#Maret2021 Baca

Orang-orang dari masa lalu ini memang benar-benar berkomplot untuk membingungkanku.” – Mustofa dalam Anwar Tohari Mencari Mati, Mahfud Ikhwan

Bulan ketiga ini saya baca santuy sahaja, sebenarnya pengen mengejar Oscar sebagai acara rutin tahunan, sekarang nonton film makin sulit menyediakan waktu. Lebih enak dan nyaman baca buku. Rencana tahun ini tiap bulan baca/ulas buku Mahfud Ikhwan masih sesuai rel kereta lajunya. Narnia sebagai bacaan ulang bersama Hermione juga masih berlanjut. John Grisham yang selalu menyenangkan juga sesuai harap. Tasawuf sebagai idola baru melanjutkan trend bagusnya, kumpulan cerpen atau novel dari penulis ‘asing’ berjalan semestinya. Kumpulan artikel atau esai juga pas, yang mengejutkan di bulan ini hanya satu, justru dari penulis senior, idola kita semua: Seno Gumira Ajidarma. Memiliki novel juara Kusala Sastra Khatulistiwa, Negeri Senja yang kubaca dalam satu hari selesai, berakhir dengan biasa. Tak memenuhi ekspektasi, harapan tinggi luluh lantak, terhempas membosankan.

Januari 10 buku, Februari 10 buku, dan kebetulan Maret ini juga. Kok bisa? Entahlah, segalanya mengalir dengan semestinya, dengan senyamannya…

#1. The Chronicles of Narnia: The Silver Chair C.S. Lewis

Buku keempat Narnia, kubacakan untuk Hermione. Mungkin yang paling seru sebab ada sebuah area di ujung Utara bernama Harfang, tempat nyaman yang dituju dengan antusias karena kenyamanannya. Dijanjikan api hangat, tempat tidur empuk, atas yang melindungi dari badai dan tempaan angin malam. Lalu booom! Mereka musuh, mereka pemakan daging manusia. Mereka raksasa beradab? Kejutan itu mencipta kengerian, trio jagoan: Eustace, Puddleglum, dan Pole berlari keluar dari dapur dengan tunggang langgang ketakutan, mendebarkan sekali mereka nyaris tertangkap, terselamatkan berkat ada lubang di kaki tangga, mungkin bagi para raksasa itu hanya lubang tikus, hanya celah bongkahan di pojok tangga halaman rumah, tapi benar-benar menyemalamatkan mereka. Hermione sampai ketakutan, lalu tertawa meriah. Saking senangnya ketika mereka bertiga selamat dari jangkauan raksasa, ia jingkrak-jingkrak di kasur, membal-membal ceria. Walaupun akhir bab itu menggantung, di mana mereka terperosok bermil-mil, Hermione tetap saja mengalami euphoria suka cita. Lihat, betapa efek membaca bisa sedemikian dahsyat. Cara kita baca, dengan siapa kita baca, bagaimana cara membacanya menjadi sangat berpengaruh pada banyak hal, berpengaruh pada setiap individu.

Seperti setiap permulaan petualangan, apa yang disampaikan Jill Pole mewakili kita semua, “Apakah kita bakal bisa kembali? Apakah aman?”

#2. Anwar Tohari Mencari MatiMahfud Ikhwan

Berbulan-bulan setelah baca Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, banjir spekulasi. Ending menggantung, sang jagoan dikepung api dan tak terjelaskan apakah akhirnya tewas tersebab kerelaan hidup yang hampa ataukah berhasil mentas dari kobaran. Tak dinyana, tanya itu dijawab dengan kisah lain yang sama membaranya.

Dan tentu saja ini baru awal dari cerita yang lebih panjang.”

#3. The Last JurorJohn Grisham

Mengagumkan bagaimana prospek uang bisa mengubah masa depan kita. Kali ini tema utama mengambil sisi kepala redaktur Koran lokal yang menangkap momen banyak kejadian, tepatnya semala satu dekade 1970-an hingga akhirnya kembali dijual. Mengambil sudut pandang Willie Traynor seorang mahasiswa drop-out berusia 23 tahun, ia sudah menjadi pemilik Koran Mingguan The Ford County Times. Akusisi itu terjadi karena memang Spot, pemilik dan kepala redaksi sebelumnya lelah dan melepasnya. Masa depan Koran memang tampak suram. Maka harganya ergolong sangat murah, hanya lima puluh ribu dollar. Willie tak punya uang, ia ‘pinjam’ sama neneknya. Walaupun tak diganti, sang nenek kaya raya cuy. Maka ia-pun memulai petualangan di kota Clanton yang muram tapi damai, jauh dari hiruk pikuk kota besar yang berisik. Kawasan yang kaya akan tanah pertanian, tapi kondisinya parah.

Kau terlalu banyak berkhotbah, dan tidak ada yang mendengarkan.”

#4. Negeri Senja – Seno Gumira Ajidarma

Novel yang melelahkan, membosankan, menjadikan bacaan yang terengah-engah di awal tengah dan akhir. Penjelasan setting tempat yang bertele-tele, penjelasan karakter yang berputar, aturan mainnya kurang cantik, bahkan saat sampai halaman 200 yang berarti mendekati garis finish, detail penjelasan tempat masih berlangsung. Ya ampun…
Bahasa yang dipakai memang nyeni, menjelaskan detail yang mengajak pembaca menyemai makna seni. Seperti itukah berlakunya keindahan, sesuatu yang tidak harus terlalu jelas dan barangkali saja timbul-tenggelam? Seperti keindahan lukisan bukan dalam warna melainkan dalam kesan, seperti keindahan music bukan dalam nada melainkan dalam buaian… karena memang keindahan ada di mana-mana, bagi mereka yang bisa melihatnya.

“… Ada satu masa dalam hidupku di mana aku selalu memburu senja ke mana-mana, seperti memburu cinta. Aku memburu senja ke pantai, memburu senja ke balik gunung, memburu senja yang membias di gedung-gedung bertingkat. Namun itu sudah lama sekali berlalu…”

#5. The Alchemist – Paulo Coelho

Buku kedua Paulo Coelho yang kubaca, yang pertama mengecewakan, yang ini hanya sedikit peningkatan, intinya sama: ceramah kehidupan. So boring, padahal kabarnya ini buku terbaiknya? Kesempatan ini berakhir dengan biasa lagi, mungkin memang kurang cocok sama gaya bahasa dan alur yang ditawarkan. Karena di rak buku masih ada satu buku lagi, jadi nantinya di blog ini bakal ada satu review lagi darinya. Setelahnya, saya sepertinya tak akan beli, kalau baca lagi bisa saja dari pinjam atau dapat free, yang jelas dua sudah cukup mewakili. Seperti Tere Liye, beberapa kali sudah cukup mewakili gaya tulisnya.

Ini tentang penggembala yang filosofis, mendapat mimpi di sebuah gereja tua tentang harta karun di Piramida Mesir. Merentang jauh dari tanah Andalusia Spanyol. Namun setelah mendapat wejangan dari cewek gipsi akan tafsir mimpi, dan seorang raja yang menyamar menemui jelata, ia lalu berupaya mewujudkan mimpinya. Menjual semua kambingnya, melakukan perjalanan, menemui Sang Alchemist.

Beginilah dusta terbesar itu; bahwa pada satu titik dalam hidup kita, kita kehilangan kendali atas apa yang terjadi pada kita, dan hidup kita jadi dikendalikan oleh nasib. Demikianlah dusta terbesar itu.”

#6. Dubi Dubi Duma Esthy Wika

Ini adalah kisah keluarga yang ada di blog, lalu disunting dan dibukukan. Khas cerita bu-ibu yang membanggakan anaknya, keseharian dalam rutinitasnya mengasuh. Ibu dari dua anak, Ken dan Uma. Semua kisah di sini adalah tutur kata dan kegiatan sang buah hati. Dengan problematika umum yang dihadapi orang tua. Banyak hal tentu saja sudah kurasakan, May – istriku, persis mengeluh kesah sekaligus bangga akan Hermione. Betapa apa yang dirasakan Bubun adalah apa yang dirasakan ribuan ibu-ibu juga.

Kualitas hubungan buat saya bukan dari berapa banyak foto bersama yang telah tercetak, tapi juga berapa lama kita sanggup nyambung ketika ngobrol bersama.”

#7. Tasawuf Dipuja Tasawuf DibenciMukhlis, S.Pd.I., M.Ag

Sejak membaca Dunia Mistik dalam Islam karya Annemarie Schimmel saya jatuh hati dengan tema tasawuf. Maka setiap muncul di beranda sosmed ada yang jualan, dan harga terjangkau langsung kuambil. Ini adalah salah satunya, dan ternyata sangat bagus. Semakin asyik dan syahdu terendam capaian spiritual. Ada dua nama sufi yang semakin kucinta di sini, Al-Ghazali dan Ibn ‘Arabi. Tasawuf mulai abad 3-4 mulai ada dua model kecenderungan dalam penghayatan dan pengamalan tasawuf. Pertama, aliran tasawuf akhlaqi (tasawuf sunni) yang mengklaim penganutnya paling konsisten dalam usaha memagari tasawuf dengan Al-Quran dan Sunnah serta mengkaitkan keadaan dan tingakan rohaniyah mereka dengan keduanya. Sufi paling terkenal adalah Al-Ghazali. Kedua, aliran tasawuf semi-filosofis, yang pengikutnya cenderung pada ungkapan-ungkapan ganjil (syathahiyyat) serta bertolak dari keadaan fana’ menuju pernyataan tentang terjadinya penyatuan (hulul). Sufi yang terkenal adalah Ibn ‘Arabi.

Tasawuf adalah sejarah ‘perebutan kebenaran’ tentang capaian-capaian spiritual sekaligus airmata yang berdarah-darah.” Fawaizul Umam.

#8. Pendeta YonasLa Rose

Kisah yang sungguh menggugah, dibuat era 1980-an dengan konfliks yang mungkin terlihat seperti kisah sinetron, tapi eksekusi dan tutur bahasanya yang renyah malah menghasilkan degub debar membuncah. Rencana-rencana indah san Pendeta menjadi ambyar sekejap ketika fakta-fakta yang pembaca sudah ketahui, dihadapkannya menjadikannya dewasa seketika. Dunia memang begitu Bapa, kejam penuh tipu muslihat. Di era sekarang mungkin terasa wah, kok tega, tapi kalau direnungkan dan ditelaah lebih masih relate dan sungguh perawan di usia 20-an menjadi tampak langka bila melihat model pergaulan bebas di kota-kota besar.

Jalan ke surga itu sempit, tak semua orang dapat ke sana…”

#9. Kuda Kayu TerbangYanusa Nugroho

Ini adalah buku beli yang acak, artinya saya tak mengenal sang Penulis, yang ternyata sudah melalangbuana di banyak media, penulis senior yang katanya, sesuai pembuka pengantar penerbit: Ngerokok. Ngopi. Ngarang. Perjudian menikmati karya ‘asing’ seperti ini memang jarang membuahkan hasil Ok, jelas ini adalah buku dalam daftar sedikit itu. Cocok seperti yang dibilang sama Bung Yanusa, “Menulis, sebagaimana halnya makan dan minum, adalah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkap sesuatu…”

#10. Q & A Sherina Salsabila

Sherina. Nama yang eksotis kala disebut atau diketik. Menggema dalam telinga, gaungnya membuat hatiku bergetar. Q dan A tentu saja bukan berarti Pertanyaan dan Jawabnya, ini adalah kode dua karakter utama. Ini semacam pengalaman Sherina di masa SMU, ini adalah buku terakhir di masa sekolahnya sebelum membentang jauh melanjutkan study ke Turki. Ini semacam buku perpisahan dunia remaja. Dunia terus berjalan, dunia mendewasakan kita semua…

Karawang, 230321 – 130421 – 300421 – Frank Sinatra – Something Stupid