aneh. Ini kisah nyata, dan banyak meragu. Sang Penulis seolah terpenjara fakta-fakta sehingga ceritanya tak plong, tak liar dan terlalu berbatas. Atau cara berceritanya yang kurang memikat? Bisa jadi keduanya. Tak banyak riak, datar dengan penuturan sederhana. Joseph Brodsky, pemenang nobel sastra 1987, “Membakar buku adalah kejahatan, tapi ada lagi yang lebih jahat, yakni tidak membaca buku.”

John Gilkey sebenarnya mencuri karena cinta. Ia mencintai buku dan ingin memilikinya. Setiap kolektor, berdasarkan definisinya, sepertinya agak terobsesi, bahkan sedikit gila. Bagi seorang kolektor, satu saja tidak cukup, yang suatu koleksi lengkap, masih ada koleksi lain yang harus dilengkapi, bahkan mungkin sudah dimulai. “Aku hanya senang mengoleksi buku, mengoleksi barang…”

Seperti membaca reportase. Buku ini mengedepankan keakurasian kisah. Ia menjalankan wawancara langsung, dari rumah, kedai kopi, sampai datang ke penjara. Dedikasi waktu, tenaga, dan uang benar-benar patut diacungi jempol. Setiap ada yang menanyakan ia mendaku, sedang menulis untuk San Francisco Magazine.

Ada lima kriteria pencuri buku: kleptomania yang tak tahan untuk mencuri; pencuri yang mencuri demi keuntungan; pencuri yang mencuri karena marah; pencuri biasa; dan pencuri yang mencuri untuk dirinya sendiri. Gilkey tampak tidak berbeda dari kolektor buku lainnya. Satu-satunya yang membedakannya adalah riwayat kejahatannya. Baginya,’keadilan’ tampaknya bersinonim dengan ‘kepuasan’.

Kisahnya runut. Sebelum masuk ke detail bagaimana ia melakukan kejahatn kita diajak berkeliling ke pameran buku, bertemu dengan para korabn atau calon korban, para penjual buku langka di stand-stand. Kewaspadaan yang dikedepankan, sampai ciri-ciri pengunjung yang potensial mencuri. Lalu saat kesempatan bertemu langsung dengan penjahatnya, kita masuk dalam keluarga ini. Gilkey adalah anak bungsu dari delapan bersaudara. Ayahnya bekerja di Campell’s Soup Company sebagai manajer transpotasi, dan ibunya ibu rumah tangga. “Kalau kita memiliki rak buku, semakin diisi raknya, semakin banyak bukunya, semakin besar nilainya, semakin bagus kelihatannya… dengan buku semuanya terasa indah. Kita bisa membacanya kapan saja, dan rak bukupun jadi semacam atmosfer rumah bukan?

Setiap detail penyampaian kejahatan membuat kesal, Gilkey dengan santainya melakukan pencurian. Tanganku mulai gemetar, bolpoinku jatuh. Idenya adalah melengkapi dari daftar ‘100 Novel Terbaik’ versi Modern Library’. Buku-buku lama nan klasik ini dikumpulkan dengan berbagai cara. Nah, setelah kejahatannya terendus dan ia dibui, ia memiliki rasa dendam menyelingkupi. “Siapa menabur angin, dia akan menuai badai. Aku hanya menyamakan skor.”

Benar saja, setelah keluar penjara ia melakukan lagi dan lagi. Aku melihatnya sebagai penjahat kambuhan, atau ‘frequent flyer’ menurut istilah petugas penjara. Sebagian besar cara mencurinya adalah dengan kartu kredit, dipalsukan, setelah melihat koleksi di toko, ia pergi dan menelpon dari telpon untuk memesan buku incaran, memberi kartu yang sudah dibobol, dan saat transaksi sukses, ia akan bilang akan datang mengambil yang diwakilkan saudaranya. Begitulah, si pemegang kartu kredit asli akan tahu ada tagihan beberapa waktu kemudian. Sigmund Freud bilang, mengoleksi barang antik sebagai “hanya dapat dikalahkan dalam intensitas oleh kecanduan terhadap nikotil.”

Buku ini mengutip banyak sekali buku-buku klasik yang masuk dalam kategori langka dan layak koleksi, begitu pula banyak mengutip tokoh-tokoh penting literasi. Patricia Hampl, “Koleksi bukan sekadar soal memiliki. Itu merupakan cara pandang: memandang yang dengan sendirinya menjadi sejenis mendamba. Memandang dengan cara ini seperti kerasukan, terhanyut.”

Pada tahun 1644, John Milton menulis, “Buku sudah tentu bukan benda mati, melainkan berpotensi untuk menjadi seaktif jiwa yang memproduksinya; buku juga seperti botol yang menyimpan kemanjuran dan ekstrak termurni cerdikiawan yang menyuburkan.” Tahun 1900, Walt Whitman menggaungkan sentiment ini, “Camerado! Ini bukan buku. Siapa yang menyentuhnya berarti menyentuh manusia.”

Thomas Jefferson mengusulkan skema klasifikasi yang diadaptasi dari The Advancement of Learning karya Francis Bacon, “Buku diatur berdasarkan kategori luas, yaitu Kenangan, Nalar, dan Imajinasi, pembagian puitis yang ingin sekali kulihat di toko-toko buku zaman sekarang. Mungkin butuh waktu yang lama untuk mencari, tetapi dalam pencarian, tak ada yang tahu apa yang mungkin ditemukan.”

Buku-buku yang ‘mungkin tidak akan pernah kita lihat seumur hidup’ bukan sekadar objek indah, dan keadaan fisik mereka entah bagaimana membuat isi mereka lebih bermakna. Artefak fisik menyimpan kenangan dan makna, dan ini tidak hanya berlaku untuk teks sejarah yang penting, namun juga untuk buku anak-anak berharga. Duduk di perpustakaan, dikelilingi rak-rak tinggi berisi buku, aku merasa sejarah ilmu pengetahuan yang sangat kaya sebagai sesuatu yang nyata, yang rendah hati sekaligus menginspirasi.

Ide Nietzsche, jika suatu hukum atau sistem dipandang tidak adil, maka untuk meruntuhkannya, atau menentangnya tidaklah salah.

Buku ini kubeli 22.12.12 dan butuh waktu lama untuk menuntaskannya. Kubaca tersendat hingga lima bab lalu trerlupakan, baru 02.04.21 lalu kutemukan di rak dan teringat penundaan itu, maka langsung kubaca ulang. Kumulai baca di Yogya Departemen Store, Karawang saat menjadi sopir keluarga belanja, duduk santuy di kursi dengan meja kosong sebuah dealer mobil dekat lift. Nyaman sekali, dengan memakai earphone. Kulanjutkan beberapa hari kemudian di rumah, tuntas saat lagi-lagi jadi sopir ke Depok antar keluarga arisan, seperti biasa menyendiri di sebuah Masjid. Hufh…

Bagaimana dengan tanggung jawab etika?

Allison Hoover Bartlett telah menulis dalam banyak topic, termasuk mengenai perjalanan, seni, ilmu pengetahuan, dan pendidikan untuk New York Times, Washington Post, Salon.com, San Francisco Chronicles Magazine, San Francisco Magazine, dan media lainnya. Artikelnya tentang John Gilkey dimaukkan dalam Best American Crime Reporting 2007. Ini adalah buku pertama beliau yang kubaca.

Penutup catatan ini, sama seperti penutup buku ini. kuketik ulang persis.

Buku ini milikku seorang / Karena hanya namaku yang tercanang / Kalau kau ingin coba-coba mencuri buku ini / Kau akan kucekik dan kuangkat tinggi-timggi. / Dan setelah itu burung gagak akan berkumpul / Untuk menyerangmu dan memaksamu bergumul. / Dan ketika kau menjerit “Aduh, aduh, aduh!” / Ingatlah, kau pantas mendapatkan nestapa itu. – Peringatan yang ditulis oleh Penyalin Jerman abad Pertengahan.

The Man Who Loved Books Too Much | by Allison Hoover Bartlett | Diterjemahkan dari The Man Who Loved Books Too Much: The True Story of a Thief, a Detective, and a World of Literary Obsession | Copyright 2009 | Penerjemah Lulu Fitri Rahman | Editor Indradya Susanto Putra | Cetakan 1, April 2010 | Penerbit Pustaka Alvabet | Tata letak sampul Priyanto | Tata letak isi Dadang Kusmana | Cet. 1 | 300 hlm. 13 x 20 cm | ISBN 978-979-3064-81-9 | Skor: 3.5/5

Untuk John, Julian, dan Sonja

Karawang, 090521 – Madeleine Peyroux – Dance Me to the End of Love

#30HariMenulis #ReviewBuku #14 #Juli2021

Satu komentar di “The Man Who Loved Books Too Much #14

  1. Ping balik: #Mei2021 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s