Borat Subsequent Moviefilm: Oscar untuk Cerita Semacam Ini? Bah!

Borat: “Only men and bears are allowed inside car.”

Banyak orang terlambat mati dan beberapa mati terlalu dini. Tapi dokrin itu masih terdengar asing, “Matilah pada saatnya yang tepat.” Ketika Borat dibebaskan, lalu menjalani misi ke Amerika kalau gagal akan dihukum mati, saya langsung bilang ‘omong kosong’. Omong kosong untuk eksekusinya, kalau misinya? Oh ini konspirasi ngasal, jangan diambil hati. Sekuel ini tak akan membunuh Borat. Dan terbukti.

Film yang annoying. Saya menyaksikan sekuel Borat dengan pesimistis, dan terbukti rasa jengah itu menjadi kenyataan. Apa yang bisa dilakukan oleh komedi dokumenter politik? Remuk. Perjalanan Borat ke Amerika untuk menyerahkan hadiahnya kepada wakil presiden terasa konyol sedari mula. Perintah dari pemerintah, kalau sampai misi gagal ia akan dieksekusi mati. Dengan penampilan kumal, ia dibersihkan, dimandikan, disuntik entah apa, diberi pakaian layak.

Maka perjalanan panjang dari Kazakhtan ke Amerika dimulai. Anehnya Borat Sagdiyev (Sacha Baron Cohen) naik kapal, mampir China, mampir Australia, mampir Eropa. Saat sampai di Amerika, saat boks dibongkar, monyetnya mati dimakan oleh putrinya Tutar Sagdiyev (Maria Bakalova) yang turut serta dalam pelayaran. Sempat akan dikirim balik, tapi justru memutuskan sang putri dijadikan hadiah.

Untuk mempersembahkannya, Tutar didandani. Wajahnya dipermak, dadanya dioperasi dengan harga 21.751 dollar karena dananya kurang Borat mencari duit jadi tukang cukur, sementara Tutar dititipkan ke warga sekitar, saat duitnya komplit, justru Tutar justru menemukan seminar tentang persamaan gender. Tentang feminism di era modern. Wanita juga bisa nyupir, bisa bekerja, bisa menjadi dirinya sendiri. Bisa punya pilihan. Jadi selama ini buku hijau dari sukunya palsu? Ya.

Termasuk saat beli kue yang memakan langsung, dan figure bayi ditelan. Sungguh annoy saat konsultasi, bagaimana cara mengeluarkan bayi dari tubuhnya. Oh hidup adalah hidup, tak peduli sekecil apa di dalam perut. Mencipta mis-komunikasi dengan sengaja seperti ini membuatku muak. Borat dan anaknya menipu publik, ini dokumenter aneh dan mengganggu. Termasuk bagaimana kemaluan menelan pemiliknya sebab menyentuhnya. Ga jelas, geje, memalukan.

Saat Tutar melakukan perlawanan, ia menjadi seperti wanita Amerika kebanyakan. Menjadi reporter konser lalu mencoba menjadikan hadiah buat Michael Pence. Borat bertemu dengan dua ilmuwan, turut tinggal dan mengapa jalanan sepi? Oh virus menghantam, semua orang karantina mandiri. Dalam kediaman menulis lagi yang mengecam partai republik, dan Obama. Yang saat konser dinyanyikan live. Makin absurd.

Eksekusi endingnya makin gajebo saat Tutar melakukan wawancara, Borat yang mendapat ilham bahwa persembahan semacam itu tak baik dari Jeanice Jones hanya karena ia mau mengambil bola tahanan beserta rantainya. Lalu ia pun melakukan sabotase wawancara. Konyol, ga lucu, blas ga menarik. Dokumenter macam apa ini. Payah! Ga relate sama kehidupan modern Barat, dan juga Timur.

Kejutan yang dicipta akhir juga tak terlalu mengejutkan. Makan kelelawar? Virus yang dibawa ke sana oleh karakter ini? Dan adegan Tom Hanks yang muncul sekian detik di Aussie yang kena Covid-19. Ahhh… sungguh mengada-ada.

Dua nominasi Oscar kuprediksi gagal semua. Cerita adaptasi jelas kalah, asal saja ini kisah walaupun dibuat oleh keroyokan scenario tetap saja. Buruk dan ngantuk dan cenderung kacau. Untuk supporting actress, lumayan aja. Debut Maria Bakalova di Amerika tak akan menang piala. Ia memang menawan, cantik dan menggemaskan. Namun tidak, saya tak menyarankan juri Oscar memilihnya. Mungkin dia-lah daya tarik utama cerita ini. Tutar menggunakan Bahasa Bulgaria, menjadikan akses canpur aduk sama Bahasa Negara Eropa lainnya. Tutar artinya ‘Putri’ dari Bahasa Estonia.

Judul aslinya “Borat: Gift of Pornographic Monkey to Vice Premiere Mikhael Pence to Make Benefit Recently Diminished Nation of Kazakhtan.” Ah hanya bikin sensasi saja, saya lebih senang sebut Borat 2. Judul panjang 110 karakter ini menuliskan rekor mengalahkan film yang pernah masuh nominasi Oscar sebelumnya dipegang oleh “Those Magnificent Men in Their Flying Machines or How I Flew from London to Paris in 25 hours 1 minutes.” (1965) dengan 85 karakter.

Dalam pepatah Jawa yang terkenal: ‘perempuan adalah swarga nunut nraka katut.’ Artinya, perempuan adalah surga turut, neraka ikut. Borat 2 mencipta desakan protes, bahwa wanita setara dengan pria. Feminism yang diperjuangkan. Tutar mengalami perubahan signifikan dari remaja perempuan yang dibelenggu, dianggap hanya sebagai hadiah, dan akhirnya menjadi dewasa dalam sekejap. Hebat, penuturan kata dari wanita-wanita independen langsung merubahnya. Kritik sosial yang tebal tapi terjadi berkali-kali penyimpangan arti, yang bisa muncul karena tiga hal: ambiguitas, kontradiksi, dan nonsence. Perjalanan ini sendiri sudah ambigu. Hadiah berubah, misi seolah tempelan. Kontradiksi terjadi di banyak adegan. Mulai dari tak percaya virus, tapi memukuli tiang dan tembok guna membunuhnya, sampai niatan mengambil bola belenggu yang tak dibawa ketika menerima kata-kata sang baby sitter. Bah! Semudah itu. Sedang nonsence, kata borat sendiri omong kosong. Adegan ia berdandan perempuan yang mencoba menggantikan putrinya, omong kosong. Adegan jadi tukang cukur dengan gunting pemotong rumput, tapi hanya buat gaya. Sejatinya hampir semua yang dilontarkan Borat akting berlebih. Dokumenter yang tak lucu.

Kasih adalah api, ia membakar segala sesuatu. Pertama-tama api membakar tahap kesabaran. Kutonton saat puasa, dan untuk menuntaskannya butuh kesabaran ekstra. Piala Oscar untuk cerita semacam Ini? Bah! 3x.

Borat 2 | Tahun 2020 | Directed by Jason Woliner | Screenplay Sacha Baron Cohen, Anthony Hines, Dan Swimer, Peter Bayham, Erica Rivinoja, Dan Mazer, Jena Friedman, Lee Kern | Cast Sacha Baron Cohen, Maria Bakalova, Tom Hanks, Dani Popescu, Manuel Vieru | Skor: 2.5/5

Karawang, 200421 – Linkin Park – Breaking the Habit

Meeting ESS HO-CIF-CHR

Onward: Fantasi Nanggung

Barley: “Put it in O, for Onward!”

Kisahnya tentang sebuah era di mana sihir sudah memudar. Zaman dahulu kala mereka hidup dalam dunia fantasi. Dengan tongkat sihir dan keajaibannya, dengan naga yang menjadi hewan peliharaan, hingga mitos-mitos lainnya, di era sekarang New Mushroomton hampir semuanya sirna. Teknologi dan ilmu pengetahuan menggeser keajaiban alami. Listrik misalnya bisa mencipta api dan kehangatan dalam sekejap ketimbang menautkan dua batu untuk sekadar membuat percikan api. Adalah dua elf: Ian Lightwood (Tom Holland) siswa sekolah atas yang tampak penggugup dan kakaknya yang seolah kebalikannya, Barley (Chris Pratt) yang pede dan aneh dan pecinta sejarah. Seorang gamer yang fanatik. Dalam adegan rekam, ia menceam walikota menyingkirkan air mancur kota yang memiliki sejarah panjang dengan mendirikan gedung di atasnya. Mereka adalah anak yatim, ayahnya Wilden meninggal saat Ian belum lahir. Dan ibunya Laurel (Julia Loius-Dreyfus) kini memiliki pacar polisi seorang centaurus, manusia dengan pinggang ke bawah berbentuk kuda. Colt Bronco (Mel Rodriguez ) yang tegas dan keras, kurang disukai oleh mereka berdua.

Remaja, oh tindak tanduknya memang selalu aneh. Ulang tahun yang ke enam belas yang rencananya mengundang teman-teman sekolah berakhir berantakan. Ian yang introvert, kakaknya yang annoy naik mobil jadul penuh kerusuhan, van yang diberi nama Guinevere., diambil dari nama istri Raja Arthur Nantinya dalam petualang mobil ini melakukan pengorbanan yang mengharu. Ibunya lalu membuka langit-langit berisi warisan buat Ian. Barang-barang sihir dari ayahnya: barang ajaib, permata, dan sepucuk surat. Termasuk kemungkinan bertemu ayahnya dalam sebuah mantra panggilan. Sayangnya permata dan mantra itu gagal sepenuhnya menjalankan tugas sebab hanya separuh bawah bapaknya yang muncul.

Dengan peta yang ada mereka lalu menjalankan misi ke Manticore’s Tavern lalu menuju ke gunung terdekat Raven’s Point guna menemukan gems dibantu oleh Corey (Octavia Spencer). Harapan untuk bisa ngobrol sama ayahnya mencipta perjalanan penuh bahaya, menjelajah gua misterius, menelusur tempat-tempat eksotis lama. Dan dalam adegan maut yang mendebarkan mereka terbebas dengan dramatis di sebuah gorong-gorong. Lalu muncullah di kota, hah mereka balik lagi di tempat tinggal. Jadi selama ini gems ada di air mancur kota? Ya, dan perbuatan itu memicu kutukan lama: sekolah menjelma naga golem raksasa itu menyerang mereka. Berhasilkan Ian menuntaskan misi, apakah ayahnya bisa terwujud sepenuhnya? Kisah pribadi memiliki gema kolektif.

Ini film anak-anak yang fun. Tak perlu berkerut kening, kisahnya sederhana sahaja. Fantasi tak rumit: naga, golem, penyihir, kuda poni, dst semua hanya tempelan. Kisah ini adalah kisah persaudaraan Ian dan Barley yang renggang lalu menjadi kuat berkat petualangan aneh. Onward, tak seperti Pixar lainnya temanya biasa. Pengisi suara yang biasanya antah, kini malah berisi artis-artis ternama, seperti bukan Pixar. Lagian tahun lalu sudah ada Soul, kenapa rilis film lain di tahun yang sama? Tradisi satu film setahun memang sudah beberapa kali memudar, dan dengan sendirinya kualitas Pixar juga segaris lurus, entah kenapa magi-nya jadi sangat standar.

Jelas tidak akan menang Oscar, temanya drama keluarga, fantasi hanya tempelan. Tak seperti soul yang lebih dalam dan luar biasa filosofis, Onward lebih mengedepankan arti saudara. Arti keluarga. Bagaimana saat mengenang selama petualangan ini kakaknya mengisi segala yang ia butuhkan, bagaimana kebersamaan menjadi arti penting dalam persaudaraan. Dan fantasi nanggung ini mengakhiri kisah bak motivator menyampaikan nasehat-nasehatnya. Tak seperti Pixar kebanyakan, dan mereka terasa menyadarinya merilis digital di bulan Maret. Pertama kalinya film Pixar rilis di bulan ketiga.

Sejatinya fantasi bersinggung kehidupan nyata selalu menarik, kalau dibuat dengan benar. Onward nanggung di semua lini, drama dan eksekusinya yang tergesa. Bahkan Onward mencoba melakukan kritik sosial terkait penggusuran tempat bersejarah, fantasi geografis berangsur-angsur menghasilkan simpati, tapi tidak. Film ini tak berhasil mencapainya. Kepala Dan dkk terisi adonan fantasi dan realism, gagal dalam eksekusi. Musuh muncul dan kalah secara dramatis, film banget. Menawarkan harapan, memberi suatu hal yang perlu diperjuangkan.

Plato, Aristoteles dan para Stoik berkata bahwa bukanlah kebahagiaan, tapi tentang karakter, menumbuhkan kemampuan untuk menanggung penderitaan dan berkorban secara tepat. Ian menyadari kehadiran saudaranya penting, memberi peran yang selama ini dicarinya. Lantas melalui pengalaman itu apakah penonton tercerahkan? Tidak. Kita sudah tahu, menerima kenyataan akan lebih bijak. Saudara adalah sahabat terbaik, menggantikan peran seseorang tak akan pernah bisa tapi kenyataan memberi fakta itu, berjalannya waktu akan bisa. Ian seolah diberi harapan palsu, semu, dan jelas-jelas maya. Hanya di dunia fiksi dan film-film, kalau sampai Ian berhasil justru pesannya malah terlepas, Dan tahu itu makanya dibuatkan kesadaran buatan, jadi selama ini yang ia cari ternyata ada di depan matanya. Klise ya? Ya. Biasa ya? Ya. Bukan Pixar banget. Pribadi mempesona ternyata tidak terletak pada fisiknya, melainkan karena dia mempunyai pendirian yang teguh dan kepribadian yang mantab.

Boleh saja Anda sebut dongeng fantasi yang mengandung pesan moral, cocok buat jamaah yang mengangguk-angguk sepakat atas apa yang disampaikan motivator. Sihir ala Neil Gaiman jauh lebih berkelas.

Onward | Tahun 2020 | Directed by Dan Scanlon | Screenplay Dan Scanlon, Jason Headley, Keith Bunin | Cast Tom Holland, Chris Patt, Julia Loius-Dreyfus, Octavia Spencer, Mel Rodriguez, Kyle Bornheimer, Lena Waithe | Skor: 3/5

Karawang, 200421 – The Cranberries – Promises