The Father: Menua dan Tersisih

Anthony: “I feel as if I’m losing all my leaves.”

Pikun di usia senja, melupakan banyak hal. Orangtua yang tinggal sama anaknya di apartemen, menjadi beban karena sang anak mau melalangbuana ke negeri jauh. Nasib, ingatan menjadi hal yang sangat penting, menjaganya, membuatnya tetap hidup saat usia tak lagi muda. Dunia telah menjadi tua dalam sesaat, sekejap mata, dan kita menjelma bersamanya. Hebat sekali yang bikin cerita, kita turut menjadi seorang Anthony, turut merasa bingung dan menempatkan diri dalam kebimbangan. Kenangan, memori, pori-pori samar apa itu dunia maya yang berkelebat di kepala, di awang-awang. Tanpa ingatan, setiap malam adalah malam yang pertama, setiap pagi adalah pagi pertama, setiap sapaan dan sentuhan adalah yang pertama. Semuanya serba kejadian baru. Lantas apa itu masa lalu?

Anthony (diperankan bagus sekali oleh Anthony Hopkins) bangun dari tidurnya, Anne (Olivia Colman) putrinya bilang akan ke Paris dengan kekasih barunya, lho kemana James? Kan sudah cerai Pak. Lalu ia pamit turun akan membeli ayam ke warung depan buat dimasak. Anthony tinggal di apartemen di London yang riuh. Saat sendirian, muncullah lelaki asing (Mark Gatiss) yang dengan santuy membaca Koran seolah ini tempat tinggalnya. Siapa kamu, ngapain? Pak, sampeyan itu tinggal sama Anne dan saya, ini flat kami. Anthony yang tua bingung, waktu seolah non-linier. Acak-acak, mana yang duluan, mana yang kemudian.

Alunan musik yang menjadi teman Anthony sungguh jadul dan menenangkan. Musik orangtua yang nyaman di telinga. Lembut, tenang, menghanyutkan. Lukisan Lucy juga mewakili waktu, saat ada dan tiada, saat yang mana Anne lama dan Anne baru, saat putri terkasihnya memberinya kesempatan.

Rencana Anne akan ke Paris, tampak meragu tega kah meninggalkan ayahnya sendiri? Lantas siapa yang mengurus sang ayah? Dengan perawat sebelumnya bermasalah, ia mengeluhkan jamnya dicuri, padahal hanya lupa naruh. Lalu didatangkanlah perawat pengganti Laura (Imogen Potts) yang seolah cocok, sebab mirip putrinya Lucy. Namun sampai kapan? Saya seorang penari, oh bukan bapak, bapak tuh seorang engineer! Oh ya, lupa.

Dalam sebuah adegan makan malam, Anne dan pasangannya mendiskusikan rencana memindahkan sang ayah ke panti jompo, mendengar itu ada nada marah yang tersirat. Dari rautnya, Anne marah sama Paul (Rufus Sewell) sebab di depan bapaknya bilang mau gmana lagi? Lalu untuk meredam amarah, Anne mengambil menu ayamnya untuk ditaruh di dapur, dan dengan terang-terangan Paul bilang mau sampai kapan nyusahin? Saat Anne kembali ke meja makan, Anthony mau nambah ayam, Anne mau berdiri, oh tak perlu, biar saya saja. Dan tersamar, adegan bisik-bisik rencana ke panti jompo terulang. De javu. Wait, apakah ini nyata? Masa muda menjadi era yang terasa jauh di belakang, hanya sebagian kecil yang bisa bertahan di kepalanya.

Pada akhirnya memang tak ada pilihan yang lebih bijak buat Anne, ia benar-benar ingin mewujudkan impian ke Paris, maka Anthony pun dikirim ke panti jompo. Dalam sebuah adegan surealis ia terbangun dari tidur, membuka pintu dan tembus ke sebuah rumah sakit. Ia terus memanggil Anne, malah mendapati putrinya yang lain terbaring sakit. Penuh kebingungan, ia lantas menangis dalam pelukan perawat. Betapa ia merindukan kasih, betapa menginginkan pelukan ibu. Sedih sekali. Apakah Hopkins menang Oscar lagi? Performa pilu inilah yang bisa jadi mencipta piala tersebut.

Dengan kondisi ini semua tampak serba salah. Lantas bagaimana sebaiknya yang dilakukan? Kalau kita bijaksana, ikuti kata hati, jiwanya tenang seperti gelombang yang tak terganggu, keindahan masih ada untuk jiwa yang sabar. Biarkan daun-daun di kebun yang menjawab dalam desir angin penuh rintihan. Daun itu memunculkan kenangan akan masa kecilnya, sebuah kenangan paling dalam yang dirasakan oleh orang yang didorong oleh daya tarik pelukan ibu, dalam kehidupan ini bagi orang-orang yang telah menua memang seolah tumbuh seperti anak kecil lagi. Pikiran luang, waktu luang, dan segalanya seolah menciut. Hidup seolah mencoba memberontak pada kelupaan, memberontak pada kenangan, ia bingung akan kebingungannya.

Fungsi kenangan menurut Bhabha ada dua. Pertama sebagai penggalian yang lebih sederhana atas ingatan-ingatan yang tak mengenakkan, berupa mengungkapkan kekerasan kolonisasi yang melimpah dan masih tersisa. Kedua, untuk menciptakan masa lalu yang bermusuhan ke arah perdamaian agar masa lalu yang antagonistic semakin ramah. Memori Anthony seolah dihapus, ia didera penyakit dementia dan kehilangan ingatan-ingatan penting. Melupakan banyak sekali hal, ia menua dan tersisih. Semua kejayaan masa lalunya di dunia ini lenyap seperti asap. Orang terdekatnya Anne pergi, ia benar-benar sendiri, hanya sesekali tiap akhir pekan ia berkunjung. Dunia memang seperti ini, bersabar dan bersiaplah. Kenangan menjadi benalu kuat yang mengikat leher.

Terbangun sepenuhnya ia mengenali angin yang membelai dedaunan di pohon dan gumaman sedih ruangan yang kosong, hatinya hampa. Kurasa Hopkins akan menang piala lagi. Akting pikunnya tampak natural, usia aslinya kini 84 tahun. Ia adalah satu-satunya aktor yang diinginkan sang sutradara, tahun 2017 diajukan dan menunggu ‘Ya’. Dan saat bersedia, sang sutradara bilang, inilah mimpi yang jadi nyata. Kolaborasi hebat.

Ada enam nominasi Oscar yang disematkan. Best Picture sulit. Best Actor dan Supporting Actress bisa jadi, akan sangat senang menyaksikan kakek Hopkins menang di usianya yang sekarang. Cerita adaptasi bisa jadi, tapi One Night in Miami lebih hidup kurasa. Kalau teknis kurasa sulit. Minimal satu piala ada di tangan.

Orangtua adalah orang yang telah belajar untuk hidup di dunia tanpa ingatan. Saya jadi teringat Descartes yang menulis surat kepada Balzac, “Sekarang sudah tua. Setiap hari aku berjalan-jalan melewati kebingungan sejumlah besar orang dengan kebebasan dan keheningan sebanyak yang kau temui di jalan kecilmu.”

Lantas apa artinya meneruskan masa kini bila seseorang telah kehilangan masa lalu?

The Father | Tahun 2020 | Directed by Florian Zeller | Screenplay Christopher Hampton, Florian Zeller | Cast Olivia Colman, Anthony Hopkins, Mark Gatiss, Olivia Williams, Imogen Poots, Rufus Sewell, Ayesha Dharker, Evie Wray | Skor: 4/5

Karawang, 190421 – Linkin Park – Faint

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s