Ma Rainey’s Black Bottom: Perfect Blues

Levee: “I can smile and say yessir to whoever I please. I got my time coming to me.”

Proses rekaman lagu Ma Rainey’s Black Bottom yang menggairahkan. Apa yang terjadi: akan, sedang, dan setelah rekaman sepanjang satu setengah jam benar-benar luar biasa. Meledak bak delapan granat yang dilempar secara serentak. Berdentum bermenit-menit bahkan setelah film usia. Sinisme, harga diri, perjuangan persamaan hak, hingga apa arti kebersamaan. Tema yang asyik dengan durasi yang pas. Setting utama hanya di studio rekaman, hanya berkutat di situ. Apa yang ditampilkan sudah cukup mewakili suara para pihak yang terlibat. Ini adalah penghormatan terakhir Chadwick Boseman, Sang Black Panther yang meninggal dunia tahun lalu.

Kisahnya tentang rekaman lagu tanggal 2 Juli 1927 di studio Paramount, Chicago milik warga kulit putih. Para anggota band Georgia Jazz Band tiba terlebih dulu terdiri atas: Toledo (Glynn Turman), Cutler (Colman Domingo), Slow Drag (Michael Potts), dan Levee Green (Chadwick Boseman). Mereka berlatih sembari menunggu sang diva. Levee memiliki sepatu baru kuning mengkilap, ia adalah anggota baru, menjadi tokoh yang menonjol dengan impian memiliki band sendiri, yang paling muda yang paling memberontak. Ia berkisah di masa lalu bagaimana ibunya diperkosa warga kulit putih, ingatan itu terpatri kuat dan mencoba membalas trauma itu dengan menunjukkan jati diri. Ia menawarkan original komposer Sturdyvant. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat orang berhenti berpikir kritis. Ya Sir katamu? Saya punya kisah tak terlupa, trenyuh.

Cutler adalah pemimpin band, ia bersikeras memakai musik asli Ma, tapi ditentang oleh Levee yang mengingin versinya. Saat ditanyakan manajer band Irvin (Jeremy Shamos), ya pakai Sturdyvant saja. Dengan gesture tak peduli, sang pemimpin band merasa kecewa, Levee jumawa.

Saat Ma Rainey (Viola Davis) tiba kecelakaan kecil terjadi di depan studio, mobil barunya tergores dan sang manajer diminta membereskannya. Ia bersama keponakan Sylvester (Dusan Brown) yang gagap, memaksanya masuk band sebagai intro, bersama pula penari Dussie Mae (Taylour Paige) yang menggoda. Ketiga disambut bak raja. Yah, Ma memiliki suara emas, mereka hanya menginginkan suaranya. Fakta bahwa warga kulit hitam hanya dimanfaatkan adalah kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Kalian kesal sama Ma? Ya awalnya , terlihat egois. Lalu Fanta-fanta diskriminasi diapungkan, dan kita justru membernarkan. Amerika tahun 1920-an begitu semena-menanya karena warna kulit beda.

Saat latihan lagi, betapa sulitnya Sylvester masuk ke lagu bahkan sekadar memulai. Kalimat legendaris yang berkali-kali diulang Cutler: “Ma Rainey’s Black Bottom. A one. A two. A you-know-what-to-do” berulang kali diambil. Dan saat Cutler tanya ke Ma pakai irama apa? Ya jelas pakai miliknya. Hahahaha… Levee yang egois menunjukkan kecewa. Saat di studio tak kalah heboh, panas minta kipas. Haus minta cola. Dan rehat lagi, terjadi cinta sesaat antara Levee dan Mae. Si omong besar akan band sendiri dan si gadis yang mata duitan. Klop. Anda memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, pekerjaan juga hal yang penting, pakaian juga penting, mewujudkan ambisi penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Setiap individu memiliki tujuannya masing-masing.

Saat akhirnya rekaman dimulai, keping kaset dibuang berkali-kali sebab seperti saat latihan Sylvester gagap. Saat adegan masuk, lagu menggema hebat. Yah, mic milik si keponakan ternyata tak tersambung sempurna, Ma tak peduli, rekaman harus diulang. Jelas ini membuat gusar manajer dan pemilik studio. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita.

Saat rekaman usai dengan sangat manis, dan Ma ‘dipaksa’ menandatangani rilis lagu, terjadi drama. Levee dipecat, ia lalu mencoba merayu sang bos buat mendengar demo lagunya, dan kegusaran itu membunuh. Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri. Betapa dunia bergerak dengan tak waras, betapa kehidupan melaju dengan kejam. Sadis tak terperi, sepatu terinjak hanyalah alibi, kemarahan itu meletup tak terkendali. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi. Adegan di paling ujung lebih gilax lagi, bagaimana warga kulit putih band Paul Whiteman’s Orchestra memainkan Sturdyvant milik Levee yang malang! *
Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis, keduanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi material kita. Siapa yang tak bergetar hatinya mendengar Ma menyenandungkan dengan dahsyat lagu itu. Pantas warga kulit putih membayar mahal, adegan pembuka saat orang-orang yang berlari kendang di hutan seolah dikejar anjing itu kukira tak lebai. Mereka rela gegas demi antri tiket live Jazz dipersembahkan.

Ma Rainey’s Black Bottom adalah film Oscar pertama tahun ini yang kunilai sempurna. Benar-benar hidup. Music jazz menghantui, proses pembuatan di tahun 1920-an yang jadul, klasik, dan sederhana. Saya suka hal-hal sederhana. Dramanya dapat, musiknya dapat, akting kedua bintang utama luar biasa. Viola Davis bisa saja kalah, tapi Boseman yang almarhum menjadi kandidat sangat kuat melawan Pak tua Hopkins. Film dengan dua aktor di di dua kategori bergengsi yang tak masuk Best Picture? Serius? Hah…

Lagu yang dimainkan musisi berbeda jelas memberi hasil yang berbeda pula. Szwed, John F., dalam “Memahami dan Menikmati Jazz” biang, “Jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri.” Makanya endingnya terasa bgst, siapa yang memulai siapa yang menikmati. Terasa wajar dan pantas apa yang dilakukan Ma, ia memiliki suara emas dan karya maka ia menuntut, ia memperjuangkan haknya, melindungi sesuatu yang ternilai sebab bisa saja hal buruk gegas terjadi di masa Amerika yang diskriminasi.

Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan raungan jazz berkelas. Sebagai penghormatan atas almarhum Chadwick Boseman, saya turut menebak dia-lah yang akan disebut namanya Senin pagi nanti.

Ma Rainey’s Black Bottom | Tahun 2020 | Directed by George C. Wolfe | Screenplay Ruben Santiago-Hudson | Story August Wilson | Cast Viola Davis, Chadwick Boseman, Colman Domingi, Glynn Turman, Michael Potts, Jeremy Shamos, Jonny Coyne, Taylour Paige, Dusan Brown | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Charlie Parker – Jam Sessions (1952)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s