The Trial of the Chicago 7: Bagaimana Perang di Pengadilan Dicipta

Tom Hayden: “Those are two contradictory instructions.”

Kita akan menemukan apa yang kita bayangkan sejak awal. Perang harus diakhiri, dan itu butuh darah pengorbanan di jalanan kota. Film yang luar biasa menghentak. Segala peluru amunisi ditembakkan secara membabibuta di gedung pengadilan. Rentetan bom diledakkan seolah tak berujung. Jebakan kata bisa meledak setiap saat. Adu cerdik, adu taktik di depan Yang Mulia menjadi pertempuran akbar tujuh aktivis kemanusiaan yang memperjuangkan Anti-Perang melawan Negara yang semena-mena. Semua ini masalah kemanusiaan, harga diri diredam, dan tameng-tameng itu bombardir rentetan tembak membabi buta. Mereka kalah jumlah, kalah senjata, kalah pasukan, kalah sebelum berperang. Namun tidak, tidak sepenuhnya sang raksasa berhasil mencincang sepasukan jagoan kecil ini. penonton dan warga dunia menyaksikan, dan mari kita beri aplaus paling meriah untuk laporan akhir mengguncang pengadilan yang terhormat.

Kisahnya berkutat di pengadilan Chicago, dari sidang ke sidang yang melelahkan. Sesekali muncul adegan demontrasi yang menyebab proses ini: dari, saat, dan setelahnya. Tujuh orang yang diadili adalah orang-orang yang didakwa mengkoordinasi massa, mereka memprotes perang Vietnam, konversi Partai Demokrat di Chicago tahun 1968. Masa puncak invasi ke Asia Tenggara itu diproses, dibahas para wakil rakyat, lalu masyarakat demo, prosesnya dikemas dengan sangat menawan. Dan terjadilah kerusuhan.

Biang rusuh digugat, mereka adalah: Abbie Hoffman (Sacha Baron Cohen), Jerry Rubin (Jeremy Strong), Bobby Seale (Yahya Abdul-Mateen II), John Froines (Danny Flaherty), Tom Hayden (Eddie Redmayne), Lee Weiner (Noah Robbins), dan David Dellinger (John Carroll Lynch). Jaksa penuntut yang ditunjuk adalah Richard Schultz (Joseph Gordon-Levitt) yang sedari awal sekali film tampak ragu, apanya yang dituntut? Namun sebagai jaksa terbaik ia mencoba menjalankan tugas.

Persidangan dipimpin hakim Julius Hoffman (Frank Langella). Pengacara David Dellinger dkk diampu William Kunstler (Mark Rylance) yang tampil ciamik. Kantornya meriah dengan poster-poster protes, tulisan ‘Konspirasi’ ditempel di dinding berjumlah empat deret. Dalam rembug bilang, ini adalah persidangan politik. Dalam ilmu hukum adanya sidang pidana dan perdata Lik, oh tidak. Ini adalah proses hukum politik buat para aktivis. Revolusi belum usai.

Dalam persidangan itulah terungkap banyak sekali hal-hal tak tampak selama demo. Polisi cantik yang menyamar Daphne O’Connor (Caitlin FitzGerald) masuk ke tubuh aktivis dengan cara yang membuat pukau para idealis. Kepada Jerry ia bilang, “Kamu tahu, kenapa orang Prancis sarapan hanya dengan sebutir telur? Karena di Prancis satu telur is ‘un oeuf’ (cukup).” Cara menyampaikan un oeuf yang meluluhkan hati, apakah ini diajarkan di akademi. Fck!

Boby Seale ditahan sebab banyak omong dan dianggap mengganggu serta menghina pengadilan. Pengacaranya sedang sakit, ia sering komunikasi sama rekannya yang nantinya justru ditembak mati di subuh hari. Sang pemimpin genk ini David Delliger juga akhirnya diringkus sebab marah saat menyampaikan pendapat, yang dianggap belum diberi kesempatan bicara. Ia bahkan memukul petugas yang mencoba menenangkannya. So sorry… so sorry…

Ditampilkan secara bersisian gonta-ganti dengan video klip asli saat demo. Konser musik dengan latar perjuangan. Orasi penuh motivasi ala ala stand up comedy yang dibawakan dengan gemilang oleh Abbie Hoffman, diiringi musik berdegub nan mewah: perang adalah situasi buruk kawan-kawan. Lalu dalam adegan yang berdarah, saat ada demonstran anak kecil naik ke tiang dan dipukuli polisi, saat seharusnya menahan diri, Tom Hayden dengan nada provokasi indah puitik, “Jika darah akan mengalir, biarkan mengalir ke seluruh kota.” Kalimat yang dijadikan bukti memberatkannya, yang membuatnya tak bisa jadi saksi kunci sebab terekam jelas.

Mereka yang bersenjata menekan, mereka yang melawan babak belur, mereka mulai mengendur, ditempelengi angin, dipojokkan bar penuh politikus, lalu menyerah… Asal usul seseorang menentukan partisipasi politiknya, tidak semua orang kaya itu termasuk golongan reaksioner. Terkadang para borjuis yang menjalankan revolusi, ah langka, sementara orang miskin mendukung fasisme. Black Panther, Sayap Kiri, Perkumpulan Demokrasi Pelajar, Partai Muda Internasional, sebut saja…

Dengan segala yang memberatkan, dengan hakim yang jelas berat sebelah, dengan kondisi timpang dan compang camping dalam pembelaan rasanya ancaman hukuman 10 tahun maksimal penjara akan diketuk dengan mantab. Bahkan saat Kunstler dan tim memanggil mantan jaksa agung di era Presiden sebelumnya Lyndon B. Johnson, awalnya tampak meragu Ramsey Clark (Michael Keaton) mau menjadi saksi, tapi ia dengan meyakinkan siap hadir. Saat dihadirkan ia tampil memesona, “Presiden bukan klien.” Dan saat pertanyaan dalam pembicaraan telepon, apakah presiden akan menuntut, oh tidak. Polisilah yang memulai kerusuhan! Sayang 12 juri tak dihadirkan, sayang sekali Ramsey Clark dipaksa turun dari kursi saksi, dan sayang sekali tepuk tangan membahana hadirin tak mencapai titik keputusan yang diharap. Rasanya benar-benar habis. Bagaimana menyelamatkan prinsip saat semua keadaan menyudutkan? Tom Hayden memiliki jawabannya. Menghentak! Waktu berlalu selagi kita bersidang, korban berjatuhan di Timur Jauh sana, selagi kita memertanyakan keadilan.

Saat nasib akhir para terdakwa dibuat dalam tulisan epilog, kita tahu mengapa pengadilan memakai simbol wanita dengan mata tertutup membawa timbangan. Saya benar-benar turut tepuk tangan adegan ending itu. Dan makin kesemsem saat tahu film dibuat dan ditulis oleh Aaron Sorkin, manusia istimewa yang menulis naskah dengan CV keren nan panjang. Secara kualitas, sejauh ini jelas The Trial adalah film Oscar terbaik tahun ini. Sangat amat layak menang kategori tertinggi. Untuk editing laik menang, sinematografi nanti dulu.

Ruang sidang bagi mereka seolah adalah panggung untuk menyampaikan gagasan. Akting Sacha Baron dan Eddie Redmayne paling memukau. Ada begitu banyak yang ingin disampaikan sehingga seolah tak tahu apa yang harus dikatakan. Dalam pengertian mereka, revolusioner berarti radikal; berhasrat melakukan perubahan dengan cepat. Perang harus diakhiri. Saat sang hakim memberi kesempatan untuk menyampaikan sesuatu sebelum vonis. Seolah Tom dan dirinya mengukur hati masing-masing. Singkat? Ya… banjir kata-kata gan! Semua hadirin berdiri memberikan tepuk tangan paling meriah, termasuk jaksa penuntut, termasuk semua penonton. Sebuah kemenangan sesungguhnya yang secara tersurat tersampaikan bahwa misi utama menarik pasukan Amerika, berhasil.

Di luar gedung terjadi demontrasi yang menuntut para aktivis dibebaskan, dunia menyaksikan. Para terdakwa kini menjadi ‘pahlawan’, kisah-kisah heroik setiap individu jadi sungguh aduhai. Kadang kebenaran sulit diterima. Dan revolusi ini mencipta banyak harapan, kalian bisa jadi apa saja. Tak perlu takut diangkut pemerintah pada usia 18-24 tahun untuk wajib militer, tak perlu panik saudara atau kerabat mati di medan perang. Sebuah revolusi terhadap dogma-dogma pemikiran tradisional. Seperti kata pakar militer Carl von Clausewitz, “Mau dibilang apa, perang adalah kelanjutan dari politik.”

The Trial of the Chicago 7 | Tahun 2020 | Directed by Aaron Sorkin | Screenplay Aaron Sorkin | Cast Eddie Redmayne, Alex Sharp, Sacha Baron Cohen, Jeremy Strong, John Carroll Lynch, Yahya Abdul-Mateen II, Mark Rylance, Joseph Gordon-Lewitt, Ben Shenkman, J.C. MacKenzie, Frank Langella, Michael Keaton | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Robin Williams – Feel

Ma Rainey’s Black Bottom: Perfect Blues

Levee: “I can smile and say yessir to whoever I please. I got my time coming to me.”

Proses rekaman lagu Ma Rainey’s Black Bottom yang menggairahkan. Apa yang terjadi: akan, sedang, dan setelah rekaman sepanjang satu setengah jam benar-benar luar biasa. Meledak bak delapan granat yang dilempar secara serentak. Berdentum bermenit-menit bahkan setelah film usia. Sinisme, harga diri, perjuangan persamaan hak, hingga apa arti kebersamaan. Tema yang asyik dengan durasi yang pas. Setting utama hanya di studio rekaman, hanya berkutat di situ. Apa yang ditampilkan sudah cukup mewakili suara para pihak yang terlibat. Ini adalah penghormatan terakhir Chadwick Boseman, Sang Black Panther yang meninggal dunia tahun lalu.

Kisahnya tentang rekaman lagu tanggal 2 Juli 1927 di studio Paramount, Chicago milik warga kulit putih. Para anggota band Georgia Jazz Band tiba terlebih dulu terdiri atas: Toledo (Glynn Turman), Cutler (Colman Domingo), Slow Drag (Michael Potts), dan Levee Green (Chadwick Boseman). Mereka berlatih sembari menunggu sang diva. Levee memiliki sepatu baru kuning mengkilap, ia adalah anggota baru, menjadi tokoh yang menonjol dengan impian memiliki band sendiri, yang paling muda yang paling memberontak. Ia berkisah di masa lalu bagaimana ibunya diperkosa warga kulit putih, ingatan itu terpatri kuat dan mencoba membalas trauma itu dengan menunjukkan jati diri. Ia menawarkan original komposer Sturdyvant. Interpersonal sepenuhnya adalah tentang kelekatan emosional. Dan cara terbaik untuk membangun kelekatan tersebut, adalah dengan membuat orang berhenti berpikir kritis. Ya Sir katamu? Saya punya kisah tak terlupa, trenyuh.

Cutler adalah pemimpin band, ia bersikeras memakai musik asli Ma, tapi ditentang oleh Levee yang mengingin versinya. Saat ditanyakan manajer band Irvin (Jeremy Shamos), ya pakai Sturdyvant saja. Dengan gesture tak peduli, sang pemimpin band merasa kecewa, Levee jumawa.

Saat Ma Rainey (Viola Davis) tiba kecelakaan kecil terjadi di depan studio, mobil barunya tergores dan sang manajer diminta membereskannya. Ia bersama keponakan Sylvester (Dusan Brown) yang gagap, memaksanya masuk band sebagai intro, bersama pula penari Dussie Mae (Taylour Paige) yang menggoda. Ketiga disambut bak raja. Yah, Ma memiliki suara emas, mereka hanya menginginkan suaranya. Fakta bahwa warga kulit hitam hanya dimanfaatkan adalah kebenaran yang menggelisahkan, sebuah kesadaran bisu bahwa di hadapan keluasan tanpa batas, segala yang kita kasihi sekejap menjadi hampa. Kalian kesal sama Ma? Ya awalnya , terlihat egois. Lalu Fanta-fanta diskriminasi diapungkan, dan kita justru membernarkan. Amerika tahun 1920-an begitu semena-menanya karena warna kulit beda.

Saat latihan lagi, betapa sulitnya Sylvester masuk ke lagu bahkan sekadar memulai. Kalimat legendaris yang berkali-kali diulang Cutler: “Ma Rainey’s Black Bottom. A one. A two. A you-know-what-to-do” berulang kali diambil. Dan saat Cutler tanya ke Ma pakai irama apa? Ya jelas pakai miliknya. Hahahaha… Levee yang egois menunjukkan kecewa. Saat di studio tak kalah heboh, panas minta kipas. Haus minta cola. Dan rehat lagi, terjadi cinta sesaat antara Levee dan Mae. Si omong besar akan band sendiri dan si gadis yang mata duitan. Klop. Anda memiliki iman bahwa cinta adalah hal yang penting, pekerjaan juga hal yang penting, pakaian juga penting, mewujudkan ambisi penting, dan semua hal ini adalah sesuatu yang penting. Setiap individu memiliki tujuannya masing-masing.

Saat akhirnya rekaman dimulai, keping kaset dibuang berkali-kali sebab seperti saat latihan Sylvester gagap. Saat adegan masuk, lagu menggema hebat. Yah, mic milik si keponakan ternyata tak tersambung sempurna, Ma tak peduli, rekaman harus diulang. Jelas ini membuat gusar manajer dan pemilik studio. Semakin kita menghargai sesuatu semakin kita keberatan untuk mempertanyakan atau mengubah nilai tersebut, dan maka semakin menderitalah kita jika nilai itu mengecewakan kita.

Saat rekaman usai dengan sangat manis, dan Ma ‘dipaksa’ menandatangani rilis lagu, terjadi drama. Levee dipecat, ia lalu mencoba merayu sang bos buat mendengar demo lagunya, dan kegusaran itu membunuh. Harapan pada akhirnya menghancurkan diri sendiri sekaligus mengekalkan-dirinya-sendiri. Betapa dunia bergerak dengan tak waras, betapa kehidupan melaju dengan kejam. Sadis tak terperi, sepatu terinjak hanyalah alibi, kemarahan itu meletup tak terkendali. Pada akhirnya, hanya emosilah yang menggerakkan kita untuk bertindak. Ini karena tindakan adalah emosi. Adegan di paling ujung lebih gilax lagi, bagaimana warga kulit putih band Paul Whiteman’s Orchestra memainkan Sturdyvant milik Levee yang malang! *
Natur spiritual kita adalah lompatan kualitatif melampaui natur-natur fisik dan psikis, keduanya berakar pada tubuh fisik dan eksistensi material kita. Siapa yang tak bergetar hatinya mendengar Ma menyenandungkan dengan dahsyat lagu itu. Pantas warga kulit putih membayar mahal, adegan pembuka saat orang-orang yang berlari kendang di hutan seolah dikejar anjing itu kukira tak lebai. Mereka rela gegas demi antri tiket live Jazz dipersembahkan.

Ma Rainey’s Black Bottom adalah film Oscar pertama tahun ini yang kunilai sempurna. Benar-benar hidup. Music jazz menghantui, proses pembuatan di tahun 1920-an yang jadul, klasik, dan sederhana. Saya suka hal-hal sederhana. Dramanya dapat, musiknya dapat, akting kedua bintang utama luar biasa. Viola Davis bisa saja kalah, tapi Boseman yang almarhum menjadi kandidat sangat kuat melawan Pak tua Hopkins. Film dengan dua aktor di di dua kategori bergengsi yang tak masuk Best Picture? Serius? Hah…

Lagu yang dimainkan musisi berbeda jelas memberi hasil yang berbeda pula. Szwed, John F., dalam “Memahami dan Menikmati Jazz” biang, “Jika karya yang sama dimainkan lagi malam harinya, karya itu juga diharapkan terdengar baru. Tuntutan tingkat kreativitas sangat tinggi, bahkan terdengar tidak realistis; musisi tidak saja dituntut untuk terdengar berbeda dari musisi lain tapi juga berbeda dari dirinya sendiri.” Makanya endingnya terasa bgst, siapa yang memulai siapa yang menikmati. Terasa wajar dan pantas apa yang dilakukan Ma, ia memiliki suara emas dan karya maka ia menuntut, ia memperjuangkan haknya, melindungi sesuatu yang ternilai sebab bisa saja hal buruk gegas terjadi di masa Amerika yang diskriminasi.

Pengalaman menghasilkan emosi. Emosi menghasilkan nilai. Nilai menghasilkan cerita-cerita tentang makna. Dan orang yang berbagi cerita makna yang sama, berkumpul bersama untuk menghasilkan raungan jazz berkelas. Sebagai penghormatan atas almarhum Chadwick Boseman, saya turut menebak dia-lah yang akan disebut namanya Senin pagi nanti.

Ma Rainey’s Black Bottom | Tahun 2020 | Directed by George C. Wolfe | Screenplay Ruben Santiago-Hudson | Story August Wilson | Cast Viola Davis, Chadwick Boseman, Colman Domingi, Glynn Turman, Michael Potts, Jeremy Shamos, Jonny Coyne, Taylour Paige, Dusan Brown | Skor: 5/5

Karawang, 210421 – Charlie Parker – Jam Sessions (1952)