Quo vadis, Aida?: Bagaimana Membedakan Kegilaan dengan Kebodohan, Kesetanan dengan Kemanusiaan?

Aida Selmanagic: “General Mladic is looking for a civilian representiative with him. Are there any volunteers?”

Perang adalah buah dari harapan yang keliru. “Aku merasa bahwa dewa-dewa yang kehilangan sesuatu begitu lama karena tidak ada yang bangkit menentang mereka.” kata Promethous di Kaukasus, Lucian. Prometheus adalah pahlawan yang cukup mencintai manusia untuk memberinya kebebasan, teknologi, seni. Dan juga api, ada nyala api yang menunggu di Bosnia yang genting.

Jika perang selalu menjadi anakronisme sosial, masalahnya tidak akan selesai dengan menjadikan militer dan perang sebagai kambing hitam. Manusianya yang bermasalah, ideologinya hitam. Anarki dengan obsesi membunuh. Militer pada dasarnya tetap dibawah naungan politik, dan para elit militer di kawasan perang ini terjebak dalam persaingan militer. Korbannya tetap rakyat biasa. Kita tahu itu kejahatan perang, dan kita tahu itu kenyataan.

Hendak kemana, Aida? Judul yang eksotis sehingga menarik tanya tonton. Apa maksudnya? Dan seusai Subuh kucoba nikmati jelang berangkat kerja (21/04/21) lalu kutuntaskan di sela kerja, barulah tahu kegalauan yang dimaksud. Ini bukan sekadar tanya buat para penonton, ini juga bukan tanya buat umat manusia yang menuduh semesta bertindak semena-mena, lebih dari itu. Ini tanya ke nurani manusia, betapa kejam kita terhadap sesama, betapa tak berperikemanusiaan terhadap kaun kita sendiri. Tragis, trenyuh, menyedihkan. Hendak ke mana Aida? Tuhan telah mati…

Kisahnya fokus pada Aida Selmanagic (Jasna Djuricic) yang menjadi penerjemah PBB di daerah konflik Perang Bosnia pada Juli 1995. Ia mendapat akses ke banyak area dengan kalung identitas dan mencoba memanfaatkannya untuk menyelamatkan manusia, terutama tentu saja suaminya Nihad (Izudin Bajrovic) dan kedua putranya Hamdija (Boris Ler) dan Sejo (Dino Bajrovic). Bosnia kalah perang, Serbia menjajah kota, mengirim tank dan pasukan guna memporakporandakan segalanya. Terlihat di adegan pembuka, sejumlah warga mencoba kabur. Para petinggi kota langsung dieksekusi. Semua kalang kabut.

Saat warga mengungsi ke UN Camp di kota kecil Srebrenica, dan gedung hanya bisa menampung sebagian. Mayoritas warga sipil tertahan di luar gedung yang panas dan tak tentu nasib. Film ini fokus di sini. Para tahanan, para warga, para manusia kalah yang menanti tindakan pemerintah. Aida tampak sangat sibuk. Sebagai penerjemah ia wara-wiri antara militer yang kalah dengan militer yang menang. Ia turut serta mengetahui rencana buruk yang akan dilakukan pemenang perang.

Sementara ia berhasil memasukkan dua anak dan suaminya ke kamp, ia diikutkan sama warga di gedung dengan akses sandang pangan terbatas, setidaknya sektor papan terlindungi dari panas yang menyengat. Namun sampai kapan?

Saat ada evaluasi lanjutan, pihak militer mendatangkan berderet bus dan truk dengan iringan tank di kedua sisi kekhawatiran semakin menjadi. Warga di luar gedung diangkut dengan sistem yang membuat buku kuduk berdiri. Dengan dalih apapun, mereka jelas dipindahkan bukan di tempat yang nyaman. Anak-anak dan perempuan dipisah dengan lelaki. Evakuasi ini memilukan, kita turut menyaksikan terpisahkan tak ada kompromi. Laki-laki ke truk kiri, yang lain ke bus kanan. Tak perlu spekulasi banyak cingcong, jelas mereka akan dieksekusi.

Maka saat orang-orang yang di luar gedung selesai, target berikutnya ya yang di dalam gedung. Semua warga sipil tak terkecuali harus diangkut. Aida jelas berupaya semaksimal mungkin melindungi keluarganya. Setelah warga di penampungan habis, mereka disembunyikan di kamar tim militer, Aida meminta keluarga dimasukkan ke data PBB. Kolonel tentu saja menolak, ia tak mau ambil resiko, Aida melawan.

Saat berupaya meminta kartu jaminan muter-muter tak dapat, printer rusak. Ia meminta keringan ke bos, tak digubris. Ia sendiri udah frustasi. Saat kembali, keluarganya sudah diangkut, ia langsung menyusul untuk menarik mereka, disembunyikan lagi ke area gudang yang gelap. Aida, hendak ke mana lagi? Mencoba lagi minta bos membuat lagi kartu, yang tetap saja ditolak. Kami ada di daftar! Kami ada di daftar! Suasana kacau balau, suasana mengerikan.

Saat lagi-lagi keluarganya ketahuan lalu digiring ke truk, ia melakukan tindakan usaha akhir. ia bersimpuh di kaki bosnya, ia meminta tolong dengan sangat agar mereka tak dibawa, oh kita tak bisa melakukan apa-apa Aida. Peluk dan kasih perpisahan yang memilukan terjadi, dan seperti dokumen yang ia tahu, keluarganya akan dieksekusi dengan laki-laki lainnya. Saat truk bergerak meninggal kepul asap dalam kepiluan Aida, yang tertinggal hanyalah angkasa, membentang menuju perjalanan yang tak bergerak.

Adegan mereka dimasukkan ke gedung dengan kedua tangan di atas kepala, menyerah sungguh menyedihkan. Lalu saat kamera mengambil gambar dari jarak dekat moncong senjata yang dimunculkan di celah lalu rentetan terdengar, setelahnya gambaran dua mobil di luar gedung dengan iringan brem berkepanjangan, luar biasa. Tuhan telah mati! Di manakah hati nurani manusia? Diletakkan di mana seharusnya identitas jiwa yang suci itu? Aida, hendak ke mana?

Dalam buku Post-Military Society: Militerism, Demilitarization and War at the End of the Twentieth Century karya Martin Shaw terdapat istilah militer yang rumit. “Tentara dibentuk untuk beberapa alasan yang murni militer – persaingan regional antar Negara, pemberontakan dalam negeri, dan perang sipil – tetapi sering kali sebagai alat politik. Militerisme merupakan watak dari organisasi sosial semua masyarakat kelas dan bahwa kapitalisme memproduksi bentuk militerismenya sendiri yang aktif. ‘Partisipasi’ dan ‘mobilisasi’ adalah konsep sisi dua yang penting bagi militerisme dan militerisasi.”

Secara keseluruhan jelas ini film yang amat sangat memilukan. Bagus secara cerita, bagus secara alur, bagus sekali naskahnya. Sampai ikut menangis menyaksi kehampaan hati Aida. Pembantaian terjadi di banyak tempat, laiknya peralihan kekuasaan yang memakan korban tak pandang kasta dan logika, dan rakyat terenggut kemerdekaannya. Formula Kemanusiaan berbunyi, “Bertindaklah dengan mendudukkan kemanusiaan, senantiasa sebagai tujuan, bukan hanya sebagai sarana.”

Sebagai film bahasa asing pertama yang selesai kusaksikan. Peluang Aida mungkin kecil, tapi jelas butuh kebesaran hati untuk menyaksikan hingga adegan anak-anak, sebagai tunas bangsa dan harapan masa depan. Mereka yang mencintai dan terpisah dapat hidup dalam penderitaan, namun ini bukan keputusasaan: mereka tahu bahwa cinta itu ada. Anak-anak generasi mendatang akan tahu kisah pilu ini suatu hari, mereka akan tahu sejarah hitam bangsa ini. dunia yang fana. Lalu satu hal lagi yang sangat menggelisahkan, mengapa mayoritas manusia mempertahankan ‘kegilaan’ itu dengan landasan keyakinan yang sangat ultrafanatis?

Lantas, bagaimana membedakan kegilaan dengan kebodohan, kesetanan dengan kemanusiaan? Aida tak bisa ke mana-mana.

Qua vadis, Aida? | Tahun 2020 | Bosnia and Herzegovina | Directed by Jasmila Zbanic | Screenplay Jasmila Zbanic | Cast Jasna Djuricic, Izudin Bajrovic, Boris Ler, Dino Bajrovic, Johan Heldenbergh, Raymond Thiry, Boris Isakovic | Skor: 4.5/5

Karawang, 220421 – Hanson – Where’s the Love?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s