Hillbilly Elegy: Kuda Patroclus Menangis Untuk Tuannya, Meninggal dalam Pertempuran

JD: “Where we come from is who we are but we choose every day who we become.”

Elegi, menurut kamus bahasa Indonesia artinya syair atau nyanyian yang mengandung ratapan dan ungkapan dukacita (khususnya pada peristiwa kematian). Ini cerita tentang kedukaan yang timpa menimpa, ini elegi sebuah keluarga di Hillbilly, mereka menghadapi dengan tegar.

Dari sutradara kawakan Ron Howard kita diajak mengenal sebuah proses belajar kehidupan. Berdasarkan kisah nyata, diambil dari memoar berjudul sama yang terbit tahun 2016. Kisahnya merentang tiga generasi. Masa muda neneknya yang sepintas lalu, ia menikah muda ‘kawin lari’. Generasi kedua ibunya yang broken home, tersangkut narkoba dan hidupnya berantakan setelah hidup sama junkies. Generasi ketiga adalah J.D. Vance, orang yang diambil sudut pandangnya. Bagaimana ia bisa menjadi lulusan hukum Yale tahun 2013, padahal dari keluarga biasa. Luar biasa memang saat kita menyaksikan perjalanan hidup orang hebat, benar-benar mengharu biru.
Kisahnya tentang J.D. Vance (Gabriel Basso), ia tumbuh kembang dalam keluarga yang keras. Saat liburan di Jackson tahun 1997, J.D. Vance kecil (Owen Asztatos) naik sepeda untuk mandi di sungai padahal sudah siap-siap balik ke Ohio, kena perisak hingga berdarah, dibawa pulang keluarga. Ibunya Bev (Amy Adams) sangat keras, ia tak segan memukul saat JD salah, neneknya Mamaw (diperankan dengan sangat bagus oleh Glenn Close – Oscar please…) tak kalah keras sehingga JD tumbuh dengan menghantam balik kerasnya keadaan.

Kakaknya Linsay (Haley Bennett) sibuk pacaran sama Kevin, sehingga JD benar-benar kurang kasih sayang. Sebenarnya hubungan ibu anak ini bagus, bagaimana mencuri post card Joe Montana, dan saat-saat tawa akan kebersamaan. Saat ibunya pindah untuk tinggal sama suami barunya dan saudara tirinya yang aneh, segalanya berubah. Ia menjadi pecandu heroin, ia makin mudah marah, dan betapa kehidupan begitu memuakkan. Lingkaran teman JD turut memburuk, ia terlihat pengerusakan gudang, ia minum minuman keras, ia turut mudah melontarkan kata-kata kotor. Maka dalam keadaan sakit, neneknya memaksa diri mengambilnya dari rumah ibunya. Sempat terjadi cekcok, tapi keputusan radikal harus diambil.
Tinggal sama neneknya yang berupaya memperbaiki keadaan, JD berangsur membaik dalam banyak hal. Nilai sekolah aljabar dulu merah menjelma yang terbaik di kelas, ia berusaha membalas kebaikan neneknya. Kasus kalkulator juga mengerikan, bagaimana bocah sekolah mencoba mengambil dari toko, harganya yang mahal (apakah dari emas), neneknya terpaksa membelinya, JD yang kesal melemparnya keluar mobil, pungut! JD berusaha membantu keuangan dengan menjadi kasir, belajar tekun dan segalanya benar-benar ke arah positif.

Masa merentang 14 tahun kemudian, ke tahun 2011 yang sejatinya menjadi setting waktu utama. JD punya pacar keturunan India, Usha (Freida Pinto), mahasiswi magang di Washington DC. Ia sedang berusaha mendapat beasiswa Yale jurusan hukum dan kerja dalam tiga hal, tapi makan malam ramah tamah itu, atau saat penentuan jelang wawancara ia mendapat telpon dari kakaknya, ibunya sakaw dan perlu tindakan segera. Pilihan sulit, tapi tak sulit juga menentukan sebab ini film keluarga, dan keluarga jelas nomor satu. Kakaknya sibuk dengan pekerjaan dan tiga anak, jadi ia-pun berkendara jauh ke Ohio demi ibunya.

Ibunya coba dicarikan tempat rehabilitasi, menolak. Dipindahkan ke hotel, ditinggal cari makan malah nyuntik narkoba di kamar. Sementara menanti Linsay pulang dari tempatnya bekerja, ia mengurus dengan kasih. Dalam sebuah adegan menyentuh hati, kita diajak menjelajah masa lalu. Frame waktu demi waktu keluarga ini melintasi keadaan. JD was-was pula karena ada wawancara beasiswa besok jam 10:00 di Washington. Dengan segala kegalauan ini, berhasilkan ia mengejar waktu melintasi kota dalam semalam?

Cumbuan di antara keanggunan yang penuh kemenangan, semua kegairahan nyanyian kasih yang tak pernah memudar dengan datangnya pagi. Senyum JD, senyum Usha. Senyum semuanya. Ini cerita happy ending. Ini kisah nyata. Ini kisah bersisian cara penyampaiannya. Dalam film tak runut seperti yang saya ketik, sebab alurnya acak. Jelang credit title kita akan melihat video dan potongan gambar-gambar asli keluarga ini, menggemaskan dan sungguh-sungguh membumi.

Membicarakan tiap generasi, otomatis kita akan menjelaskan keadaan sosial di tiap masa. Orangtua dipengaruhi dan memengaruhi anaknya: anak-anak tidak hanya meniru kehidupan, tetapi juga membentuknya. Banyak orang meniru gaya orang sekitar. Bagaimanapun cara membesarkan anak, memengaruhi sisi psikologinya. Untung sekali sang nenek menyelamatkan JD dari pengaruh buruk lingkungan dan pergaulan.

Menjadikannya kebanggaan, walaupun sesekali kita dengar ia bangga ibunya jadi nomor 2 dari 400 siswa di sekolah.
Tindakan tanpa fondasi yang tepat akan menghasilkan bencana. Banyak sekali adegan yang menyiratkan kemarahan. Seolah bilang, “Aku bodoh. Tolol. Itulah yang terjadi kala tindakan kita dimotivasi oleh dorongan emosi, bukan logika yang kokoh.” Nenek ke ibu, ibu ke anak, lantas saat ia tumbuh dewasa tindakan yang sama dilakukan, hanya fasenya dibalik saat sang ibu sakaw. Hiks,…

Kuharap Glenn Close menang Oscar. Perannya sungguh memikat. Menjadi nenek yang peduli, yang marah, yang kecewa, yang begitu bangga pada cucunya saat ia berangkat sebagai US Marine, yang begitu bangga saat menyaksikan perubahan membaik nilai pelajaran, yang begitu memesona. Proses adaptasi Close menjadi sang nenek yang sangat amat pas, kaca matanya bahkan kaca mata asli. Kita semua merindukan nenek cerewet penuh kasih sayang. Inilah kedukaan untuk Mamaw. Kuda Patroclus menangis untuk tuannya, meninggal dalam pertempuran.

Kelegaan yang dirasa semua pihak lantas memacu kehidupan masa lalu yang lebih tenang. “Saya tidak mendengar apa-apa, hanya daun-daun yang gemerisik, dan angin.”

Hillbilly Elegy | Tahun 2020 | Directed by Ron Howard | Screenplay Vanessa Taylor | Story J.D. Vance | Cast Amy Adams, Glenn Close, Gabriel Basso, Haley Bennett, Freida Pinto, Bo Hopkins, Owen Asztalos | Skor: 4/5

Karawang, 230421 – Take Over band feat John Paul Ivan – Cuma Kamu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s