Und Morgen die Ganze Welt: Patuhi, tetapi Pikirkan, Pertahankan Kebebasan Berpikir

Lenor: “Ledakan di kota. Akan menjadi berita yang terlalu besar.”

Ideologi merupakan kepercayaan yang dikonstruksi secara sosial yang sepenuhnya kita terima berdasar keyakinan belaka. Ideologi buruk macam rasisme atau seksisme langgeng lebih karena ketidaktahuan ketimbang kebencian. Tidak ada Negara yang sepenuhnya adil dan aman. Tidak ada filsafat politik yang mampu mengatasi masalah setiap orang dalam sepanjang waktu. Setiap jengkal tanah di seluruh dunia tak sepenuhnya bisa mewujudkan damai 100%. Pertentangan mahasiswa untuk membentuk dunia yang lebih baik, demonstrasi, kerusuhan, perang antar ideologi hingga menyangkut jiwa antar sesama. Sebagus dan seindah apapun angan bila sudah menyangkut hati akan luluh dengan sendirinya. Mahasiswi dari golongan menengah atas bergabung dengan mereka yang bersuara lantang dari mahasiswa menengah bawah, bersatu memperjuangan kebebasan. Dengan setting Jerman yang mengusung kebebasan, kemanusiaan yang menjadi tolok tinggi pegangan, kedamaian adalah milik segelintir orang. Jiwa-jiwa pemuda yang resah terjadi gesekan, dan kerusuhan yang dimula niat yang salah tak dapat dihindarkan. Semakin seseorang terdidik dan mengetahui banyak hal, semakin pendapat orang tersebut terpolasisasi secara politik.

Kisahnya tentang Luisa (Mala Emde) mahasiswi hukum semester awal Mannheim yang bergabung dengan kelompok anti fasis atau Antifa. Mereka melakukan orasi menentang pemerintah atas kekhawatiran para pihak yang masih memegang ideologi sayap kanan supremasi baru Nazi. Berteman lama dengan Batte (Luisa Celine Gaffron) yang menjadi penghubung organisasi. Diperkenalkan dengan kegiatan kampus Antifa yang digawangin Alfa (Noah Saavendra) dan Lenor (Tonio Schneider). Dalam sebuah demo yang damai kita menayksi kegiatan yang dipantau intel berpakaian preman yang mengambil gambar para aktivis. Pada akhirnya terjadi rusuh, Luisa menemukan HP sang intel yang terjatuh. Menyimpannya, mencoba membukanya. Dengan password yang nantinya bisa dibuka oleh rekannya yang ahli IT.

Dalam prosesnya mereka lalu melakukan kekerasan. Dengan rencana matang, melewati terowongan kereta api, merusak mobil musuh, lalu kabur. Namun saat hari H setelah merusak mobil Alfa tiba-tiba merubah rencana, ia malah meminta lebih sekalian aja hajar mereka. Ia memang yang paling keras, dan sering tampil beringas. Dan karena keputusan ketergesaan itu membuat runyam banyak hal. Luisa terluka, kerusuhan itu melibatkan polisi. Mengusutnya, mengejarnya.

Mereka kabur ke aktivis senior Dietmar (Andreas Lust) untuk menjahit luka. Ternyata ia adalah calon dokter yang tersingkir, akibat aktivitas politiknya ia ditahan di penjara, merusak tatanan akademis, membuatnya memulai ulang rencana kuliah, dan berakhir hanya sebagai perawat. Di masa muda ia idealis dan menentang banyak hal, sekarang itu tinggal masa lalu. Rumahnya jadi markas para mahasiswa, menjadikannya panutan.

Dalam perjalanannya ada cinta di antara para aktivis ini, ada hati yang ditautkan. Keluarga Luisa yang konservatif selalu wanti-wanti akan kegiatan di luar kuliah, memiliki keluarga kaya yang melakukan perburuan di waktu libur, dan saat keadaan tertekan, ia mengambil senjata berburu itu untuk membidik para musuh. Sang protagonist yang kini di persimpang jalan. Kegiatan kampus yang ia ikuti malah menjerumuskan dalam keadaan dilemma, keinginan untuk keluar dari bayang-bayang keluarga yang lurus juga memberinya konsekuensi. Adegan pembuka saat ia berjalan dengan senapan ditenteng di bawah jalur jalan layang disajikan, bom yang disimpan di sana sudah dipindahkan. Wah gawat!

Ledakan di akhir adalah konsekuensi atas rasa dendam dan muak keadaan. Lantas dengan jiwa para pemuda yang meletup ini, apakah cita-cita Negara damai bisa terwujud?

Judulnya diambil dari lirik lagu partai nasionalis sosialis Jerman yang berbunyi, “Today Germany belongs to us, tomorrow the entire world.” Soundtrack yang disajikan live tampak bagus sekali. Rap yang menghentak yang ditampilkan Neonschwarz dengan lirik sinis politik kotor yang harus dicuci. Judul lagunya Wenn die Nacht am tiefsten ist, ist der Tag am nachsten adalah lagu tahun 1975 yang pernah dinyanyikan punk rock ternama Ton Steine Scherben dengan vokalis Rio Reiser. Mereka menjadi musisi pergerakan kemanusian yang sering diperdengar kala Jerman masih berpisah dua.

Memang setiap kebijakan pemerintah tak akan bisa memuaskan semua pihak. Memang setiap ideology akan muncul pro dan kontrak. Setiap keputusan selalu memunculkan puas dan tak kepuasan, kenapa? Karena isi tiap kepala manusia itu berbeda. Pertentangan akan selalu ada, jangan di sini yang sosial politiknya runyam, di Jerman yang secara umum damai di mata kita saja terjadi banyak pertentangan. Wajar dan manusiawi. Kemajuan, menurut pendapat mereka, terus bergulir, tanpa putus, di sepanjang sejarah modern. Orang-orang semakin terdidik dan melek informasi ketimbang sebelumnya. Banjir bah informasi memuat keterbukaan dan suara individu makin riuh di dunia maya. Semua menjadi setara, secara fundamental, membuat hidup kita menjadi lebih baik. Jauh lebih baik. Masalahnya ada pada kita, bisakah kita bijak memilih dan memilah bah bandang informasi ini?

Poin utama selalu syukur. Kalau sudah syukur dan sabar, hati damai akan didapat. Karena kita berhenti menghargai sesuatu, sesuatu pun tidak lagi menarik atau menyenangkan di mata kita. Jadi harus ke dalam, bukan keluar. Mata memandang hati masing-masing, apanya yang salah?

Saya teringat petuah Nietzsche bahwa pegangan apapun, semuanya kacau, dan ia membenci semuanya. Menutunya, demokrasi itu naïf, nasionalisme itu dungu, komunisme itu penuh tipu muslihat, kolonialisme itu menyakiti hati. Semua yang berhubungan dengan duniawi – baik pada gender, ras, suku, bangsa, atau sejarah – bersifat fana. And Tomorrow hanya menampilkan dua sisi yang bertentangan dan lihatlah, tatanan hidup manusia suram. Satu-satunya bentuk paling sejati kemerdekaan, satu-satunya bentuk paling etis dari kemerdekaan, adalah melalui pembatasan-diri.

Saya tahu kita suka berpikir kita lebih memilih tinggal di sebuah dunia yang damai dan harmonis, tapi sejujurnya, dunia macam itu tidak akan bisa bertahan lebih dari sekian menit. Semakin membingungkan kehidupan ini, bersikap rendah hati menjadi semakin berharga.

Kemerdekaan berpikir selalu menjadi bumbu yang panas. Setiap kebijakan orang-orang berwenang wajib kita taati sebagai warga yang baik. Saya selalu ingat petuah Kant, “Patuhi, tetapi pikirkan, pertahankan kebebasan berpikir.”

And Tomorrow The Entire World | Judul asli Und Morgen die Ganze Welt | 2020 | Jerman | Directed by Julia von Heinz | Screenplay Julia von Heinz, | Cast Mala Emde, Noah Saavedra, Tonio Schneider, Luisa Celine Gaffron, Andreas Lust | Skor: 3.5/5

Karawang, 110520 – The Cranberries – Saving Grace

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s