Never Rarely Sometimes Always: Potret Kefatalan Paling Getir

Pekerja: “Your partner has threatened or frightened you. Never? Rarely? Sometimes? Always?”

Inilah film sedih dengan kemuraman akut menyelingkupi, sepanjang menit, sepanjang kisah, selama satu setengah jam perenungan. Proses pendewasaan manusia. Tumbuh besar itu pasti, tapi tak otomatis menjadi dewasa. Ada yang lebih cepat terutama kaum perempuan, dan kisah dalam Never Rarely Sometimes Always menampilkan sosok remaja yang harus mengambil keputusan penting kala seharusnya masih menikmati masa-masa menyenangkan di dunia pendidikan. Hamil di luar nikah, bersama temannya berkelana ke kota asing untuk melakukan aborsi. Lihat dunia yang sesak, hal-hal yang sejatinya damai menjelma sesak dan penuh keabu-abuan. Alur berat, aborsi. Ini masalah yang mencipta gema kolektif. Terentang efek domino kekhawatiran masa depan.

Kisahnya tentang Autumn (debut bagus Sidney Flanigan) yang masih sekolah di kota Pennsylvania, di pesta perpisahan di Indonesia semacam class meeting menampilkan skill dan bakat, setelah beberapa penampil, giliran Autumn bernyanyi sambil memainkan gitar, mendapat cemooh spontan seorang siswa yang kasar, yang tentu saja nantinya kita curigai sebagai salah satu pria yang kemungkinan menghamilinya. Teriakan itu memicu kemarahannya, seusai tampil ia menyiram air minum ke sang pemuda. Akhir masa sekolah berantakan. Akal kita, betapa pun rumit tampaknya, tetap diatur oleh kaidah-kaidah yang tegas.

Keluarga Autumn sama anehnya. Saat ia merasa penasaran akan kesehatan, ia memeriksa ke klinik buat cek kehamilan. Hasilnya positif, hasil yang membuatnya murung. Ia bekerja di toserba sebagai kasir, sobat kentalnya Skylar (cantik natural: Talia Ryder) diceritakan kebenaran itu. Keduanya tampak bekerja dalam tekanan, ternyata bosnya mesum. Suka melecehkan, memanfaatkan jabatan sebagai sarana asusila. Keduanya setelah diskusi, memutuskan melakukan perjalanan keluar kota. Dengan bekal uang curian dari meja kasir, berdua naik bus menuju New York. Sebuah perjalanan reliji. Autumn duduk di kursi bus yang melaju dini hari, melakukan kemahirannya: merenung. Seperti kata W.B. Yeats, “Tapi seseorang mencintai jiwa ziarah pada dirimu, dan mencintai nestapa perubahan parasmu.”

Ini pengalaman pertama, ini sebuah perjalanan berat sebab tujuan utamanya adalah melakukan aborsi. Remaja yang belum siap membesarkan anak, perjalanannya sendiri penuh perenungan. Adegan-adegan sunyi, menampilkan kota yang redup, pohon-pohon bekejaran, aspal yang menyengat, terminal yang padat, sampai detail papan iklan yang menyampaikan pesan-pesan motivasi. Ditampilkan dalam lanskap muram, yah ini kan kisah sepi jadi sudah sewajarnya. New York adalah danau bayang-bayang: kegelapan di jalannya, apartemen-apartemennya, perkantorannya, terminalnya, terowongan-terowongan Bawah Tanahnya, mal-malnya. Para manusianya… Ketika suasana tenang membawa kejemuan di kota itu, tidak seharusnya terbawa keharuan maupun melankoli dalam kesedihannya.

Di klinik New York terjadi gap masa kehamilan, ini sebenarnya 10 minggu atau tujuh minggu? Akurasi menjadi penting sebab akan berakibat pada tindakan medis. Judul film akhirnya terungkap saat Autumn ditanyai pekerja medis terkait isian formulir. Pilih satu jawaban yang paling benar atau paling mendekati benar dari empat kemungkinan berikut. Dan satu pertanyaan yang membuat bimbang dan menyakitkan adalah soal apakah ia terpaksa melakukan hubungan seksual? Apakah ia dalam tekanan paksa? Apakah ini pemerkosaan? Sebuah jab yang keras untuk sebuah Negara bebas dan maju sebesar Amerika. Lalu disela tanya, terjadi keheningan yang akut. Kita memanfaatkan kebisuan mutlak itu.

Dalam proses sebelum dan setelah operasi, mereka berdua berkenalan dengan pemuda lokal Jasper (Theodore Pellerin) yang bergaya, mengenakan headset dan ia dalam perjalanan konser. Ia tampak tertarik pada Skylar, walau dengan gesture dan ucapan yang tersurat, jelas Skylar tak suka. Namun keadaan memang tak bagus, mereka berdua butuh uang, butuh teman, butuh perlindungan. Maka setelah bertukar nomor, main bowling, dan minta tolong pinjam uang. Skylar dan Jasper berniat ke mesin ATM, Autumn menunggu di terminal. Setelah berapa lama tak balik, ia panik mencari mereka. Dan tahulah ia di sudut ruangan, temannya berciuman. Ralat, dicium paksa. Yah, sebuah adegan yang memilu betapa cewek yang lagi-lagi jadi korban. Pengorbanan sahabat, rumit memang. Kita tidak tahu apakah itu kejahatan, namun kita tahu itu kenyataan.

Lantas setelah aborsi usai, apakah kelegaan yang didapat Autumn sesuai asanya? Terbangun sepenuhnya kita mengenali angin di pepohonan dan gumaman sedih kenyataan yang kosong. Di bawah topeng kepasrahan, menyembunyikan ketakutannya seperti seorang bocah yang melarikan diri.

Ini adalah film sepi, perenungan dengan budget murah. Tak perlu dentuman ledak untuk memporakporandakan hati, kalian akan tersentuh lembut atas kenyataan yang disajikan. Remaja dengan persoalan berat. Flanigan yang cantik memenuhi layar, dominan sebagai protagonist. Kidal dalam bertandatangan, memainkan gitar dengan bagus. Ini bisa jadi pintu masuk ke gemerlap Hollywood, dengan kecemerlangan diam, ia hanya memandang kerumuman orang saja sudah sangat menarik. Silakan dicatat namanya dan tandai, Sidney Flanigan: Bersuara merdu, blonde, dan beralis-hitam tebal. Akting kali ini memang khusus untuk tak ada keceriaan, tak ada hura-hura kelulusan sekolah yang heboh itu. Ini kisah muram yang dicacah memenuhi layar. Seseorang mendendangkan lagunya sendiri. Dunia ini teracuni oleh penderitaan, dan sepertinya kita berkubang di dalamnya.

Kehidupan paling tidak memang memeluk arti kata relatif. Sebenarnya tak seorangpun tidak bisa menulis tentang ketidakbahagiaan, atau saat-saat kebahagiaan tertentu. Sia-sialah untuk menangisi pikiran, cukuplah untuk menapaki takdir yang dilimpahkan. Begitulah yang disabdakan. Ya, selalu.

Nasib dibentuk dari keputusan-keputusan kita yang tampak remeh dan ala kadar, manusia tak tahu mana yang menuju titik nyata dalam senyum ataukah duka? Dilanda waktu, zaman, hening, dan muram. Tumbuh dewasa diguncang dengan ketidakgembiraan ketika pikiran memberi penghormatan kepada apa yang sudah diputuskan. Sebuah lagu multi-sajak yang saat ini sedang populer di Amerika. Sungguh terasa, pengambilan keputusan tak dibuat matang.

Never Rarely Sometimes Always | Tahun 2020 | Directed by Eliza Hittman | Screenplay Eliza Hittman | Cast Sidney Flanigan, Talia Ryder, Theodore Pellerin, Ryan Eggold, Shanon Van Etten | Skor: 4/5

Karawang, 100521 – Sheila On 7 – Sahabat Sejati

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s