Q & A #30


Semua hal-hal menakutkan itu berasal dari pikiran. Jadi, buat semuanya lebih mudah atau berhenti memikirkannya.”


Finally sampai di angka 30. Hufh… melelahkan sekali. Event Juni terhenti tanggal 9, tanggal 10 terpapar corona dan harus rawat isoman, baru di tanggal 10 Juli kulanjutkan. Walaupun
Juli ada 31 hari, saya tetap lakukan #30HariMenulis sahaja, dan berhasil mengulas 15 buku lokal dan 15 buku terjemahan. Lega…


Sherina. Nama yang eksotis kala disebut atau diketik. Menggema dalam telinga, gaungnya membuat hatiku bergetar. Ini Sherina yang lain. Sherina Salsabila, saya mengenalnya di dunia maya, berteman, berkomentar, saling sapa dan diskusi sejak masa ia sekolah. Sampai akhirnya lulus dan menentukan nasibnya melanjutkan pendidikan di mana, Turki menjadi opsi ideal. Dan setelahnya mulai menyepi dalam bertegur sapa.
Ini semacam catatan sekolah kelas 12, atau kalau zaman kita kelas 3 SMA sederajat. Jelas sekali berdasarkan kisah nyata, pengalaman pribadi Sherina yang dituangkan dalam jurnal lalu dituangkan lagi dalam novel. Aku kesulitan mengingat hal-hal sederhana maupun detail dalam jangka waktu panjang, maka aku harus buru-buru memindahkannya ke dalam jurnal sebelum terlupa. Tak masalah, justru terasa nyata. Masalahnya hanya, konflik yang disodorkan sangat lemah, atau malah bisa dibilang nyaris tak ada yang krusial.


Kisahnya tentang Qeenan dan Azaleya. Jelas merujuk pada judul yang plesetan Question and Answer. Azaleya atau akrab dipanggil Ale adalah penulis remaja, bukunya menyebar dan best seller, ia adalah kebanggaan sekolah maka beberapa kali mendapat dispensasi masuk sekolah, malah nyaman sebab ia mengingin home schooling yang tak direstui. Maka sekolah kelas 12 ini bak terpaksa. Tahu, apa yang akhirnya nanti membuatnya tak menyesal sekolah? Tentu saja cinta, tema yang umum dan manusiawi, dan sangat wajar untuk remaja.


Karakter Ale sendiri tampak unik, ideal, atau bahkan malah terlihat sempurna. Keanehan yang ditampilkan masih wajar kok. “Aku terlalu banyak berpikir dan mengoceh sendiri di dalam kepalaku seharian ini. Ditambah lagi waktu tidur siangku yang tersita karena hal-hal tidak penting dan menyebalkan.” Banyak remaja melakukannya. Sebal akan hal-hal yang bagi kebanyakan orangtua, terdengar sepele.


Teman-teman sekolahnya juga update, generasi milenial dengan nama-nama bagus, bukan Indonesia banget. Referensi nama sudah jauh terlempar ke Barat. Arin, Qeenan, Frista, Reezi, Tiaz, Angie, Enrico, Dave, Way, Rangga, Firyal, dst. Tak ada nama budi, anto, tuti, agus, asep. Nama-nama guru mungkin masih nama-nama Indonesia zaman dulu semisal Bu Nunuk, tapi tetap saja pemilihan nama yang mungkin sepele, akan tampak bombastis.


Nah, Ale jatuh hati sama Qeenan. Aku menangis untuk kebodohanku, untuk ketidakberdayaanku, untuk hari-hari sekolah yang tak pernah membuatku betah. Namun sejak jatuh hati, ia jadi bersemangat. Beberapa masalah terjadi, dan masih sangat wajar. Pening mengerjakan tugas, berbagi makanan, dan mungkin yang paling parah adalah pencurian HP, bukan android abal-abal merek China, tapi Iphone gaes. Jumat pagi itu kebetulan Ale datang terlambat, dan pelajaran jalan sehat. Ia santuy saja masuk kelas, dan ia berada di TKP. Sempat muntah dan dibawa ke UKS, lalu dituduh, nyatanya malah jadi saksi penting.


Ale terbiasa menulis banyak hal sederhana yang terjadi di sekeliling dalam jurnal. Curhat yang terstruktur. Maka saat ia menyobek dan hilang, ia was-was. Sobekan kertas yang dibaca Qeenan adalah sobekan kertas jurnalku yang kucari kemana-mana. oke, itu hiperbola. Tapi aku sungguh panik kala itu. Semuanya begitu gamblang aku tuliskan di sana. Ya, siapa yang tak panik orang yang dicinta membaca curhatan? Jantungku benar-benar berdebar, tapi debar kali ini berbeda. Tidak menyakitkan dan membuat perasaanku gelisah sedikit pun.


Walaupun itu hanya latihan, aku menyelesaikannya dengan baik. Qeenan adalah anak orang kaya, ia berniat lanjut ke Angkatan Udara. Lari jadi kebutuhan, futsal jadi hobi, tampak istimewa, mungkin juga tinggi, tampan, dan cool (bayangkan aktor Korea). Semacam itulah. Dari Qeenan, Ale memutuskan, kalau lari bisa membuat tubuh dan pikiran menjadi lebih sehat, aku jadi semangat membuat jadwal latihan fisik di dalam jurnalku.


Karakter cool ini tentu saja banyak yang naksir. “… Definisi bahagia kita kan berbeda.” Pada akhirnya Ale patah hati dalam adegan batagor. Ah dunia remaja yang absurd, walaupun kalau kita ditempatkan di usia yang sama akan melakukan hal yang sama. Menangis karena cinta, menangis karena patah hati. Sedih di semua usia itu wajar kok.


Banyak hal terasa umum. “Karena dia memanggil ‘kamu’ kepadaku, maka aku harus ber’aku-kamu’juga. Iya’kan?” pengalaman saya pas awal merantau, lu-gue dan kamu-aku ternyata bisa membuat persepsi lain dalam hubungan.


Nostalgia cara mengerjakan soal: Diketahui, Ditanya, Dijawab. Ya ampun sudah lama sekali saya tak membaca tulisan macam ini. kirain zaman berubah, cara mengerjakan soal juga makin canggih, ternyata pola menjawab soal jenis ini masih berlaku.


Yang tak mungkin kita temui saat dulu sekolah jelas adalah gadget. HP mengubah banyak hal, teknologi tak dipungkiri membuat kemudahan yang luar biasa. Grup line, ‘Istri Pejabat’. Contohnya hal macam itu tak akan terjadi tahun 1990-an. Mencari keterangan teman, dulu bak detektif langsung ketemu, mengintip, buka catatan, ah kuno sekali. Membuka-buka sosmed seseorang mencari data dan keterangan, seolah agen FBI. Pokonya HP-lah benda paling mujarab untuk banyak sekali hubungan, sosial, politik, budaya, agama, dan tentu saja pendidikan.


Tema yang lumayan bagus sebenarnya ada di perisak, atau lebih dikenal dengan bullying. Ada teman Ale yang kena bully dengan kata-kata kasar. “Sejak SD kayaknya. Awalnya sedih banget, rasanya aku orang paling menyedihkan. Tapi lama-lama ya terbiasa, lagian mereka juga pasti bakal capek sendiri. Dan ya gitu deh. Aku udah gak masukin hati lagi ejek-ejekan itu.”


Menikmati proses atau perjalanan pulang pergi sekolah itu bagus. Apalagi pagi yang cerah menghirup udara sejuk. “Karena di sepanjang jalan kau bisa terus menerus menatap langit yang berubah menjadi terang perlahan. Menghasilkan gradasi warna yang penuh estetika.” Bukan hanya untuk anak sekolah, kita juga harus menikmati proses itu.


Novel ini kubeli saat ulang tahunnya ke 20, Desember lalu. Saat mengajak Hermione jalan-jalan ke Gramedia Karawang menonton buku. Tak butuh waktu lama membacanya, hanya saja ketumpuk sama antrian lain, pending hingga bulan ketiga. Karena memang ini kan kisah remaja, cara mencernanya menempatkan diri sebagai anak sekolah yang hingar bingar putih abu-abu, tak perlu berkeluh kesah dan berkerut kening, semuanya mengalir lancar bak aliran sungai yang jernih.


Untuk aku yang pernah begitu bahagia. Untuk jatuh hatiku yang menyenangkan, dan patah hatiku yang amat membingungkan. “Lihat instagram kamu, terus kadang ada yang berkomentar bilang, ‘Wah, keren Ale’, gitu.” Bukankah bisa kita ubah menjadi, buka IG @sheracroft lalu bilang, “Wah, keren Sher!”


Q & A | by Sherina Salsabila | Editor Dono Salim (@domo_salimz) | Penata letak Dwi Watini | Penyelaras Tata Letak Tri Indah Marty & Zulfa Hanifah | Pendesain sampul Wilma Prima | Penyelaras Sampul Fahmi Fauzi | Ilustrasi tokoh Wilma Prima | Ilustrasi gambar Freepik.com | Penerbit Moka | Cetakan pertama, 2018 | ISBN 978-602-51993-5-6 | VI + 238 hlm; 13 x 19 cm | Skor: 3.5/5


Karawang, 300721 – Owl City – Mobile Orchestra

30HariMenulis #ReviewBuku #30 #Juli2021

Kritikus Adinan #29


Apakah ini kesalahan saya?” / “Apakah itu bukan kesalahanmu?”


Pengantarnya adalah curhat, Pengarang dan Obsesinya. Senang banget paragraf akhirnya. “Setelah saya berkenalan dengan sastra asing, tahulah saya bahwa salah satu epigram novel Ernest Hemingway, The Sun Also Rises diambil dari salah satu kitab suci, juga mempertanyakan mengapa laut tidak pernah penuh. Itulah obsesi pengarang, yaitu serangkaian pertanyaan yang terus-menerus mendorong pengarang untuk menulis.”

1. Krematorium Itu Untukku

Pembukanya keren sekali, penguburan yang absurd dibuat salah tempat dan menjadi pengandaian perjalanan manusia yang fana ini.tien bilang penguburan ayah Corrie akan dilakukan jam sepuluh, dan si Aku sudah menunggu lama tak kunjung datang.
Dan akhir yang sedih disajikan, lewat pertanyaan kepada anak-anak yang mencoba memberi petunjuk di tanah asing untuk jalan melintas agar dekat. Maya dan nyata tampak kabur sebab pembakaran mayat itu sejatinya bukan hanya untuk ayah Corrie.


Lho Tien, mengapa kamu sekarang mendadak ubanan? Mengapa kamu sekarang mendadak kelihatan tua sekali?”

2. Penyair Besar, Penyair Kecil

Riwayat penulis/penyair memang berbeda-beda, pengalaman dan perjalanan hidup manusia. Ada yang sukses, banyak yang gagal. Termasuk penyair, bagaimana mencipta karya, mencoba mempublikasikannya, hingga efeknya apakah jadi terkenal atau tenggelam. Kali ini pertemuan dua penyair besar dan kecil, yang saling silang memberi petuah. Namun saat penyair besar mendengar pembacaan sajak, ia memberi banyak koreksi atau beberapa kutipan dari beberapa sajak terkenal yang dicatut.


Indah. Sajakku ini sangat indah. Ketika kukirimkan ke Horison, ditolak. Semua orang-orang Horison rupanya goblok…”

3. Sahabat Saya Bruce

Bruce Allender yang aneh, sahabat saya. Mahasiswa yang tak menggunakan asrama selama kuliah, tapi justru menyewa rumah dengan biaya mahal. Sahabat perempuannya Milann yang awalnya dikira kekasih, tenyata hanya teman. Dan dalam perjalanan, justru Milann jatuh hati padaku. Namun tak segamblang itu, sebab mereka berdua menghilang.


Rupanya dia jatuh cinta padamu. Beberapa hari yang lalu dia mengajak saya berenang di sini, dan dia menanyakan bermacam-macam hal mengenai kau.”

4. Kritikus Adinan

Mirip The Trial-nya Franz Kafka. Warga yang tak bersalah, tak tahu kenapa dipanggil ke Pengadilan, mengikuti prosesnya dengan absurd, seolah segalanya menentang dan mengoloknya. Keadaan yang dikira sederhana menjelma pelik.


Kritikus Adinan adalah namanya, ia mendapat undangan ke pengadilan. Sebagai orang yang mencoba selalu mencoba berbuat benar, ia berangkat di pagi hari yang ditentukan. Lalu segalanya berjalan dengan sangat aneh, semakin dalam semakin aneh, dan terlampau aneh untuk ditelaah. Karena itu, Kritikus Adinan melepaskan niatnya untuk menyadap kata-kata dari dalam.


Baru sekali inilah ada cecak masuk ke laci ini.”

5. Secarik Kertas

Prajurit rendahan dipanggil langsung jenderal untuk menghadap. Prajurit yang katanya setia, terpercaya, dan cakap itu lalu ditanya ‘Untuk apakah kau ikut perang?” Ia tak tahu alasan sebenarnya perang, ia hanya melakukan tugas dan mencari pekerjaan di zaman sekarang sulit. Lalu sang Jenderal memberi tugas dengan secarik kertas. Tugas yang mengantar kepada kematian.


Dia menganggap saya kebal peluru.”

6. Laki-laki Setengah Umur

Ini semacam renungan hidup, menikmati masa yang sudah lewat, dan berjalan menyaksi keadaan sekeliling. Melihat orang menangis, menyaksi rumah yang mirip dengan miliknya, melihat orang buta, perempuan kurus, dan seterusnya. Janggal dan ganjil semua dialognya.


Tunggu, Laki-laki setengah umur, omongan saya belum selesai.”

7. Laki-laki Lain

Perbandingan suami-istri. Saling silang melihat perubahan dari awal menikah dan kini sudah menua. Seolah mendengar dan memahami, tapi nyatanya tak sejelas itu, ini pembunuhan, ini adalah tikaman pisau, yang tak disangka.


Bodoh benar, kau. Kau tadi berusaha mengingat-ingat rupa saya, dan inilah hadiahnya.”

8. Dua Laki-laki

Ini bisa jadi yang terbaik kedua setelah cerpen yang ada di judul buku. Perjalan kereta api menuju kota K yang akan turun di Kota M, kejadian di luar menjadi absurd sebab dengan persepsi berbeda dua laki-laki: Laki-laki Berbaju Hitam dan Laki-laki Berbaju Putih. Mereka menyaksikan mobil dan pesawat yang dianggap sedang ditumpangi presiden. Lalu saat kecelakaan terjadi, apakah benar presiden mati? Fakta atau fiksi jadi kabur, tak mungkin kan presiden ada dua bersamaan dalam kendaraan yang berbeda?


Siapakah yang naik pesawat terbang?”

8. Salipan

Salipan si kutu buku, ia mencium kertas dan menikmati baunya. Sang pemilik toko buku sudah kenal dekat, maka ia kenal pula pengarang Tontowi. Ini tentang selingkuh dan akibat pikat setelahnya. Antara Tontowi, Salipan, dan istri Salipan. Gemuruh air, asap rokok, dan kepul yang menggelegar.


Saya tahu apa yang ada di dalam.”

10. Bambang Subali Budiman

Ini perjalanan dari Krian ke Trowulan. Saat menginap, namanya tercantum dengan gelar ganda: doktorandus ekonomi sarjana hukum. Perjalanan orang penting ini menjadi tak mudah tercerna sebab frasa tumpang tindih. Sentilan, lebih gampang cari dokter umum daripada tukang tambal ban membuat kita berkerut benarkan lulusan kedokteran di Indonesia sudah melimpah? Tulisan dibuat tahun 1979 di Bloomington.


Janganlah mengingat-ingat saya pada hal yang bukan-bukan. Menakutkan. Usahakanlah supaya saya melupakannya.”

11. Senapan

Lelaki tua mendapat tamu seorang serdadu, satu-satunya anak lelakinya pergi berperang dan dianggap mati. Maka ini seperti pengobat rindu. Dan bergulirnya waktu, lelaki tua mencintai senapan yang dibawa sang serdadu, bahkan ia menginginkannya melebihi apapun. Tanah akan saya jual sekarang juga, dengan harga berapa saja, untuk membeli senapan.


Lihatlah betapa pandir wajah Laki-laki Tua, dan betapa canggung gerakan-gerakannya.”

12. Tiga Laki-laki Terhormat

Suami yang marah sepulang kerja melihat istri tampak bermalas-malasan di rumah. Namun sejatinya itu hanya pemicu sampingan, pertengkaran sejatinya adalah sebab tak punya anak dan saling tuduh mandul. Sampai sumpah serapah kematian yang benar terjadi, sang suami mati dan ia menyandang status janda. Lantas ketika ia benar-benar mengandung, anak siapakah dia? Tiga lelaki terhormat memperdebat dan mengklaim, dengan hati bangga sekaligus kecut takut ketahuan istri sahnya.


Berdebatlah terus.”

13. Potret itu, Gelas itu, Pakaian itu

Dan manakah anak perempuan yang memotret dahulu?” Perempuan yang mengundang lelaki di malam hari lewat jendela yang dibuka, lantas memastikan tak ada yang melihat, dan lampu dalam kamar yang remang. Mereka menyaksi beberapa benda. Potret, gelas, pakaian. Makna apa yang terkandung?


Bagi dia, laki-laki tidak bisa bebas dari perempuan, dan perempuan pada dasarnya adalah beban. Eva sengaja diciptakan Tuhan untuk menemani Adam, tapi sekaligus untuk melancarkan wahyu-wahyu setan…”

14. Pengarang Rasman

Pengarang Rasman meninggal mendadak, padahal ia sehat wal afiat. Seorang yang rendah hati, saat ia menghadiri acara pembukaan di kebun sama walikota, ia tak mau duduk di depan. Kata-katanya sering dikutip dan ditelaah wartawan. Seperti kalimat, “Maaf, saya tidak memiliki pendapat.” Bisa diartikan banyak hal. Maka saat ia ditunjuk juri dan memiliki kekebasan menentukan, ia pasif saja. Wong kalem tenan.


Ketahuilah, masalah kebun kacang hanya masalah permukaan…”

15. Manusia yang Berdosa

Gumirin dan malaikat maut berdiskusi. Kematian istrinya Jumirah membuatnya luluh lantak, ia mencintainya sepenuh hati. Ia tak cantik, pincang, miskin, dan setelah menikah tahulah ia bahwa istrinya mandul. Yah, Gumirin juga, masing-masing mereka tak beruntung. Maka dipersatukan mencipta hal lain. Ini kisah semaksimaldih maksimal.


Dengan mendadak kamu mengunjungi saya, Malaikat. Apa sebenarnya dosa saya? Sejak kecil saya selalu berusaha berbuat baik.”


Ini adalah buku kedua Bung Budi Darma yang kubaca setelah Rafillus yang absurd itu. Langsung jadi penulis idola, tampak unik dan luar biasa aneh. Kumpulan cerpen ini sama absurd-nya dengan Rafillus, tokoh-tokohnya tak biasa. Nama-nama juga nyeleneh. Dilengkapi ilustrasi ciamik di tiap cerita, rasanya memang pantas kukasih nilai sempurna.
Rasanya buku-buku Bung Budi Darma hanya masalah waktu untuk dikoleksi, salah satu penulis besar tanah air.

Apalagi kabar terbaru buku Orang-Orang Bloomington kini sudah diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh Penguins. Orang Indonesia pertama yang berhasil melakukannya. Kritikus Adinan rasanya hanya masalah waktu pula untuk mensejajarkan diri.


Kritikus Adinan | by Budi Darma | Cetakan pertama, Mei 2017 | Penyunting Adham T. Fusama | Ilustrasi isi Agung Budi | Perancang & ilustrasi sampul Nocturvis | Pemeriksa aksara Pritameani | Penata aksara Martin Buczer | Penerbit Bentang | Pernah terbit dengan judul Laki-laki Lain dalam Secarik Surat pada 2008 | xiv + 274 hlm.; 20.5 cm | ISBN 978-602-291-389-4 | Skor: 5/5


Karawang, 290721 – Linkin Park – Numb

30HariMenulis #ReviewBuku #29 #Juli2021

Luka Batu #28


Jimat kau tubuhku, kau jiwaku, kau hidupku. Takkan pernah kubiarkan apapun terjadi padamu. Aku ibumu akan tetap berada di sini.”


Kumpulan cerpen yang bagus. Kisahnya berkutat di Bali, tempat sang penulis tinggal dan dibesarkan. Kebanyakan dari kita memang paling nyaman menulis tentang hidup kita dan sekeliling kita, jadi seolah dituturkan langsung dari pengalaman hidup. Relevan dan masuk akal, sebab akan tampak aneh dan tak berlogika jika kita yang lahir dan besar di Indonesia bercerita tentang dinginnya salju negeri Swiss misalnya.
18 cerpen yang sebagian besar sudah dipublikasikan di media massa.

1. Sebuah Pohon dan Mereka yang Mau Bercerita

Unik, saksi pembunuhan/pengeroyokan preman yang berakhir kematian itu adalah pohon dan benda-benda di sekitar. Pertama menjadi pohon, lalu bensin yang digunakan untuk membakar orang, lalu aku adalah rumah, lalu aku adalah perempuan, istri korban, dan terakhir aku adalah Sindy. Ia adalah korban, dibakar hidup-hidup sebab melakukan perlawanan terhadap preman lokal. Dan terakhir kembali menjadi pohon, saksi bisu tragedi yang terjadi.


Kuatkan dirimu. Semoga mereka mendapat hukuman yang sesuai.”

2. Tato di Tubuh Ibu

Membongkar kubur demi mendapatkan bukti. Ibuku dianggap membawa petaka (leteh) sebab di mata mereka ibu membawa aib, bukan perempuan baik-baik. Dan tato itu dijadikan bukti, ditolak dikuburkan di Sentra Gede. Lalu kisah ditarik mundur, semasa muda betapa ibu adalah primadona kampung. Ayahku lah penakluk hatinya. Sampai akhirnya tato itu tak ada, bagaimana bisa?


Ibumu sudah membawa petaka ke desa ini. kita harus membuat cau gede. Kita harus membersihkan desa ini. selama bertahun-tahun tidak pernah ada kejadian seperti ini.”

3. Wasiat Bu Kompyang

Surat wasiat yang misterius, anaknya Gorda adalah pemimpin kelompok media ternama. Maka ia melakukan upacara kematian besar-besaran. Ya perayaan, konon sejatinya makna kematian. Du pekan yang sibuk, pelayat, magebagan, berita tentang Bu Kompyang, dst. Dan permintaan almarhum dalam surat wasiat yang dibacakan saat puncak perayaan pengabenan-pun dilakukan. Semua terdiam, apa gerangan permintaan mendiang?


Ia layak mendapatkannya. Ia istri pendiri pers terbesar di pulau ini. ia juga mantan veteran pejuang. Bukankah ia sungguh layak mendapatkannya?”

4. Perempuan Penembang Ginada

Agak mistis, memang kalau kita bicara tembang banyak hal di luar nalar tersaji. Perempuan pemilik suara itu di Bungkulan, Singaraja. Suara indah bak seruling, mengalun merdu, sekaligus menggetarkan. Dan terjadilah pembunuhan yang seolah kecelakaan. Ketidaksempurnaannya yang juga layak untuk disuarakan mesti tidak lewat keindahan.


Kelak kalau ada yang tahu aku penyebab kematian perempuan itu, kalau ada yang bertanya kenapa, dengan masih setengah mencari-cari aku akan tetap bisa memberi jawabannya…”

5. Lina dan Angsa Taman Kota

Lina yang ganjil, menjadi ganjil amatlah sedikit, tapi ia suka. Lina 19 tahun, patah hati dan ingin melupakan masa lalu. Apa tidak kasihan dengan semua kenangan? Begitulah hati yang luka, sendu. Jika ada cinta kenapa memilih saling melukai? Apa cinta membuat orang gila? Ah kehidupan fana ini…


Karena hidup saya tidak di masa lalu.”

6. Perempuan yang Menikamkan Pisau Itu…

Hikayat Rukmini. Ada laki-laki yang gigih mendekatinya, pertama kali bertemu saat pemakaman ayahnya. Saat ia dirawat di rumah sakit, laki-laki itu dengan setia datang walau perawat melarangnya atas permintaan Rukmini. Luluh juga hatinya, ibunya menangis dan memintanya fokus pada kesembuhannya. Namun segala yang tampak tak seperti yang kita kira.


Bila kau tak segera menghabisinya mungkin kau sendiri yang akan dihabisi lebih dulu. Bergegaslah!”

7. Sajak Tak Selesai dari Penyair Tua

Penyair tua yang membuncah. Menulis sajak dengan muram. Ia menimbang banyak hal. Dia mencoba berhenti, tapi hatinya begitu rindu. Kata jadi kalimat, kalimat jadi baris, baris jadi bait, begitu seterusnya. Pernahkah kau dengar ini, dia kangen dengan kata-kata.


Kelak ketika waktuku habis.”

8. Penari Api

Muda, berbakat, penampilan menarik, hebat. Tak cukup untuk menggapai masa depan sesuai keinginan. Ada beberapa faktor penghalang, adat, adab, dan relung religi. Sadat adalah penari bagus, eh bukan sekadar bagus, ia adalah penari api luar biasa. Namun kekang dan larangan sampai batas apa yang menghalangi keindahan, lepaskan imajimu kawan!


Sadat bukan barang dagangan Pak Ngurah. Ia tidak akan menari lagi. Bapa akan marah sekali bila mendengar hal ini.”

9. Keris

Keinginan mencari uang besar, kalau perlu ke luar negeri. Ni Sagri sang ibu menangis haru, anaknya Putu melalangbuana dengan kapal untuk mencari nafkah. Tidakkah lambaian tangan perpisahan itu adalah juga hal terakhir yang nanti hanya hadir jika ia merindu dan hanya bisa dikenang?
Hidup di nafas yang kental akan aroma mistis dan tidak jarang irasional.

Semangat hidup dan nasib, kemanakah Kau akan membawaku pergi?…

10. Tapakan

Tema skeptis yang menjadi dasar filsafat dibanggakan oleh Marwan, sarjana muda. Mantab bahwa segala yang matang mesti dipertanyakan bahkan dipatahkan dengan pendekatan-pendekatan teoritis. Ia mempertanya banyak hal, termasuk hal gaib yang tak bisa dinalar. Dunia mistis di Bali, dan segala yang terjadi di dimensi lain.


Hidup dengan orang gila adalah hal paling menyedihkan dan menyakitkan. “Apa benar seorang tapakan di desamu begitu sakti? Mampu mengetahui hal-hal di luar jangkauan manusia?”

11. Lelaki Terakhir

Ini tentang masa pembersihan 1965/66 di mana PKI dan segala anteknya dilenyapkan. Desa ini menjadi desa perempuan, desa para janda. Tak ada lelaki sebab mereka yang berhaluan kiri dimatikan. Sujati dengan kebimbangan dan ideology yang dipegang.


Kau masih saja di sini Sujati? Kenapa kau tak lari? Sebentar lagi mereka alan tiba di sini.”

12. Mayat di Simpang Jalan

Lagi-lagi tema larangan menguburkan mayat di suatu pekuburan karena faktor ganjil. Penggotong jenazah dan keluarga dicegat warga, dilarang melakukan penguburan Gusti Ayu Sulastri di situ, padahal ia waga asli dan harusnya berhak. Ya, karena dianggap melanggar adat. Lantas apa solusinya?


Lakukanlah sesuatu. Kau anak laki-laki satu-satunya. Kau saudara tertua…

13. Sosok yang Bercahaya

Jabatan dunia hanyalah sementara, tapi ada prestis dan kebanggan di sana. Ini tentang sosok pemangku, pendeta pemimpin persembahyangan di pura. Barja dan segala keruwetan pikir kelaikan ke sana. Dalam prosesi nganjan, pemilihan pemangku yang lewat orang pintar di mana orang bisa melihat cahaya sekaligus memunculkan cahaya dalam dirinya. Sejak kematian pemangku sebelumnya, desas-desus pengganti muncul. Apakah Barja laik dan akan menjadi pemangku pengganti itu?


Aku percaya Tuhan juga senang dengan orang-orang yang mempersiapkan dirinya secara matang…”

14. Tak Kutemukan Surga Terakhir-Mu

Guru baru di sekolah menengah Kecamatan. Warga ternyata tak memedulikan sosok guru yang memandangnya seolah sosok asing walau coba beradaptasi dan seramah mungkin. Ini tentang Agus Kertasana, sosok pendatang bukan warga asli sebaik apapun kurang disapa ramah. Meniadakan riak kecil yang bisa saja menjadi gelombang. Bersuara sama artinya mencari kesusahan. Seperti langit dan bumi yang menyempit sementara kita berada di dalamnya dalam ukuran kecil. Kecil sekali.


Seperti cita-cita semua orang negeri seberang, ia benar-benar bisa mengakhiri hidup di sini. Di tanah ini!”

15. Suara Kulkul untuk Ratna

Kulkul adalah kentongan tua berbahan kayu jati yang ditempatkan di gardu perempat jalan, akan berbunyi saat salah seorang warga desa melakukan upacara pernikahan. Yang memukulnya hanya tetua desa yang saat itu menjabat. Mengalami masa pernikahan dengan suara kulkul adalah kebanggaan. Ini tentang harga diri, tentang keinginan terpendam lama, tapi terhalang keadaan, hingga akhirnya dengan nekad dilakukan demi orang terkasih. Ratna yang dilematis, dan Sardu yang begitu berani.


Aku bahkan tidak pernah memikirkannya. Bukankah kita menikah karena suka sama suka?”

16. Bila Kapat Lewat

Pekak Rimpig menanti kedua anaknya di atas kursi roda. Wayan Kerug anak pertama dan Nengah Konten diminta melakukan suatu upacara yang dengan kecewa ditolak kedua anaknya karena sedang kesulitan ekonomi. Jawaban yang membuatnya marah, kecewa, dan sungguh memuakkan. Kapat adalag bulan keempat dalam sistem kalender saka. Kapat yang membuat cemas. Pangkal masalahnya hanya satu, karena keluarganya belum menggelar Karya Agung, upacara penyucian yang menelan biaya besar di pura keluarga, Pura Paibon. Upacara yang lama diidam-idamkannya.


“…kalian semua tahu sumbernya, kenapa tidak mencoba menghentikan? Kita bisa menggelarnya di Kedasa nanti. Kita persiapkan dari sekarang.”

17. Lingga dan Yoni

Ini tentang Rahyoni, gadis 55 tahun dan belum menikah dan takkan menikah sebagaimana katanya. Lelaki, baginya tak lebih dari manusia lembek yang mencoba mengambil keuntungan dari perempuan. Dan tak ada lelaki yang pantas bersanding dengannya. Sah-sah saja punya prinsip itu, yang buruk adalah melarang perempuan lain menikah, memberi nasehat panjang lebar betapa menikah itu merugikan kaum perempuan. Ah dunia yang misterius, termasuk para penghuninya.


Sudah kubilang, hidupmu tidak akan bahagia bila menikah dengannya. Kau tetap saja bandel.”

18. Bade untuk Betara

Pembuat bade paling keren di daerah itu adalah Wayan Sogra, pengalaman dan pengabdiannya tak terbantahkan. Satu-satunya murid langsung Dewa Agung Jambe yang masih hidup. Maka sungguh aneh saat orang penting Ratu Betara meninggal dunia, Wayan Kayun abdi setia puri tak menggunakan jasanya, justru memanggil Ketut Raka, pembuat peralatan upacara ngaben yang asing di telinga, dan masih muda. Walau persiapannya agak rumit dan menimbulkan gonjang-ganjing, ternyata upacara itu berjalan meriah. Sogra yang tak dilibatkan merasa terganggu. Oh, sudah berakhirkamasanyah masanya?


Aku pembuat bade, bukan dagang! Aku pembuat bade! Dengan cinta, dengan pengabdian, dengan ketulusan!”


Buku ini kubaca tuntas di RS Mitra Family Karawang pada 1-2 Mei 2021 saat menemani Hermione dirawat inap. Buku pertama dari Komang Adnyana yang kubaca. Kelahiran Gunaksa, Klungkung, 15 Februari 1985. Lulusan sastra Inggris, fakultas Sastra Universitas Udayana. Buku kumpulan cerpen pertamanya dalam Bahasa Bali berjudul Metek Bintang memenangkan hadiah Sastera Rancage 2012. Bagus sekali kumpulan cerita pendek yang mengisah segala hal Bali.


Ku mau terbang dna tenggelam…


Luka Batu | by Komang Adnyana | ISBN 978-623-7220-59-6 | Pewajahan sampul Herry Sucahya | Pewajahan isi Manik Sukadana | Penerbit Mahima Institute Indonesia (Bali) | email: mahima_institute@yahoo.com | Cetakan pertama, Agustus 2020 | Skor: 4.5/5


Jika batu saja bisa terluka, apalagi hidup…


Karawang, 040621 – 230721 – 280721 – Peter Cincotti, David Finck, Kenny Washington – Sway

30HariMenulis #ReviewBuku #28 #Juli2021

Mati Bahagia #27


Percayalah, tidak akan ada kesedihan, penyesalan, atau kenangan. Semua akan terlupakan, bahkan cinta sejati. Itulah sedih dan senangnya hidup. Hanya ada satu cara untuk menyingkapi hal-hal yang kau jumpai dalam hdup, dan kadang kau menyadarinya. Cinta adalah keinginan yang menyengsarakan, tapi jangan pernah berpikir kalau cinta tak berguna. Paling tidak dengan mencintai kau punya sedikit dalih untuk keputusasaan tanpa alasan yang diderita oleh semua manusia.”


Mencintai hidup berarti menjalani hidup yang mempesona dan tak terkendali. Kisahnya mendayu-dayu. Tentang hidup dan pilihan yang tersaji. Dibuka dengan menghentak, pembunuhan yang dilakukan oleh Patrice Mersault, nama akrab dalam Orang Aneh ini menjadi seolah antagonis. Ia membunuh sobatnya Zegreus di vilanya dengan menembak jarak dekat di hari minggu pagi yang suram.


Namun semua tak seperti yang kita duga, ‘pembunuhan’ itu sudah dirancang oleh sang ‘korban’ sebab ia muak akan kondisi hidupnya. Veteran perang yang terluka, satu kakinya diamputasi, mengeluhkan keadaan, mengeluhkan rutinitas, mengeluhkan suasana hati yang memang gundah, intinya mengeluhkan hidup. Saat hidup sudah tak senyaman masa lalu, apa yang bisa diharapkan?


Buku dibagi dalam dua bagian besar, dipecah bab. Dibumbui pengantar oleh Nirwan Dewanto, yang panjang lebar menuturkan pengalamnnya menikmati buku. Lagi-lagi Mersault yang muncul lagi dalam bentuk lain.

1. Mati Wajar

Pusatkanlah keseriusanmu untuk mencapai kebahagiaan. Berjuanglah Mersault kau punya hati yang bersih, berjuanglah. Dan kau masih punya dua kaki yang tentu akan membantumu dalam perjuanganmu.”


Setelah melakukan pembunuhan, Mersault mencoba menjalani hidup sewajar mungkin. Dengan setting Aljazair, negeri yang dimiliki Prancis era itu. Dalam pengembangan kasus Roland Zegreus dianggap bunuh diri, segalanya sudah diatur oleh korban dan pelaku. Maka setelah itu ia berjalan santai pulang, menaruh kopernya dan tidur sampai sore.


Mersault punya kehidupan yang tampak wajar di permukaan, bekerja kantoran, memiliki kekasih, menjalani rutinitas dalam kebahagiaan. Benarkah? Beberapa setting sama dengan Orang Aneh, termasuk karakternya. Celeste sang pemilik restoran contohnya.


Kehidupan asmaranya juga menjadi panas, Marthe yang cantik memberinya kebahagiaan. Namun sesekali ia mengulik masa lalu pacarnya. Lebih dari sepuluh mantan! Dan saat salah satunya mengarah ke Zegreus ia mendidih. Tampak pembunuhan ini menuju ke balas dendam, tapi semakin ke sini justru malah saling mengisi. Mereka sahabat.


Ada hari-hari aku ingin bertukar hidup denganya, tapi kadang-kadang keberanian hidup lebih susah diraih daripada keberanian untuk bunuh diri.

2. Mati Sadar

Mersault memutuskan perubahan radikal dalam hidup, pergi ke Eropa seolah melakukan tur wisata, menikmati suasana kota, kesendirian, kemuraman. Ke Praha tempat lahir banyak legenda, ke Prancis, Belanda, dst. Dalam petualangannya ia bercinta dengan pramulayan Helen, menjadi saksi kejadian mematikan di jalan, hingga rutinitas ke kafe yang sunyi.


Berkorespondensi dengan teman-temannya di Aljazair, mengabarkan keadaan terbaru, dan sejauh melangkah pergi, ia akan kembali ke tempat di mana hatinya tertambat.


Mersault pulang ke Aljazair. Menikah dengan kekasihnya, diceritakan dengan sederhana dan sejalan biasa saja, seolah menikah adalah rutinitas sadar dan sekadar kewajiban. Sebelumnya tinggal beberapa hari dengan sahabat-sahabatnya Rose, Catherine, Claire.


Dirinya sendirilah tuan dari hari-harinya yang akan datang, ia merasakan kesedihan yang biasa datang bersama segala hal hebat. Dan akhirnya tertambat di pedesaan yang sepi dan jauh dari hingar bingar kemeriahan kota. “Andai aku bisa mengulang hidupku, aku sendiri ingin mengulang hidupku, tapi tak akan ada satu apa pun yang akan kuubah di dalamnya. Tentu kau pasti tidak mengerti apa yang aku maksud.”


Keputusan menikah juga bukan sama Marthe, tapi sama salah satu sahabatnya. Tapi harapan sentimental tidaklah bijaksana. Kita hanya perlu hidup dengan cara yang paling mudah untuk kita: tanpa bersusah payah.“Tempat ini tidak baik untukku, Claire, tapi di sini aku bahagia. Aku rasa diriku serasi dengan tempat ini.”


Zaman sekolah saya mendapati nama Bunga honeysuckle dalam buku terjemahan pertama yang kubaca di Perpustakaan Kota Solo, kudapati dalam kisah Balerina unik dalam proses menggapai mimpi. Di sini kutemui lagi kata itu setelah belasan tahun akhirnya nemu. Terdengar biasa, tapi terkenang. Ingatan manusia memang rumit, tak bisa memilah mana yang berhasil bertahan lama atau sekejap hilang. Kemampuan untuk melupakan adalah hanya dimiliki oleh anak-anak, para jenius, dan para manusia berhati murni. Dan Mersault yang memiliki hati murni, dilanda kebahagiaan, yang akhirnya sadar bahwa ia memang tercipta untuk bahagia.


Seperti biasa, Penerbit Oak yang kini sudah tutup menampilkan nomor koleksi. Milikku adalah Koleksi buku nomor Oak 1002. Benar, bisa jadi sepuluh dua puluh tahun lagi buku-buku penerbit Yogya ini akan jadi langka. Laik koleksi, apalagi buku-buku bagus gini.


Mati bahagia, diterbitkan setelah ia meninggal, ditulis ketika masih berusia dua puluhan awal. Terbit tahun 1971, menampilkan nama Mersault lagi, nama tokoh ini tentu saja sudah sangat terkenal dalam Orang Aneh, menjadi pribadi yang unik nan langka. Di sini seolah dihidupkan lagi, dengan sifat dan karakter beda, beberapa mirip dalam perenungan tapi tak radikal dalam menjalani hidup. Hal-hal esensial bagi kebanyakan orang, seperti menikah dijalani dengan datar dan ngalir saja. Hidup menyendiri adalah mutlak untuk jadi karakter utama Camus.


Endingnya sendiri tenang dan mematikan. Bersama sepoi angin, kehidupan rimbun pepohonan, lantas ke pantai bersama debur ombak yang menghanyutkan. Dan seperti judulnya, mati bahagia yang terbagi dalam mati wajar dan mati sadar, ia memutuskan segalanya memang sudah sewajar dan sesadar yang ia ingin. Rasa takut akan kematian yang dulu ia pandang dengan kegugupan seekor binatang, sama dengan rasa takut akan kehidupan.


Bicara takdir dan jalan kehidupan. Takdir tidak ada di dalam manusia, takdir ada di sekeliling manusia. Ia sadar kalau ia sedang menangis. Bicara pengalaman dan harapan. Bagaimanapun, pengalaman yang menarik bagiku hanyalah pengalaman di mana harapanku terkabul. Dan untuk beberapa orang, takdir yang menarik adalah takdir yang dirancang.


Mati Bahagia | by Albert Camus | Copyright OAK, 2016 | Penerbit Oak | Cetakan kedua, Agustus 2016 | diterjemahkan dari edisi bahasa Prancis La mort heureuse, Paris 1971 | Penerjemah Widya Mahardika Putra | Editor Dewi Kharisma Michellia | Grafis sampul Andi Bhatara | Penata letak Hengki Eko Putra | ISBN 978-602-72536-4-3 | 238 hlm.; 13 x 19 cm | Skor: 4.5/5


Karawang, 270721 – Louis Armstrong – The Very Best of Jazz

30HariMenulis #ReviewBuku #27 #Juli2021

The Mummy #26

The Mummy #26


Apakah sorang filsuf akan menimbulkan masalah, Yang Mulia?” / “Lord Rutherford memercayai hal-hal yang abstrak Samir. Dan dia bukan seorang pengecut. Dia menginginkan rahasia untuk hidup selamanya. Dia menyadari realitanya, Samir.”


Kisahnya tentang cinta dan pengorbanan, kerelaan, serta keabadian itu tak segaris lurus dengan kebahagiaan. Relatif, dan perubahan, apapun itu adalah keniscayaan. Termasuk para mumi yang diawetkan lalu berhasil dibangkitkan, perbedaan zaman, perabadan yang sudah sangat usang, manusia jadul itu bangkit di zaman sekarang, lantas apakah mereka bahagia? Jelas belum tentu.


Tema usang cinta diapungkan, dan tak akan bosan. Usang itu hanya beda bentuk dan genre, kali ini mumi gagah nan aneh merindu masa lalu, ia adalah raja di eranya, kini ia hanya rakyat biasa. Ini demokrasi dengan kebebasan individu, maka keputusan membangkitkan kekasihnya tentu saja wajar, walaupun tak selalu sesuai harapan.


Dibagi dalam tiga bagian besar. Di Mesir sebagai pengenalan, di London sebagai penjelasan mau ke arah mana kisah, dan di Mesir lagi sebagai puncak cerita dan penyelesaian. Dibuka dengan sebuah penggalian di Mesir, seorang arkeolog Inggris Lawrence Stratford menemukan mumi yang disinyalir adalah mumi Ramses. Ia melakukan penelitian dan segala hal yang dibutuhkan dengan tim, bersama pula keponakannya Henry. Lalu entah sebab kerakusan, ataukah aura negative makam, ia malah melakukan pembunuhan. Pamannya diracun, tak ada saksi kecuali mumi yang terbaring itu.


Kerajaan Inggris tentu saja membawa penemuan itu ke negaranya, headline surat kabar menohok. “Mumi Stratford berikut kutukannya dibawa ke London.” Lawrence dimakamkan dengan penghormatan. Mumi itu akan ditaruh di museum pemerintahan. Dan tak dinyana, sebelum dibawa ke sana, ia bangkit. Adalah Julie yang mendapati keajaiban itu. Keheningan di antara mereka mulai terasa kurang enak. Henry yang jahat kaget pula, ia mencoba menfitnah saudaranya, tapi seperti air dan minyak, gagasan itu dianggap konyol.


Julie Stratford sudah punya tunangan Alex Rutherford, yang merupakan anak dari Elliot Rutherford, bangsawan sekaligus sahabat ayahnya. Rencana pernikahan mereka terlihat akan runtuh, apalagi akhirnya Julie jatuh hati sama sang mumi yang bangkit, Ramses.


Ramses dengan cepat belajar situasi. Ia bangkit di zaman modern, ia membaca apa saja, mempelajari apa saja, ia tak tidur sebab sudah terlelap ribuan tahun, ia tak perlu makan, sebab dalam masa tenangnya segalanya adalah relatif, memang ia makan dan tidur tapi sebagai pemenuhan iseng saja.


Situasi mencipta rombongan ini harus kembali ke Mesir. Naik kapal, menjelajahi dunia jauh. Ada drama dalam perjalanan, ramuan yang bisa membuat abadi? Ramuan pembangkit? Dan segalanya lalu menggila. “Berdoalah kepada dewa-dewamu, tanyakan pada mereka apa yang harus kaulakukan. Tuhanku hanya akan mengutuk perbuatanmu. Tapi apa pun yang terjadi atas makhluk itu, ada satu hal yang pasti. Kau tak boleh mengolah ramuan itu…”


Ide membangkitkan Cleopatra saja sudah rumit dalam pikiran, apalagi menjadi kenyataan. Ramses mencipta bahaya, cintanya masih melekat walau sudah ada Julie. Keputusan membangunkannya adalah kesalahan. Dan malam itu terjadi tragedi.


Cleopatra bangkit dan suka membunuh. Dengan mudahnya membunuh para penjaga, pengemudi muda yang terpikat, kasir sebuah toko pakaian, dst. Ia memikat lelaki, mengajaknya indehoy, lalu membunuh. Ia juga belajar cepat, menikmati kekuatan abadinya, melakukan tindakan anarki. Kekasihnya bukan kekasihnya yang dulu.


Misi lalu malah berbalik, bagaimana memuskahkan Cleopatra sebelum banyak korban lain terjatuhan. Mereka harus mengesampingkan ego, atau calon korban itu adalah orang-orang terdekat mereka. Pilihan sulit, tapi misi harus dilaksanakan.


Endingnya sendiri memberi gambaran, cinta tak ada yang abadi, tapi harapan dan keinginan yang kuat bisa terwujud selama ada jalan dan kerja keras. Jiah motivasi sekali, hehehe… sejujurnya kisah agak membosankan. Berkutat terus di keluarga ini, beberapa ada kejanggalan. Saat pembunuh orangtuamu diketahui, mengapa mereka pasif? Apakah karena dia masih lingkaran keluarga sehingga dibiarkan? Suatu pikiran aneh bahwa ia dapat meralat seluruh peristiwa ini tiba-tiba melintas dalam dirinya, bahwa ini sekadar suatu dorongan impulsif belaka, bahwa ia dapat memutar mundur waktu dan pamannya hidup kembali.


Ramsey bilang, “Mungkin dalam kematian, aku akan menemukan apa yang ku cari daripada yang layak aku dapatkan. Harapan untuk itu selalu ada. Aku membayangkan surga sebagai perpustakaan yang besar sekali dengan jumlah buku tak terbatas untuk dibaca… dan lukisan serta patung-patung…”


Makanya malah sepakat sama Cleopatra yang sinis, “Tapi bagaimana pun kau insan yang hidup. Muda, sensitif bak sekuntum bunga, namun begitu mudha untuk dipetik.”


Rasa dan karsa yang disajikan bagi mayat yang bangkit terdengar rancu, Ramses yang ingin sekali kekasihnya bangkit, dengan mudahnya berpaling. Ia terlihat sangat kuat, tapi tindakannya turut galau, tak seperti nama besarnya yang tegas dan sigap membunuh. Lalu mengapa mumi bisa menjelma manusia biasa yang perasaan dan pikiran senormal manusia abad 20? Ahhh… fiksi. Bahasa memungkinkan terjadi evolusi pemikiran, yang tidak akan mungkin terwujud melalui sarana lain.


Semua harapan yang dimilikinya sekarang seakan berada di luar jangkauannya. “… Pemahaman yang mencakup segalanya, intelektual kita, keberadaan kita, kalau kau lebih suka itu, tidak menetap terus dalam jasad kita, termangun-mangun berabad-abad sementara tubuh kita membusuk, melainkan pergi entah ke suatu tempat yang lebih baik atau musnah sama sekali…”


Nama Anne Rice sudah kukenal jauh hari, tahun 2000-an saat Sherina Munaf merekomendasikan sebuah buku. Namun era itu mencari buku idaman sulit sekali, baru terealisasikan baca karyanya tahun 2019, dan ini buku keduanya. Incaran utama yang jadi rekomendasi Sher malah belum kesampaian, The Interview With The Vampire.


Kisah cinta dengan balutan mumi bisa jadi menghibur dan pantas disajikan, apapun romansa itu selama cara penyajiannya hebat akan turut nikmat. Dimasak dengan diksi bagus, dibumbui dengan suspence dan thriller, atau ancaman horror. Sah-sah saja, tema cinta yang usang akan tempak lezat bisa diramu dengan pas.


Mencintai dan membenci merupakan inti dari kehidupan itu sendiri. Dan ia memiliki kehidupan itu, berikut semua berkat dan kepedihan. Mereka yang memiliki kodrat hidup abadi, membutuhkan istirahat.


Mumi | by Anne Rice | Diterjemahkan dari The Mummy ot Ramses the Damned | Copyright Anne O’Brien Rice, 1989 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Alih bahasa Kathleen S. W. | Sampul dikerjakan oleh Marcel A.W. | GM 402.00.630 | Maret 2000 | Cetakan kedua, Desember 2000 | 608 hlm.; 18 cm | ISBN 979-655-630-8 | Skor: 3.5/5


Karawang, 260721 – Marcel – Ketika Kau Menyapa

#RIPBuTina

30HariMenulis #ReviewBuku #26 #Juli2021

The Street Lawyer #25

The Street Lawyer #25


Kau melakukan tidak demi uang. Kau melakukannya demi ketenangan hatimu.”


Mungkin ini kisah paling biasa dari Grisham, mungkin karena ia memiliki tema mulia dalam cerita sehingga seolah ada beban penyampaian kebaikan itu. Endingnya tak liar dan sesedih yang lain, padahal awal mula sudah sangat bagus bak film action.


Bagaimana hidup bisa berubah begitu drastis dalam sebulan? Kisahnya tentang Michael Nelson Brock, yang merupakan pengacara di sebuah biro kaya dan mapan Drake & Sweeney. Ia memiliki istri cantik yang bekerja di rumah sakit Claire, pasangan kaya ini tampak sangat ideal, materi terpenuhi, tapi dari dalam ada keruntuhan batin. Kesibukan dan cinta yang digerus waktu menjelma bosan, dan di dunia Barat yang liberal tentu saja arahnya mudah ditebak, perceraian. Menjadi bujangan lagi bukanlah hal yang hebat. Aku dan Claire sama-sama kalah.


Sebagai dokter bedah, Claire sudah kembali tenggelam dalam kesibukannya sebagai dokter bedah, tak peduli waktu, makan, atau suami. Dengan ringan dia akan masuk ke fase kehidupannya yang berikutnya. Selalu ada maksud tertentu di balik undangan makan siang atau makan malam.


Namun ini tentang perubahan radikal, dan dunia baru yang seru untuk dijelajahi. Melawan kemapanan, melepas kenyamanan, mencipta pola baru yang jauh lebih mulia. Ini tentang pengacara jalanan.


Dibuka dengan sangat keren, Michael adalah salah satu korban penyekapan yang dilakukan oleh sebut saja namanya Mister. Ia dengan mudah menyelinap ke kantor Drake & Sweeney, membawa senapan, mengalungkan bom, dan mengancam akan membunuh siapa saja yang menolak kerja sama. Apesnya Michael, ia yang jadi sandera utama yang dijadikan alat komunikasi dengan pihak luar. Gelandangan mengenakan apa saja yang mereka punya, atau sepertinya begitu.


Dalam ruang kantor itu, ia membeberkan banyak fakta pahit kehidupan jalanan. Ia adalah gelandangan, ia menjadi korban penggusuran, dan memaksa para pengacara itu menunjukkan kebenaran-kebenaran yang bisa mencucurkan air mata. Apakah kalian berdonasi? Ya, donasi rutin ke Greater DC Fund, kami memberi banyak dan kami senang melakukannya. Apakah kalian peduli sama para tunawisma? Ya, lewat yayasan itu. Namun berapa yang kalian berikan langsung ke lapangan? Apakah kalian punya nurani? Pada akhirnya Mister tewas di tangan polisi dalam misi penyelamatan dramatis saat memesan makanan, ditembak telak.


Kejadian ini mematik pikiran Michael, ia jadi pendiam, jadi begitu shock. Setelah dalam perenungan yang dalam, ia lalu menelaah riwayat hidup Michael sang pengacara rakus ini, bagaimana Mister menjadi gelandangan, dan kehidupan keras jalanan. Ia mendapati bahwa Mister adalah korban penggusuran, dilakukan semena-mena oleh , dan biro hukumnyalah yang menangani. Dengan semangat kemanusiaan, ia resign dan menjadi pengacara jalanan, jalan radikal yang menjadikannya pahlawan. Tawaran pekerjaan bergaji kecil dengan tujuan mulia. “Aku menemukan panggilan hidupku. Kita masuk ke bisnis ini karena kita pikir menegakkan hukum adalah panggilan mulia. Kita dapat memerangi ketidakadilan dan penyakit-prnyakit masyarakat, dan mengerjakan karya-karya mulia karena kita pengacara. Kita pernah menjadi orang idealis, mengapa kita tak bisa mengulanginya?”


Proses ke sananya lucu nan dramatis, mencuri berkas yang sejatinya sudah diperhitung matang. Lalu rencananya mau mengkopinya dan mengembalikannya di tempat, justru berubah menjadi bencana, saat di jalanan sedang ada perang antar genk, mobilnya kecelakaan, dan rencana mengembalikan berkas mustahil. Hector yang memberi petunjuk secara samar, dan lalu dilenyapkan, dimutasi ke luar kota.


Bagi Mordecai, setengah dari praktek hukum berarti menggertak dan mengancam orang. Modecai, si bos barunya. Ia bergabung dengan biro hukum yang betujuan mulia. Kantor itu sibuk, berdebu, dan aku terpesona melihatnya. Membantu orang-orang tak mampu memenuhi haknya, rerata adalah negro, sehingga beberapa kali kena rasial, menjadi minoritas dan harus maju terus. Itu cerita yang sudah sering diulang-ulang, dikisahkan dengan memikat, dan sedikit pun aku tak percaya.


Kehidupannya runtuh, Claire meminta cerai dengan harta gono-gini besar. Lalu Michael hidup di kontrakan murah, keseharian bersama biro hukum kecil barunya. Terlalu banyak perubahan dalam hidupku sehingga aku tak bisa beristirahat dengan nyaman. Membantu sesama membagikan makanan, menjadi tempat konsultasi, benar-benar sibuk dengan uang tidak sebagai target utamanya. Karierku mengalami sedikit guncangan, membelok dari jalur utama; dengan bekerja gila-gilaan kuharap semuanya akan kembali nrormal. Hanya orang gila yang mau nekat melompat dari kereta ekspres yang kutumpangi menuju puncak karier.


Pengacara muda yang ambisius berbuah menjadi abdi masyarakat yang melayani orang-orang tak berpunya; meninggalkan karier gemilang di biro hukum raksasa dan memilih kerja yang nyaris tanpa bayaran. Meskipun menurutnya aku sudah gila, Claire takkan beran mengkritik orang suci.


Klien pertama adalah harta gono-gini. Kasus ini adalah kasus bantuan hukum kepada Waylene yang cerai dan merasa masih punya hak 210 dollar, kasus terakhir yang ditanganinya di Drake dan Sweeney adalah perselisihan antimonopli yang memperebutkan uang 900 juta dollar. Hahaha… bumi dan langit. Pro bono rookies, pendatang baru yang kerja sukarela.


Lalu pemabuk dan pecandu Ruby. Ruby si gelandangan pecandu narkoba dan janda bermasalah. Betapa tak berdayanya orang-orang yang kecanduan, ia nyaris tak sanggup menerima tantangan untuk waras 24 jam. Dst, hatinya benar-benar tersentuh. Dan terisi dengan kehangatan. Yang sedang kutolong ini adalah orang-orang nyata, dengan masalah yang juga nyata. Rakyat kecil yang tak punya tempat untuk mengadukan masalah mereka dan meminta bantuan hukum. Aku suka mendengarkan detail-detail menyedihkan tentang bagaimana mereka sampai di jalanan. Hidup bisa berkonspirasi untuk menjatuhkan siapapun dan ia tidak menolak membicarakan masalah tersebut. Aku masih tercengang dengan fakta orang bisa semiskin ini.


Kerja merupakan terapi yang sangat bagus bahkan merupakan terapi dari trauma. Pertanyaan sulit dengan jawaban sederhana. Aku merasa patah semangat dan pergi. Banyak orang terkenal yang pernah ditangkap. Aku terpaksa bersandar pada dinding agar tidak jatuh dan merenungkan semua masalah.


Pemerintah berusaha menyeimbangkan anggaran dengan menyengsarakan orang-orang miskin. Bagian mengerikan dari dunia tunawisma adalah yang tak kau lihat di jalanan. Tak boleh mengemis, tak boleh tinggal di kolong jembatan, tak boleh tidur di taman, tak boleh menyimpan barang-barang pribadi di taman umum, tak boleh duduk di trotoar, tak boleh makan di tempat umum.


Dan tentu saja kasus penggusuran ini adalah perjuangan yang laik dikejar. Empat belas orang yang diusir dari kontrakan padahal membayar sewa kamar. Ontario dan anaknya meninggal dalam mobil menjadi semacam martil dan ada yang tak beres dengan berkas ini, dan memperolehnya merupakan tantangan. Karena tujuan mulia novel ini, maka ending-nya kurang menyentuh. Happy ending buat para orang-orang baik, segalanya lalu membaik setelah perjuangan itu.


Hidup memang sementara, apa yang dilakukan Michael sungguh bagus sekali. Ia teringat zaman kuliah. “Kuliah hukum membuat kita rakus.” Katanya. Padahal tujuan mereka dididik untuk kemanusiaan. Supaya bisa bertahan di jalanan, aku harus belajar berenang dan terjun ke danau. Jangan sampai kau terseret bersamanya. Maka Michael benar-benar fokus pada kerendahan hati, tak ada kemelesatan materi. Ia ikhlas dan siap bertempur.


Menyeret RiverOak dan bekas biro hukumku ke pengadilan, bayangkan tempat kerja lama kita dituntur dan diancam! Gilax. Persidangan tidak selalu menyangkut kesalahan individu; persidangan kadang-kadang juga bisa digunakan sebagai mimbar. Biro hukum bersedia membayar mahal untuk menghindari dua hal: penghinaan lebih lanjut, dna persidangan yang bisa menimbulkan kerugian keuangan besar. Rasa malu yang ditimbulkan membuat mereka lintang pukang mencari jalan tengah. Negosiasilah kata kuncinya, pembeberan ini akan membuat biro hukum yang punya harga diri dan ego sangat besar, didirikan dengan kredibelitas, pelayanan klien, dan kemampuan menjaga rahasia. Aku yakin pagi-pagi ia sudah bangun, mana mungkin orang yang mengalami tekanan begitu besar bisa tidur? “… Semua hakim ingin semua kasus diselesaikan di luar sidang. Lebih banyak waktu untuk main golf.”


Dari Grisham kita belajar banyak sekali masalah hukum, memang fiksi rerata tapi jelas berdasar pengalaman, dan ditulis dengan sangat memikat. Peraturan hukum orang-orang jalanan ditulis oleh orang-orang yang mempraktekannya. “… Para pengacara pintar sekali menemukan cara mengacau.” Para pengacara memang tampak hebat, sekolah tinggi itu terbukti dengan pertempuran kata-kata dalam sidang. Semua masalah dianalisis dengan pikiran sangat tajam yang bekerja keras. Suaranya berirama, meninggi dengan kemarahan, menurun dengan perasaan malu dan bersalah. Tak satu suku kata pun meleset, tak ada kata-kata yang percuma.


Pada akhirnya kita menarik garis lurus, apa pesan moralnya? Ciee… pesan moral. Lebih tepatnya kesimpulan deh. Ya, hidup ini. sudah banyak dokrin masuk. Makna kesuksesan itu? Sudah setara sama kemuakan. Kerakusan tak kenal batas harus dikagumi. Ini versi yang sedikit lebih kasar daripada yang diajarkan pada kita sewaktu anak-anak. Kerja keras dan dapatkan uang banyak-banyak.


The Street Lawyer adalah perlambang, untuk menikmati hidup tak perlu pangkat, tak perlu uang melimpah. Rasa syukur dan berbagi dengan orang-orang tak mampu, hidup itu sendiri adalah rasa syukur yang melipah. Tak harus jadi pengacara untuk melakukannya, kalian juga bisa. Sekarang!


Pengacara Jalanan | by John Grisham | Copyright 1998 | Diterjemahkan dari The Street Lawyer | Alihbahasa Widya Kirana & Diniarty Pandia | GM 402 98.936 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cetakan pertama, 1998 | 480 hlm.; 18 cm | ISBN 979-605-936-3 | Skor: 4/5


Karawang, 250721 – Linkin Park – In The End

#30HariMenulis #ReviewBuku #25 #Juli2021

Kampus Kabelnaya #24


Maafkan aku, ya, karena telah membuatmu ragu. Tapi aku memang ingin menangis. Biarkan aku menangis sampai puas. Sesudah itu aku takkan menangis lagi.”


Curhat selama belajar di Uni Soviet. Bagus, menuturkan cerita dari orangnya langsung, pengalaman yang dikisahkan dengan fun, tak perlu telaah lebih, santuy dan asyik aja menikmtai kalimat-kalimat itu. Ini adalah dunia Eropa Timur di tahun 1960-an, dunia sedang Perang Dingin. Perang ideologi Demokrasi Liberal versus Sosialis. Ini adalah catatan penulis selama belajar di Universitas Persahabatan Bangsa-Bangsa di Moskwa tahun 1960-1965, yang sedikit-banyak mencerminkan semangat zaman itu.


Tinggal di asrama Tretya Kabelnaya Dom 1, Shosse Entuziastov, kamar No. 441 di tingkat 4. Sekamar berempat bareng Ketit Sinatera dari Bali, Agah Harganda dari Jawa Barat, dan Mikhail (Misha) dari Rusia.


Dalam surat-surta kami bercerita tentang cinta dan apa saja yang kami rasakan, lihat, dengar, dan alami. Mengutarkan rindu masing-masing, hingga bisa menitikkan air mata. Kami tersiksa oleh rasa rindu, tapi siksaan ini kami rasakan sebagai kebahagiaan.


Di Moskwa penting sekali mendengarkan berita tentang cuaca dan ramalannya agar selalu siap menghadapi cuaca yang memang cukup keras.sebelum Revolusi 1917 umur rata-rata orang Soviet hanya 32 tahun. Sekarang umur rata-rata mereka melonjak menjadi 68 tahun. Berarti orang Soviet menjadi manusia yang lebih sehat.


Moskwa merupakan salah satu pusat kegiatan olehraga terbesar di Soviet.


Lenin mengatakan, “Ploretariat tak mungkin mencapai kemerdekaan penuh tanpa ada kemerdekaan penuh bagi perempuan.”


Nama yang umum Natasha dan Nikolai.


Rasa tertarik adalah permulaan suatu karier, karena itu pertemuan sederhana itu saya anggap penting artinya.


Perang tanahair tahun 1912 melawan Napoleon. Guru sejarah Krupina berkata, “Ini adalah perang rakyat, peramg rakyat yang membela tanahair yang dicintainya, melawan musuh yang tanpa malu datang ke rumah tetangganya untuk merampok dan menjarah. Ini perang demi menegakkan keadilan…”


Terkenang istrinya berkata, “Sayangku, engkau datang ke Moskwa untuk belajar, karena itu pelajaranlah yang pokok buatmu. Utamakanlah pelajaranmu, janganlah aklu mengganggumu. Kalau engkau menerima surat dariku, ingat sayangku, engkau tak boleh langsung membacanya. Bacalah di malam hari, ketika engkau hendak tidur. Dengan begitu engkau dapat meresapi isi surat itu, sepenuhnyaa mengenang istrimu yang setia kepadamu dan sangat mencintaimu ini. oi, sayangku, aku sungguh cinta kepadamu. Cinta, cinta, cinta…”


Saya memang cinta sekali kepada istri saya. Semua benda, betapapun sepelenya, selalu saya pelihara. Di atas tempat tidur saya gantung potret istri yang selalu dipuji oleh semua orang.


Sejarah Indonesia harus ditulis ulang oleh Indonesia sebagai bangsa, yang oleh Bung Karno dikatakan bukan ‘bangsa tempe’ atau ‘bangsa oncom’. Untuk itu segala bahan sejarah Indonesia harus diteliti kembali dan dikemukakan hal-hal yang berguna bagi bangsa dan kemajuan Negara.


Penyair Rusia, Nekrasov pernah bilang, “Yang bahagia hanyalah orang yang membaktikan diri kepada kebaikan dan kebahagiaan manusia”.


Tindakan mencopot jas dan suka berantem adalah kebudayaan picik yang main hantam kromo. Inilah yang disebuh Presiden Soekarni sebagai kebudayaan kintel atau kebudyaan kataj, kebudayaan yang tak kenal tenggang rasa, tidak mengenal nilai.


Kata Patrik berasal dari kata ‘pater’ yang artinya ‘bapak’.


Kesulitan ekonomi seperti ‘lingkaran cincin’. Artinya kesulitan ekonomi yang satu mengakibatkan kesulitan yang lain, dan disebabkan oleh kesulitan tang lain lagi. pendek kata, kesulitan-kesulitan itu seolah berjalan melingkarm tidak kunjung berhenti.


Mr Sadjarwo salah satu orang penting di Kementrian Luar Negeri pernah bilang pembakaran dubes Inggris di Jakarta adalah insting. Salah. Anak ayam yang hampir menetas menghantam-hantamkan paruhnya ke dinding telur, dan pecahlah telur itu. Itu insting! Tetapi rakyat Indonesia membakar kedutaan Inggris? Ini bukan insting, ini hasil suatu kesadaran yang tinggi.


Kepala Kursi (jurusan) Sastra, Sidelnikov bilang, “Yang penting bukan kartu anggota Partai, melainkan kenyataan bahwa orang berjuang untuk hari depan kemanusiaan.”


Ceramah dosen yang gemetar Gidemina yang sudah 55 tahun tapi berdandam bak 30 tajin dengan bedak dan gncu berlebih, memakai kacamata mode. Omonganya ‘ilmiah’ dalam artian sulit diterima mahasiswa. Dengan kata-karta yang sukar dan ungkapan-ungkapan muluk, contih yang tak konkrit.


Kunjungan ke Negara-negara lain tidak harus dianggap jalan-jalan, melainkan terutama sebagai objek pelajaran.


Patriotism bukan bersifat sementara atau sewaktu-waktu.


Istri yang tidak dapat diharapkan menjadi istri mustahil tetap diperistri. Membina keluarga membutuhkan pengorbanan kedua belah pihak. Saya tidak bisa mengorbankan pelajaran hanya demi istri dan anak. Moral zaman sekarang tidak mengizinkan hal itu.


Bukankah nama orang banyak berhubungan dengan sejarah, arkeologi, etnografi, bahkan dengan sejarah kata-kata serta tata susila masyarakat.


Kiranya tak seorang pun di dunia ini yang tidak bangga terhadap bahasanya sendiri. Demikian pula orang Rusia.


Bahasa adalah alat komunikasi antarmanusia. Sebagai alat komunikasi ia harus dapat mewujudkan pikiran dan perasaan dalam bentuk kalimat yang dimengerti oleh pendengar atau pembaca. Pengertian ‘sempurna’ memang relatif, tapi kalau kita sudah mendalami khazanah bahasa Rusia, pengertian relatif ini akan tanggal dengan sendirinya.


Akademik Pavlov menemukan bahwa manusia berbeda dengan binatang karena memiliki ‘sistem isyarat kedua’. Apakah sistem riwayat kedua itu? Tak lain adalah bahasa. Jelaslah bahwa kemajuan ilmu, teknik, dan kebudyaan sejajar dengan kemajuan bahasa, karena tranpa bahasa semua itu mustahil.


Di fakultas kami mempelajari 20 kata baru Rusia per hari, setahun bisa memiliki 330 hari belajar dan akhir tahun masuk 6.600 kata. Jumlah yang sangat besar.


Penutupnya keren sekali, seolah adalah profil N.G. Cherneshebvski (1928-1889) nama asing ini jelas adalah orang besar di Eropa timur sana. Peran yang dimainkan sebagai sastrawan, kritikus, filsuf, dan democrat revolusioner sanga besar. Pernah menyatakn, “Masa datang cemerlang dan indah. Cintailah dia, berusahalah menjelangnya, dan bekerjalah untuknya…”


“Di manakah keadilan?” dan iapun menceburkan diri ke dalam dunia ilmu dan filsafat, ke dalam teori-teoiri sosialis yang tumbuh subur di Eropa waktu itu.


Ia memegang prinsip, “Kelas yang satu tak boleh mengisap darah kelas yang lain.” Dengan penuh keyakinan berkata bahwa perkembangan yang damai dan tenang adalah mustahil. Hanya dengan revolusilah rakyat Rusia dapat membebaskan diri dari tirani.


Memperjuangkan kemerdekaan berpikir dan protes kepada para penguasa ilmu. Karena pikirannya yang lain, pintu kabinet universitas tertutup, tapi pintu media massa terbuka. Bahkan lalu ia dipenjara dan diasingkan. Selama 678 hari ia menulis lebih dari 3.2000 halaman cetak berisi 29 cerita kecil, roman Apa yang Harus Dilakukan?, tulisan filsafat, ekonomi, politik, sejarag, ilmu, dan terjemahan.


Sumber segala keindahan adalah kehidupan. Kenyataan hidup dan keindahannya mendahului kesenian dan perasaan estetis tentang keindahan. Kesenian hanyalah reproduksi kehidupan, dan di dalam karya-karya kesenian kiranya taka da hal yang tak terdapat di dalam kenyataan hidup. “Keindahan tertinggi dan sebenar-benarnya adalah keindahan yang ditemukan di dalam dunia kehidupan.”


Keputusan tentang keindahan ditentukan oleh sikap manusia terhadap benda. Jadi keindahan bersifat objektif di dalam kenyataan hidup harus dipadukan dengan pandangan subjektif manusia.


Kesenian adalah alat pendidikan yang perkasa, alat penyebaran moral, serta alat pertumbuhan kesadaran rakyat dan kesejahteraan.


Golongan bangsawan borjuis sebagai wakil masyarakat yang paling bobrok dan tak bermoral.


Gagasan paling utama Chernishevski adalah setiap orang yang berpikir benar dan baik harus menjadi seorang revolusioner, termasuk cara-cara untuk mewujudkan cita-cita tersebut.


Ini adalah buku pertama Koesalah Toer yantg kubaca, bagus. Orang hebat ini, rada apes aja tumbuh kembang di era awal mula Orba, pernah dipenjara dan disia-siakan. Namun jasa tulisan dan karyanya abadi. Keren Mbah Koesalah!


Kampus Kabelnaya: Menjadi Mahasiswa di Uni Soviet | by Koesalah Soebagyo Toer | KPG 59 18 01540 | 2003 | Cetakan kedua, Agustus 2018 | Penerbit KPG (Kepustakaan Gramedia Populer) | Penyunting Cadra Gautama | Perancang sampul Boy Bayu Anggara | Penataletak Wendie Artwenda | xv + 200 hlm.; 13.5 cm x 20 cm | ISBN 978-602-481-013-9 | Skor: 4.5/5


Kepada seluruh teman sejawat yang pernah belajar di Uni Soviet, yang masih hidup maupun yang sudah meninggal.


Karawang, 240721 – Ida Laila – Setelah Jumpa Pertama

30HariMenulis #ReviewBuku #24 #Juli2021

Narsisme #23

“Keagresifan sering hanya terungkap setelah diubah menjadi ide-ide kecemasan.”


Buku paling lemah karya Freud yang pernah kubaca. Sempat kontra dengan beberapa pendapatnya, lalu benar-benar tak sepakat. Bisa jadi beliau adalah orang hebat saat ngomongin psikologi tapi jelas terasa janggal berpendapat bahwa kekurangan alat kelamin perempuan menjadikan perempuan mengalami kecemburuan terhadap penis lelaki dan menyebabkan rasa rendah diri. Well, terdengar aneh dan tak masuk akal bukan?


Terbagi dalam tiga tulisan esai dengan tema dan sumber yang berlainan.
Oklah pembukanya keren, tentang narsisme yang membuncah, pendapat terkait megalomania masuk masuk, bawah sebuah estimasi berlebih terhadap kekuatan dari harapan dan tindakan mental mereka, ‘kemahaluasan pikiran’, sebuah keyakinan pada kekuatan tumaturgi dari kata-kata, dan sebuah teknik untuk berurusan dengan ‘sihir’ – dunia luar yang tampaknya menjadi aplikasi logis dari premis-premis muluk.


Bagian kedua terbaca umum, masalah melankolia atau kedukaan. Melankolia merupakan reaksi terhadap kehilangan nyata dari objek cinta, tapi lebih dari itu melankolia ditandai oleh determinan yang tidak ditemui pada aktivitas berduka yang normal, atau mengubah normal menjadi berduka yang patologis.


Bagian ketiga yang lemah, tak perlu berlebihan. Pendapat aneh alat kelamin tadi, untuk pendapat bahwa ibu seorang anak laki-laki adalah objek pertama dari cintanya, dan dia akan tetap demikian selama masa pembentukan kompleks Oedipus-nya dan sepanjang hidupnya, masih sah-sah saja.


Pengen rasanya saya menelaah dan memuntahkan kata-kata lebih panjang, tapi saat ini waktu terbatas dan ini akhir pekan, maka saya ketik ulang kutipan-kutipan yang terasa bagus per bagian sahaja. Enjoy it!

1. Narsisme: Sebuah Pengantar

Narsisme adalah ketika seseorang memperlakukan tubuhnya sendiri sebagaimana ia memperlakukan objek seksualnya, dan ini merupakan bagian dari perkembangan normal pada manusia sehingga tidak dianggap sebagai sesuatu abnormal, melainkan sebagai ‘pelengkap libidinal’ dalam usaha pelestarian diri.


Energi seksual (libido) hanya produk diferensiasi energi yang umumnya bekerja di pikiran. Namun pernyataan seperti ini tidak memiliki relevansi.


Argumen lain dari Jung, bahwa kita tidak dapat memperkirakan apakah penarikan kembali libido dari dalam dirinya sendiri cukup untuk menimbulkan hilangnya fungsi normal dari realitas. Dan juga Pada suatu sat yang sama, hal ini perlu diperimbangkan lebih lanjut. Bahwa introversi dari libido seksualitas mengarah ke kateksis dari ‘ego’ dan hal tersebut mungkin menjadi sesuatu yag menimbulkan akibat dari kehilangan realitas.


Megalomania akan berhubungan dengan penggunaan psikis dari sejumlah libido yang akan datang, sehingga menjadi penyeimbang dari introversi terhadap fantasi-fantasi yang ditemukan pada neurosis transferensi.


Kami berpendapat bahwa manusia pada awalnya memiliki dua objek seksual – dirinya sendiri dan wanita yang merawatnya – dan dengan melakukan itu kami bepostulat bahwa narsisme primer ada pada setiap orang, yang mungkin pada beberapa kasus memanifestasikan dirinya sendiri melalui cara yang mendominasi pilihan-objeknya.


Pesona seorang anak laki-laki terdapat pada luas jangkauan narsismenya, kepuasan terhadap dirinya sendiri, dan tidak mudahnya ditaklukkan.


Jika kita melihat sikap orangtua yang penuh kasih sayang terhadap anak-anak mereka, kita harus menyadari bahwa itu adalah kebangkitan dan reporduksi narsisme mereka sendiri yang sudah lama mereka tinggalkan.


Pada titik paling sensitif dalam sistem narsistik, yaitu keabadian ego (yang sangat sulit ditekan oleh kenyataan), rasa aman dicapai dengan berlindung kepada anak. Cinta orangtua – yang begitu mengharukan tetapi pada dasarnya begitu kekanak-kanakan – tidak lain adalah narsisme orangtua yang dilahirkan kembali dan diubah menjadi cinta-objek; hal ini mengungkapkan sifatnya awal yang akurat.


Represi dihasilkan dari ego, kita bisa mengatakannya dengan lebih tepat bahwa represi dihasilkan dari harga diri ego. Kesan-kesan, pengalaman-pengalaman, impuls-impuls, dan hasrat-hasrat serupa yang diperturutkan oleh seseorang atau setidaknya bekerja secara sadar, akan ditolak dengan kejengkelan luar biasa dari orang lain, atau bahkan dipadamkan sebelum mereka memasuki kesadaran.


Secara alami, kita dituntun untuk menguji hubungan antara pembentukan suatu ideal dan sublimasi. Sublimasi merupakan suatu proses berkenaan dengan libido-objek dan terdiri dari arahan insting itu sendiri untuk menuju ke suatu sasaran selain – dan jauh dari – kepuasan seksual.


Identifikasi terhadap agen ini memungkinankan kita untuk memahami apa yang disebut dengan ‘delusi sedang diperhatikan’ atau lebih tepatnya, diamati, yang merupakan gejala-gejala yang mencolok pada penyakit paranoid dan yang memungkinkan sebagai penyakit terisolasi, yang diselingi dengan neurotis transferensi.


Herbert Silberer bilang ‘fenomena fungsional’, pada kondisi antara tidur dan bangun dapat kita amati langsung penerjemahan pikiran-pikiran menjadi gambar visual, tetapi dalam keadaan ini kita sering kali memiliki representasi, bukan dari isi pemikiran tetapi dari kondisi aktual (keinginan, kelelahan, dll).


Mayoritas dari perempuan yang mengalami hysteria tergolong sebagai perempuan menarik dan bahkan cantik.

2. Berduka dan Melankolia (1917[1915])

Ketika penyebab langsungnya berbeda, seseorang dapat mengenali bahwa ada jenis kehilangan yang lebih ideal.
Presentasi ini dicipta dari impresi tunggal yang tidak terhitung jumlahnya (atau jejak mereka yang tidak disadari), dan penarikan kembali libido ini bukanlah suatu proses yang dapat dicapai dalam sesaat, tetapi tentunya seperti dalam berduka, perbembangannya berlarut dan bertahap.


Sistem bawah sadar yaitu area di mana memori merekam segala sesuatu (berlawan dengan kateksi-kateksi).

3. Femininitas (bukan typo, memang aslinya tertulis femininity – dengan ‘ni’ dua)

Seperti yang Anda lihat, ketika seseorang mulai membuat alasan-alasan, pada akhirnya semua itu tak terhindarkan, semua dikarenakan takdir.


Dalam psikologis, terbiasa menggunakan kata ‘feminim’ atau ‘maskulin’ sebagai kualitas mental, dan dengan cara yang sama mentransfer gagasan biseksualitas ke dalam kehidupan mental.


Psikologi pun tidak dalam menyelesaikan teka-teki kewanitaan. Penjelasannya pasti dari tempat lain, dan tidak akan datang sebelum kita mempelajari bagaimana secara umum terjadinya diferensasi organisme hidup tersebut menjadi dua jenis kelamin.


Anak-anak perempuan lebih cerdas dan lebih lincah daripada anak-anak laki-laki di usia yang sama, mereka lebih banyak pergi untuk bertemu dengan dunia luar dan pada saat yang sama membentuk kateksis-objek yang lebih kuat. Namun, perbedaan ini dapat dikalahkan oleh variasi-variasi individu.


Kecenderungan yang kuat terhadap agresivitas selalu hadir di satu sisi cinta yang kuat, dan semakin besar cinta si anak terhadap objeknya, semakin sensitif si anak dengan kekecewaan dan frustasi terhadap objek tersebut.
Masturbasi merupakan agen eksekutif seksualitas infantil dari perkembangan yang salah di mana mereka benar-benar menderita.


Kepasifan sekarang berada di atas angin, dan keberpalingan anak perempuan itu terhadap ayahnya tercapai terutama dengan bantuan impuls instingual pasif.
Kehidupan seksual didominasi oleh polaritas maskulin-feminim.


Sikap malu yang dianggap sebagai karakteristik terbaik feminism, walau cenderung berkenaan dengan masalah kebiasaan, memiliki fungsi sebagai penyembunyi defisiensi genital.


Tuntutan akan keadilan merupakan modifikasi dari kecemburuan dan menegaskan suatu kondisi yang berkaitan dengan hal yang dapat mengesampingkan kecemburuan.


Buku kecil ini bukannya tidak bagus, hanya saja ekspektasiku yang terlalu tinggi. Apalagi saya sudah baca beberapa karyanya, terakhir tentang Peradaban malah dapat skor sempurna. Keren mambuncah. Makanya setelah di puncak ya turun, nyatanya ekspetasi berlebih ini tak terpenuhi. Masih ada dua buku Freud lagi di rak, termasuk biografinya yang tebak banget, semangat!


Narsisme | by Sigmund Freud | Copyright 2020 | Terjamahan dari berbagai sumber | Penerjemah Sasti Gotama | Penyunting Tia Setiadi | Perancang sampul Fitriana Hadi | Penata letak Agus Teriyana | xii + 118 hlm.; 13 x 19 cm | Cetakan pertama, Agustus 2020 | ISBN 978-623-7624-18-9 | Penerbit Circa | Skor: 3.5/5


Karawang, 230721 – Padi – Sesuatu yang Indah

30HariMenulis #ReviewBuku #23 #Juli2021

Aku & Film India Melawan Dunia (Buku 1) #22

Aku & Film India Melawan Dunia (Buku I) #22


Saya ingat dengan baik film Bollywood pertama yang saya tonton di televisi (baca TPI). Berjudul Teeja (1990) dan dibintangi oleh Sanjay Dutt…”


Beginilah rasanya membaca sesuatu yang asing, susah tune in. Dari semua nama aktor yang disampaikan tak lebih dari lima orang saja yang kukenal, dari seluruh film yang terbaca paling banyak delapan sembilan yang pernah dengar, yang sudah nonton tak lebih dari lima. Lantas kenapa saya memasuki dunia asing ini? Tentu saja nama besar Mahfud Ikhwan, ia mencintai film-film India, mencipta dua seri karenanya, sebagian besar dari blog pribadinya. Walau asing, bahasa penyajian terasa nyaman dan rona-rona klik akhirnya terasa karena sudah sebagian besar karyanya kunikmati.


Satu hal yang selalu ku-amin-kan, adalah pemilihan kata ‘saya’ ketimbang ‘aku’, sama seperti saya. Semua curhatan saya memakai ‘saya’. Dari sejarah bahasa Indonesia sejatinya sama saja, tapi bagiku lebih pas, lebih enak, dan kurasa terasa sopan. Walau seperti yang pernah saya tulis, kata ‘saya’ berasal dari kata ‘sahaya’ (budak). Anehnya, judulnya malah pakai kata ‘Aku’. Duh!


Seperti biasa, Cak Mahfud banyak menyampaikan banyak hiperbolis di mana bagian-bagian yang mungkin bagi kita sederhana menjadi wow. Seperti perburuan film, mencipta subtitle, menemukan teman sehobi, menemukan tempat untuk ‘berdakwah’ seluk beluk film favorit, sampai hal-hal nyeleneh detail aktor pujaan, yang bagi kita yang tak akrab sama dunia Bollywood tampang mereka tampak sama. Fans BTS ngamuk!

1. Dushman Duniya Ka

Pembukanya sederhana hanya satu lembar seolah menjadi peringatan sebab ada kalimat, “Seperti film porno, film India disukai sekaligus tidak diakui, dikonsumsi tapi dianggap terlalu kotor untuk dibincangkan, ditonton sendirian kemudian dihinakan di depan banyak orang.


Lebai? Ya. Kasar? Ya. Perumpamaan yang ngawur? Bisa jadi, sebab memang ada benarnya walaupun tak keseluruhan. Judulnya sendiri sangat tinggi mengandaikannya, ‘Sang musuh semesta’. Selalu ada pengecualian ‘kan, apalagi era sekarang. Film India banyak yang tak hingar-bingar, merenung dalam pencarian makna hidup. Dua film dua tahun lalu Section 357 dan The Photograph bahkan masuk ke dalam 14-best-film-of-the-year ku.

2. Thank You, India (Movies)!

Ini catatan yang dahsyat, menyatakan cinta dan efek film yang lebih besar sebab film India adalah karunia. Saya kutip sebagian paragraf pembukanya, “…Jika kepala saya adalah sebuah lemari penyimpan, film India adalah salah satu harta yang tak akan pernah saya buang, sesuatu apa pun. Dan tak ada satu pun hal yang bisa mengambil dari saya. Tidak rasa snob, tidak juga intelektualitas, lebih-lebih pseudo-intelektualitas.” Terdengar ngeri ga? Hehe

Sherina Munaf Dan Segala Kegilaan Yang Tercipta
Ada tiga alasan utama kenapa film-film ini terasa unik: sulit di dapat, memperkaya, menjadi istimewa. Well, Sherina Munaf pasca Petualangan Sherina juga gitu. Sampai akhirnya iklan Simpati, Panasonic, Advance, dll membuatnya sering tampil di TV.

3. Musik India dan Lingkar Dada Inong Melinda

Nah ini, Cak Mahfud merasa mendapat teman senasib, sependapat, seirama, pokoknya klop suka film India hingga seoalh sudah satu frekuensi. Mahasiswa filsafat yang kepergok dengar dan nikmati lagu India dari radio.

Bagaimana bisa kamu tidak menyukai musik yang lahir dari perabadan tertinggi dan tertua di dunia?” Mustofa


Waktu Briptu Norman ngetop, memang sempat mengangkat lagi film-film (dan lagu-lagu) India, tapi yah itu sesaat, seperti meteor yang cemerlang lalu menghilang.

4. Minggir! Inspektur Vijay Telah Kembali!

Satu dari tujuh hal yang selalu ada dalam India adalah tokoh bernama Inspektur Vijay dan Tuan Takur.” – On the spot, Trans 7.


Betul juga ya, orang awam menyebutnya ‘Polisi India’ bagi orang yang akan membantu tapi terlambat, kasus sudah ditutup, dan ia datang saat segalanya sudah beres. Hal agak mengejutkan adalah, Cak Mahfud membenci Kuch Kuch Hota Hai yang terkenal itu. Apakah terlalu mainstream? Apakah terlalu umum? See, ia bahkan juga membenci aktor paling terkenal era 90-an hingga kini, Shah Rukh Khan, Sang Raja Khan. Kenapa? Vijay adalah koentji.

5. Nana dan Saya

Saya sudah menyukainya bahkan sebelum tahu namanya.” Haha, jadi ingat lagu Savage Garden, ‘I Knew I Loved You’. Namun tak seperti itu, ini tentang cinta pada pandangan pertama di tahun 1997 di layar RCTI ia melihat sosok istimewa. Ini lebih seperti ulasan film-film yang dibintangi Nana, di mana pujaan itu menjadi kesan mendalam. Nama aktornya Nana Patekar.


Bukankah hal yang sama terjadi padaku akan Sherina yang muncul di tv kala hujan petir akhir tahun 90-an ia tersenyum manis di lagu ‘Kembali Ke Sekolah’? Cinta memang aneh, kawan.

6. Nonton India: Perjuangan Tak Berkesudahan

Lebih-lebih untuk seseorang yang mendaku dirinya memiliki kewajiban profetis untuk mendakwahkan film India. Tapi, saya bersyukur pernah melakukan kegilaan kecil yang menyenangkan ini.”


Ini sejarah bagaimana film India memasuki jiwanya. Curhat terselubung, proses berkesinambungan menjadikannya obsesi, lalu candu, dan terendam dalam tak bisa dilepas. Ah, seperti itulah masa-masa indah (sederhananya masa muda). Sejenis sejarah film India muncul di TV, zaman itu hiburan tak semelimpah sekarang, film India setahuku juga diulang-ulang, tapi pada puncaknya tahun 90-an, semua stasiun TV pada berlomba menayangkan. RCTI, TPI, TVRI, terdengar jadul bukan? Dan begitulah, perjuangan menikmatinya tapi tak sesederhana itu.
Apalagi anak santri, di hari Jumat sudah siap sedia di Masjid di jam 11, padahal film India lagi menuju eksekusi ending penting. Terpangkas saat lagi seru-serunya. Jangan lupa, nama Ida Laila disebut dengan lagu favorit, “Khayalan Masa Lalu.”

7. India dalam Film India: Amatan Sekilas Seorang Penonton Indonesia

Ini air kencing asli India […], kau tidak membutuhkan uang, kedudukan atau massa untuk mendapatkannya. Kau hanya butuh keberanian. Dan Cuma itulah yang kumiliki…”Sameer Khan dalam Halla Bol (2008)


Sejarah film India, dari awal mula hingga populer merakyat. Dari Dadasaheb Phalke, Aku memutuskan memantabkan industri film ini dengan fondasi yang kukuh untuk menyediakan lapangan kerja bagi seniman-karyawan sepertiku…”


Dari sini saya tahu, film India memang dimaksudkan menyampaikan budaya dan sosial India. Ah, lagu Peterpan yang itu…

8. Tentang Mumbai Noir

Ngomongin genre sejatinya gampang-gampang susah. Sama seperti kita semua, semuanya mudah bergeser. Saat ini suka fantasi, dulu suka horror, lain waktu mencinta drama, suatu ketika terkejang-kejang sama action lebai. Lalu film jenis apakah Mumbai Noir ini?

9. Shah Rukh Khan Si Bajingan

Seolah menjawab bab 4 yang ‘mempermasalahkan’ Kuch Kuch Hota Hai, kalimat pembukanya adalah, “Siapa bilang saya tak suka Shah Rukh Khan? Seperti penggemar film India, tentu saja saya menyukainya. Ya, saya tak bisa menolak untuk menyukainya. Terutama saat ia menjadi bajingan.”


Nah ‘kan, kontra dan ada tapinya. Mirip Tom Cruise yang teramat jarang jadi tokoh antagonis, sampai-sampai film aneh Collateral saat ia jadi penjahat tampak sangat istimewa. Dan bab ini didedikasikan khusus untuk sang Raja Khan, saat ia melakoni tokoh Cruise yang langka itu.

10. Aamir Khan dan Kisah-Kisah Tiruan

Kisah-kisah dalam film India yang banyak menjiplak gaya film luar, referensi utama jelas Hollywood. Kaya akan jenis dan macam sinema, tak otomatis merajai box office. Mengedepankan kuantitas ketimbang produk bermutu malah menjadi film-film ini masuk sungai yang luas, lalu tersekat dan terpilah sendiri ke selokan-selokan kepala kita.


Cak Mahfud mendaku bahwa kesukaan pada film India menjadikannya keuntungan, salah satunya ia tahu Akele Hum Akele Tum yang mengekor Kramer vs. Kramer, ia menepuk sekali, dua lalat terjerebab. Atau Ghulam yang menjiplak On The Waterfront, dan tentu saja Mann yang merupakan copyan An Affair to Remember. Yah, begitulah dunia, yang lebih buruk dari imitasi adalah cinta yang membabi buta.


Dunia penuh dengan hingar bingar berita, dijejalkan dari berbagai sudut dan sumber. Memilih hobi, memilih pujaan, memilih tempat berlabuh dengan segenap hati adalah kewajaran. Bahkan dalam psikologi, manusia itu harus punya hobi, kalau belum tahu harus cari sebab hobi bisa jadi adalah pelarian dari kepenatan hidup yang berfungsi sebagai filter masalah, terurai dan terendam dengan sendirinya oleh waktu. Sah-sah saja Cak Mahfud ‘berdakwah’ dengan menggempur para pembacanya dengan film-film India. Bukankah, saya pernah mabuk Sherina hingga tak bisa membedakan mana apel mana pir? Aku dan Obsesi Sherina Melawan Dunia (Buku I).


Aku & Film India Melawan Dunia (Buku I) | by Mahfud Ikhwan | Copyright 2017 | Penyunting Prima Sulistya | Desainer sampul Azka Maula & Eka PoCer | Penata letak Azka Maula | Foto sampul menggunakan poster film Billu (2009) | vii + 150 hlm., 13 x 19 cm | ISBN 978-602-1318-47-8 | Penerbit EA Books | ISBN 978-602-1318-47-8 | Skor: 4/5


Karawang, 220721 – Pulp Fiction (1994) Ost.

30HariMenulis #ReviewBuku #22 #Juli2021

Pseudonim #21

Pseudonim #21

“Lho-lho? Kenapa jadi nyalahin Maya?”

Menulis cerita itu sulit. Ralat, menulis cerita bagus itu sulit. Ralat lagi, menulis cerita bagus itu sulit banget. Nah, kira-kira gitulah. Jangankan novel, cerpen saja yang jumlah kata lebih sedikit, dan tak butuh waktu lama, butuh pemikiran tajam karena jelas memuaskan semua orang itu mustahil. Cerita bagus tak mutlak, tergantung banyak waktor. Salah satunya selera, ya kalau ngomongin selera bakalan ke mana-mana tak ada titik temu. Maka memang jalan terbaik adalah ngalir sesuai kemampuan penulis, setiap karya ada segmen pasaranya, setiap karya akan menemukan pembacanya sendiri.

Buku dibuka dengan kutipan: “Sebab kita bersukacita bukan karena memotong padi; Kita bersukacita karena memotong padi yang kita tanam sendiri.” – Multatuli, Max Havelaar.

Itulah yang pertama terbesit sesaat setelah menyelesaikan baca Pseudonim. Plotnya sudah umum, tipikal sekali. Cinta diapungkan, kelesuan menghadapi perubahan, adaptasi yang berhasil, lantas saat kenyamanan sudah diraih, kita dihadapkan masalah pelik. Umum bukan? Bahkan cara menyampaikan kata akhir, sebagai bukti bahwa ‘apa yang ditulis itu adalah ini’, sudah banyak kutemui. Sehingga tak mengejutkan sama sekali, bagi yang sudah banyak melahap bacaan pola ‘apa yang ditulis itu adalah ini’ sudah terlihat biasa. Namun untuk Pseudonim, beberapa kerikil masalah itu relevan dan untungnya bagus.

Kisahnya tentang Wipra Supraba, penulis novel yang kere. Mengeluhkan banyak hal. Pembukanya bilang ia ditangkap polisi, ia mengeluhkan keadaan ekonomi yang amburadul, dan profesi menulis nyaris diiyakan dengan ‘kere’. Lalu nama asing di akhir pembuka diapungkan, “Dan di mana Radesya?” Kisah lalu ditarik mundur, di awal sekali bagaimana Pra memulai karier dan bagaimana lingkungan sekitar membentuknya.

Pertama kita diperkenalkan Suhar, sahabat kuliah jurnalistik Unpad yang sudah menikah dan tinggal Jakarta. Ia selalu mendorong Pra untuk menulis novel, walau sudah punya beberapa karya ia, tak kunjung menemukan karya monumental yang bisa mengangkat namanya. “A good writer always work at the impossible.”John Steinbeck. Ia nganggur, sesekali dapat order menyupir sobatnya di Bandung, Saefullah yang hidup lurus dan vegetarian. Manusia pekerja keras yang berjuang dari bawah. Punya rental juga usaha merangkak bukan warisan atau turunan. Lulusan SMU berjiwa membumi.

Lalu kita diperkenalkan dengan Ardi, orang penting di dunia entertainment nasional. Menjadi penghubung banyak hal, awalnya Pra ditantang untuk menulis skenario kartun sebab sudah pengalaman nulis novel. Dengan kerja keras dan sudah banyak literature, tantangan itu sukses dilewati. Keuangannya membaik hingga bisa punya laptop bagus, tinggal di tempat yang laik, dan terutama bisa jalan-jalan saat proyek animasi lagi senggang.

Nah, ini mungkin yang paling menyebalkan. Ia memiliki lima pacar dalam waktu bersamaan. Kemala di Jakarta, Luska di Bandung, Kirana di Yogya, Alinka di Surabaya, dan Pradnya di Bali. Kelimanya digilir, pas kerja di Jakarta dengan entengnya support pacar tampil. Pas mudik Bandung, santainya jalan dengan yang lokal, pas punya waktu luang cus ke  Yogya, lanjut Surabaya, dan berakhir pekan ke Bali. Kan kamvret, sampai di bagian ini saya sempat muak. Ga gitu bos hidup, enak aja. Apalagi mereka berlima loyal, seolah Pra adalah sultan, raja di raja dengan kekuasaan atau uang melimpah. Oh dia kere, dan penulis tak terkenal. Bisa-bisanya… sabar, tenang saja dulu. Akan ada masanya semua runtuh. Kesendirian dan kesepian adalah dua hal yang nyata berbeda. Sendiri adalah objektif, sementara kesepian itu subjektif.

Dan benar saja, Ardi menyampaikan kabar buruk. Serial animasi dihentikan, proyek cinema juga batal sebab PH nya ambyar karena mengganti uang konser yang gagal, hingga pada titik di mana Pra kembali miskin, semiskin-miskinnya. Menjual yang bisa dijual, serta kembali ke Bandung nebeng rumah orantuuanya. Dan kembali ke biasaan lama, bertahan hidup dengan nyupir kalau ada order. Gila adalah menyerah di tengah jalan, padahal sukses telah menunggunya di ujung jalan.

Sudah bisa ditebak juga, sebuah alur yang menyakitkan tapi setimpal mencipta kelima pacarnya mengetahui perbuatannya selingkuh. Eh empat ding, Pradnya yang akhir disampaikan dengan jujur bahwa selama ini ia tak sebaik yang dikira, berakhir pula hubungan pacar. “Perempuan selalu menunggu kepastian, Pra.” Kenapa Pra bisa setega itu, Saefullah menjadi saksi kisah bagaimana hatinya hancur sama Maya.

Dari Ardi pula kita diarahkan mengenal seorang penulis skenario sinetron Satar. Karena kalang kabut order melimpah, ia menawarkan pada Pra untuk membantunya, menulis skenario bayangan. Namanya tak disebut, ia hanya membuat skenario dengan nama yang menjual Satar. Terdengar memuakkan, tapi uangnya bagus. Maka dicoba, dan berhasil. Kini aku menusia praktis, yang hidup, bekerja, demi uang, untuk menyambung hidup kembali. “… Kamu bisa menggiring cara berpikir kebanyakan orang di Indonesia melalui sinetron.”

Perlahan segalanya kembali membaik, lalu muncul godaan dari penulis skenario lain yang mencium alibinya. Landung menawarkan uang lebih plus bonus untuk FTV, sulit sekali memberontak, menghianati, tapi ini uang lebih wow. Sikat! Keadaan ini lebih menggiurkan saat bertemu gadis yang idealnya kebangetan.

Aku selalu takut ketika harus bertemu apalagi berdekatan dengan seseorang yang berhasil membuatku bergetar. Radesya adalah dokter, bertemu dengannya di kafe apartemen saat ngopi. Membaca buku The Celestine Prophecy karya James Redfield, yang kebetulan dibaca Pra juga. Kalau ini benaran ada, luar biasa indah, menggigit imajinasi semua orang. “Karena kita sama-sama nggak percaya kebetulan.” Radesya tinggal di apartemen nomor 1503 di lantai 15 hanya berjarak satu lantai dengannya.

“… Lalu aku mikir, spesialis apa yang nggak menimbulkan fitnah saat aku nanganin pasien? Tiba-tiba aku kayak dapat jawaban: anak! Maka itulah yang kuambil. Sederhana ‘kan?” Dokter anak yang lanjut kuliah lagi, bercita memiliki klinik di pedesaan, mudik beberapa kali tiap bulan ke Bandung dengan Jazz merah! Aku lelaki yang tak pernah mengizinkan cinta menjadi jangkar pada setiap pelabuhan. Untuk kali ini bisa jadi pengecualian.

Lalu segala-galanya ambyar.

Sejujurnya kisah dalam Pseudonim lebih mendekati plot sinetron dengan penawaran mimpi-mimpi indah, untungnya seperlima akhir menyelamatkan. Riaknya mewarnai fakta, hidup ini pahit gan. Ga begitu menjalaninya, rona-rona kemarahan harus ada, dinamika kesedihan harus membuncah, dan satu lagi, akhir yang ‘agak menggantung’ ditampilkan. Seperti kalimat akhir bab pertama, di mana gerangan gadis aduhai itu?

Banyak kutipan bagus ditampilkan, dan itu sah-sah saja, “Cinta. Tentang kerinduan untuk kembali pada asal-usul yang sejati.”Plato. Lalu “Cinta adalah ketika kuat kau rasakan kehadiran Tuhan dalam pasanganmu.”Sudjiwo Tedjo. Atau “Apa pun yang menjadikan tergetar, itulah yang terbaik.” – Rumi. Tapi yang paling keren mungkin ini, “Kepalaku adalah parbik kata-kata dan jari ini adalah buruhnya.” Lisa Febrianti (Iluminasi, 2009)

Satu lagi yang laik kutip, walau sudah sangat sering kita temui makna kalimat ini, terutama dari Pram. Sobarnya bilang, “Ketimbang nulis skenario pake nama samara terus, nggak menjadikamu siapa-siapa. Sejarah aja nggak sudi mencatat namamu. Apalagi karyamu. Sementara kalo nulis novel, karyamu abadi. Usiamu panjang. Sepanjang masa.”

Pilihan nama-nama karakter sangat modern terutama untuk tokoh penting, tak ada kata Joko, Agus, Budi, Asep. Walau ada Saefullah atau Suhar, tetap saja mereka tokoh pembantu. Hampir semua nama tokoh idalaman sungguh catchy, sangat stylist. Kemala Luska Kirana Alinka Pradnya adalah rentetan nama kekasihnya, dan di akhir bahkan ketemu nama Radesya untuk cewek ideal kebangetan. Sah-sah saja namanya juga fiksi.

Ini adalah karya pertama Daniel Mahenda yang kubaca. Ada sekitar 28 karya lainnya, beberapa di antaranya Selamat Datang di Pengadilan (kumpulan cerpen, 2001), Epitaph (novel, 2009), Perjalanan ke Atap Dunia (travel narrative, 2012), Niskala (novel, 2013), 3360 (novel, 2014), Rumah Tanoa Alamat Surat (kumpulan cerpen, 2016). Seperti biasa, berhubung trial pertama ini sukses, maka rasanya buku-buku lain hanya masalah waktu untuk dilahap. Selamat!

Tapi untuk itu pun tetap butuh dana, ‘kan?”

Pseudonim | by Daniel Mahendra | Desain kover Mico Prasetya | Penata isi Widia Novita | Copyright 2016 | ISBN 978-602-375-596-7 | Cetakan pertama, Juli 2016 | Penerbit Grasindo | Skor: 4/5

Karawang, 210721 – New York Jazz Lounge – Bar Jazz Classic

#30HariMenulis #ReviewBuku #21 #Juli2021