Pum, Kwee, dan Aku

Tanah Tabu by Anindita S. Thayf

“… Tidak diperjualbelikan. Tanah kami keramat, Nak. Tabu. Diciptakan yang Mahakuasa khusus untuk kita, tahukah kau kenapa? Sebab dia tahu kita bisa diandalkan untuk menjaganya.”

Cerita Papua lagi. Selalu menarik membaca kisah asing. Papua adalah Indonesia di Timur jauh, saya sendiri belum pernah ke sana, hanya hal-hal eksotis yang kudengar. Alam yang asri dan masih asli. Saya pernah terpesona sama buku karya Nunuk Y. Kusmiana tentang kehidupan masa awal peralihan ke Indonesia dilihat dari sudut pandang anak-anak. Benar-benar buku bagus dan luar biasa seolah dicerita langsung, terasa pengalaman pribadi. Lengking Burung Kasuari yang kebetulan juga Juara I Dewan Kesenian Jakarta (DKJ).

Kali ini dari Penulis kelahiran Makassar yang tinggal di Yogya, mengambil sudut pandang yang tak wajar. Para binatang yang menemani keseharian si anak kecil: anjing dan babi… tampak seperti sebuah fantasi, binatang ini bisa berpikir, bisa mendengar, bisa merasa. Namun tetap saja kalau berhubungan dengan sosial politik rasa kritik itu kental dan pas. Seperti perampokan emas di bumi Papua oleh orang asing, warga hanya mengambil sisa-sianya yang hanyut di sungai, atau limpahan tak guna. “Selain mengambil emas, apa perusahaan itu juga mengambil anak kecil? Aku takut mereka mengambil Yosi dan menyembunyikannya di gunung yang ada di ujung jalan besar sana.”

Kisahnya tentang Leksi, anak asli Papua yang ditemani binatang peliharaannya dalam mengarungi rutinitas. Pum, si anjing tua yang sudah menemani generasi lama, seolah bisa berpikir. Kwee, si babi yang menyaksi banyak peristiwa penting keluarga ini. Keduanya lucu, dan menggemaskan kecuali endingnya. Hiks, fufufu… “Keberanian itu hal biasa. Ketabahan itu hal biasa. Tapi kepahlawanan memiliki unsur filosofis di dalamnya.” (Segala-galanya Ambyar, Mark Manson). Dan Aku, si Leksi kecil, menjadi tumpuan harap keluarga. Setiap berganti sudut pandang, akan ada nama mereka cetak tebal di tengah. Selain sudut mereka, narasi mengalir dari sisi pencerita terutama saat masa lalu, jadi mengalir dinamis, banyak di Aku, tapi sejatinya tak ada yang dominan. Mace, ibunya dan Mabel neneknya. Para perempuan, di mana lelaki saat diperlukan? Simak saja, mungkin akan jadi novel tema feminism tapi tak sepenuhnya. Dan karena kisah utamanya adalah tentang Leksi, maka kita akan melihat banyak hal tentangnya dari masa lalu orangtua hingga masa kini sebagai harapan keluarga, terutama pendidikan setinggi-tingginya. “Berjanjilah kepadaku untuk rajin bersekolah hingga kau kelak menjadi anak pintar yang akan membanggakan Mace dan Mabel-mu…” Leksi-ku sayang. Leksi-ku tercinta.

Melihat anak-anak dengan kekhawatiran sederhana tampak nyaman sekali, seperti kata Leksi saat main pasar-pasaran dengan Yosi, saat tahu menikah itu rumit dan tak ada hari libur dengan polosnya bilang, “Kalau begitu, aku tidak mau menikah. Susah sekali peraturannya. Lebih baik aku main masak-masakan dengan Yosi.” Haha… dasar anak-anak. Begitu polosnya, bikin gemas. Yosi yang menderita, sebab Mama Helda, mamanya begitu galak dan suka memukul sampai berpikir ia hanyalah anak tiri.

Ini juga tentang kekerasan dalam rumah tangga, betapa hal ini banyak terjadi sejak dulu hingga kini banyak sekali kasusnya. Banyak faktor, dan utamanya adalah ekonomi. Di sini, seorang suami memukul istrinya hingga dalam taraf kesabaran luar biasa bertahan. “Kalau kau seorang perempuan yang ingin senantiasa menyenangkan suamimu, lebih baik tinggalkan dulu perasaanmu dan simpanlah dalam lemari dapur…”

Teknologi juga dibahas, bagaimana HP keluaran terbaru menjelajah daerah dengan gaya. Bahkan saat Leksi dipotret lalu ditunjukkan hasilnya, ia kaget sebab ada tampangnya dalam segenggam HP. Alat yang terlihat canggih dan luar biasa aneh. Hal-hal yang kita anggap biasa, di masa itu di mula kemunculannya bisa jadi seolah perpanjangan tangan Semesta Modern.

Mabel adalah panggilan umum, aslinya Mama Anabel dan terasa cukup panjang. Memiliki kisah panjang yang secara singkat mencerita masa-masa Papua. Kisah yang merentang kembali ke masa lalu, bagaimana di tahun 1940-an di Lembah Baliem ada bule ke sana, Tuan Piet dan Nyonya Hermine mengambil anak angkat, Mabel kecil dan dengan kemerdekaan berpikir dan bertindak melecut semangat pembaruan, lalu gulir waktu memberi opsi yang lebih meriah lagi dan lagi. sulit memang saat kita melawan arus budaya, seorang yang tampak asing di tanah kelahiran adalah seorang yang kesepian. Siapa pun yang sudah tua pasti bernostalgia dengan kata-kata, seraya mencoba mencari kehangatan dalam setiap kenangan tentang kebanggan dan kejayaannya di masa silam.

Saat sudut para binatang yang mendengarkan orang-orang bercerita dan menelaah keadaan, perang antar suku dan perang dalam simpang antara: integrasi, kemerdekaan, atau dalam tangkup Barat dijelaskan secara implisit. Hanya dengan menyatakan, “Sekarang jalan besar sudah sepi. Semua mayat sudah dibawa pergi. Yang ada hanya genangan darah, anak panah, dan potongan kayu…” Perang, di mana-pun sama. Sama-sama kalah. Seperti kata pakar militer Carl von Clausewitz, “Mau dibilang apa, perang adalah kelanjutan dari politik.”

Satu lagi, tentang sebuah survenir. Dari Papua dengan ciri khasnya, salah satunya noken yang indah. Warna hijau-biru tampak kebalik, ini dirasa di banyak generasi lama, dan di sini juga menjadi dilema. Saat Mabel menerima pesanan banyak noken untuk dijual dalam hari perayaan, semacam festival warna itu malah menjadi konflik lucu.

Anindita S. Thayf, lahir di Makassar, 5 April 1978. Novel Jejak Kala (2009) mendapat penghargaan Sastra 2010 dari Balai Bahasa Yogyakarta. Cerita bersambungnya, Ulin terpilih sebagai Pemenang I Sayembara Mengarang Cerber Femina 2012. Tanah Tabu adalah pemenang I Sayembaya Novel DKJ tahun 2008. Tahun 2014 diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh Dalang Publisher, Amerika Serikat dengan judul Daughter of Papua.

Kembali lagi, pangkalnya adalah pertanyaan dasar kehidupan. Mau kemana, mau apa, dan berakhir bagaimana. Dan kalimat motivasi ala Mario Teguh dari Mabel ini pas, cocok untuk semua kalangan dan semua orang. “Kita harus tetap kuat… jangan menyerah. Terus berjuang demi anak-cucu kita. Merasa harus mendapatkan kehidupan yang lebih baik.”

Salah satu keindahan buku adalah narasi yang mendayu, dalam Tanah Tabu beberapa terasa segar dan enak dibaca. Seperti kalimat ini, “Letih tuaku menguap akhir-akhir ini. kau tentunya tahu aku suka aroma tersembunyi di balik warna-warna. Kini, ada banyak warna yang bertebaran. Warna-warna yang berasal dari bendera, umbul-umbul, spanduk, poster…” sebuah perubahan nuansa politik, yang dulu hanya tiga warna partai kini menjulang dalam kebebasan membuncah, melimpahi warna dengan antusias semu.

Keberhasilan ini kembali menaikkan harap untuk menikmati karya-karya pemenang DKJ, sempat down beberapa tahun lalu sebab kurang greget. Kini kepercayaan diri, dan kenyamanan telah muncul. Seperti Kusala Sastra Khatulistiwa, penghargaan Sastra yang turut kuikuti, para pemenang DKJ laik dirunut mundur lagi untuk kulahap. Tanah Tabu, buku pertama Anindita pertama yang kubaca, dan jelas bukan yang terakhir. Selamat!

Tanah Tabu | by Anindita S. Thayf | 6 15 1 73 021 | Penerbit Gramedia Pustaka Utama | Cover eMTe | Copyright 2009 | ISBN 978-602-03-2294-0 | 192 hlm; 20 cm | Cetakan kedua: November 2015 | Skor: 4/5

Di ujung sabar, ada perlawanan.

Di batas nafsu, ada kehancuran.

Dan air mata hanyalah untuk yang lemah.

Karawang, 310321 – Avril Lavigne – Complicated

Thx to Ari Naicher (Rindang Book), Klaten