Shikisai o Motanai Tazaki Tsukuru to, Kare no Junrei no Toshi #12


Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya by Haruki Murakami


“… Kalau bisa menemukan objek yang terbatas, yang secara khusus menarik perhatian dalam hidup kita, bukankah pantas dikatakan sudah mencapai suatu titik yang bermakna?”


Tentang persahabatan lima anak sekolah yang selepas lulus ambyar sebagian. Wajar dan sangat manusiawi. Namun karena ini ditulis oleh Haruki Murakami maka plot yang biasa menjadi luar biasa. Dengan balutan fantasi, mimpi dan keadaan tak sadar sehingga jiwa bisa seolah masuk ke dimensi lain. Kisah ini menyelingkupi keempatnya, memaafkan dan melepas hal-hal yang mengganjal menjadi begitu dominan. Ikhlas dan segalanya biarkan berjalan semestinya. Ia tak bisa terus menunggu sampai seseorang menelponnya sembari merangkul perasaannya yang kacau.


Adalah Tazaki Tsukuru, pekeja kereta api di Tokyo yang pendiam dan suka merenung. Khas tokoh idola Murakami. Ia menjalani rutinitas seorang pekerja lulusan teknik dengan dedikasi mumpuni, tak banyak tingkah, menjalaninya dengan lapang dan lempeng. “Kurasa, aku sendirian. Tapi tidak begitu kesepian. Tepatnya aku merasa itu hal yang wajar.” Ia lalu mengingat teman-teman masa sekolahnya di Nagayo. Pintu dibanting persis di depan hidungku dan aku tak boleh masuk lagi. seperti kata Voltaire, “Pemikiran seperti jenggot. Tidak tumbuh sebelum dewasa.”


Koran memuat survey bahwa kira-kira separuh dari umat manusia tak puas dengan namanya sendiri. Dari keempatnya, hanya Tazaki yang tidak mengandung unsur warna dalam namanya. Teman-teman akrab tersebut adalah Ao, Aka, Shiro, dan Kuro (Biru, Merah, Putih, dan Hitam). Ia lalu bercerita terhadap kenalannnya Haida (yang juga berarti warna gray), menjadi teman akrabnya di masa kuliah. Seolah cocok di banyak hal, music, renang, buku. Dari Haida kita mengetahui musisi aneh jazz bernama Midorikawa (yang bisa berarti warna hijau). Musisi berbakat yang bisa melihat kematian atau dimensi lain, sejenis token kematian yang ia terima.


Namun ternyata Haida pun pergi juga, ia meninggalkan kotak tahun ziarah. Temannya hilang tak terhubung. Oiya, Tazaki akhirnya diputus hubungan dengan teman-teman sekolahnya tanpa tahu sebabnya. Semua temannya, saat ia mudik tak mau bertemu. Seolah ia melakukan dosa besar tak termaafkan. Sulit sekali menerima kenyataan itu, tapi pada dasarnya Tazaki memang pendiam dan tak banyak complain, waktu terus berjalan.


Pacarnya Sara Kimoto yang gaul, suka perjalanan ke luar negeri dan lebih liberal membantu banyak hal. Karena pergaulan itulah, ia yang lebih terbuka akan teknologi, lalu membantu Tazaki untuk melacak keempat temannya. Era sudah canggih man, pakai google dan facebook, dari Sara tokoh kita mengetahui letak dan update kabarnya. Maka ia mengambil waktu istirahat, pulang kampung dan mencari tahu sahabat-sahabat lamanya. Setelah waktu berlalu dan guncangan awal sedikit mereda. Bukankah kamu bisa melakukan sesuatu? “Mungkin aku takut mencari tahu penyebabnya dan menghadapi fakta yang akan disingkapkan dengan terang benderang di situ.”


Mencengangkan, ada yang meninggal, ada yang jadi trainer sukses tapi dibenci banyak orang, ada yang kerja di dealer kendaraan, dan satunya bahkan di luar negeri. Sampai di bagian ini segalanya menjadi lebih menarik dan membuka banyak hal, sebab kenapa ia dikucilkan dijelaskan dengan gamblang dan membuat marah. Adegan di Finlandia benar-benar hebat, tenang dan enak sekali dinikmati pelan-pelan. Lalu memandangi riak anggur itu selama beberapa saat. Seakan-akan sedang meramal nasib seseorang. Kemarahan dan kekesalan membuncah, tapi teredam. Semuanya sudah terlambat. Waktu melindas segalanya. “Kekuatan yang kebetulan timbul di suatu tempat. Sesuatu yang tak kan bisa dibuat ulang.”


Sejarah tidak bisa dihapus, tidak bisa juga diciptakan kembali. Sama saja membunuh keberadaanmu. Banyak kata puitik disajikan. Istilah somnambulis, seperti orang mati yang belum sadar bahwa dia sudah mati, Kehampaan yang menjelma awan pekat dan berpusar-pusar, yang terdengar adalah keheningan dalam yang menindas gendang telinga. Terdeteksi getar halus rasa sedih dan marah dalam nada suaranya. Keren-keren ya, khas Murakami. “…Bagaimanapun peristiwa itu terjadi jauh di masa silam dan sudah tenggelam sampai di dasar.”


Suara air mengalir, hawa yang ditimbulkan oleh sinar yang turun melalui celah awan, atau warna-warni bunga setiap musim, semua terasa berbeda dibanding dulu. Atau terasa seperti segalanya diciptakan kembali sebagai hal-hal baru.


Novel yang khas Murakami, saat di dunia ini, maksudnya saat kita ada dalam kehidupan ini plot digerakkan dengan normal tanpa banyak unsur aneh-aneh. Saat kita diajak kea lam mimpi, dimensi antah itu kita melalangbuana liar. Bahwa dua dunia itu ada garisnya, sesekali bersentuhan dan membuat kita turut bingung dan merasa memasuki labirin tak berbatas.


Karakter utama juga sudah akrab dengan pembaca Murakami, hampir semua yang sudah kubaca adalah ejawantah sang Penulis. Pendiam, penggemar musik terutama jazz, pembaca buku, seorang introvert yang memiliki pemikiran tak aneh-aneh tapi justru mengalami banyak hal aneh. Plot digerakkan dengan lambat, manusiawi dan seadanya. Musik yang tenang dan penuh kesedihan.


Eksekusi endingnya sangat tenang, dengan danau yang tenang di daratan jauh sekali dari Jepang. Menjadikan keadaan terbuka untuk banyak hal, tapi tetap saja Murakami mengeksekusinya dengan sangat tenang tak meluap-luap. Sastra banget, dan karenanya saya suka.
Saya baca hampir bersamaan dengan ‘Seni Menulis’ yang memberitahukan kehidupan beliau menjadi penulis dan latar belakang keluarga. Anak tunggal, ayahnya pergi perang, dan segala yang mirip sekali dengan Tazaki. Begitupun, saya juga baca hampir bersamaan dengan ‘Kronik Burung Pegas’ yang memberitahu kita kemiripan banyak sekali hal. Memang kisah-kisah
Murakami sangat membumi di satu sisi, dan meliar di sisi lain. Dua dunia dengan garis tegas, yang lantas dibenturkan.
Selalu mendengarkan musik klasik, gemar membaca buku-buku yang tak dibaca kebanyakan orang. Hampir tak punya kemampuan menghasilkan uang dan sebagain besar uang yang dia hasilkan pun dihabiskan untuk membeli buku atau piringan hitam. Ingatan dapat dengan lihai disembunyikan atau dengan rapi ditenggelamkan sampai dasar, sejarah yang diciptakan tidak dapat dihapus. Pulang ke rumah masing-masing. Tenggelam dalam pikiran masing-masing.


Endingnya saat tahu Sara melakukan hal yang tak disukanya menjadi semacam kepahitan. Tsukuru Tazaki mendambakan seorang perempuan dengan sepenuh hati. Tak jelas siapa perempuan itu, dia sekadar entitas. Namun ending menggantung apakah saat hari yang ditentukan akhirnya sampai mereka bersatu?


Tsukuru Tazaki Tanpa Warna dan Tahun Ziarahnya | by Haruki Murakami | Judul asli Shikisai o Motanai Tazaki Tsukuru to, Kare no Junrei no Toshi | Copyright 2018 | The Sakai Agency | KPG 59 18 01503 | Penerbit Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) | Januari 2018 | Cetakan keempat, Maret 2021 | Penerjemah Ribeka Ota | Penyunting Wendoko, Ining ISaiyas | Perancang sampul Leopold Adi Surya | Penataletak Landi A. Handwiko | iv + 345 hlm.; 13.5 x 20 cm | ISBN 978-602-424-836-9 | Skor: 5/5


Karawang, 050621 –120721 – Dusty Springfield – The Look of Love


Paket Haruki Murakami dipersembahkan oleh FOC700k. Thx to Mr Pirlo Squad: Huang, Sahala, Safin, Arifin, Bagas, Hafis, Jackie.

30HariMenulis #ReviewBuku #12 #Juli2021

2 komentar di “Shikisai o Motanai Tazaki Tsukuru to, Kare no Junrei no Toshi #12

  1. Ping balik: #Mei2021 Baca | Lazione Budy

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s