Better Days: Kasus Perisak yang Bikin Sesak Napas



Better Days


Chen: “Dapatkah kamu melindungiku? Tapi aku tak punya uang untuk membayarmu.”


Manusia dilahirkan dengan dua kategori, yang kuat dan yang lemah, yang suci dan biasa, pahlawan dan mereka yang menaruh hormat pada pahlawan. Contoh sederhananya dua kategori manusia itu ada dalam Chen Nian dan Xiao Bei. Tentang perisak yang memilukan. Dunia remaja yang seharusnya penuh keceriaan menjelma kisah pilu saat tema perisak – populer dengan nama bullying, diapungkan. Sempat was-was akan jadi cerita cinta klise pasangan beda kasta, beda kecakapan, beda area; ternyata malah meledak di jelang akhir. Luar biasa, bagaimana sebuah hubungan bisa begitu intens tanpa perlu banyak kata. Rumit memang, mereka jelas saling mencinta, saling menjaga, saling melindungi. Carl Jung berkata bahwa alam bawah sadar manusia – daerah masa lalu, masa kanak-kanak dan masa bayi yang tertekan ke bawah sadar – ada ‘kesadaran kolektif’, yakni daerah masa lalu umat manusia dan masa sebelum manusia ada. Cukup wajar kita menangisi masa-masa sedih di masa lalu, megap-megap menyaksi cinta tulus itu direnggangkan, disandiwarakan, lalu menghantam nurani. Apakah dunia adil? Mungkin Tuhan memerlukan boneka-boneka ini, untuk digerakkan dengan jari-jariNya untuk menembus tabir yang ditenun oleh akal manusia.




Kisahnya tentang Chen Nian (Dongyu Zhou) yang bernarasi masa lalunya. Dibuka dengan present day, ia menjadi pengajar. Membacakan kalimat bahasa Inggris: bedanya masa lalu: ada masa lalu yang biasa, ada masa lalu yang membekas, masa lalu dengan kenangan yang bersemanyam. Apabila harus pergi ke masa mudamu, dan mencoba menghidupkan kembali, pada usia tertentu, hal-hal yang pernah kau cintai atau sangat nikmati sekaligus masa-masa berat tentunya kita bersepakat pada artikulasi indahnya cinta. Nah, Better Day memaparkan masa hitam putih itu. Kisah ditarik mundur semasa ia bersekolah. Berteman dengan Hu Xiaodie yang melakukan bunuh diri. Lihat, pembuka yang berat bukan? Seperti A Sun yang pembukanya langsung memberi kita adegan membacok tangan hingga putus, film-film Asia kalau sedari mula seperti ini, siapa yang tak tersentuh hati?



Hu bunuh diri, ia adalah korban perisak yang dilakukan rekan sekelasnya digawangi oleh Wei Lang (Ye Zhou) dan teman-teman. Secara nurani dan refleks Chen berjalan mendekat ke korban dan menutupi temannya dengan jaket dalam sorotan kamera seisi sekolah. Dalam penyelidikan lebih lanjut, ia ditanya. Awalnya tak mau melaporkan, ia juga korban perisak. Namun berjalannya waktu ia nantinya terpaksa memberitahu polisi.



Ketika pulang sekolah, di jalan yang sepi melihat kekerasan, pengeroyokan berandal, sambil berjalan cepat menelpon polisi, naas ia malah turut serta ditangkap, dan menjadi korban. Mereka lalu malah berteman, kedua korban yang dipaksa ciuman ini lalu saling mengenal lebih dekat. Liu Beishan atau akrab dipanggil Xiao Bei (Jackson Yee) adalah remaja nakal, preman kota yang sudah biasa berantem, Chen siswi cerdas, miskin, pendiam dan rupawan. Dua pribadi berbeda yang saling mengisi.


Bei melindungi, turut menguntitnya saat berangkat dan pulang sekolah, Chen merasa nyaman mendapat kepastian aman, bisa lebih konsentrasi belajar. Wei dkk kena skors, belajar di rumah, mereka melakukan pembalasan, menyatroni rumahnya, mengejarnya. Chen memutuskan menginap di rumah kumuh sahabat barunya, dan tentu saja mencipta keakraban mendalam. Mencipta cinta tak terucap, saling menjaga dan melindungi. Namun sampai kapan?



Tragedi-pun dicipta. Bei ditangkap polisi karena diduga melakukan kekerasan seksual, walau tak bersalah ia tak bisa menjaga Chen saat pulang sekolah. Naas pula saat itu genk sekolah melakukan perisak disertai kekerasan, ada video rekamannya. Babak belur semuanya, dan Bei mencoba membalas dendam tapi ditahan. Digundul berdua, jelang hari ujian. Rasanya pada saat itu perasaan sudah terlalu mati untuk bisa menangis. Rasa sakitnya harus dilupakan. Karena terkadang itulah satu-satunya cara untuk mengingat apa yang ada pada tulang kita.



Hari H ujian Gaokao hujan lebat, jalanan macet sebab ditemukan mayat dalam reruntuhan tanah. Adalah mayat Wei Lai, di sinilah kejutan dan kehebatan film benar-benar makin mencipta sesak. Chen diduga pelakunya, Bei setelah didesak lebih lanjut mengakui sebagai pelaku. Oh tidak, tidak sesederhana itu. Ini film asing yang diwakilkan Asia ke Oscar, harus ada sesuatu yang luar biasa dalam cerita. Ini film yang menyingkirkan A Sun yang hebat itu, jadi memang benar ada kejutan dan adegan ‘Kamu melindungi dunia, aku akan melindungimu’. Lalu menangislah, sekencang dan sepuasnya. Kalian laik melakukannya. Megap-megap di eksekusi akhir. Seorang laki-laki selalu memiliki dua karakter: miliknya sendiri dan karakter yang dikira oleh lingkungan. Kita akan mengerti bagaimana sebuah ungkapan tertentu digunakan untuk menggambarkan seluruh konteks emosi. Ia begitu rapuh sekaligus kuat, menjalani hari dengan berat bersama pelukan kekerasan tapi memiliki kelembutan hati demi orang terkasih.



Terasa nyata apa yang disajikan, sungguh di negera maju dengan tekanan hidup yang lebih tinggi kehidupan sehari-hari remaja justru ditumpuk beban-beban berat. Lihat hari jelang ujian, para remaja ini tampak begitu menderita akan pembelajaran. Demi prestise demi nilai bagus sehingga bisa melanjutkan ke Perguruan Tinggi idaman. Di Indonesia menuju ke arah sana, ini adalah zaman kita dan kita tidak bisa hidup dengan membenci diri sendiri dan generasi setelah kita. Zaman kita telah terpuruk begitu rendah karena berlebihan dalam kebaikan-kebaikannya dan juga kerena besarnya kesalahan-kesalahannya.


Berdasarkan buku karya Jiu Yuexi berjudul In His Youth, In Her Beauty. Terasa ada pengalaman pribadi yang ditulis. Gagasan bahwa setiap penulis pasti menulis tentang dirinya sendiri dan menggambarkan dirinya sendiri dalam buku-bukunya adalah salah satu gagasan konyol yang kita warisi dari Romantisme. Namun jelas sayatan kisahnya terasa hidup dan nyata, apalagi saat epilog kita disajikan fakta-fakta mencengangkan masalah bullying yang menimpa China.



Keputusan akhir, untuk saling melindungi dituangkan dengan gaya. Menghitung peluang, siapa yang berhasil lolos. Si wanita punya masa depan, si lelaki juga punya tapi tak secemerlang dirinya. Biarkan ia menanggung dosa, bakalan jadi penghuni penjara remaja, jadi ikhlaskanlah. Nyatanya, sidang terpisah interograsi itu tak berjalan mulus. Sulit memang kala cinta dan pengorbanannya ditautkan saat keadaan genting. Harapan merupakan pedang untuk menatap masa depan dan pahlawan akan melindungi siapa pun yang berdoa dan berusaha pada saat dalam kesusahan dan bahaya.



Masa muda yang berapi menjadi titik penting untuk kehidupan dewasa, jadi pijakan bahwa ada harapan indah di sana, untuk hari esok yang lebih baik. Layar Better Days adalah ejawantah desahan yang penuh penderitaan, kehilangan, dan keikhlasan atas kesalahan masa lalu yang mengikis waktu kebersamaan dengan orang terkasih. Apa yang terjadi pada mimpi-mimpi kamu yang hebat? Apa konsekuensinya?


Better Days | Tahun 2020 | Hongkong | Directed by Derek Tsang | Screenplay Lam Wing Sum, Li Yuan, Xu Yimeng | Cast Zhou Dongyu, Jackson Yee, Yin Fang, Huang Jue, Wu Yue, Zhou Ye | Skor: 4.5/5




Karawang, 240421 – The Adams – Pahlawan Lokal

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s