My Salinger Year: Obsesi The Catcher in the Rye

Don: “Sastra yang baik adalah afrodisiak yang kuat.”

Tentu saja ini tentang penulis terkenal JD Salinger, kehidupannya yang unik di masa tuanya sudah melegenda. Ia menyepi, menulis, dan mewariskan karya untuk generasi berikutnya. Menyimpan karya-karyanya, akan diterbitkan 50 tahun setelah kematiaanya. Absurd? Ya, di film keanehan itu ditampilkan secara konsisten. Namun ini bukan berpusat padanya, kisah mengambil sudut pandang asisten penerbit yang menaungi karya Salinger. Ia mengamati dan mengagumi, seorang calon penulis yang berdedikasi. Film ini berdasar buku biografi, pengalaman selama menjadi asisten agen di New York.

Tahun 1995, Joanna Rakoff (cantik dan memikat oleh Margaret Qualley) dari Berkeley, Califronia pergi ke New York meninggalkan pacarnya Karl untuk menjadi asisten agen di sebuah penerbitan. Ternyata tempatnya bekerja adalah milik JD Salinger, ia belum baca satupun karyanya. Ia bercita menjadi penulis, butuh pengorbanan besar. Rencana sebentar itu berubah permanen karena ia tak kembali ke kampus. Berada dalam lingkungan sastra dan limpahan kegemaran yang sama membuatnya lebih bergairah hidup. Dalam lingkaran pertemanan literature, ia lalu menjadi kekasih calon penulis lain Don. Menyewa apartemen bersama dengan harga mahal, dan menjalani hari-hari impian di dunia penerbitan. Bagaimana dunia perkantoran di kota sibuk, kota Apple di jantung Amerika itu berdetak.

Tak seglamour itu. Di kantor, ia bertugas membaca surat-surat pembaca lalu menghancurkannya. Margaret (Sigourney Weaver), bosnya tak suka teknologi makanya tak ada komputer. Tingkah dan kebiasaan sempat mengingatkanku pada novel/film Devil Wears Prada. Margaret galak, dengan tuntutan aneh nan berlebih. Oh ternyata tak seekstrem itu. Aturan kantor, semua dilakukan dengan manual termasuk ketik di mesin ketik. Nyaris semua surat menyatakan kekaguman, tertutama masterpiece The Catcher in the Rye. Pernah ada kasus pembunuhan musisi John Lennon yang mengaku terobsesi sebab buku ini, maka antisipasi ini dilakukan. Surat-surat itu tak dibalas, dan benar-benar disingkirkan. Salinger menyepi, tak ada waktu membacanya, apalagi membalasnya.

Setiap novel mesti diperlakukan sebagai teks terbuka. Artinya, pembaca berhak menafsirkan dan memaknai karya tersebut secara bebas. Fungsi sebuah karya kerapkali sangat dipengaruhi oleh pemikiran yang berkembang pada masa tertentu. Karakter legendaris Holden Vitamin Coulfield memang menginspirasi banyak generasi setelahnya. Setting film tahun 1990-an itu masa jauh sekali dari pertama novel terbit, tapi lihat tafsir berbuka buku ini masih liar dan mengasyikkan.

Secara nurani terdengar jahat penulis yang abai surat penggemar, bagaimana bisa surat penggemar yang tulus memuji itu dibiarkan saja? Maka Joanna berinisiatif membalas, membesarkan hati, dan beberapa memberi nasehat. Niatnya baik, caranya baik, tapi hasilnya tidak. Seorang remaja mendatangi kantor dan memprotes atas balasannya, ‘kau seperti ibuku yang suka memberi petuah’. Kasus ini menjadikannya lebih bertahan, niat dan cara baik saja tak cukup.

Suatu hari ada pertemuan bisnis di kampus Georgetown University, Joanna mengusulkan diri yang datang membicarakan rencana penerbitan kumpulan cerpen. Sempat dirasa ragu, tapi Joanna akhirnya ditunjuk Margaret untuk berangkat. Ternyata ada niatan lain, ia ke sana untuk bertemu dengan Karl, pacar atau kini jadi mantan pacarnya yang hubungannya menggantung. Karl tampak memikat dan memiliki masa depan cerah dengan alat musiknya. Pertemuan itu memang dirasa canggung tapi memberi makna pada Joanna untuk lebih mantab menatap ke depan.

Sekembalinya, ia meminta pisah dengan Don. Ia merasa tak mencinta, lalu di kantor ia memiliki waktu-waktu bagus untuk mendulang duit sebagai agen setelah setahun bekerja dengan baik. Namun justru melepasnya, ia memiliki jalannya sendiri. Setahun di kantor dalam bayang tuan Salinger yang sangat berharga, jadilah buku ini. Dan keputusan akhir yang membuncah, menjadikannya pembaca karya-karya JD Salinger juga.

Berdasarkan buku dengan judul yang sama karya Joanna Rakoff. Pengalaman yang menjadikannya sumber inspirasi utama dalam jalinan kehidupan. Sang Penulis utama dalam judul film hanya jadi semacam pijakan, ia yang hebat menjadi inspirasi banyak orang. Hubungan dengan Joanna hampir saja terputus sepenuhnya, hanya via telpon yang canggung dan surat yang entah dibaca atau turut dibuang. Untuk membuat kelegaan, Salinger dimunculkan itupun tampak belakang. Mencomot Penulis besar untuk dijadikan inspirasi sah-sah saja, selama itu bisa menghamburkan drama yang layak dikonsumsi. Menurut model kepribadian “Lima Besar”, kepribadian seseorang terdiri lima ciri dasar: kemauan untuk bergaul, kemauan untuk menyadari, kemampuan untuk berpendapat, neurotisisme, dan keterbukaan akan pengalaman baru.

Alfred Hitchcock bilang drama adalah kehidupan nyata yang sudah dihilangkan bagian-bagian buruknya. Maka Anda harus fokus, menegaskan sesuatu, menyingkirkan beberapa hal, mengaduk cerita dalam keutuhan yang memuaskan tanpa kata-kata berlebih. My Salinger terlihat menawan sebab memang ini film biografi sekaligus penghormatan, maka terasa manis sebab kehidupan bagian tak bagus jelas tak ditampilkan. Lihat endingnya, bagaimana sosok misterius itu ditampilkan secara dramatis dengan elok sekali.

Bagi seorang penulis yang menggunakan teknik apa pun, setiap impresi juga dibentuk oleh hasil catatannya, karena penulis belajar dari pengalaman yang tuntas. Inspirasi adalah sebutan tradisional untuk faktor bawah sadar dalam proses penciptaan. Inspirasi dianggap datang tiba-tiba dan di luar kontrol. Kedatangan Joanna ke Kota Apel awalnya bukan untuk terhubung dengan Salinger, tapi nasib memang menautkannya. Hubungan karya dan hidup penulis tidak dapat dijelaskan dengan pertalian sebab-akibat yang sederhana. Karya tulis membentuk satu kesatuan dan berada pada tingkatan yang berbeda.

Film bagus tapi segmented, seolah dibuat untuk pecinta sastra. Salinger terkenal, tapi tak menjangkau kalangan umum, apalagi di Indonesia. Saya baru membacanya 2015 dan itu di masa kerja, kesempatan dan perluasan informasi menjadi penting, dan meledaknya internet di sedekade ini menjadikannya kemudahan menikmati karya (tulis). Jadi segmen buku dan juga film ini terbatas, tak disentuh juri Oscar memberi bukti bahwa memang film ini sulit memukau banyak kalangan, atau dalam satu kalimat: ‘film yang tak umum’. Setahun di New York setara satu buku penting dalam lipatan kehidupan yang terselip di masa muda untuk menjadi pijakan hidup. Jam pasir kehidupan yang abadi akan dibolak-balik lagi dan lagi, engkau ada di dalamnya. Bisa lewat apa saja inspirasi datang, salah satunya penulis terkenal yang tidak dikenal. Hari ini kita bisa saja menafsir ulang The Catcher in the Rye… Karena satu-satunya hal yang bisa menghancurkan sebuah mimpi adalah dengan mendapatkannya.

My Salinger Year | Year 2020 | Directed by Phillippe Falardeau | Screenplay Phillippe Falardeau | Cast Margaret Qualley, Sigourney Weaver, douglas Booth, Seana Kerslake, Colm Feore, Brian F. O’Brien | Skor: 4/5

Karawang, 070521 – Netral – Putih