Nomadland: Kesunyian, Pasti. Dan Mungkin Juga Umat Manusia

Fern: “No, I’m not homeless. I’m just house-less. Not the same, right?”

Nomaden era now. Penampilan yang sederhana, semuanya. Kehidupan, para karakter, filmnya, ceritanya, aktingnya, semuanya sederhana. Sampai-sampai untuk hidup nyaman menetap saja ditolak. Dunia memang penuh orang aneh, dan kita berdiri di antara mereka. Banyak pilihan dengan sedikit yang menawarkan hal bermutu. Kehidupan warga Amerika bersama van keliling dari kota satu ke kota lain memang tampak eksotis, yang jelas tak semembosankan hidup di rumah yang sama, di kegiatan rutin yang sama, dan tidak menghadapi masalah yang sama pula.

Kisahnya di tahun 2011 tentang Fern (Frances McDormand) seorang janda berusia 60-an yang ditinggal mati suaminya Bo. Ia kehilangan pekerjaan sebab US Gypsum di Empire, Nevada ditutup. Ia memutuskan menjual semua barangnya dan membeli van yang dinamai ‘Vanguard’, memutuskan menjadi nomad. Tinggal di mobil di semacam perkemahan dengan kendaraan terbentang sepanjang mata memandang, lalu berpindah, dan kemudian bergerak lagi. Bekerja sambil lalu, dapat di Amazon yang sifatnya musiman. Bergabung dengan orang-orang sejenis (Nomads), ia memutuskan menikmati sisa hidupnya dengan meninggalkan saudara dan teman-temannya, menjalankan perjalanan spiritual. Suatu ketika bannya bocor, ia meminta tolong ke mobil terdekat sang nomad: Swankie yang heran, “tak punya cadangan. Hah serius?” Teman-teman barunya mencoba membantu, ke depannya harus punya ban cadangan sayang. Mereka membentuk tim, Swankie menderita kanker dan divonis tinggal 6-8 bulan lagi, ia tak mau menghabiskan sisa hidup di rumah sakit. Ia melanjutkan perjuangan di jalanan.

Fern mendapat kerja di Taman satwa RV dan berkenalan dengan nomad David. Ia koki di rumah makan lokal. Suatu malam anaknya datang memberitahu David, istrinya hamil dan memintanya pulang. Ia ragu, malah meminta Fern ikut. Oh tidak bisa teman.

Saat Fern kerja di pertanian gula, ia mengalami masalah pelik finansial. Mobilnya rusak, gagal di-stater berkali-kali, ke bengkel biayanya lumayan besar, saat di kasir sang montir mencoba menawar mobilnya, oh tidak dijual. Untuk membayarnya ia ke saudaranya meminjam uang, sekali lagi ditawari kenyamanan menetap dan tetap jawabnya sama. Masing-masing dari kita, ada kalanya, suka memperdaya diri sendiri dengan percaya bahwa apa yang baik untuk kita pasti juga baik untuk semua orang. Tidak, kalian tak bisa tahu isi hati masing-masing.

Dalam komunitas ini, mereka saling menolong, menyapa dalam keakraban, berbagi kopi di pagi yang cerah, berbagi rokok dan pematiknya. David adalah salah satu teman terdekat, ia menyukai batu-batu eksotik. Suatu hari ia memutuskan pulang ke keluargnya, siap menyambut cucunya. Ia meninggalkan alamat ke Fern, memintanya berkunjung. Lama setelahnya, ia memenuhi permintaan tersebut. Kunjungan yang hangat dan penuh keakraban, bahkan David meminta Fern tinggal permanen, ada kamar tamu yang kosong, dan saat Fern tahu ban van David kempes, ia tahu sobatnya memutuskan berhenti nomad.

Saat salah satu sobat dalam komunitas meninggal, mereka menyalakan api unggun di malam hari, menyampaikan pesan-pesan penghormatan terakhir. Bob (Bob Wells), salah satu sobatnya lalu berdiskusi tentang hidup. Ia kehilangan anak sebab bunuh diri di usia yang sangat muda, ia terluka dan tak bisa menghapus kenangan. Fern sendiri lalu mengakui masalahnya, ia kehilangan suaminya yang eksentrik, ia tak bisa menetap di rumah dengan memandang segala kenangan yang pernah dicipta. “Sesuatu yang dikenang, tetap hidup.”

Film sederhana yang diprediksi menang piala tertinggi. Saya tak setuju, cerita bagiku yang utama, secara cerita sangat biasa. Diadaptasi dari buku karya Jessica Bruder, Nomadland menawarkan banyak sekali kesunyian. Ladang-ladang gersang, hutan-hutan hijau, jalanan dengan lanskap langit malam penuh bintang, bukit-bukit terjal dengan sungai mengalir air jernih, bahkan McDormand mandi telanjang di sana.

Lanskap-langskap menawan itukah yang membuat juri Oscar terpikat? Dibanding film dengan bintang Frances McDormand yang menghentak Three Billbords, jelas jauh sekali kualitasnya.

Cara hidup Fern yang nomad ataukah menerima undangan tinggal dengan orang terkasih? Yang kedua sama benarnya dengan yang pertama, yang terpenting memang syukur dan upaya tidak menjadi beban mereka. Upaya Fern untuk terus menghidupkan kenangan akan suaminya, sekaligus juga anomali cara membunuh kenangan. Ia tak mau melihat setiap hari tempat-tempat yang ditinggali almarhum, sekaligus ia ingin mengabdi atas nama kesetiaan cinta. Rumit? Well, setiap orang itu unik. Kita tahu bahwa kita hidup dalam kontradiksi ini, Manusia tidak pernah berhenti tumbuh dalam pengetahuan mengenai nasibnya.

Nomadland menampilkan beberapa nomad asli: Linda May, Swankie dan Bob adalah di antaranya. Film ini memang didedikasikan untuk mereka yang harus beranjak pergi, sampai jumpa di ujung jalan. Saya tak mempermasalahkan keputusan nomad, saya yajin keputusan menjelajah jalanan dengan menekuri aspal adalah salah keputusan bijak seseorang, hidup seolah piknik tiap hari. Saya hanya agak kecewa dengan cerita, konfliknya tak ditampilkan terbuka, kurang nendang, berkali-kali muncul adegan yang hanya tempelan seolah lukisan, yang saking banyaknya justru mengambil alih cerita. Film semacam ini menang Golden Globe? Monggo, tapi tidak untuk Oscar.

Ada sebuah adegan Fern membacakan sebuah puisi untuk lelaki muda nomad yang berbagi rokok. Seolah penyair sedang mempertontonkan karya, penonton adalah hadirin, penyimak, termasuk hiburan setelah kita terbosankan sepanjang menit berjalan. Puisi-puisi yang di-visualisasi-kan mencipta keindahan yang membosankan. Begitulah pembalasan yang kita sebut diri menenangkan narasi dengan sebuah dusta

Maka matahari membuat mata mereka sayu seperti makhluk yang indah. Dalam hal ini tebing tampak eksotis dengan tempaan senja adalah yang terindah, karena alam dan perempuan lebih sedap dilihat di sana.

Cara hidup nomad terasa menggairahkan, setiap waktu adalah hal baru. Hal-hal paling liar di alam, dengan aturan hidup yang paling alami. Mereka sendirian dan juga tidak sendirian. Namun dua juga bisa berupa kerumunan. Mandiri dan tak mandiri, mereka saling membantu tapi dalam teritori sewajarnya. Apa yang menarik dari kekosongan, dari kejemuan, dari desir angin, dari langit yang tak peduli? Kesunyian, pasti. Dan mungkin juga umat manusia.

Setiap angin yang menempa wajah dalam petualangan ini seolah berbisik dan membawa janjinya, selalu sama.

Nomadland | Tahun 2020 | Directed by Chloe Zhao | Screenplay Chloe Zhao | Story Jessica Bruder | Cast Frances McDormand, Gay DeForest, Patricia Grier, Linda May, Angela R. Hughes, Douglas G. Soul, Ryan Aquino | Skor: 3.5/5

Karawang, 230421 – Ida Laila – Setelah Jumpa Pertama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s