Renungan Kloset #4

#30HariMenulis #ReviewBuku #4 #Juni2021

Renungan Kloset by Rieke Dyah Pitaloka

Maaf, Tak bisa kutulis banyak
Tinta habis
Tadi malam kugoresi langit
Dengan namamu – Puisi Maaf (h.42)

Seperti syair-syair yang lain, rasanya memang paling enak dibaca dengan nyaring. Namun tetap esensi yang utama, di sini tetap membumi dengan bahasan umum. Terbagi dalam lima bagian utama yang direntang tahun: 1998, 2000, 2001, 2002, 2003. Sejalan dengan perjalanan hidup Rieke yang tumbuh makin matang. Ditulis di banyak tempat, daro kota-kota lokal hingga manca Negara, yang secara alami bilang sudah berpesiar di belahan dunia jauh. Zaman itu adalah masa-masa kita menikmati wajah Oneng dalam Bajaj Bajuri. Kala itu saya tak tahu bahwa itu juga penulis.

Tema umum di sini tentu saja merentang hal-hal lumrah keseharian yang kita temui. Kebosanan menjadi yang paling banyak disinggung, rutinitas keseharian. Berangkat, kerja, pulang, tidur dengan monoton yang mengancam jiwa manusia, kalau kata Bung Seno di pembuka sambutan: “Anda telah mengalami kematian budaya.” Bahkan dengan selingan di masa libur nonton film, ke puncak, sampai rekreasi lainnya, tetap saja kematian budaya sudah merasuk.

Terlihat Rieke vocal terhadap kemanusiaan, memerjuangakn hak-hak perempuan. Menyuarakan rakyat jelata, memenuhi halaman-halaman dengan kritis dan daya mendobrak kezaliman. Ini ditulis sebelum ia menjadi politikus, suaranya jelas masih jernih dan tak berpihak. Sungguh politik memang diperlukan, tapi saat sudah jadi politik praktis maka objektif hanya omong kosong. Saat menjadi bagian tampuk kekuasaan, ia tak akan bisa sebebas menjadi oposisi. Saat menjadi oposisi, rasanya nada sumbang yang berdasar juga sangat umum dan banyak. Paling enak memang berpegang pada humanisme, berbagai sisi nyaman dan terkendali.

Kebudayaan yang dimaksud adalah perbincangan antara hati dan kepala ketika merenungkan dunia – dalam perbincangan itu berlangsung tarik menarik, antara menyerah, melawan, atau menawar, kepada proses kematian budaya. – halaman xiii. Dunia dengan segala kesibukan dan jeda yang menyela sesaat. Renungan yang pantas dilakukan, dalam kloset yang bau menguar.

Berikutnya saya kutip beberapa puisi yang bagus per tahun sebagai gambaran betapa tema syair memang bebas, merdeka. Tak terikat dengan plot, sehingga bisa melalangbuana ke puncak angkasa.

#1998

Tegar

Apakah tegar itu, nyiur yang bergeming dalam badai, tak beranjak terhempas ombak?

Atau setetes air yang tak henti, jatuh tetes demi tetes sepanjang waktu melubangi bebatuan?

Atau nyanyian para pekerja di antara deru mesin yang selalu terjaga? – Depok, 20051998 (h. 7)

#2000

Mempelai Wanita

… Suatu hari,

Perempuan itu meninggalkan dalam beku yang dingin seperti biasa, senyumnya tetap menempel di sudut jendela dan pintu

Lelaki itu memeluknya dalam derai air mata, entah tangis kehilangan entah tangi bebas dari belenggu… – Tebet, 15062000 (h.17)

#2001

Setangkai Cinta

Tak perlu bangun

Begini saja, berapa pun jarak kita kan kukirim untukmu setangkai cinta setiap hari

Setuju? – Sukabumi, 12062001 (h.29)

Note

Ini penting:

Kalau nanti malam kau bertemu tuhan
Tolong tanyakan padanya apakah Adam diciptakan untuk memperkosa Hawa?
Ini penting! – Tebet, 24062001 (h. 34)

#2002

Sepenggal Adegan

Kurajam tubuhnya

Dalam desah dan senyum yang teriring dari

Mulutnya

Kurajam tubuhnya

Dalam keyakinan cinta yang semu

Kurajam tak kubiarkan

satu tetes keringat pun

lolos dari usapanku

kuhempaskan dalam pasir

sorga sesaat

Adam dan Eva

Ia menatap penuh cinta

Siapa tahu

Hatiku pun

Disandra benci

Tak berujung – (h.83-84)

#2003

Mengapa Aku Sayang Padamu?

… kau singkap kelambu hatiku,
Kau tuang anggur ke dalam cawanku,
Dua centi meter dari dasarnya,
‘aku tak ingin kau mabuk’ katamu.
Karena sayangmu tak lebih dari seberkas cahaya yang menemani malam…

Cengkeh, 24012003 (h. 87)

Secara garis besar saya memang sulit menikmati puisi, sampai sekarang saya masih ragu dan rancu bagaimana idealnya menikmati puisi. Kalau cerpen masih enak sebab setiap bab memang bisa berdiri sendiri dan punya plot penggerak. Novel, apalagi. Nyaman banget. Satu buku adalah satu cerita yang mana semua adalah kesatuan. Puisi, bukan hanya satu bab. Satu judul aja bisa bebas bergerak dan tak nyambung. Seenaknya penyair, senyamannya pembaca, sebebasnya penafsiran. Berjalan mengalir mengikuti, sudah tiga empat tahun lalu memang saya usahakan ada buku puisi masuk dalam daftar baca, kata orang pokoknya nikmati, jalani, nanti juga ketemu klik. Sampai sekarang klik itu belum benar-benar menyatu. Masih butuh waktu, dan pencarian. Renungan Kloset jelas masuk pusaran percobaan, dan kalau penilaianku tak tepat atau penafsiranku tak pas ya mohon dimaklumi. Hidup puisi Indonesia!

Saya mengenal sang penyair sebagai politisi PDIP Perjuangan saat ini. Sebelumnya mengenal sebagai artis di serial Bajaj Bajuri. Ini bukan buku pertama beliau yang kutuntaskan, sebelumnya juga pernah baca kumpulan puisinya. Dan ternyata hebat, basicnya juga hebat, salut. Akrab dipanggil Keke, lahir di Garut, 9 Januari 1974. Lulusan Fakultas Sastra Belanda di Universitas Indonesia, lalu mengikuti program pasca sarjana Ilmu Filsafat di Universitas yang sama. Renungan Kloset adalah buku kumpulan puisi pertama beliau.

Suatu saat mungkin saya juga akan menulis puisi, salah satunya bisa jadi ada kata kloset sebab di toilet segala imaji menjadi lebih nyata ketimbang kenyataan itu sendiri.

Renungan Kloset, dari Cengkeh sampai Utrecht | by Rieke Dyah Pitaloka | GM 201 03.006 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Mei 2003 | Cetakan kedua, September 2003 | Foto kloset oleh Doddy | Desain cover Edward IWan | Ilustrasi isi Mirna Yulistianti | 120 hlm.; 14 x 12 cm | ISBN 979-22-0267-6 | Skor: 3.5/5

Karawang, 040621 – Sara Lazarus – Morning

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s