Pieces of a Woman: Biji Apel dan Nilai Filosofinya

Martha: “She smelled like an apple.

Powerful. Penampilan terbaik Vanessa Kirby yang pernah kutonton. Menjadi seorang istri yang rapuh akan kehilangan bayinya, memperjuangan keadilan tapi sejatinya lebih karena didorong oleh keadaan sekitar, bukan karena murni keinginan pribadi. Tragedi hidup, memang tak ada yang tahu apa yang bisa celaka di masa depan, apa yang ditampilkan di setengah jam pertama adalah gambaran bahwa nasib benar-benar kata yang kejam. Hiks, 2012. Hiks…

Sean (Shia LaBeouf) adalah pekerja kontruksi jembatan di Boston. Ia sedang bahagia menjadi calon bapak, istrinya Martha (Vanessa Kirby) sebentar lagi melahirkan anak pertama. Kebahagiaan keluarga kecil ini terenggut dengan sangat pahit. Bayinya terlahir dalam keadaan kritis dan lalu meninggal. Siapa yang salah? Martha yang menginginkan proses lahir di rumah? Bidan Eva sebagai bidan pengganti yang gagal mendiagnosa keadaan genting? Sean sebagai kepala keluarga yang tak peka dan dianggap ceroboh. Inilah drama keluarga yang pahit, bagaimanapun keadaannya hidup harus terus berjalan. Judul film baru muncul setelahnya, butuh setengah jam.

Sean berupaya menuntut sang bidan, ia dituntut penjara lima tahun akan keteledorannya. Ide yang sebenarnya kurang disetujui oleh Martha, sebagai orangtua ia malah menginginkan anaknya diserahkan ke forensik untuk dijadikan bahan penelitian, tentu saja ide itu ditentang. Ketika segala macam benda di ruang bayi disingkirkan terjadi pertentangan, tak ada bayi tak ada mainan. Semua selesai, semuanya.
Bu Elizabeth (Ellen Burstyn) sebagai orangtua berdiri di antara mereka. Keluarga kecil ini rapuh dan dalam tekanan hebat, dan benar saja Sean frustasi ia keluar dari tempatnya kerja, mabuk dan main perempuan. Martha juga tak terkendali, tampak seperti orang linglung di kantor, di tempat perbelanjaan melihat dengan sisi menawan seorang gadis kecil, bahkan di puncak kesedihan, ia dugem dan melalangkan kebebasan, walaupun akhirnya bisa ditahan. (lagunya Into Trouble dari Tim Kingsburry). Keluarga ini diambang keruntuhan. Bahkan nantinya Sean diminta out, Seattle? Why not?

Dalam sebuah renungan hidup, Martha mencoba menghormati apa itu benih apel. Setelah dinikmati dagingnya, bijinya tak langsung dibuang. Ia memperlakukan benih dengan hormat, menaruhnya di kulkas dalam kapas, menjadikannya hidup. Setelah beberapa hari benih ditanam, nantinya menjadi eksekusi ending yang rupawan dengan desir angin dan Lucy yang memanjatnya, iringan musik menghantar para cast and crew dengan latar pohon apel yang berbuah banyak sekali. Syukurlah.
Proses di pengadilan sendiri berjalan dengan sangat hidup, dan di sinilah ia sang artis cantik pirang ini menunjukkan pesonanya. Dengan pidato akan kemanusiaan, ketulusan, keikhlasan. Apa yang dituntut? Uang? Kompensasi? Tidak! Bayi saya tak akan bisa hidup kembali, justru karena anak saya sangat bernilai tak bisa digantikan dengan apa yang diproses di pengadilan ini. Ya, inilah adegan yang kuyakini menarik juri Oscar, menjadikan nominasi best actress. Bagaimana peluangnya?

Dekade ini Netflix memang sedang di masa jaya. Produksinya melimpah, platform streaming di era digital jelas sudah di jalan yang tepat. Hanya masalah waktu Netflix akan mendominasi Oscar. Sekali lagi, saya terpesona sama produksi mereka. Ini menjadikan film drama yang hidup. Saya mencatat ada tiga adegan keren; pertama pidato di pengadilan di akhir. Itu yang menjadikan Kirby laik dihargai nominasi. Kedua adegan saat makan malam yang berantakan. Menampilkan kisah sama lalu Bu Elizabeth yang luar biasa, proses melahirkan di gubuk sendirian, seadanya. Sempat akan dimatikan, tapi seandainya bayi ini mendongak ia berarti ingin hidup, dan benar saja. Ia tumbuh dengan sehat. Lihat, dengan peralatan minim tanpa bantuan kala itu berhasil melakukan persalinan normal. Tak seperti zaman sekarang yang canggih, tapi tak menjamin keberhasilan! Adegan itu powerful, orangtua marah, sang anak marah, dan begitulah lazimnya. Dua orang saling memarahi, adalah bukti mereka penuh cinta dan kasih. Ketiga adalah adegan jembatan, itu hanya sebagai latar yang menunjukkan waktu. Aslinya tidak ada, itu dibuat dengan efek digital. Dari bulan September, jembatan masih belum terhubung, lalu berjalannya waktu dua jembatan itu menyatu sampai tahun berikutnya. Dan di atas jembatan itulah Martha merelakan segalanya, semuanya. Trenyuh. Dalam hidup ini, justru hal-hal sederhanalah yang paling luar biasa; hanya orang-orang bijak yang dapat memahaminya.

Hubungan antara berbagai fakta tidaklah nyata sebagaimana yang kita sangka. Kisah ini sebagian berdasarkan kejadian nyata, sang penulis scenario Kata Weber dan suaminya yang membuat ini film pernah mengalami kaguguran. Seperti dalam teori empirisme bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak namun lewat pengalaman yang konkret. Pengamatan kita akan membuahkan pengetahuan mengenai berbagai gejala yang mengikuti pola-pola tertentu. Maka kejadian pahit Kata melakukan terapi dengan menulis. Dan jadilah ini. Dan juga terinspirasi dari kejadian nyata, seorang bidan Hongaria Agnes Gereb yang dituntut di pengadilan karena proses persalinan di rumah yang gagal. Dan juga berdasarkan kisah hidupku. Hiks…

Prediksiku, Kirby tak akan mendapat piala. Memang bagus perannya tapi untuk menang kurasa masih jauh drai sempurna. Masih butuh perjuangan lebih di kesempatan berikutnya. Satu-satunya nominasi di Oscar tahun ini dan gagal. Tetap semangat buat semua wanita yang berjuang untuk bayinya. Tetap berjiwa besar May.
Sebagai penutup catatan ini, saya teringat Abn ‘Arabi dalam Al Futuhat al Makiyyah yang pernah bilang, “Rahmat diberikan kepada seluruh jagad raya, kepada yang eksis dan segala yang potensial ada.” Ending yang sempurna. Tuhan Mahabaik.

Pieces of woman | 2020 | Directed by Kornel Mundruczo | Screenplay Kata Weber | Cast Vanessa Kirby, Shia LaBeouf, Ellen Burstyn, Iliza Shlesinger, Benny Safdie, Sarah Snook, Molly Parker | Skor: 4/5

Karawang, 160421 – Charlie Parker – Jam Session (1952)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s